Showing posts with label My Lovely Job. Show all posts
Showing posts with label My Lovely Job. Show all posts

Tuesday, 24 July 2012

Tips Memilih hotel untuk bekerja


Enaknya kerja di hotel mana, ya?
Berangkat dari secuil pertanyaan itulah, post kali ini ditulis.

Sebagai seorang staff hotel yang sudah duluan nyemplung di dunia perhotelan, saya banyak sekali menerima pertanyaan dari teman-teman seangkatan mengenai bagaimana memilih hotel yang tepat untuk bekerja. Maksudnya, menentukan hotel yang tepat dengan keinginan dengan standart yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kalau saya sudah mulai buka suara, mereka akan langsung mendengung, “aaahh…kalau mau kerja di hotel yang bagus kan sulit sekali! yang mana dulu saja lah.. yang penting diterima!”. Sejujurnya, statement seperti itu ada benarnya. Tapi, sebagai calon staff kita juga punya hak untuk memilih mana yang terbaik, baik dari segi keseharian kerja, upah, kebijaksanaan management, program hotel, hingga jenjang karir. Banyak juga rekan saya yang sudah jauh-jauh meninggalkan pekerjaannya di Surabaya dibela-belain ke luar pulau berpindah ke lain “hati” (baca: hotel) yang menyesal setelah bekerja di sana karena kenyataannya tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan sebelumnya. Sedikit tips berikut saya rangkum dari nasehat-nasehat orang-orang dekat dan saya alami sendiri. Semoga bisa membantu mahluk-mahluk galau di luar sana yang sedang bingung menentukan pilihan mau bekerja di hotel yang mana.

1.  Kenali kepribadian.
Loh? Ini bicara masalah hotel apa mau psikotes? Jangan salah! Nyari hotel itu ibarat nyari pacar. Harus pas dan sesuai dengan visi dan misi hati. Sebagus apapun hotelnya, kalau tidak sesuai dengan kepribadian anda, anda tidak akan enjoy kerja di sana. Semisal anda adalah seseorang yang menyukai segala hal yang baru dan cepat bosan dengan situasi yang statis. Anda pasti akan bête jika harus bekerja di business hotel yang begitu-begitu saja. Sebaliknya, bekerja di sebuah resort yang banyak turis, akan menjadi hal yang sangat menyenangkan buat anda. See?

2. Visi misi anda dalam bekerja.
Kebanyakan dari kita pasti memiliki tujuan tersendiri dalam bekerja. Misalnya, prioritas dalam pendapatan, atau prioritas dalam berkarir. Kalau prioritas anda adalah uang, hotel yang seharusnya dipilih adalah yang memiliki service charge yang tinggi dan memiliki banyak tamu. Semakin banyak tamunya, biasanya peluang untuk mendapatkan banyak tip juga semakin besar (dengan catatan, pekerjaan anda yang bersifat guest contact). Jika prioritas anda adalah karir, carilah hotel yang turn overnya tinggi. Maksudnya, banyak  staff yang keluar masuk. Dengan banyaknya vacancy di hotel tersebut, berarti peluang anda mendapatkan posisi baru juga lebih terbuka, bukan?

3. Kenali management hotel.
Beberapa rekan, juga saya, kadang tergiur untuk ‘loncat’ ke hotel sebelah yang baru buka dan berbintang sama. Mulanya sih iri juga melihat teman yang sudah loncat duluan dan bertengger dengan posisi baru yang lebih ‘wah’. Namun, setelah 3 bulan berjalan, muncullah keluhan-keluhan baru seperti “ternyata managementnya tidak bagus,” atau “waaahhh berantakan lah pokoknya di sana”. Nah, meski kelihatannya terlalu general, mengenali management itu penting. Saya jauh lebih percaya dengan management internasional semacam Starwood, Shangri La, Hyatt, JW. Marriott, dan sebagainya ketimbang management lokal yang baru beberapa tahun saja berdiri. Bukan saya meremehkan management lokal, namun sebagai pekerja seharusnya kita tahu ‘apa yang terjadi dengan perusahaan’. Berkaca dari pengalaman rekan saya yang ‘menclok’ ke hotel baru di sebelah dengan management acak adut, belum setahun berdiri, nama hotel dan managementnya sudah berubah. Nah, lo? Ada juga satu hotel yang ‘turun bintang’ sejak managementnya berubah. Jumlah bintang itu, bagi saya sangat berpengaruh dengan image dan kredibilitas sebuah hotel. Kalau bintangnya turun, otomatis, pendapatan akan turun karena harga kamarnya jadi lebih murah.

4. Sesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Banyak orang sukses di perantauan. Karena dengan berada di perantauan, alam mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian. Kalau situasi dan kondisi memungkinkan, bekerja di hotel di negeri ‘seberang’ sebetulnya lebih menjanjikan. Namun, kalau situasi dan kondisi tidak memungkinkan seperti saya (saya ngiler kerja di kapal pesiar), ya cari yang bagus di sekitar sini saja.

5. Business hotel atau resort?
Itu kembali ke passion anda masing-masing. Kerja di resort lebih santai karena lebih kasual. Kerja di business hotel terkesan kaku dan terlalu resmi karena memang standartnya seperti itu. Saya jadi ingat teman saya yang anak housekeeping di hotel yang mengeluh kerja di resort karena hampir semua kamar seperti kapal pecah pas check out. Sebaliknya teman saya yang kerja sebagai concierge di business hotel mengeluh karena susah sekali mendapat tip. Saya? mengeluh karena susah cari cowok bule ganteng di business hotel. Piiiiiissss!

Buat yang masih galau juga, baca juga post enak dan gak enaknya kerja di hotel
Jadi, sudah ada pilihan mau ‘nembak’ hotel yang mana?

Thursday, 21 June 2012

Chinese Party


Kerja di hotel yang juga memiliki ballroom yang berfungsi salah satunya sebagai tempat pesta kawinan, membuat saya memperhatikan orang-orangnya. Saya perhatikan, dari 10 pesta kawinan, sebanyak 9 diantaranya adalah kawinan orang Cina. Pestanyapun selalu heboh, dengan dekoran yang meriah dan tamu yang tidak hanya ratusan tapi hingga ribuan orang.  Karena pestanya saja sudah heboh, tamu yang datang (terutama tamu perempuan) juga tidak kalah heboh dandanannya, kalau tidak berpakaian a la barat (mirip artis Hollywood yang pakai gaun-gaun backless gitu), ya pakai baju a la Cinderella dan berwarna-warni, belum lagi dengan sepatu berhak belasan centimeter, dan tatanan rambut dengan sanggul tinggi dan berbagai aksesorisnya yang berkelap kelip. Silau man! Saya sampai susah membedakan yang mana yang mempelai yang mana yang tamunya karena dandanannya sama hebohnya. Namun kebanyakan, mempelai itu standartnya pakai gaun berwarna putih, sedangkan tamunya pakai gaun ngejreng warna warni. Saya perhatikan, pilihannya kebanyakan kalau bukan merah menyala ya biru ngejreng. Halah!

Bicara mengenai dekoran yang juga heboh, kadang-kadang saya suka takjub sendiri. Harga yang ditawarkan  pihak dekor untuk membuat dekoran semeriah itu ternyata tidaklah murah. Yang paling sederhana biasanya kisaran puluhan juta rupiah, dan yang paling mahal hingga ratusan juta rupiah, tergantung jenis dekoran yang diminta dan request bunga segar jenis apa yang hendak dipakai. Kalau sedang iseng pingin berhitung, saya kadang sampai bawa kalkulator dan berhitung sendiri. Harga 1 tangkai bunga mawar segar sekitar 700 hingga seribu rupiah untuk harga supplier. Nah, jika dekorannya heboh, bisa menghabiskan hingga puluhan ribu tangkai bunga mawar, belum lagi dengan jenis bunga lainnya, dan kalau dihitung-hitung biayanya sudah mahal. Di hotel Mandarin oriental Bangkok saya pernah lihat dekoran ballroom yang seluruh dindingnya dihias bukan dengan tirai seperti umumnya tapi menggunakan bunga  anggrek warna putih. Silahkan membayangkan sendiri berapa ongkosnya. Yang bikin saya kagum lagi, orang dekor kerja seperti sulap. Baru saja kemarin sore saya lihat ballroom masih kinclong kosong, paginya saya lihat sudah heboh dekorannya. Eeeehh.. besoknya saya lihat sudah kinclong lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa malam sebelumnya. Ckckck…

*)Decor full white Orchid di hotel Mandarin Oriental Bangkok


Kredibilitas dan tingkat kekayaan seorang mempelai biasanya juga bisa dilihat dari pestanya. Umumnya seorang mempelai yang memiliki perusahaan besar, di pesta kawinannya akan terpajang papan karangan bunga beraneka rupa dari berbagai perusahaan dan bank. Semakin terkenal orangnya dan semakin besar perusahaannya, maka semakin banyak pula papan karangan bunga berisi ucapan selamat yang menghiasi lobby hotel. Kalau orangnya tajir sekali dan perusahaan yang dimiliki besar sekali, karangan bunga yang terpajang kadang-kadang sampai meluber ke jalan saking penuhnya. Padahal karangan bunga semacam itu tidak murah loh… Saya pernah iseng tanya harga ke seorang florist yang kebetulan mengantar karangan bunga ke lobby. Katanya yang paling murah sekitar 800 ribuan hingga jutaan, tergantung desain dan  (lagi-lagi) tingkat kehebohan bunga yang dipasang. Ya ampun, kalau papan bunganya aja bisa semahal itu, lantas berapa ya kira-kira angpau yang diberikan untuk mempelainya? Gaji saya setahun atau lebih mungkin ya…? Wah wah wah… dengan duit segitu sih saya sudah bisa beli mobil dong ya… *)hehehehe.. ngayal deh ya…!

Salah satu acara adat kawinan orang Cina keturunan ada yang mirip dengan acara tujuh bulanan bayi adat Jawa, yaitu menaburkan beras kuning yang di dalamnya juga ada uang koinnya, biasanya besaran 500 hingga seribu perak. Bedanya, kalau orang Jawa menabur koin dan beras kuning itu perlambang berbagi kebahagiaan dengan sesama karena uang koinnya jadi rebutan (umumnya anak-anak kecil), nah kalau di tradisi Cina, lempar uang koin itu perlambang buang sial.  Saya tahunya saat suatu hari di briefing pagi, salah seorang duty manager menyinggung staff concierge yang bukannya bertugas saat pesta berlangsung, malahan sibuk mungutin uang koin. Lah, mau kena sial mas?

Umumnya, pihak mempelai selalu menyiapkan souvenir untuk para tamu undangan yang telah datang. Biasanya berupa cangkir cantik bertuliskan nama mempelai, kipas unik, parcel mini, hingga handuk cantik. Namun, saya pernah menjumpai souvenir paling aneh yang membuat saya sampai tergelak. Bukan pesta kawinan sih, tapi kali ini pesta ulang tahun ke 80 seorang kakek keturunan Cina. Katanya nih, dalam tradisi orang Cina keturunan, umur 80 tahun itu harus dirayakan sebagai ungkapan syukur panjang umur. Biasanya souvenir yang dibagikan juga wajar dan standar, namun souvenir kali ini boleh dibilang aneh, yaitu berupa satu paket berisi obat-obatan, vitamin dan anti biotik. Halah, lansia sekali ya?

Salah satu pesta Chinese aneh yang pernah saya jumpai lagi adalah pesta ulang tahun seorang anak berumur 2 tahun. Bukan orangnya yang aneh,  namun susunan menunya. Jadi di BEOnya (Banquet Event Order) saya lihat untuk anak-anak disediakan kid’s buffet, ada juga adult buffet dengan tambahan booth untuk bar yang menyediakan draught beer dan aneka alcoholic drink yang menyediakan berbagai macam cocktail on request dan wine aneka rupa. Nah lo? Ini bapaknya atau anaknya sih yang mau pesta?

Wednesday, 20 June 2012

I love Front Desk!


Kalau ada yang iseng nanya, kenapa dari sekian banyaknya section yang ada di hotel saya lebih milih front office atau FO, saya punya alasan personal yang cukup masuk akal. Pertama, sewaktu kuliah, mata kuliah yang paling saya kuasai itu yang menyangkut front desk. Saya bela-belain kursus bahasa Inggris dan bayar mahal guru bule supaya bahasa Inggris saya lancar ya, untuk bisa kerja di front desk. Jadi, apa yang saya kira paling saya kuasai, itu yang saya tekuni. Mengenai penguasaan terhadap mata kuliah ini, jamannya saya kuliah saya paling males dengan housekeeping. Sebenarnya menarik juga belajar mengenai bidang ini secara teoritis, saya jadi tahu mengenai chemical-chemical yang digunakan untuk membersihkan property seperti berbagai macam lantai dan mulai belajar mengenai bahan-bahan atau material dasar linen serta cara merawatnya dengan benar. Kalau dipikir-pikir, keren juga sih. Tapi pas praktek housekeeping, dngan rese’nya dosen menyuruh kami – mahasiswanya yang polos dan lugu- untuk ngepel lantai dan membersihkan toilet kampus yang ampun deh joroknya. Huek! Saya langsung ilfil dan mulai berfikir bahwa ternyata pelajaran housekeeping itu asyik pas teori tapi bikin ilfil pas praktek. Saya jadi ingat saat ujian akhir dan ujiannya praktek housekeeping, saya kebagian tugas making bed (menata tempat tidur) dan brushing lantai menggunakan brushing machine. Making bed ditarget 5 menit dan saya molor 2 menit, sedangkan pas brushing menggunakan mesin, saya sukses nabrak dinding kelas hingga itu dinding jadi gak cantik lagi karena bocel-bocel. Duh! Untungnya nilai ujian tulis saya bagus sehingga lumayan bisa mengatrol nilai ujian prakteknya.

Alasan kedua adalah karena saya cinta kebersihan. Kerja di front desk itu artinya dituntut untuk selalu berpenampilan bersih dan rapi, alasannya karena kesan pertama tamu adalah dari front desknya. Jika kesan pertama sudah bagus, maka selanjutnya terserah anda. Halah, iklan banget!

Alasan ketiga, section besar yang belum saya sebutkan sebelumnya juga sama sekali tidak membuat saya tertarik. Yap, yang saya maksud adalah kitchen section atau apalah yang berhubungan dengan masak memasak. Sejak kecil, saya tidak pernah melihat ada tanda-tanda ada bakat memasak dalam diri saya. Pas saya kuliah, saya juga tidak suka harus berjibaku dengan kompor dan wajan di dapur kampus untuk praktek food product. Selain tidak ada bakat, saya juga malas sekali harus berpanas-panasan dan berkotor-kotoran dengan bahan makanan terutama yang mengandung minyak. Saya jadi ingat, setiap kali pulang praktek memasak, yang saya selalu lakukan adalah mandi keramas dan mencuci baju dan semua kelengkapannya seperti celemek dan topi karena sekujur tubuh saya berminyak dan bau rempah-rempah.

Sebenarnya, food product itu dibagai dalam dua golongan besar, yaitu food product sendiri (yang memproduksi berbagai macam makanan) dan pastry (memproduksi berbagai macam roti, kue dan sejenisnya). Meskipun lebih menyenangkan, pelajaran pastry ini juga tidak membuat saya berminat karena lagi lagi alasan bakat. Jangankan membuat tiramisu, membuat kue ‘gagal’ seperti brownies saja saya tidak becus. Problemnya kurang lebih sama, hasil kue buatan saya bantat.

Saya jadi teringat dua tahun lalu, saya berniat merayakan ulang tahun saya sekaligus merayakan natal bareng keluarga pacar karena kebetulan hari ulang tahun saya berdekatan dengan perayaan natal. Saya membantu calon ibu mertua membuat sponge cake dalam jumlah lumayan banyak, sekitar 10 pan yang rencananya akan dibagikan kepada tetangga dan kerabat, dan sebagian lagi dibawa ke gereja. Percobaan pertama sih sukses, pan cake buatan saya dan camer hasilnya mengembang bagus. Percobaan kedua, pas ketika camer sedang mengaduk adonan, seorang teman gereja menelpon dan meminta beliau ikut latihan karawitan untuk perayaan natal di gereja saat itu. Beliau langsung cabut dan menyerahkan semua pekerjaan itu kepada saya. Inilah ujian terberat, karena kredibilitas saya sebagai mahasiswa perhotelan diuji saat itu. Bagaimana tidak, camer saya tahunya saya diajari pastry di kampus dan pastinya bisa mengerjakan PR ini sendiri. Yang beliau tidak tahu, bakat adalah hal terpenting yang menurut saya harus ada, dan celakanya itu tidak dianugerahkan kepada saya. Singkatnya, seperti biasa hasil karya saya kempes dan bantat, dan saya malu luar biasa kepada beliau karena hal ini. Sebagai gantinya, akhirnya kami beli yang sudah jadi di toko roti. Hiks, memalukan sekali!
                                                                                                                 
Buat anda yang juga kerja di hotel, section apa yang paling anda sukai?

Tuesday, 3 April 2012

Jalan-Jalan Borju a la Staff Hotel


Sejak jadi fans berat Trinity traveler di blog terkenalnya the naked traveler, sama seperti kebanyakan pembaca pada umumnya, saya jadi terbius kepingin jalan-jalan. Sebagai orang Indonesia yang (ngakunya) bangga dengan negara tercinta, sering sekali terbesit mimpi untuk berkhianat jalan-jalan ke luar negara. Pelesiran di negeri sendiri, seringkali dianggap hal yang biasa sedangkan kalau bisa ‘menengok’ tetangga dekat (apalagi yang jauh) akan terdengar keren dan ‘wah’. Sejujurnya secara naïf sayapun berfikiran sama, meskipun juga sependapat dengan mbak Trinity bahwa jalan-jalan itu gak harus ke luar negeri, karena toh kita punya kekayaan alam yang lebih melimpah dan bagus dibanding ‘tetangga’.

Sebagai staff hotel ‘biasa’, tak mungkinlah saya punya budget yang cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri, ala gembel sekalipun. Kalaupun bisa jalan palingan mentok ke negara tetangga saja. Tapi percaya atau tidak, bekerja sebagai staff hotel itu artinya berpeluang besar jalan-jalan ke luar negeri yang gaya jalannya lux tapi gak bikin dompet bolong. Caranya?

1.       Berprestasi di tempat kerja
Ini sudah jelas. kalau hotel tempat anda bekerja adalah brand Internasional yang memiliki property yang tersebar di seluruh dunia, besar kemungkinan staff yang berprestasi akan dikirim training ke property satu ke property lain di luar negeri. Cara ini memang paling nikmat, udah transport, makan, dan akomodasi (menginapnya biasanya di hotel tempat training) ditanggung perusahaan, pulang-pulang bawa sertifikat bergengsi (yang pastinya laku jika dipakai apply ke property lain), dan kenaikan level jelas-jelas di depan mata. Meski nikmat, syaratnya pasti berat. Kalau anda staff yang biasa-biasa saja seperti saya, lupakan saja cara ini.

2.       Kerja di kapal pesiar
Yang ini lebih jelas lagi dan relative lebih ‘mudah’ dicapai. Kerja di kapal pesiar itu hampir sama dengan bekerja di hotel yang ada di darat, bedanya kerja di kapal kan hotelnya ‘bergerak’. Apalagi kalau rute perjalanannya panjang, seperti keliling benua Eropa atau Amerika. Pengalaman pribadi teman saya yang bekerja di kapal, mereka jadi hotelier di kapal juga karena keinginan awalnya ingin menjelajahi dunia. Mulanya sih hepi, tapi lama-lama mereka bosan sendiri di luar negeri dan mulai kangen negeri sendiri. Enaknya, hotelier kapal pesiar itu visanya multiple country, jadi bisa masuk dengan leluasa sekaligus di banyak negara. Lagipula, dengar-dengar tip di kapal pesiar jauh lebih gede dan gajipun dalam dollar atau euro. Kalau dihitung-hitung, rata-rata pendapatan seorang staff kapal pesiar sebesar 10 kali lipat pendapatan hotelier biasa di darat dengan level yang sama. Wiiihhh…!!! Gak enaknya, mereka sekali berlayar tujuh hingga delapan bulan baru bisa pulang. Tiap hari yang dilihat itu-itu saja, gak bisa jalan kelayapan di luar. Sekalinya ketemu daratan, tidak sempat berkeliling karena waktu yang pendek, tuntutan pekerjaan yang harus diselesaikan, gak keburu karena kapal harus melanjutkan perjalanan.

3.       Independent traveler
Kalau kedua cara di atas dirasa tidak mungkin, cara yang paling memungkinkan adalah jadi independent traveler. Sebagai staff hotel, biasanya hotel memberlakukan staff’s rate. Harga yang ditawarkan untuk staff ini biasanya paling mahal sebesar 50% dari harga publish. Syaratnya, hotel anda haruslah yang punya jaringan di luar negeri. Semakin besar maka semakin bagus karena pilihannya jadi lebih bervariasi.

Selain harga staff, sebagai orang hotel juga diuntungkan dalam pembuatan visa, terutama di negara-negara  yang pelit ngasih visa macam negara di Eropa, Australia atau Amerika. Misalnya begini, anda bekerja di hotel A yang punya jaringan di Jerman. Jika suatu hari anda ingin jalan-jalan ke Jerman, anda cukup booking hotel menggunakan staff rate yang biasanya  diuruskan oleh HRD. Maka, hotel yang anda booking di Jerman itu yang akan menjadi penjamin anda di aplikasi visa anda karena itungannya masih satu perusahaan. Meski tidak ada jaminan 100% dapat visa dengan cara ini, namun kebonafitan perusahaan kan bisa jadi jaminan. Semakin bonafit nama hotelnya, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan visanya. Saya sih belum pernah menerapkan cara ini, tapi teman saya sudah pernah coba, dan berhasil tuh.

Masalah hotel dan visa beres, berikutnya tiket pesawat. Masalah tiket pesawat, sekarang kan sudah ada budjet airline yang harganya sangat miring. Triknya, harus sering-sering cek di website kapan ada promonya. Semakin jauh harinya, biasanya semakin murah harganya.

Lalu ongkos lain lain diluar visa, tiket pesawat dan hotel seperti uang jajan itu sih bisa di’adjust’ sesuai isi tabungan. Kalau punya banyak uang silahkan jalan dan jajan sesuka hati, kalau tabungan sudah tipis ya harus pintar putar otak mendahulukan mana-mana post pengeluaran yang penting dan mana yang tidak. Namanya juga independent traveler, masalah keuangan tetaplah menjadi topic paling krusial. Kalau mau jalan pakai cara ini, syaratnya utamanya harus rajin menabung dan punya uang cukup untuk jalan.

Kalau cara 1-3 masih terasa mustahil, berhentilah bermimpi jalan-jalan keluar negeri a la borju tanpa harus bolongin dompet, sebaliknya tengoklah cara lain jalan-jalan seperti mbak Trinity yang ala backpacker. Kalau cara backpacker juga dirasa masih mustahil, cara terakhir adalah googling saja banyak-banyak, puas-puasin lihat gambar-gambar yang ada di google sambil ngeces baca pengalaman orang yang lebih dulu jalan-jalan kesana. Baca aja terus sampai ngantuk, ntar juga ketiduran dan kalau beruntung anda bisa jalan jalan kesana dalam mimpi.
The last one sounds the easiest, ya? 

Monday, 2 April 2012

Inspeksi Malu-maluin


Di hotel tempat saya bekerja, banyak peraturan ketat yang kadang bikin jiper. Kalau masalah kedisiplinan seperti telat masuk kerja sih buat kami buatlah big issue. Semua orang sudah terbiasa disiplin waktu. Rata-rata sudah siap minimal 15 menit sebelum jam kerja untuk hand over shift berikutnya atau hanya sekedar baca log book, supaya informasi selalu up date sebelum bertugas. Kalaupun sesekali terlambat, itu sih sudah ‘termaafkan’ karena sehari-harinya kan sudah disiplin dan terlihat loyalitasnya.

Yang bikin sebel justru ketatnya pengamanan dari security (rasanya yang rese-rese kok ya selalu di security ya?). kalau ketatnya karena kewaspadaan terhadap aksi terorisme sih wajar. Lah ini, security-security yang ada disini seperti disetting otomatis menjadi manusia-manusia anti maling yang alay dan lebay. Kasus-kasus yang sepertinya biasa selalu dibesar-besarkan, dibikin heboh dan membuat orang lain geregetan. Contohnya, peraturan hotel mengatakan bahwa semua staff dilarang membawa pulang property milik hotel. Oke lah, kedengerannya masuk akal. Tapi kenyataan di dilapangan? Barang kecil yang remehpun dipermasalahkan. Contohnya, seorang staff dapat SP (surat peringatan) hanya gara-gara lupa meninggalkan bolpoin hotel di loker. Nah lo? SP nih beneran! Ckckckck… Kaya abis nyolong apaan aja! Lah kan cuma bolpoin hotel murahan gitu aja, punya selusin diobral juga belum tentu ada yang mau. Padahal kalaupun bolpoin tidak sengaja terbawa kan, cukup disita habis perkara. Atau, si staff diminta balik ke lokernya dan menyimpan bolpennya di sana. Kan beres! Dilemanya, pakai bolpoin merek lain juga tidak diperbolehkan, karena aturannya staff harus ‘on brand’ pada saat bertugas. Jadilah, setiap kali mau pulang saya jadi parno sendiri, melototin diri sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengobrak abrik isi tas, apa masih ada barang hotel yang nyangkut. Yah, dari pada kena SP dengan pasal pencurian bolpen (kedengerannya tidak lebih keren dari pada nyolong sandal di masjid ya? Ckckck…)

Sepertinya karma itu masih berlaku. Security yang rese’pun kena tulah gara-gara ulah seorang oknum (entah mengapa saya tiba-tiba jadi jengah kala memakai kata ‘oknum’). Ceritanya, hari itu ada inspeksi dari HRD. Karena bulan itu ada auditor, jadilah semua yang berbau inspeksi artinya menghadirkan auditor dari perusahaan pusat. Auditornya sendiri seorang ibu bule berkebangsaan perancis, tapi konon beliau bekerja di kantor pusat regional Asia Pasifik. Pihak manajemen hotel sih sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti semua staff supaya berhati-hati karena ibu auditor ini orangnya perfeksionis sekali. Konon, laporan dari auditor ini akan dilaporkan ke regional Asia Pasifik yang kemudian diteruskan ke pusat yang berada di Amerika. Kalau nilai audit hotel jelek, otomatis orang dari pusat akan semakin rajin datang dan inspek, disamping rangking hotel juga turun. Selain itu, orang dari pusat akan mentraining seluruh staff selama setahun supaya sesuai brand standart, yang artinya audit itu dilakukan setiap hari. Duh, malesnya!

Auditpun dilakukan di semua departemen dan section, meliputi standart umum Food and beverage serving, sanitasi n hygiene, check in and check out proses, guest’s courtesy call, sampai dengan safety and security. Masalah pengamanan sih okelah, secara security hotel sudah disetting anti maling (kalau anti terror saya ogah komen dah). Karena semua section sudah clear, auditpun mulai ngulik section human resources. Selain memeriksa data karyawan, auditor ternyata juga ngublek-ngublek loker karyawan. Standartnya sih, karyawan tidak diperkenankan menyimpan uniform atau property milik hotel yang bukan haknya di loker. Dan dari sinilah tragedy itu dimulai….

Dalam inspeksinya, auditor ditemani HRD dan chief Security yang dari awal udah pede ngebangga-banggain staffnya mulu. Yah, sebenarnya wajar sih, atasan kan harus bangga sama bawahannya. Tapi ya gak segitu pedenya kali… Emangnya security doang yang kerja? (iya, saya akui saya sirik banget!). Well, loker pertama yang diinspek adalah loker cewek. Di loker pertama yang digeledah, tidak menemukan barang yang berarti. Loker kedua, ketiga, keempat. Nihil. Loker kelima, ditemukan piring plastic, sendok dan garpu plastic. Kami semua menyimpulkan pemilik loker doyan makan-makan di loker. Padahal membawa makanan di loker juga larangan. Auditorpun mencatat sesuatu di bukunya. Loker berikutnya, mereka menemukan celana dalam dan bra (saya juga heran bisa-bisanya ada yang nyimpan pakaian dalam di loker). Auditor menahan tawa, orang HRD geleng-geleng kepala, dan chief security ngomel-ngomel. Loker berikutnya lebih ajaib lagi isinya. Setumpuk CD film bokep! Kali ini auditor melongo, HRD menutup muka, sedang pak chief security sok pasang aksi teriak-teriak, “lokernya siapa nih? Lokernya siapa? Periksa bu, periksa!” Pak Chief segitu hebohnya ingin tahu pemilik loker itu. And you know guys, pemiliknya adalah si xxx, satu-satunya security cewek di hotel kami. Pak chief langsung mingkem, while ibu auditor dan HRD saling pandang. Nah lo, security still the best kah pak?

I know you all mesti bertanya-tanya heran, kok saya tahu kejadian ini? Lah iya, secara saat inspek kan saya ada di TKP lagi break time!


Friday, 30 March 2012

Hiiiii Sereeemmmm...!!!


Seperti kebanyakan orang yang percaya adanya hal-hal mistis diluar jangkauan otak, saya juga percaya. Kalau di film-film banyak yang berkisah mengenai hantu di gedung tua, di hotel tempat saya kerjapun (meski tidak bisa dibilang gedungnya sudah tua) hal-hal mistis itu sepertinya memang betulan ada.

Akhir-akhir ini beredar rumor gak enak dari beberapa rekan mengenai hantu di hotel. Perbincangan seputar hantu berwujud perempuan berambut panjang ini tak hanya terjadi di tempat kerja, tapi juga di kantin, dan semakin santer ketika kasak kusuk di locker dengan segerombolan teman yang juga doyan ngerumpi.  Cerita datang dari salah seorang staff reservasi. Suatu hari yang biasa-biasa saja, dia terpaksa harus lembur di kantor sendirian. Jam baru menunjukkan pukul 8, tapi suasana kantor reservasi yang nyambung ke area accounting sudah sepi. Maklum, karena office hour kan hanya sampai jam 6, yang otomatis semua penghuninya bakalan kabur kalau sudah lewat jam itu. Teman saya ini lagi enak-enaknya ngeprint reservasi, ketika ada suara-suara di belakang pintu di sebelah toilet. Celingak celinguk, tidak ada orang sama sekali. Tapi ketika kembali ke mejanya, dia lihat sudah ada seseorang yang duduk di situ, penampakan seorang wanita berambut panjang terurai yang dia asumsikan si kunti. Hiiiiiii… teman saya itu sontak menjerit dan berlari ketakutan. Seketika sekuriti datang dan melihat keadaan. Mbak kunti tadi sudah tidak ada di tempatnya.

Sialnya, seminggu setelahnya saya ketiban masalah menghandle tamu yang ngakunya udah reservasi tapi di system belum ada. Mana kondisi hotel sedang fully booked, alias tak ada kamar lagi yang tersedia. Duty manager yang kebetulan membantu saya menangani tamu ini menenangkan, mungkin berkas yang di fax ke reservasi sudah masuk tapi belum reserved. Jadilah setengah memaksa, duty manager meminta saya naik ke lantai dua untuk nyari itu fax. What?! Ke ruang reservasi sendirian tengah malam gini??! Saya yang sudah parno duluan mau tidak mau menggeret seorang teman receptionist yang juga penakut untuk menemani saya naik. Sampai di atas, suasana benar-benar gelap karena lampu sudah dimatikan. 11 malam ini bo! Grudak gruduk kami berdua bergerak secepat kilat mencari-cari mesin fax. Dan aha! Ketemu! Kami berdua bergegas cabut melewati tangga darurat karena ke lobby paling cepat ya lewat situ. Sialnya, di tangga darurat lampunya mati. Tapi meski gelap, kami berdua pantang mundur balik ke jalan yang seharusnya karena harus turun pakai elevator yang lemot, secara kami sudah ditungguin tamu di lobby. Ketika akan membuka pintu tangga untuk keluar, pintu terdorong sendiri ke arah saya dan sesuatu menabrak saya. Saya yang parno langsung saja jejeritan hingga teman saya menenangkan, ’Biasa aja kali mbak, ini kan cuma housekeeping.’ Ugh! Siapa suruh bikin kaget!

Minggu pertama incharge sebagai guest relation officer (GRO), saya digembleng habis-habisan untuk jadi pemberani. Alasannya, karena GRO satu-satunya staff hotel yang paling leluasa berkeliaran kemana-mana, ya ke kamar tamu, ya ke public area, ya stand by di lobby, kalau perlu malahan sampai ke laundry dan housekeeping segala hanya untuk ngambil barang tamu yang ketinggalan. Kalau keliling-kelilingnya pagi atau siang sih, no problem. Lah kalau malam? Saya suka merinding disko sendiri saat harus inspeksi kamar (apalagi) malam-malam.  Hotel tempat saya bekerja ini memiliki 28 lantai. Dan secara sistematis, kamar di lantai bawah adalah jenis kamar-kamar level standart dan semakin ke atas jenis kamar semakin luas dan semakin mahal, semacam type-type suite room, sehingga lantai bawah lebih padat penghuninya dan semakin ke atas semakin jarang karena jumlah kamarnyapun jauh lebih sedikit. Nah, logikanya kan, kamar-kamar suite yang luas dan mahal itu lebih jarang laku daripada yang standart. Sehingga lantai atas yang sudah sepi itu jarang dihuni.

Malam itu, ada seorang pejabat teras yang mau check in. Karena levelnya pejabat, biasanya yang disewa adalah jenis royal suite di lantai 27 yang kamarnya nyambung dengan kamar di sebelahnya yang biasanya ikut juga disewa untuk ajudan-ajudannya. Karena pejabat ini termasuk tamu VVIP, jadilah kamarnya harus benar-benar perfect. Sebenarnya ada butler yang akan incharge di sana, namun karena ini tamu VVIP, GRO pun harus ikut turun tangan untuk menginspeksi kelengkapan dan kondisi kamar.  Jadilah saya harus ke sana malam- malam sendirian untuk inspeksi. Karena takut, saya menggeret seorang mas mas housekeeping yang memang hendak ke kamar itu untuk turn down service. Karena ada teman, saya jadi lebih pede dan berani. Semua sudut ruangan, livingroom, bedroom, Kitchen sampai Jacuzzi area sudah saya puterin. Tinggal masuk ke ruang ajudan. Karena di kamar utama baik baik saja, sayapun pede masuk sendirian. Lagian toh ruangan ini nyambung, pikir saya. kalau ada apa-apa pun, masih ada mas-mas housekeeping di sebelah yang siap membantu.

Saya lagi enak-enaknya mengecek sudut ruangan di toilet ketika saya merasa seperti ada sesuatu yang lewat di belakang saya. Saya kira mas –mas housekeeping. Saya lalu mengetes dan berteriak, “sudah belum mas…??!”. Mas –mas housekeeping menyahut sih, tapi suaranya jauuuhh… di ujung ruangan satunya. Berarti, memang mas housekeeping masih di ruangan sebelah. Lah yang barusan? Saya mulai merinding. Dengan cepat saya bergegas kembali ke royal suite, ketika langkah saya tertahan di pintu bathroom. Saya melihat sesosok entah apa, berwarna putih dan tinggi, berdiri tepat di bedside pojokan kamar tidur. Lutut saya langsung lemas, mau teriakpun rasanya hanya tercekat di tenggorokan.  Dua detik rasanya seperti lima jam. Entah mukjizat darimana, tiba-tiba mas-mas housekeeping muncul dan mencolek saya. Saya langsung tersadar dan sosok itu sudah tidak berada di tempatnya. Sayapun bercerita kepada mas-mas housekeeping tentang apa yang barusan terjadi. Mas-mas housekeeping yang sudah 7 tahun bekerja di hotel ini lalu bercerita, “dia mau kenalan sama mbak, kan mbak baru di sini. Dia memang suka begitu. Tapi setelahnya dia gak akan pernah mucul lagi, kok.” Saya menyedengkan telinga. Hah? Kenalan? Yang bener saja. Masa iya mahluk begituan ngajak kenalan? Hiiiii….

Hari-hari selanjutnya saya membekali diri dengan ayat kursi dan macam-macam doa yang diajarkan teman-teman di kosan untuk ‘mengusir’ mahluk tak berwujud itu. Entah mas-mas housekeeping itu yang benar, atau karena doa-doa yang selalu saya ucapkan kala harus ke lantai atas, saya tidak pernah lagi ketemu dengan mahluk putih itu.

Yang aneh, saat saya menulis ini, entah mengapa saya jadi merinding sendiri.


  

Thursday, 29 March 2012

Nikmatnya Training



Asyiknya kerja di hotel, kerjanya tidak hanya datang -- kerja delapan hingga belasan jam dan pulang, tapi juga di sela-selanya banyak sekali mendapatkan pelatihan untuk men’standart’kan kualitas layanan, syukur-syukur kalau layanan yang diberikan itu melebihi standart. Lingkungan hotel sangat dinamis karena dipengaruhi tren yang sedang berlaku, dan untuk itulah management hotel yang bagus akan selalu menggembleng para associatenya supaya tidak ketinggalan informasi dan bisa menyesuaikan diri dengan selera pasar (baca: tamu). Pelatihan (atau yang lazim disebut training) ini jenisnya beragam, seperti training dasar (pengenalan property sendiri yang meliputi sejarah hingga fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya), cultural training yang meliputi kursus tambahan bahasa asing dan kegiatan seni, hygiene training yang berkaitan dengan pengetahuan kebersihan dan kesehatan, training mengenai safety and security seperti simulasi kebakaran gedung sampai ke proses evakuasinya, first aid training, standart service training, dan lain lain. Pokoknya buanyak!

Saya selalu antusias mengikuti training, apalagi yang  ada embel-embel promosinya. Di hotel tempat saya bekerja ini memperbolehkan cross training, artinya staff dari department housekeeping misalnya, training ke bagian lain, semisal di bagian Food and Beverage service (waiter atau waitress gitu..). Staff yang mengikuti cross training ini nantinya akan mendapatkan sertifikat berikut ‘nilai’nya. Jika suatu hari ada vacancy di suatu departemen, sertifikat cross training ini akan sangat membantu ‘memperindah’ CV di internal application form dan pastinya akan sangat diperhitungkan dalam pertimbangan perekrutannya. Jadi untuk bisa ‘naik level’, sebenarnya tidak susah kan?

Mengikuti training resmi di hotel, bagi saya lebih menyenangkan karena penyampaian training selalu dibuat menarik dan tidak membosankan. Asyiknya lagi, ada coffee break yang selalu ada sajian berupa cemilan kue-kue cokelat dan spring roll, serta kopi dan teh unlimited selama break time. Pokoknya selama mengikuti training, perut dijamin akan mendapatkan jatah yang layak, karena tidak mungkin bisa berkonsentrasi menyerap materi training kan, kalau perut keroncongan. Piiiisss!

Training paling berkesan adalah saat saya mengikuti training bertajuk ABCD (maaf, nama sengaja disamarkan). Training ini berisi beberapa modul dan membahas property dan segala isinya, serta pengenalan pengendalian emosi, ya.. mirip kursus kepribadian begitu lah. asyiknya, training ini panjang banget, diadakan setiap seminggu sekali, dan setiap kalinya selama 8 jam (sudah termasuk lunch time dan coffee break loh!). Selain pengetahuan jadi bertambah, setidaknya dalam delapan jam itu saya benar-benar relax karena penyampaian materi yang catchable. Enaknya lagi, training ini dihitung sebagai jam kerja efektif sehingga tidak perlu mengurangi hari libur mingguan saya. Asyik, kan?

Selain belajar mengenai brand, trainer mengajak kami untuk mengikuti kuisioner, mengenali karakter diri sendiri dan mulai belajar memahami karakter orang lain, serta implementasinya kepada layanan yang diberikan kepada tamu sehari-harinya. Supaya pemahaman kami lebih jelas, kami diminta untuk survey langsung ke departemen store di mal tetangga. Beberapa orang sih serius banget yah do research mengenai kualitas layanan (yang saat itu membandingkan pelayanan Matahari, Sogo, dan Ace Hardware). Beberapa lagi bukannya serius mengamati orang, malahan sibuk sendiri memelototi price tag yang ada label diskonnya. Oalah!

Enaknya lagi menurut saya, kalau jadi staff yang berprestasi, malahan bisa mendapatkan training yang lebih serius lagi dengan embel-embel kenaikan level. Yang membuat orang lain (dan juga saya tentunya) ngiler adalah, trainingnya tidak hanya di sekitar hotel saja, tapi sampai ke luar negeri. Mulai dari yang ‘hanya’ level ASEAN, Asia, hingga Eropa bahkan Amerika! Beberapa manager baru yang bekerja di hotel tempat saya bekerja adalah jebolan dari  hotel tetangga yang rata-rata pernah dikirim ke Shanghai selama tiga bulan untuk training. Bukan orang biasa dong ya? Wiiihh… saya cuma bisa ngeces mendengar mereka cerita. Hotel sebelahnya lagi, mengirim staffnya sampai jauh ke Jerman selama berbulan bulan hanya untuk mendapatkan sertifikasi (sayangnya informasi yang saya dapatkan kurang jelas sertifikasi apaan). Sudah akomodasi, meals dan transport ditanggung, dapat uang saku pulak! Sudah gitu, gaji dari hotel tetap dapat. Wiiiiihh… lalu kapan ya, giliran saya? *mimpi dulu.

