Enak dan gak enaknya tinggal di Australia

By Anna - October 09, 2021


Jadi, selama 9 bulan belakangan ini, saya pindah tinggal di Australia menyusul suami yang sudah duluan setahun tinggal di sini. Ini adalah kunjungan pertama saya ke Australia, dan langsung menetap. Banyak hal yang saya pelajari sebelum saya pindah, mulai dari mencari informasi mengenai daerah yang akan kami tinggali, iklim dan  cuacanya, perkumpulan orang Indonesia yang tinggal di sana, hingga dimana saja lokasi toko Asia (yang terakhir ini sama pentingnya, loh!). 

Kami tinggal di daerah perkampungan orang Italia di Sydney, nama daerahnya Leichhardt. Suami pertama kali menyewa kamar Airbnb-nya di daerah ini, dan betah tinggal hingga setahun. Saat pertama kalinya saya datang, saya suka daerah ini. Tidak terlalu ramai, agak laid back karena banyak senior citizen alias orang-orang tua, tidak jauh dari pusat kota, dan yang terpenting, daerahnya agak datar. Ini penting, karena mostly kontur tanah di Sydney naik turun, beberapa daerah bahkan lumayan curam. Salah seorang teman yang tinggal di Pennant Hill, misalnya, pernah mengatakan pada saya bahwa perjalannya dari kontrakan ke bus stop sudah seperti hiking saking curamnya kemiringan tanah di sana, and she hated it so much karena di Jakarta dia kemana-mana kan naik motor atau mobil, jarang jalan kaki. Sekalinya jalan kaki di Sydney jalannya macam hiking. Pegel!



*Jalanan di daerah saya tinggal saat musim gugur

 

9 Bulan memang waktu yang terbilang sangat singkat untuk menyimpulkan pengalaman secara umum tinggal di sini, namun saya rasa, tidak ada salahnya saya berbagi pengalaman enak dan tidak enaknya tinggal di Australia versi saya selama waktu yang singkat ini. Tentu saja akan ada update nantinya setelah saya tinggal beberapa tahun lagi. Doakan saya betah di sini ya, teman-teman!
 
Enaknya:

1. Bisa jalan kaki dengan aman.

Saya sangat suka jalan kaki. Saat jalan-jalan ke luar negeri, jalan kaki sambil melihat sekeliling adalah pengalaman yang sangat saya nikmati. Trotoar khusus pejalan kaki hampir tidak pernah ada lubang, rata, dan jika ingin menyeberang jalanpun ada rambu jalan yang berfungsi. Norak ya? Memang hal basic tapi bagi saya ini sangat penting. Di tempat tinggal saya di Bali, trotoar yang benar-benar berfungsi sesuai dengan fungsinya sangat jarang, dan hampir tidak ada safety dalam  hal menyeberang jalan. Kebanyakan orang menyeberang jalan sembarangan dengan hand sign. 

2. Fasilitas umum yang memadai.
Hal basic dan bagi saya sangat penting lainnya adalah, ada taman /area hijau hampir di setiap pojokan blok perumahan! Taman ini digunakan sebagai area piknik, tempat bermain anak-anak, area bermain anjing, dan area jogging. Meskipun fasilitas umum, tapi taman selalu terjaga kebersihannya dan tanaman yang ada di dalamnya selalu terpangkas dengan rapi. Biasanya ada keran air minum untuk pengunjung, juga disediakan keran untuk minum anjing. Fasilitas umum lainnya seperti public library juga mudah dijumpai. Cara daftar membernya sangat mudah dan yang terpenting semuanya gratis!

3. Tidak ada anjing liar.

Bagi saya ini amat sangat penting! Di Bali, banyak sekali anjing liar baik di jalanan atau di gang perumahan hingga di restoran pinggir pantai. Di sini, memelihara anjing ada regulasinya dan setiap hewan peliharaan harus terdaftar dan tervaksin lengkap. Saya takut anjing apalagi yang suka menggonggong tanpa alasan jelas. Di sini hampir tidak ada anjing menggonggongi manusia, kecuali saat ada anjing bertemu dengan sesama anjing.

4. Udaranya bersih dan tidak ada sampah berserakan.

Di sini, hampir tidak ada kendaraan yang suka ‘kentut’ atau berasap apalagi berasap hitam seperti yang setiap hari saya temui saat di Indonesia. Kelayakan jalan setiap kendaraan betul-betul diregulasi di sini, bahkan beberapa bus memasang stiker zero emission yang artinya lebih ramah lingkungan.  Oh ya, armada bus yang dipakai public transport di sini kebanyakan jenis Mercedes! Hasilnya, meski saya tinggal di kota, namun kualitas udara di sini sangat baik. Oh ya, tidak ada lagi bapack-bapack yang merokok sambil naik motor dan abunya terbang kemana-mana. Hore!

5. Jaminan kesehatan yang sangat baik.

Karena status saya adalah permanent resident, maka saya mendapatkan fasilitas kesehatan bernama Medicare. Medicare ini semacam BPJS kalau di Indonesia. Bedanya, BPJS kan ada iurannya jadi harus bayar, sedangkan Medicare gratis. Beberapa orang dikenakan Medicare levy charge, namun kalangan ini adalah bagi yang berpenghasilan lebih dari $200,000 atau sekitar 2 miliar rupiah per tahun untuk keluarga dengan 1 anak. Nah, bagi yang penghasilannya di bawah itu, Medicare gratis tis! Kalau kartunya mau expired pun, kita tidak perlu repot-repot melakukan apa-apa karena Medicare card yang baru akan dikirim ke alamat kita sebelum kartu yang ada betul-betul expired. 

6. Jaminan sosial dan Pendidikan bagi anak-anak.

Australia menurut saya adalah negara yang ramah anak dan anak-anak betul-betul diperhatikan dengan baik. Ada jaminan sosial untuk anak yang disebut family tax benefit untuk orangtua yang berpenghasilan rendah. Penghasilan rendah di sini batasnya adalah jika kedua orang tua berpenghasilan kurang dari 800 juta per tahun ($80,000). Iya, hampir 1 milyar per tahun di sini dianggap kurang mampu! 
 
Selain itu, sekolah negeri di sini hampir gratis sampai tingkat secondary atau setara SMA. Saya bilang hampir gratis karena sebetulnya masih ada iuran tahunan tapi jumlahnya sangat kecil jika dibandingkan dengan sekolah Ayumi anak saya saat di Bali sekalipun. Percayalah, saya hanya bayar $150 atau 1,5 juta rupiah saja untuk tuition setahun! Kualitas dan fasilitas di sini jauh lebih baik daripada rata-rata sekolah Ayumi di Bali.
 
Setiap tahun, pemerintah memberikan voucher sejumlah $300 atau sekitar 3 juta rupiah untuk anak-anak usia sekolah tanpa syarat. Voucher ini bisa digunakan untuk kegiatan kreatif semacam membeli peralatan art, atau kegiatan fisik seperti les renang.

Selain Pendidikan dasar yang hampir gratis, kuliah di sini bagi warga lokal atau PR juga sangat murah. Sebagai perbandingan, teman saya yang kuliah jurusan administrasi bisnis membayar sekitar 200 juta per tahun, sedangkan warga lokal atau permanent resident membayar 30 juta saja. Itupun masih ada student loan atau pinjaman Pendidikan bagi yang ingin melanjutkan Pendidikan namun terbentur biaya. Super!

Sebetulnya, selain kuliah di universitas, ada banyak sekali program sertifikasi atau short course gratis dan sangat mudah diakses. Saya sendiri ikut program sertifikasi gratis ini.  Detail apa dan bagaimana-nya, akan saya ulas di artikel berikutnya, ya!

 


*Ayumi dengan background Opera house, dari dalam Ferry menuju Taronga Zoo

7. Bunga KPR sangat rendah.

Percaya tidak, bunga pinjaman KPR atau pinjaman beli property di sini mulai dari 1,59%!! Bunga sebetulnya bervariasi antar bank, namun rata-rata sekitar 2,5% saja untuk beberapa tahun pertama lalu naik sekitar 3-3,5% untuk tahun berikutnya. Bandingkan dengan bunga KPR di Indonesia yang starting from 8% untuk beberapa tahun pertama dan naik menjadi 10-12% untuk tahun berikutnya.

8. Menjadi orang tua di Australia itu anti pusing-pusing club alias enak!

Ini salah satu teman kerja saya yang student dan casually nanya-nanya mengenai kehidupan baru saya di sini. Setelah tahu bahwa sekolah anak saya, kursus saya, dan Medicare kami gratis, dia berseloroh, “Wah, enak sekali ya jadi orang tua di sini. Cuma mikirin biaya hidup doang. Anak mah sudah dijamin pemerintah. Anti pusing-pusing club!”.

Awalnya, saya hanya menganggap statement ini hanya candaan, hingga saya akhirnya menyadari kalau yang teman saya katakana itu ada benarnya. Di Indonesia dulu, saya harus membuat banyak pos-pos pengeluaran, mulai sekolah anak, asuransi kesehatan, biaya ijin tinggal suami tiap tahun, dan biaya kebutuhan sehari-hari. Selama di sini, setidaknya saya tidak perlu bayar asuransi atau bayar mahal jika harus ke dokter, dan biaya sekolah anak yang dulunya sangat besar, sekarang menjadi sangat kecil nilainya. Lalu status saya yang mendapatkan permanent resident hanya dalam waktu 4 bulan, sangat melegakan jika dibandingkan dengan saat suami tinggal di Indonesia dan ijin tinggalnya harus diurus setahun sekali. 

9. Gaji besar

Fun fact: Australia memiliki gaji casual per jam tertinggi di dunia! Tahun ini, kalau tidak salah gaji rata-rata adalah sekitar $20 atau sekitar 200ribu per jam. Saya sangat happy saat pertama gajian, saking ga percayanya. Bagaimana tidak, dalam sehari saya digaji 2 juta rupiah. Meanwhile di lingkungan saya tinggal di Bali, gaji UMK di Denpasar saat itu hanya sekitar 3 jutaan. Saya tidak heran mengapa banyak sekali imigran yang menggunakan segala cara untuk bisa masuk dan bekerja di Australia. Gajinya benar-benar membuat orang khilaf!

Nah, yang enak-enak sudah saya jabarkan, sekarang gentian gak enaknya tinggal di sini:

1.     Biaya hidup mahal.

Sadly, memang benar demikian. Hidup di sini tidaklah murah. Biaya hidup untuk keluarga dengan 1 anak seperti kami sekitar $5,000-6,000 atau sekitar 50-60 juta per bulan. Biaya hidup tentu saja sangat berdeda untuk tiap keluarga, namun jika dibandingkan dengan biaya hidup di Indonesia, bedanya sangat jauh.
Pengeluaran paling besar adalah untuk sewa rumah. Tergantung lokasi dan keadaan property, 1 bedroom apartemen di pinggiran kota seperti Leichhardt ini harganya sekitar $550-600 per minggu. Iya, sewa di sini hitungannya mingguan dan pembayaran biasanya dilakukan 2 minggu sekali (fortnightly). Jika dikalkulasi, maka untuk sewa rumah saja perlu biaya $2,383 atau sekitar 24 juta per bulannya.

2. Mal-nya gak niat.

Sebetulnya saya bukanlah anak mal dan bukan seorang shopaholic. Hanya saja, kadang-kadang saya suka jalan-jalan tanpa tujuan di dalam mal. Jika anda membayangkan mal di sini seperti di Jakarta atau Surabaya, maka buanglah jauh-jauh harapan tersebut karena mal di sini menurut saya nggak niat. Mal di sini kecil, hanya 2-3 lantai dan tutup jam 5 sore. Yup, anda tidak salah baca, mal di sini tutup jam 5 sore. Saat easter, natal dan tahun baru bahkan mal juga ikutan libur. Secara kalau di Indonesia kan jam 5 itu jam-jam ramai pengunjung, apalagi hari libur seperti natal dan tahun baru! Namun inilah Australia, yang menjunjung tinggi nilai keseimbangan antara bekerja dan kehidupan pribadi. Istilah kerennya, work-life balance. Kalau dipikir-pikir, keren juga ya? Para pekerja Mal pun berhak untuk libur saat public holiday, dan menghabiskan waktu bersama keluarga saat sore. Hal ini tentu saja tetap tidak berlaku bagi hotel staff ya, kan hotel buka 24/7.

3. Semua dipajakin dan pajaknya tinggi.

Kalau di Indonesia, pedagang di pasar, petani, toko kecil, dan tukang sudah biasa tidak bayar pajak penghasilan, bukan? Nah, di sini semua-muanya itu ada itungan pajaknya! Karena system pajak yang ketat inilah, pemerintah mendapatkan dana untuk membayar segala fasilitas untuk warganya. 

4. Masuknya susah.

Salah seorang teman traveler yang ditolak visa Australianya mengatakan bahwa sepanjang karir jalan-jalannya keluar negeri, Australia adalah salah satu negara yang paling pelit memberikan visa. Padahal teman saya ini memiliki ratusan juta di rekeningnya, punya history jalan-jalan ke Amerika dan Eropa, dan bekerja di perusahaan besar multi nasional.

