Sunday, 22 December 2019

Top 3 Bad Indonesian

Saya hanya sedang ingin mengeluh dan bukan berniat untuk menjelek-jelekkan. Mohon dibaca dengan kepala dingin, mari bersama membuat perubahan. Semoga dengan uneg-uneg ini, bisa membawa perbaikan ke arah yang lebih positif.  Aminkan dulu aja ya...


Pernah tidak, mengalami suatu hal yang sepertinya dianggap biasa saja oleh orang kebanyakan, tapi amat sengat mengganggu bagi anda? I have been living my entire life di Indonesia dan sebagian kecil orang kita memiliki kebiasaan buruk yang mendarah daging. Ada banyak hal sebetulnya, tapi saya ingin membahas 3 teratas perilaku buruk orang Indonesia yang paling menyebalkan.

1. Littering. Alias buang sampah sembarangan.

Sudah jadi rahasia umum jika orang Indonesia itu kesadaran diri untuk tidak buang sampah sembarangan masih sangat rendah. Jika ada yang mengatakan ‘Oh, itu sih karena orang kita masih banyak yang kurang berpendidikan’. I don’t agree with that. Entah karena di negara kita belum ada hukuman bagi yang suka buang sampah sembarangan seperti di Singapore, atau murni kesadaran dirinya memang masih kurang. I have no idea.

Saya punya pengalaman tak mengenakkan mengenai acara buang-buang sampah ini. Suatu hari saya sedang naik motor dari arah Sanur menuju ke arah Mal Galeria. Sampai di depan hotel Harris, sebuah mobil main nyelonong keluar tanpa melihat jika masih banyak kendaraan melaju dari arah timur. Saya jadi geregetan. Cuaca yang terik membuat emosi mudah naik, memang. Saya menahan diri mencoba hitung 1, 2, 3 untuk meredakan rasa kesal. Belum selesi berhitung, tiba-tiba dari arah jendela penumpang yang terbuka, keluarlah tangan perempuan dan membuang tisu bekas dan snackbox yang terlihat berat! Tisu melayang ke arah saya dan saya sedikit oleng menghindari snackbox supaya tidak terlindas. Kali ini saya tak bisa menahan diri. Saya  pepet mobilnya dan mobilpun berhenti. Begitu minggir, 2 mas ojol dan beberapa pengendara lain kompak memaki-maki keduanya. Ah, ternyata bukan hanya saya yang geregetan dengan tindakan mereka.

2. Spitting alias meludah sembarangan

Seingat saya, di buku panduan belajar sewaktu SD, sudah seringkali diingatkan bahwa meludah bisa menularkan berbagai macam penyakit. Tapi ternyata kenyataannya, masih banyak saya ketemu manusia-manusia egois yang meludah sembarangan.

Saya punya satu penglaman menjijikan tentang ini. Jadi saat itu saya sedang berbelanja di pasar tradisional, selesai belanja saya jalan menuju arah parkiran. Pas di depan saya ada seorang bapak-bapak yang juga sedang jalan santai menuju parkiran. Jarak kami mungkin hanya sekitar satu meteran. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba si bapak cuhhh, meludah dan lendir kekuningan itu sukses mendarat di kaki saya. Saya shock, bapak itu menyadari ada yang salah lalu buru-buru minta maaf ke saya. I wish I could rewind the time just like 1 menit sebelumnya sehingga saya tidak harus mengalami pengalaman traumatis tersebut. Yikes!!!

3. Burning rubbish alias bakar-bakar sampah.

Sejujurnya ini yang menurut saya paling bahaya dan menyebalkan. Dan amat sangat egois dan tidak berperikemanusiaan. Saya tinggal di sebuah komplek perumahan yang dikelilingi oleh persawahan. Sewaktu pindah kesini, semuanya indah saja dan tampak sempurna. Hingga saat setelah panen, pak tani  mulai membakar sawah secara bertahap, yang luasnya sekitar 3 hektar!

Let me describe how miserable it is. Jadi asap tebal mengepung masuk ke seluruh penjuru rumah sampai saya sesak nafas (untung saya tidak punya penyakit asma). Saya harus segera menyelamatkan jemuran di luar supaya tidak terlalu bau asap (meskipun endingnya bau juga dan saya harus cuci ulang karena betul-betul sangit). Jelaga hitam, abu daun bersama debu berterbangan dimana-mana dan mendarat di perabotan luar ruangan, teras, tanaman hias, sepeda dan lain-lain. Dan jika baru saja keluar rumah, begitu masuk rumah akan sangat terasa bau sangit di seluruh penjuru ruangan, yang tentu saja amat sangat berbahaya bagi kesehatan. Terutama ada Ayumi yang waktu itu baru berusia 1 tahunan.

Saya kira acara bakar-bakar ini hanya berlangsung sehari, ternyata hingga 2 minggu berturut-turut, pak tani masih konsisten menciptakan kekacauan dan lingkungan yang tidak sehat ini. Puncaknya adalah di hari senin ketika saya baru saja selesai menjemur baju dan mengganti seprai baru, asap tiba-tiba kembali datang. I can’t handle this anymore. Saya coba ngomong baik-baik ke Pak tani tersebut dan you know dia jawab apa?
“Kan kaya gitu biasa mbak di sini. Kalau gak suka ya udah pindah saja dari sini.”
Saya menghela nafas dalam, berusaha tidak nyolot. Come on, saya memang pendatang, saya memang kontrak rumah di sini. Tapi apapun status saya, bukankah menghirup udara yang bersih itu adalah hak asasi?

I feel like saying to him “ Kalau misal saya bakar sampah depan rumah bapak dan ngasepin rumah bapak kira-kira bapak marah gak sama saya?”
Tapi saya tahan. Supaya saya tidak terpancing emosi dan memancing keributan.

And I wish di negara kita tercinta ini, ada aturan yang mengilegalkan bakar-bakar sampah. Seperti di negara maju di luar sana. Saya amat sedih, di luar sana, orang-orang mulai banyak yang mengkampanyekan cinta lingkungan, tapi di sini, segelintir orang tak punya empati membuat polusi udara yang membahayakan kesehatan sesamanya.

Kabar buruk guys, I am not alone. Youtuber Sacha stevenson juga tenyata mengalami kejadian serupa. Videonya bisa dilihat di sini. 

Any advice untuk mengedukasi 3 bad Indonesian ini? Write your though di kolom komentar ya!

No comments:

Post a Comment