Kalau training-training kebanyakan serius, ada satu lai training yang sebenarnya serius tapi bikin saya ngakak sampai sakit perut. Ceritanya, training kali ini mengenai internet. Bukan, kami tidak diajari caranya googling, kok. Hehehehe… Intinya, training yang diconduct oleh orang IT yang namanya pak Andy ini jadi heboh karena trainernya yang kacau. Saya dan kebanyakan staff lain jarang sekali ketemu dengan pak Andy, atau bekerja secara langsung dengannya, karena IT departemen kan nyempil sendiri kantornya. Makanya sekalinya ketemu langsung dan di training, jadilah kami pasang dua ekspresi. Kalau bukan geleng-geleng kepala saking gak mudengnya, ya ketawa aja saking gak nyambungnya. Mulanya training berjalan normal, tapi tiba-tiba jadi aneh karena trainer menjelaskan materinya lompat-lompat. Belum juga selesai membahas halaman 3 sudah lari ke halaman 6, dari halaman 6 eh… balik legi ke halaman 2! Sudah gitu si trainer dikit-dikit menjelaskan semacam chart dengan gambar panel-panel listrik di tiap tap lantai, lalu dengan pedenya mengatakan, “Otak saya semuanya ada di sini! Hahaha!”. Seorang staff yang mengajukan pertanyaan pun, tanyanya kemana.. dijawabnya kemana. Pokoknya gak nyambung. Karena gak tahan, salah seorang rekan menyelutuk, “ Lah pantes gak nyambung, orang otaknya ada di monitor semua kok!”. Dan tawapun kontan membahana.

*)Sebetulnya saya pribadi mengakui pak Andi ini seorang staff IT yang hebat. Terlihat dari bahan presentasinya dan kemampuannya memaksimalkan jaringan internet hingga kecepatannya mencapai 5Mbps, sehingga di hotel kami masalah lemotnya internet tidak pernah menjadi big issue. Sayangnya, pak Andy ‘gak konsen’ menyampaikan materi karena otaknya lagi dipinjemin ke monitor! Hahahaha!   

Jadi, apapun trainingnya, sebenarnya ikut training itu asyik, kan? Training yuk!

Thursday, 22 March 2012

Cinlok a la Hotel Staff


Namanya juga kerja di hotel yang harus bertemu dengan banyak orang, terutama pria, baik itu tamu hotel itu sendiri, sesama associate, sampai event organizer yang sedang ada acara di ballroom hotel, kemungkinan cinta lokasi atau ditaksir orang ‘serumah’ itu selalu ada.

Pria pertama yang sial karena harus naksir saya adalah rekan satu department di concierge. Teman saya ini driver hotel yang ditugaskan mangkal di airport untuk menjemput tamu dari airport ke hotel. Karena jam terbangnya banyakan di luar hotel, dia dibekali dengan handphone hotel yang pulsanya ‘unlimited’ untuk tracking posisi selain alasan keamanan. Sebelnya, dia seringnya menyalahgunakan itu pulsa gratisan buat nelpon saya. Dia dengan rajinnya memperhatikan schedule saya dan menelepon saya pas saya lagi off duty. Duh, bener-bener kurang kerjaan! Padahal seringnya telepon dari dia ngomongin hal yang gak penting, semacam, ‘lagi ngapain?’ atau ‘udah makan belum?’. Duh, basi! Suatu hari saya sebel banget sama dia karena dia telepon saya malam-malam padahal schedule saya jumping (dari shift sore dan besoknya harus shift pagi), saya sms ke nomor pribadinya bilang kalau saya gak mau diganggu karena harus istirahat, eh ternyata dibales sama istrinya. Kebetulan! Saya langsung ‘ngadu’ dan sejak itu saya tak pernah diganggu lagi. Ketahuan nih yeeee….!

Pria kedua yang juga sial adalah seorang cowok berondong (iya, saya jauh lebih tuwir dari dia) yang kerja di bagian steward di kantin karyawan. Mulanya saya gak nyadar kalau ini cowok lagi pedekate sama saya. Sampai seorang teman nyelutuk, ‘ini orang kalau kamu lagi makan di kantin kok mesti duduknya deket-deket kamu ya?’ Wew! Ngapain juga nih brondong, pikir saya. Si brondong lalu cengar cengir, basa basi nanyain rekan satu team saya hari ini masuk ato enggak, lalu dia utak atik hapenya minta nomor telepon rekan saya. Saya lalu tanya buat apaan, yang dia jawab dengan ‘mau beli pulsa mbak’. Oh, Ok. Sayapun ngasih karena rekan saya memang nyambi jualan pulsa. Eh, si berondong nyelutuk, ‘kalau nomor hapenya mbak, berapa, ya?’. Entah dapat bisikan darimana, sayapun nyeplos menyebut 031 456 XXX (yang notabene nomor telepon hotel!). Si berondong cengar cengir puas, lalu iseng-iseng telepon itu nomor, ngecek apa nomor yang saya kasih tadi nyambung ato enggak. Ya jelaslah nyambung! Sayapun buru-buru kabur sebelum si brondong menyadari kalau saya nipu dia. Dua hari berselang, saya ketemu dia lagi tapi kali ini mukanya bête banget kaya abis ngeden dua hari. Belum sempat saya tanya, dia complain duluan, ‘mbak ini sombong amat ya? Di sms kok gak pernah bales?’ Wakakakak… saya membatin, justru kalau saya bisa bales itu malahan aneh, lah sejak kapan nomor telepon kantor (nomor hunting lagi!) bisa balesin sms? Sayapun beralasan kalau saya gak ada pulsa, saya minta dia untuk telepon saja dan tidak usah sms. Dia bilang OK, dan saya buru-buru kabur dari TKP. Bukannya saya jahat, saya hanya mau dia tahu kalau nomor yang saya kasih itu nomor hotel (lagian naïf banget yak, sampe nomor telepon tempat kerjanya aja dia gak tahu). Rencanannya, kalau dia sudah tahu saya bakalan bilang gini ke dia, ‘ lah iya kalau mau cari saya bisa hubungi nomor itu, biar langsung disambungkan ke saya’. But he still kept on complaining, and I kept on playing. Hingga suatu hari saya diantar pacar ke tempat kerja di saat dia juga sedang berada di parkiran. Dari pertama noleh, dia gak noleh noleh lagi dan dari air mukanya itu looo.. desperate banget! Diam-diam saya jadi kasian dan berniat meminta maaf, tapi sejak saat itu saya gak pernah lihat dia duduk di dekat meja saya di kantin pas jam makan siang. Dan meski dia masih bekerja di sana, kalau ketemu saya juga dia udah gak nyapa. Ya sutralah!

Satu bulan pertama bekerja di hotel ini, saya dikenalin rekan kerja dengan seorang chef spesialis masakan India yang juga seorang India otentik. Mulanya saya polos ngasih dia nomor telepon saya karena saya pikir, ini chef down to earth banget ya mau berteman dengan associate level underdog macam saya. Saya juga gak suudzon saat dia sering-sering telepon memuji saya, katanya dia nyambung ngomong sama saya, dan bahasa inggris saya bagus. Bencana baru keliatan saat dia kirim sms. Secara separah-parahnya orang India kalau ngomong Inggris sih saya masih bisa ngerti. Lah kalau ditulis? Kacau! Saya sampe pantengin itu sms lama-lama buat tebak-tebak buah manggis kira-kira dia mau ngomong apaan. Udah grammarnya ancur, nulisnya juga ngawur. Belum lagi di bagian akhir dia selalu nulis ‘c u buy’. See you Bye, kali…!

Bencana berikutnya adalah dia ngajakin saya nonton! Wew, saya dengan halus tentu menolak. Secara ketemu dia sekelebatan saja saya sudah nyesek tahan napas. Bukannya kenapa-kenapa, baunya itu looohh…! Apalagi membayangkan harus nonton sama dia, saya kan belum mau kena asma! Sialnya, dasar India yang pedenya lima ratus persen, meski sudah ditolak dia masiiiiihh aja dengan gigih ngajak nonton. Lama-lama kegigihannya berubah jadi terror, lah gimana bukan terror namanya kalau semalaman itu saya disms 86 kali dan ditelpon 120 kali??? Sebabnya sih simple saja, sms dan telpon pertama saya cuekin. Saya juga kaget ternyata si India itu keukeuh sms dan nelpon sampe segitunya. Mulanya saya mau matiin tuh hape tapi takutnya ada emergency call atau sms penting dari teman atau keluarga. So, saya diemin aja itu hape samapai baterenya habis dan mati sendiri karena kehabisan tenaga habis kerja rodi. Besoknya, saya dicegat saat absen fingerprint di basement. Dia yang udah dandan melintir mirip pedangdut tahun 80an, masih pede nungguin saya pulang. Belum juga saya sempat ngomong, si India udah ngajak cabut. Oh God! Sayapun membuat-buat alasan supaya saya tidak harus pergi. Ketika dia masih nyerocos, saya sampai setengah berlari kabur menghindar. Besok dan besoknya lagi, saya sampai nyogok teman buat nganter saya pulang saking takutnya saya dicegat. Huh, kok jadi horror gini ya?  

Saya kira penderitaan saya ditaksir di ‘rumah’ hanya mentok sampai di sini. Ternyata, tidak hanya associate, tapi juga tamu hotel itu sendiri kadang-kadang juga suka ngisengin. Entah mengapa, yang doyan sama saya kok kebanyakan om om bule yang bodinya gede-gede. Atau sekalian orang Jepang tapi yang tuwir banget (padahal saya ngarepnya sama Australian navy yang tinggi-tinggi dan bodinya kotak kotak). Di team saya yang hanya 4 orang, saya satu-satunya yang bermuka Jawa dan berkulit sawo matang. Sisanya, keturunan Chinese dan kulitnya bening-bening. Herannya, orang dengan dua kategori di atas mesti menolak teman saya yang Cina dan selalu memilih saya yang notabene paling item. Rekan saya sampai nyelutuk, mereka kan pengennya yang lokal, gak mau yang import! Haha… Sudah dua kali ini saya diiming-imingi jaguar kalau saya mau kawin sama mereka. Pernah juga saya ‘ditawar’ untuk jadi istri simpanannya selama mereka dinas di Indonesia. ada juga sih yang niatnya ‘bener’, ngawinin saya dan saya diminta pindah ke negaranya. Tapi menikah dengan kakek-kakek? Iiiih, ogah!

Yang paling aneh adalah seorang EO (event organizer) yang kebetulan sedang punya gawe di ballroom hotel tempat saya kerja. Mulanya saya ngobrol-ngobrol ringan dengan si EO, ngomongin hal yang ‘standart-standart’ saja sampai kami nyambung banget ngomongin pengalaman bekpeking. Kamipun bertukar nomor telepon dan merencanakan bekpeking massal ke Jogja dan berencana mengajak teman masing-masing. Eh, sampai di rumah, dia dengan santainya sms, ngajak saya bekpekingan berdua, sambil dibumbui dengan kata-kata rayuan basi. Tanpa pikir panjang, saya hapus nomornya dari telephone list saya saat itu juga!

Thursday, 12 January 2012

Kulkas Oh Kulkas!

Saya punya beberapa pengalaman buruk dengan kulkas. Kadang-kadang suka mikir loh, kenapa sih dengan kulkas? Iya, kulkas si mesin pendingin itu. Beberapa teman saya bilang, saya kualat karena seringnya ‘ngrasani’ bule innocent yang saya kata-katai segede kulkas dua pintu. Oh, apakah saya bersalah? Saya kan cuma ngomong apa adanya!

Jadi ceritanya, FO (Front Office department) di tempat saya bekerja punya pantry dengan kulkas kecil tempat menyimpan makanan kecil dan minuman- minuman ringan. Sebenernya sih, kulkas itu buat nyimpen makanan tamu yang suka dititipin ke orang-orang FO. Tapi berhubung titipan kan jumlahnya gak banyak, jadi bisa sekalian dipakai buat karyawan juga.

Suatu hari, saya ngacir sebentar ke in room dining office untuk meminta amenities VIP berupa buah dan cokelat. Dasar orang in room dining ini teman baik saya, sayapun ‘disangoni’ sebotol jus apel. Saya teguk sedikit, lalu saya simpan di kulkas FO. Selang beberapa jam, saya yang hari itu kebanjiran order showing room kehausan dan tanpa ba bi bu langsung nyamber jus apel saya yang sudah dingin. Saya teguk tanpa curiga. Hueeeeekkk.. rasanya kok aneh, ya? Saya bolak balik botolnya, ya emang ini botol jus apel saya. Tapi kok berasa bir? Eh ladalah ternyata ada anak concierge yang udah ngabisin jus saya trus isinya diganti bir. Sial!

Besoknya, dengan kulkas yang sama, seorang teman menawari saya es kopi. Katanya sih, ditaroh di rak chiller nomor dua, botol air mineral 600 ml. ketika saya buka chillernya, ada dua botol air mineral dan dua-duanya sama-sama berwarna hitam. Saya main feeling saja, tebak-tebak buah manggis, do re mi fa sol, kira-kira mana yang isinya es kopi. Ok, feeling saya mengatakan botol sebelah kiri. Saya buka botolnya, dan tanpa curiga saya tenggak. Hueeeeeekkkkkkkk!!! Ini kopi apa racun ya??? Beneran gak ada rasa apa-apa selain paiiiiitt yang ‘nyelekit’ sampai ke tenggorokan. Ternyata eh ternyata yang kebetulan saya minum itu jamu temuireng milik ibu-ibu kasir valet yang habis melahirkan! Oh No!

Nasib sial dengan kulkas ‘ajaib’ ini ternyata tak hanya menimpa saya. Suatu hari, seorang housekeeping yang kebetulan sedang membersihkan pantry meminta minum sama saya yang juga kebetulan sedang berada di TKP. Karena saya sedang asyik mengaduk-aduk kopi di cangkir saya (duh nikmatnya!) sayapun mengintruksikan dia supaya ambil air mineral punya saya yang saya taroh di chiller. Saya masih asyik dengan kopi saya, hingga tak sengaja saya perhatikan si housekeeping sedang membuka botol air mineral yang salah. You know guys, dia ambil botol yang ada tulisannya gede-gede: CALIBRATION WATER*). DO NOT DRINK! Spontan saya teriak. Emangnya mau bunuh diri, minum air raksa???

Teman saya yang lain, sedang enak-enaknya makan spiku saat saya masuk pantry mau ambil minum. Sayapun iseng nyelutuk.
Saya: wah.. enak nih ada spiku. Sapa yang bawa?
Teman saya: iya nih mbak, dari anak-anak. Katanya dikasih tamu.
Saya: ooohh… (ngeliat ke spiku di box, kayaknya enak niihhh…)
Teman saya: (kayaknya tau kalo saya juga kepingin incip-incip) Ambil aja mbak… masih banyak juga kok..

Sayapun ambil satu. Ketika mau saya gigit, eh saya tak sengaja ngeliat ke box-nya. Ada tulisan gede-gede : EXP DATE 12/12/11. Hah? Lah ini kan sudah tanggal 19? Berarti spikunya udah expired 1 minggu?

Saya: mas, spikunya enak ya? (sumpah saya gak tega mau bilang)
Teman saya: enak kok mbak… saya sudah habis 3 ini tadi.. spiku mahal ini mbak..
Saya:tapi spikunya sudah expired 1 minggu loh mas!
Teman saya: Apa?????!!!(langsung ngi brit ke toilet dan huek huekkk…)


*)keliatannya enak ya???

*) Calibration water: ada juga yang menyebut water gel, cairan raksa yang dicampur silica gel. Ditarok di chiller dan freezer sebagai penstabil suhu.


Wednesday, 11 January 2012

Stasiun Aneh - Aneh

Saya pribadi kadang-kadang merasa takjub dengan kepribadian orang bule. Dengan selera eksotis mereka yang aneh (baca post sebelumnya), kebiasaan yang aneh, hingga pemikiran mereka yang aneh-aneh. Seperti halnya beberapa hari yang lalu, seorang bule tiba-tiba mendatangi saya bermaksud meminta tolong membookingkan tiket kereta api ke Jogja.

Bule: I would like to book a train ticket to Jogjakarta.
Saya: All right, Sir.
Bule: So, where’s the closest railway station here?
Saya: Gubeng station, Sir.
Bule: (mengkerut) what did you say? Gubeng?
Saya: Yes, Sir.
Bule: No, I don’t want to depart from Gubeng. I want to leave from ‘SELERA PEMBERANI’ station!
Saya: (menyedengkan telinga, memastikan saya tidak salah dengar) excuse me, Sir? SELERA PEMBERANI station?
Bule: (dengan pede 100%) yes!
Saya: but I am 100% sure there’s no station namely ‘SELERA PEMBERANI’ here.
Bule: what did you say? I have been there last year and I also 100% sure the name of the station is ‘SELERA PEMBERANI’!

Nah lo… mampus! Mana ada coba stasiun namanya ‘SELERA PEMBERANI’???

Bule: (mengeluarkan pocket kamera dari saku dan menunjukkan sebuah gambar kepada saya) Look at this! The name of the station is ‘SELERA PEMBERANI’!
Saya: (memperhatikan gambar dan setengah mampus pengin ketawa) excuse me, Sir. But selera Pemberani is just a cigar advertisement. Selera pemberani means a taste of brave.
Bule: (melongo se melongo-melongonya) so? What is the name of this station?
Saya: (rundingan dengan beberapa rekan driver yang mungkin familiar dengan stasiun yag ada plang selera pemberani-nya itu) ooohh.. this is Gubeng Station, Sir.
Bule: ooohh.. OK OK.. book me a ticket and I’ll depart from there. But if I didn’t find the name of selera pemberani on the top of it, I’d call you.
Saya: ??????





Besoknya sodara-sodara… saya tunggu sampai jam 5 sore, tepatnya dua jam setelah keberangkatan kereta si bule aneh, telepon di konter saya sama sekali tidak berdering!

Saya hanya berharap si bule tidak singgah ke stasiun balapan di solo atau dia akan me’namai’ itu stasiun antangin karena ada papan iklan antangin yang super gede terpampang disana!


Saturday, 7 January 2012

Hey!!! How Exotic!


Bicara mengenai eksotika, saya kira tiap orang memiliki selera eksotik yang berbeda-beda. Kata eksotik itu sendiri bagi saya yang unsophisticated ini bisa berarti unik atau khas. Atau, something yang langka, indah natural atau apa lah pokoknya eksotik! (*frustasi deh saya karena gak ngerti jelasinnya gimana). Kalau anda kebetulan fans Trinity (author buku perjalanan bombastis: The naked Traveler), pasti anda juga pernah dibikin ngakak dengan ceritanya mengenai eksotisme pohon pisang. Iya, pohon pisang yang biasa kita lihat di pekarangan rumah (orang) itu buat beberapa orang di suatu negara antah berantah sana dianggap eksotis dan merupakan salah satu obyek pariwisata. 

Sewaktu di Bali, saya sempat main petak umpet sama seorang bule segede kulkas gara-garanya si bule pingin pegang tangan saya. “I like your skin color. Yours exotic!”. Saya juga bingung kenapa kulit item gini dibilang eksotik. Padahal tiap hari aslinya saya pakai lotion pemutih, berharap kulit saya bisa (sedikit) lebih cerah. Ehh.. mereka yang berkulit putih  malahan bela-belain jauh-jauh datang dari negaranya buat jemuran! Katanya sih, kulitnya yang tanned alias gosong  bekas dijemur itu mau dipamer-pamerin ntar kalo mereka pulang ke negaranya. Sekali lagi, demi sebuah eksotika, atau kata lain gosongtika. (Ckckckck… iya saya tahu, itu kata baru dan tidak nyambung  sama sekali!)

Di Bali juga, saya yang kebetulan berkesempatan main di Ubud dan me-research beberapa resort mewah yang ada disana, dibuat takjub dengan selera pasar mereka. Bayangin, jauh-jauh dari benua nun jauh di utara, bayar hingga ribuan dolar semalem, dapatnya Cuma tidur di rumah mirip pondok beratap rumbia di tengah sawah! Ketika saya iseng tanya ke salesnya mengapa konsepnya dibikin ‘ndeso’ begitu? Jawabannya lagi-lagi karena pasar mereka menginginkan sesuatu yang eksotis. Lah, kalau begitu, eksotis = ndeso???



*)Percayakah anda kalau foto ini diambil di salah satu resort keren di Ubud??

Yang paling aneh, adalah saat saya dicurhatin seorang teman saya yang seorang driver mobil hotel. Ceritanya, pak driver ini mengantarkan seorang turis yang mau jalan-jalan ke beberapa obyek wisata yang ada di Surabaya. Sebelum berangkat, si bule berpesan menggunakan keyword andalan, ‘I want to see something exotic here’. Dan singkat cerita, dibawalah bule tersebut ke museum kapal selam, musium rokok, plaza-plaza terkenal, ke pantai, pasar tradisional, hingga jembatan Suramadu. Tapi si bule sama sekali tidak tertarik. Katanya, obyek beginian sih banyak di Negaranya sono. Si bule yang kebetulan seorang photografer terlihat frustasi karena belum menemukan hal ‘eksotik’ yang diinginkannya. Bayangin, keliling kota 4 jam di tengah macet dan tidak mendapatkan inspirasi sama sekali. Bete pastinya. Si supir yang ketularan bête, akhirnya memutuskan untuk balik pulang ke hotel saja. Di tengah perjalanan, saat pak driver melewati sebuat jembatan paling macet di Surabaya, eh ladalah si bule tiba-tiba minta stop. Pak driver yang kaget, langsung minggirin mobilnya. Mulanya dikiranya si bule kebelet pipis and mau pipis di sungai (iiiiihhh.. gak banget deh ya!), eeehh.. ternyata si bule malah ngambil kameranya dan terlihat sibuk memotret ke arah sungai. Eh, dia bukan motret sungai loh, tapi… motret sebaris anak anak yang berjejer di pinggiran kali dan mereka lagi (maaf) eek bareng. Yippiiiiiii…!!! Si bule girang bukan main mendapatkan  apa yang dia inginkan. Dari sini saya makin bingung. Jadi, eksotis itu = eek????
Hueeekkkkkkkk!!!!!!!!!!!!

*)P.s: Seandainya semua turis yang datang ke Surabaya maunya yang eksotik- eksotik, tentu pemerintah akan membuat obyek wisata baru : nonton orang eek masal di kali XXX. masalahnya, siapa ya yang mau jadi obyeknya??? hahahaha.....


Monday, 19 December 2011

A Cheapshit Flying Guest

Suatu sore yang biasa-biasa saja, seorang tamu bermasker check in. Seperti biasa, sambil menunggu receptionist memproses registrasi, saya mengajak ‘beliau’ ngobrol.

Singkatnya, saya mendapatkan banyak informasi dari tamu ini. Beliau adalah ‘korban’ pesawat gagal terbang sebuah maskapai mahal di Nusantara. Sebagai bentuk permintaan maaf, maka tamu tersebut ‘diinapkan’ di hotel ini. Saya juga sempat menanyai kenapa dia memakai masker. Jawabnya sih, dia sedang dalam penyembuhan dari sakit typus. Saya jadi heran, sejak kapan orang sakit typus dianjurkan pakai masker, ya?

Well, setelah proses registrasi selesai receptionist pun mengkonfirmasi tentang payment, bahwa maskapai penerbangan itu hanya menanggung kamar, makan pagi dan makan malam saja. Yang aneh, si tamu sempat tanya,”makan malamnya ada limitnya tidak, Mas?” dan dengan polosnya mas receptionist teman saya ini menggeleng. Lha wong di guarantee letter-nya memang juga tidak ada statement apa-apa.

Selang 2 jam kemudian…
Mbak-mbak waitress Restoran Chinese datang ke meja saya.
Waitress: Mbak ini betul tah kamar nomor 21XX ini makan malamnya ditanggung?
Saya: (Gak ngeh) kenapa emangnya?
Waitress: Saya lihat di system kan dia dapat allotment dinner, tapi dia ambil yang a la carte, bukan yang buffet…
Saya : (masih gak ngeh) lah terus?
Waitress: Lah ini mbak lihat sendiri billnya. Masa makan sendiri billnya ampe sejuta! (nunjukin bill ke saya)
Saya: (mikir dalam hati) Loh, billnya kok sebanyak ini, ya?
Waitress: ….

Saya pun lalu nyari mas- mas yang tadi mencheck-in kan tamu aneh itu. Dan seperti saya dan mbak waitress, dia langsung bengong begitu liat list bill yang panjang dan total tagihan makan malam yang gak masuk akal tersebut.
Mas Reception: Tapi aku tadi udah sempat telpon booker dari maskapai XXX dan mengkonfirmasi apa saja yang tertanggung. Dia bilang room, breakfast dan dinner.
Mbak Waitress: Lah tapi kalo bill-nya segede ini mana mau mereka bayar. Normalnya orang kalau dinner ya, yang buffet itu. Harganya cuman Rp.188.000,00.
Mas Reception: lah itu tadi orangnya makan sama siapa?
Mbak Waitress: Sendiri. Dia cuman makan ayam Hainan saja. Yang lain dibungkus.
Saya : Orang dia lagi sakit typus kok, mana bisa makan banyak kaya gitu?
Mas reception + Waitress: Haaahhhh????

Well, malam itu juga saat night briefing kami semua berdoa bersama, semoga besok waktu tagihan nyampe di booker, si booker tidak terkena heart attack karena ngasih compliment sama orang yang salah. Just imagine guys, kalo sekali lagi.. aja maskapai tersebut gagal terbang lagi and semua tamunya diinepin disini and semuanya makan malem ampe sejuta, saya yakin deh itu maskapai bakalan cepet-cepet gulung tikar. Hahahaha…

Live Band Bikin Budeg

Di hotel tempat saya bekerja, ada pertunjukan live band music mulai jam 9 malam setiap harinya. Band-nya sendiri gonta ganti setiap 3 bulan sekali, dan aliran musiknya pun juga ganti-ganti, kadang jazz, pop, atau reggae. Seringkali juga mereka bisa membawakan lagu-lagu tradisional semacam lagu ‘lingsir wengi’ atau ‘situmorang’ atau lagu-lagu oldist bahkan lagu keroncongan. Pokoknya mereka multi talented deh, at least buat saya pribadi.

Karena seringnya saya kebagian shift siang, maka keberadaan band ini bagi saya adalah salah satu penyelamat jiwa dari rasa bosan dan sepi. Apalagi kalau mereka sedang menyanyikan lagu-lagu favorit saya, saya seringnya ikutan ‘nyanyi’ bareng mereka. Sayangnya, khusus hari minggu, tidak ada acara live band music. Acara diganti dengan tayangan balapan F1 yang seringnya dijadikan arena taruhan. Hari minggu pas kena shift siang, buat saya adalah hari yang’garing’.

*)Live Band di Hotel ada deh...

Meskipun keberadaan band tersebut cukup penting buat saya, tapi kadang-kadang saya sedikit kesal dengan band tersebut. Apalagi kalau bukan masalah kencengnya suara band yang bikin orang mendadak budeg. Ditambah lagi, posisi band yang sedang main itu pas satu lantai diatas counter receptionist. Seringnya, jam segitu masih ada aja orang yang mau check in. Dan sebelnya, si tamu yang terkena syndrome budeg mendadak ini bener-bener terkena ‘budeg attack’ sehingga kalau nerangin apa-apa ke tamu receptionist musti setengah teriak. And lebih sebelnya lagi, karena saya guest relation yang harus bantuin receptionist pada saat tamu check in, jadilah saya yang kena ‘kewajiban’ teriak, eh nerangin ke tamu tentang settlement pembayaran seperlunya.

Saya: Pak Hendro, untuk kamar dan makan paginya sudah ditanggung oleh travel a…
Tamu: (nelengin kuping lebih deket ke muka saya)
Saya: Untuk kamar dan makan paginya sudah ditanggung ol…
(Background sound: welcome to the hotel California…)
Tamu : (geleng-geleng putus asa). Ini orang bener-bener deh budegnya…
Saya: (Ngencengin suara) JADI KAMAR DAN MAKAN PA…
(Lagu hotel Californianya tiba-tiba brenti ti ti!)
Saya: …GINYA SUDAH DITANGGUNG OLEH TRAVEL AGENT!!!
Tamu: (kaget dan langsung balik tereak) PELAN-PELAN NAPA MBAK NGOMONGNYA! SAYA KAN GAK BUDEG!!!

Saya ====> korek-korek kuping, mastiin apa saya terkena internal bleeding!

Sunday, 11 December 2011

Anak- Anak = BERISIK!!!

Bicara mengenai tamu di hotel, saya pribadi mengklasifikasikannya menjadi dua jenis, yakni tamu dewasa dan anak- anak.

Beberapa hari yang lalu, ketika saya incharge di front desk, seorang tamu bule berkebangsaan belanda sedang check in di konter saya. Bule tersebut, sedang menunggu kartu kreditnya diproses, ketika tiba-tiba seorang baby sister lewat sedang menggendong seorang bayi kecil berusia sekitar 6 bulanan. Si bayi yang ada di gendongannya menangis meraung-raung, rewel tak tau maunya apa. Si bule mulai gelisah, dan akhirnya membungkuk ke arah si bayi dan berkata,
“ hey, you make noisy…! You make noisy..!”
Eh ladalah si mbak-mbak baby sister ternyata gak ngerti kalo si bule itu gak suka sama anak kecil berisik. Si mbak malah senyum-senyum gak jelas trus malah nyorong-nyorongin bayinya ke muka si bule. Alamak…!!!  Ntar bayi situ ditelen itu bule belanda baru nyahok lo mbak!! Hahahaha…

Di hotel saya juga punya langganan Chinese Resto namanya pak Tris. Pak Tris ini, kalau datang pasti selalu membawa cucu- cucunya yang ampuuuunnnnn deh berisiknya. Complain, sudah jadi hal biasa lah kalau beliau kesini. Cucunya memang luar biasa, gak cuman main lari-larian dan teriak-teriak.. nih anak-anak bandel malah main petak umpet di hotel! Pernah vas raksasa sampai ambrol karena dipakai jungkir-jungkiran. Gak cuma itu, mereka juga pernah sekali menumpahkan minuman fanta warna merah ngejreng ke karpet berwarna terang. Duh….

Saat dulu masih kerja di Chinese restaurant, complain terberat adalah ketika seorang bapak – bapak dengan nada ironi menghampiri saya dan bertanya,
“ Mbak, di sini ada hammer tidak?” Pertanyaaan yang amat sangat tidak lazim. Saya pun bertanya balik,” Lah hammer buat apa, Pak?”
Eehh.. si  bapak monyongin bibirnya ke rah dua anak kecil yang berisik di meja sebelahnya “ buat pukul tu anak kecil supaya gak ribut!”
Buseeeeettt…  galak amat paaaakkkk!!!!

Yang aneh, suatu malam saat saya sedang makan malam di sebuah restoran Jepang di Bali bersama seorang teman saya yang bermarga Kameyama, di dekat meja kami adalah meja sekeluarga bule, 2 dewasa, dan 2 orang anak. Sejak mulai masuk restoran sampai main course saya mau habis, anak- anak bule ini berisik minta ampun. Ya main kejar-kejaran lah... teriak- teriak khas anak-anak. Saya sendiri hanya iseng memperhatikan, orang tua mereka sibuk memarahi mereka berulang kali tapi yang namanya anak-anak, tetap saja tak bisa dikasih tahu. Buat saya sih tidak masalah… saya justru suka memperhatikan mereka bermain dengan polah tingkah mereka yang lucu. Beberapa kali saya juga sempat bertemu pandang dengan si ibu anak bule, yang kemudian hanya dibalas dengan anggukan tak jelas, lalu kasak kusuk sebentar dengan suaminya.

Ketika hendak menikmati dessert kami, saya lihat keluarga itu sudah berkemas dan hendak meninggalkan restoran. Ayah anak-anak itu, seorang bule besar bertato, bertampang cukup garang tiba-tiba menghampiri meja kami. Saya kira si Bule mau marah-marah karena saya lihat roman mukanya gak enak, mungkin karena dari tadi saya memperhatikan anak-anaknya. Eh, gak taunya pas dekat, suara si bule jadi melow.
Si Bule Besar: Excuse me, I am so sorry that my kids were disturbing you !
Saya + Temen : (Bengong sejenak) It's Ok, it's Ok...
Hahahaha...Yaaahh.. kirain ada apa…Ternyata si Bule bertato tadi bodi dan attitudenya berbanding terbalik, hehehehe...

*)Nah, yang ini kan lucu banget ya?

Noted: Meskipun anak-anak itu berisik dan unutk beberapa orang mereka itu annoying, buat saya sih.. anak kecil tetap lucu dan menggemaskan :)

Sunday, 27 November 2011

My 'Ndesit' Guest


Dulu saya bisa saja nyombong mengatakan bahwa semua tamu hotel yang saya temui selama beberapa tahun ini bekerja di hotel adalah orang-orang hi-end dan sophisticated yang menganut aliran hedonis semua. Saya sampai menertawakan seorang dosen housekeeping yang cerita tentang betapa ‘ajaib’nya beberapa tamunya yang orang distributor daerah yang kebetulan mendapatkan bonus menginap di hotel bintang 5 di ibukota. Ada yang hanya pakai sandal jepit, ada yang pakai celana kolor, hingga bersarung! Apa coba? Yang lebih membuat saya terpingkal-pingka adalah, ada seorang bapak-bapak salah satu anggota group itu juga, jalannya nunduk-nunduk sambil nuwun sewu dan.. nyeker! Iya, sandal jepitnya di-cangking gitu aja, gara-garanya si bapak di kampung kalau masuk rumah kan sandalnya dilepas gitu loh! Hahahaha… Saya kira itu hanya lelucon atau mitos penghibur di sela-sela matakuliah yang membosankan. Eh… ladalah ternyata saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama beberapa hari yang lalu.

Ceritanya, hotel kedatangan grup besar komunitas seni dan budaya yang mendapatkan support dari pemerintah daerah. Ada sekitar 500 orang yang datang, dan bakalan menempati sekitar 220 kamar. Jadi, per kamarnya dihuni 2-3 orang. Karena semuanya sudah diprepare malam sebelumnya, saya kira semuanya akan berjalan dengan lancar. Tak ada firasat suatu hal yang aneh bakalan terjadi.

Mulai jam 10 pagi, segerombolan peserta mulai datang. Pesan dari panitia, setiap peserta yang datang harus registrasi dulu di meja panitia yang kemudian harus ke ruangan di ujung lobby untuk difoto dan mendapatkan kartu peserta, baru kemudian registrasi di front desk untuk check in. Well, sepertinya akan gampang kalau yang saya hadapi itu bukan orang daerah. Masalahnya, begitu masuk lobby mereka langsung menyerbu konter front desk. Bagus lah kalau antri, masalahnya ini menggerombol aja sampe receptionisnya gak keliatan karena ketutupan orang segitu banyaknya. Saya datangi dan meminta mereka untuk registrasi dulu ke panitia, eh… saya tidak digubris. Beberapa teriak-teriak memanggil temannya dan beberapa sibuk ngerumpi sendiri. Seorang bellman mencoba mengatur koper yang berserakan gak karu-karuan di depan konter, eh.. malah dipelototin sama yang punya. Takut hilang, katanya. Ya oloh….

Menyerah, sayapun memanggil panitianya dan meminta mereka sendiri yang mengurus proses registrasi awal karena usaha saya gagal. Si panitia dengan wajah memelas, membujuk beberapa anggota menuju ke desk panitia. Dengan susah payah, dibantu olah lima rekan yang lain, lumayan lah konter saya sedikit terselamatkan. 
Selang dua jam, para peserta kembali menyerbu konter front desk untuk check in. bener-bener ini hotel udah kaya konter pembagian sembako saking ramai dan kacaunya. Tiap orang berdesak-desakan maunya dapat kamar duluan. Padahal gak pakai ngotot juga, mereka semuanya bakalan kebagian, kan? Tapi kok ya gak ada yang mau mengerti kalau dikasih tau. Duh!

Urusan check in kelar, beberapa rombongan sudah siap menuju ke kamar. Kalau tamu biasa sih, meskipun baru pertama ke hotel ini, tinggal ditunjukkan mana liftnya saja, mereka sudah tahu. Tapi kalau group ini??? Saya harus mengkoordinir beberapa gelombang yang saya harus antarkan sampai ke kamar. Jangankan tahu fasilitas kamar, cara naik lift aja mereka gak tahu loh. Beneran. Malah dari beberapa orang yang saya antar, ada yang duduk jongkok sambil pegang kepala saat lift naik karena pusing dan takut. Nah lo?? Saya sampai gak ngerti apa saya harus tertawa atau menangis saking 'takjub'nya.

Selesai mengantarkan mereka semua ke kamar, saya balik ke konter dengan lutut berasa mau lepas. Duh cuapeknya! Saya sempat mendengar seorang tamu dari grup yang sama protes karena dia ditempatkan sekamar dengan anggota lain yang laki-laki. Hahahaha… ini gimana sih panitianya?? Karena pihak hotel menerima rooming list dari panitia sudah lengkap dengan nama sharer-nya. Masa panitia tidak bisa bedakan mana yang laki-lai mana yang perempuan??? Saya beniat mau minum sebentar ke pantry ketika seorang tamu mencolek punggung saya. Sayapun reflex menoleh dan oh No! tamu dari group itu lagi!! 
“Mbak, ini gimana ya tadi saya keluar sebentar ke kamar teman saya tapi saya lupa kartu (kunci maksudnya) saya tertinggal di dalem, saya tak bisa masuk kamar saya lagi… ”

Hiks hiks hiks, kali ini saya memang harus menangis saking ‘gemes’nya.
  

Thursday, 24 November 2011

Balada Porter


Kalau bicara masalah tip… saya kok bawaannya keinget porter ya? Buat saya yang setiap harinya di hotel, setiap kali melihat porter kerja, setiap kali itu pula saya melihat mereka di-tip. Ooopsss.. sepertinya saya salah sebut. Porter di hotel punya nama yang lebih elit, yaitu bellman. Mereka juga punya section tersendiri yaitu section bell desk yang biasanya bergabung dengan concierge atau berdiri sendiri di bawah Front office department.

Meskipun elit, kerjaannya toh bagi saya kurang lebih sama – ngangkut koper segede gaban—meski gak semuanya tamu bawa koper. Ada beberapa yang bawaannya berupa tas golf sepanjang hampir 2 meter, tas ransel yang bueratnya alamak, bantal guling boneka (ini mau nginep di hotel apa mau kemping di pekarangan rumah???), sampai bawaan yang dibungkus kardus bekas (iya kardus! Mirip penumpang bus di terminal, hehehe... maap! Bedanya, yang namanya porter itu ngangkut barang ya main angkut aja, kalau bellman biasanya dibekali dengan troli sangkar burung dan troli dorong yang bagus dan mengkilap. Meskipun ada troli, seringnya saya merasa kasihan karena kadang-kadang tamu tak berperike-koper-an. Yang nginap cuma 3 orang (2 dewasa dan 1 anak), tapi bawaannya 2 troli! Lah mau nginep 2 hari aja bawaanya segini banyak, gimana mau pindah rumahnya ya??? Selain troli, kalau di resort-resort besar, saya perhatikan porternya juga dibekali dengan buggy, atau apa ya namanya. Yang jelas ini sejenis mobil bak terbuka yang bagian depannya dimodifikasi sedemikian rupa hingga tak berpintu dan tidak berdasbor.  

*)Salah satu model buggy--tapi yang ini untuk tamu
Source:Google

Profesi bellman/porter ini, meski bagi sebagian orang dinilai sebelah mata, bagi beberapa orang tertentu bagian inilah yang malah dicari. Alasannya?? Ya karena disinilah lahan basah yang paling basah dari keseluruhan departemen yang ada di hotel. Umumnya, orang lokal memberi 5ribu-10 ribu per kopernya. Sedangkan orang bule kebanyakan ngasih sedolaran per koper. Saya kadang-kadang iseng berhitung sendiri berapa pendapatan seorang bellman per harinya. Kalau dalam 1 shift (8 jam kerja) seorang bellman minimal mengantarkan 10 kali, dan setiap kalinya paling apes dapat 5ribu… sehari itu dia sudah dapat 50ribu kan??? Padahal tiap harinya mereka mengantar barang bawaan tamu hingga puluhan kali.

Dulu waktu masih di Bali, saya berkesempatan training di section ‘basah’ ini. Hari pertama, saya diajak seorang bapak bellman senior mem-pick up luggage di beberapa kamar rombongan orang Jepang. Karena barangnya pasti banyak, beliau membawa buggy. Saya jadi ‘kernet’nya saja. Mengambil koper-koper dari kamar ke kamar memang sangat menguras keringat, tapi begitu kami tiba di lobby, cewek-cewek Jepang yang bening-bening itu langsung menyerbu, mengambil koper masing-masing dan setiap orang menyelipkan tempelan sedolaran! Hahahaha.. sekejap saja saya sudah mengantongi 23 dolar, yang saat itu sedolarnya senilai 9ribuan. Hehehehe…  sayang bapak-bapak tersebut besoknya tidak mengajak saya pick up luggage lagi… mungkin takut tip-tipannya diembat sama saya. haha!

Saya pernah mendengar cerita sari salah seorang dosen front office saya semasa kuliah. Salah satu teman lamanya ada yang berprofesi sebagai seorang bellman di hotel di Jogjakarta. Namanya pak Rahman. Sudah bekerja selama 12 tahun (catatan: hingga sekarang) dan tetap setia menjadi bellman. Kalau anda mengira pak Rahman ini tidak berprestasi, itu salah. Beliau malah menjadi salah satu staff of the year di hotel tersebut, dan bukan berarti beliau tidak mendapatkan promosi. Pak Rahman selalu menolak promosi apapun karena alasan sederhana: gaji sebagai manager sekalipun tak bisa menandingi penghasilan beliau per bulan katanya. Hahahaha….