Toilet Deluxe Garden View

By Anna - July 28, 2011

Satu hal yang membuat saya tertarik training di hotel ini adalah karena 95% tamunya adalah orang asing.  Alasan pertama, adalah untuk memperlancar bahasa Inggris saya yang byar pet byar pet. Tentu anda sangat setuju dengan pernyataan saya, bahwa metode pembelajaran bahasa yang terbaik adalah dengan terjun langsung di lingkungan orang – orang yang memakai bahasa bersebut. Bisa karena biasa, mungkin itu istilah yang paling tepat.  Alasan kedua adalah  karena saya tertarik mempelajari bahasa asing non british (baru di sini saya tahu bahwa tidak semua bule bisa berbahasa inggris). Turis – turis non British yang paling sering saya temui adalah Jepang, Rusia, dan China. Sedangkan India, meskipun bisa berbahasa inggris tapi speaking speed mereka gak ketulungan cepatnya. Belum lagi logat mereka yang kental tak bisa mengucapkan huruf “T” dengan baik dan benar. Perhatikan saja, mereka selalu mengatakan “dis” untuk this dan “thaim” untuk time. Kalau mereka bicara dalam bahasa inggris, palingan hanya 50% saja yang bisa saya tangkap maksudnya.


Sebagai front office trainee, tugas utama saya adalah mengescort tamu dari lobby ke kamar dan menjelaskan semua fasilitas yang ada di hotel dan beberapa informasi tambahan seperti shopping mall dan beberapa tempat yang “must see”. Jika hotel sedang sepi biasanya kerjaan saya hanya stand by  di meja concierge dan memperhatikan tamu yang lalu lalang sambil sesekali menyapa mereka. Meski hanya “menyapa”, hal yang sebetulnya sepele namun jadi hal serius jika disini. Kami harus memperhatikan asal tamu tersebut sebelum menyapa. Orang jepang biasanya mengucapkan “konnichiwa”, Rusia “dobre jien”, china “wu an” dan sisanya adalah “good afternoon” kalau saya sudah menyerah tak tahu harus mengatakan apa. Umumnya jika tamu tersebut mengerti Bahasa inggris mereka akan balas menjawab, jika sebaliknya maka hanya akan tersenyum saja. Pernah saya mendapatkan komplaint dari seorang tamu korea yang saya sapa dengan bahasa Jepang. Lah Korea dan jepang bukannya sodaraan, yach??? Ternyata tidak sodara- sodara… lah sebenarnya bukan murni salah saya dong, emang wajah orang Korea mirip dengan orang jepang, seperti halnya orang Indonesia dengan Malaysia atau Filipina gitu…
     
Masih soal Bahasa yang jadi kendala, kadang- kadang saya sampai tertawa sendiri jika mengingatnya.
Suatu hari saat saya sedang stand by di meja concierge, seorang bule menghampiri saya tergopoh-gopoh dan mengatakan,
“Eight am???” oh, dia bertanya pukul berapa sekarang, mungkin itu maksudnya. Logatnya jelas dan pronounciation-nya pun meyakinkan. Sayapun lalu melihat jam di layar computer.
“No, it’s already 9 Am, Sir!”  saya menjawab dengan pedenya. Eh, si Bule terlihat bingung. Kepalanya celingak celinguk mencari sesuatu. Tapi matanya balik melototin saya.
“Eight am, plis… eight am…” waduh, ini bule kok maksa ya? Udah dibilangin jam 9 kok, malah ngeyel jam 8. Tapi saya masih yakin dia bisa bahasa inggris.
“But it’s already 9 am, Sir!” sayapun ngotot. Gak ngerti apa maunya ini Bule. Dan si Bule tetap celingak celinguk. Nah, ini temennya datang. Dan si Bule langsung nyerocos entah pakai bahasa apa, dan temannya tersenyum simpul menatap ke arah saya,
“Excuse me, where is the closest ATM machine here???” Oalah…  

Lain kesempatan, sayapun kebagian kesempatan menjadi Butler di executive floor di hotel tempat saya training. Disini disediakan lounge khusus dan sebagai bagian dari benefit, tamu mendapatkan all day softdrink di lounge ini. Nah, suatu hari seorang tamu Rusia datang dan kebetulan saya yang taking order.
“Kolalais plis” orang aneh ini mulai memesan minuman. Tapi saya bingung, apa itu kolalais? Sayapun bertanya,
“Excuse me, but we don’t have kolalais, Sir.” Dasar Rusia, sifat ngeyelnya kambuh.
“No, kolalais. Kolalais!” Waduh, saya sampai putus asa mengingat ingat apa ada minuman bernama kolalais. Tapi memang sepertinya tak ada.
“You mean, Cola with ice?” sayapun mencoba mengkonfirmasikan.
“No, No No. Kolalais plis!!” saya makin puyeng. No-nya satu aja napa?
“You mean lime juice??” eh.. tiba-tiba manager saya sudah nongol di belakang saya dan ikutan nimbrung. Tapi lime juice… jauh sekali dari kolalais. Hehehe..
“No. Kolalais plis!” tiba-tiba orang aneh ini ngambil sebungkus white sugar disodorkan dihadapan muka saya.
“No sugar.” Tambahnya. Oalah..ternyata yang dia maksud itu Cola light….

Suatu kesempatan lain, saat saya sedang di front desk, tanpa ba bi bu seorang cewek Chinese menghampiri meja saya dan bertanya,
“We see room, please.” Saya pun celingak celinguk tak ada orang lain selain dia sendiri dihadapan saya. Kenapa juga bilang we?? Tapi saya cuek saja menanyai nomor kamarnya.
“Your room number please.” Terlihat dia bingung tapi tetap memberitahu saya nomor kamarnya.
 “One- fifth-four-one” well, sejauh ini saya masih mengerti. Saya pun menawarkan jenis kamar yang dia ingin lihat.
“We have Deluxe garden view and Deluxe Ocean view. Which one would you like to see, Maam?” si Chinese terlihat makin bingung, tapi entah kenapa dia lalu menjawab,
“Garden view.” Ok, sayapun membuatkan kunci untuk showing room dan bersiap mengajaknya berkeliling. Saya masih tak curiga meski si China sudah berubah warna mukanya. Belum lama kami berjalan, kami melewati rest room dan si China tiba-tiba berubah jadi girang.
“Ok, tengkyu tengkyu.” Si china masuk ke dalam dan tak keluar- keluar. Saya bengong menunggu di luar dan baru ngeh. Ternyata dia tadi tanya dimana Toilet ( Wc room yang saya asumsikan we see room) dan bukan showing room!!! Sampai di meja reception sayapun bercerita mengenai kejadian barusan dan teman saya pun tergelak mengolok-olok saya,
“Sejak kapan ada toilet deluxe garden view atau ocean view?? Hahaha…”



 *) Restroom (ato WC room?) yang gak ada view ocean/ gardennya.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar