Monday, 8 July 2013

Tragedi Pagi-Pagi


Kejadian ini betul-betul absurd dan mudah-mudahan hanya saya saja yang mengalaminya.

Pukul 5.40
Suatu pagi saat saya masih sibuk bermimpi, suara gas motor brong yang super berisik dari halaman depan kamar mengagetkan saya. Sambil mengumpat dan menyumpahi pemilik motor tak tahu aturan itu, dengan malas saya membuka mata dan secara reflex memandang ke arah jendela. Ada sedikit semburat warna jingga, ufuk pagi. Saya jadi tergagap dan langsung menyambar handphone yang tergeletak tak berdaya di sebelah bantal, langsung melihat jam digital yang tertera di layarnya, jam 5.40. Loh? Loh? Loh? Mampus! Kan saya masuk jam 6 pagi!!!

Sayapun panik, menerjang bantal dan guling, melempar selimut ke lantai dan mengibas-ngibaskan sprei yang iseng nyangkut di pergelangan kaki, setengah berlari menuju ke kamar mandi. Ooohh.. tentu bukan untuk mandi karena saya sudah tidak ada waktu lagi. Perjalanan dari kost sampai ke hotel saja perlu setidaknya 15 menit, dan sesampainya di hotel saya biasanya masih perlu sekitar 15 menit untuk ganti baju dengan seragam yang harus saya ambil terlebih dahulu di laundry, lalu make up, dan menata rambut. Cara tercepat saat ini adalah hanya menggosok gigi,  cuci muka, grusak grusuk ganti baju dan.. cuzz!!!
Pukul 5.50
Dengan kesal saya mencoba menstarter motor. Tak juga menyala. Aduuuhh… kenapa lagi sih ini! Tak biasa-biasanya pinky (nama motor kesayangan saya) ngadat di saat yang tidak tepat begini! Sayapun dengan panik memeriksa sekeliling, memastikan apa ada yang salah dengan si Pinky. Ketika melongok ke arah roda, saya menyadari sesuatu. Side stand (penyangga samping) si pinky masih turun. Ya ampun…! Si pinky ini jenis motor matic yang (promosinya) aman karena saat side stand turun, maka tidak akan bisa dinyalakan. Jelas aja si pinky tidak bergeming dari tadi. Sampai lebaran monyet juga si pinky gak bakalan bisa on. Adanya juga seandainya si pinky bisa ngomong, dia bakalan protes dan gantian marahin saya, “Bego amat sih lo Non. Itu side stand-nya dinaikin dulu!”
Aduh, maaf…!

 Pukul 6.00
Saya pacu pinky sekencang-kencangnya. Semoga saja sampai dalam 10 menit. Handphone sialan. Saya ingat semalam saya sempat setel alarm jam 4.45 supaya saya punya cukup waktu untuk siap-siap. Eh, ternyata alarm handphone ini malah mengkhianati saya.  Icon alarm yang biasanya terlihat di pojok kiri atas tidak ada. Pasti ada yang salah. Saya punya kebiasaan memencet tombol snooze untuk mengulur-ngulur waktu bangun (dan saya yakin anda juga kan? Hayo, ngaku!). Biasanya saya set snooze sepuluh menit supaya alarm terulang setiap sepuluh menit sekali sampai jam sudah menunjukkan bahwa waktu sudah mepet dan saya sudah tidak boleh tidur dan mengulur waktu lagi. Baiklah, mungkin tadi alarm membangunkan saya dan saya tidak sengaja mematikan alarm, bukan memencet tombol snooze seperti biasanya, sehingga saya balik tidur dan bablas. Bagus!

Jam 6.10
Saya sampai juga di parkiran hotel. Fyyyyuuuhhhh!!! Saya lihat sekeliling, kok masih sepi ya? Biasanya jam 5 pagi saja sudah susah mencari tempat parkir yang nyaman untuk Pinky. Ya sudahlah. Saya bergegas masuk, absen di fingerprint machine, dan setengah berlari menuju uniform room untuk mengambil seragam. Loh? Orang uniform kok juga belum kelihatan ya, batang hidugnya? Pada kemana nih? Pasti ditinggal ngerumpi ke Housekeeping office nih! Saya tak peduli. Dengan susah payah saya cari sendiri seragam saya diantara ratusan baju yang tergantung di linen room. Entah sudah berapa kali saya mengumpat pagi itu. Kenapa juga di saat genting begini tak satupun yang lancar. Benar-benar sial!

Jam 6.20
Nafas saya tersengal karena lari menaiki tangga dari basement  sampai ke lantai 1. Make up yang saya kenakan “apa adanya”  saking terburu-burunya, sudah separuh luntur terkena keringat. Benar-benar pagi yang panas, meskipun Bali semalaman terguyur hujan.
“Eh, mbak Anna. Rajin amat, jam segini sudah datang!” Erik, teman receptionist saya menyapa.
“Kamu nyindir, Rik?” Saya sudah setengah mati segininya, enak saja dia bilang begitu.
“Baru jam setengah tujuh kurang ini. Anak-anak lain biasanya kan datang jam tujuh teng!” Erik masih santai sambil sesekali memencet tombol kalkulator, menghitung bill tamu yang masih pending yang akan check out hari itu.
Saya jadi tersadar. Jam tujuh…? Jam tujuh?!!!
 Kutukupret! Beneran saya kepagian!!! Pantesan semuanya masih santai dan sepi.
Saya masih terbawa suasana kerja di tempat lama, dimana shift pagi dimulai jam 6 pagi. Sekarang saya di Bali dan shift pagi dimulai jam 7! Ya ampunnnnn….!
“Mbak Anna hari ini incharge sama siapa? Check out-an banyak loh hari ini.” Erik menoleh ke arah saya sebentar, tanpa menyadari kedodolan yang telah terjadi.
Saya langsung menyambar Schedule sheet di dalam log book, mengamati… dan mengamati…
Seperti tahu ada hal yang aneh, Erik ikut membantu saya melihat schedule hari itu.
“Kalau tidak salah sih mbak Anna hari ini masuk siang deh..” Suara Erik masih ringan, seperti tidak ada apa-apa.
“Eh.. hari ini tanggal 7 ya? Loh? Mbak Anna kan hari ini off?” Mukanya berubah bertanya-tanya.
Nah lo?
Sayapun memastikan sekali lagi. Saya cek tanggal di handphone. Saya cek tanggal di schedule. Benar. Hari ini saya libur.
Perjuangan saya pagi itu sia-sia sudah.

Kampreeeeeeettttt!!!!