Bisa Dimakan?

By Anna - June 12, 2020

Siapa yang bisa menolak nikmatnya hidangan nusantara? Hidangan lokal tidak hanya memikat warga sendiri, namun juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan asing. Banyak sekali orang asing yang jatuh cinta pada rendang, opor, soto, rawon, sate, nasi goreng, gulai, bakso, dan masih banyak lagi. Mereka jatuh hati pada suapan pertama karena terpikat akan rasanya yang kaya bumbu.  Saking cintanya, bahkan rendang dinobatkan sebagai salah satu makanan paling enak di dunia. *Bangga.

My husband is no different. Hampir semua masakan lokal yang ‘mainstream’ dia suka semua. Bahkan setelah setahun tinggal di Indonesia, ia lebih bisa makan pedas ketimbang saya yang orang lokal. Saya sampai shock saat kami makan di restoran udon, suami menambahkan banyak sekali irisan cabai ke makanannya. Padahal, saya yang lokal saja tidak pakai cabai sama sekali. Makanan Jepang model apa itu, karena masakan Jepang seharusnya tidak pedas. Saat mudik ke kampung halaman saya, ia juga terbilang agak mahir makan menggunakan tangan saat menikmati sego bancakan.  Ia juga menyukai petai, suka makan kerupuk beras, kerupuk udang, dan ngemil rempeyek rebon. Pokoknya selama masih tinggal di Indonesia, saya sering menyajikan masakan lokal meski kadang-kadang menyajikan masakan western atau Japanese juga. Saat ini kami terpisah, suami di Sydney sedangkan saya masih di Bali. Sering saya bertanya padanya, selain keluarga, apa yang dia kangen dari Indonesia. Jawabannya ada dua, kangen naik motor dan makan makanan Indonesia.

Makanan Indonesia memang tidak diragukan kelezatannya, namun selalu ada cerita lucu saat pertama kali mencobanya.

Sekitar 5 tahun yang lalu, saya menyajikan klepon untuk pertamakalinya padanya. Cara orang lokal makan klepon kan, biasanya pakai tangan. Nah, suami saya malah memakai garpu karena ia kira, caranya ya ditusuk begitu seperti makan bakso. Turned out it was a bad idea karena begitu ditusuk, gula merah dalam klepon muncrat kemana-mana, ya ke bajunya, ke lantai, ke meja, dan ke muka saya! Rasanya ingin marah tapi melihat ia ketawa sambil berkali-kali meminta maaf, saya kok jadi ikutan ketawa juga.

Cerita lain adalah saat pertama kalinya saya menyajikan kare ayam. Seperti yang anda tahu, kare ayam memerlukan bumbu herba seperti daun jeruk dan sereh. Biasanya, bumbu tersebut hanya digeprek saja dan dimasak bersama daging ayam atau daging sapi. Begitu matang, dibiarkan begitu saja supaya wanginya tetap meresap ke dalam masakan. Sayapun menyajikan seporsi kare ayam tersebut kepada suami tanpa menjelaskan apa-apa. Saya tinggal ke dapur sebentar untuk mencuci panci, tak lama terdengar suaranya memanggil-manggil.
“I can’t eat these.” Katanya sembari mengeluarkan sebatang serai dari mulutnya.
“It’s too hard to chew.” Katanya lagi. 
Sayapun ngakak. Hahaha, sejak kapan serai bisa dimakan. Saya lalu menjelaskan bahwa herba itu disisihkan saja, tidak untuk dimakan.
“Then remove it first before it get served. Everything on the plate should be edible.” 
Iih cerewet. Tapi iyain aja lah supaya tidak berlanjut ke argumen yang tidak perlu. Dan saya rasa ada benarnya juga. Semua yang tersaji seharusnya bisa dimakan. 

*Photo kare ayam saya setelah saya singkirkan semua herbanya.

Saya kira hanya suami saya yang terlalu polos karena memakan herba, ternyata teman sayapun mengalaminya, memakan daun salam!


Jangankan orang asing ya, kita saja yang orang lokal suka kadang-kadang makan lengkuas. Bedanya, kita biasanya tidak sengaja memakannya. Karena ketika lapar, lengkuas bisa terlihat seperti daging. Sedangkan orang asing memakan sereh atau daun salam karena dikiranya semua yang disajikan itu bisa dimakan. Itulah sebabnya, mengapa banyak juga yang cerita mengenai orang asing minum air kobokan, karena dikira infused water!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar