Thursday, 9 February 2012

Seremnya Makanan Korea

Di Indonesia, masakan Korea memang kurang popular. Restoran yang menyediakan masakan Korea juga sangat jarang. Kalau iseng, silahkan main – main ke hotel. Coba sebutkan hotel mana di negeri ini yang memiliki restoran khusus masakan Korea? Saya kira kok belum ada ya? Kalau dibadingkan dengan Negara tetangganya Jepang, dimana restoran masakan Jepang sudah menjamur di mana-mana, Restaurant makanan Korea memang masih sepi.

Saya sendiri yang doyan wisata kuliner level amatir (baca: doyan banget kalau ada yang traktir, hehehehe) juga baru-baru ini beruntung mencicipi masakan negeri ginseng itu. Ceritanya, teman saya yang orang ekspat Jepang secara tidak sengaja mengajak saya makan siang di restoran Jepang yang sekaligus menyediakan masakan Korea. Bosan dengan masakan Jepang, beliaupun lalu merekomendasikan masakan Korea sebagai alernatif pilihan. Saya kira akan aman karena saya tidak harus (dipaksa) makan ikan mentah ( sashimi maksudnya –yang buat saya yang orang pribumi ini seram sekali ), sayapun pasrah mau diorderin apa sama beliau. Toh saya cuma ditraktir. Iya saya tahu, cheapshit saya lagi kumat.

Meski belum pernah mencicipi masakan Korea sebelumnya, tapi sebenarnya saya tidak buta-buta amat mengenainya. Setidaknya saya tahu apa itu Bulgogi dan Galbi 1,2). Guru bahasa Inggris saya di hotel ngakunya pernah bekerja bareng orang Korea dan beliau cerita kalau hampir 90% masakan Korea itu menambahkan Khimchi sebagai penambah rasa yang mendarah daging sudah seperti  bawang merah bawang putih saja kalau di kuliner kita. Lucunya, khimchi itu menimbulkan bau badan yang khas sehingga orang Korea secakep apapun (yang unyu-unyu yang sering nampang di TV itu looo..) pasti bau badannya bau khimchi! Guru saya juga pernah cerita, selama bekerja di company punya Korea dulu, beliau akan dengan mudah mengenali orang Korea di kerumunan orang karena bau khimchinya yang khas.

Cerita lain, masih tentang guru bahasa Inggris saya (namanya ibu Diah) ini suatu hari hendak mengadakan pesta tahun baru bersama kolega Koreanya. Karena tuan rumahnya orang Korea, ibu Diah pun diminta untuk membantu acara masak-masak di apartemennya. Lagi enak-enaknya motong-motong spring onion, si Korea teriak-teriak complain, kenapa bagian hijaunya dibuang, disisakan yang bagian pangkal yang putih itu. Eh ladalah ternyata kalau di Korea, spring onion itu yang dipakai malah yang bagian daun yang hijau itu, sedangkan pangkalnya yang putih itu dibuang. Lah di kuliner kita kan, yang ijo itu jadi sampah...


*)Kalau ladies masak2, bagian ijo atau bagian putihnya yang dipakai?

Eh, kembali ke cerita awal. Jadi orderan saya sudah datang. Teman Jepang sayapun menerangkan sedikit, yang dia pesankan buat saya adalah nasi campur Korea (sayang saya lupa apa nama Koreanya). Berupa sayur-sayuran, daging, mushroom, dan telur yang masih juicy banget di tengah-tengahnya. Disajikan dalam semacam bowl dari batu yang dipanasi. Nasinya tidak kelihatan, tertutup sayuran dan daging di atasnya. Sayapun mencoba sedikit sayur dan nasinya. Mmmm…. Nyummy!  Sengaja saya tidak menyentuh telur sama sekali, karena tidak terbiasa makan telur mentah. Eh, ladalah teman saya tiba-tiba mengambil alih mangkuk saya dan ‘ngajarin’ saya bagaimana caranya makan nasi campur Korea ‘yang baik dan benar’. Jadi, dengan cueknya dia ambil chopstick saya lalu menganduk semua yang ada di bowl saya sampai telur yang masih meleleh itu bercampur baur dengan sayur dan nasi. Hiiiiiiyyyyyy… sumpah saya ‘jijay’ setengah mati karena telur mentah yang saya hindari malah diaduk-aduk dan sekarang makanan saya jadi tak cantik lagi, malahan lebih mirip makanan bebek. Huh! Masih belum selesai, teman saya malah dengan nyengir kuda mempersilahkan saya makan. Dengan berat hati (dan separo pengin muntah melihat penampilannya) sayapun melahap suapan pertama. Eh, enak ternyata. Sayapun berimajinasi membayangkan nasi goreng pojok langganan saya dan memperhatikan teman saya ngobrol untuk mengalihkan konsentrasi makan saya. Duh!


*)Nasi campur Korea.
Kalau sudah diaduk-aduk, bentuknya gak akan secantik ini lagi.

Baru suapan kedua, pesanan teman sayapun datang. Dia sempat menyebutkan namanya ‘sannakji’. Yang datang adalah seekor gurita hidup yang masih menggelepar-gelepar di piringnya! Dan dengan sadisnya itu gurita yang masih meronta-ronta itu di’jagal’ di TKP! Ooouuughhhh!!!!! Kalau yang satu ini, biarpun ditawarin dengan imbalan apa juga, saya gak mau makan!!!

Note:

  1. Bulgogi : Daging sapi lada hitam
  2. Galbi    : Iga panggang
  3.  Khimchi: bumbu masakan Korea beupa sayuran yang telah difermentasikan