Saturday, 21 December 2019

Kidal

Pernah melihat atau barangkali mengenal seseorang yang kidal? Jika hanya seseorang yang ‘sekedar anda kenal’ atau teman jauh yang tidak sering bertemu, mungkin tidak terrlalu berdampak besar bagi kehidupan anda. Lain cerita jika orang terdekat anda (atau bahkan anda sendiri) yang kidal. Bagaimana rasanya?

Biasa saja, I can say. Mungkin karena sudah terbiasa. Agak aneh dan janggal pada awalnya saja. Kabar baiknya adalah, ternyata suami saya sendiri adalah seorang kidal! Mulanya saya shock saat pertama kali ia cerita jika dirinya adalah seorang kidal, karena saya tidak menyadarinya sama sekali. Selama ini ia menggunakan tangan kanan dan terlihat normal-normal saja. Beruntungnya, ia sudah terbiasa melatih tangan kanannya sejak dia kecil karena di lingkungan keluarga Jepangnya yang masih konservatif dan tradisional, menjadi kidal akan sulit diterima oleh masyarakat. Simply, being lefty is not accepetable (that time).

Kejadian agak menggelikan terjadi saat awal kami menikah. Suatu hari, ia melihat saya memotong sayur dengan posisi pisau berada di genggaman tangan kanan saya. Ia berteriak histeris dan spontan merebut pisau saya sembari ngomel, “Please don’t do that! I am scared and I am worry you could hurt yourself.”

Saya bengong. Hah? Saya cuma mau potong sayur kok, bukan mau bunuh diri. Kenapa dia sampai segitunya. Tapi sebelum saya sempat bertanya, ia berinisiatif memotong wortel yang hendak saya potong di atas talenan dengan posisi pisau di tangan KIRI!Saya merasa itu tindakan konyol yang sangat berbahaya. Saya bergidik ngeri dan menyadari kalau saya salah paham, ia histeris bukan karena mengira saja mau bunuh diri atau menyakirti diri sendiri, namun karena ia ngeri melihat saya memotong sayur pakai tangan KANAN!

After that misundurstanding explained, kami berdua tertawa menertawai kekhawatiran tak beralasan yang kami ciptakan sendiri, lalu menyudahinya dengan sebuah perjanjian: jika saya sedang memotong sesuatu menggunakan pisau, dia tidak boleh lihat dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian kami bisa hidup ‘agak’ normal, meski kadang-kadang masih ngeri ketika tak sengaja melihatnya menyetrika menggunakan tangan kiri, atau menuang air panas dari panci yang dipegang dengan tangan kirinya.

Tak hanya di lingkungan keluarga Jepang, di lingkungan keluarga saya yang Jawa-pun, menjadi kidal tidak diperbolehkan. ‘Tangan kanan untuk makan, dan tangan kiri untuk cebok’ demikianlah yang diajarkan dari sejak saya kecil. Sebulan sebelum mudik ke Jawa, saya akan briefing suami dan mengingatkannya setiap hari untuk menggunakan tangan kanan supaya keluarga besar tidak memandangnya aneh.

Please don’t get me wrong. Bukan saya tidak mau ‘kekurangan’ suami saya diketahui oleh keluarga besar, karena saya tak pernah menganggap kidal adalah sebuah kekurangan. Saya hanya tidak ingin ditanyai panjang lebar dan menjelaskan hal yang mereka tidak bisa terima. Malah bagi saya, suami saya yang kidal itu memiliki sebuah bakat yang istimewa. Karena ia berhasil melatih tangan kanan, ia bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis. Ia seorang arsitek yang kadang-kadang harus sketching (menggambar sketsa desain dengan tangan), tangan kirinya sangat terampil dan cepat dalam hal hand sketch, sedangkan tangan kanannya menuliskan deskripsi dan keterangan sketsa yang telah dibuat.

Belakangan saya baru tahu bahwa being lefty alias kidal itu bisa diturunkan (bersifat genetik). Saya yang saat itu sedang hamil Ayumi berdoa supaya Ayumi tidak terlahir kidal karena saya merasa tidak siap dan tidak memiliki kemampuan melatih anak kidal. Syukurlah, Ayumi terlahir dengan tangan kanan lebih kuat dan dominan dari tangan kirinya, meskipun ia memiliki keturunan kidal yang bisa saja diwariskan ke keturunan selanjutnya.

Ada yang punya pengalaman unik mengenai kidal juga? Sharing yuk di kolom komentar!

No comments:

Post a Comment