Saturday, 29 November 2014

Ayam atau Babi (Bagian 1)


Saya sering sekali ditanya teman-teman dari Jawa yang kebetulan mau main ke Bali, " Gak susah nyari makanan halal kan disana?" . Jawabannya  sudah tentu: mudah sekali. Di Bali banyak orang muslim, dan makanan 'muslim' (maksudnya makanan yang sama sekali tidak mengandung babi) mudah sekali didapat. Kalau pagi, pillihannya ada nasi Jinggo (semacam nasi kucing kalau di Jawa) yang banyak sekali ditemui di pinggir-pinggir jalan. Beberapa pedagang nasi Jinggo ada juga yang sekalian jualan nasi kuning. Isi lauknya tentu saja ada ayam, telur atau ikan. Dan saya belum pernah tuh, nemu nasi kuning pakai lauk babi.

Kalau siang hari lebih banyak variasinya karena banyak 'warung Jawa' yang buka. Entah kenapa dinamakan warung Jawa, mungkin karena pedangangnya orang Jawa dan yang dijual adalah masakan rumahan ala dapur Jawa, yang pastinya tidak ada babi. Malam hari, di Bali sama seperti di Jawa dimana banyak sekali orang berjualan nasi goreng, bakso, mi ayam dan sebagainya.

Nah, bagaimana ceritanya dengan makanan karyawan di hotel?

Di hotel, para staff mendapatkan jatah makan sesuai shift yang biasanya disediakan di kantin karyawan.  Di hotel saya sekarang, semua makanan dijamin halal karena katering dari luar yang bekerja sama dengan hotel adalah katering 'muslim' sehingga mereka memang tidak menyediakan makanan dengan lauk babi. Sewaktu masih kerja di The Grand Beach, karena karyawannya ribuan dan sekitar 60% karyawannya adalah orang hindu yang bisa makan babi, menu babi memang kadang-kadang disajikan meskipun tidak setiap hari, ditempatkan di wadah khusus dengan signage "Babi" di atasnya. Bahkan, ada salah satu staff katering yang ditugaskan untuk menjaga tray khusus tersebut dan mengingatkan orang-orang berperawakan 'non-hindu' namun masih nekat mau ambil lauk babi.

Lain Bali, lain Surabaya. Kalau di Bali gampang sekali ketemu 'babi', di Surabaya yang mayoritas penduduknya muslim, saya jarang sekali ketemu babi, kecuali di restoran-restoran khusus yang memang menyediakan babi. Di hotel, menu yang sering disajikan di kantin karyawan biasanya ayam, daging sapi, telur dan ikan. Kadang-kadang, kalau 'chef' kantin sedang dalam mood yang bagus (karena beliau cemberut sepanjang hari- atau emang sudah bawaan kali ya?) kami bisa dapat udang atau cumi.

Persamaannya, entah mengapa ya, rasanya kok makanan di kantin jarang yang enak. Kalau bukan karena menunya monoton, ya rasanya yang gak ngalor gak ngidul (terjemahan bebas; bukan ke utara, bukan pula ke selatan alias gak karu-karuan) -kata orang Jawa-. Di rumah, sayur lodeh buatan Ibu tersayang itu ya sayur lodeh dengan aneka sayur dan pakai kuah santan. Kalau di Bali ya kuning begitu saja pakai bumbu seadanya tanpa santan. Jadi bagi saya rasanya aneh. Soto ayam kalau di rumah ya rasa soto ayam. kalau sudah di kantin hotel, penampakan sih soto ayam, tapi rasanya... you never know!

Saking tidak enaknya, kami sampai punya julukan untuk makanan tertentu yang kadar kelezatannya diragukan namun sekring sekali kami temui di kantin. Berikut ini sebutan-sebutan yang membuat nafsu makan kami seketika buyar hanya dengan mendengar namanya :
 
1. Ayam fitness. Ini julukan buat ayam goreng super garing. Harusnya sih ayam garing itu enak ya? Tapi ayam yang satu ini saking garingnya, dagingnya hanya seuprit membalut tulang.Karena itulah kami menamakan ayam goreng jenis ini dengan nama ayam fitness. Karena kebanyakan fitness alias lari-larian dan kebanyakan latihan makanya ni ayam jadi kurus dan dagingnya alot. Duh!

2. Ikan terbang
Julukan ikan terbang (atau kadang-kadang disebut ikan Indosiar) dianugerahkan kepada sejenis ikan keringg yang diiris melintang tipis dan digoreng sampai garing - saya tak tahu ya itu ikan aslinya namanya apa, yang jelas ini ikan rasanya hanya asin saja-. Kalau ada teman yang baru balik dari istirahat makan siang dan mukanya masih kucel, tak usah ditanya lagi "menunya hari ini apa ya?" pasti mereka langsung sewot dan bilang "Ikan terbang!"

3. Nasi Kucing
Bukan nasi kucing yang biasa dijual di warung angkringan pinggir jalan loh ya.. kalau ada yang bilang nasi kucing, di tempat saya artinya menu hari itu adalah ikan pindang. Bukan bermaksud menghina makanan atau apa, tapi biasanya kalau dirumah, pindang selalu identik dengan makanan kucing.

NB: Jangan salah, makanan di kantin hotel itu sebenarnya bagus, loh. Nutricious alias berigizi dan setiap hari kualitas dan kebersihan selalu dikontrol oleh dokter (yang bertugas di klinik hotel). hanya saja, entah mengapa, rasanya kok jarang ada yang enak.