Saturday, 12 October 2013

Bli Bagus

Bicara mengenai staff hotel, rasanya saya perlu cerita sedikit tentang salah satu teman kerja saya yang menurut saya istimewa, namanya Bagus. Bli bagus memang belum lama bekerja di bidang perhotelan. Lulus dari sekolah tinggi bidang kesehatan, bli bagus langsung terjun di dunia perhotelan sejak dua tahun terakhir. Iya, bli bagus korban salah jurusan. Di hotel tempat kami bekerja, bagus seorang bellman.

Saya mengenal Bagus sejak kami sama-sama direkrut menjadi pre-opening team, sekitar enam bulan yang lalu. Dulu saya mengira, Bagus seorang yang pendiam dan tertutup karena jarang bicara dan selalu terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Setelah mengenal lebih dekat, saya sedikit demi sedikit tau betapa istimewanya dia. Pertama kali saya menyadarinya adalah, saat kami bersama-sama istirahat makan siang selepas training hotel system, sekitar sebulan sebelum hotel kami resmi dibuka untuk umum. Saat itu, makan siang masih disediakan di dalam kotak makan yang dipesankan dari catering. Selain nasi dan lauk pauk dan sayur, kami juga mendapatkan dessert berupa buah atau kue, air mineral, dan kerupuk. Sialnya, tiga hari berturut-turut, ketika mengambil box makan siang, saya selalu mendapati tray dessert dan tempat kerupuk sudah kosong. Orang catering yang ditanyapun selalu menjawab, “kami menyediakan sesuai dengan jumlah box, kalau ada yang tidak kebagian, itu karena yang makan duluan mengambil  lebih dari jatahnya.”

Hari keempat, saya dan beberapa teman termasuk bli bagus datang ke kantin yang baru saja buka. Beberapa teman langsung mengambil dessert, dan benar saja, mereka mengambil lebih dari jatah yang seharusnya. Sayapun tergiur untuk ikut-ikutan, anggap saja balas dendam karena tiga hari berturut-turut saya tidak pernah kebagian. Sayapun mawarkan diri untuk mengambilkan sekalian jatah bagus, yang kebetulan duduk semeja dengan saya.
“Aku ambilin sekalian ya bli. Mau berapa?”
Bli bagus yang sedang sibuk dengan ayam gorengnya mendongak sebentar ke arah saya.
“Satu saja, mbak. Jangan ambil banyak-banyak. Kasihan, nanti yang lain gak dapat.” Katanya santai sembari menggigit ayam gorengnya.
Saya terhenyak. Seperti ditampar. Sebagai teman, memang seharusnya saling berbagi. Bukannya menjadi egois dan memikirkan diri sendiri. Ini pelajaran pertama yang diajarkan bli bagus secara tidak langsung, kepada saya.

Belakangan saya menyadari, dibandingkan (tanpa bermaksud membandingkan dalam arti yang sebenarnya) dengan teman bell yang lain, bli Bagus menurut saya yang paling rajin. Datang tak pernah telat, pulangnya seringan paling belakang, karena dia belum mau pulang kalau hand over belum benar-benar selesai. Bell yang lain saya lihat, mereka akan kabur dengan berbagai alasan kalau jam kerja berakhir, kadang-kadang tanpa pamit sama sekali dengan shift yang datang selanjutnya. Bli Bagus yang paling mengalah kalau jadwalnya ditukar-tukar dengan bell yang lain, meskipun konsekuensinya bakalan jumping shift. Tak hanya sekali saya lihat dia double shift karena harus incharge menggantikan salah seorang bell yang kebetulan sakit. Di kegiatan operasional, bli Bagus yang paling rajin mengingatkan arrangement transport dan selalu menyiapkan ini itu tanpa diminta.

Tiga bulan berlalu sejak hari pertama kami bekerja bersama-sama sebagai team, bulan ketiga service charge yang kami dapatkan rupanya tidak sebagus bulan pertama dan kedua. Mulailah saya mengeluh, “Yaaaah.. service charge-nya segini doang ya bulan ini…”
“Disyukuri mbak…” bli Bagus menyahut sambil tersenyum.
“Padahal hotel rame loh.. ternyata banyak yang dapat compliment nih, jadinya revenue sedikit dan service charge juga jadi sedikit padahal occupancy lumayan,” saya masih menggerutu.
“Masih mending kan mbak, dapat service charge. Saya enggak,” katanya santai sambil masih tetap senyum-senyum. Saya melongo tak percaya.
Saya baru tahu kalau ternyata bli Bagus hanyalah seorang daily worker. Yah, ternyata selama ini dia daily worker. Pekerja hotel yang dibayar lepas per hari tanpa mendapatkan tunjangan apapun. Mulanya saya pikir, dia menjadi staff tetap seperti kami dan mendapatkan fasilitas yang sama seperti yang kami dapatkan. Meskipun menjadi daily worker, bli Bagus tetap bekerja sangat baik. Saya jarang mendengar dia mengeluh, apalagi mengeluhkan tentang gaji kami yang timpang, berbanding 1:4 dengan porsi pekerjaan yang sama berat. Untuk kali kedua, saya merasa ditampar, bli Bagus lagi-lagi memberikan pelajaran. Selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki, karena bisa jadi orang lain tidak seberuntung kita. Saya jadi merasa sangat malu…

