Buku-Buku yang Merubah Hidup Saya (Part 3)

By Anna - April 17, 2020

Di post sebelumnya ada buku ‘The Life Changing Magic of Tidying Up’ karya Marie Kondo yang sudah saya bahas lumayan detail mengenai beberes dan dampaknya dalam merubah hidup saya. Buku berikutnya masih tentang beberes dan berbenah, namun dengan level yang lebih ekstrim. Lah, berbenah lagi... apa asyiknya? Bagi saya ini sangat menyenangkan!


Di post sebelumnya sempat saya singgung mengenai level beginner, maka buku Marie Kondo itulah buku untuk pemula-nya. Mengajarkan dasar-dasar dan fundamental dalam seni berbenah. Selanjutnya ada level advanced atau mahir, dan buku yang saya maksud adalah Goodbye, things - Hidup minimalis ala orang Jepang yang ditulis oleh Fumio Sasaki. Bagaimana dengan level intermediate? Tidak ada level itu, karena untuk bisa ke level minimalis ala Fumio Sasaki, diperlukan tekad besar dan tindakan yang bagi beberapa orang terdengar ekstrim. 

Sekali lagi bagi saya tidak ada level tengah-tengah. Let’s making it more clearer. Ajaran utama Kondo adalah ‘hiduplah hanya dengan barang yang anda sukai’, maka Fumio Sasaki mengajarkan untuk hidup dengan barang ‘hanya yang pokok saja’. Baginya, terlalu banyak barang menimbulkan kerepotan, memakan ruang, dan mengalirkan energi terus menerus kepada pemiliknya dan menyesaki pikiran. 

Dengan sedikit barang yang betul-betul dibutuhkan, ada banyak space kosong di dalam ruangan yang membuat pikiran menjadi lebih lapang. Andapun jadi lebih tidak mudah stress dan lebih mampu menggunakan waktu secara efisien. Saya mengamininya, karena saya sudah membuktikannya.

Ada salah satu kalimat yang sangat mengena mengenai konsep kepemilikan barang yang dipaparkan oleh Sasaki. Pertama, kita mengira semakin banyak barang yang kita miliki maka kita akan merasa lebih bahagia. That was the old me! Itulah saya yang dulu. Meskipun sudah memiliki banyak barang, saya masih merasa kesal dengan orang yang memiliki barang lebih banyak dan lebih mentereng daripada milik saya. Saya merasa hidup saya sia-sia. Saya tidak bahagia dengan barang yang telah saya kumpulkan. Saya tidak bahagia karena tidak memiliki barang yang saya inginkan, saya lupa bersyukur memiliki barang-barang yang sudah saya miliki. 

Sayapun mulai berbenah kembali. Pada dasarnya tempat tinggal saya sudah rapi dan minim, tidak butuh waktu lama untuk melepaskan beberapa barang yang siap saya relakan. Suami saya awalnya khawatir, mengira saya depresi karena saya menyingkirkan banyak sekali baju, dress dan hanya menyisakan 3 potong kaos polos Giordano dan 2 celana jeans (sisanya hanya pakaian dalam untuk 7 hari, pakaian renang, 3 potong tank top dan 2 potong celana pendek untuk dipakai sehari-hari di rumah—saya tidak suka daster. Pada akhirnya saya menyadari itulah style saya. Di rumah, saya nyaman mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, jika keluar rumah saya pakai kaos polos V-neck dan jeans. Saya merasa nyaman berpakaian seperti itu, dan saya tidak perlu buang-buang waktu memikirkan baju mana yang akan saya pakai. Selain pakaian, saya juga menyingkirkan banyak peralatan baking dan pernak pernik dapur yang dulu mati-matian saya kumpulkan. Tapi kemudian suami mendukung langkah saya dan tersenyum puas, karena tanpa saya sadari sebetulnya ia adalah seorang minimalis juga bahkan sejak lama!

Manfaat menjadi seorang minimalis sangat saya rasakan ketika saya harus pindah dari rumah kontrakan 2 kamar di Denpasar ke sebuah guest house model studio di Sanur. Saya berhasil membereskan semua barang saya kurang dari setengah hari! Setelah tinggal di guest house, saya secara berkala terus mengurangi barang-barang. Pada akhirnya saya pernah memasukkan semua barang yang saya miliki (termasuk milik putri saya) ke dalam sebuah koper Samsonite berukuran 30 inchi dan ternyata masih menyisakan ruang yang cukup untuk memasukkan sebuah bantal. Padahal pakaian yang saya miliki tidak hanya untuk summer tapi juga jaket tebal dan khasmir untuk winter, tapi jumlahnya hanyalah beberapa saja (sesekali saya ke Jepang mengunjungi mertua saat autumn-winter-spring). Saat ini suami saya sedang di Sydney, saya dan putri saya akan segera menyusul. Memiliki hanya sedikit barang sangat memudahkan kami bermobilisasi, bahkan pindah ke luar negeri sekalipun. 

Menjadi seorang minimalis tidak hanya membuat fikiran saya menjadi lebih lapang, namun juga membuat kondisi finansial saya menjadi lebih baik. Ya tentu saja, sejak mendeklarasikan diri menjadi seorang minimalis, otomatis implusive purchase sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup saya. Saya merasa sudah cukup memiliki semua yang saya butuhkan, dan menikmati hidup saya lebih baik. Saya akan membahas detail barang-barang apa saya yang saya miliki untuk hidup sehari-hari di post selanjutnya setelah saya selesai membahas mengenai buku yang mengubah hidup. 


  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Awlanya mungkin berat ya mba Anna untuk jadi seorang yang minimalis, namun sungguh Luar biasa deh sudah bisa melakukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berat di niat saja kok pak. Kalau sudah dijalani, ternyata tidak berat.

      Delete