Wednesday, 27 July 2011

It’s all about my boarding house (part-2)



So, post ini merupakan kelanjutan dari post sebelumnya. Masih mengenai kos – kosan yang complicated.


Saya sendiri sebenarnya bukanlah seorang tipe orang yang rewel masalah kos – kosan. Kosan ideal buat saya tidak harus besar, punya fasilitas lengkap dan mahal. Buat saya yang penting nyaman, air bersih dan lancar, lingkungan bersih dan kapasitas listrik memadai, itu sudah cukup.  Meski lokasi agak jauh dari pusat kota, bagi saya itu bukan suatu kekurangan.

 Malahan kalau lokasinya ada di pusat kota, akan membuat saya repot sendiri. Saya paling malas berdesak – desakan naik angkot, tapi juga saya kurang mahir mengendarai sepeda motor, satu-satunya alternatif kendaraan yang bisa saya gunakan karena di kota besar semacam Surabaya, Jakarta atau Denpasar, karena takut akan lalu lintas yang sangat padat dan saya paling benci jika harus putar arah, potong jalan atau belok. Dan tentunya juga sangat tidak nyaman kalau kemana-mana naik sepeda. Tapi di daerah sepi yang melipir agak jauh dari kota, setidaknya saya tidak terlalu khawatir mengendarai sepeda motor sendirian. Ya, seperti kosan yang di Bali. Setiap kali pulang kerja bagi saya adalah berwisata. Saya bisa mengendarai motor pelan – pelan sambil menikmati pemandangan di sekeliling tanpa khawatir tertabrak/menabrak. Kenapa pulang kerja? Saya selalu terburu – buru saat berangkat kerja  karena seringnya saya berangkat 30 menit sebelum saya incharge. Hehehehe…
Sepulangnya dari Bali dan mendapatkan pekerjaan baru di sebuah Hotel di Surabaya, sayapun harus siap- siap cari kos-kosan lagi yang lokasinya dekat dengan hotel karena saya tak mau repot-repot naik angkot. Well, setelah kesana kemari mencari kos, jatuhlah pilihan saya di kosan di gang 8. Karena lokasinya yang dekat dengan tempat kerja, tanpa lihat – lihat lebih teliti lagi, saya pun deal saja membayar uang muka untuk kamarnya.

Kosan saya kali ini terletak tepat di muka jalan raya gang 8 yang merupakan jalan utama penghubung antara kelurahan X menuju kelurahan Y. Memang hanya sebuah gang kecil yang lebarnya tak lebih dari 4 meter, tapi karena merupakan jalur utama, maka jalan inipun sangat ramai sehari-harinya. Mulai dari pejalan kaki, becak, motor, mobil sampai truk semua umplek-umplekan masuk dan membuat macet. Namun tinggal di daerah seperti ini, kelebihannya, mudah sekali bagi saya yang pemalas ini menemukan warung makan saat saya tiba-tiba lapar, atau laundry jika pakaian kotor saya menumpuk tapi malas mencuci sendiri.  Saya pun semakin mantap memutuskan untuk pindah kos dari kosan lama di Surabaya barat ke kosan baru ini.

Tapi alangkah kecewanya saya saat saya mengetahui kondisi kosan yang sebenarnya, benar-benar tidak sesuai espektasi. Benar-benar mengecewakan. Yang tersisa hanya dongkol dan menyesal kenapa saya buru-buru ingin pindah dan deal telah membayar uang kosnya padahal saya belum melihat kondisi kamar secara keseluruhan.

Separah itukah? Well, sepertinya saya harus jelaskan secara mendetail satu persatu.

Pertama, kamar yang saya kira luas (saya lihat dari luarnya saja sebelumnya) ternyata haya berukuran 3 x 3 meter! Tidak ada ranjang, apalagi perlengkapan elektronik. Cuma ada kasur dan bantal, itu pun tak ada spreinya, lalu ada satu lemari pakaian yang sudah parah kondisinya; tak ada kuncinya, dan sebagian kayu dan tripleknya sudah longgar. Butut sekali lah pokoknya. Penerangan di kamar hanya berupa lampu neon 5 watt yang bagi saya terlalu gelap. Tirai dan keset juga tidak ada. Cat tembok yang seharusnya berwarna putih sudah mulai kusam kekuningan.

Kedua, meskipun sudah membuka pintu dan jendela koridor, kamar saya tetap terasa pengap dan panas. Saya nyalakan kipas angin non-stop 24 jam. Tapi kok ya tetap tidak berubah lebih sejuk. Belakangan saya baru tahu kalau atap kamar saya itu terbuat dari seng yang bawahnya ditutup plafon dari triplek!

Ketiga, air yang dipakai di kosan ini berasal dari air tanah yang alirkan melalui pompa. Padahal, tetangga sekitar hampir semuanya memakai air PAM. Mending kalau air tanahnya ini layak pakai. Lah, air di kosan ini berwarna dan berbau! Baunyapun khas, bau got! Yep, saya tidak hiperbol tapi begitulah kenyataan yang sebenarnya. Jika saya menadahkan telapak tangan saya di aliran air dari kerannya, air akan terasa kasar karena ada serpihan – serpihan pasir. Jika airnya diendapkan, endapan lumpurnya lumayan tebal. Selain itu, air yang keluar sedikit berbuih seperti air soda.  Bagi saya yang jarang menggunakan air di kosan karena seringnya saya mandi di tempat kerja, bagi saya masalah air tak begitu saya hiraukan. Apalagi saya tidak perlu mencuci peralatan masak karena saya tidak memasak dan kalaupun makan saya biasanya langsung di warungnya dan tidak pernah take away. Mencuci juga jarang, karena lahan jemuran yang terbatas. Memang tidak setiap hai kondisi air seburuk itu, karena kadang-kadang air yang keluar juga bersih dan jernih. Lantas?

Well, masalah baru timbul setelah salah seorang teman main ke kosan saya. Ceritanya, karena kondisi kamar saya yang panas, teman tersebut kegerahan dan memutuskan mandi di kamar mandi kosan. Besoknya, kulit lengannya melepuh merah dan beruam-ruam. Setelah ke dokter, teman saya diberitahu dokter bahwa dia terkena herpes gara-gara mandi dengan air kotor! Yep, setelah kejadian itu, saya tak pikir panjang lagi segera angkat kaki dari kosan!

Keempat, terlepas dari masalah air yang kotor, kondisi kamar mandi di kosan ini sangat parah. Untuk 8 kamar dengan 10 orang penghuni, sebetulnya dua kamar mandi dengan dua toilet di dalamnya sudah cukuplah. Tapi masalahnya toilet yang ada seringkali mampet, sehingga menimbulkan pemandangan yang menjijikkan bagi siapa saja yang melihat. Entah sudah berapa tahun wcnya tidak disedot karena dari dua wc yang ada, kedua-duanya loh mampet semua! Kondisi makin diperparah dengan pintu kamar mandi yang dua-duanya anjret;tidak bisa ditutup sempurna kecuali dengan cara mengangkat sedikit bodi pintunya lalu ditarik/didorong. Silahkan anda membayangkan bagaimana repotnya jika tiba-tiba anda dalam kondisi saya, mendapatkan panggilan alam dan harus ke toilet dengan kondisi seperti itu! Huek!!!

Kelima, masalah jemuran. Yep, seperti yang sudah saya singgung tadi, disini lahan untuk jemuran sangat terbatas. Meski saya langganan laundry, tapi kadang – kadang saya juga mencuci sendiri, tapi seringnya kapok, karena cucian saya hilang. Yang lebih menjengkelkan lagi, si tangan ini ternyata brand minded sekali. Alias hanya mengambil barang – barang yang ada merk-nya saja. Yang mengherankan, ternyata tidak hanya baju/barang bermerk, tapi G-string La Senza saya juga raib! Hello… celana dalam kok ya masih diembat??!!

Keenam, lahan parkirnya itu loh, sempiiiiittt… sekali! 10 orang yang tinggal di kosan kok ya semuanya bawa motor sendiri – sendiri. Jadilah parkiran bejubel tidak karuan dan seringnya motor saya gores dan lecet – lecet. Dan saya pastinya harus hipertensi dulu setiap kali harus memasukkan/mengeluarkan motor karena itu artinya perjuangan! Belum lagi harus jinjit – jinjit angkat kai karena septic tank yang terletak di lahan parker seringnya luber dar parkiran hingga ke jalan!Duh!

Ketujuh, dan paling tidak bisa saya tolerir adalah berisik. Yep, ke-sepuluh orang yang kos disini tuh rupanya sudah pada budge semua kupingnya. Kalau mau iseng tengok, di tiap kamar pasti terlihat ada external sound. Gede-gede lagi! Jadi setiap kali mereka nonton TV atau Cuma iseng dangdutan, dah pasti suaranya kemana-mana. Mending kalau Cuma satu kamar yang berisik, lah ini hamper semuanya gitu udah kaya saingan! Maleman dikit, saat bunyi-bunyian sudah reda, eh lah gantian warung yang letaknya pas di depan kosan yang berisik karena di warung sedang menayangkan acara sepak bola. HOEEEEYYYY….saya mau tiduuurrr…!

Kedelapan dan paling membuat saya dongkol adalah ibu kosnya. Si Ibu kos ini sudah agak tua tapi masih cantik dan dandanannya suer-ABG banget. Kalau lagi ngobrol bawaanya pamerin kucing-kucing rasnya yang lagi perawatan di salon dan satunya lagi sedang dirawat di rumah sakit kucing karena sedang sakit (ya oloh, ini kucing loh!). Kalau saatnya bayar kos, ibu yang satu ini paling rajin sms mengingatkan pembayaran uang kos yang jatuh temponya masih seminggu lagi. Tapi kalau dikomplen mengenai keadaan kosan, ya pastinya dia iya iya saja tapi tidak ada follow upnya. Padahal sewa kosan yang saya bayar itu tidak murah loh… 100 ribu lebih mahal dari pada kosan militer yang fasilitasnya lengkap. Kos di sini memang makan ati. Hiks!

Karena berbagai alasan yang selalu bikin dongkol inilah, saya hanya bertahan dua bulan dan akhirnya hengkang nebeng ke kosan salah satu teman saya sebelum saya menemukan kosan yang sesuai untuk saya.

No comments:

Post a Comment