Tuesday, 14 April 2015

Akibat kurang Jalan - Jalan



Saya sangat setuju dengan pernyataan kak Trinity Traveler bahwa salah satu manfaat jalan-jalan adalah untuk menambah pengetahuan dan tidak kuper. Pengetahuan apa? Ya pengetahuan umum, supaya gak malu-maluin di negeri orang. Saya memang bukan seorang penyuka jalan-jalan atau seorang hard core traveler atau traveler sejati seperti kak Trinity. Maklum, sebagai pekerja biasa, manalah saya bisa cuti sering-sering dan lama *sampai di sini saya langsung merasa sedih. Namun, setidaknya gak naif-naif amat karena banyak baca buku (lagi-lagi bukunya kak Trinity). Iya, saya ngefans banget sama kakak tukang jalan-jalan satu itu. 


Sebenarnya agak gimana ya kalo dibilang malu-maluin. Tapi saya jadi geli saja dengan tamu-tamu yang pertanyaannya membuat saya sakit perut seketika. Contohnya:
" I want to complain." Seorang tamu emak-emak bule datang ke saya dan langsung pasang muka ngambek.
" May I know what's the problem, Maam?"
" 10 minutes ago I asked your colleague where I can withdraw my money." Katanya.
" Yes.. and..?" Saya masih sabar nih ceritanya apa ada yang salah dengan rekomendasi teman saya.
" Then he suggested me to go to the ATM machine just down the road..."
Sampai di sini saya agak-agak khawatir. Banyak kasus kartu tertelan gara-gara si bule kelamaan bengong, tidak segera memencet tombol di mesin ATM.
" You know what, I received rupiah from the ATM. Rupiah, not in Australian dollar!"
Nah lo? Memangnya ada yang salah?
" ATM machine here only has rupiah in it, Maam. So whatever your currency in your card, when you withdraw money, of course it will be in rupiah." Perut saya tiba-tiba kram nahan kentut.
" Oh.." Katanya dengan wajah yang innocent. Kali ini, rasanya saya kepingin kentut beneran saking gak kuat nahan geli.

Contoh lain...
" I want to check out." Seorang bapak-bapak berwajah Cina menghampiri konter saya suatu hari.
Karena prepaid booking, otomatis kamar sudah lunas terbayar. Si tamu juga tidak ada konsumsi apa-apa, dan sayapun mengucapkan terimakasih, proses check out selesai.
Namun s tamu masih di sana, seperti menunggu sesuatu.
" I want the receipt." Katanya.
Nah lo? Receipt apaan? Makan, minum, minibar gak ada semua kok.
" Room receipt. Please print room receipt." Katanya lagi.
Sayapun menjelaskan bahwa dia booking melalui online prepaid booking, yang  artinya bookingannya dia sudah terbayar oleh pihak online agent (Agoda), sehingga di system kami harga yang tertera adalah harga agent (dan sudah terbayar), yang strictly tidak boleh dilihat oleh tamu. Tentu saya menolak memberikan print out bill.
" Other hotels gave me the print bill. Why you are so difficult."
Iya, rasanya saya mau kremes-kremes aja ini tamu.
" Because it is prepaid booking, Sir. You should have receipt from Agoda when you completed the booking." Saya balik ngeyelin dia. 
" I know, but I need the receipt with hotel's letter head on it to refund the tax at the airport."
What?! Rasanya saya pingin langsung muncrat, untungnya bisa saya tahan. Lah sejak kapan pajak hotel bisa direfund? Kalau misalnya belanja di toko-toko tertentu dengan nominal tertentu, memang tax bisa direfund di bandara, tapi sejak kapan hotel tax ikut-ikutan direfund?

Balik lagi ke topik jalan-jalan. Manfaat lain jalan-jalan adalah membuat orang lebih terbuka atau istilahnya open minded. Open minded bagi saya artinya adalah menerima keadaan. Namanya jalan-jalan, apalagi di negeri orang, janganlah disamakan dengan negara sendiri. Lagi-lagi mengutip bahasa keren kak Trinity bahwa "satu-satunya kepastian di negara tercinta ini adalah ketidakpastian." Kalo di internet dibilangnya sekian kilo hanya butuh sekian menit, pada kenyataannya bisa berpuluh menit jauh dari perkiraan.

Open minded kedua artinya menerima. Menerima apanya? Menerima informasi dari orang lain tanpa harus ngeyel dan membuktikan sendiri kebenarannya. Kalo informasi yang diberikan benar ya sukur, tidak benar ya nothing to loose. Nyebelin banget kalo ada tamu yang sotoy, udah nanya-nanya, dijawab bener malah ngeyel.


"Excuse me." Ini suatu hari ada tamu yang dateng ke konter saya, sepertinya mau nanya sesuatu.
" I want to go to Legian beach. How long does it take by taxi from here?" Tanyanya lagi.
" It takes about 20 minutes, Maam." sambil ngelirik arloji, jam-jamnya lagi macet-macetnya.
" Really? Can not be..." Katanya lagi.
" It is only 2 KM away according to the map. It will take no more than 5 minutes. I can even walk!" Tambahnya.
" Yes, Maam. But Seminyak street is small and so many cars passing and so many cars park on the street and it makes traffic so bad." Saya jelasin panjang lebar aja sekalian biar dia yakin saya gak lebay. Si tamu nanggepinnya gimana gitu, kaya gak percaya dengan keterangan yang saya berikan. Ya udin, kalo gak percaya ya monggo silahkan dibuktikan sendiri! Lagian ini tamu nanya apa ngetes sih? Kalo udah tau ya ngapain nanyak? Saya jadi sewot ini.

Singkatnya, sorenya saya ketemu lagi sama ini tamu waktu dia jalan di lobby. Dia sih gak ada ngeliat ke arah saya, dan jalannya cepet-cepet gitu. But saya sengaja aja nyapa dia, cuma mau ngetes berapa lama dia nyampe Legian. dan diapun ngeluh...
" Yeah, you are right. It took nearly 45 minutes just to go to Legian. Taxi didn't really move. I think walking is faster. Traffic was really crazy."
Sayapun ketawa ngakak dalam hati. Rasain! Eh, ini baru Bali loh, belum tau dia gimana rasanya kalo kejebak macet di Jakarta...

Dan yang paling nyebelin dari semuanya itu, kalo ada tamu yang songong, gayanya selangit, tapi (maaf) bloon. Udah gitu ngeyel dan sok bossy pulak!
Ceritanya ini tamu mau check out, dan niatnya bayar pakai credit card. Pas digesek, eh ternyata DECLINE. Saya kasih tahu tamunya dong, bahwa transaksinya gagal, dan meminta tamu menggunakan alternatif kartu lain (jika ada) atau payment dalam bentuk cash.
" You try again." katanya.
Siap, Boss!!!! Dalam hati saya membatin kesal, kalo aja ini orang bukan tamu, saya sudah bejek-bejek mukanya.Transaksi decline mau dicoba berapa kali kalo decline ya bakalan decline terus, lah!
Dan seperti yang saya duga, percobaan kedua juga decline. Sayapun mengulang permintaan agar tamu menggunakan alternatif kartu lain atau cash, eh.. saya malah dibentak.
" You check the balance there! It should work. I have more than enough to pay!" Katanya dengan gayanya yang super arogant.
Ngecek? Ngecek saldo di EDC? Ini becanda kan ya? Kenapa gak sekalian aja suruh saya narik duit dari mesin EDC? Ampun maaakkk...!

Berikut penampakan mesin EDC. Ini mesin ajaib loh, kartu KTP digesek juga bisa keluar duit...
Makanya, jalan-jalan sering-sering biar gak gini-gini amat. Belum bisa jalan karena kendala waktu dan biaya? Ya, baca buku travel seperti saya ^_^. Setuju?