Sayang sekali, meski di mata kami semua bli Bagus menjadi bell idola, namun ternyata management malah memandangnya sebelah mata. Management kurang memberikan kepercayaan kepada bli Bagus untuk dipromosikan menjadi staff regular seperti kami. Buktinya, ketika di team kami membutuhkan orang tambahan, management malah lebih suka merekrut orang baru daripada merekrut bli Bagus, yang belum tentu memiliki dedikasi dan loyalitas seperti bli Bagus. Kami semua kecewa.

Kamipun mencoba berbagai cara supaya bli Bagus mendapatkan promosi karena memang kami semua menganggap dia layak, mulai menghadap langsung ke HRD, hingga merayu night manager supaya memasukkan topic tentang promosi untuk bagus di morning briefing kepada GM. Sayangnya posisi FOM saat itu sedang kosong sehingga kami tidak memiliki atasan langsung yang bisa menyampaikan aspirasi kami. Hasilnya? Seperti biasa. Aspirasi kami kurang didengar. Janji promosi untuk Bagus tinggallah janji yang tidak jelas kapan bisa terealisasi.

Bulan Agustus sepertinya membawa berkah tak hanya bagi umat muslim yang merayakan hari raya Idul fitri, namun juga bagi kami para pekerja hotel. Hampir sebulan penuh, occupancy hotel selalu penuh sehingga service charge di akhir bulan menjadi banyak. Ketika menerima payroll akhir bulan dari night manager, kebetulan kami iseng-iseng membicarakan masalah promosi Bagus. Dan entah siapa yang memulai, kami merencanakan kejutan kecil untuk Bagus.
Siang itu di bulan September, saya dan Deta, salah seorang bell brondong yang berbody ABRI hati Barbie, mengajak bli Bagus untuk rapat bertiga di Concierge store. Dasar lugu, Deta langsung saja memulai ‘acara’ tanpa aba-aba.
“Bli Gus, ini dari FO team..” langsung saja brondong Barbie ini mengulurkan selembar amplop putih.
Bli Bagus tentu saja terkejut dan reflek bertanya, “ ini apa? Maksud kalian apa?”
“Service charge bulan ini bagus, bli. Jadi, ya, sebagai team, kami semua ingin berbagi sedikit dengan bli Bagus. Ini semua dari teman-teman. Ikhlas. Jangan dilihat dari nominalnya, mungkin tak seberapa. Lihat dari niatnya, ya?” Deta menjelaskan panjang lebar. Mungkin ada semenit kami hanya berpandang-pandangan sampai akhirnya bli Bagus buka suara.
“Makasih ya teman-teman. Saya tidak menyangka kalian sebegitu perhatiannya sama saya.” Bli Bagus berkaca-kaca.
Mulanya saya yang seharusnya mewakili team untuk menyampaikan itu semua ke Bagus. Tapi dasar cengeng, saya tidak bisa. Untungnya ada Deta. Saya segera berbalik dari suasana penuh haru itu. Tak bisa lama-lama melihat mata yang berkaca-kaca itu.
***
“Pagi Babeh…” saya menyapa Pak Medi, night manager saya yang super sabar, seperti bapak sendiri sehingga saya memanggil beliau babe, meskipun Pak Medi bukan orang betawi.
Babeh terlihat serius memandangi layar handphonennya. Lalu bergumam sedikit, “buruk Ann. Seminggu lagi semua daily worker dirumahkan*.”
Tenggorokan saya tiba-tiba tercekat. Seperti tak percaya.Mentang-mentang posisi FOM sedang kosong, masa sih tidak ada yang bisa memperjuangkan? Pak Medi memang night manager, namun beliau tidak memiliki kewenangan apapun dalam hal ini.
“Memangnya sudah pasti, beh? Apa buktinya? Kenapa?” saya masih tidak terima. Berharap ini hanya isu belaka.
“Kamu buka email saja Ann, tanggal kemarin. Ada attachment minute meeting. Semuanya ada di situ.” Babe mengintruksikan saya untuk menggunakan komputer reservasi yang lokasinya bersebelahan dengan meja night manager.  Sepagi itu, orang reservasi belum ada yang datang.
Seperti dihantam badai, saya harus percaya berita itu benar.
“Beh, tolong jangan bilang Bagus dulu, ya? Coba nanti siang aku sama mbak Melin ngomong ke orang HRD, mungkin ada jalan lain.”
Babe mengangguk.

Siang itu…
Mbak Melin yang baru datang langsung menyapa saya dengan berseri-seri. Hari ini dia telat 5 menit. Tumben, ‘sedikit’ on time.
“Mbak Anna…” sapanya.
Namun hari ini saya tak sedang ingin membahas mengenai keterlambatannya. Tanpa basa basi, saya langsung menarik tangannya menuju kantor FOM yang kosong.
“Mbak, Bagus mau dirumahkan.”
“Hah???!!! Lha kok iso to yo?” Ekspresi kagetnya membuat logat Jawanya keluar. Come on mbak Melin, ini bukan saatnya bercanda.
“ Ada emailnya tentang hasil minute meeting kemarin. Banyak Daily worker yang harus dirumahkan.”
“Tapi ya jangan Bagus toh yo! Kalau Bagus dirumahkan, bell kurang orang! Nanti kalau ada salah satu bell yang libur siapa yang mau jadi bell?”
Saya menggeleng. Tiba-tiba pintu kantor FOM terbuka perlahan. Bli Bagus rupanya.
“Mbak… kok pada rapat sendiri disini? Saya gak diajak?” katanya seperti tak ada apa-apa. Padahal saya tahu, Bagus juga pastinya sudah membaca hasil minute meeting sialan itu.
“Ada apa Gus?” Mbak Melin juga berusaha bersikap sewajar mungkin. Tapi dalam hati, entahlah.
“Saya minta mbak revisi schedule bell untuk minggu depan, sekalian minta tanda tangan form ini…” katanya seraya menyerahkan form pemberhentian kerja. Saya mulai muak.
“ Enggak, Gus. Aku gak mau revisi schedule. Aku gak mau tandatangan ini.” Mbak Melin merampas form itudari tangan Bagus dan beranjak dari tempat duduknya.
“Aku mau ngomong dulu ke HR, mungkin ada jalan lain.” Mbak Melin mengisyaratkan saya untuk ikut. Kamipun beranjak ke ruang HRD, meninggalkan Bagus sendiri di ruang FOM dengan wajah sedih. Saya segera bergegas. Tak sanggup melihat wajah itu…
***
“Jadi kenapa Bagus, Pak?” suasana di ruang HRD sudah panas bahkan sebelum kami masuk tadi. Kami sudah lama memperjuangkan Bagus untuk bisa dipromosikan menjadi staff regular seperti kami selama enam bulan tanpa kepastian. Sekarang management mengadakan pengurangan daily worker dan Bagus termasuk di dalamnya, tentu keputusan itu amat menyakitkan.
“Maaf, Bu Melin, Bu Anna. Tidak hanya pak Bagus. Kami juga ada pengurangan di semua departemen, tidak hanya front office. Dan ini sudah menjadi keputusan managemen, atas intruksi dari General manager, kami sebagai HRD hanya menjalankan apa yang sudah diintruksikan.” ini penjelasan dari orang HRD. Saya semakin muak.
Percuma berdebat. Jalan lainpun tidak ada. Hanya berharap semoga dalam waktu dekat ada lowongan untuk bell yang berstatus staff regular dan kami akan mengajukan Bagus kembali.
Saya pulang masih dengan hati yang hancur. Bukan, saya tidak memiliki ikatan emosi apapun dengan Bagus. Saya hanya melihat Bagus sebagai rekan yang baik dan memang sangat layak untuk diperjuangkan. Sayang, ternyata management kurang bisa ‘melihat’ kinerja bli Bagus. Itu yang membuat saya sangat tidak bisa menerima keputusan tak adil yang mendadak itu. Saya pernah ada di posisi Bagus. Saya masih ingat rasanya. Masih terlalu ingat bagaimana sakitnya. Dan saya tidak mau, hal yang sama terulang di rekan saya.
Tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan masuk. Dari Bli Bagus. Ah, saya tidak mau membukanya. Saya betul-betul tak tega. Tapi, sebagai teman yang baik, saya juga tak ingin mengacuhkannya. Saya takut, dia malah berfikiran buruk.





Saya terenyuh. Rasa kesal itu perlahan menghilang, lalu berganti ikhlas. Saya merasa malu. Seperti tertampar, untuk ketiga kalinya. Bli Bagus ternyata punya hati yang besar. Saya sebagai sahabat seharusnya membesarkan hatinya, bukannya dia yang membesarkan hati kami. Mungkin saat ini, kami harus mengikhlaskan Bagus. Tapi saya yakin, Tuhan punya skenario lain yang lebih indah dari yang kami semua harapkan.

Mudah-mudahan.

2 comments:

Post a Comment