Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts

Thursday, 11 July 2013

Jawa Pos For Her

Tulisan ini dimuat di Jawa Pos for Her, her Journey, 2 Juli 2013

Eksotisme kegarangan merapi; Nikmati pemandangan yang kontras


Wisata ke Jogjakarta hampir selalu monoton. Kalau tidak ke Keraton, turis lokal maupun mancanegara hampir bisa dipastikan berkeliling memuaskan keinginan berbelanja di Malioboro. Tak banyak yang menjajal rute baru. Mengunjungi kawasan gunung merapi dan sekitarnya, misalnya. Padahal, pemandangan di sana tak kalah menawan.

Pertengahan Agustus 2012 lalu, HRD manager menyampaikan internal memo mengenai pengambilan cuti tahunan. Supervisor saya member saya cuti total tujuh hari. Enggan tinggal di rumah saja, saya menelepon teman jalan saya, Taki, yang masih bekerja di Kuala Lumpur. Dari hasil diskusi singkat, kami sepakat untuk menghabiskan liburan ke Jogjakarta.
Satu tempat yang menjadi jujukan kami adalah Kaliurang. Mencari hotel untuk ke Kaliurangpun menjadi seni tersendiri. Di situs booking membooking hotel online, sangat jarang ada yang menampilkan hotel di Kaliurang. Akhirnya, kami berhasil juga menemukan juga hotel bagus yang “nyempil” di sebuah desa. Cangkringan villa and Spa, namanya. Ternyata, villa yang terlihat tersembuny dip eta itu benar-benar “nyempil” keberadaannya.
Sopir taksi kami yang orang lokal saja dibuat berputar-putar selama dua jam. Hikmahnya, kami bisa melihat banyak hal. Sawah-sawah hijau, bukit yang menjulang sebagian rumah, serta wilayah yang rusak karena muntahan merapi.
Perjuangan selama tiga jam akhirnya berlalu. Kami sampai di lokasi tersebut dan takjub. Tepat di sebelahnya ada merapi golf. Yang membuat saya takjub, kawasan ini terkena langsung dampak merapi. Tapi saat saya kesana, terkesan tidak pernah terjadi apa-apa.
Saat check in, kami ditawari tur ke merapi seharga Rp. 400ribu oleh resepsionis hotel. Karena penasaran, kami setuju untuk ikut. Tur dimulai pukul 5 pagi keesokan harinya. Sekeliling masih gelap ketika kami berangkat.kami dijemput kendaraan semacam jip dan touring off road selama lebih dari tiga jam.
Mulanya kami mengira kami akan dibawa ke hutan, atau ke spot-spot indah yang manarik untuk difoto. Tidak tahunya, kami dibawa ke jalanan sempit berbatu. Semakin naik ke atas, semakin gundul. Ketika memasuki wilayah merapi, pemandangan sekitar yang sebelumnya hijau berganti cokelat dan abu-abu. Pepohonan kering kerontang, debu beterbangan, dan puing-puing rumah yang terbakar terlihat jelas di depan mata.
Kamipun sampai di tepi sebuah jurang. Di depannya terhampar sungai pasir yang lebar. Guide kami menerangkan, dulunya itu adalah sungai yang diterjang Merapi. Material Merapi yang menumpuk di sungai tersebut yang membuat kering sungai itu. Jika hujan turun, tentu sangat berbahaya karena lahar dingin sewaktu-waktu mengancam.
Hari beranjak terang. Guide membawa kami ke batu Alien, sebuah batu besar dengan wajah mirip alien. Kamipun berjalan kaki karena mobil tidak bisa lewat. Lautan pasir berundak dengan hiasan batu beraneka ukuran ditengah, diselingi jurang dan bukit kecil tumpukan material merapi.
Di sisi kanan dan kiri, terhampar pemandangan yang kontras. Hutan hijau dengan sedikit warna putih dari pohon-pohon yang mati bagaikan menghidupkan lukisan alam itu. Warna matahari semburat dari sisi kiri landskap tersebut, membingkai merapi dengan gagahnya berdiri menjulang di tengah-tengah. Merapi memang menghancurkan segalanya, namun bekas-bekas jajahannya meninggalkan pemandangan yang tak kalah indah.

Saatnya pulang. Sopir kami rupanya tidak membawa kami melewati jalan yang sama. Kami dibawa memutar, turun ke sungai pasir, menjajaki jalanan berbatu dan melewati tebing curam. Sesekali ada atraksi. Mobil dijalankan berputar 360 derajat di kubangan pasir setinggi hampir tiga meter dengan kemiringan 45 derajat. Kamipun berteriak-teriak antara takjub, ngeri dan tegang.

Thursday, 28 June 2012

Mahalnya Singapore


Salah satu negara di Asia tenggara yang dari dulu ingin sekali saya singgahi adalah Singapura. Secara saya penasaran, bagaimana negara semungil itu bisa lebih maju daripada negara kita yang notabene lebih besar dan jauh lebih melimpah kekayaan alamnya. Selain karena alasan itu, saya juga penasaran seperti apa hotel-hotel yang ada di sana, sekalian melakukan kebiasaan norak saya kalau lagi jalan ke luar, yaitu membandingkan harga dengan negara sendiri untuk mengukur taraf hidup.

Beruntungnya saya memiliki teman tajir yang baik hati yang bulan april lalu membawa saya ke negara mini ini. Karena lama tinggal di Australia yang notabene cost of livingnya lebih tinggi, saya kira dia tidak akan kaget kalau nanti di Singapore harganya selangit. Eh, nyatanya sebelum berangkat dia agak-agak khawatir juga. Sempat dia bilang kalau cost of living di Singapore itu hampir sama dengan di Ostrali. Saya jadi deg deg ser, tiket pesawat dan akomodasi sih sudah ditanggung, tapi kalo yang lain ya bayar sendiri. Saya jadi keder juga. Takut kalau uang di tabungan terkuras gara-gara jalan ke Singapore. But show must go on… lagi pula ini destinasi impian yang sudah sejak lama saya inginkan.

Kami tiba di Changi airport jam 2 siang. Belum juga selesai terheran-heran dengan airport Singapore (yang benar-benar jauuuuuuuuhhh bedanya kebersihan dan kemewahannya jika dibandingkan dengan airort-airport yang pernah saya singgahi di negeri sendiri) seseorang berjas hitam yang membawa papan bertuliskan nama kami datang menghampiri. Rupanya, dia seorang driver hotel yang menjemput kami di airport. Teman saya sempat mengatakan kalau dia pesan deluxe car. Saya sih tidak ada ekspektasi apa-apa, namanya deluxe itu biasanya jenis yang paling murah, meskipun kedengarannya ‘wah’. Saya hanya penasaran, kira-kira di Singapore itu jenis mobil yang paling bnyak digunakan jenis mobil apa? Apakah mobil impor Jepang atau Eropa, atau mereka punya mobil nasional? Belum juga rasa penasaran saya terbayar, mobil driver yang saya kira mobil murahan ternyata jenis Mercy S-class! Wiiiiiiihhh…! Kalau yang level deluxe saja sudah mercy, gimana yang level di atasnya? Sayapun gatel bertanya ke pak drivernya. Dan dia dengan enteng jawab, “Audy!”. Wiiiiihhh… Saya makin melongo.

Hotel yang telah terpesan saat itu Mandarin Oriental, rupanya lokasinya lumayan jauh dari bandara. Taxi driver yang membawa kami orangnya ternyata asyik juga. Sepanjang perjalanan kami diajak ngobrol dan dia juga sedikit cerita mengenai negaranya, tempat-tempat yang wajib dikunjungi, peraturan-peraturan  hingga denda. “Singapore is a fine country!” katanya lagi.

Tiba di hotel, kami disambut ramah seorang staff bule yang cantik. Kamar yang kami dapat juga benar-benar wow… jauh dari yang saya harapkan (fyi, saya tidak banyak berharap karena toh saya cuma numpang, hehehe). Saya sebetulnya sudah menyarankan untuk tinggal di hotel chain yang satu perusahaan dengan hotel saya. Tariff untuk saya hanya 50% dari tariff normal dan tanpa breakfast. Lumayan lah, lagian saya tidak terlalu suka sarapan a la hotel yang isinya hanya roti-rotian saja. Sekarang saya tahu kenapa teman saya nolak. Karena hotel yang dia pilih benar-benar jauh lebih bagus dari pada hotel yang saya sarankan. Meskipun untuk itu, dia harus merayu orang tuanya untuk mengeluarkan kocek lebih dalam sebanyak 8 kali lebih mahal dari plan semula.

Destinasi pertama yang ingin kami tuju sebenarnya adalah Merlion park, yang lokasinya lumayan dekat dari hotel (bahkan dari kamar hotelpun, sebenarnya kami sudah bisa menikmati pemandangan landmark Singapore, mulai Marina Bay sand yang bentuknya seperti perahu, stadion bola, taman kota hingga Merlion Park) namun, karena cuaca sedang tidak bagus dan hujan mulai turun, kami naik taxi ke Jewel box. Saya kira apaan, karena untuk kesana saya harus patungan merogoh kocek lumayan dalam untuk bayar taxi yang cuma jalan 10 menit saja tariffnya sudah di atas 100 ribuan. Ternyata Jewel Box itu semacam cable car yang destinasinya ke Sentosa Island! Waaahhh… saya langsung semangat tapi balik lemes lagi saat harus bayar tiket. Per orangnya kalau dirupiahin saat itu sekitar 500ribuan. Apaaaaahhhh????!!!

Eniwei pemandangan yang dilalui cable car ini benar-benar spektakuler. Sebetulnya saya pernah juga naik cable car di puncak, Bogor, namun tidak setinggi dan seindah yang ini. Untungnya saya tidak fobia ketinggian, jadi enak saja menikmati pemandangan indah a la bird’s eye. Sedangkan teman saya sibuk nutup mata dan pegangan lengan saya kuat-kuat. Lah kalau takut ketinggian, buat apa bayar mahal-mahal naik beginian??!

Sesampainya di Sentosa Island, dasar kere, kami langsung menuju ke museum cable car (karena itu satu-satunya wahana yang gratis), lalu poto-poto norak berbagai pose. Jalan keluar dari museum ini ternyata melewati toko souvenir yang barangnya bujubuset mahal. Gantungan kunci logam berbentuk ikon Singapore misalnya, harganya rata-rata sedolaran (padahal satu dolarnya kalau dirupiahin sudah delapan ribuan). Sedangkan gantungan kunci terbuat dari acrylic yang berbentuk cable car harganya malah 5 dolaran. Busyeeettt!!!

Oke, karena sudah terlanjur ada di Sentosa, kami lalu mengublek-ublek seisi Sentosa, mulai Tiger sky tower, The image of Singapore, hingga the giant statue. Itu tuh, patung singa raksasa yang menjulang tinggi di tengah rimbunnya Sentosa island. Saya urung masuk Tiger Sky tower karena teman saya fobia ketinggian. Saya takut begitu nyampek atas, dia nyakar muka saya saking parnonya. Supaya aman, kami masuk ke wahana ‘The image of Singapore yang isinya kurang lebih cuma patung lilin yang dirancang sedemikian rupa menceritakan awal mula terbentuknya negara Singapura, hingga manusia hologram yang nongolnya hanya sekitar lima menitan di awal acara.  Bosan, kami lalu ke giant statue, lagi-lagi latihan buat teman saya supaya tidak takut ketinggian. Rupanya, untuk menuju kesana kami harus melalui escalator-eskalator otomatis. Lagi asyik-asyiknya jalan, segerombolan anak muda dengan seragam warna hijau menyerobot jalan. Belum juga kaget kami hilang, segerombolan lain berseragam merah berlarian ke arah kami, meyerobot jalan lalu berlari ke rimbunan semak-semak. Berikutnya, satu kru televisi datang dan mewawancarai kami. Rupanya, mereka tadi itu peserta acara reality show suatu stasiun TV swasta. Kamipun diwawancarai sebentar. Noraknya! Bahkan di negeri sendiripun kami belum pernah masuk tipi. Hehehehe…

The giant statue yang kami tuju ternyata hanya sebuah tower dimana kami bisa menikmati pemandangan indah sentosa Island dari ketinggian. Teman saya rupanya sudah sedikit terbiasa, buktinya dia suda berani jalan sendiri tanpa harus pegangan tangan saya (saya sampai geli dan  takut pasaran turun karena bisa jadi orang mengira kami lesbi). Sesampainya di atas ternyata ada juru foto yang memotret kami dengan tiga pose garing, satu pose biasa, pose mengaum dengan tangan membentuk cakar di udara, dan terakhir pose kedua tangan menengadah yang kami masih gak ngerti maksudnya apa. Begitu turun mau keluar, lagi-lagi kami harus melalui toko souvenir. Ketika mau melenggang, seseorang memanggil.
“your photo miss. Don’t you want to print them?” katanya.
Ketika menoleh, ternyata photo kami yang diambil photographer di atas patung tadi sudah terpampang manis di monitor seukuran kira-kira 24 inchi. Karena hasilnya bagus, kami gatel mau ngeprint.  Kirain gratis karena sudah termasuk harga tiket masuk, eh ternyata kami harus bayar 15 dolar per lembarnya. Total kami bayar 45 dolar untuk ngeprint photo ukuran 5R itu. Duuuhh….!

Sekembalinya dari sentosa, karena lapar, kami memutuskan untuk makan di China town. Dari berbagai referensi, makan di China town itu salah satu cara wisata kuliner murah karena barang dan makanan yang dijajakan bagus, murah dan enak. Kamipun lagi-lagi tancap gas ke China town pakai taxi yang argonya bikin mampus. Sekalinya sampai, kami nemu restoran kecil menjual masakan cina. Karena restorannya kecil (hampir miri kedai gitu), saya kira harga makanannya juga akan murah. Begitu disodori buku menu, lagi-lagi kami dibikin shock. Makanannya sih biasa saja, tapi minuman yang tersedia hanya wine dan wine. Kalaupun ada air, adanya yang sparkling water. Chinese tea juga tidak ada. Teman saya yang doyan wine langsung hepi, sedang saya bingung mau minum apa. Sayapun akhirnya nyogok minta dibelikan cola dari toko sebelah. Memang kombinasi yang aneh. seumur-umur baru kali ini saya makan masakan cina minumnya cola.  Sudah aneh, harganya (yang katanya murah) bagi saya juga masih mahal. Harga souvenir yang ditawarkan juga sama, sedolaran perbijinya. Heeeelp!!!

Besoknya kami jalan-jalan ke Merlion dan Marina Bay Sand. Ke Merlionnya sih murah, karena gratis gak usah bayar. Hanya repotnya, mau foto-foto jadi gak asyik karena terlalu banyak orang. Pas ke Marina Bay sand, lagi-lagi kami harus bayar untuk bisa ke invinity (sebutan untuk kapal kesasar itu..). Seumur-umur saya masuk hotel dimana-mana gratis kecuali kalau makan dan minum, tapi di sini kami mesti bayar lagi bayar lagi. Tapi pemandangan dari atas invinity memang luar biasa, selain pemandangan alamnya yang wow, ternyata pemandangan di kolam tertinggi inipun wow, banyak bule-bule ganteng bertebaran di mana-mana. Hehehehe…


*)Pemandangan spektakuler dari Invinity

Rupanya hotel ini nyambung jadi satu dengan lokasi casino dan mall besar. Kami hanya nengok ke casino karena tidak bawa passport, karena untuk masuk kami harus menunjukkan passport. Kami lalu jalan-jalan ke mallnya. Bener-bener gede dan baguuussss…. Dan tentu saja mahal, secara brand-brand yang terpajang juga merk-merk mahal.

Perjalanan berikutnya adalah ke Orchard road. Karena seorang teman yang suka ngompor-ngomporin, jadilah saya ke sana, kirain ada apa, ternyata orchard road itu isinya hanya mall dan toko- toko doang! Beuh beuh.. Sepanjang perjalanan isinya toko lagi toko lagi! Karena kelaparan jalan-jalan seharian dan hanya bisa ngeces, kami putuskan ke China town lagi karena sepanjang jalan tidak ada restoran. Kalaupun ada, ya jenis yang mahalan yang tentu saja berat di kantong. Taxi yang kami tumpangi kali ini drivernya masih muda dan ganteng, sayangnya cuek banget, jarang ngomong karena dia sibuk dengan ipad 2 nya di dasbor mobil. Kirain dipakai buat Gps, eh gak taunya buat chatting sama girlfiend-nya. Keren sih, taxi driver aja udah bawa ipad kemana-mana. Saya yang orang hotel juga gak punya ipad. Gimana yang kalangan eksekutifnya ya?Sedang di negara kita, yang punya ipad cuma golongan tertentu saja. Saya yang orang hotel saja belum mampu beli. Hiks, kasihan sekali saya… 

Overall, bagi saya Singapore tetap menjadi negara impian, melihat modernitas, kebersihan dan ketertibannya, membuat saya saya selau ingin kembali mengunjunginya lain waktu. Selain karena cost of living yang tinggi, saya sangat merekomendasikan negara ini untuk menjadi salah satu tujuan wisata saat libur. Yang menyedihkan, ketika menulis post ini, saya jadi ingat tabungan saya yang tipis akibat saya gasak selama di sana. Singapore, please return back my money!

Tuesday, 3 April 2012

Jalan-Jalan Borju a la Staff Hotel


Sejak jadi fans berat Trinity traveler di blog terkenalnya the naked traveler, sama seperti kebanyakan pembaca pada umumnya, saya jadi terbius kepingin jalan-jalan. Sebagai orang Indonesia yang (ngakunya) bangga dengan negara tercinta, sering sekali terbesit mimpi untuk berkhianat jalan-jalan ke luar negara. Pelesiran di negeri sendiri, seringkali dianggap hal yang biasa sedangkan kalau bisa ‘menengok’ tetangga dekat (apalagi yang jauh) akan terdengar keren dan ‘wah’. Sejujurnya secara naïf sayapun berfikiran sama, meskipun juga sependapat dengan mbak Trinity bahwa jalan-jalan itu gak harus ke luar negeri, karena toh kita punya kekayaan alam yang lebih melimpah dan bagus dibanding ‘tetangga’.

Sebagai staff hotel ‘biasa’, tak mungkinlah saya punya budget yang cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri, ala gembel sekalipun. Kalaupun bisa jalan palingan mentok ke negara tetangga saja. Tapi percaya atau tidak, bekerja sebagai staff hotel itu artinya berpeluang besar jalan-jalan ke luar negeri yang gaya jalannya lux tapi gak bikin dompet bolong. Caranya?

1.       Berprestasi di tempat kerja
Ini sudah jelas. kalau hotel tempat anda bekerja adalah brand Internasional yang memiliki property yang tersebar di seluruh dunia, besar kemungkinan staff yang berprestasi akan dikirim training ke property satu ke property lain di luar negeri. Cara ini memang paling nikmat, udah transport, makan, dan akomodasi (menginapnya biasanya di hotel tempat training) ditanggung perusahaan, pulang-pulang bawa sertifikat bergengsi (yang pastinya laku jika dipakai apply ke property lain), dan kenaikan level jelas-jelas di depan mata. Meski nikmat, syaratnya pasti berat. Kalau anda staff yang biasa-biasa saja seperti saya, lupakan saja cara ini.

2.       Kerja di kapal pesiar
Yang ini lebih jelas lagi dan relative lebih ‘mudah’ dicapai. Kerja di kapal pesiar itu hampir sama dengan bekerja di hotel yang ada di darat, bedanya kerja di kapal kan hotelnya ‘bergerak’. Apalagi kalau rute perjalanannya panjang, seperti keliling benua Eropa atau Amerika. Pengalaman pribadi teman saya yang bekerja di kapal, mereka jadi hotelier di kapal juga karena keinginan awalnya ingin menjelajahi dunia. Mulanya sih hepi, tapi lama-lama mereka bosan sendiri di luar negeri dan mulai kangen negeri sendiri. Enaknya, hotelier kapal pesiar itu visanya multiple country, jadi bisa masuk dengan leluasa sekaligus di banyak negara. Lagipula, dengar-dengar tip di kapal pesiar jauh lebih gede dan gajipun dalam dollar atau euro. Kalau dihitung-hitung, rata-rata pendapatan seorang staff kapal pesiar sebesar 10 kali lipat pendapatan hotelier biasa di darat dengan level yang sama. Wiiihhh…!!! Gak enaknya, mereka sekali berlayar tujuh hingga delapan bulan baru bisa pulang. Tiap hari yang dilihat itu-itu saja, gak bisa jalan kelayapan di luar. Sekalinya ketemu daratan, tidak sempat berkeliling karena waktu yang pendek, tuntutan pekerjaan yang harus diselesaikan, gak keburu karena kapal harus melanjutkan perjalanan.

3.       Independent traveler
Kalau kedua cara di atas dirasa tidak mungkin, cara yang paling memungkinkan adalah jadi independent traveler. Sebagai staff hotel, biasanya hotel memberlakukan staff’s rate. Harga yang ditawarkan untuk staff ini biasanya paling mahal sebesar 50% dari harga publish. Syaratnya, hotel anda haruslah yang punya jaringan di luar negeri. Semakin besar maka semakin bagus karena pilihannya jadi lebih bervariasi.

Selain harga staff, sebagai orang hotel juga diuntungkan dalam pembuatan visa, terutama di negara-negara  yang pelit ngasih visa macam negara di Eropa, Australia atau Amerika. Misalnya begini, anda bekerja di hotel A yang punya jaringan di Jerman. Jika suatu hari anda ingin jalan-jalan ke Jerman, anda cukup booking hotel menggunakan staff rate yang biasanya  diuruskan oleh HRD. Maka, hotel yang anda booking di Jerman itu yang akan menjadi penjamin anda di aplikasi visa anda karena itungannya masih satu perusahaan. Meski tidak ada jaminan 100% dapat visa dengan cara ini, namun kebonafitan perusahaan kan bisa jadi jaminan. Semakin bonafit nama hotelnya, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan visanya. Saya sih belum pernah menerapkan cara ini, tapi teman saya sudah pernah coba, dan berhasil tuh.

Masalah hotel dan visa beres, berikutnya tiket pesawat. Masalah tiket pesawat, sekarang kan sudah ada budjet airline yang harganya sangat miring. Triknya, harus sering-sering cek di website kapan ada promonya. Semakin jauh harinya, biasanya semakin murah harganya.

Lalu ongkos lain lain diluar visa, tiket pesawat dan hotel seperti uang jajan itu sih bisa di’adjust’ sesuai isi tabungan. Kalau punya banyak uang silahkan jalan dan jajan sesuka hati, kalau tabungan sudah tipis ya harus pintar putar otak mendahulukan mana-mana post pengeluaran yang penting dan mana yang tidak. Namanya juga independent traveler, masalah keuangan tetaplah menjadi topic paling krusial. Kalau mau jalan pakai cara ini, syaratnya utamanya harus rajin menabung dan punya uang cukup untuk jalan.

Kalau cara 1-3 masih terasa mustahil, berhentilah bermimpi jalan-jalan keluar negeri a la borju tanpa harus bolongin dompet, sebaliknya tengoklah cara lain jalan-jalan seperti mbak Trinity yang ala backpacker. Kalau cara backpacker juga dirasa masih mustahil, cara terakhir adalah googling saja banyak-banyak, puas-puasin lihat gambar-gambar yang ada di google sambil ngeces baca pengalaman orang yang lebih dulu jalan-jalan kesana. Baca aja terus sampai ngantuk, ntar juga ketiduran dan kalau beruntung anda bisa jalan jalan kesana dalam mimpi.
The last one sounds the easiest, ya?