Pelitnya pemerintah dalam memberikan visa ini bisa dimaklumi mengingat banyaknya turis dari negara berkembang (termasuk Indonesia) yang akhirnya menjadi pekerja illegal di Australia. Kasihan juga ya, gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Satu dari sekian orang yang melanggar aturan, namun imbasnya satu negara dipertanyakan legitimasinya. 

5. Makan di luar sangat mahal.

Jika anda tipe-tipe orang yang dikit-dikit gofood, dikit-dikit makan di luar pas di Indonesia, bisa dipastikan anda akan merana di sini karena harga dining out atau makan di luar sangat mahal. Di Indonesia jika ingin makan murah di luar, ada banyak alternatif pilihan lain selain resto, misalnya kedai atau warung. Di sini tidak ada warung, harga 1 main course rata-rata sekitar $20 atau 200 ribuan. Lucunya, di sini gerai fastfood macam Mcdonald dan KFC adalah makanan murah (seporsi big mac meal di sini sekitar $15). Sedangkan di Indonesia, Macdonald atau KFC kan  masih bisa dibilang wah!
Meski makan di luar mahal, namun saya akui porsinya jumbo. Seringkali kami tak bisa menghabiskan makanan yang kami pesan dan berakhir dibungkus bawa pulang. 
Skill memasak sangat penting untuk survive di Australia. Dengan memasak sendiri di rumah, bisa lumayan menekan budget makan di luar.

6. Susah kontrak rumah

Terbiasa di Indonesia kalau mau sewa rumah alurnya adalah cari rumah – inspeksi- cocok-bayar. Namun di sini berbeda. Kontrak rumah harus dilakukan melalui perantara yang disebut estate agent dan sudah seperti melamar kerja. Alurnya kira-kira sbb: calon penyewa melihat iklan property, inspeksi dan tertarik dengan property tersebut. Lalu penyewa harus membuat aplikasi sewa, melampirkan bukti finansial, bukti pekerjaan tetap, KTP, SIM dan paspor, bukti pembayaran kontrakan 3 bulan terakhir di landlord sebelumnya, mengisi banyak form, dan melampirkan rekomendasi dari landlord sebelumnya.  Setelah aplikasi masuk, pihak agent akan meneruskannya ke pemilik property, dan jika disetujui, agent baru bisa membuatkan akad sewa. Oh ya, semua orang yang akan tinggal harus membat aplikasi masing-masing ya. Jika punya hewan peliharaan, maka harus membuat aplikasi juga untuk hewan peliharaan tyersebut. Beuhhh, ribet!

Padahal setelah disetujui, penyewa harus membayar uang bond atau deposit yang nominalnya 4 minggu uang sewa, plus uang sewa 2 minggu pertama. Jika harga sewanya 550 per minggu, maka untuk bisa masuk uang yang disetor adalah 3,300 atau sekitar 33 jutaan. Ini belum termasuk nantinya bayar listrik, air, dan gas loh. Mumet!

Detail mengenai pengalaman sewa rumah ini akan saya ceritakan nanti saja ya di lain waktu. 
Oh ya, mengapa tidak beli rumah saja? Oh dear, harga rumah di sini sudah amat sangat mahal. Semahal apa? 1 Bedroom apartement yang kami tinggali ini harganya 10 Milyar rupiah atau sekitar 1 juta dolar. 

Tau dari mana? Ada unit sebelah yang dilelang beberapa bulan lalu dan kami ikut menonton saat proses Auction berlangsung. Impian kami membeli property di sini sepertinya masih jauh.

Ngomong-ngomong, kalau di kampung saya di Nganjuk jawa Timur, uang 10 M sudah bisa beli sawah berapa hektar ya? 

7. Semua harus dikerjakan sendiri, tidak ada pembantu.

Bagi kebanyakan orang, ini bencana. Banyak student dari Indonesia yang berasal dari keluarga mampu dan biasa memiliki asisten rumah tangga di tanah air merasa kewalahan saat pertama kali menyesuaikan diri di tahun-tahun pertama tinggal di sini. Tenaga manusia sangat mahal dan dihargai dalam satuan per jam di sini. Hampir tidak ada pembantu tinggal dalam seperti di Indonesia kecuali orang yang kaya raya. Ada cleaner yang datang hanya jika dipanggil. Baby sitter juga sama saja, hampir tidak ada baby sitter yang tinggal dalam. Hampir semua orang tua yang bekerja di sini menitipkan anaknya di tempat penitipan anak atau childcare, jika tidak memiliki keluarga yang bisa dimintai tolong menjaga anaknya. 
 
Jadi bagaimana, masihkah tertarik untuk tinggal di Australia?

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar