Showing posts with label enaknya kerja di hotel. Show all posts
Showing posts with label enaknya kerja di hotel. Show all posts

Thursday, 10 October 2013

Log Book Konyol

     Di tempat kerja, sebagai sarana untuk hand over tugas-tugas yang masih pending atau membutuhkan follow up lebih lanjut, selain mengadakan over handling briefing, kami juga menuliskannya di log book. Log book itu sendiri fisiknya ya buku tulis besar biasa, kadang-kadang diberi kolom untuk memudahkan kami mencatat sesuatu. Hal-hal yang dicatat bisa bervariasi, bisa merupakan informasi yang perlu diketahui oleh semua shift, kejadian penting yang membutuhkan follow up lebih lanjut, complain dari tamu, hingga keluhan-keluhan pribadi yang terkait dengan kegiatan operasional. Karena sifatnya dipakai untuk bersama-sama, dalam satu team, tiap personil memiliki gaya tulisan dan gaya bahasa masing-masing  yang yang kadang-kadang terlihat konyol. Pagi ini, ketika saya sedang over handle tugas dengan salah satu rekan, saya dibuat ngakak dengan salah satu tulisan yang ada di dalamnya. Saya jadi9 teringat dengan beberapa tulisan lama yang juga membuat saya sempat tergelak. Finally, saya bukannya sibuk over handle dengan team, malahan ngikik sendiri membolak balik halaman log book lama dan mengabadikan beberapa tulisan aneh itu.
1. Drama abis



Mr. Marc Schnell (repeater) complaint coz of semut di dalam kamr. Dia very-very upset, dia adalah repeater n love to stay in our hotel…
Ini Tulisan Sonny. Udah campur aduk, gak jelas mana English mana bahasa Indonesia, masih diperparah lagi dengan ‘bentuk’ tulisannya yang mirip cakar ayam nyaris tak terbaca. Bumbu lebaynya yang “very-very upset” itu, makin membuat orang yang membaca langsung tepuk jidat. Drama abis!

2.      Lebay


Yang ini tulisan salah satu rekan yang tak mau disebut namanya. Ceritanya, team FO mendapatkan free pass untuk tour ke Nusa Lembongan dengan kapal mewah yang charge-nya ratusan dolar per orang. Karena jatah hanya enam orang sedangkan kami berdua belas, supaya adil, kamipun mengundinya. Proses pengundian berlangsung adil sih, tapi rasanya terlalu lebay kalau harus membawa ‘saksi hidup’ segala. Ya gak?

3.      Oh No!


 Tak perlu saya jelaskan. Saya tiba-tiba mules baca tulisan ini.

4.      Bahasa Bencong


Ini saya kasih bocoran kosakata lain yang sering kami pakai gara-gara ketularan virus bencong:
-          Lambreta : lambat
-          Kesindang : kesini
-          Maharani : mahal
-          Pelita : pelit
-          Metong : mati

Nb: Don’t try this at home. Dikejar satpol PP tidak ditanggung!

5.      Dendam pribadi


Ini tulisan Erik, salah satu rekan saya yang paling suka complain kalau ada prasarana yang tidak menunjang. Maklum, orang accounting apalagi yang di bagian store itu suka ribet. Printer mati karena tintanya abispun mereka gak bakalan mau kasih baru kalau store request belum dibuat. Pengakuan Erik, dia udah ngemis-ngemis tetep gak dikasih. Kasihan…

6.      Bahasa Planet Pluto


Terjemahan: Laptop dua-duanya tidak bisa dipakai, gimana nih..?

Bagi yang mengerti bahasa Jawa, tentu tak ada masalah. Masalahnya di team kami ada tiga orang Sunda, tiga orang Jawa, lima orang Bali, satu orang Padang, dan satu orang Jakarta. Kalau saya, Sonny, dan supervisor saya yang orang Jawa dengan renyahnya ngobrol memakai bahasa daerah, rekan-rekan yang lain mengeluh tidak bisa membaca subtitle bahasa planet Pluto. Mmm..

Dan ini yang bikin saya sukses guling-guling saking gemesnya…

Housebank used IDR 1.700.000 by Mr. XXX (General Manager) last night as he had a stomatch problem (cepirit). As per P. Medi using that money to pay doctor and medicine. ASAP to make it liquid…

Belum juga kram perut saya hilang gara-gara cepirit itu, di baris terakhir tertulis, “ASAP to make it liquid”, meskipun kami mngerti terjemahan bebas dari bahasa Indonesia yang diinggriskan secara ngasal ini (maksudnya supaya kami segera mereimburse uangnya ke accounting), liquid itu artinya memang cairan tapi to make it liquid? Maksud loh????!!!

Wednesday, 4 September 2013

Gaji kerja di hotel



Setiap kali saya membuka akun google analytic untuk mencari tahu keyword apa yang paling banyak mengunjungi blog saya, rata-rata sebenarnya ingin tahu seperti apa kerja di hotel, enak dan tidak enaknya, serta berapa gajinya.
Ngomongin gaji? Kenapa tidak?
Kalau anda adalah seseorang yang baru mulai berpikir untuk masuk ke dunia hotel, ada baiknya lebih dulu tahu berapa sih yang kira-kira akan anda hasilkan jika anda bekerja di hotel (yang saya maksud ini pegawai regular dan bukan daily worker. Ulasan mengenai daily worker, bisa dibaca disini)
Pada dasarnya, seperti yang sudah pernah saya singgung di artikel enak dan gak enaknya kerja di hotel, gaji orang hotel terdiri dari tiga sumber utama, yaitu gaji pokok, service charge, dan tip. Mari kupas satu persatu.
1.      Gaji pokok
Untuk gaji pokok besarannya bervariasi, sangat tergantung dengan posisi, bagian, dan kebijakan manajemen. Gaji pokok paling besar setahu saya di bagian kitchen section, seperti cook dan antek-anteknya. Di bawahnya biasanya golongan Sales, lalu Finance dan front office, kemudian disusul Food and beverage service, Engineering, dan housekeeping. Besarannya? Tergantung kebijakan management. Ada yang menetapkan sesuai standart UMK (upah minimum kabupaten), namun ada pula yang lebih besar dari UMK. Ada hotel yang memberlakukan gaji pokok sama untuk setiap level karyawannya, ada pula yang bisa nego, staff yang berpengalaman mendapatkan gaji pokok lebih baik daripada  yang belum berpengalaman, meskipun dengan level yang sama. Selain gaji pokok, tunjangan seperti transport dan tunjangan pension sengaja saya tidak masukkan kesini karena besarannya tetap dan tergantung dari kebijakan management.

2.      Service charge
Pembagian service charge bervariasi di setiap hotel, tergantung dari kebijakan management. Ada yang menganut system segitiga sama kaki, yaitu staff level terendah mendapatkan prosentase service charge terbanyak, semakin naik levelnya prosentase semakin kecil, karena hitungannya semakin naik levelnya semakin besar pula gaji pokok dan tunjangan yang didapatkan. Ada pula yang menganut system segitiga terbalik, kebalikan dari system segitiga sama kaki. Namun sampai saat ini, saya sih belum ketemu hotel yang memberlakukan system ini. Ya ogah,lah! udah level terndah pasti gajinya paling kecil, masih pula mendapatkan prosentase service charge yang kecil!
Sistem ketiga adalah pembagian service charge pro rata, yaitu besaran service charge yang dibagi sama rata. Sistem inilah yang paling adil dan paling banyak dipakai di hotel-hotel di kota besar semacam Surabaya dan Jakarta. Sayangnya, di Bali ada beberapa hotel yang memberlakukan service pro rata namun untuk yang berstatus karyawan kontrak hanya mendapatkan service charge setengahnya. Ada lagi ketentuan untuk karyawan baru yang masih berstatus probation (karyawan percobaan) hanya mendapatkan gaji pokok dan tidak mendapatkan service charge sama sekali sampai masa probationnya selesai.
Untuk bisa mendapatkan service charge yang sepertinya berkasta ini memang butuh perjuangan yang tidak mudah. Namun service charge ini memang layak diperjuangkan, karena besarannya yang bisa berkali-kali lebih besar dari gaji pokok. Sebagai acuan, rata-rata bisnis hotel ternama di Surabaya tahun 2012 lalu rata-rata menghasilkan 2,5juta – 3 juta per bulan, sedangkan resort di Bali sekelas Four Seasons (informasi dari salah seorang teman yang bekerja di sana), rata-rata mendapatkan 8jutaan per bulan. Silahkan membayangkan sendiri berapa service charge yang didapat pegawai St. Regis, Mulia, dan Bvlgari, 3 resort termahal di Bali di tahun ini. Glek!

3.      Tip
Tip tentu sangat tergantung  “bejo”  atau keberuntungan seseorang. Biasanya staff yang mendapatkan tip ini adalah bellman, porter atau juru angkut barang, nama ledekan yang diberikan oleh salah satu teman saya. Meski demikian, bukan berarti staff di bagian lain tidak ‘kecipratan’ rezeki. Selain porter, F & B department juga sering dapat tip. Housekeepingpun sering dapat tip kalau pas make up kamar. Receptionist seperti saya? Tip sih jarang, kecuali ada tamu yang benar-benar puas dengan layanan saya atau kadang-kadang nyogok, minta kamar nomor spesifik karena mengincar view dan luasnya. Namun, uang tip yang saya dapatkan juga berasal dari kembalian tamu yang gak mau menerima uang kembalian. Tidak banyak sih, palingan sekitaran puluhan ribu saja. Tapi kalau hotel sedang ramai, dan banyak yang check out dan settle bill pakai uang cash dan tidak mau kembalian?  Jadi lumayan juga jumlahnya.

Selain tiga sumber di atas, saya kadang-kadang juga dapat komisi, karena merekomendasikan spa atau tour tertentu. Di Bali, banyak spa dan tour menjamur di mana-mana dan bersaing dengan ketatnya untuk mendapatkan customer. Salah satu caranya ya, mendekati staff hotel dan memberikan iming-iming komisi. Hotel sendiri sebenarnya ada spa dan ada kerjasama dengan tour yang sudah terikat kontrak, namun karena dimark up untuk harga hotel, jadinya spa dan tour tersebut malah jarang laku karena overpriced. Jadilah tamu seringnya suka minta tour alternative yang harganya masih masuk akal.
Kalau ditotal-total, selama low season sekalipun, gaji kerja di hotel tetap lumayan, kok.
Saya jadi heran dengan teman saya yang stress karena gagal jadi PNS. Masih ada banyak pekerjaan lain yang gaji dan masa depannya bagus, kok. Kerja di hotel seperti saya, misalnya. Hehehehe…

Sunday, 11 August 2013

Orang Kaya Baru


Bekerja sebagai frontliner di hotel, saya banyak ketemu OKB, alias orang kaya baru. Duit sih banyak, tapi kelakuannya… ubelieveable!
“Mbak, kalau mau nginep di sini berapa ya semalamnya?” Seorang tante-tante dengan dandanan super menor suatu sore datang ke konter saya.
“Ibu mau jenis kamar yang apa? Kami ada kamar deluxe, premium, dan suite.”
“Yang paling murah yang mana?”
“Yang deluxe, bu.”
“Saya gak mau yang paling murah. Yang mahalan?” Tuh, mulai keliatan OKBnya.
“Yang jenis di atasnya ada kamar premium.”
“Harganya?” Si ibu kibas-kibas rambut rebondingnya.
“Kamar premium harganya hari ini di tiga juta lima ratus nett, Ibu.”
“Maksudnya harga nett apaan? Kamar aja gitu gak ada kasurnya?”
Eeeeerrrr… ini ibu-ibu ketahuan belum pernah tinggal di hotel nih. Masa iya kita jualan kamar, dan kamarnya doang gak pakai kasur. Memangnya kos-kosan?
“Maksudnya harga sudah bersih, sudah termasuk pajak dan service charge.”
“Ohh…”
Entah si Ooh-nya ibu ini artinya dia ngerti atau tidak.
“Yang paling mahal, berapa?”
“Yang kamar suite yang tersedia tinggal executive suite, Ibu. Harganya lima juta rupiah.”
“Hah?!” Si ibu mukanya kaget.
“Kenapa bu?”
“Gak apa-apa.” Katanya sedikit tersipu.
“Saya ambil yang itu.”
Wiiih… ini ibu-ibu gokil juga. Secara nginep di hotel sepertinya belum pernah, sekalinya nginep yang jenis executive suite dan menolak kamar yang paling murah.
“Baik, kalau begitu ini registrasi ibu. Mohon diisi di bagian yang saya tandai saja. Lalu tandatangan di sebelah sini. Oh ya, saya bisa pinjam KTP ibu untuk saya fotokopi?”
“Hah, buat apa mbak?” Si ibu mukanya bingung dan kaget.
“Untuk melengkapi proses registrasi, Bu. Semua tamu yang check in, kami fotokopi KTP atau paspornya.”
Barulah si Ibu menor mau mengerti. Lah dikiranya fotokopi KTP buat apaan?
“Untuk pembayarannya mau menggunakan apa, Bu?”
“Pakai kartu lah, mbak. Hari gini masa pakai uang cash.” Katanya lagi dengan sombongnya sambil mengeluarkan kartu...atm!
Sayapun dengan halus menolak. “Barangkali ada kartu kredit, Bu?”
“Lah, ini kan kartu kredit?”
Ya ampun… gimana ya jelasinnya. Bahkan kartu debit dan kartu kreditpun saya harus terangkan satu per satu.
“Maaf, bu. Ini kartu debit. Kalau kartu debit, saya tidak bisa melakukan card verification.”
“Apa itu mbak maksudnya?”
“Jadi kartu kreditnya Ibu nanti saya blok dananya, nanti pada saat check out saya release-kan kembali.”
“Lah, kenapa kartunya di blok? Saya gak bisa pakai belanja dong nanti?”
Waduh…. CS bank mana nih CS bank?
“Atau begini saja, bu. Kartu ibu saya debet sejumlah harga kamar ibu. Nanti ibu deposit dengan uang cash satu juta, saya kasih tanda terimanya. Nanti pada saat check out, kalau Ibu tidak ada bill diluar kamar, saya kembalikan uang cashnya.”
“Saya sudah bayar harga kamarnya kok masih dimintain uang lagi sih mbak?”
“Yang deposit satu juta itu, hanya sebagai garansi saja untuk pengeluaran extra di luar kamar. Semisal Ibu ada makan malam di restaurant, atau ada minum di lounge atau bar, Ibu tinggal tandatangan saja di billnya dan tidak usah bayar cash di outletnya. Nanti pada saat Ibu check out, tagihannya ada di receptionist dan kami potongkan dari satu juta tadi.”
Mudah-mudahan si ibu menor ngerti.
“Lah, saya kira saya sudah bayar mahal boleh makan sepuasnya di restoran hotel, mbak. Taunya masih harus bayar lagi, ya?”
Gubrak!
“Iya, Bu. Harga yang Ibu bayar hanya untuk kamar dan sarapan saja. Di luar itu, harus bayar lagi.”
“Berarti yang ada di kamar semuanya sudah gratis, dong?”
Maksudnya, TV, DVD, sofa dan kasur boleh dibawa pulang, gitu?
“Di kamar ada beberapa item yang berbayar, Ibu. Minibar, laundry, dan telepon ada chargenya.”
“Waduh, yang gratis cuma tidurnya aja dong, mbak?”
Saya hanya nyengir asem. Maksud loh?
***
Seorang ibu-ibu tambun yang juga minta kamar tipe paling mahal tiba-tiba nanya-nanya ke saya setelah proses check in selesai.
“Oh ya mbak, dari sini ke Legian berapa lama ya?”
“Kurang lebih 15 menit, Bu.”
“Bukannya Seminyak ke Legian dekat saja, ya?”
“Iya Bu. Sebenarnya tidak jauh. Hanya saja karena jalannya kecil dan banyak mobil lewat, jadinya macet.”
Si Ibu mengangguk-angguk. Untungnya saya tak perlu menjelaskan perbedaan kredit card dan debit card pada saat ibu ini membayar deposit karena dia bawa lembaran ratusan ribu bergepok-gepok.
“Mobil besar bisa lewat gak sih, mbak?”
Heran. Sejak kapan mobil dilarang lewat.
“Tentu boleh, Bu. Hanya saja kalau bawa mobil ya siap-siap kena macet. Sepanjang raya Seminyak sampai Legian itu padat sepanjang hari.”
“Paling aman jalan subuh aja kali ya?” Si ibu nyengir-nyengir gak jelas.
Saya jadi curiga. Si Ibu ini bawa mobil besar, jalan ke Legian subuh-subuh. Mau ngapain, coba? Sayapun gatel bertanya,
“Memangnya Ibu mau ngapain subuh-subuh ke Legian? Bar paling pagi tutup sekitar jam 3.”
“Saya mau antar barang mbak ke Legian. Barangnya besar, dan diangkut pakai mobil besar. Makanya saya tanya mbak, mobilnya boleh gak lewat situ.”
Masih kepo, saya nanya lagi, “ Memangnya mobil ibu sebesar apa?” Karena untuk kategori mobil, menurut saya yang paling besar adalah jenis Pajero Sport atau Fortuner. Saya sendiri paling senewen kalo ketemu dua jenis mobil ini di jalan. Bukannya kenapa-kenapa, jalanan di Bali kan kecil-kecil. Susah nyalip aja karena kedua jenis mobil ini menuh-menuhin jalan dan memblok pandangan.
Si ibu dengan polosnya menjawab, “Truk. Jenis tronton.”
What! Saya langsung mangap, apalagi si Ibu cerita dia jauh-jauh jalan dari salah satu kota kecil di Jawa tengah ke Bali dengan mengendarai truk itu selama sehari-semalam bersama suaminya. Hebat!
Kepo saya belum berakhir. Saya jadi penasaran dimana si Ibu memarkir ‘mobil besar’nya.
“Itu!” Si Ibu menunjuk ke halaman hotel dan disana memang terparkir truk besar karena ketinggian truk tidak muat kalau harus parkir di Basement.
Busyet!