Saturday, 11 August 2012

Jogja, Dulu vs Sekarang


Saya terakhir kali ke Jogjakarta sekitar dua belas tahun yang lalu, mengikuti study tour semasa saya masih kelas dua SMP (yaaaah… ketebak deh betapa tuwirnya saya sekarang!). Saat itu tentu saya masih cupu-cupunya, berangkat bareng delapan ratusan anak dengan dua belas bis besar (sekolah saya waktu SMP muridnya ribuan), dan memakai kaos olahraga dengan slayer dan topi yang warnanya seragam. Kami diarak menuju satu persatu tempat wisata yang sebagian besar berupa candi-candi, museum dan keraton. Yang ada di benak saya saat itu, mengunjungi candi itu ampun capek dan panasnya, ke museum sangat membosankan, sedangkan ke keraton hampir sama membosankannya karena (saat itu yang saya lihat) hanya beberapa orang main gamelan dan ada sindennya yang lagi nyanyi. Kalau yang begituan, buat saya sih ngapain harus jauh-jauh ke Jogja, karena di desa-desa tetangga bergiliran menayangkan wayang kulit setiap weekend. Itupun saya tidak pernah nonton. Maklum, dua belas tahun yang lalu pikiran saya (tentu) masih dangkal sekali. satu-satunya hiburan adalah melihat-lihat toko souvenir di setiap tempat wisata. Bagi kami saat itu, tempat souvenir itu jauh lebih menarik ketimbang tempat wisatanya sendiri. Sayang, uang saku yang saya miliki sangat terbatas (seingat saya hanya Rp.75.000 yang bagi saya sendiri lumayan besar nominalnya waktu SMP dulu) sehingga kalau mau beli apa-apa juga pilihannya terbatas. Penjual souvenir yang kebanyakan nyegat wisatawan asing di pintu keluar juga malas menawari kami, karena pastilah kami tak tertarik (dan tak kuat) beli.

Destinasi lain yang menurut saya menarik adalah ke pantai Parangtritis. Bukannya saya norak belum pernah lihat pantai, tapi saat itu pantai-pantai yang saya kunjungi adalah pantai-pantai yang tenang, semacam pantai Kenjeran di Surabaya atau pantai di Tanjung Kodok, Lamongan. Saat itu saya belum tahu kalau karakteristik pantai utara dan pantai selatan itu berlainan. Selain mengagumi ombaknya, kami yang masih SMP kusak kusuk bergosip (halah, masih SMP aja sudah suka bergosip) tentang kebenaran mitos mengenai pantai selatan ini. Konon, wisatawan yang mengunjungi pantai ini dilarang mengenakan pakaian yang berwarna sama dengan pakaian Nyi Roro Kidul, seperti merah, kuning, hijau dan biru. Kalau melanggar, wisatawan tersebut bisa tiba-tiba raib secara misterius.  Kebenaran cerita itu, hingga saya dewasa sekarang ini, masih menjadi misteri.

Dasar anak- anak, saya dulu tidak pernah mikir untuk beli atau mencicipi makanan khas dari tujuan wisata yang saya kunjungi. Tahu apa yang saya beli? Saya beli dodol (karena kasihan sama penjualnya yang seorang nenek-nenek), daster buat ibu saya, dan kaos bergambar mickey mouse berlatar hitam untuk saya sendiri. Iya, saya akui saya cupu abis. Beli makanan tidak perlu, karena kami mendapat jatah makan yang dibawakan pihak sekolah. Bekal jalan saya sendiri (berupa roti manis dan susu) juga sama sekali belum tersentuh sampai saya pulang. Foto-foto bukti study tour juga nyaris tidak ada, karena saat itu kebanyakan dari kami belum punya kamera. Kalaupun ada, hanya satu-dua saja dan itupun pakai yang ada roll filmnya. Kebayang betapa terbatasnya jumlah foto yang bisa diambil. Alhasil, saya tak satupun memiliki foto eksklusif kunjungan study tour ini, karena foto-nya harus ramai-ramai dengan banyak teman sekaligus. Itupun saya malas meng-afdruk karena harus giliran pinjam filmnya.

Dua belas tahu berlalu, dan saya tak pernah menyangka kalau minggu lalu saya bisa ke sana lagi dengan durasi hampir seminggu, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya lihat, hanya berdua ditemani orang yang sangat istimewa, dengan point of view yang benar-benar berbeda. Kalau dulu saya bareng-bareng banyak teman berangkat dan pulang dengan bus pariwisata, kali ini saya berangkat sendiri dengan bus patas dan pulang naik pesawat. Kalau dulu bawaannya tas ransel sekolah, sekarang bawaanya koper hotel. kalau dulu bawa uang berlembar-lembar, sekarang tinggal bawa kartu ATM, dan semua beres.
Destinasi yang saya tuju kali inipun berbeda, saya sempat mengunjungi Solo selama dua hari, makan nasi liwet, nonton di bioskop lokal, mengunjungi mall paling happening di sana, dan keliling-keliling naik becak (ini langka juga, mengingat saya terakhir kali naik becak sudah 6 tahun yang lalu).

Kalau dulu saya dan kawan-kawan tidak menginap dan tiduran di bus, sekarang mau nginap di hotel mana juga saya tinggal pilih. Mau poto-poto di tempat wisata, saya  tak perlu lagi rebutan sisa film dengan teman-teman karena sudah punya kamera digital sendiri, istimewanya teman jalan saya suka sekali memotret saya dan kameranya juga bagus, jadilah kalau saya mau ambil foto, tinggal pose dan tanpa komandopun dia langsung jeprat jepret.

Kalau dulu pedagang souvenir di pintu keluar malas menawari saya, kini mereka mengejar-ngejar kami sampai ujung pintu keluar segitu keukeuhnya. Barang-barang yang saya beli untuk souvenir kali ini pun berbeda, saya beli Bakpia pathok yang jadi jajanan khas Jogja, beli gantungan kunci dengan symbol I love Jogja, dan menikmati spa dan massage ala Jawa (yang bener-bener strong) dua kali dalam seminggu perjalanan saya.

Yang teringat sekali di benak saya waktu mengunjungi candi-candi semacam Borobudur dan Prambanan adalah ketinggiannya. Yang saya ingat waktu SMP, Borobudur itu tinggi banget. Saya sudah ngos-ngosan naik dan belum nyampe-nyampe juga di puncaknya. Sedangkan sekarang feel saya kok Borobudur ternyata ‘segini doang’. Hahahaha… mungkin dulu waktu masih SMP kaki saya masih pendek.

Yang berbeda lagi adalah dalam perjalanannya sendiri. Di bis, teman-teman laki-laki ada yang bawa gitar akustik dan memainkannya selama perjalanan di bis. Ramai sekali. Sekarang, kami naik taxi kemana-mana dan karaokean berdua dengan memutar music berbahasa Jepang di Ipad. Dulu, selesai study tour tugas kami selanjutnya adalah membuat laporan kunjungan wisata, kalau sekarang saya paling-paling hanya mengumpulkan tulisan sporadic saya di notepad selama perjalanan dan menuliskannya kembali di blog.

Meskipun berbeda, saya merasakan feel yang sama setiap kali ke Jogja. Apanya yang sama? Jogja, bagi saya  tetap cerminan dari keasrian budaya yang masih benar-benar terjaga. Baik dulu hingga sekarang.
However, I love Jogja.