Orang Indonesia Makan Pisang Mentah?

By Anna - June 11, 2020

Gara-gara postingan mengenai terasi kemarin, saya jadi ingin melanjutkan cerita mengenai culture shock suami saat awal-awal tinggal di Indonesia.

Pertengahan tahun 2015, saya mengajak suami mudik ke Jawa Timur untuk pertama kalinya. Saat baru sampai, ibu saya sibuk menyiapkan berbagai macam suguhan untuknya seperti aneka jenis kukis, air minum kemasan, dan sesisir pisang hijau yang disajikan di atas piring. Saat itu masih suasana lebaran meskipun arus balik sudah lewat. Ketika kami sedang ngobrol, seorang tetangga bertamu lalu ikut bercengkerama sambil makan kue dan pisang. Tiba-tiba suami mencolek saya dan bisik-bisik,
“Orang Indonesia makan pisang mentah ya?”
Ha? Saya melongo tak mengerti.
“Pisang mentah mana bisa dimakan?” Saya balik tanya.
“Itu apa?” Tanyanya sambil menunjuk pisang hijau di atas meja dan nyengir melihat tamu ibu saya baru saja menghabiskan pisangnya. 
“Ini namanya pisang hijau. Matang kok, manis. Coba saja.” 
Hahaha. Ternyata ia mengira pisang hijau itu pisang mentah. Esok lusa ibu saya sengaja membawanya berkeliling kebun dan menunjukkan pisang berwana merah. Hebohlah ia foto-foto itu pisang. Di hari yang lain saat menemani ibu saya ke pasar (suami saya suka sekali dengan pasar lokal karena dianggap eksotik), ia terkesan dengan pisang unyil karena ukurannya kecil-kecil yang dijual pedagang di pasar, dan takjub dengan cemilan orang lokal berupa pisang rebus dan pisang goreng. Aneh sekali karena selama ini dia taunya pisang ya dimakan begitu saja tanpa perlu dimasak lagi. Belum tahu dia kalau pisang juga bisa dibuat kolak, es palu butung, isian nagasari, bahkan dijemur jadi pisang sale.



Seumur-umur dia tahunya pisang ya satu jenis saja yaitu pisang cavendish yang sering ditemui di supermarket. Kalau mentah warnanya hijau dan menjadi kuning jika matang. Diam-diam saya bangga juga dengan keanekaragaman hayati negara sendiri saat menceritakan berbagai macam jenis pisang. Ini baru aneka pisang loh, belum berbagai jenis tumbuhan yang lain.

Lain pisang, lain pepaya.
Suami saya sempat shock saat pertama saya memperkenalkan buah pepaya padanya. Dasar hidungnya sensitif, ia langsung protes dan mengatakan bau pepaya seperti bau tinja. Sayang sekali, padahal saya penggemar pepaya. Dan menurut saya baunya biasa saja. Tidak ada yang aneh kok. Suatu hari, saat sedang sibuk membuat draft untuk pekerjaannya, saya iseng menyuapinya pepaya tanpa ia sadari. Kebetulan saat itu ia sedang flu, jadi indera penciumannya sedang tidak begitu bagus. Suapan pertama ia kunyah saja tanpa bertanya apa-apa. Suapan kedua, ia mulai curiga. 
“Ini makanan apa?” Tanyanya sekilas ke arah saya lalu kembali menatap monitor.
“Buah lokal.” Saya jawab sambil kembali memasukkan sepotong pepaya ke dalam mulutnya. Ia tak menjawab apa-apa karena mungkin terlalu fokus dengan pekerjaannya. Saya lanjutkan memberinya pepaya sampai habis. 
“Enak?” Saya sengaja memancingnya.
“Not bad. What fruit is that?” Katanya lagi.
“Pepaya!” Jawab saya sambil ngacir. Takut ditimpuk monitor. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa.
Sekarang, ia sudah biasa makan pepaya. Tidak lagi terganggu dengan baunya. 

Oh ya, bicara masalah bau, bagaimana dengan durian? Hohoho, kalau itu, baik saya dan suami sepakat mengatakan NO! Saya pribadi belum pernah sekalipun makan durian karena tidak tahan baunya. Sedangkan suami pernah sekali mencoba tapi tidak suka karena juga tidak tersiksa dengan bau durian yang tajam. Ramadhan tahun lalu saat ke Kuala Lumpur ia diundang berbuka bersama teman-teman lamanya. Kabar buruknya adalah.. saat itu musim durian dan teman-temannya akan mengadakan pesta durian. Saya tak tahu bagaimana cara suami saya survive di tengah pesta durian, tapi yang jelas sejak saat itu dia akan tegas bilang NO jika diundang pesta durian lagi. Haha sepertinya ia mabuk bau durian.

Di hari yang lain, suami saya terlihat pucat sesaat setelah keluar dari toilet. Saatpun khawatir karena 20 menit yang lalu dia terlihat baik-baik saja. Saat saya tanya kenapa, dia bilang dia perlu ke dokter. Waduh. Sounds serious.
“Sakit apa? Kenapa perlu ke dokter?”
Ia lalu menarik saya dan berbisik,
“BAB-ku berdarah!” Katanya lirih. 
Sayapun ikutan panik. Aduh, kenapa ini. Perasaan saya tidak masak yang pedas-pedas seminggu ini. Dan tidak jajan sembarangan, masa iya bisa sampai berdarah begitu. 
Sayapun lalu mengingat-ingat makanan apa yang kemarin kami konsumsi dan... saya jadi ingat, kemarin suami makan buah naga merah sebanyak 2 buah! Pantas saja!
“Perutnya sakit?” Dia menggeleng.
“Wait for 2 hours. If nothing happened, then no need to see doctor.”
Ia terlihat bingung. “Are you kidding? My poop was bleeding!”
Saya jadi gemes dan menyarankan ia searching di google mengenai side effect makan buah naga merah. And... I was right. Dia tidak kenapa-napa. Sekresi berwarna merah karena ia makan buah naga merah!

Kalau diingat-ingat, selain buah, suami juga mengalami beberapa culture shock mengenai makanan. Saya akan posting di post selanjutnya ya, supaya tidak terlalu panjang. Stay tuned!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar