Showing posts with label My daily Life. Show all posts
Showing posts with label My daily Life. Show all posts

Tuesday, 5 June 2012

Ketika Orang Jepang Ngomong Inggris...




Meskipun teman ekspat Jepang saya sudah tinggal di Indonesia lebih dari sepuluh tahun dan bahasa Indonesianya sudah lancar, bukan berarti saya selalu mengerti apa yang dia katakan. Orang Jepang yang saya tahu itu tidak bisa mengatakan huruf ‘L’ dengan baik dan benar. Misalnya, suatu hari saat kami membicarakan masalah kenaikan harga ikan (karena dia eksportir ikan), dia bilang, “ah… itu mahar..”. Kalau saya sih, sudah mulai paham, maksud dia tuh mau ngomong mahal, bukannya tiba-tiba ngomongin mahar buat kawinan. Hehehe…

Yang kedua, orang Jepang biasanya tidak bisa mengucapkan membaca huruf mati, kecuali huruf ‘N’. Misalnya class yang seringnya dibaca ‘kurasu’. Itupun kalau huruf ‘N’nya terletak di akhir kata, maka yang keluar biasanya kata sengau yang terdengar seperti ‘ng’. Misalnya makan yang berubah menjadi ‘makang’, sen menjadi ‘seng’, aircon (AC) terdengar seperti ‘eakong’, dan sebagainya.

Well, ceritanya, suatu hari selesai inspeksi dari pabrik ikan, teman saya ngajak nongkrong. Karena tidak tahu mau kemana, diapun berinisiatif, mengajak saya ke ‘makudo’. Saya yang kurang mengertipun mengklarifikasi,
“hah? Makudo? Dimana itu?”
“iya. Makudo narudo. Ada di dekat sini” katanya lagi.
Saya sampai bingung. Apa itu makudo. Eh, makudo narudo. Saya sibuk mengingat-ingat apa ada cafĂ© ala Jepang di sekitar sini yang baru buka dan bernama ‘Makudo Narudo’. Ah, saya rasa kok tidak ada. Apa sejenis toko mainan yang menjual replica tokoh anime Naruto ya? Ketika mau bertanya, mobil yang kami tumpangi belok ke arah parkiran restoran fast food paling happening sejagad, yaitu MCD!!! So, yang dari tadi dia omongin itu ternyata cuma MCD! Oh no! MCD gitu loh…!

Sampai di dalam MCD saya belum berhenti tertawa karena spelling yang kacau ini. Si ekspatpun lalu minta diajari cara ngomong MCD yang baik dan benar. Tapi yang keluar kok jadi aneh, mulai dari ‘mekede’, ‘makudo’, ‘mekedo’, sampai ‘mekudi’. Ah, sudahlah! Si Jepang pun sudah mulai ampun-ampun mengeluh rahangnya capek karena harus mengulang kata yang sama dan gak bisa-bisa juga. Karena susah, kamipun sepakat menyebut MCD dengan ‘mekudi’, karena hanya kata itu yang paling mirip. Daripada ‘mekudo’, jauh amat kan?
Karena ngomong MCDnya udah mendingan, jadilah kami mulai memesan makanan dan si Jepang dengan pedenya order,
“Saya mau 1 ‘sandoichi’ dan cola!”
Saya +Mas-mas MCD: bengong pandang-pandangan. Sandoichi??? Sandwich kaleeeeee….

Jangan dikira perbincangan kami yang kacau dengan menggunakan kata serapan berbahasa Inggris mentok sampai di sini. Sambil menikmati ‘sandoichi’ (yang kedengerannya lebih mirip merk sandal jepit), diapun cerita mengenai jaman dia masih bekerja di Jepang. Jadi ceritanya, di kantor dia punya rekan kerja dari Amrik 3 orang, masing-masing bernama Nikooru, Kaeru, dan Jemusu. Jangan kaget, ini bukannya orang Jepang yang jadi imigran di Amrik trus balik ke Jepang loh, tapi beneran orang Amrik yang namanya sudah ‘dijepangkan’. Nikooru itu aslinya bernama Nicole, Jemusu itu berasal dari nama James, sedangkan Kaeru (yang berarti kodok dalam bahasa Jepang) itu aslinya Kyle. Kasihan sekali si Kodok, eh si Kyle yang berubah namanya jadi kodok. Hehehe.. Mereka berempat ini, ceritanya kompak banget baik di dalam hal bekerja atau di luar kerja. Mereka suka keluar nonton film, apalagi yang actor utamanya ‘Burapi’. Pasti bingung kan, siapa itu Burapi??? Burapi atau kadang-kadang disebut Burapido itu Brad Pitt! Hah, kacau juga ya, sampai Brad Pitt juga tidak luput dari ‘siksaan’. Hwahwahwahwa…

Untungnya nama saya Anna, yang ada huruf vokalnya baik di depan dan di belakang kata. Jadi tidak mungkin diplesetkan menjadi nama baru yang aneh. Syukurrr….

Eniwei meskipun orang Jepang susah mengucapkan kata berbahasa Inggris, ternyata  tidak semua orang Jepang seperti itu. Setidaknya ayah saya yang orang Jepang bahasa Inggrisnya bagus dan bisa mengucapkan huruf ‘L’ dengan baik dan benar, lalu dua teman Japanese GRO sewaktu training di Bali yang notabene asli orang Jepang juga bahasa Inggrisnya lancar dan jelas, apalagi orang Jepang yang hidupnya kelamaan di negara yang berbahasa Inggris.

Saya jadi maklum dengan bahasa Inggris ala Jepang, dan mulai bertanya-tanya dalam hati, kalau misalnya orang Jepang mendengar orang Jawa ngomong Inggris dan medok, apa mereka juga akan ketawa yach?

Wednesday, 27 July 2011

Gara-gara Naruto


Saya (entah berapa kalinya) mengatakan kalau saya paling benci harus incharge di lobby apalagi harus bersama satpam - maksud saya sekuriti (bodo amat!) karena seringnya saya jadi ilfil dan hilang kesabaran karena harus eyel-eyelan ngobrolin hal gak mutu yang akhirnya bisa membuat saya dongkol dan uring-uringan seharian. Tapi ibarat pepatah jawa yang bilang “digething nyanding”, alias apa yang kita benci itu malahan semakin mendekat, saya kok ya sering sekali harus kerja bareng orang-orang yang saya tidak suka. Herannya, hari ini dengan mas A lain waktu dengan mas B, kok ya mereka hampir sama menyebalkannya! Ibarat mati satu tumbuh seribu, begitulah saya jadi bulan-bulanan mereka setiap kali harus kerja bareng mereka. Kalau tidak pandai-pandai mengelak, incharge bersama mereka sudah selayaknya  tes mental buat saya. Huft…!

Seperti kejadian hari ini. Bukan, sama sekali bukan masalah tip atau hari jadi Amerika. Hari ini masalahnya Naruto. Yep, kartun Jepang yang digandrungi banyak penggemar di seantero dunia itu, jadi topik utama mas satpam dan saya, sekaligus menjadi bahan obrolan yang bikin saya jengkel, ilfil, males, sekaligus konyol. Si mas-mas satpam yang baru saja incharge ini kok ya langsung to the point mereseki saya.
“Mbak suka Naruto gak?” Dia, selalu dia duluan yang membuka pembicaraan.
“ Memangnya kenapa?” Jawab saya yang sewot. Si satpam nyengir kuda.
“ Yaaah.. hari gini gak tau Naruto. Mbak ketinggalan jaman sekali. Palingan mbak taunya Doraemon atau Sailormoon. Itu sih udah jadul mbak…” tuh kan, bikin gara-gara lagi.
“ Siapa yang bilang gak tau?”, saya membela diri. “ Tadi saya kan Cuma nanya memangnya kenapa?”
“ Alah, udah deh mbak… biasanya cewek sukanya Chibi Chibi apa tuh…” si Satpam garuk-garuk kepala.
“ Chibi Maruko Chan maksudnya?” Si satpam nyengir kaya anak kecil gak punya dosa.

Hening.

“ Tahu tidak mbak, anggota akatsuki yang namanya pein itu loh, kuat banget. Tak terkalahkan!” si satpam berapi-api.
“ Pein akhirnya mati kena rasengan Naruto tau!” Si satpam melotot gak percaya. Trus ngeyel-ngeyel, mengatai saya sok tau, sok ngarang-ngarang cerita, dan sebagainya. Makin panas deh kuping saya mendengarnya.
“ Mas, itu episode Naruto bunuh pein sih saya sudah tahu jauh sebelum saya kerja di sini. Jangankan episode pein, yang kakaknya naruto si Uzumaki Arashi keluar, saya sudah tahu!” saya pun tak tanggung-tanggung nyombong, padahal si uzumaki arashi keluar itu masih lama tayangnya. Saya tahunya dari browsing-browsing iseng ke milis-milis penggemar Naruto untuk mendapatkan informasi terakhir mengenai kelanjutan kisah Naruto. Hehehehe…


*)Pein, Idola saya

Eh, tapi bualan saya manjur loh. Si Satpam terbengong-bengong trus tanya,
“Lah mbak tahunya dari mana? Aku saja yang rajin baca komik pinjeman nyampek kemunculan pein itu sudah yang paling terbaru.”
Sampai disini saya ngakak habis-habisan, dan tentunya juga anda yang ngakunya penggemar Naruto. Ya kan?
“Ya elah mas, hari gini kan banyak situs-situs penyedia film-film terbaru yang bisa di download gratisan! Saya sih punya ratusan film Naruto yang saya simpan di hardisk setelah saya download!”


Tahukah anda, yang sebenarnya rajin download film naruto itu Harajuku dan Aziz, saya sih tinggal copy dari laptop mereka. Saya pakai internet yang berkuota, jadi kan sayang kalau download film dengan kapasitas besar trus kuota saya habis dan speed internet saya jadi anjlok. Dan aslinya, saya suka Naruto gara-gara penasaran melihat azis dan Harajuku yang selalu antusias dan tidak bisa diganggu kalau sedang nonton berdua. Belum lagi kalau sedang debat mengenai tokoh favorit mereka, Pein dan Sasuke - meskipun mereka ini musuhan - tapi kok ya kelihatannya tak ada habisnya. Iseng-iseng suatu kali saya ikutan nonton dan langsung suka. Jadi begitulah, meski tak tahu sejarah dari awalnya, tapi sejak saat itu saya tak pernah absen menantikan tiap edisi barunya. It’s my secret.




*)-Nyombong mode on-folder Film Naruto yang tersimpan di hardisk saya


Dan s
i mas satpam makin melongo.

“ Situs? Situs apaan mbak?” tanpa curiga, mulailah saya nyerocos kasih tahu beberapa situs yang sering saya kunjungi untuk download. Tapi kok ya si mas satpam ini kelihatan tambah bingung.

“ Itu gimana caranya mbak?”

“Ya gampang mas tinggal download saja.”

“Caranya download itu gimana?” Nah loh? Jadinya saya yang gantian melongo.

“Dulu saya ini mau diajarin internet loh mbak sama teman. Biaya kursusnya Cuma 100ribu per bulan. Tapi saya tak bisa karena sibuk tak ada waktu.” 
Nah, sampai disini saya tak tahu apa harus tertawa atau menangis kasihan. Minta diajarin sama mas-mas penjaga warnet aja mas... kalau Cuma ngasih tahu caranya googling sih, gratis atuh!
“ Oh ya, Facebooknya mbak apa? Nanti biar q add.” Katanya lagi. Saya bengong. Kaget.

