Showing posts with label Unforgettable Moment. Show all posts
Showing posts with label Unforgettable Moment. Show all posts

Thursday, 23 February 2012

Antara Serem dan Nikmatnya Kuliner Jepang

Habis ngomongin masakan Korea yang serem, saya juga jadi pingin cerita juga mengenai masakan Jepang yang dulunya gak kalah serem buat saya. Saya sendiri sebetulnya tidak begitu expert dengan masakan negeri sakura ini, secara saya bisa makan masakan Jepang juga dari traktiran. You know lah, harga Japanese food itu kan bisa bikin hotelier ndeso seperti saya ini jatuh miskin. Pertama kali mencoba masakan Jepang baru sekitar tiga tahun lalu, itupun ‘berani’nya hanya yakiniku (panggangan ala Jepang) di resto all you can eat di salah satu mal besar di Surabaya. Saya masih ingat betul, saat itu kami dapat bonus chawan mushi. Karena teksturnya yang halus banget seperti pudding dan dihias sedemikian cantik, mulanya saya kira itu pudding caramel. Eh, pas saya makan ternyata baunya amis banget! Bau telur! Yep, chawan mushi itu ternyata pudding telur! Dan saya sukses muntah karena bau telurnya yang tajam. Sementara teman saya dengan santainya menawarkan diri ‘nyikat’ chawan mushi sisa saya. Ough!

Tahun berikutnya, saat saya kuliah perhotelan dan mendapatkan materi mengenai Japanese cuisine, mulailah saya mengenal sedikit demi sedikit mengenai ingredients masakan Jepang. Sayapun lalu belajar banyak mengenai cara memotong, memasak dan membentuk, karena makanan Jepang kan bentuknya cantik-cantik. Saya juga baru tahu kalau ternyata membuat chawan mushi itu tidak segampang memuntahkannya. Permukaannya yang lembut itu ternyata susah sekali membuatnya. Chawan mushi yang bagus, teksturnya lembut dan rata. Api yang digunakan tidak boleh terlalu besar, karena akan mengakibatkan banyak uap air menetes di permukaan chawan mushi. Api juga tidak boleh terlalu kecil karena hasilnya akan terlalu juicy. Saya juga jadi ingat saat akhir semester diadakan ujian praktek, jatuhlah undian chawan mushi ke tangan saya. Saya sempat bela-belain latihan berulang kali karena materi chawan mushi ini yang paling saya wanti-wanti. Eh, ternyata masih gagal juga. Padahal ujian tulis saya dapat 100 loooohhh… Sepertinya saya mendapat kutukan dari si chawan mushi. Hiks hiks hiks…


*)Penampakan cantik si chawan mushi

Tahun berikutnya (lagi-lagi) saya ditraktir seorang teman ekspat Jepang saya di resto sushi terkenal di Surabaya. Karena belum begitu familiar dengan sushi, saya ‘hanya’ diorderkan California roll. Teman saya lalu bertaruh, kalau saya tidak doyan dengan rekomendasiannya, saya akan ditraktir dimsum kesukaan saya sepuasnya! Ditantang begitu, siapa takut? Eh, ternyata di luar dugaan saya, California roll itu ternyata enaaaaakkkk….!!! Isinya yang bermacam-macam digulung dengan nasi Jepang yang bear-benar sticky, dilumuri dengan telur ikan tobiko yang terasa 'klethus-klethus' di setiap gigitannya. Nyummy!!!Sejak saat itu, setiap kali teman saya ngajak makan di resto Jepang, California roll tidak pernah absen saya order. Dimsum mah, lewaaaaatttt…!!!


*)California Roll

Saya juga baru sadar ternyata sushi di Indonesia itu fancy abis. Taunya pas suatu hari saya makan siang dengan seorang klien Jepang, saya yang saat itu masih in love dengan California roll, langsung saja pesan sushi favorit saya tersebut. Eh, saya malah diketawai. Beliau bilang, kalau di Jepang, sushi kebanyakan isinya lebih minimalis, dan bukan bermacam macam dan berwarna warni seperti yang saya pesan. Beliau lalu memesan nigiri sushi dimana toppingnya berupa salmon segar (yang saat itu bagi saya masih iiiiiiihhhhh karena ikan itu benar-benar masih mentah!).


*)Kanan: Nigiri sushi

Januari lalu, saat saya liburan bersama ayah saya ke Bangkok,  saya sempat diajak ke Sushi bar terkenal di dekat Thaniya plaza. Sushi Tsukiji, kalau tak salah namanya. Saya, yang masih tergila-gila dengan California roll, dengan girangnya order. Eng ing eng! Yang datang adalah satu plate dengan 5 roll besar dengan lumuran telur ikan tobiko berwarna oranye ngejreng yang tebal saking banyaknya. Mmmmm… benar-benar sushi paling enak yang pernah saya makan! Ayah saya ternyata juga order chawan mushi dan miso shiru (clear soup) yang bagi saya benar-benar enak. Seumur-umur saya tidak doyan chawan mushi dan tidak suka miso shiru, tapi kali ini memang berbeda. Chawan mushinya tidak ada bau telur sama sekali, dan miso shirunya sedikit gurih dengan komposisi miso (pasta yang terbuat dari fermentasi kedelai) yang benar-benar pas! Nyummy!


*)California roll paling enak sejagad!

Puncaknya, datanglah satu set sashimi yang benar-benar baru bagi saya. Ayah saya bilang itu hi recommended dan beliau setengah memaksa saya untuk coba. Sayapun lalu memberanikan diri. Pertama saya ambil yang salmon, saya celup ke shoyu (kecap asin Jepang) banyak-banyak, lalu saya makan. Rasanya aneh karena rasa shoyu sangat mendominasi. Berikutnya saya coba tuna dan mackerel, kali ini tanpa shoyu. Eh, ternyata enak. Maksud saya, enaaaaakkk banget!!! Sayapun lalu keterusan dan endingnya saya habiskan satu set tanpa shoyu sama sekali. Ayah saya sampai kaget. Lebih kaget lagi waktu mendengar pengakuan saya, kalau favorit saya ikan mackerel, bukan tuna atau salmon seperti orang kebanyakan. Bukan kenapa-kenapa, beliau heran karena ikan mackerel itu kan yang paling fishy atau amis, kalau dibandingkan dengan jenis ikan yang lain, apalagi itu kali pertama saya makan sashimi. Ayah saya lalu memesan lagi satu set sashimi, tapi ternyata setengahnya untuk saya. hehehehehe.. you know guys, itu adalah rekor makan malam saya dengan menu sushi dan sashimi terenak dan terbanyak!


*)Sashimi, ki-ka: salmon, mackerel, tuna. Yang tengah atas n bawah itu saya lupa namanya ikan apaan.

Besok dan besoknya lagi, selama empat hari di Bangkok, setiap harus makan di resto Jepang, sashimi tak pernah ‘absen’ jadi menu wajib yang saya pesan. Next time, kalau ada yang traktir Japanese food lagi, mau deh saya dibelikan sashimi lagi. Hehehehe…

Tuesday, 13 December 2011

Teppanyaki Dinner

Masakan Jepang? Hmm…. Nyummy!!! Saya pribadi doyan sekali jenis masakan satu ini, entah itu kategori Yakimono (macam-macam panggangan), menrui (macam-macam mie), Donburi (makanan yang disediakan dalam kotak-kotak (lunch box / bento) seperti makanan bekal), shirumono (macam-macam soup), mushimono (macam-macam makanan yang di steam), atau agemono (macam-macam makanan yang di goreng dalam minyak banyak). Sengaja saya pisahkan sashimi karena saya masih kurang ‘nekad’ untuk mengkonsumsi daging mentah. Nah, dari berbagai macam jenis masakan Jepang tadi, ada satu jenis masakan yang metode memasaknya menggunakan tepan (lempengan besi panas dengan atraksi kokinya di depan tamu) yang menjadi salah satu favorit saya.

Di suatu sore yang biasa-biasa saja, saya mendapatkan undangan makan malam dari seorang teman ekspat Jepang yang tinggal di sebuah hotel bintang 5 megah di kota pahlawan ini. Gara-garanya, beliau merasa berhutang budi sama saya, beliau meminta saya menjelaskan contrac condition apartemen dia yang notabene dalam bahasa inggris yang dia tidak ngerti. Ditantang menu Italian, saya yang kurang ‘sreg’ dengan pasta atau pizza pun langsung ngeles “Nihon ryouri no resutoran ga arimasenka?” (gak ada restoran Jepang ya disana?) dalam hati saya membatin, saya kok ya lancang bilang begitu. Udah diundang, pilih – pilih lagi. Tak tahu diri sekali saya ini! Tapi teman Jepang saya malah surprise saya mau makan masakan Jepang dan malah semangat mau menjemput saya segala!

Well, tadinya saya membayangkan beliau akan mentraktir saya makan sushi dan teman-temannya (dan kebetulan saat itu memang saya lagi pengin banget makan sushi... tapi apa daya duit di kantong tak sampai karena harga sushi favorit saya di restoran sushi terkenal di Surabaya langsung membuat saya jatuh miskin! Oh No!) Kami melewati meja paling depan, lalu berjalan langsung ke dalam. Ternyata, restoran Jepang di hotel mewah yang satu ini terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama, untuk specialties makanan yang ala carte. Ruangan kedua, terdiri dari meja-meja yang di tengahnya ada stove-nya. Ini untuk jenis makanan Shabu-Shabu atau yakimono. Beliau melenggang dengan santainya menuju ruangan ketiga. Surprise! Saya pun digiring menuju tepanyaki! Seorang waiter langsung mendatangi kami dan berkata,
“ Kalau disini ada minimum charge-nya pak… 1,8 juta.”
What???!!! Kepala saya langsung nyut-nyutan. Makan apaan minimum charge ampe hampir 2 juta?? Padahal kami loh cuma berdua.
Eh… tapi si ekspat malah nyantai mempersilahkan saya duduk. Saya jadi heran, ini orang cuek aja maksudnya emang dia udah tau atau pura-pura gak tau, saya gak ngerti. Lagian, sebodo amat. Orang dia yang traktir!
“Douzo…! Douzo!” katanya.
Seorang waiter yang lain membawakan buku menu yang tidak kami sentuh sama sekali. Si ekspat langsung order menu, menawari saya minuman, bir atau wine yang saya jawab dengan:
“Juuzu o onegaishimasu…”1) dan beliau langsung mingkem. Hahahaha…

Yang keluar pertama kali adalah salad sayuran dan jus pesanan saya. beliau sendiri minum bir kaya minum es teh saja, glegek-glegek kaya orang 2 hari gak minum air. Sementara saya menikmati salad, koki memanaskan tepan dan mempersiapkan bahan. Pertama yang dia masak adalah kentang, konyaku2), labu kuning, bawang Bombay dan tofu yang cuma di grilled saja. Belum juga saya menghabiskan ronde pertama saya, si koki sudah menyiapkan ikan salmon, sebagian di grilled (lagi-lagi minimalis hampir tanpa bumbu sama sekali) dan direbus hanya dengan shoyu3). Selanjutnya adalah udang. Udang sebesar itu, cuma dikupas sedikit kulitnya dan dibelek diatas tepan. Dagingnya yang putih itu mekar sangat cantik dan aromanya semerbak. Wiiiihh… jago banget ini mas kokinya!


*)Koki Teppanyaki
source: google image

Selanjutnya, si koki pun memulai atraksinya dengan ‘binatang’ selanjutnya yaitu lobster. Lobster segede lengan saya ini cuma dibelah jadi dua bagian dan saya lihat kaki-kakinya masih bergerak di atas tepan. Lobster yang masih setengah hidup itu di panggang di atas tepan, di kasi mentega dikit, lalu hap! Dalam sekejap daging lobster yang putih itu terlepas dari cangkangnya! Plok..plok..plok..!!!

Dari sini, perut saya sudah mulai kenyang. But show must go on. Rugi banget kalo yang begini ini missed, kan? Hehehe… cheapshit saya mulai kambuh. Dan yang selanjutnya terhidang adalah Gyuniku atau kategori daging sapi, bagian sirloin dan tenderloin yang masing-masing diiris kubus dan dilumuri semacam bumbu, lalu di grilled. Sebagian lagi, lagi-lagi direbus dalam shoyu di dalam cawan yang terbuat dari aluminium foil. Sampai sini, perut saya sudah berontak tak mau diisi lagi saking penuhnya. Saya pun mencicip sedikit, karena hidangan selanjutnya telah menanti, yakni sauted vegetable. Saya, yang notabene cenderung vegetarian, ya hap hap hap saja. Suapan ketiga, saya lemes lagi dan memelas ke mas kokinya,
“ini makanan kok gak abis-abis ya chef? Masih banyak lagi kah?” kokinya senyum dan menjawab singkat, kalau orang yang makannya banyak, suka makan di tepanyaki. Hahahaha…
Meski jawabannya gak nyambung, but then ternyata hidangan terakhir yang disajikan adalah nasi goreng. Waduh! Dilemma eh dilemma! Gak dimakan sayang, kalau dimakan perut sudah kenyang. Sumpah aromanya benar-benar menggugah selera. Saya paksa untuk makan 3 suap, bener-bener enak! Oishii desuyo…!

Masih belum puas, mas koki (kedengerannya kok kaya nama ikan yah?) menawari kami dessert berupa es krim bakar. Saya lihat, mas koki membawa 2 buah pisang dan 2 skop es krim. Saya kira sih mau dibikin semacam banana spilt gitu. Eh ternyata pisangnya di grilled di atas tepan, ditaburi cinnamon powder sedikit, lalu disekelilingnya diperciki minyak dan whisky, yang kemuadian dibakar. Istilah kerennya, di flambé. Api pun berkobar-kobar seperti penari striptease di atas tepan selama beberapa saat. Benar-benar hidangan penutup yang keren!

Seolah masih ada additional surprise, si ekspat pun meminta bill. And you know guys, tagihan yang tertera di bonnya, 3,5 jeti! Alamak!!! Ini beneran makan malam paling mahal dan paling keren buat saya! Saking tercengangnya sampai saya lupa ambil gambarnya!

Note:
  1.  Juice please!
  2.  Makanan olahan yang berasal dari sari umbi talas
  3.  Kecap asin Jepang

Wednesday, 27 July 2011

Kapok Kayaking!



Liburan kemarin saya tidak pergi kemana-mana, dan entah mengapa kok saya malas sekali ngapa-ngapain. Karena gak ada kerjaan dan gak tau enaknya ngapain, mulailah saya iseng membuka-buka file foto lama saat saya masih di Bali. And you know guys, I kept a lot of my story there.

Yeah, saya tanpa sengaja membuka file foto saat saya liburan di pantai geger. Dan saya jadi teringat sebuah cerita. Ceritanya saat itu saya, adik laki-laki saya dan Harajuku berencana main ke pantai. Tujuan pertama sih, pantai Kuta, tapi karena kami bertiga dan motor hanya satu, gak mungkin kami naik motor boncengan bertiga karena pasti bakalan dicegat polisi.Finally, dicarilah pantai yang lokasinya dekat dan dijamin gak ada polisinya. Pilihan jatuh ke pantai geger. 


Lokasinya hanya 10 menit dari kosan saya, posisi pantai ini memanjang di belakang hotel St. Regis (lokasi geografis tepatnya saya tidak tahu). Sebelumnya saya pernah kesini sore-sore, tapi karena saat itu air laut sedang surut maka jelek sekali pemandangannya—kelihatan sekali ada banyak rumput laut yang dibudidayakan di sana-sini, saya jadi urung berenang karena takut gatal (sebenarnya saya tidak tahu apakah berenang di antara rumput laut itu bisa menyebabkan gatal atau tidak, tapi yang jelas saya ogah berenang—lebih tepatnya hanya berkecipak karena saya tak bisa berenang).


Kami sedang beruntung saat itu—turis tidak terlalu banyak dan air tidak sedang surut. Saya dan harajuku berendam di air dangkal dan berbincang, sedangkan adik saya—Azis lebih suka berenang dekat turis Jepang. Yah, diantara kami bertiga, hanya Azis satu-satunya yang bisa berenang. Dan sialnya lagi dia malahan lebih asyik berenang sambil menggoda cewek-cewek Jepang yang bening-bening itu daripada mengajari kami berenang. 

Saat sedang santai berendam itulah, tiba-tiba sebuah kayak meluncur begitu saja menghampiri kami. Kaget, langsung kami bubar dan ngibrit karena takut tertabrak. Eeh… penumpang kayak yang cewek-cewek Jakarta itu (saya taunya karena mereka ngomongnya elu-gue) malah ketawa-ketawa dan gak minta maaf sama kami yang sudah dibikin kaget dan membuat acara berendam kami tidak nyaman. Tapi entah mengapa melihat mereka bermain kayak dari pantai, saya jadi kepingin bermain kayak juga. Akhirnya sayapun memutuskan untuk menyewa kayak. Harganya gak murah, 50 ribu per jamnya. Dan maksimal hanya bisa dipakai 2 orang. Mau gak mau, karena kami bertiga ya, mainnya musti gantian. Sebelum kayaking, pemilik memberikan sedikit instruksi; pertama kayakinglah yang aman, artinya tidak boleh melewati bendera merah yang jaraknya kira-kira 50 meter dari bibir pantai, karena ombaknya besar dan lautnya dalam. Kedua, jika ingin belok ke kiri, maka dayunglah ke kanan, dan sebaliknya. Siaaaappp Paaaakkk…..!!

Percobaan pertama, aku di depan dan Azis di belakang.  Jalan mulus banget. Saya semangat sekali mendayung, sesekali tabrakan dengan kayak cewek Jakarta yang tadi hendak menabrak saya. Wuih.. senangnya saya! Dan ternyata mengemudikan kayak gampang sekali, seperti instruksi yang diberikan, jika ingin belok kanan maka dayunglah ke kiri, dan sebaliknya.

Satu putaran telah usai, gantian Harajuku yang naik kayak bersama saya. Sepert biasa, saya duduk di belakang. Kali ini saya malas berdayung, saya hanya leyeh-leyeh saja sambil rebahan menikmati semilir angin. Harajuku juga sepertinya ingin rileks, dan setelah sekian menit kami bersantai…


Kami mendengar teriakan-teriakan dari arah pantai. Seketika kami terbelalak, karena jarak antara kayak kami dengan pantai sudah terlihat jauh sekali, sementara jarak antara kayak dengan bendera merah sangat dekat. Pantas kayak terus-terusan oleng, karena ombak yang lumayan kencang. Kamipun jadi panik, dan berusaha memutar arah menuju pantai. Kami dayung sekuat tenaga ke kiri-kiri-kiri. Tapi kok ya kayak malah semakin jauh ke tengah. Kami kayuh dayung ke kanan-kanan-kanan. Tapi tak membuahkan hasil. Kami terus mendayung tanpa arah. Nihil.


Keringat dingin langsung membasahi sekujur tubuh saya. Jujur saya takut sekali, karena baik saya maupun Harajuku sama-sama tak bisa berenang. Kalau sempat kayak oleng dan terbalik, kalau saya harus tercebur, saya pasti tenggelam. Ya Tuhan, saya benar-benar takut…

Dengan pasrah, kamipun melambaikan tangan ke arah instruktur yang tadi menyewakan kayak ke saya. Untungnya instruktur tadi segera bertindak cepat, mengambil speed boat lalu meluncur ke arah kayak saya. Sayapun tertolong…

Sejenak kami lega karena terhindar dari bahaya. Instruktur menenangkan kami, memberikan kami sebotol minuman. Setelah agak rileks, saya pun mendatangi instruktur tersebut berniat mengembalikan kayak dan meminta bill.

“Baru juga setengah jam, mbak. Ini charge-nya 1 jam loh..” si instruktur malah rese mengompori saya. Tapi saya sudah terlanjur kapok, dan menggeleng pasrah.

“Gak deh mas, saya kapok. Setengah jam lagi naik itu kayak, saya mungkin sudah ada di dimensi lain.” Mas-mas instruktur malah ketawa setan.

“Ini mbak bill-nya.” Mas-mas instruktur kemudian memberikan bill kepada saya.

Buset! 250 ribu!!!

“50 ribu untuk kayak 1 jam, 100ribu untuk charge minuman, dan 100ribu untuk charge boat.” Hah....!!!!!!!!!!!!! ini sih mencari kesempatan dalam kesulitan...


Dan...


Sejak saat itu saya benar-benar kapok kayaking lagi!



*)Sebenarnya iri sekali dengan anak-anak kecil yang jago main kayak ini






You Out!! You Out!!!

Suatu hari seorang tamu bule yang bujubuset gedenya mendatangi konter saya dan meminta tolong supaya kamarnya di make-up. Orangnya sendiri, mau ngacir ke mall dengan “ayam”nya yang dandanannya suer nggak banget. Setelah bule tersebut berlalu, sayapun otomatis menelepon housekeeping agar kamar bule segede kulkas 2 pintu tersebut segera di make-up, karena sejam lagi bule tersebut balik ke kamar.

Ok, sampai di sini nothing happened. Sampai akhirnya, seorang housekeeping menelepon saya.
“Thank you for calling concierge. This is Anna, how may I assist you?”
“Mbak Anna, gimana sih, ini tamunya masih ada di dalem.” Yang diseberang langsung ngomel-ngomel.
“ Hah? Tamunya masih di dalem? Maksudnya?”
“Tadi mbak kasih saya instruksi buat make up kamar 2028, kan? Katanya tamunya keluar. Tapi pas saya datang tamunya ternyata masih ada di dalem.”
Ada yang aneh, nih…
“Tapi emang tamunya keluar kok. Sama ceweknya.” Saya ngeyel.
“Tapi beneran mbak ada tamunya di dalam. Saya diusir. Tamunya teriak-teriak, gitu mbak.”
“Hah?” saya mulai curiga, jangan-jangan kamar tersebut berhantu.
“Jangan-jangan… kamar itu ada hantunya ya mbak?” si Housekeeping menakut-nakuti saya.
“Ah, ngaco kamu. Jangan-jangan kamu salah masuk kamar.”
“Ngaak kok, Mbak, suer…! Saya ketok kamarnya 3 x gak ada yang nyautin. Ya langsung deh saya masuk. Pintu kebuka sedikit, eh..ada yang teriak : You out!! You out!!! Lah saya langsung ngibrit keluar lah mbak…!”
“Ok, sebentar saya kesana.” Saya merasa ada yang janggal dan tidak mungkin ada orang di dalam kamar itu.


Jadilah saya menemui housekeeping yang sudah menunggu saya di depan kamar 2028.
“Mbak tidak percaya sama saya, ayo kita buktikan sama – sama.” Si housekeeping menantang saya.
“Tok..tok..tok… Guest Service…!” saya ketok pintunya. Seperti yang diduga, gak ada sahutan.


“Guest service…!” ini kali kedua. Dan seharusnya memang tak ada sahutan.


“Guest service……!” ini yang ketiga. Saya sempat berpandang-pandangan dengan housekeeping. Berharap semuanya akan baik-baik saja.


“Tuh kan mbak, gak nyaut? Sekarang mbak masuk. Saya ikut dari belakang.”
“Siapa sih ini housekeepingnya? Kok saya duluan yang disuruh masuk?”
“ya, tapi mbak kan mbak yang ngeyel di dalem gak ada orangnya. Kalau saya masuk lagi trus yang didalem ngelempar saya pakai kulit duren kan berabe.” Ya oloh, lebaynya dirimu mas-mas housekeeping…


Dan inilah saatnya….
Kunci master saya sudah masuk, dan pintu perlahan saya buka.
“OOhhh… OOhh…!” terdengar suara dari dalem.
“Jegrek!” si housekeeping malah nutup lagi pintunya.
“Apa mbak saya bilang, ada suara di dalem. Pasti ini ada orangnya di dalem. Kalau bukan orang ya berarti…” si housekeeping mulai lagi deh nakut-nakutin saya.
“Hush! Ada yang aneh kok, ayoh masuk sama saya!” sambil saya membuka lagi pintunya dan melongok masuk.


Dan ternyata sumber suara berasal dari TV!!! Rupanya si bule lupa gak matiin tuh TV yang pas kami masuk sedang menanyangkan film yang ada adegan "Oh yes Oh No"- nya!!


Si Housekeeping langsung merah mukanya ngeliatin saya. Duh!

Makanan enak ada dimana ya???

Sebagian teman dan orang- orang yang bertanya kepada saya tentang Bali kebanyakan hanya menanyakan interesting places to see, akomodasi, atau transportasi. Tak ada satupun yang menanyakan bagaimanakah makanan secara umum yang ada di Bali. Padahal makanan adalah salah satu kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi apapun aktifitas yang anda lakukan dimanapun anda berada. Kenapa saya sewot??? Tidak ada maksud mengatakan makanan di Bali tidak enak, tapi ini hanya pendapat saya dan sangat subjectif. Dulu saya beranggapan bahwa makanan hanya ada dua jenis, yaitu makanan enak dan enak banget. Tapi begitu di Bali, entah mengapa saya kok jadi rewel dan pilih-pilih soal makanan.

Saat saya pertama kalinya ke Bali dan menginap di hotel berbintang 5 di Nusa Dua, saat itu pesawat yang membawa saya berangkat jam 7 pagi dan harus delay jam 8. Sesampainya di Bali jam 10 ( perbedaan waktu Bali dan Surabaya 1 jam), dan sialnya driver limousine (hanya karena factor keberuntunganlah saya mendapatkan fasilitas ini) yang sudah di booking ternyata ngacir entah kemana hingga satu jam! Saya sampai misuh – misuh sendiri seperti orang tersesat di bandara, celingak celinguk menunggu driver yang saya belum pernah kenal mukanya. Perjalanan selama 30 menit dari airport ke hotel terasa sangat lama, karena perut saya sudah krucak krucuk tak karuan. Tepat jam 12 siang, setelah proses checkin dan escorting yang agak lebay, saya pun sampai di kamar saya yang viewnya langsung menghadap ke laut! Horeeeee!!!!

Tak mau bersusah payah keluar kamar untuk makan siang di restoran hotel, sayapun memilih mengublak ublek hotel directory dan mencari room service menu. Ketemu! Tapi kok makanannya banyak yang berbahasa asing yang saya tak mengerti maksudnya. Yang paling gampang dan murah, tentu saja, sandwich atau burger. Tapi dasar saya ndeso, yang tak bisa kenyang jika tidak menyantap nasi. Pilihan saya langsung saja ke Indonesian food yang pilihannya hanya nasi goreng dan soto ayam. Apa boleh buat, jadilah saya order nasi goreng.

Tak lama menunggu, nasi goreng panas pun datang. Ketika petugas room service membuka penutupnya, saya lantas terbelalak. Nasi goreng saya tersaji di sebuah piring besar, lengkap dengan sosis ukuran besar, sate daging sapi yang ukuran potongan dagingnya besar-besar dengan bumbu kacang, paha ayam (atau kalkun?) goreng yang juga gak ketulungan gedenya buat ukuran saya, dan beberapa kondimen tambahan seperti acar timun, chopped chili, dan saos sambal. Saya pun  bersemangat menyuapkan suapan pertama ke mulut saya. Tapi, kok, rasanya aneh. Nasi gorengnya bau asap dan sedikit hambar. Sayapun menambahkan taburan garam di atasnya. Tapi kok ya malah semakin tidak karu-karuan rasanya. Lalu saya mencoba ayam gorengnya. Rasanya juga aneh. Sepertinya ini ayam hanya dicelup sebentar di air garam lantas digoreng. Habis, tidak berasa bumbu sama sekali. Terakhir, Sate yang saya harap rasanya sesuai dengan lidah saya, malah sukses membuat saya jiper. Saos kacangnya berasa kencur!!! Kalau nasi goreng dan ayam gorengnya saya masih tidak bisa mengidentifikasikan bumbunya, khusus sate-nya ini, saya tak mungkin salah. Saya suka sekali dengan minuman beras kencur, bahkan sering dibuatkan sendiri oleh nenek saya kalau saya kebetulan bertandang ke rumah beliau.  Makanya saya sangat yakin bumbu kacang yang ada di sate saya itu pakai kencur. Untuk lebih meyakinkan, sayapun akhirnya bertanya kepada petugas room service yang mengambil tray saya. Dan petugas tersebut mengiyakan. Tuh, kan?

Sorenya rasa lapar saya malah semakin tidak karuan jadinya. Saya pun memutuskan untuk keluar hotel dan berniat ke fastfood restaurant saja. Langsung saya cabut ke taxi counter dan memesan taxi dengan pedenya. Saat sopir taxi menanyakan tujuan saya, sayapun langsung saja bilang dengan tetep sok pede, “shopping mall, pak.” Dan sopir tersebut lalu memberhentikan saya di Bali Collection, mall kecil di kawasan Nusa Dua resort yang bisa saya tempuh hanya dengan jalan kaki dari hotel. Saya pun protes “ mall-nya kecil banget Pak? Sepi lagi! Gak ada yang gedean ya?” Tanya saya lagi dengan sok-nya padahal yang sebenarnya hanya karena mall itu tidak ada KFC atau McD nya. Hehehe..

Sopir saya lalu menawari saya ke Discovery mall di kawasan Kuta. Mendengar nama Kuta (yang notabene lebih terkenal dari pada Nusa Dua), saya pun tertarik dan mengiyakan saja. Perjalanan berlalu lumayan lama, dan saya mulai cemas, sudah 20 menitan kok belum nyampe-nyampe juga. Sopir taxi yang dari tadi saya tanya – tanyai (“kapan nyampeknya??”)  pun mulai gerah, apalagi Kuta ampun deh padat dan macetnya. Mana jalan umumnya juga sempit begitu. 30 menit berlalu dan sampailah saya di Discovery mall. Saya sangat girang karena KFC ada persis di bagian mall paling depan. Tapi begitu melihat agrometer, saya kembali lemas. Rp. 120.000!!!

Sayapun lalu dengan rakusnya menghabiskan 2 porsi ayam, nasi dan softdrink. Saya sampe beli extra yang saya bawa pulang ke hotel. Balas dendam ceritanya, karena setelah itu saya kan harus pulang kembali ke hotel dan naik taxi dan harus membayar argo yang kurang lebih jumlahnya sama. Sampai di hotel, sambil menyantap ayam KFC yang tadi saya bungkus, saya sampai tersipu sendiri, “Oalah.. KFC.. KFC!” Inilah KFC termahal yang pernah saya santap. Hehehe.. tapi saya puas. Meskipun bersusah payah dan harus bayar taxi yang mahal, setidaknya rasa makanan yang saya makan sesuai ekspektasi.

Saya kira penderitaan saya harus kelaparan di bali akan berakhir malam itu, tapi ternyata saya salah. Paginya, saat akan breakfast, saya langsung saja nyelonong masuk ke salah satu restoran yang lokasinya menurut saya paling strategis, di depan kolam renang. Saya pikir enak saja menghabiskan waktu makan sambil melihat-lihat pemandangan indah bule-bule yang sedang berjemur—berharap ada yang ganteng yang bisa saya ajak PDKT—hehe.. tapi harapan saya musnah sudah ketika saya menyebutkan nomor kamar saya, waiter langsung tau saya menginap di executive room dan salah satu benefitnya adalah sarapan disediakan di lounge khusus  tak jauh dari kamar saya. Tapi dengan tetap semangat, sayapun menuju ke lounge yang dimaksud dan barulah saya menyadari bahwa makanan yang tersedia di Buffet adalah continental breakfast yang isinya ‘hanya’ aneka macam roti, sereal dan hot dish berupa sosis dan samosa dengan ukuran mini. Tak ada nasi sama sekali seperti restaurant yang tadi saya datangi. Dengan malas, saya hanya mengambil 1 buah Balinese muffin ( roti kukus kalo di Jawa), 1 buah strawberry cheese cake, 1 buah sosis mini, 1 slice semangka, dan 1 gelas apple juice. Perut saya pun lagi-lagi protes karena tidak mendapatkan jatah yang semestinya. Tak lama, waiterpun datang dan memberikan selembar bill yang harus saya tandatangani karena sarapan termasuk dalam harga kamar. You know how much??? USD 35 atau setara 300 ribuan kalau dirupiahkan saat itu. Dalam hati saya misuh-misuh lagi, dan merencanakan pembalasan dendam nantinya setelah check out. Saya tak habis pikir, ini saya menginap di Hotel berbintang lima kok ya makanannya tidak ada yang sesuai dengan selera “perut” saya.

Check out dari Hotel di Nusa Dua, saya melanjutkan perjalanan ke Ubud. Sayapun check in di sebuah hotel tak berbintang tak jauh dari monkey forest di central ubud. Kapok ah, kalau nginep di hotel berbintang saya “trauma” kelaparan lagi. Aslinya sih hemat duit karena saya travelling juga budgetnya terbatas dan dapat fasilitas 5 stars hotel itu hanya suatu kebetulan. Di monkey forest saya hanya perlu mengeluarkan 400ribuan untuk 1 kamar deluxe dan sudah termasuk breakfast berupa nasi goreng (horeee…!!! Breakfastnya bener-bener nasi dan  rasanya juga enak) serta teh, kopi atau jus buah sesuai permintaan. Sedangkan di Nusa Dua, saya harus bayar 10 kali lipatnya!!! Sayangnya, restoran di hotel ini hanya buka untuk sarapan dan makan malam, room servicepun tidak ada, sehingga makan siangnya saya harus kelayapan mencari sendiri di luar.

Sayapun jalan - jalan di sekitar area monkey forest dan berharap akan menemukan warung makan / café yang menjual makanan lokal. Tapi tidak ada! Toko-toko souvenir dan massage memang ada dimana – mana, tapi restaurant atau café malah jarang sekali. Itupun, jualannya turis sekali alias makanan Italia (yang pasta-pastaan gitu atau pizza), Mexican atau International food yang membuat lidah saya keseleo saat membaca draft menunya. Tapi saya tidak menyerah, sayapun melanjutkan perjalanan dan tepat di depan monkey forest, ada seorang ibu – ibu yang jualan nasi  jenggo, semacam nasi kucing kalau di Jawa. Nasi jenggo dibungkus daun pisang, isinya berupa sekepal nasi (mungkin kurang dari sekepal malah, karena porsinya sedikit sekali), dan lauk pauknya berupa mie goreng, ayam goreng atau daging, kering tempe, dan sambal yang kesemuanya hanya sejumput. Harga per bungkusnya hanya Rp. 2.500 saat itu. Sayapun membeli 4 bungkus nasi jenggo yang langsung saya bawa pulang ke hotel (iya lah, kan malu kalau ketahuan makan nasi sampai 4 bungkus di TKP. Hehehehe..). Nasi jenggo ini, meskipun murah dan porsinya ampun-deh-pelitnya, setidaknya rasanya cocok dengan lidah saya yang orang Jawa tulen.



  *)Nasi Jenggo penyelamat


Pesan Moral: Anda adalah seorang yang benar – benar beruntung jika anda bisa makan masakan apapun selama berlibur di Bali. Tapi, jika Anda adalah type orang seperti saya (dengan selera ndeso), maka bersiap-siaplah survive dengan makan nasi jenggo.

Orang Asing Di Negeri Sendiri

Satu hal yang menurut saya paling menarik selama training di Bali adalah orang- orangnya. Saya perhatikan, di daerah – dareah tertentu, Kuta, Nusa Dua dan Ubud adalah salah tiga daerah yang menurut saya lebih banyak orang asingnya ketimbang penduduk lokalnya. Pernah suatu petang saat saya menghabiskan waktu menonton tari Legong di Ubud, di akhir acara saya baru menyadari bahwa sayalah satu- satunya orang lokal yang menonton!

Suatu hari, saya dan salah seorang teman saya menghabiskan waktu libur di sela- sela training di sekitar pantai Kuta. Entah bagaimana mulanya, tiba- tiba kami ingin sekali mengunjungi monumen Bom Bali yang katanya berada di Kuta Square, jalan Legian. Kamipun dengan pedenya berkeliling pantai dan menemukan jalan berbelok ke kanan di ujung pantai. Jalan tersebut menikung kembali ke kanan dan hanya dengan bermodalkan feeling yang entah benar-entah salah, kami melewati sebuah art market. Dari sini kami lurus menyusuri jalan dan ujung- ujungnya kami sampai di sebuah perempatan dengan papan petunjuk: lurus menuju Denpasar, ke kiri menuju Tabanan, dan ke kanan menuju airport. Kami semakin bingung. Ternyata tak mudah bagi kami yang disoriented ini menemukan suatu tempat tanpa bantuan peta atau GPS. Sebenarnya Handphone saya sudah dilengkapi dengan fasilitas GPS dan google map, tapi karena pulsa yang terdapat di simcard saya tidak mencukupi untuk mengaksesnya, dengan terpaksalah kami tetap mengandalkan papan arah dan tentu saja – feeling.

Setelah berputar – putar tak tentu arah kami akhirnya berhasil kembali ke tempat semula, persis tepat di depan Hard Rock hotel yang menghadap ke pantai. Mau putar arah pun tak bisa, karena jalannya hanya satu arah. Mau tak mau, kamipun mengulang menyusuri jalan yang sama. Tepat di depan circle K, kami melihat seorang bule pengendara motor masuk melalui sebuah gang yang berada tepat di sebelah Bar yang saat itu sedang tutup. Kami mengintip sebentar. Ternyata gang itu dipenuhi oleh art shop dari ujung hingga ke ujung. Saya pun ikutan masuk, dan melihat ternyata di gang sempit ini tak hanya ada art shop, tapi juga restaurant, bar, diskotik, spa, butik dan salon. Tapi lagi – lagi kami tersesat. Entah karena terlalu asyik memperhatikan toko dan barang-barang antic yang dipajang atau apa, kami memasuki sebuah jalan buntu yang di ujung jalannya terdapat sebuah rumah kosong dan terdengar suara anjing menyalak di dalamnya!! Kami memutuskan untuk kembali dan saat itu kami melihat ada seorang cewek bule, dengan malu-malu akhirnya saya bertanya padanya letak monumen  bom Bali berada.
“Excuse me, would you please to let me know where is Bali Bomb monument???”
Cewek tersebut mengernytikan kening dan dengan ragu – ragu menunjukkan arahnya. Mungkin heran mengapa kami yang orang lokal bisa tersesat disini, atau bisa juga mungkin dianggapnya kami orang jahat yang berpura-pura tersesat, karena setelah menunjukkan arah, cewek tersebut berjalan cepat meninggalkan kami.

Kamipun tergelak menahan tawa saat kami sampai di monumen setelah mengikuti petunjuk cewek bule tadi. Bagaimana tidak, kami berasa seperti orang asing di negeri sendiri. Lucu sekali, seharusnya orang asing yang bertanya arah pada orang lokal, tapi yang kami alami justru sebaliknya. Hehehe
 …


*) Monumen Bom Bali yang saya abadikan setelah insiden tersesat

Hal lain yang bagi saya menarik adalah ketika suatu hari saya (kembali tersesat) berjalan- jalan di legian. Dari ujung hingga ke ujung diskotek jedag jedug menyetel musik disko yang beradu satu sama lain. Saya asyik saja jalan sambil memperhatikan greeter – greeter bar tersebut yang berdandan macam – macam mulai cowboy hingga bikini yang hanya ditutup dengan kain transparan diatas lutut, menarik perhatian bule-bule pria agar mau mampir ke “rumahnya”. Sebagian lagi adalah café-café yang menyediakan fasilitas layar lebar untuk nonton piala dunia yang tak kalah berisiknya. Yang membuat saya takjub adalah, kira- kira 10 meter dari ujung jalan, terdapat sebuah balai desa yang saat itu sedang dipergunakan warga untuk  latihan menggunakan alat music tradisional untuk upacara agama, terletak persis bersebelahan dengan sebuah pub yang musiknya ampun berisiknya. Saya tak habis pikir, bagaimana warga bisa berkonsentrasi latihan memainkan alat music dan merapalkan mantra sedangkan tepat di sebelahnya orang sedang mabuk dan hingar bingar berpesta. 

Kesimpulan saya, warga bali sangat toleran dan menjunjung tinggi nilai- nilai agama, dan tak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Saya tak bisa bayangkan itu terjadi di kota tempat saya tinggal. Tempat-tempat tersebut pasti dengan seketika akan musnah diobrak abrik warga karena dinilai mencemari dan mengganggu ketenangan warga yang sedang beribadah.