Showing posts with label About My Daily Life. Show all posts
Showing posts with label About My Daily Life. Show all posts

Sunday, 18 March 2012

Terperangkap di Hotel


Saya pertama kali ke hotel sekitar empat tahun lalu, saat seorang kenalan mengundang saya makan malam di sebuah hotel mewah di belantara kota metropolitan, Surabaya. Saya yang orang ndeso dibuat berdecak kagum dengan apa yang saya lihat di lobby dan restoran hotel berbintang saat itu, yang seumur-umur hanya bisa saya lihat di TV. Saya juga setengah mati iri dengan staf-stafnya yang kerjaannya hanya ngurusin satu meja saja. Saya berpikir, enak kali ya kerja di hotel?  Sampai tahun berikutnya Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan mengirimkan seorang sponsor yang mau berbaik hati membantu saya mendapatkan pendidikan perhotelan.

Singkatnya, semenjak itu saya tejun ke dunia hotel. Dan ternyata, dunia perhotelan itu dalam kenyataannya memang tak seindah yang selama ini saya bayangkan. Banyak hal baru yang dipelajari setiap harinya, mulai bertemu dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai karakternya, sampai standart operasional yang harus benar-benar dijaga dalam bekerja, belum lagi harus belajar mengontrol emosi dan berusaha tersenyum setulus-tulusnya di depan tamu padahal aslinya bête setengah mati mikirin hal lain di luar kerjaan.

Sementara itu, di dalam hotel sendiri, selain belajar, saya juga mengalami hal-hal konyol tak terduga yang mewarnai hari-hari saya dalam bekerja. Hal konyol tak hanya terjadi karena kekacauan di luar standart, tapi juga ternyata ‘tercipta’ dari kawan-kawan saya sesama associate dan tamu hotel itu sendiri. Bekerja di hotel tidak selamanya menyenangkan, tapi buat saya yang penting adalah mensyukurinya. Saya bersyukur bertemu tamu-tamu yang baik dan tidak banyak maunya, sukur-sukur kalau mereka tipe-tipe big tipper. Sebaliknya, saya juga bersyukur bertemu dengan tamu aneh, pelit dan konyol, karena kekonyolan itu akhirnya bisa menjadi cerita yang saya tulis di jurnal harian saya. Intinya, sekonyol apapun hal yang terjadi di sekitar saya, selelah apapun saya bekerja mengurusi tamu yang beraneka rupa, sesial apapun kejadian yang menimpa saya,  sebenarnya saya amat mencintai pekerjaan saya, dan tetap bangga bisa menjadi bagian dari keluarga besar property dimana saya bekerja. Yes, I do love my Job so much!
  
About Hotel

I'm not going to talk about the definition of the hotel itself or the history of the hotel here. Yang saya maksud about Hotel di sini lebih ke pandangan saya dan juga pandangan menurut orang lain terhadap hotel. Karena tidak semua orang beranggapan sama mengenai hotel. Contohnya di kampung kelahiran saya, ibu saya terpaksa berbohong kepada tetangga yang 'iseng' tanya-tanya apa pekerjaan saya. Setiap kali ibu saya ditanya begitu, pasti beliau akan menjawab, "anakku kerja di pabrik garem". Why? karena kalau Ibu saya bilang saya kerja di hotel, habislah ibu saya diceramahi tetangga karena mereka mengira orang yang kerja di hotel itu perempuan tidak bener. Maksudnya, disamain dengan hotel esek-esek yang di gang Dolly yang terkenal itu.

Teman satu kosan saya yang juga teman sekampus waktu kuliah perhotelan berbeda lagi pendapatnya mengenai hotel. Katanya, kerja di hotel itu seperti babu bersertifikat. Istilah yang moderat namun ironis. Tapi saya pribadi setuju dengan pendapatnya. Seorang hotelier yang berkualitas memiliki pendidikan formal sebagai dasar pengetahuan, dan harus pula memiliki pengalaman praktek yang memadai. Kalau dilihat dari segi edukasi, memang terlihat wah, apalagi sekarang pendidikan formal perhotelan dan pariwisata yang menawarkan program strata satu sampai lanjutan sudah menjamur dimana-mana. Ironisnya, kalau sudah terjun di hotel ya, siap-siap jadi babu. Karena apapun jabatannya di hotel, pada dasarnya semua tugasnya sama, yaitu melayani tamu. Semakin bagus pelayanan yang diberikan sebuah hotel, semakin bagus pula kualitasnya dan artinya semakin mahal pula tariff kamarnya. Kalau dirumuskan ke dalam teori teman saya, semakin bekualitas babunya, semakin mahal hotelnya. Nyambung gak sih?!

Teman saya yang maniak artis, dibela-belain sengsara jadi daily worker di hotel (padahal dia sarjana hukum!) demi bisa bertemu dengan idolanya secara langsung dari dekat. Meskipun tidak bisa teriak-teriak minta tanda tangan dan foto-foto seperti penggemar lainnya, dia sudah cukup puas bertatap muka langsung dan melihat idolanya tersenyum. Saya hargai usahanya yang aneh, tapi memang kalau dipikir-pikir ketemu langsung memang susah, nonton konsernya juga harus rela berdesak-desakan di lapangan, belum lagi resiko kecopetan dan terjatuh karena pingsan. Itupun bisa lihat langsung tapi hanya bisa melongo dari jarak jauh, mau foto juga hasilnya pasti ngeblur karena kamera dipaksa nge-zoom berkali lipat. Kalau ‘nyamar’ jadi housekeeping hotel kan, bisa aja cari-cari kesempatan supaya bisa ketemu langsung meski cuman sebentar. Hotel buat dia adalah tempat paling possible buat ketemu artis meski untuk itu dia harus mengorbankan diri menjadi daily worker karena gak kuat pakai cara borju nginep di hotel, jadi tamu beneran dan ngejar si artis . Halah!

Teman saya yang orang pabrik, lain lagi persepsinya terhadap hotel. Dia yang masih 'lugu', taunya orang yang kerja di hotel itu enak, pakaian rapi, dan gajinya tinggi. Padahal yang sebenarnya, kerja di hotel itu ada beberapa bagian, tidak semuanya enak, tidak semuanya rapi-rapi, ganteng dan cantik dan tidak semuanya bergaji tinggi. Karena di hotel banyak sekali pekerja harian yang cuma diupah 50 ribu per hari selama 9 jam. Itupun kerjanya ampun deh sengsara bagi saya. Seorang gardener atau engineering yang daily worker, juga kasihan sekali nasibnya.

Teman saya yang lainnya lagi beranggapan, bahwa kalau mau kerja di hotel itu harus berijazah sarjana, atau minimal diploma perhotelan atau pariwisata. "Kalau cuma SMK sih, gak bakalan laku," katanya. Saya kira itu persepsi yang SALAH! Karena banyak teman- teman saya yang sukses meniti karir di hotel malahan bukan Sarjana. Contohnya, Health Club Manager saya yang sekarang ijazahnya cuma SMA. Dia meniti karir bener-bener dari nol. Awal kerja cuman jadi therapys. Contoh lagi, Butler manager saya juga seorang perempuan yang bagi saya tegas sekali, usia baru 32 tahun, ijazah cuman SMA dan beliau meniti karirnya dari door girl! Bayangin deh, dari seorang door girl/ greeter menuju butler manager... sebuah prestasi yang membanggakan, bukan???

