Showing posts with label Kerja di Hotel. Show all posts
Showing posts with label Kerja di Hotel. Show all posts

Saturday, 12 October 2013

Bli Bagus

Bicara mengenai staff hotel, rasanya saya perlu cerita sedikit tentang salah satu teman kerja saya yang menurut saya istimewa, namanya Bagus. Bli bagus memang belum lama bekerja di bidang perhotelan. Lulus dari sekolah tinggi bidang kesehatan, bli bagus langsung terjun di dunia perhotelan sejak dua tahun terakhir. Iya, bli bagus korban salah jurusan. Di hotel tempat kami bekerja, bagus seorang bellman.

Saya mengenal Bagus sejak kami sama-sama direkrut menjadi pre-opening team, sekitar enam bulan yang lalu. Dulu saya mengira, Bagus seorang yang pendiam dan tertutup karena jarang bicara dan selalu terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Setelah mengenal lebih dekat, saya sedikit demi sedikit tau betapa istimewanya dia. Pertama kali saya menyadarinya adalah, saat kami bersama-sama istirahat makan siang selepas training hotel system, sekitar sebulan sebelum hotel kami resmi dibuka untuk umum. Saat itu, makan siang masih disediakan di dalam kotak makan yang dipesankan dari catering. Selain nasi dan lauk pauk dan sayur, kami juga mendapatkan dessert berupa buah atau kue, air mineral, dan kerupuk. Sialnya, tiga hari berturut-turut, ketika mengambil box makan siang, saya selalu mendapati tray dessert dan tempat kerupuk sudah kosong. Orang catering yang ditanyapun selalu menjawab, “kami menyediakan sesuai dengan jumlah box, kalau ada yang tidak kebagian, itu karena yang makan duluan mengambil  lebih dari jatahnya.”

Hari keempat, saya dan beberapa teman termasuk bli bagus datang ke kantin yang baru saja buka. Beberapa teman langsung mengambil dessert, dan benar saja, mereka mengambil lebih dari jatah yang seharusnya. Sayapun tergiur untuk ikut-ikutan, anggap saja balas dendam karena tiga hari berturut-turut saya tidak pernah kebagian. Sayapun mawarkan diri untuk mengambilkan sekalian jatah bagus, yang kebetulan duduk semeja dengan saya.
“Aku ambilin sekalian ya bli. Mau berapa?”
Bli bagus yang sedang sibuk dengan ayam gorengnya mendongak sebentar ke arah saya.
“Satu saja, mbak. Jangan ambil banyak-banyak. Kasihan, nanti yang lain gak dapat.” Katanya santai sembari menggigit ayam gorengnya.
Saya terhenyak. Seperti ditampar. Sebagai teman, memang seharusnya saling berbagi. Bukannya menjadi egois dan memikirkan diri sendiri. Ini pelajaran pertama yang diajarkan bli bagus secara tidak langsung, kepada saya.

Belakangan saya menyadari, dibandingkan (tanpa bermaksud membandingkan dalam arti yang sebenarnya) dengan teman bell yang lain, bli Bagus menurut saya yang paling rajin. Datang tak pernah telat, pulangnya seringan paling belakang, karena dia belum mau pulang kalau hand over belum benar-benar selesai. Bell yang lain saya lihat, mereka akan kabur dengan berbagai alasan kalau jam kerja berakhir, kadang-kadang tanpa pamit sama sekali dengan shift yang datang selanjutnya. Bli Bagus yang paling mengalah kalau jadwalnya ditukar-tukar dengan bell yang lain, meskipun konsekuensinya bakalan jumping shift. Tak hanya sekali saya lihat dia double shift karena harus incharge menggantikan salah seorang bell yang kebetulan sakit. Di kegiatan operasional, bli Bagus yang paling rajin mengingatkan arrangement transport dan selalu menyiapkan ini itu tanpa diminta.

Tiga bulan berlalu sejak hari pertama kami bekerja bersama-sama sebagai team, bulan ketiga service charge yang kami dapatkan rupanya tidak sebagus bulan pertama dan kedua. Mulailah saya mengeluh, “Yaaaah.. service charge-nya segini doang ya bulan ini…”
“Disyukuri mbak…” bli Bagus menyahut sambil tersenyum.
“Padahal hotel rame loh.. ternyata banyak yang dapat compliment nih, jadinya revenue sedikit dan service charge juga jadi sedikit padahal occupancy lumayan,” saya masih menggerutu.
“Masih mending kan mbak, dapat service charge. Saya enggak,” katanya santai sambil masih tetap senyum-senyum. Saya melongo tak percaya.
Saya baru tahu kalau ternyata bli Bagus hanyalah seorang daily worker. Yah, ternyata selama ini dia daily worker. Pekerja hotel yang dibayar lepas per hari tanpa mendapatkan tunjangan apapun. Mulanya saya pikir, dia menjadi staff tetap seperti kami dan mendapatkan fasilitas yang sama seperti yang kami dapatkan. Meskipun menjadi daily worker, bli Bagus tetap bekerja sangat baik. Saya jarang mendengar dia mengeluh, apalagi mengeluhkan tentang gaji kami yang timpang, berbanding 1:4 dengan porsi pekerjaan yang sama berat. Untuk kali kedua, saya merasa ditampar, bli Bagus lagi-lagi memberikan pelajaran. Selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki, karena bisa jadi orang lain tidak seberuntung kita. Saya jadi merasa sangat malu…

Sayang sekali, meski di mata kami semua bli Bagus menjadi bell idola, namun ternyata management malah memandangnya sebelah mata. Management kurang memberikan kepercayaan kepada bli Bagus untuk dipromosikan menjadi staff regular seperti kami. Buktinya, ketika di team kami membutuhkan orang tambahan, management malah lebih suka merekrut orang baru daripada merekrut bli Bagus, yang belum tentu memiliki dedikasi dan loyalitas seperti bli Bagus. Kami semua kecewa.

Kamipun mencoba berbagai cara supaya bli Bagus mendapatkan promosi karena memang kami semua menganggap dia layak, mulai menghadap langsung ke HRD, hingga merayu night manager supaya memasukkan topic tentang promosi untuk bagus di morning briefing kepada GM. Sayangnya posisi FOM saat itu sedang kosong sehingga kami tidak memiliki atasan langsung yang bisa menyampaikan aspirasi kami. Hasilnya? Seperti biasa. Aspirasi kami kurang didengar. Janji promosi untuk Bagus tinggallah janji yang tidak jelas kapan bisa terealisasi.

Bulan Agustus sepertinya membawa berkah tak hanya bagi umat muslim yang merayakan hari raya Idul fitri, namun juga bagi kami para pekerja hotel. Hampir sebulan penuh, occupancy hotel selalu penuh sehingga service charge di akhir bulan menjadi banyak. Ketika menerima payroll akhir bulan dari night manager, kebetulan kami iseng-iseng membicarakan masalah promosi Bagus. Dan entah siapa yang memulai, kami merencanakan kejutan kecil untuk Bagus.
Siang itu di bulan September, saya dan Deta, salah seorang bell brondong yang berbody ABRI hati Barbie, mengajak bli Bagus untuk rapat bertiga di Concierge store. Dasar lugu, Deta langsung saja memulai ‘acara’ tanpa aba-aba.
“Bli Gus, ini dari FO team..” langsung saja brondong Barbie ini mengulurkan selembar amplop putih.
Bli Bagus tentu saja terkejut dan reflek bertanya, “ ini apa? Maksud kalian apa?”
“Service charge bulan ini bagus, bli. Jadi, ya, sebagai team, kami semua ingin berbagi sedikit dengan bli Bagus. Ini semua dari teman-teman. Ikhlas. Jangan dilihat dari nominalnya, mungkin tak seberapa. Lihat dari niatnya, ya?” Deta menjelaskan panjang lebar. Mungkin ada semenit kami hanya berpandang-pandangan sampai akhirnya bli Bagus buka suara.
“Makasih ya teman-teman. Saya tidak menyangka kalian sebegitu perhatiannya sama saya.” Bli Bagus berkaca-kaca.
Mulanya saya yang seharusnya mewakili team untuk menyampaikan itu semua ke Bagus. Tapi dasar cengeng, saya tidak bisa. Untungnya ada Deta. Saya segera berbalik dari suasana penuh haru itu. Tak bisa lama-lama melihat mata yang berkaca-kaca itu.
***
“Pagi Babeh…” saya menyapa Pak Medi, night manager saya yang super sabar, seperti bapak sendiri sehingga saya memanggil beliau babe, meskipun Pak Medi bukan orang betawi.
Babeh terlihat serius memandangi layar handphonennya. Lalu bergumam sedikit, “buruk Ann. Seminggu lagi semua daily worker dirumahkan*.”
Tenggorokan saya tiba-tiba tercekat. Seperti tak percaya.Mentang-mentang posisi FOM sedang kosong, masa sih tidak ada yang bisa memperjuangkan? Pak Medi memang night manager, namun beliau tidak memiliki kewenangan apapun dalam hal ini.
“Memangnya sudah pasti, beh? Apa buktinya? Kenapa?” saya masih tidak terima. Berharap ini hanya isu belaka.
“Kamu buka email saja Ann, tanggal kemarin. Ada attachment minute meeting. Semuanya ada di situ.” Babe mengintruksikan saya untuk menggunakan komputer reservasi yang lokasinya bersebelahan dengan meja night manager.  Sepagi itu, orang reservasi belum ada yang datang.
Seperti dihantam badai, saya harus percaya berita itu benar.
“Beh, tolong jangan bilang Bagus dulu, ya? Coba nanti siang aku sama mbak Melin ngomong ke orang HRD, mungkin ada jalan lain.”
Babe mengangguk.

Siang itu…
Mbak Melin yang baru datang langsung menyapa saya dengan berseri-seri. Hari ini dia telat 5 menit. Tumben, ‘sedikit’ on time.
“Mbak Anna…” sapanya.
Namun hari ini saya tak sedang ingin membahas mengenai keterlambatannya. Tanpa basa basi, saya langsung menarik tangannya menuju kantor FOM yang kosong.
“Mbak, Bagus mau dirumahkan.”
“Hah???!!! Lha kok iso to yo?” Ekspresi kagetnya membuat logat Jawanya keluar. Come on mbak Melin, ini bukan saatnya bercanda.
“ Ada emailnya tentang hasil minute meeting kemarin. Banyak Daily worker yang harus dirumahkan.”
“Tapi ya jangan Bagus toh yo! Kalau Bagus dirumahkan, bell kurang orang! Nanti kalau ada salah satu bell yang libur siapa yang mau jadi bell?”
Saya menggeleng. Tiba-tiba pintu kantor FOM terbuka perlahan. Bli Bagus rupanya.
“Mbak… kok pada rapat sendiri disini? Saya gak diajak?” katanya seperti tak ada apa-apa. Padahal saya tahu, Bagus juga pastinya sudah membaca hasil minute meeting sialan itu.
“Ada apa Gus?” Mbak Melin juga berusaha bersikap sewajar mungkin. Tapi dalam hati, entahlah.
“Saya minta mbak revisi schedule bell untuk minggu depan, sekalian minta tanda tangan form ini…” katanya seraya menyerahkan form pemberhentian kerja. Saya mulai muak.
“ Enggak, Gus. Aku gak mau revisi schedule. Aku gak mau tandatangan ini.” Mbak Melin merampas form itudari tangan Bagus dan beranjak dari tempat duduknya.
“Aku mau ngomong dulu ke HR, mungkin ada jalan lain.” Mbak Melin mengisyaratkan saya untuk ikut. Kamipun beranjak ke ruang HRD, meninggalkan Bagus sendiri di ruang FOM dengan wajah sedih. Saya segera bergegas. Tak sanggup melihat wajah itu…
***
“Jadi kenapa Bagus, Pak?” suasana di ruang HRD sudah panas bahkan sebelum kami masuk tadi. Kami sudah lama memperjuangkan Bagus untuk bisa dipromosikan menjadi staff regular seperti kami selama enam bulan tanpa kepastian. Sekarang management mengadakan pengurangan daily worker dan Bagus termasuk di dalamnya, tentu keputusan itu amat menyakitkan.
“Maaf, Bu Melin, Bu Anna. Tidak hanya pak Bagus. Kami juga ada pengurangan di semua departemen, tidak hanya front office. Dan ini sudah menjadi keputusan managemen, atas intruksi dari General manager, kami sebagai HRD hanya menjalankan apa yang sudah diintruksikan.” ini penjelasan dari orang HRD. Saya semakin muak.
Percuma berdebat. Jalan lainpun tidak ada. Hanya berharap semoga dalam waktu dekat ada lowongan untuk bell yang berstatus staff regular dan kami akan mengajukan Bagus kembali.
Saya pulang masih dengan hati yang hancur. Bukan, saya tidak memiliki ikatan emosi apapun dengan Bagus. Saya hanya melihat Bagus sebagai rekan yang baik dan memang sangat layak untuk diperjuangkan. Sayang, ternyata management kurang bisa ‘melihat’ kinerja bli Bagus. Itu yang membuat saya sangat tidak bisa menerima keputusan tak adil yang mendadak itu. Saya pernah ada di posisi Bagus. Saya masih ingat rasanya. Masih terlalu ingat bagaimana sakitnya. Dan saya tidak mau, hal yang sama terulang di rekan saya.
Tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan masuk. Dari Bli Bagus. Ah, saya tidak mau membukanya. Saya betul-betul tak tega. Tapi, sebagai teman yang baik, saya juga tak ingin mengacuhkannya. Saya takut, dia malah berfikiran buruk.





Saya terenyuh. Rasa kesal itu perlahan menghilang, lalu berganti ikhlas. Saya merasa malu. Seperti tertampar, untuk ketiga kalinya. Bli Bagus ternyata punya hati yang besar. Saya sebagai sahabat seharusnya membesarkan hatinya, bukannya dia yang membesarkan hati kami. Mungkin saat ini, kami harus mengikhlaskan Bagus. Tapi saya yakin, Tuhan punya skenario lain yang lebih indah dari yang kami semua harapkan.

Mudah-mudahan.

Friday, 4 October 2013

Apalah Arti Sebuah Nama....



Beberapa orang sering menanyakan mengapa nama pena saya “Anna Swan”. Kalau ditanya demikian, saya ‘terpakasa’ akan menjelaskan sedikit mengenai asal usul nama itu dan alasan mengapa sampai sekarang saya menggunakan nama itu. Well, nama asli saya bukanlah Anna apalagi swan (yang dalam bahasa inggris konon katanya artinya angsa, bahkan kata beberapa teman saya yang laki-laki mengatakan bahwa swan itu merk kaos dalam pria, iiiihhhhh).  Nama Anna pertama kali muncul saat saya kuliah, semacam panggilan pembeda saking ‘pasaran’nya nama asli saya. Anna diambil dari nama belakang saya yang berakhiran Ana. This goes that simple!



Swan sendiri sebenarnya bukan dimaksudkan sebagai angsa atau merk pakaian dalam pria (oh No!). Swan disini artinya marga. Ya, marga Swan. Semacam family name gitu kalau di barat. Dapat nama itu sendiri, ada lagi ceritanya. Sekitar tahun 2008- 2009, waktu film Twilight premier pertama kali, saya adalah salah seorang fans gilanya. Saya bela – belain antre panjang dan bolos kerja demi mendapatkan tiketnya. Yang paling berkesan, saya nonton film ini bersama seorang sahabat terbaik saya. Teman saya ini lalu menyebut – nyebut nama saya dan nama Swan dan digandeng, sehingga jadilah nama Anna Swan seperti sekarang ini. Hehehehe… Lucunya, nama itu semakin hari semakin melekat dan saya jadikan nama koresponden tak hanya di private live saya di dunia maya, namun juga jadi nama resmi alamat email yang saya gunakan untuk melamar kerja!  Nama Anna Swan semakin sakti karena Anna Swan selalu identik dengan saya. Belakangan, Anna Swan dikenal sebagai hotelier, padahal di zaman dahulu, ada seorang Anna Swan yang merupakan penderita gigantis alias serang wanita berbadan raksasa. Wow!



Di dunia maya, bolehlah panggilan saya keren, Anna. Tapi di dunia kerja? Mmmm…

“Markonah, minggu depan kamu off hari selasa aja ya. Rabu gak bisa karena ada event.”

Kejam. Ini supervisor saya yang bilang demikian. Anda tidak salah baca, kok. Iya, saya dipanggil Markonah. Saya langsung berasa turun pasaran.

“Iya, mbok.”

Ini panggilang ‘sayang’ (atau balas dendam?) ke beliau. Mbok kalau di Jawa artinya ibu tapi seringnya diasumsikan sebagai mbok tukang pijat, mbok tukang jamu, dan sebagainya. Keren, bukan?



Lain Surabaya, lain di Bali…

“Anna maria... besok aku tukar schedule sama kamu, ya? Kamu aja yang pagi…”

Kali ini yang panggil si Netta. Pulang dari Dubai sepertinya dia terlalu banyak ketemu orang berbangsa Rusia. Untunglah saya belum dipanggil Anna Kazokovic. Taelah!



Di the Grand Beach…

“Nanti siang ada group besar dari Korea akan datang..” Pak Kadek, team leader guest service agent siang itu memberikan pengarahan untuk menangani Korean Group yang akan datang sebentar lagi.

“…Langsung saja arahkan ke lobby utama untuk penyambutan. Ririn, kamu yang bertugas mengalungkan bunga, ya. Lalu, langsung arahkan ke reception group di depan Ballroom 1…” Pak Kadek melirik ke arah saya dan menajamkan penglihatan ke nametag yang saya kenakan.

“Nanda, kamu yang nanti mengarahkan mereka ke Ballroom 1 ya..”

Iya, nama saya jadi Nanda. Insiden ini terjadi karena nametag nama Anna tidak tersedia di HRD, namun, karena menggunakan nametag hukumnya wajib, jadilah saya diberi nametag yang (kata orang HRDnya) mendekati nama saya. Nanda.

Janjinya sih seminggu saya akan mendapatkan nametag baru yang sesuai dengan panggilan saya, kenyataannya saya harus menunggu tiga bulan lamanya… Untungnya meskipun nametag saya atas nama Nanda, saya tetap dipanggil Anna oleh rekan-rekan saya. Thank you, guys…



Saya kira panggilan sesat itu hanya menimpa saya seorang, ternyata… di luar sana banyak juga yang medapatkan nama panggilan yang tak kalah kejam…

“Pak, sudah bikin store request?”

“Sudah aku submit kan, kemarin. Kamu tinggal ke store saja. Ambil barangnya.” Kata Front Office manager saya  sembari mengetik sesuatu di komputernya.

“Soalnya saya tidak tahu apa saja yang mau diambil, Pak. Bisa saya dapat kopiannya?”

“Kamu minta saja sama puput.” Dengan santainya beliau bicara.

Saya menajamkan pendengaran. Puput? Setahu saya orang store laki-laki semua.

“Puput itu siapa, Pak? Ada karyawan baru, gitu?”

“Puput.. si Putra…”

Jegerrr!!! Putra bisa jadi Puput! Saya hanya nyengir asem.

“Lalu, petty cash untuk bulan kemarin dipinjam dari uang housebank loh Pak. Saya minta tandatangannya bapak di sini supaya saya bisa reimburse*.” Saya menyerahkan secarik form reimbursement untuk ditandatangani.

“Oke. Kalau ada lagi yang minta petty cash kamu jangan kasih kecuali ada approve dari saya.”

“Lah, kan bulan lalu petty cash bapak sendiri yang minta! Gimana sih?”

“Oh, iya ya. Saya lupa.”

Taelah. Saya jadi pingin ngemut  bullpen saking gemesnya.

“Soalnya si Titi DJ suka susah ngasih duitnya…” Katanya lagi.

Kembali saya tajamkan pendengaran. Titi Dj? Jangan-jangan panggilan sesat lagi.

“Titi Dj siapa pak?”

“Itu… Sujati. Chief accounting.” Katanya dengan cuek.

Tuuuuhh… kan????!  





*reimburse : Penggantian kembali uang yang telah terpakai untuk keperluan tertentu.

Thursday, 3 October 2013

Balada Steward


Jika anda seorang yang bekerja di hotel, apalagi hotel besar yang kompleks, tentu sudah tidak asing dengan beberapa profesi berbahasa asing yang terdengar keren seperti e-commerce, human resources, chef, concierge, guest relation, greeter, bellman, engineering, atau steward. Kalau kebetulan sedang ngobrolin masalah kerjaan dengan orang non hotel yang sama sekali buta tentang hotel, biasanya saya mencari kata lain yang sesuai dengan arti yang terdekat. Mengapa? Karena obrolan tidak akan nyambung karena perbedaan persepsi. Adanya saya malah speechless karena kadang gak ngerti gimana menjelaskannya.
“Anna, gimana caranya melamar kerja di hotel?” seorang teman bertanya.
“Ya, tinggal masukin saja lamaran ke HRD.”
“HRD itu apa?”
Kalau saya jawab, HRD itu human resources department, pastilah dia tambah bingung dan endingnya malah panjang karena dia minta diterangkan satu persatu lebih mendetail.
“Personalia,” jawab saya.
“Oooh…”
Tuh kan, dia ngerti. 
“Anna, di hotel di bagian apa?” kali ini seorang tetangga yang tanya. 
“Front office.”
“Ooh.. di kantornya, ya?”
“Bukan. Saya penerima tamu.”
“Ooooh… Resepsionis?”
Saya ngangguk asem.
“Anna, kalau misalnya naik pangkat, kamu mau jadi apa?” tanyanya lagi.
Buset, mendadak saya berasa jadi pejabat. Naik pangkat, bo!
“Saya pingin jadi sales,” dengan pengucapan berbahasa Indonesia dan bukan berbahasa Inggris.
“Hahhh? Seles?” dia kaget.
“Iya. Sales. Yang bagian penjualan gitu. Kenapa?”
“Aduh… gak mau ah, jadi sales. Panas-panasan keliling kemana-mana,” jawabnya polos.
Lah? Ini sales hotel… bukan sales panci, yailah…!
“Anna, kalau di hotel itu yang bagian  di dapur namanya apa?”
“Chef.”
“ Chef itu bukannya artis, ya?”
Chef bukan hanya Farah Quinn dan Juna saja, mbak yu…
“Anna, aku dengar di hotel ada engineernya, ya?”
“ Engineering?”
“Iya.”
“Ada. Kenapa?”
“ Wah, keren. Banyak insinyur di hotel, ternyata.”
Kenyataannya, engineering itu tidak sama dengan insinyur.
Saya kira kesalahpahaman  persepsi karena profesi yang terdengar ‘keren’ karena kebarat-baratan itu hanya dialami oleh orang non-hotel saja. Ternyata eh ternyata, salah seorang rekan saya yang sesama orang receptionist, Sonny, juga pernah mengalaminya. 

Terdampar jauh ke Medan, Sonny pernah bekerja sebagai seorang steward. Bagi yang belum tahu, steward itu petugas kebersihan yang ada di area kitchen. Tugasnya tidak hanya mencuci peralatan makan dan peralatan masak, tapi juga membersihkan area seputar dapur seperti kebersihan lantai, dinding, meja, hingga ke saluran pembuangannya. 
Jadi, ceritanya, Sonny ini diajak oleh salah seorang kerabatnya yang menjabat sebagai seorang Front Office Manager di sebuah hotel di Medan yang saat itu sedang mencari pre-opening team. Sonny yang baru lulus dari fakultas ekonomi, tentu saja sama sekali buta tentang hotel. kerabatnya sudah mewanti-wanti supaya Sonny melamar di bagian front office, dan Sonny hanya iya iya. Ternyata, saat melihat sejumlah lowongan yang dipanjang, Sonny tertarik memilih steward. 
“Kenapa?” saya bertanya.
“Yang saya tahu, pramugari itu bahasa inggrisnya stewardess. Nah, berarti steward itu kan sejenis pramugara,” jawabnya sambil nyengir. Saya tepuk jidat.

Singkat cerita, Sonny diterima dengan hangat sebagai bagian dari team steward. Saatnya chief (manager) steward memberikan training.
“… jadi sebagai steward, kalian harus bisa menggunakan mesin dishwasher…”
Sonny mulai garuk-garuk kepala. Dalam hati, ia berusaha menerjemahkan. Dish = peralatan makan, washer = pencuci. Sonny penasaran.
“… Ok, disini steward store. Setiap peralatan harus dipisahkan berdasarkan jenisnya dan dihitung jumlahnya…”  Team steward mulai digiring ke gudang. Di dalamnya terdapat rak dengan berbagai jenis peralatan makan tersusun berjejer. Sonny jadi khawatir.
“… Baiklah, training hari ini saya anggap selesai. Untuk semetara, Budi, kamu pegang dishwaser. Santoso, kamu bantu saya stok opname di store. Sonny, kamu mop seluruh lantai dan bersihkan seluruh area kitchen. Ada pertanyaan?”
Sonny tiba-tiba kena migrain.
Dengan terpaksa, Sonny mengambil kain pel dan memulai pekerjaan barunya sebagai steward ( baca: pramugara kesasar), tugas pertamanya, sesuai dengan yang sudah dibagikan tentu saja, mengepel lantai dapur. Kabar buruknya, dapur ini ternyata besar. Ada hot kitchen, cold kitchen, dan pastry kitchen. 
Belum juga Sonny selesai membersihkan lantai pastry kitchen, seorang sous chef, yang Sonny asumsikan sebagai koki spesialis pembuat saus tergopoh-gopoh datang,
“Steward minta tolong itu saluran airnya macet. Tolong dibersihkan dulu.”
Sonny melongo. Lah? membersihkan got juga???
“Sonny, kamu tangani dulu ya.” Suara chief steward dari store.
Sonnypun jatuh pingsan.



Sunday, 11 August 2013

Orang Kaya Baru


Bekerja sebagai frontliner di hotel, saya banyak ketemu OKB, alias orang kaya baru. Duit sih banyak, tapi kelakuannya… ubelieveable!
“Mbak, kalau mau nginep di sini berapa ya semalamnya?” Seorang tante-tante dengan dandanan super menor suatu sore datang ke konter saya.
“Ibu mau jenis kamar yang apa? Kami ada kamar deluxe, premium, dan suite.”
“Yang paling murah yang mana?”
“Yang deluxe, bu.”
“Saya gak mau yang paling murah. Yang mahalan?” Tuh, mulai keliatan OKBnya.
“Yang jenis di atasnya ada kamar premium.”
“Harganya?” Si ibu kibas-kibas rambut rebondingnya.
“Kamar premium harganya hari ini di tiga juta lima ratus nett, Ibu.”
“Maksudnya harga nett apaan? Kamar aja gitu gak ada kasurnya?”
Eeeeerrrr… ini ibu-ibu ketahuan belum pernah tinggal di hotel nih. Masa iya kita jualan kamar, dan kamarnya doang gak pakai kasur. Memangnya kos-kosan?
“Maksudnya harga sudah bersih, sudah termasuk pajak dan service charge.”
“Ohh…”
Entah si Ooh-nya ibu ini artinya dia ngerti atau tidak.
“Yang paling mahal, berapa?”
“Yang kamar suite yang tersedia tinggal executive suite, Ibu. Harganya lima juta rupiah.”
“Hah?!” Si ibu mukanya kaget.
“Kenapa bu?”
“Gak apa-apa.” Katanya sedikit tersipu.
“Saya ambil yang itu.”
Wiiih… ini ibu-ibu gokil juga. Secara nginep di hotel sepertinya belum pernah, sekalinya nginep yang jenis executive suite dan menolak kamar yang paling murah.
“Baik, kalau begitu ini registrasi ibu. Mohon diisi di bagian yang saya tandai saja. Lalu tandatangan di sebelah sini. Oh ya, saya bisa pinjam KTP ibu untuk saya fotokopi?”
“Hah, buat apa mbak?” Si ibu mukanya bingung dan kaget.
“Untuk melengkapi proses registrasi, Bu. Semua tamu yang check in, kami fotokopi KTP atau paspornya.”
Barulah si Ibu menor mau mengerti. Lah dikiranya fotokopi KTP buat apaan?
“Untuk pembayarannya mau menggunakan apa, Bu?”
“Pakai kartu lah, mbak. Hari gini masa pakai uang cash.” Katanya lagi dengan sombongnya sambil mengeluarkan kartu...atm!
Sayapun dengan halus menolak. “Barangkali ada kartu kredit, Bu?”
“Lah, ini kan kartu kredit?”
Ya ampun… gimana ya jelasinnya. Bahkan kartu debit dan kartu kreditpun saya harus terangkan satu per satu.
“Maaf, bu. Ini kartu debit. Kalau kartu debit, saya tidak bisa melakukan card verification.”
“Apa itu mbak maksudnya?”
“Jadi kartu kreditnya Ibu nanti saya blok dananya, nanti pada saat check out saya release-kan kembali.”
“Lah, kenapa kartunya di blok? Saya gak bisa pakai belanja dong nanti?”
Waduh…. CS bank mana nih CS bank?
“Atau begini saja, bu. Kartu ibu saya debet sejumlah harga kamar ibu. Nanti ibu deposit dengan uang cash satu juta, saya kasih tanda terimanya. Nanti pada saat check out, kalau Ibu tidak ada bill diluar kamar, saya kembalikan uang cashnya.”
“Saya sudah bayar harga kamarnya kok masih dimintain uang lagi sih mbak?”
“Yang deposit satu juta itu, hanya sebagai garansi saja untuk pengeluaran extra di luar kamar. Semisal Ibu ada makan malam di restaurant, atau ada minum di lounge atau bar, Ibu tinggal tandatangan saja di billnya dan tidak usah bayar cash di outletnya. Nanti pada saat Ibu check out, tagihannya ada di receptionist dan kami potongkan dari satu juta tadi.”
Mudah-mudahan si ibu menor ngerti.
“Lah, saya kira saya sudah bayar mahal boleh makan sepuasnya di restoran hotel, mbak. Taunya masih harus bayar lagi, ya?”
Gubrak!
“Iya, Bu. Harga yang Ibu bayar hanya untuk kamar dan sarapan saja. Di luar itu, harus bayar lagi.”
“Berarti yang ada di kamar semuanya sudah gratis, dong?”
Maksudnya, TV, DVD, sofa dan kasur boleh dibawa pulang, gitu?
“Di kamar ada beberapa item yang berbayar, Ibu. Minibar, laundry, dan telepon ada chargenya.”
“Waduh, yang gratis cuma tidurnya aja dong, mbak?”
Saya hanya nyengir asem. Maksud loh?
***
Seorang ibu-ibu tambun yang juga minta kamar tipe paling mahal tiba-tiba nanya-nanya ke saya setelah proses check in selesai.
“Oh ya mbak, dari sini ke Legian berapa lama ya?”
“Kurang lebih 15 menit, Bu.”
“Bukannya Seminyak ke Legian dekat saja, ya?”
“Iya Bu. Sebenarnya tidak jauh. Hanya saja karena jalannya kecil dan banyak mobil lewat, jadinya macet.”
Si Ibu mengangguk-angguk. Untungnya saya tak perlu menjelaskan perbedaan kredit card dan debit card pada saat ibu ini membayar deposit karena dia bawa lembaran ratusan ribu bergepok-gepok.
“Mobil besar bisa lewat gak sih, mbak?”
Heran. Sejak kapan mobil dilarang lewat.
“Tentu boleh, Bu. Hanya saja kalau bawa mobil ya siap-siap kena macet. Sepanjang raya Seminyak sampai Legian itu padat sepanjang hari.”
“Paling aman jalan subuh aja kali ya?” Si ibu nyengir-nyengir gak jelas.
Saya jadi curiga. Si Ibu ini bawa mobil besar, jalan ke Legian subuh-subuh. Mau ngapain, coba? Sayapun gatel bertanya,
“Memangnya Ibu mau ngapain subuh-subuh ke Legian? Bar paling pagi tutup sekitar jam 3.”
“Saya mau antar barang mbak ke Legian. Barangnya besar, dan diangkut pakai mobil besar. Makanya saya tanya mbak, mobilnya boleh gak lewat situ.”
Masih kepo, saya nanya lagi, “ Memangnya mobil ibu sebesar apa?” Karena untuk kategori mobil, menurut saya yang paling besar adalah jenis Pajero Sport atau Fortuner. Saya sendiri paling senewen kalo ketemu dua jenis mobil ini di jalan. Bukannya kenapa-kenapa, jalanan di Bali kan kecil-kecil. Susah nyalip aja karena kedua jenis mobil ini menuh-menuhin jalan dan memblok pandangan.
Si ibu dengan polosnya menjawab, “Truk. Jenis tronton.”
What! Saya langsung mangap, apalagi si Ibu cerita dia jauh-jauh jalan dari salah satu kota kecil di Jawa tengah ke Bali dengan mengendarai truk itu selama sehari-semalam bersama suaminya. Hebat!
Kepo saya belum berakhir. Saya jadi penasaran dimana si Ibu memarkir ‘mobil besar’nya.
“Itu!” Si Ibu menunjuk ke halaman hotel dan disana memang terparkir truk besar karena ketinggian truk tidak muat kalau harus parkir di Basement.
Busyet!