“Oh, punya Facebook ya?” tanya saya. Lah heran. Internet gak tahu itu makanan apaan kok, facebook tahu.

 “ Yah, ada lah mbak. Hari gini gak punya facebook!” dia sewot berat. Sampe monyong 5 centi deh itu bibirnya.

“ Kasihan banget mbak ini, Hpnya masih jadul ya, gak ada facebooknya?” dia mencoba mencibir saya. 

Usut diusut, ternyata HP dia yang merk-merk china yang punya shortcut facebook pemirsa! Jadi dikiranya dia, Facebook itu aplikasi Java bawaan HP! Ya oloh mas... tapi saya jadi malas kasih tahu, karena kalau saya bilang facebook itu situs jejaring sosial yang ada di internet, dia pasti ngamuk-ngamuk dan ngeyel bilang kalau facebook itu aplikasi Java di hape yang dijalankan dengan GPRS (padahal dia juga gak tahu GPRS itu apaan) trus nyedot pulsa setelah pemakaian sekian menit. Duh!


“Oh ya mbak, q mau dong nonton naruto-nya. Katanya punya banyak di laptop.”

“Boleh. Kapan?”

“Mmmm... kalau pulang kerja gimana mbak? Di loading dock aja. Tapi... di loading dock kan gak ada internet kaya di lobby ya? Mana bisa nonton?” 
You know pemirsa, yang dimaksud dia itu, di loading dock kan tidak ada wifi-nya, jadi dia takut gak bisa nonton karena dikiranya dia nonton film yang sudah saya download itu masih harus online. ON-LI-NE!

“ Bisa mas, tapi aku Cuma bisa kasih lihat 1 film aja ya? 1 film durasinya udah 25 menitan. Ntar aku kemaleman pulangnya.”

“ Tapi aku mau nonton semuanya. Dikopi deh dikopi.”

“ Mmm... boleh deh. Kalau gitu siapkan flash disk aja. Nanti aku kopikan yang banyak. Ntar kamu bisa nonton di warnet atau kalo punya DVD yang ada USB port-nya, bisa juga dicolokin di situ.” Si mas Satpam mengangguk-angguk.

“ Tapi mbak.. flash disk itu apaan ya?”  Gubrak!

.............................

Sekian pemirsa. Saya tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya. Saya akui saya ini gaptek, ndeso dan unsophisticated. But at least saya sudah pernah kenal apa itu Flash disk.

The Barbarian English

Seperti hari hari sebelumnya, saya selalu sial ketiban incharge bersama sekuriti lagi. Di lobby lagi. Meskipun dengan orang yang berbeda (kali ini mas-mas tinggi besar yang sepertinya ganteng kalau dilihat dari belakang tapi oh NO! kalau dilihat dari depan—saya tak perlu sabutkan namanya), tetap saja ada hal-hal aneh dan konyol yang mewarnai hari-hari saya. Yah, seperti hari ini.
Mas-mas yang ini memang agak lain, agak kalem dan polos, meskipun sifat “ember”-nya hampir sama dengan satpam (eh, sekuriti) kebanyakan. Bedanya, si mas kalem ini ternyata rasa ingin tahunya lumayan besar, ya...want to know aja gitu orangnya.

So, siang tadi ada seorang bule ostrali yang badannya segede kulkas dua pintu – lagi berdiri di lobby dekat si sekuriti berjaga—si bule lagi nelpon temennya dan suaranya itu looo… kencengnya ampun deh mak—berasa di dunia ini cuma dia aja yang bisa ngomong.
“… I‘ve been waiting for you quite longggg….” Buseeet, long-nya emang panjang banget. Sumpah! Intinya si bule udah gak sabar kelamaan nunggu temennya.
“… what the hell are you doing, Huh?” si Bule makin gak sabaran.
Dan si mas-mas sekuriti timbul deh rasa penasaran dan ingin tahunya.
“Mbak, yang terakhir bule tadi ngomong itu, maksudnya apa?” Dia tanya ke saya.
“ Lagi ngapain lu? Gitu kali kalo diterjemahkan ke bahasanya orang Jakarta.” Saya jawab sekenanya.
“Oh, Ok. Ok.” Si mas sekuriti mengangguk-angguk sok ngerti.

And finally temennya bule kulkas dua pintu itu datang. Segede kulkas tiga pintu. Alias ne orang gede banget. Dan suaranya itu, gak kalah menggelegar.
“I’m so sorry, John. There was a fucking traffic jam in front of the plaza.” Si kulkas tiga pintu nyerocos.
Dan si mas sekuriti lagi-lagi nanya sama saya,
“Fucking traffic jam itu apa mbak?” Tanyanya lagi.
“Macet banget.” Saya jawab tanpa tendensi apa-apa. Mas-mas sekuriti lalu mencatat sesuatu di kertas kecil dari sakunya.

Dua bule segede gaban tersebut berlalu sebentar merokok di pojok ruangan, lalu masuk melalui metal detector body check securiti. Pertama, si bule kulkas dua pintu yang lewat, sambil membawa koper milik bule kulkas tiga pintu. Tapi setelah melewati body check, si kulkas dua pintu sepertinya lupa akan sesuatu; meraba-raba saku celananya, saku baju, lalu ke koper yang sedang dibawanya.
“ What the hell are you doing, Sir? May I help you?” Si mas- mas sekuriti yang Oh No! Dengan polosnya menawarkan bantuan dengan bahasa inggris ala barbarian yang tak sengaja dia dengar tadi.
Si Bule melongo tak percaya. Saya menutup muka. Dalam hati hanya bisa berdoa... ampunilah dosa-dosa mas sekuriti polos ini ya Tuhan...
Belum juga si kulkas dua pintu menjawab, si kulkas tiga pintu menyusul melewati pintu metal detector dan karena ada bunyi “beep”—kemungkinan si bule mengantongi handphone-nya—mas-mas sekuriti yang sama men-scan si bule dengan garret. Celakanya, si mas-mas sekuriti ini malah sotoy basa basi sama si bule kulkas tiga pintu,
“Where’s the fucking traffic jam, Sir?” OMG! OMG!
Seandainya ada Dedy corbuzier di TKP saat itu, rasanya mau lah saya dijadikan relawan untuk disulap jadi metal detector saja!

Sebuah PR, Proses dan Kenangan



Mulai post ini dan selanjutnya, saya akan mempublish beberapa tulisan saya mengenai pendapat saya tentang beberapa Top hotel di Bali selama saya melaksanakan On The job Training. Tulisan – tulisan tersebut dulunya adalah Pe-er dari Papi yang ditujukan supaya saya mengenal hotel-hotel lain selain hotel tempat saya training, menganalisis berbagai hal di dalamnya, seperti bengunan, arsitektur, lokasi, makanan dan minuman, keamanan, service, hingga hygiene. Tulisan –tulisan berbahasa inggris yang ampun-deh-mawutnya itu sengaja tidak saya edit alias saya biarkan seperti aslinya, karena tulisan – tulisan tersebut adalah dokumentasi dan bagian dari proses—dari yang dulu bahasa inggris saya amat sangat parah hingga kini hanya tinggal parahnya saja. Isinya berupa beberapa penilaian saya mungkin terlalu subjektif, karena memang saya menilai dari sudut pandang saya secara sepihak.

Overall, selamat membaca! 

High Heels Bikin Pingsan???

Bagi kebanyakan wanita, sepatu atau sandal ber-hak tinggi atau lazim disebut high heels dengan berbagai bentuk dan macamnya seperti stiletto, prism, wedges, pump, atau cone memang seksi dan anggun. Beberapa wanita malah merasa tidak pede jika tidak mengenakan high heels dalam suatu kesempatan. Meskipun sedikit menyusahkan saat berjalan dan berefek kaki pegal jika terlalu lama digunakan, namun rasa- rasanya banyak wanita yang rela menanggung resiko tersebut demi sebuah penampilan. Istilah kerennya, “dress to kill”.
Saya sendiri bukanlah seorang penggemar high heels tingkat tinggi. Untuk penampilan sehari2 seringnya malah hanya mengenakan puppy shoes yang kata ayah saya punya pipi yang “chubby” sekali macam crocs. Atau malah sandal gunung semacam eiger saat saya jalan ke mall. Teman- teman saya sampai protes saat mengajak saya jalan karena penampilan saya sama sekali tidak “matching” dengan dandanan mereka yang sudah sedemikian rupa habis-habisan. Hehehe…

Tapi bukan berarti saya tidak memiliki koleksi high heels, lho… meskipun tak banyak, tapi setiap high heels yang saya miliki memiliki cerita masing- masing. Yang paling berkesan (pengalaman pribadi yang memalukan dan amit – amit  jangan sampai terjadi lagi) adalah pengalaman bersama heels Bellagio yang saya beli di MOG (Malang Olympic garden) di kota Malang. Ceritanya saat itu saya baru saja lulus kuliah dan berniat akan mencari kerja. Semua interview attire saya rasa sudah lengkap. Hingga ayah saya meminta saya berpose mengenakan semua perlengkapan interview saya mulai dari baju, jas, rok, tas, hingga sepatu dan mengirimkannya lewat email. Beliau terkejut karena menurut beliau dandanan saya norak sekali (saya memakai cardigan lengan panjang abu2 dengan dalaman blouse putih, rok abu – abu, sepatu hitam heels 5cm, dan tas prada hitam ukuran 10 x 15 cm. silahkan tertawakan penampilan saya waktu itu! Saya yakin andapun setuju dengan pendapat  ayah saya!) dan menyuruh saya hunting perlengkapan interview seperti yang telah  beliau kirimkan lewat email (beliau mengedit photo saya, cardigan diganti degan jas warna biru navy senada dengan roknya, sepatu high heels tinggi banget gak tau berapa centi, dan tas hitam lebar tanpa motif). Dengan terpaksa, sayapun menuruti saran beliau. Di MOG saya membeli tas hitam dan sepatu dengan merk yang sama.

Hari yang telah dinantikan pun tiba. Saya dipanggil untuk interview. Sukses. Dalam hati saya memuji selera papi saya karena EAM yang menginterview saya juga terlihat terkesan dengan dandanan saya. Tiga hari berselang, saya pun kembali dipanggil oleh hotel yang sama untuk interview. Sayapun dengan pedenya mengenakan sepatu yang sama tanpa ada firasat apa- apa. Ternyata sesampainya di HRD, saya diberi tahu kalau saya diterima. Sayapun diantar ke laundry untuk mengambil seragam saya. Celakanya, sepatu tidak termasuk dalam uniform. Jadilah saya tetap memakai sepatu ber-hak 9cm tersebut dengan susah payah. Hari itu juga ternyata saya langsung diorientasikan berkeliling hotel, dikenalkan sana sini dengan senyum yang saya paksa- paksa, karena kaki saya sudah pegal tidak karuan. Entah karena sepatu saya  yang memang terlalu tinggi, entah karena kaki saya yang pegal, enatah karena saya memang hipotensi atau karena kondisi saya yang saat itu belum siap… sayapun sukses pingsan! Saya lalu di bawa ke klinik untuk mendapatkan perawatan. Hari pertama saya kerja, sukses diundur hingga 3 hari berikutnya, menunggu saya pulih. Tiga hari berselang, saat saya incharge, hampir semua rekan baik itu staff dan manager menanyakan keadaan saya. Saat briefing time pun, duty manager sempat menanyakan kondisi kesehatan saya di forum. Saya jadi sangat malu… Saya kan tidak se- penyakitan itu Paaaaakkk…

Heels kedua yang memiliki sejarah yang cukup penting bagi saya adalah wedges 11cm merk fladeo yang saya beli di matahari bersama seorang teman. Mulanya saya tertarik dengan salah satu produk wedges crocs yang dipajang di toko online. Disana tertera harganya hanya USD 50, yang jika saya konversikan ke rupiah waktu itu sekitar 450 ribuan. Saya pun mencoba mendatangi store-nya di salah satu mall di Surabaya. Saya lihat sendiri, ternyata kok warna wedges yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang saya lihat di toko online-nya. Dan yang paling gila.. harga rupiah di toko ini menjadi 850ribu!!! Hamper dua kali lipat harga online-nya. Saya pun jadi ilfil dan beranjak ke SOGO yang letaknya berhadapan dengan matahari. Sayangnya, tak ada satupun footwear yang menarik perhatian saya (kalau boleh jujur sih sebenarnya ada, hanya saja saya tak kuat bayar harganya yang menurut saya terlalu mahal untuk ukuran saya waktu itu). Maka, beralihlah kami ke matahari. Tak disangka, saya menemukan beberapa wedges yang cantik sekali. Teman saya ini, meskipun boyish tapi seleranya tak pernah salah. Saya selalu mengajaknya menemani saya berbelanja untuk menjadi konsultan pribadi saya.

Beberapa wedges yang menjadi pilihan saya saat itu adalah wedges warna hijau tua berbahan beludru setinggi 7 cm, wedges warna hitam bertali dan wedges warna putih yang modelnya seperti wedges crocs. Sayapun meminta pendapat teman saya, tapi dia menolak ketiga- tiganya. Dia pun dengan judesnya mengatakan selera saya tidak bagus. Dan dengan cuek-nya dia menunjuk wedges new arrival di bagian fladeo. Warna hitam mengkilat, tinggi 11cm, dengan hanya satu tali melintang tepat di atas jari dan satu tali di bagian pergelangan kaki. Simple sekali tapi saya akui saya suka modelnya. Tapi melihat heelsnya saya jadi sedikit trauma. Teman saya pun meyakinkan saya. Diapun menyuruh salah satu mas- mas SPB berondong (ketahuan deh saya sudah tak muda lagi) untuk mengambilkan pair kiri wedges tersebut. Meski dengan raut muka ragu – ragu, mas – mas SPB tadi pun beranjak, dan kembalinya pun sangat lama. Teman saya sampai misuh – misuh karena tidak sabar menunggu. Dan seperti sebelumnya, selera teman saya tak pernah salah. Wedges tersebut pas sekali di kaki saya, warnanya juga pas dengan warna kulit saya yang sawo matang, heelsnya terasa tidak terlalu tinggi, dan tentunya nyaman sekali di kaki saya. Sayapun setuju membelinya dan jadilah kami berdua mendatangi mas – mas SPB yang sama di meja kasir.

Saya kira urusan akan jadi lancar. Tapi ternyata saya keliru. Mas – mas tadi menerangkan kepada saya bahwa wedges yang akan saya beli ini new arrival, harganya mahal dan tidak ada diskon. Rupanya teman saya tersinggung dengan ucapan mas- mas tadi. Dia pun menggebrak meja dan dengan sok borjunya menantang “ kamu kira kita gak kuat beli??? Kalo ngomong yang bener ya???!!!” kontan pengunjung yang lain pun menoleh ke arah kami. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran saya pun cepat – cepat beranjak pergi. Teman saya masih ngomel – ngomel. Saya pun menenangkan, dan meminta maaf karena memang saat itu dandanan saya kere sekali. Ooops! Memang bukan sepenuhnya salah mas – mas SPB tersebut mengira saya tak kuat bayar. 

Memang bukan sekali atau dua kali saya mengalami hal tersebut dan menurut pengamatan saya, belanja di Sogo jauh lebih menyenangkan karena SPG ato SPB-nya lebih care dan attitude-nya lebih baik. Saran saya, berdandanlah seperti orang berduit jika anda hendak berbelanja – atau hanya sekedar lihat-lihat diskon di Matahari.