Sayapun berpendapat sama dengan salah satu motto sekolah perhotelan di Surabaya, bahwa untuk bisa kerja di hotel itu tak perlu gelar, tapi ketrampilan. Percaya deh, itu berlaku buat semua orang. Tinggal kemauan untuk belajarnya itu ada atau tidak.

Bagi saya, dengan bekerja di hotel artinya saya tak pernah berhenti untuk belajar. Seorang hotelier yang peka bisa meraba situasi yang berubah-ubah setiap harinya, karena mau tidak mau, hotelier selalu berhubungan dengan tamu, yang notabene dinamis dan karakternya yang bervariasi. Sejujurnya, saya bukanlah seorang hotelier senior yang memiliki puluhan tahun pengalaman bekerja di hotel. Saya juga bukannya mau cerita mengenai do’s and don’ts menjadi seorang hotelier yang baik. Saya loh masih newbie dan ‘bendera’ hotel saya juga belum banyak. Yang saya mau paparkan di sini lebih ke pengalaman pribadi saya, yang literally sebagai pekerja hotel yang doyan curhat. Karena setiap harinya, sebagai seorang hotelier yang memang belum berpengalaman, kejadian demi kejadian seperti tersetting mewarnai kehidupan saya.

Jadi kesimpulannya,
buat anda yang doyan ke hotel, sadarlah bahwa hotelier itu juga manusia.
Buat anda yang tidak pernah ke hotel, ketahuilah bahwa hotel itu gak selamanya jadi tempat mesum dan maksiat.
Buat anda yang sudah duluan kerja di hotel, bersyukurlah karena jadi hotelier itu bisa ketemu artis. Loh?

Hmmm… Siapa berani jadi the next hotelier?

Thursday, 9 February 2012

Seremnya Makanan Korea

Di Indonesia, masakan Korea memang kurang popular. Restoran yang menyediakan masakan Korea juga sangat jarang. Kalau iseng, silahkan main – main ke hotel. Coba sebutkan hotel mana di negeri ini yang memiliki restoran khusus masakan Korea? Saya kira kok belum ada ya? Kalau dibadingkan dengan Negara tetangganya Jepang, dimana restoran masakan Jepang sudah menjamur di mana-mana, Restaurant makanan Korea memang masih sepi.

Saya sendiri yang doyan wisata kuliner level amatir (baca: doyan banget kalau ada yang traktir, hehehehe) juga baru-baru ini beruntung mencicipi masakan negeri ginseng itu. Ceritanya, teman saya yang orang ekspat Jepang secara tidak sengaja mengajak saya makan siang di restoran Jepang yang sekaligus menyediakan masakan Korea. Bosan dengan masakan Jepang, beliaupun lalu merekomendasikan masakan Korea sebagai alernatif pilihan. Saya kira akan aman karena saya tidak harus (dipaksa) makan ikan mentah ( sashimi maksudnya –yang buat saya yang orang pribumi ini seram sekali ), sayapun pasrah mau diorderin apa sama beliau. Toh saya cuma ditraktir. Iya saya tahu, cheapshit saya lagi kumat.

Meski belum pernah mencicipi masakan Korea sebelumnya, tapi sebenarnya saya tidak buta-buta amat mengenainya. Setidaknya saya tahu apa itu Bulgogi dan Galbi 1,2). Guru bahasa Inggris saya di hotel ngakunya pernah bekerja bareng orang Korea dan beliau cerita kalau hampir 90% masakan Korea itu menambahkan Khimchi sebagai penambah rasa yang mendarah daging sudah seperti  bawang merah bawang putih saja kalau di kuliner kita. Lucunya, khimchi itu menimbulkan bau badan yang khas sehingga orang Korea secakep apapun (yang unyu-unyu yang sering nampang di TV itu looo..) pasti bau badannya bau khimchi! Guru saya juga pernah cerita, selama bekerja di company punya Korea dulu, beliau akan dengan mudah mengenali orang Korea di kerumunan orang karena bau khimchinya yang khas.

Cerita lain, masih tentang guru bahasa Inggris saya (namanya ibu Diah) ini suatu hari hendak mengadakan pesta tahun baru bersama kolega Koreanya. Karena tuan rumahnya orang Korea, ibu Diah pun diminta untuk membantu acara masak-masak di apartemennya. Lagi enak-enaknya motong-motong spring onion, si Korea teriak-teriak complain, kenapa bagian hijaunya dibuang, disisakan yang bagian pangkal yang putih itu. Eh ladalah ternyata kalau di Korea, spring onion itu yang dipakai malah yang bagian daun yang hijau itu, sedangkan pangkalnya yang putih itu dibuang. Lah di kuliner kita kan, yang ijo itu jadi sampah...


*)Kalau ladies masak2, bagian ijo atau bagian putihnya yang dipakai?

Eh, kembali ke cerita awal. Jadi orderan saya sudah datang. Teman Jepang sayapun menerangkan sedikit, yang dia pesankan buat saya adalah nasi campur Korea (sayang saya lupa apa nama Koreanya). Berupa sayur-sayuran, daging, mushroom, dan telur yang masih juicy banget di tengah-tengahnya. Disajikan dalam semacam bowl dari batu yang dipanasi. Nasinya tidak kelihatan, tertutup sayuran dan daging di atasnya. Sayapun mencoba sedikit sayur dan nasinya. Mmmm…. Nyummy!  Sengaja saya tidak menyentuh telur sama sekali, karena tidak terbiasa makan telur mentah. Eh, ladalah teman saya tiba-tiba mengambil alih mangkuk saya dan ‘ngajarin’ saya bagaimana caranya makan nasi campur Korea ‘yang baik dan benar’. Jadi, dengan cueknya dia ambil chopstick saya lalu menganduk semua yang ada di bowl saya sampai telur yang masih meleleh itu bercampur baur dengan sayur dan nasi. Hiiiiiiyyyyyy… sumpah saya ‘jijay’ setengah mati karena telur mentah yang saya hindari malah diaduk-aduk dan sekarang makanan saya jadi tak cantik lagi, malahan lebih mirip makanan bebek. Huh! Masih belum selesai, teman saya malah dengan nyengir kuda mempersilahkan saya makan. Dengan berat hati (dan separo pengin muntah melihat penampilannya) sayapun melahap suapan pertama. Eh, enak ternyata. Sayapun berimajinasi membayangkan nasi goreng pojok langganan saya dan memperhatikan teman saya ngobrol untuk mengalihkan konsentrasi makan saya. Duh!


*)Nasi campur Korea.
Kalau sudah diaduk-aduk, bentuknya gak akan secantik ini lagi.

Baru suapan kedua, pesanan teman sayapun datang. Dia sempat menyebutkan namanya ‘sannakji’. Yang datang adalah seekor gurita hidup yang masih menggelepar-gelepar di piringnya! Dan dengan sadisnya itu gurita yang masih meronta-ronta itu di’jagal’ di TKP! Ooouuughhhh!!!!! Kalau yang satu ini, biarpun ditawarin dengan imbalan apa juga, saya gak mau makan!!!

Note:

  1. Bulgogi : Daging sapi lada hitam
  2. Galbi    : Iga panggang
  3.  Khimchi: bumbu masakan Korea beupa sayuran yang telah difermentasikan

Wednesday, 27 July 2011

Malang, My Favourite Place to visit


Disaat saya selalu merasa malas dan mengantuk dalam bekerja, setiap kali saya merasa waktu lima menit berjalan begitu lambat seperti seharian, dan di saat saya merasa bosan luar biasa, saat itulah saya merasa perlu jalan-jalan.

Saya sangat bersyukur karena hotel dimana saya bekerja memberikan libur 2 hari per minggu (belum termasuk annual leave dan hari libur nasional), yang memberikan saya waktu cukup banyak untuk bisa mengisi waktu libur saya dengan jalan-jalan dan refreshing. Jadilah, waktu libur bagi saya adalah penyelamat jiwa dan raga saya dari rutinitas dan stress di tempat kerja. Lebih beruntung lagi, section department saya memiliki seorang SPV leader yang sangat murah hati memberikan kelonggaran untuk kami-staffnya me-request kapan kami akan mengambil cuti/libur, meskipun tak ada jaminan 100% dikabulkan, setidaknya kami bisa berharap dengan melihat situasi dan kondisi hotel saat itu—apakah sedang weekend dimana adalah hari-hari teramai selama seminggu di hotel, apakah sedang musim liburan sekolah, atau sedang ada hari libur nasional. Dan itulah yang menyebalkan—karena bekerja di hotel artinya tidak bisa libur di saat orang lain libur—menyedihkan memang.

Dan bicara mengenai liburan, saya merasa sangat perlu cerita tentang tujuan liburan favorit saya—Malang.

Jujur saja, kota Malang menjadi tujuan favorit saya dalam berlibur karena 3 hal; berhawa dingin, dekat dengan Surabaya, dan makanannya melimpah dan murah. Selain alasan tambahan karena nenek saya tinggal di sana, atau Harajuku yang kebetulan juga tinggal disana karena harus menuntut ilmu di UNIBRAW, bagi saya Malang adalah kota paling ideal yang tak pernah saya bosan mengunjunginya.

Bekerja selama 5 hari seminngu dan stress berat di Surabaya, bisa disembuhkan selama 2 hari di Malang. Dan ada banyak sekali cara untuk menikmatinya. Kalau saya, palingan menyiapkan budget paling banyak Rp.50,000 sekali jalan untuk berwisata kuliner di seluruh penjuru kota Malang. Favorit saya adalah daerah sekitar Batu dan Songgoriti dan daerah sekitar kampus—jalan Gajayana dan sekitarnya. Hanya dengan modal Rp. 50,000 tersebut, saya sudah sangat puas mencicipi berbagai macam makanan yang sangat jarang saya temukan di Surabaya, seperti rendang Malangan, penyetan jamur dan berbagai masakan rumahan yang banyak saya temui di warung-warung tanpa nama di gang- gang kecil yang umplek-umplekan dengan kosan mahasiswa. Harganya seragam, berkisar antara 4-5ribuanper porsi. Kalau mau lebih murah dan enak, saya biasanya makan di gang Kerto Pamuji (masih di sekitar Jalan Gajayana) dan memesan penyetan jamur, indomie goreng, teh hangat, dan pisang hijau dengan membayar hanya 6ribu! Dan biasanya setelahnya saya sudah tak kuat makan-makan lagi karena sudah terlalu kekenyangan. Lucunya, di Malang juga dengan mudah ditemukan berbagai masakan khas dari seluruh Nusantara selain masakan padang (yang memang dengan sangat gampang ditemukan dimana-mana) tentunya, contohnya menu es pisang ijo dan cotto Makassar yang memang asli dari Makassar (dan rasanya original lho, karena juru masaknya dengar-dengar adalah seorang daeng dari daerah asalnya), karedok, mie kocok, dan asinan yang konon dari Jawa Barat, gudeg dari Jogja, hingga masakan Bali seperti lawar hingga babi guling!

Kalau sedang tidak ingin makan makanan yang berat-berat, saya seringnya jajan jajanan yang banyak dijual orang di pinggir jalan dengan pilihan menu yang sangat bervariasi, mulai dari pentol dan cilok (dengan saus kacang, kecap, saos tomat, dan sambal yang selalu bikin saya ketagihan), empek-empek (aslinya memang dari Palembang tapi dengan sangat mudah bisa ditemukan di sini dengan harga antara Rp. 1.000 – Rp. 1.250 per buahnya), roti goreng berbagai bentuk, aneka gorengan seperti tahu petis, pisang molen, onde-onde, hingga pohong keju. Kalau beruntung bisa juga bertemu dengan penjual kerak telor, rangin, dan kue cucur. Kangen jajanan tradisional yang benar-benar kuno seperti ketan bubuk kedelai? (bukan ketan durian loh..) silahkan jalan- jalan di sekitar Suhat (Soekarno-Hatta) di atas jam 7malam! Atau kangen dengan cenil, lupis dan kicak? Roti kukus? Pisang kipas? Atau leker? Atau.. pernah dengar Roti canai? Roti maryam? Bakpau telo? Siapkan motor dengan bensin yang cukup dan bersiaplah jalan-jalan di seantero jalan Gajayana mulai jam 10 pagi hinggan jam 9 malam dan anda akan mudah menemukan jajanan yang anda inginkan!

Mungkin karena berada di daerah yang lebih banyak mahasiswa ketimbang penduduk lokalnya, warung-warung dan stan penjual makanan hingga gerobak pun disulap sedemikian menarik dengan gambar-gambar unik dan cat warna warni, bahkan kadang-kadang dengan nama dan logo yang unik untuk menarik pembeli (yang rata-rata mahasiswa). Seperti Yoguchi (ini sih franchise lokal jualan yogurt rasa buah), es kutub (saya juga bingung kenapa dinamakan es kutub padahal fisiknya mirip dengan es oyen), nasi goreng arang (promosinya sih tanpa minyak dan rendah kolesterol), atau bakso hidayah (saya berfikir setelah mengkonsumsi bakso ini orang akan mendapatkan hidayah). Yang lucu, ada sebuah kedai makan untuk mahasiswa yang letaknya di depan kampus Univ Muhammadiyah Malang, namanya kedai Assalamualaikum. Sorenya, saya kebetulan jalan-jalan di jalan Gajayana dan mampir di kedai Wa’alaikum salam. Saya yang tertawa terpingkal-pingkal saat itu berfikir, apa pemilik kedua kedai makan ini dulunya kenalan lalu bersaudara sehingga nama kedainya menjadi seperti itu. Namun, sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya.

Malam hari, bukan berarti tak bisa wisata kulineran lagi. Jujur saya bosan karena menu makan malam hampir semuanya seragam; kalau bukan nasi goreng dan sejenisnya, ya.. aneka penyetan ayam, bebek, seafood dan sejenisnya. Sayapun cari alternative lain. Saya paling betah nongkrong berjam-jam di café-café pinggir jalan yang hanya buka malam hari di sekitar jalan Dinoyo atau Suhat. Meskipun kopi yang disediakan hanya kopi sachet pasaran semacam Nescafe atau Indocafe, namun snack yang ditawarkan cukup beragam, enak dan penampilannya menarik. Sebut saja roti bakar, pisang bakar keju atau cokelat, atau  roti panggang keju. Ditata di piring plastic warna putih dengan hiasan keju, strawberry segar dan susu kental manis coklat, rasanya sudah cantik meskipun cutleriesnya (berupa dessert fork) masih kaki lima banget. Dengan harga 6 ribu per porsi, saya bisa menikmati pisang bakar keju lezat sambil menggoda mas-mas mahasiswa (yang tentunya brondong abis) yang sedang belajar jadi entrepreneur ini. Hehehe… meskipun terkesan ecek-ecek, bagi saya pribadi menghabiskan waktu di café pinggir jalan sambil ngopi- sambil makan pisang bakar- sambil main poker dengan teman-teman-sambil menggoda mas-mas brondong mahasiswa korban study entrepreneurship ini jauh lebih menyenangkan dari pada ke cafe mahal-minum-dance-mabuk dan uang habis (apalagi, café semacam ini sulit ditemukan di Surabaya. Palingan di jembatan Merr—itupun tidak sebagus dan selengkap yang di Malang). Yang lebih asyik, meskipun kaki lima dan tempatnya pun numpang di teras-teras toko yang sudah tutup, café berondong ini dilengkapi dengan free wifi dan colokan listrik, jadi bisa internetan sambil ngopi sampai pagi, juga dilengkapi dengan TV layar lebar –yang biasanya hanya dilirik jika ada pertandingan bola. Saya pernah bela-belain nongkrong di café ini jam 5 sore padahal tiger cup final Indonesia vs Malaysia baru dimulai jam 8! Dan memang seru!

Kalau mulai kepanasan di Malang, biasanya saya langsung tancap gas ke Batu, bukit panorama dan Songgoriti. Selain hanya iseng jalan-jalan naik motor sambil menikmati pemandangannya yang indah, wisata kuliner yang wajib dan tak mungkin saya lewatkan adalah bersantai di wisata payung dan menikmati jagung bakar dan lagi-lagi; kopi sachetan. Menu andalannya sebenarnya adalah sate kelinci dan degan bakar. Tapi terus terang saya belum pernah mencoba keduanya. Meskipun nyaman, namun harga makanan disini 2 kali lipat harga makanan di Malang. Selain itu, banyaknya pengamen di lokasi ini seringnya membuat saya gerah. Baru juga saya menyeruput kopi susu yang saya pesan, sudah ada 3 pengamen berbeda yang mendatangi saya. Pengamen disini juga aneh, jadi kalau dalam 1 kedai ada 8 meja dan semuanya terisi, maka dia akan menyanyi berurutan di 8 kursi. Yang nyebelin, itu pengamen gak mau pergi kalo belum dikasih duit. Ampun deh! Pas saya keluar dari kedai, saya hitung-hitung saya menghabiskan 8ribu untuk 8 orang pengamen, padahal dengan uang segitu kan, saya bisa makan minum kenyang dan enak di gajayana, hiks! Triknya, kalau mau ke sana lagi, biasanya saya bawa koin pecahan seratus rupiah sebanyak- banyaknya. Total 10 pengamen yang datang, saya kasih semuanya 100 rupiah per orang. Hehehehe… Sekali-kali pelit boleh dong…

Kegiatan lain yang rutin saya lakukan selain wisata kulineran adalah ngenet sampai laptop saya teriak-teriak kepanasan. Tempat favorit saya adalah kampus Unibraw. Lokasinya yang nyaman dan aman, serta kaya akan signal hotspot (dengan speed yang bisa diandalkan) hampir di semua area, menjadikan saya betah ngenet berjam-jam. Dulu sih, tanpa ada site pengaman. Tapi sekarang, untuk menggunakan wifi-nya sudah di proteksi dengan login menggunakan NIm (nomor Id mahasiswa). Saya sih gampang, biasanya saya tinggal pakai nomor ID harajuku, sedangkan Harajuku nodong punya temannya. Saya akui saya memang cheapshit. Hehehe…

Kalau kegiatan kulineran dan ngenet saya sudah bosan, sayapun “lari” ke hobby lama saya membaca buku. Biasanya sih, ke Gramedia atau Toko Buku Togamas. kalau sedang kaya raya (baca: abis gajian) saya membeli beberapa buku dari author favorit saya yang saya inginkan sejak lama. Kalau uang lagi cekak, saya biasanya kabur seharian ke perpustakaan umum di pusat kota Malang dan seharian membaca buku incaran yang harganya mahal tak terbeli oleh saya. Karena KTP saya luar kota, saya tak diberikan fasilitas pinjam, yang artinya mau tak mau saya harus baca buku di tempat. Meskipun ngoyo dan kadang mata saya sampai sakit karena kelamaan membaca, saya puas dan tak pernah bosan. Terlebih situasi perpustakaan yang bersih dan staff yang ramah, membuat saya makin betah. Tak heran jika perpustakaan favorit saya ini dinobatkan sebagai perpustakaan terbaik di Indonesia tahun 2010!

Musim hujan, disaat saya paling malas keluar rumah, biasanya saya keluar sebentar untuk menyewa DVD di Supernova dan membeli cemilan di alfamart, lalu nonton sambil selimutan kedinginan sambil ngemil. Nikmat! Yang asyik, harga sewanya buat saya sangat terjangkau. Hanya Rp. 10.000/ 5 film untuk 5 hari! Jauh lebih murah jika dibandingkan dengan di Surabaya yang harganya Rp. 5.000/ film. Dengan budget Rp. 10.000, sayapun puas mengublek-ublek seluruh film yang ada dan menghabiskan waktu seharian nonton 5 film. Puas!

Kalau malas sekali dan ingin istirahat total, saya kira ke Malang juga pilihan tepat. Saya bisa hibernasi seharian tanpa AC atau kipas angin, karena udaranya yang dingin mengusir gerah membuat orang mudah  mengantuk. Kalaupun tidak ingin tidur, hanya rebahan sambil mendengarkan music atau menonton TV seharian.
Ah, sewaktu menulis ini, saya jadi ingin sekali ke Malang.


The 4th of July


Mumpung masih fresh dalam ingatan dan setelah menggabungkan beberapa tulisan sporadis saya, post kali ini saya ingin share mengenai 4th of July moment yang sukses digelar tanggal 4 Juli lalu di hotel tempat saya bekerja.

Jadi begitulah ceritanya, tanggal 4 lalu, US embassy yang ada di Surabaya merayakan hari kemerdekaan tersebut di hotel, and you know that, Amerika sudah sangat terkenal sebagai ngara yang paling rese soal keamanan. And it means that sekuriti di hotel bakalan jauh lebih resek dari sebelumnya. Jauh-jauh hari sebelumnya, semua staff hotel wajib mengumpulkan fotokopi ktp yang sampai sekarang saya masih kurang jelas tujuan utamanya untuk apa. Lalu, diadakanlah beberapa meeting khusus untuk event ini (yang juga jauh-jauh hari sebelumnya). Bahkan sudah diwanti-wanti jika khusus untuk tanggal ini, semua staff harus full team, alias tidak ada satupun yang diliburkan (maksud loh?).

Dan jadilah.. keresean demi keresean satu persatu mulai saya alami.

Pertama, saat hendak masuk ke loading dock yang harus melalui pintu belakang shopping mall yang lokasinya empet-empetan dengan hotel, banyak polisi yang berjaga-jaga memblok jalan sehingga mau masukpun susah karena jalan yang biasanya dilalui pengguna jalan menuju shopping mall ini cukup ramai dan beberapa ruas jalan di blok. Halah!

Sampai di loading dock, beberapa polisi juga terlihat berjaga-jaga di area lot parkir paling dekat hingga ke ruang hand key para karyawan. Yang bikin mangkel, kok ya polisinya tidak ada satupun yang ganteng (hehehe..). setelah hand key, mau masukpun tas dan pakaian masih diperiksa sekuriti padahal biasanya saya cuek nyelonong saja. Otomatis, waktu saya yang sudah mepet mau telat jadi molor dan benar-benar mendekati telat. Masuk ke loker, kok ya masih bertemu dengan polisi yang sibuk jalan di koridor. Ampun deh ampun....!

Saat incharge, rupanya hotel sudah berasa jadi markas kedua polisi! Saya lihat mulai dari main gate, parkiran, seantero lobby, ballroom untuk acara inti, semua cafe dan restaurant, pool, dan koridor semua dijaga ketat oleh polisi. Bahkan khusus lantai 27 tempat para diplomat dan ambassador dijaga ketat oleh beberapa polisi dan bodyguard, dan untuk bisa masuk maka siapapun itu (termasuk tamu hotel biasa) harus menunjukkan Id atau tanda pengenal ke petugas. Ya oloh...!

Selain polisi, saya lihat juga banyak sekali bersliweran sekuriti dari US embassy sendiri yang seragamnya juga coklat (tapi warnanya lebih muda) seperti seragam polisi dan beberapa atributnya yang kurang lebih hampir sama. Bisa dibayangkan, aktivitas hotel yang biasanya ramai, hari itu jauh lebih ramai saking banyaknya staff yang full team dan para petugas luar (sekuriti dan polisi) yang berjaga-jaga dan bersliweran kemana-mana. Sekuriti hotel sendiri, saya lihat adem ayem dan tidak begitu terpengaruh dengan acara ini. Yeah, I’ve never know what is on their mind, seperti yang sudah pernah saya ceritakan, seperti apa gambaran mereka.

Dan seperti yang saya duga, keamanan yang amat sangat rese pun terjadilah. Pertama, akses menuju lobby menjadi traffic karena ketatnya pemeriksaan di main gate. Barang apapun yang masuk ke hotel pun digeledah hingga sampai dalam-dalamnya oleh petugas. Saya sampai tergelak melihat seorang petugas memeriksa buket bunga yang dibawa seorang florist hingga ke sterofoam dan membolak balik bunga hingga ke daun-daunnya!  

Puncaknya adalah acara penyambutan kedatangan ambassador. Mulai jam 4, semua petinggi hotel termasuk GM sudah bersiap-siap di lobby. 4.15, saat saya seharusnya istirahat, terpaksa harus dipending dulu hingga ambassador datang. Huh! Beberapa tamu yang sedang menunggu mobil di lobby bahkan harus di ’pinggir’kan karena benar-benar sterilisasi area lobby khusus ambassador.  Wuihhh... and finally guys, jam 4.45 sebuah mobil polisi bak terbuka meraung-raung dan diikuti oleh sebuah mobil Land Cruiser Prado dengan plat bercat putih dan sempat saya perhatikan nopolnya CC xxx. Semua petinggi hotel yang sudah bersiap-siap segera menyambut si ambassador (yang ternyata seorang ibu-ibu berwajah Asia, mirip orang Indonesia dan seorang bule pria yang ‘biasa-biasa’ saja) menuju ke arah lift ke lantai 27 (padahal saya membayangkan akan ada iring-iringan super panjang yang terdiri dari beberapa mobil polisi dan pejabat keduataan yang kesemuanya bule). Yah, ternyata antiklimaksnya gini doang!

And the event run so well...  meskipun saya yang akhirnya bisa break harus kembali misuh misuh karena antrean di kantin sudah seperti orang ngantri sembako saking banyaknya staff yang incharge hari itu.

Soerang tamu saya ‘gatal’ bertanya,
“Kok ramai sekali banyak polisi di depan, ada acara apa ya mbak?”
“4th of July, Bu.” Karena event ini bukan untuk umum, jadi tidak boleh di share secara bebas apalagi untuk tamu yang tidak berkepentingan. Ibu-ibu tersebut lalu mengangguk-angguk, dan berlalu.
Pak sekuriti yang sedang incharge sama saya pun tiba-tiba ‘gatal’ juga bertanya sama saya,
“kenapa mbak tadi?”
“fourth of July”, saya jawab lazily.
“Uh, gak mesti. Belum tentu tamu tahu apa itu 4 juli.” Si sekuriti resek mencibir saya.
Eh, belum juga saya sempat membalas, seorang tamu hotel yang sedang lewat lagi-lagi bertanya ‘ada event apa kok rame banyak polisi’ pada saya. Dan setelah saya jawab fourth of July, si Bapak tamu saya pun automatically menjawab,
“Oohh... hari kemerdekaan Amerika toh..?”
Tuh kan mas sekuriti.... rasanya di dunia ini Cuma kalian saja yang gak tahu 4th july itu apaan!   

Sebuah PR, Proses dan Kenangan



Mulai post ini dan selanjutnya, saya akan mempublish beberapa tulisan saya mengenai pendapat saya tentang beberapa Top hotel di Bali selama saya melaksanakan On The job Training. Tulisan – tulisan tersebut dulunya adalah Pe-er dari Papi yang ditujukan supaya saya mengenal hotel-hotel lain selain hotel tempat saya training, menganalisis berbagai hal di dalamnya, seperti bengunan, arsitektur, lokasi, makanan dan minuman, keamanan, service, hingga hygiene. Tulisan –tulisan berbahasa inggris yang ampun-deh-mawutnya itu sengaja tidak saya edit alias saya biarkan seperti aslinya, karena tulisan – tulisan tersebut adalah dokumentasi dan bagian dari proses—dari yang dulu bahasa inggris saya amat sangat parah hingga kini hanya tinggal parahnya saja. Isinya berupa beberapa penilaian saya mungkin terlalu subjektif, karena memang saya menilai dari sudut pandang saya secara sepihak.

Overall, selamat membaca! 

It’s all about my boarding house (part-2)



So, post ini merupakan kelanjutan dari post sebelumnya. Masih mengenai kos – kosan yang complicated.


Saya sendiri sebenarnya bukanlah seorang tipe orang yang rewel masalah kos – kosan. Kosan ideal buat saya tidak harus besar, punya fasilitas lengkap dan mahal. Buat saya yang penting nyaman, air bersih dan lancar, lingkungan bersih dan kapasitas listrik memadai, itu sudah cukup.  Meski lokasi agak jauh dari pusat kota, bagi saya itu bukan suatu kekurangan.

 Malahan kalau lokasinya ada di pusat kota, akan membuat saya repot sendiri. Saya paling malas berdesak – desakan naik angkot, tapi juga saya kurang mahir mengendarai sepeda motor, satu-satunya alternatif kendaraan yang bisa saya gunakan karena di kota besar semacam Surabaya, Jakarta atau Denpasar, karena takut akan lalu lintas yang sangat padat dan saya paling benci jika harus putar arah, potong jalan atau belok. Dan tentunya juga sangat tidak nyaman kalau kemana-mana naik sepeda. Tapi di daerah sepi yang melipir agak jauh dari kota, setidaknya saya tidak terlalu khawatir mengendarai sepeda motor sendirian. Ya, seperti kosan yang di Bali. Setiap kali pulang kerja bagi saya adalah berwisata. Saya bisa mengendarai motor pelan – pelan sambil menikmati pemandangan di sekeliling tanpa khawatir tertabrak/menabrak. Kenapa pulang kerja? Saya selalu terburu – buru saat berangkat kerja  karena seringnya saya berangkat 30 menit sebelum saya incharge. Hehehehe…
Sepulangnya dari Bali dan mendapatkan pekerjaan baru di sebuah Hotel di Surabaya, sayapun harus siap- siap cari kos-kosan lagi yang lokasinya dekat dengan hotel karena saya tak mau repot-repot naik angkot. Well, setelah kesana kemari mencari kos, jatuhlah pilihan saya di kosan di gang 8. Karena lokasinya yang dekat dengan tempat kerja, tanpa lihat – lihat lebih teliti lagi, saya pun deal saja membayar uang muka untuk kamarnya.

Kosan saya kali ini terletak tepat di muka jalan raya gang 8 yang merupakan jalan utama penghubung antara kelurahan X menuju kelurahan Y. Memang hanya sebuah gang kecil yang lebarnya tak lebih dari 4 meter, tapi karena merupakan jalur utama, maka jalan inipun sangat ramai sehari-harinya. Mulai dari pejalan kaki, becak, motor, mobil sampai truk semua umplek-umplekan masuk dan membuat macet. Namun tinggal di daerah seperti ini, kelebihannya, mudah sekali bagi saya yang pemalas ini menemukan warung makan saat saya tiba-tiba lapar, atau laundry jika pakaian kotor saya menumpuk tapi malas mencuci sendiri.  Saya pun semakin mantap memutuskan untuk pindah kos dari kosan lama di Surabaya barat ke kosan baru ini.

Tapi alangkah kecewanya saya saat saya mengetahui kondisi kosan yang sebenarnya, benar-benar tidak sesuai espektasi. Benar-benar mengecewakan. Yang tersisa hanya dongkol dan menyesal kenapa saya buru-buru ingin pindah dan deal telah membayar uang kosnya padahal saya belum melihat kondisi kamar secara keseluruhan.

Separah itukah? Well, sepertinya saya harus jelaskan secara mendetail satu persatu.

Pertama, kamar yang saya kira luas (saya lihat dari luarnya saja sebelumnya) ternyata haya berukuran 3 x 3 meter! Tidak ada ranjang, apalagi perlengkapan elektronik. Cuma ada kasur dan bantal, itu pun tak ada spreinya, lalu ada satu lemari pakaian yang sudah parah kondisinya; tak ada kuncinya, dan sebagian kayu dan tripleknya sudah longgar. Butut sekali lah pokoknya. Penerangan di kamar hanya berupa lampu neon 5 watt yang bagi saya terlalu gelap. Tirai dan keset juga tidak ada. Cat tembok yang seharusnya berwarna putih sudah mulai kusam kekuningan.

Kedua, meskipun sudah membuka pintu dan jendela koridor, kamar saya tetap terasa pengap dan panas. Saya nyalakan kipas angin non-stop 24 jam. Tapi kok ya tetap tidak berubah lebih sejuk. Belakangan saya baru tahu kalau atap kamar saya itu terbuat dari seng yang bawahnya ditutup plafon dari triplek!

Ketiga, air yang dipakai di kosan ini berasal dari air tanah yang alirkan melalui pompa. Padahal, tetangga sekitar hampir semuanya memakai air PAM. Mending kalau air tanahnya ini layak pakai. Lah, air di kosan ini berwarna dan berbau! Baunyapun khas, bau got! Yep, saya tidak hiperbol tapi begitulah kenyataan yang sebenarnya. Jika saya menadahkan telapak tangan saya di aliran air dari kerannya, air akan terasa kasar karena ada serpihan – serpihan pasir. Jika airnya diendapkan, endapan lumpurnya lumayan tebal. Selain itu, air yang keluar sedikit berbuih seperti air soda.  Bagi saya yang jarang menggunakan air di kosan karena seringnya saya mandi di tempat kerja, bagi saya masalah air tak begitu saya hiraukan. Apalagi saya tidak perlu mencuci peralatan masak karena saya tidak memasak dan kalaupun makan saya biasanya langsung di warungnya dan tidak pernah take away. Mencuci juga jarang, karena lahan jemuran yang terbatas. Memang tidak setiap hai kondisi air seburuk itu, karena kadang-kadang air yang keluar juga bersih dan jernih. Lantas?

Well, masalah baru timbul setelah salah seorang teman main ke kosan saya. Ceritanya, karena kondisi kamar saya yang panas, teman tersebut kegerahan dan memutuskan mandi di kamar mandi kosan. Besoknya, kulit lengannya melepuh merah dan beruam-ruam. Setelah ke dokter, teman saya diberitahu dokter bahwa dia terkena herpes gara-gara mandi dengan air kotor! Yep, setelah kejadian itu, saya tak pikir panjang lagi segera angkat kaki dari kosan!

Keempat, terlepas dari masalah air yang kotor, kondisi kamar mandi di kosan ini sangat parah. Untuk 8 kamar dengan 10 orang penghuni, sebetulnya dua kamar mandi dengan dua toilet di dalamnya sudah cukuplah. Tapi masalahnya toilet yang ada seringkali mampet, sehingga menimbulkan pemandangan yang menjijikkan bagi siapa saja yang melihat. Entah sudah berapa tahun wcnya tidak disedot karena dari dua wc yang ada, kedua-duanya loh mampet semua! Kondisi makin diperparah dengan pintu kamar mandi yang dua-duanya anjret;tidak bisa ditutup sempurna kecuali dengan cara mengangkat sedikit bodi pintunya lalu ditarik/didorong. Silahkan anda membayangkan bagaimana repotnya jika tiba-tiba anda dalam kondisi saya, mendapatkan panggilan alam dan harus ke toilet dengan kondisi seperti itu! Huek!!!

Kelima, masalah jemuran. Yep, seperti yang sudah saya singgung tadi, disini lahan untuk jemuran sangat terbatas. Meski saya langganan laundry, tapi kadang – kadang saya juga mencuci sendiri, tapi seringnya kapok, karena cucian saya hilang. Yang lebih menjengkelkan lagi, si tangan ini ternyata brand minded sekali. Alias hanya mengambil barang – barang yang ada merk-nya saja. Yang mengherankan, ternyata tidak hanya baju/barang bermerk, tapi G-string La Senza saya juga raib! Hello… celana dalam kok ya masih diembat??!!

Keenam, lahan parkirnya itu loh, sempiiiiittt… sekali! 10 orang yang tinggal di kosan kok ya semuanya bawa motor sendiri – sendiri. Jadilah parkiran bejubel tidak karuan dan seringnya motor saya gores dan lecet – lecet. Dan saya pastinya harus hipertensi dulu setiap kali harus memasukkan/mengeluarkan motor karena itu artinya perjuangan! Belum lagi harus jinjit – jinjit angkat kai karena septic tank yang terletak di lahan parker seringnya luber dar parkiran hingga ke jalan!Duh!

Ketujuh, dan paling tidak bisa saya tolerir adalah berisik. Yep, ke-sepuluh orang yang kos disini tuh rupanya sudah pada budge semua kupingnya. Kalau mau iseng tengok, di tiap kamar pasti terlihat ada external sound. Gede-gede lagi! Jadi setiap kali mereka nonton TV atau Cuma iseng dangdutan, dah pasti suaranya kemana-mana. Mending kalau Cuma satu kamar yang berisik, lah ini hamper semuanya gitu udah kaya saingan! Maleman dikit, saat bunyi-bunyian sudah reda, eh lah gantian warung yang letaknya pas di depan kosan yang berisik karena di warung sedang menayangkan acara sepak bola. HOEEEEYYYY….saya mau tiduuurrr…!

Kedelapan dan paling membuat saya dongkol adalah ibu kosnya. Si Ibu kos ini sudah agak tua tapi masih cantik dan dandanannya suer-ABG banget. Kalau lagi ngobrol bawaanya pamerin kucing-kucing rasnya yang lagi perawatan di salon dan satunya lagi sedang dirawat di rumah sakit kucing karena sedang sakit (ya oloh, ini kucing loh!). Kalau saatnya bayar kos, ibu yang satu ini paling rajin sms mengingatkan pembayaran uang kos yang jatuh temponya masih seminggu lagi. Tapi kalau dikomplen mengenai keadaan kosan, ya pastinya dia iya iya saja tapi tidak ada follow upnya. Padahal sewa kosan yang saya bayar itu tidak murah loh… 100 ribu lebih mahal dari pada kosan militer yang fasilitasnya lengkap. Kos di sini memang makan ati. Hiks!

Karena berbagai alasan yang selalu bikin dongkol inilah, saya hanya bertahan dua bulan dan akhirnya hengkang nebeng ke kosan salah satu teman saya sebelum saya menemukan kosan yang sesuai untuk saya.

It's All About My Boarding House

Sebagai orang rantau, mencari tempat tinggal semacam kos-kosan atau rumah kontrakan adalah salah satu bagian yang bagi saya paling merepotkan.

Setelah 6 tahun tinggal di Surabaya dan sedikit banyak mengenal lika likunya, saya tidak juga mengerti dan paham betapa sulitnya mencari tempat kos seperti yang saya mau. Sewaktu kuliah, tempat kos saya terletak dekat sekali dari kampus, tinggal 5 menit jalan kaki dan sampai. Seorang teman baik saya-lah yang telah berjasa mencarikan kosan yang bagi saya cozy itu. Tempatnya bersih dan nyaman, furniturnya lengkap, tempat tidur lengkap dengan sprei yang bersih, ada kipas anginnya juga. Ruang tamu ada di depan kamar saya memanjang hingga kamar sebelah, meski hanya 4 kursi dan 2 meja, tapi lumayan buat ngerumpi sesama anak kos (yang saat itu memang tak ada kerjaan). Di depan kamar nomor 2, ada lahan untuk jemuran yang lumayan luas dan tempat cuci yang juga luas. Seringkali saat hujan, saya dan teman2 main hujan – hujanan di situ saking luasnya.

Toiletnya meskipun hanya 1 tapi cukup lah buat penghuni yang cuma 4-6 orang. Sebenarnya jumlah kamar di kosan ini 6 kamar, tapi sayangnya tak pernah penuh.  Kamar kos terletak di blok yang terpisah dari rumah induk, tapi kamar- kamar tersebut terisolasi oleh pintu tengah yang dikunci setap jam 9 malam. Dan itulah yang paling saya (dan anggota kosan lain) paling benci. Sebagai ABG labil yang katanya masih mencari jati diri, peraturan kos yang lumayan ketat kadang membuat kami gerah. Yah… di kota metropolis ini kok ya masih ada kosan yang peraturannya seperti di asrama militer. selain larangan pulang malam (jam 9 sih buat saya masih sore), peraturan – peraturan lain yang tidak kalah menjengkelkan pun sering kali membuat saya tidak betah di kosan, seperti dilarang membawa teman baik laki – laki maupun perempuan ke area kosan, dilarang membawa teman menginap, dilarang membawa sepeda motor (atau bakalan dikenakan charge 75ribu/bulan), dilarang membawa barang – barang elektronik kecuali mau dikenakan charge tambahan, harus melepas alas kaki di area kosan (atanya sih untuk menjaga kebersihan tapi belakangan anak kos tahu itu cuma akal – akalan mbak Pah yang tukang bersih – bersih supaya kerjaannya tidak bertambah berat), dilarang buang sampah sembarangan, dilarang masak dan membawa kompor meskipun yang portable (masih dengan alasan yang sama, demi kebersihan)—padahal sebagai mahasiswi perhotelan kan di kampus kami diajarin masak dan mestinya harus dipraktekkan juga sesampainya di kos-- , dan masih banyak lagi peraturan –peraturan lain yang membuat kami semakin gerah. Lucunya, peraturan – peraturan yang telah dibuat oleh ibu kos yang killer itu ditempel di dinding ruang tamu kos- kosan. Jadilah ruang tamu kami sedemikian indahnya, karena setiap kali salah satu dari kami melakukan tindakan yang menurut ibu kos tidak baik, maka hari selanjutnya sudah bisa dipastikan akan ada peraturan baru yang telah tertempel dengan rapi di kosan kami tercinta. Meskipun ketat dan super rese, tapi setidaknya kosan yang satu ini nyaman dan kondusif untuk belajar. Saya sampai betah 2 tahun tinggal di sana.



*)teman kos, Vio and Prisi yang lagi nyuci sambil hujan2 di kosan ala asrama militer


*)kamar saya korban narsis!

Well, setelah kosan ala asrama militer itu, tibalah saat saya harus OJT (On the Job Training) di Bali. Dan selama ojt yang waktunya kurang lebih 6 bulan (plus 2 minggu buat adaptasi), saya pun memutuskan tinggal di sebuah kos kosan di jalan Dharmawangsa (padahal saya ojt di Nusa Dua Resort Area).

Pertama datang, bener2 saya surprise karena kamar kosannya bener- bener kosong melompong tidak ada apa – apanya sama sekali. Seharga Rp. 200,000 lebih mahal dari pada kosan militer, kosan di Bali ini lebih luas tapi kondisinya tak lebih bagus; tidak ada tempat cuci yang luas, dan tidak ada ruang tamunya. Tapi punya kamar mandi dalam dan ada dapur di ujung koridornya. Ibu kosnya sangat ramah dan welcome, bapak kosnya kebetulan bekerja di Resort yang sama dimana saya training, dan anak – anak mereka juga gampang bergaul dan cepat akrab dengan orang baru. As far, saya sangat suka dengan lingkungan baru kosan saya.

Meski tempatnya agak terpencil jauh dari pusat keramaian, tapi justru dengan bergaul dengan orang lokal (bapak ibu kos dan anak-anaknya) saya jadi tahu berbagai tempat bagus non turis yang menarik. Warnet ada tepat di sebelah rumah, yang meskipun tarifnya mahal (jika dibandingkan dengan warnet rata-rata di Jawa), tapi seringkali saya mendapatkan free access dari wifi yang iseng – iseng saya jebol juga dari warnet yang sama (Pssssttt!!! Yang ini rahasia loh ya!!). Kecuali dengan perabotan yang mau tidak mau harus membeli sendiri, saya jadi merasa lebih mendiri karena harus mendekor kamar saya seperti yang saya mau. Saya yang dulunya paling malas memasak, selama di Bali (terpaksa) harus punya skill memasak karena saya tidak suka masakan Bali kecuali nasi jenggo (lihat post sebelumnya). Tiga hal yang menurut saya paling mengganggu hanyalah mengenai bau, tetangga, dan keamanan.

Pertama, mengenai bau. You know lah, di Bali tidak ada bangunan tinggi melebihi pohon kelapa. But, kosan tempat saya tinggal ini berlantai 3. Yeah, sepintas sih mungkin cuma terlihat berlantai 2, tapi ternyata yang 1 lantai lagi ada di bawah tanah. Letak bangunan yang di atas bukit  memungkinkan untuk dibangun sebuah ruangan vertical yang tidak terlihat dari jalan raya. Dan di situlah saya tinggal! Celakanya, tiap kamar yang ada di atas dilengkapi juga dengan toilet. Dan saya sampai sekarang pun masih tidak mengerti kenapa tiba – tiba membaui aroma toilet setiap minimal dua kali sehari. Meski tidak lama, bau cukup mengganggu. Saya pernah complain masalah ini ke ibu kos dan sudah di follow up, tapi tidak ditemukan kebocoran apapun di pipa yang mengubungkan “saluran pembuangan” di tiap lantai. Ya elah…

Kedua, tetangga. Yep, meski sama – sama orang Jawa (dia berasal dari Banyuwangi), bukan berarti kami punya paham yang sama. Meski saya orangnya gak bersih – bersih amat, tapi at least saya tidak bisa tidak risih kalau melihat hal yang kotor. Misalnya, dapur bersama yang ada di koridor cukup luas dan saya menempatkan kompor saya (dan beberapa peralatan masak juga tentunya) di sana. Saat saya hendak memasak atau sekedar mau cuci piring, ya oloh itu dapur sudah berantakan kemana – mana dan peralatan saya pun sebagian dipakai juga dan dibiarkan tergeletak setelah dipakai. Sampahnya juga masih tercecer seantero dapur, gitu. Mau marah kok rasanya tidak etis, ngomel sendiri apalagi. Kebetulan ibu kos saya ini orangnya cintaaa sekali sama kebersihan. Dan sayapun terbantu sekali karena ibu kos-lah yang berjasa membersihkan dapur yang bujubuset ancurnya setelah dipakai masak sama mbak – mbak Banyuwangi itu.

Soal keamanan, Bali jangan ditanya. Buat saya nih, Bali jauuuh..lebih aman daripada di Jawa bagian manapun.  Saya melihat motor diparkir di pinggir jalan sekalian sama kuncinya di Siligita dan baik – baik saja alias tidak ada yang nyolong. Kalo di Jawa? Udah dikunci rapat plus pakai alarm saja masih dibobol, loh. Kos- kosan saya juga kalau malam seringan tidak dikunci pagar halamannya, tapi ya motor fine-fine saja di situ.

Keamanan yang bagus bukan berarti tanpa danya ke-rese-an, lohh… Saat akan keluar dari pelabuhan Gilimanuk, misalnya, semua penumpang wajib menunjukkan ktp. Yang bawa motor atau mobil biasanya juga diminta menunjukkan STNK dan SIM segala. Coba deh menyeberang dari tanjung perak Surabaya ke Madura. Gak ada tuh ceritanya pakai acara menunjukkan ktp segala. Sebaliknya kalau mau pulang ke Jawa, dari Gilimanuk ke Ketapang, juga tidak ada acara menunjukkan KTP ke petugas.

Yang paling rese menurut saya adalah mengenai KIPeM (Kartu Identitas Penduduk Musiman). Suatu hari, jam 5.30 pagi saat saya masih enak-enaknya tidur, ada beberapa petugas dari kelurahan dan beberapa petugas berpakaian tentara menggedor-gedor pintu kamar saya. Saya yang masih setengah mengantuk mengumpulkan nyawa langsung dimintai KTP dan kipem. Ktp sih saya punya. Tapi Kipem? Lah saya kan baru seminggu tinggal, belum sempat lah ngurusin kipem. Sayapun ditodong Rp.200,000 saat itu untuk kipem dan ktp saya di sita. Celakanya, setelah kipem jadi, saya lihat kok ya masa berlakunya hanya 3 bulan. Lah berarti saya kan harus membayar lagi kalau kipem saya habis. Ampun deh ah! Saya kira, urusan kipem Cuma berlaku untuk pendatang, ternyata bapak kos saya pun juga digedor-gedor diminta menujukkan KTP di pagi buta. Nah Lho? 


*)furnitur pertama yang saya beli di Bali


Yang masih muda dilarang beli Mizone!


Tempat saya tinggal tak jauh dari hotel tempat saya bekerja. hanya sekitar 10 menitan jalan kaki. Kebiasaan saya, saya kalau berangkat kerja suka sekalian mampir makan di warung dan beli minuman dingin di toko yang kebetulan letaknya berjejer di sepanjang jalan yang saya lalui meuju hotel. Dan siang - siang panas  begini, saya selalu menyempatkan diri membeli Mizone. Menurut saya enak saja saya minum minuman dingin sambil jalan dan menyumpal kuping saya dengan earphone mendengarkan lagu - lagu favorit saya dari handphone.

Toko yang sering saya datangi untuk beli minuman (paling sering sih merk MIZONE karena rasanya ada macam - macam dan saya tidak pernah bosan), pemiliknya dalah seorang bapak - bapak berkumis tebal yang sudah separoh botak. Mulanya sih biasa saja, saya beli Mizone, bayar, lalu pergi. tapi suatu kali bapak - bapak tersebut menegur saya.
" Mbak ini tiap hari beli Mizone, ya?"
" Iya, Pak." sambil dengan enaknya saya meneguk cairan Mizone yang baru saya beli.
" Kok gak minum air putih saja? Aqua misalnya?" saya jadi bingung. Ini bapak lagi promosi atau bagaimana.
" Saya tidak suka minum air putih, Pak. biasanya ya minum ini."
" Jangan sering - sering loh ya, karena kamu masih muda. Nanti kamu kena sakit ginjal seperti bapak ini."
Saya mengangguk, lalu berlalu.

Tapi besoknya saya balik lagi ke toko itu dan tetap membeli Mizone. seperti sebelumnya, bapak penjualnya yang melayani saya dan menakut - nakuti saya dengan sakit ginjalnya.
" Saya loh Mbak, sampai harus jual mobil gara - gara sakit ginjal begini. Mbak ini yang masih muda, mendingan minum Aqua saja." Lagi -lagi bapak ini promosi.
malas diceramahi, saya lagi - lagi berlalu.

Besoknya lagi, ketika saya membeli Mizone, si bapak menolak. Beliau bilang, Mizone habis. Padahal jelas - jelas saya lihat di tokonya kardus - kardus Mizone masih bertumpuk.
" Ini bapak kasih kamu Aqua, gak usah beli." Saya hanya terperangah. Baru kali ini saya beli tapi dilarang sama penjualnya. Malahan dikasih Aqua gratis.Dan seperti biasa, bapak tersebut malah curhat mengenai sakit ginjalnya.


*) Mizone

Kali ini saya tidak acuhkan. Sepertinya bapak penjual Mizone itu serius. Meski saya menerima Aqua pemberian beliau, tetap saja saya tidak minum. Saya akhirnya minta tolong teman saya untuk membelikan Mizone. Ketika teman saya sampai, sayapun bertanya dimana dia beli Mizone tersebut.
" Di Toko di ujung gang lah. yang penjaganya bapak  botak. Kenapa?"
Oh, ternyata larangan beli Mizone hanya berlaku untuk saya.