Buku-Buku yang Merubah Hidup Saya (Part 5)

By Anna - April 19, 2020

Saya pernah berada di level ‘hampir’ depresi. Saya sudah seperti mau gila, selalu cemas dan mengkhawatirkan segala hal. Mudah sekali marah dan tersinggung, dan emosi saya seperti meledak-ledak jika suatu hal tidak berjalan seperti yang saya inginkan.  Saya tidak bisa tidur, penampilan saya awut-awutan, merasa terlalu banyak yang perlu saya kerjakan tapi tak mampu menyelesaikan apapun.  Merasa lelah luar biasa tapi tidak bisa sedikitpun beristirahat. Saya merasa terlalu banyak cobaan di dalam hidup. Saya merasa menjadi orang paling malang. Saya merasa tidak memiliki pencapaian apa-apa. Saya menganggap hidup saya sia-sia belaka dan saya gagal menjadi istri yang baik bagi suami saya dan gagal pula menjadi ibu yang baik untuk putri saya. Saya kehilangan harapan dan  hal itu snagat melukai saya. 


Saya selalu mencari-cari sebab mengapa saya berubah menjadi demikian. Suami dan putri saya pernah mengatakan saya menjadi ‘momster’ jika sedang marah. Itu semua sungguh di luar kendali saya dan saya merasa perlu bertemu dengan psikolog untuk membantu saya menemukan ‘jalan kembali’. 

Dan suatu hari tanpa direncanakan, bu Lia, teman saya yang baik hati (saya sudah singgung di post sebelumnya) meminjami saya buku-buku Ajahn Brahm berjudul Cacing dan kotoran kesayangannya. Buku ini berisi masing-masing 108 cerita (jenaka) yang membuka pintu hati. Promosi di sampul bukunya cukup bombastis: “Garansi 100% uang kembali jika anda tidak mendapat manfaat dari buku ini”. Wow!!!

Buku inilah yang akhirnya menggugah nurani saya untuk berusaha mengendalikan diri, dari dalam diri sendiri. Menyikapi segala masalah dengan welas asih, belajar memaafkan dan berusaha lepas dari keterikatan, serta tidak mengizinkan diri marah karena sejatinya marah hanya menyakiti diri sendiri dan orang lain. Belajar untuk menjadi bahagia dengan mensyukuri apa yang saya telah miliki dan tidak merisaukan apa yang tidak saya miliki. Belajar menghargai dan mencintai diri sendiri dan berfikir positif. 

Ajahn Brahm adalah seorang kepala biksu di wihara Bodhiyana di selatan kota Perth, Australia. Ajarannya memang aliran Buddhisme, tapi isi bukunya menurut saya sangat cocok untuk dibaca oleh siapa saja, apapun agamanya. 

Saya tidak menyadari perubahan yang terjadi pada diri saya hingga suatu hari saat suami video call (saat ini kami menjalani LDR Denpasar-Sydney), suami menyinggung jika belakangan saya lebih kalem, sabar dan positif. “I can see halo above your head, Mama.” Katanya lagi. Tentu saja hanya exaggerating alias membesar-besarkan saja.
*halo = bulatan imajiner di atas kepala malaikat  dalam penggambaran fiksi.

Saya mulai belajar bermeditasi sebelum tidur dan saya menjadi lebih relax dan beristirahat lebih baik. Suami sayapun ikut-ikutan bermeditasi dan merasakan manfaatnya. Yang paling penting, saya tidak lagi merasa depresi. Saya semangat menjalani hari-hari saya dan menjadi lebih produktif. Di saat pandemi seperti ini,  kebanyakan orang mengeluh bosan dan malas karena terkurung di rumah selama lebih dari sebulan, saya malah merasa waktu seperti berlari karena setiap hari saya sibuk menulis, membaca dan belajar banyak hal dari ebook di ipusnas. Di samping itu tentu saja sibuk dengan kegiatan khas ibu rumah tangga biasa seperti mengurus rumah dan anak. 

Sampai hari ini saya belum bertemu dengan psikolog, dan semoga saya tidak akan pernah lagi membutuhkannya. Terima kasih, Ajahn Brahm! 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar