Thursday, 26 December 2019

Mengurus Affidavit/ kartu kewarganegaraan ganda

Bagi pasangan Indonesia- warga negara asing (WNA)  yang menikah dan memiliki anak yang lahir di Indonesia, maka anak subjek perkawinan campuran tersebut berhak memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Indonesia dan kewarganegaraan orang tua asingnya. Semisal salah satu orang tua memiliki lebih dari satu kewarganegaraan, maka anak juga bisa mendapatkan semuanya, ditambah kewarganegaraan Indonesia, tentunya. Kecuali beberapa negara yang tidak mengakui kewarganegaraan ganda seperti Malaysia, maka kewarganegaraan harus dipilih dan diputuskan sejak dari lahir. Dalam kasus anak saya Ayumi, saya sebagai mamanya adalah orang Indonesia, sedangkan papanya adalah keturunan Jepang yang lahir di Australia dan memiliki permanen residency di Inggris. Ayumi otomatis memiliki kewarganegaraan Indonesia (dari saya mamanya), lalu Jepang dan Australia (dari papanya). Jika saat itu saya melahirkan di Inggris karena papa Ayumi juga PR di sana, Ayumi otomatis juga akan memiliki kewarganegaraan Inggris. Ini berdasarkan surat keputusan sertifikat PR Inggris yang dimiliki papanya Ayumi. Oh ya, di Indonesia, anak bisa memiliki kewarganegaraan ganda sampai umur maksimal 21 tahun. Setelah itu maka harus memilih salah satunya.

Kartu affidavit ini nantinya digunakan untuk mengurus paspor Indonesia. Dan menjadi berguna jika anak tidak dibuatkan paspor Indonesia. Misalnya anak hanya memiliki paspor Jepang dan tinggal di Jepang. Lalu suatu hari keluarga membawa anak tersebut untuk mudik ke Indonesia selama 3 bulan. Untuk WNA, tinggal 3 bulan memerlukan visa, sedangkan dalam kasus anak tersebut, jika memiliki kartu affidavit maka dianggap sebagai WNI dan tidak perlu urus visa, meskipun tidak memiliki paspor Indonesia. Saya pribadi lebih suka melengkapi semua dokumen perjalanan karena kadang-kadang, satu perugas dengan petugas yang lainnya bisa saja memiliki aturan berbeda. If you know what I mean. Oh ya, bentuk affidavit Ayumi seperti ini:


Lalu bagaimana cara urus affidavit?
1. Langsung saja datang ke kanim terdekat di bagian pelayanan orang asing sambil membawa persyaratan sbb:
1. Fotokopi akta lahir anak
2. Fotokopi paspor asing anak (saya pakai paspor Jepang)
3. Fotokopi surat nikah dan CNI (cerificate if no impendiment dari kedutaan)
4. Fotokopi paspor kedua orang tua
5. Fotokopi KTP orang tua WNI (saya lengkapi dengan surat domisili karena saya urus di Bali dan KTP saya Jawa)
6. Pas photo anak 3x4, 4x6 masing-masing 2 lembar

*syarat no 1-5 bawa juga dokumen aslinya untuk verifikasi ya kecuali CNI karena CNI yg asli diserahkan ke KUA sebagai syarat pernikahan. 

2. Ambil nomor antrian untuk pengajuan aplikasi dan tunggu hingga dipanggil. Petugas akan memberikan form untuk diisi. Setelah form diisi dan berkas dinyatakan lengkap, akan diarahkan untuk melakukan pembayaran dan akan diberitahu kapan jadwal untuk photo dan wawancara. Selama proses paspor asing anak akan ditahan di kantor imigrasi berikut berkasnya.

3. Di jadwal yang sudah ditentukan, datang kembali untuk photo dan wawancara. Yang diwawancarai tentu saja ibunya ya, paling hanya ditanya anak lahir tanggal berapa, nama lengkapnya siapa, penulisannya dieja sudah benar/belum, dsb. Selanjutnya akan diberitahu kapan  affidavitnya jadi. Oh ya, biayanya 400,000 ya (tahun 2016). 

Jika affidavit sudah jadi, selanjutnya bisa buat paspor Indonesia! Untuk pembuatan paspor Indonesia, saya akan tulis di post selanjutnya ya! See ya!!!

Wednesday, 25 December 2019

Dokumen Anak Perkawinan Campuran yang Lahir di Indonesia

Di post sebelumnya ada saya bahas sedikit mengenai banyaknya dokumen yang harus diurus jika anda memiliki anak hasil dari perkawinan antar negara. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya akan berbagi apa-apa saja yang harus diurus untuk anak dari pasangan Indonesia-Jepang dan Australia yang lahir dan tinggal di Indonesia. Wait? Jepang dan Australia? Kebetulan suami saya memiliki dua kewarganegaraan yaitu Jepang dan Australia yang sah dan memiliki proof of citizenship dari kedua negara tersebut. Jadi secara otomatis, anak kami Ayumi mendapatkan 3 kewarganegaraan sekaligus, yaitu Jepang, Indonesia, dan Australia.
Untuk Indonesia dan Jepang, Ayumi harus memilih salah satunya ketika ia sudah berumur maksimal 21 tahun, sedangkan kewarganegaraan Australia bisa dia pakai seumur hidupnya karena Australia mengakui kewarganegaraan ganda.

Secara urutan, berikut apa-apa saja yang saya urus sejak Ayumi lahir:
1. Akta lahir
2. Memperbarui KK (kartu keluarga) dan menambahkan nama Ayumi di dalamnya
3. Melaporkan kelahiran Ayumi ke Konsulat Jendral Jepang untuk bisa dimasukkan ke dalam daftar anggota keluarga di Jepang
4. Membuatkan paspor Jepang
5. Mengurus affidavit (kartu kewarganegaraan ganda) di Imigrasi setempat
6. Membuat paspor Indonesia
7. Mengurus CBD (citizenship by descent) Australia dan menerbitkan certificate of citizenship
8. Mengurus paspor Australia di Australian consulate Denpasar.

Untuk paspor, sebetulnya bisa diurus salah satu saja dan tidak harus dibuatkan semuanya. Namun saya pikir sebaiknya dibuat semuanya. Toh paspor berlaku 5 tahun dan perpanjangannya lebih mudah daripada membuat pertamakali. 

Saya akan langsung bahas pelaporan kelahiran Ayumi di konsulat Jepang ya, karena untuk akta dan KK sudah diuruskan keluarga di Jawa jadi saya kurang paham prosesnya seperti apa. 
Untuk pelaporan kelahiran, syarat yang diperlukan adalah paspor kedua orang tua, koseki tohon atau kk Jepang dan fotokopi surat kelahiran anak yang dikeluarkan pihak rumah sakit. Prosesnya 3 hari kerja, dan nantinya akan mendapatkan semacam sertifikat kelahiran yang dilaporkan ke Konsulat Jepang dalam bahasa Indonesia. Biayanya 230,000 rupiah. Nantinya, jika diperlukan, bisa minta print out koseki tohon di cityhall setempat di Jepang, dan nama anak sudah masuk dalam daftar keluarga. Oh ya, koseki tohon ini hanya berlaku 3 bulan sejak tanggal dikeluarkan ya. Bukan seperti KK Indonesia yang berlaku selamanya selama tidak ada perubahan data. 

Untuk membuat paspor Jepang anak, syaratnya adalah paspor Jepang orang tua, koseki tohon terbaru (dimana nama anak sudah masuk), dan pas photo anak ukuran 3x4 4 lembar dengan latar putih. Tinggal datang ke konsulat Jepang terdekat, isi form, bayar 700ribu rupiah dan paspor bisa diambil 3 hari kemudian. 

Urusan dokumen Jepang, sementara sudah selesai ya. Di post selanjutnya saya akan bahas bagaimana mengurus affidavit dan membuat paspor Indonesia untuk anak di Imigrasi Denpasar. 

Semoga bermanfaat!



Mengurus EPO (Exit Permit Only)

Masih tentang kitas ya teman-teman..
Uhuk! Banyak sekali yah hal-hal tentang per-kitas-an ini? Hiks. Memang punya pasangan beda negara itu ribet teman-teman... banyak sekali urus dokumen ini itu. Kabar buruknya, itu belum seberapa, karena jika punya anak maka akan urus dokumen anak juga di kedua negara. Nah kebetulan anak saya punya 3 kewarganegaraan dan itu artinya dokumen ketiga negara tersebut saya urus semuanya, MANDIRI! Jangan stress ya teman-teman... dokumen memang ribet tapi percayalah, menyelesaikannya satu persatu itu bisa menimbulkan kebahagiaan tersendiri,  merupakan prestasi tersendiri, setidaknya bagi saya. 

Nah kembali lagi ke EPO yuk. Jadi apa lagi ini? EPO atau exit permit only adalah prosedur pencabutan dokumen kitas. Loh, kenapa dicabut??? Bikinnya aja susah susah???!!!

Jadi, Itas suami saya masih berlaku hingga bulan Maret tahun 2020, sedangkan awal November 2019 dia berencana untuk pindah ke Sydney for good. Dan sepertinya, baru akan kembali ke Indonesia setelah bulan maret 2020. Dalam kasus seperti ini, dimana WNA akan meninggalkan Indonesia dan tidak akan tinggal di Indonesia hingga masa berlaku kitas habis, maka sebaiknya dilakukan EPO.

Saya sempat bertanya ke petugas EPO, apa yang akan terjadi seandainya saya tidak EPO hingga itas expired? Petugas menjawab, akan berpengaruh dalam pembuatan Itas selanjutnya. Jadi who knows kalau suami memutuskan kembali tinggal di Indonesia, akan ada kendala dalam pengurusan EPOnya. Lagipula sebagai warga negara yang baik, sebaiknya taat administrasi, bukan? Ya sudahlah, saya urus deh EPO-nya.

Syarat permohonan EPO:
1. Paspor asli WNA dan photokopi
2. Print out itas elektronik
3. E-ktp sponsor dan surat domisili (jika domisili berbeda dengan tempat diterbitkannya eKTP)
4. Print out tiket pesawat keluar Indonesia

Prosedurnya langsung datang saja ke kantor imigrasi penerbit itas, lalu tanya petugas dimana kantor tempat EPO. Di kanim Denpasar sini kantor untuk EPO ada di lantai 2, masuknya lewat pintu belakang. Nanti petugas akan memberikan formulir untuk diisi. Setelah dokumen dinyatakan lengkap, anda akan diberikan tanda terima dan diberitahu kapan paspor bisa diambil.

Mengurus EPO memerlukan sekitar 3 hari kerja, dan disarankan untuk mengurusnya sekitar 7 hari sebelum WNA keluar dari Indonesia. Untuk biayanya gratis ya.

Semoga bermanfaat!

Perpanjangan Kitas

Sebelum masa berlaku kitas/itas expired, satu bulan sebelum itas habis sebaiknya segera proses perpanjangan. Kenapa satu bulan? Karena kadangkala ada hal-hal diluar perkiraan yang bisa membuat proses perpanjangan jadi lama, misalnya kurangnya persyaratan, banyak tanggal merah atau hari libur nasional, hingga system di imigrasi yang sedang down (ini lumayan sering terjadi loh). 

Jangan khawatir, meski perpanjangan sebulan sebelumnya namun masa berlaku akan mengikuti tanggal expired itas sebelumnya, jadi tidak akan dipotong sebulan. 

Dokumen yang diperlukan untuk perpanjangan itas ini hampir sama dengan     pembuatan pertama kali di imigrasi, detailnya sebagai berikut:
1. SKTT asli dan fotokopi
2. KTP sponsor (plus surat keterangan domisili jika domisili tidak sesuai KTP)
3. KK sponsor
4. Akta/surat nikah
5. CNI dan surat keterangan lapor nikah yang dikeluarkan embassy negara partner anda
6. Paspor asli WNA
7. Fotokopi paspor, halaman vitas dan halaman cap masuk menggunakan vitas
8. Materai 6000 1 lembar
9. Pas photo 2x3, 3x4, 4x6 masing-masing 2 lembar latar merah.

Prosesnyapun hampir sama. Bawa semua persyaratan ke kanim terdekat, lalu sampaikan ke petugas bahwa anda akan memperpanjang itas. Anda akan diberikan beberapa form yang harus diisi. Setelah komplit, maka akan diberikan tanda terima dengan info tanggal untuk wawancara dan photo, dan melakukan pembayaran. Setelah photo dan wawancara maka dalam 3-7 hari kerja itas sudah sukses diperpanjang. Biaya sama dengan pembuatan baru yaitu 2,050,000. 

Mudah bukan? 

Mengurus SKTT di Dispendukcapil Denpasar

Kemarin saya sudah bahas dan kupas tuntas mengenai kepengurusan itas elektronik (fyi sekarang imigrasi tidak lagi menerbitkan versi kartu, jadi disebut Itas elektronik dan bukan Kitas/ kartu ijin tinggal terbatas). Sudah boleh bernafas lega nih. Tapi... sebetulnya ada satu hal lagi yang perlu diurus, yaitu SKTT alias Surat keterangan tempat tinggal. Aduhhh apalagi sih ini?

Tenang, tenang... SKTT ini semacam pencatatan kependudukan dimana sang WNA yang sudah memiliki itas didaftarkan sebagai penduduk sementara oleh dinas  kependudukan dan catatan sipil. Ini penting bagi negara tentunya digunakan untuk kepentingan pendataan kependudukan, sedangkan bagi WNA dan pasangannya, SKTT ini akan berguna sebagai salah satu syarat untuk perpanjangan Itas. Dulu, SKTT ini diwajibkan dan jika terlambat mengurus (maksimal 60 hari setelah Itas jadi) akan dikenalan denda sebesar 2juta rupiah. Kabar baiknya, sekarang denda itu sudah dihapuskan. Tapi sebagai warga negara yang baik, seharusnya taat administrasi kan ya... SKTT bentuknya seperti KTP model lama, berupa kertas yang dilaminating. Karena formatnya mirip KTP, akan memudahkan WNA dalam melakukan registrasi semisal pembuatan rekening baru. Pengalaman pribadi suami membuka rekening di CIMB niaga dan SKTT ini bisa digunakan, tak perlu bawa-bawa paspor dan kitas. Aman deh jadi tak perlu riskan bawa-bawa paspor kemana-mana. Kalau mau ke tempat wisata, dapat harga lokal dengan menunjukkan SKTT ini (Itas elektronikpun bisa sih dipakai, tapi karena formatnya yang kurang familiar, perlu menjelaskan sedikit ke penjaga tiket dan saya rasa itu merepotkan). Oh ya ini contoh SKTT milik suami saya:



Selain penghapusan denda yang artinya SKTT bisa diurus kapan saja pas waktu senggang, kabar baik lainnya adalah biayanya gratis tis tis. Kabar baik selanjutnya, pengambilan nomer urut bisa dilakukan secara online untuk wilayah Denpasar! Ini suatu prestasi loh. Tahun 2018 saya harus datang pagi-pagi jam 6 hanya untuk ngantri ambil nomer urut yang baru dibagikan pukul 8!!!! Sudah pagi-pagi ngantri, masih juga dapat nomer 250 (maksimal hanya 400 urutan per hari). Saya baru dilayani setelah jam 12 siang.

Tahun 2019, jam 7 pagi saya tinggal daftar antrian online sambil leyeh-leyeh minum kopi di rumah. Nanti akan mendapatkan nomer antrian dan perkiraan jam berapa akan dilayani. Betul-betul menghemat waktu dan tenaga, mengingat jarak rumah saya ke gedung Sewaka Dharma adalah sekitar satu jam naik motor. Naik mobil perlu sekitar 1,5 jam karena macet di beberapa titik.

Jadi apa saja syarat pembuatan SKTT?
1. Fotokopi paspor WNA
2. Fotokopi Kitas
3. Fotokopi KTP dan KK sponsor
4. Surat tanda lapor diri WNA dari kelurahan (atau surat domisili)
5. Pas photo 4x6 2 lembar (background apa saja)
6. EKTP pelapor (jika no 3 dan no 6 ini orang yang sama, maka abaikan no 6)
7. Stopmap folio warna bebas.

Untuk syarat no.3, KTP dan KK pemohon harus keluaran Denpasar ya. Karena kami berdomisili di Denpasar sedangkan KTP dan KK saya keluaran Jatim, maka saya meminta tolong tuan rumah tempat saya kontrak rumah untuk menjadi sponsor dengan cara pinjam fotokopi KTP dan KK-nya. Lalu syarat no 6 adalah eKTP saya sendiri.

Syarat no 4 kalau di Bali sini cara urusnya adalah membawa fotokopi paspor dan itas ke kepala lingkungan setempat. Nanti akan dibuatkan semacam surat keterangan dan ditandatangani kepala lingkungan. Surat ini lalu dibawa ke kelurahan untuk distempel kelurahan. Biayamya gratis.

Setelah semua syarat lengkap, jam 7 pagi silahkan akses website http://akuwaras.denpasarkota.go.id/ lalu di pojok kanan atas klik bar 3 garis dan pilih menu antrian online. Masukkan data yang diminta (nomer telepon dan nomor E-KTP). Anda akan mendapatkan nomer antrian dan perkiraan jam berapa anda akan dilayani. Usahakan datang setengah jam sebelumnya karena jika antrian terlewat, anda harus daftar lagi setelah 7 hari kerja.

Di jam yang ditentukan, tinggal datang dan langsung ke ruang tunggu. Ambil nomer antrean customer service untuk meminta form SKTT sementara anda menunggu antrean yang anda dapatkan secara online. Isi formnya dengan lengkap lalu masukkan ke dalam berkas persyaratan. Jika tiba giliran anda, anda akan dipanggil ke kounter pelayanan. Jika berkas anda dinyatakan lengkap, anda akan diberi tanda terima dan diminta datang lagi esok/lusa untuk pengambilan SKTT. Mudah bukan?

*untuk kepengurusan SKTT di wilayah lain persyaratan dan prosedur bisa saja berbeda ya.

Tuesday, 24 December 2019

Mengurus Kitas sponsor istri part 4

This is the final step alias step ketiga dari serangkaian proses mengurus kitas. Part 1 bisa dilihat di sini: http://www.annaswan.com/2019/12/mengurus-kitas-sponsor-istri-part-1.html?m=1 dan part 2 di sini http://www.annaswan.com/2019/12/mengurus-kitas-sponsor-istri-part-2.html?m=1. Lalu lanjut baca part 3 di sini : http://www.annaswan.com/2019/12/mengurus-kitas-sponsor-istri-part-3.html?m=1

Jadi sekarang partner anda sudah sampai di Indonesia. Langkah selanjutnya adalah melaporkan kedatangannya di website imigrasi. Caranya buka website imigrasi seperti biasa, lalu klik IT online. Supaya mudah, ini saya bagi link-nya ya: http://izintinggal.imigrasi.go.id/IT-online/.
Masukkan nomor paspor dan nomor penguasaan visa (yang ada IMI-nya), lalu submit. Jika proses berhasil, anda akan menerima email notifikasi permohonan ITAS elektronik yang bisa diurus di kanim terdekat. Karena saya tinggal di Denpasar Selatan, maka diarahkan ke kantor imigrasi kelas 1 Denpasar di Renon. 

Sebagai gambaran, berikut email yang saya terima setelah submit pelaporan online.



Usahakan anda segera mengkonversi vitas menjadi Itas dengan mendatangi kantor imigrasi ya ditunjuk, karena vitas memiliki expiry date, 30 hari setelah kedatangan. Jika lewat 30 hari, maka segala proses harus diulang dari awal. 

Sebelum ke kantor imigrasi, siapkan terlebih dahulu dokumen yang diperlukan:
1. Print out notifikasi permohonan ITAS yang dikirimkan melalui email
2. Surat permohonan dari sponsor dari step 1
3. Surat sponsor dan jaminan dari step 1
4. KTP sponsor (plus surat keterangan domisili jika domisili tidak sesuai KTP)
5. KK sponsor
6. Akta/surat nikah
7. CNI dan surat keterangan lapor nikah yang dikeluarkan embassy negara partner anda
8. Telex Visa (yang diemail dan dibawa ke embassy itu)
9. Paspor asli WNA
10. Fotokopi paspor, halaman vitas dan halaman cap masuk menggunakan vitas
11. Materai 6000 1 lembar
12. Pas photo 2x3, 3x4, 4x6 masing-masing 2 lembar latar merah.

Selanjutnya mari pergi ke kantor imigrasi.
1. Langsung saja menuju ke layanan WNA dan mengambil nomer antrian untuk submit aplikasi.
2. Setelah dipanggil, petugas akan memberikan formulir untuk anda isi. Setelah komplit dan dikembalikan ke petugas, petugas alan memeriksa kelengkapannya. Jika dinyatakan lengkap, anda akan diberikan tanda terima dengan keterangan tanggal kapan harus kembali untuk foto dan wawancara. Sekaligus akan diarahkan untuk melakukan pembayaran sebesar RAp. 2,055,000 untuk itas beserta multiple entry permit. Jangan lupa simpan slip pembayarannya.
3. Di tanggal yang ditentukan, WNA melakukan  photo dan wawancara. Bawa tanda terima dan kuitansi pembayarannya dan berikan kepada petugas. Selesai photo, petugas akan mengembalikan tanda terima dan kuitansi pembayaran, dan WNA akan diberi tahu kapan paspornya bisa diambil. 
4. Ambil paspor di tanggal yang ditentukan. Selamat!!!!! Itasnya sudah jadi!!!!

Mengurus Kitas Sponsor Istri Part 3

Congratulations! Setelah anda sampai di tahap ini, berarti tinggal 2 step lagi your parter will have a kitas! Step pertama sepertinya gampang, kan? Link step sebelumnya di sini ya: part 1:http://www.annaswan.com/2019/12/mengurus-kitas-sponsor-istri-part-1.html?m=1 
Iya, gampang kok kalau dikerjakan. Kalau cuma dibaca saja justru malah puyeng. Dan ini bukan mitos ya, karena ternyata banyak pula yang gagal di tahap pertama, seperti tidak mendapatkan email berisi username dan password karena tidak menggunakan alamat email gmail. Lalu ada juga yang sudah bayar, mengikuti step demi step tapi aplikasi ditolak karena persyaratan ada yang kurang, bahkan ada pula yang tidak bisa apply online sama sekali karena negara suami tidak ada dalam list! Don’t feel discouraged, karena selama persyaratan yang kita submit lengkap, surat cinta berupa notifikasi persetujuan kawat visa pasti akan anda terima. 

Untuk step kedua ini, WNA harus datang ke KBRI negara yang ditunjuk untuk ‘memproses’ kawat visa yang telah dikirimkan oleh imigrasi pusat Jakarta. KBRI yang ditunjuk ini lokasi negaranya terserah pemohon ya, sesuaikan dengan sikon WNA. Misalnya suami saya warga negara Jepang dan kebetulan sedang berada di Tokyo saat itu, saya memilih KBRI Tokyo saat mengajukan aplikasi supaya dekat dari lokasinya. Bagaimana jika suami sudah berada di Indonesia (misalnya masuk pakai visa turis)? Ya harus keluar dulu. Kebanyakan kalau yang begini ngurus kawat visanya di Singapore supaya tidak perlu terbang terlalu jauh. 

Apa saja syaratnya?
Tidak ada syarat baku karena tergantung KBRI wilayah masing-masing. Di KBRI Tokyo, dokumen yang harus dibawa adalah sbb:
1. Asli dan fotokopi semua syarat dari WNA pada step 1 seperti paspor, CNI, dan print out saldo tabungan.
2. Fotokopi semua syarat dari WNI pada step 1 seperti KTP, KK, dan akta lahir. Tak perlu membawa yang asli. Namun untuk surat nikah, suami membawa yang asli dan fotokopi.
3. Surat pernyataan dan jaminan asli dan fotokopi pada step 1.
4. Print out notifikasi persetujuan kawat visa yang dikirim via email.
5. Print out tiket pesawat ke Indonesia
6. Pas foto 3x4 sebanyak 3 lembar latar putih. 

WNA silahkan datang ke KBRI dengan membawa persyaratan pada jam kerja sebelum jam 12 siang (biasanya sebelum jam 12 untuk lodge aplikasi, sedangkan setelah jam 2 untuk pengambilan). Nantinya akan diberi form untuk diisi. Setelah semua komplit, WNA melakukan pembayaran sebesar Rp. 1,500,000 equivalent. Di KBRI Tokyo saat itu biayanya sebesar ¥12,000 atau sekitar 1,5 juta rupiah. Di Singapore info dari teman, dia bayar SGD 150. Kurang lebih segitu.

Setelah melakukan pembayaran, paspor WNA akan ditahan di KBRI hingga proses visa selesai. WNA akan diberi kuitansi pembayaran dengan keterangan kapan harus kembali untuk mengamnil paspor. Pengalaman suami, paspornya bisa diambil dalam 2 hari kerja. Jangan lupa kuitansinya dibawa pada saat pengambilan, ya. 

Look, di salah satu halaman paspor partner anda  sudah tertempel manis vitas dan tertulis nama anda sebagai sponsor! You’ve been doing great so far! Sekarang partner anda sudah bisa kembali ke Indonesia!!!

*oh ya, nanti pas melewati imigrasi di bandara, boleh banget loh antri di bagian kitas/WNI dan bukan antri di bagian foreigner yang mengular itu. Tunjukkan halaman paspor yang tertempel vitas kepada petugas imigrasi.  Congratulations! One more step to go!

Mengurus Kitas Sponsor Istri Part 2

Di part 1 (link bisa dilihat di sini http://www.annaswan.com/2019/12/mengurus-kitas-sponsor-istri-part-1.html?m=1)  sudah saya jelaskan mengenai persyaratan yang dibutuhkan untuk memulai proses pembuatan kitas. Jika semua syarat sudah lengkap, kita siap dengan langkah pertama, yaitu mendafatarkan diri sebagai sponsor kitas, dan apply vitas itu sendiri.

Jadi ceritanya, sponsor atau WNI inilah yang akan mengajukan permohonan kitas untuk WNA. Syaratnya hanya KTP, akta lahir dan KK saja. Caranya sbb:
1. Buka website imigrasi Indonesia di www.imigrasi.go.id lalu klik ikon layanan visa online. Nanti akan diarahkan untuk mendaftarkan diri dulu sebagai sponsor.
2. Isi formnya secara lengkap, lalu submit. Tunggu hingga mendapatkan notifikasi melalui email bahwa anda mengajukan diri sebagai sponsor. 
3. Rajin-rajin cek email, dalam 24 jam seharusnya anda akan mendapatkan email notifikasi bahwa permohonan pendaftaran anda telah disetujui. Anda juga akan mendapatkan username dan password untuk bisa masuk dan mengajukan permohonan vitas. 
*saran, gunakan akun gmail supaya lebih mudah menerima email dari imigrasi. Pengalaman ibu-ibu KKC yang menggunakan akun selain gmail, email dari imigrasi tidak masuk dalam 24 jam dan ini akan mempersulit proses.

Langkah selanjutnya adalah mengajukan permohonan vitas. Permohonan bisa dilakukan  selama hari kerja mulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Ada kuota setiap harinya jadi sebaiknya sudah stand by di depan komputer anda sebelum jam 8. Begitu kuota dibuka, langsung bisa mengajukan. Jika kuota habis, maka anda harus menunggu hari berikutnya. 
1. Buka halaman imigrasi, lalu klik layanan visa online. Masukan username dan password yang anda dapatkan dari email imigrasi. 
2. Lalu isi form yang disediakan dan ikuti prosedurnya. Attach juga file di kolom yang telah disediakan. Make sure semua kolom telah terisi, lalu klik submit.
3. Anda akan menerima email pemberitahuan bahwa aplikasi anda telah berhasil dikirimkan dan mendapatkan notifikasi untuk melakukan pembayaran kawat persetujuan visa. Saya menerima email ini sekitar 2 hari setelah saya submit aplikasi.
4. Pembayaran kawat persetujuan visa sebesar  Rp. 100 ribu rupiah bisa dibayarkan di bank mana saja. Tinggal print notifikasi pembayaran dari email dan tunjukkan ke teller bank. Tidak perlu melakukan konfirmasi apapun ke imigrasi ya. Tinggal tunggu saja email selanjutnya.
5. Jika aplikasi anda disetujui, maka anda akan menerima email notifikasi persetujuan kawat visa. Silahkan di print, untuk digunakan dalam langkah selanjutnya. Saya pribadi mendapatkan notifikasi ini dua hari setelah pbayaran. Total waktu yang diperlukanuntuk keseluruhan proses dari submit aplikasi hingga kawat visa disetujui adalah 5 hari kerja.

Selamat! Step pertama sudah berhasil. Sekarang mari melangkah ke step selanjutnya.
Detailnya, saya tulis di post terpisah ya!

Monday, 23 December 2019

Mengurus Kitas sponsor istri part 1


Banyak yang bilang mengurus Kitas sendiri itu pusing dan ribet. Let me tell you this, sebetulnya tidak ribet. Malah terkesan straightforward, dan jauhhhh lebih murah ketimbang membuat kitas pakai agent. Jadi waktu itu saya sempat minta quote ke agent, berapa kira-kira harga kitas dengan kondisi e-ktp saya keluaran Jawa Timur sedangkan saya berdomisili di Bali. Si agent dengan enteng mengatakan, “14 juta saja, bu!” Saja? Nominal tersebut banyak sekali menurut saya, karena harga resmi pembuatan kitas adalah Rp. 2,050,000 saja. Sudah termasuk MERP (multiple entry permit). So why I have to pay a lot of money for only 1 year validity Kitas? Saya lalu men-challenge diri sendiri, mensugesti diri sendiri bahwa saya bisa. Ditambah suami mengompori saya, jika saya berhasil membuatkan dia Kitas secara mandiri, maka selisih biaya agent dengan dengan biaya resmi sebesar 12 juta itu akan dihibahkan untuk saya. Semangat dong!!!! Lalu saya kumpulkan berbagai macam info dan mulai mengerjakan step by step.

Ada tiga langkah utama yang saya lalui, masing-masing ada langkah persiapannya. Supaya bisa detail dan postingan tidak terlalu panjang, saya akan potong menjadi beberapa bagian. 
Ada 3 step yang harus dilalui dalam proses pembuatan kitas ini yaitu:

1. Pendaftaran sponsor dan melakukan permohonan vitas (visa tinggal terbatas) secara online
2. Pengambilan vitas di KBRI yang ditunjuk (di luar negeri)

3. Pengurusan kitas di imigrasi setempat dimana WNA tinggal.

Langkah persiapan, tentu saja menyiapkan dokumen dan kelengkapannya.

Dari pihak suami/ WNA:
1. Paspor yang masih berlaku minimal 18 bulan, scan bagian biodata dan sampul halaman.

2. CNI atau certificate of no impediment (yang digunakan saat akan menikah dulu, pastikan punya kopiannya ya bu ibu. Oh ya jika menikahnya bukan di Indonesia berarti tidak perlu CNI ya.
3. Rekening tabungan suami dengan saldo terakhir minimal USD 1500. Ini optional ya, kalau istri memiliki rekening tabungan dengan jumlah tersebut, ya pakai rekening istri saja tidak apa-apa. Saya pakai rekening online CIMB Niaga yang statement bulanan-nya bisa didownload dari aplikasi.


Dari pihak istri:
1. Scan E-ktp bagian depan. Pastikan status sudah kawin. Kalau belum ya harus urus dulu KTPnya dan rubah status pernikahannya.
2. Scan kartu keluarga atau KK. Status juga harus sudah kawin ya.

3. Scan akta lahir
4. Scan buku nikah/akta nikah. Karena saya muslim maka pakai buku nikah. Saya scan bagian biodata yang ada foto, lalu halaman biodata, dan halaman selanjutnya yang ada tandatangan dari penghulu.
5. Surat permohonan pengajuan Kitas. Bisa ditulis tangan. Formatnya nanti saya kasih contoh di bawah, ya.
6. Surat permohonan dan jaminan bermaterai dari istri (WNI). Formatnya bisa dilihat di bawah. 


Semua dokumen tersebut saya screenshot lalu saya simpan dalam bentuk file jpg, dengan size tidak lebih dari 500mb. Untuk meresize ukuran dokumen, yang paling mudah bisa menggunakan aplikasi paint di komputer. Biasanya sudah terinstall otomatis di sistem operasi windows. Caranya tinggal pilih dokumen yang hendak diresize, klik kanan, pilih menu open with paint. Setelah itu tinggal klik tombol resize lalu save. 


Contoh surat permohonan pengajuan kitas:




Contoh surat permohonan dan jaminan bermaterai:




Sunday, 22 December 2019

Top 3 Bad Indonesian

Saya hanya sedang ingin mengeluh dan bukan berniat untuk menjelek-jelekkan. Mohon dibaca dengan kepala dingin, mari bersama membuat perubahan. Semoga dengan uneg-uneg ini, bisa membawa perbaikan ke arah yang lebih positif.  Aminkan dulu aja ya...


Pernah tidak, mengalami suatu hal yang sepertinya dianggap biasa saja oleh orang kebanyakan, tapi amat sengat mengganggu bagi anda? I have been living my entire life di Indonesia dan sebagian kecil orang kita memiliki kebiasaan buruk yang mendarah daging. Ada banyak hal sebetulnya, tapi saya ingin membahas 3 teratas perilaku buruk orang Indonesia yang paling menyebalkan.

1. Littering. Alias buang sampah sembarangan.

Sudah jadi rahasia umum jika orang Indonesia itu kesadaran diri untuk tidak buang sampah sembarangan masih sangat rendah. Jika ada yang mengatakan ‘Oh, itu sih karena orang kita masih banyak yang kurang berpendidikan’. I don’t agree with that. Entah karena di negara kita belum ada hukuman bagi yang suka buang sampah sembarangan seperti di Singapore, atau murni kesadaran dirinya memang masih kurang. I have no idea.

Saya punya pengalaman tak mengenakkan mengenai acara buang-buang sampah ini. Suatu hari saya sedang naik motor dari arah Sanur menuju ke arah Mal Galeria. Sampai di depan hotel Harris, sebuah mobil main nyelonong keluar tanpa melihat jika masih banyak kendaraan melaju dari arah timur. Saya jadi geregetan. Cuaca yang terik membuat emosi mudah naik, memang. Saya menahan diri mencoba hitung 1, 2, 3 untuk meredakan rasa kesal. Belum selesi berhitung, tiba-tiba dari arah jendela penumpang yang terbuka, keluarlah tangan perempuan dan membuang tisu bekas dan snackbox yang terlihat berat! Tisu melayang ke arah saya dan saya sedikit oleng menghindari snackbox supaya tidak terlindas. Kali ini saya tak bisa menahan diri. Saya  pepet mobilnya dan mobilpun berhenti. Begitu minggir, 2 mas ojol dan beberapa pengendara lain kompak memaki-maki keduanya. Ah, ternyata bukan hanya saya yang geregetan dengan tindakan mereka.

2. Spitting alias meludah sembarangan

Seingat saya, di buku panduan belajar sewaktu SD, sudah seringkali diingatkan bahwa meludah bisa menularkan berbagai macam penyakit. Tapi ternyata kenyataannya, masih banyak saya ketemu manusia-manusia egois yang meludah sembarangan.

Saya punya satu penglaman menjijikan tentang ini. Jadi saat itu saya sedang berbelanja di pasar tradisional, selesai belanja saya jalan menuju arah parkiran. Pas di depan saya ada seorang bapak-bapak yang juga sedang jalan santai menuju parkiran. Jarak kami mungkin hanya sekitar satu meteran. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba si bapak cuhhh, meludah dan lendir kekuningan itu sukses mendarat di kaki saya. Saya shock, bapak itu menyadari ada yang salah lalu buru-buru minta maaf ke saya. I wish I could rewind the time just like 1 menit sebelumnya sehingga saya tidak harus mengalami pengalaman traumatis tersebut. Yikes!!!

3. Burning rubbish alias bakar-bakar sampah.

Sejujurnya ini yang menurut saya paling bahaya dan menyebalkan. Dan amat sangat egois dan tidak berperikemanusiaan. Saya tinggal di sebuah komplek perumahan yang dikelilingi oleh persawahan. Sewaktu pindah kesini, semuanya indah saja dan tampak sempurna. Hingga saat setelah panen, pak tani  mulai membakar sawah secara bertahap, yang luasnya sekitar 3 hektar!

Let me describe how miserable it is. Jadi asap tebal mengepung masuk ke seluruh penjuru rumah sampai saya sesak nafas (untung saya tidak punya penyakit asma). Saya harus segera menyelamatkan jemuran di luar supaya tidak terlalu bau asap (meskipun endingnya bau juga dan saya harus cuci ulang karena betul-betul sangit). Jelaga hitam, abu daun bersama debu berterbangan dimana-mana dan mendarat di perabotan luar ruangan, teras, tanaman hias, sepeda dan lain-lain. Dan jika baru saja keluar rumah, begitu masuk rumah akan sangat terasa bau sangit di seluruh penjuru ruangan, yang tentu saja amat sangat berbahaya bagi kesehatan. Terutama ada Ayumi yang waktu itu baru berusia 1 tahunan.

Saya kira acara bakar-bakar ini hanya berlangsung sehari, ternyata hingga 2 minggu berturut-turut, pak tani masih konsisten menciptakan kekacauan dan lingkungan yang tidak sehat ini. Puncaknya adalah di hari senin ketika saya baru saja selesai menjemur baju dan mengganti seprai baru, asap tiba-tiba kembali datang. I can’t handle this anymore. Saya coba ngomong baik-baik ke Pak tani tersebut dan you know dia jawab apa?
“Kan kaya gitu biasa mbak di sini. Kalau gak suka ya udah pindah saja dari sini.”
Saya menghela nafas dalam, berusaha tidak nyolot. Come on, saya memang pendatang, saya memang kontrak rumah di sini. Tapi apapun status saya, bukankah menghirup udara yang bersih itu adalah hak asasi?

I feel like saying to him “ Kalau misal saya bakar sampah depan rumah bapak dan ngasepin rumah bapak kira-kira bapak marah gak sama saya?”
Tapi saya tahan. Supaya saya tidak terpancing emosi dan memancing keributan.

And I wish di negara kita tercinta ini, ada aturan yang mengilegalkan bakar-bakar sampah. Seperti di negara maju di luar sana. Saya amat sedih, di luar sana, orang-orang mulai banyak yang mengkampanyekan cinta lingkungan, tapi di sini, segelintir orang tak punya empati membuat polusi udara yang membahayakan kesehatan sesamanya.

Kabar buruk guys, I am not alone. Youtuber Sacha stevenson juga tenyata mengalami kejadian serupa. Videonya bisa dilihat di sini. 

Any advice untuk mengedukasi 3 bad Indonesian ini? Write your though di kolom komentar ya!

Saturday, 21 December 2019

Kidal

Pernah melihat atau barangkali mengenal seseorang yang kidal? Jika hanya seseorang yang ‘sekedar anda kenal’ atau teman jauh yang tidak sering bertemu, mungkin tidak terrlalu berdampak besar bagi kehidupan anda. Lain cerita jika orang terdekat anda (atau bahkan anda sendiri) yang kidal. Bagaimana rasanya?

Biasa saja, I can say. Mungkin karena sudah terbiasa. Agak aneh dan janggal pada awalnya saja. Kabar baiknya adalah, ternyata suami saya sendiri adalah seorang kidal! Mulanya saya shock saat pertama kali ia cerita jika dirinya adalah seorang kidal, karena saya tidak menyadarinya sama sekali. Selama ini ia menggunakan tangan kanan dan terlihat normal-normal saja. Beruntungnya, ia sudah terbiasa melatih tangan kanannya sejak dia kecil karena di lingkungan keluarga Jepangnya yang masih konservatif dan tradisional, menjadi kidal akan sulit diterima oleh masyarakat. Simply, being lefty is not accepetable (that time).

Kejadian agak menggelikan terjadi saat awal kami menikah. Suatu hari, ia melihat saya memotong sayur dengan posisi pisau berada di genggaman tangan kanan saya. Ia berteriak histeris dan spontan merebut pisau saya sembari ngomel, “Please don’t do that! I am scared and I am worry you could hurt yourself.”

Saya bengong. Hah? Saya cuma mau potong sayur kok, bukan mau bunuh diri. Kenapa dia sampai segitunya. Tapi sebelum saya sempat bertanya, ia berinisiatif memotong wortel yang hendak saya potong di atas talenan dengan posisi pisau di tangan KIRI!Saya merasa itu tindakan konyol yang sangat berbahaya. Saya bergidik ngeri dan menyadari kalau saya salah paham, ia histeris bukan karena mengira saja mau bunuh diri atau menyakirti diri sendiri, namun karena ia ngeri melihat saya memotong sayur pakai tangan KANAN!

After that misundurstanding explained, kami berdua tertawa menertawai kekhawatiran tak beralasan yang kami ciptakan sendiri, lalu menyudahinya dengan sebuah perjanjian: jika saya sedang memotong sesuatu menggunakan pisau, dia tidak boleh lihat dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian kami bisa hidup ‘agak’ normal, meski kadang-kadang masih ngeri ketika tak sengaja melihatnya menyetrika menggunakan tangan kiri, atau menuang air panas dari panci yang dipegang dengan tangan kirinya.

Tak hanya di lingkungan keluarga Jepang, di lingkungan keluarga saya yang Jawa-pun, menjadi kidal tidak diperbolehkan. ‘Tangan kanan untuk makan, dan tangan kiri untuk cebok’ demikianlah yang diajarkan dari sejak saya kecil. Sebulan sebelum mudik ke Jawa, saya akan briefing suami dan mengingatkannya setiap hari untuk menggunakan tangan kanan supaya keluarga besar tidak memandangnya aneh.

Please don’t get me wrong. Bukan saya tidak mau ‘kekurangan’ suami saya diketahui oleh keluarga besar, karena saya tak pernah menganggap kidal adalah sebuah kekurangan. Saya hanya tidak ingin ditanyai panjang lebar dan menjelaskan hal yang mereka tidak bisa terima. Malah bagi saya, suami saya yang kidal itu memiliki sebuah bakat yang istimewa. Karena ia berhasil melatih tangan kanan, ia bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis. Ia seorang arsitek yang kadang-kadang harus sketching (menggambar sketsa desain dengan tangan), tangan kirinya sangat terampil dan cepat dalam hal hand sketch, sedangkan tangan kanannya menuliskan deskripsi dan keterangan sketsa yang telah dibuat.

Belakangan saya baru tahu bahwa being lefty alias kidal itu bisa diturunkan (bersifat genetik). Saya yang saat itu sedang hamil Ayumi berdoa supaya Ayumi tidak terlahir kidal karena saya merasa tidak siap dan tidak memiliki kemampuan melatih anak kidal. Syukurlah, Ayumi terlahir dengan tangan kanan lebih kuat dan dominan dari tangan kirinya, meskipun ia memiliki keturunan kidal yang bisa saja diwariskan ke keturunan selanjutnya.

Ada yang punya pengalaman unik mengenai kidal juga? Sharing yuk di kolom komentar!

Friday, 20 December 2019

Sunset

Asyiknya kerja di hotel itu salah satunya adalah menambah wawasan setiap hari. Tambahan wawasan seringnya saya temukan tidak sengaja, seperti saat sedang mengobrol dengan tamu.

Misalnya, pengetahuan baru saya mengenai sunset, yang baru saya ketahui sekitar 6 tahun yang lalu.

Seumur hidup tinggal di negara tropis, saya taunya matahari terbit sekitar jam 6 pagi, dan terbenam sekitar jam 6 sore. Hingga waktu saya kerja di hotel di Bali, saya mendapatkan banyak pertanyaan seperti ini:
“What time is sunset?”
Saya merasa pertanyaan itu aneh and I feel like saying, “jam 6-an lah keleus!”
Tentu saja dalem hati ya, karena saya hotelier yang baik, saya tetep jawab sopan meski dalam hati asli ngegas. Eh tapi serius, masa gitu aja ga tau?

Not so long after, saya menemukan jawabannya secara tidak sengaja. Dan tetiba merasa bersalah karena ngegas sama tamu (meskipun ngegasnya dalam hati), dan merasa bodoh, for not knowing bahwa banyak negara-negara nun jauh di sana memiliki jam sunset yang berbeda-beda. Di negara yang jauh dari khatulistiwa, sunset bisa telat banget datengnya (memangnya cuma bulan saja yang datengnya telat? *nyengir). Like, jam 10 malem. What? Iya, jam 10 malam, matahari baru tenggelam. Take a sample, misalnya di Inggris.

Suatu hari, temen suami dan keluarganya datang dari Reading, Inggris ke Bali. Sebagai sahabat lama yang baik, kami menemani mereka jalan-jalan dan ended up menikmati seafood dinner di Jimbaran. Kami para sesepuh (baca: orang tua) sibuk bercengkerama di meja restoran berlantai pasir di pinggir pantai, sedangkan anak-anak sibuk main air. Tak terasa hari menjadi gelap, pelayan restaurant membawakan hidangan yang kami pesan. Tiba-tiba, salah satu anak teman suami bertanya, “ Auntie, what time is it? Looks it is already late but I’m not feeling hungry yet!”
Saya tertawa. Baru jam 7 loh, kok dibilang sudah larut malam. Piye toh?
“ 7? Really? If it is in the UK, on summer it feels like at least 10PM. Sunset is around 10 at the moment.”

Saya tergagap. Dan jadi teringat tamu-tamu yang pernah saya sepelekan karena nanya sunset jam berapa. Ah bodohnya.


Fast forward ke waktu sekarang ya. Masih tentang sunset, saya pernah hampir salah paham. Saat ini saya dan suami sedang LDR, dia di Sydney, saya masih di Bali. One day, dia bilang akan pergi ke Harbour bridge dan sempat mengabari saya via Whatsapp, sekitar jam 7 malam. Pulangnya, dia Whatsapp foto-foto sekitaran harbour bridge dan Sydney Opera house dan masih terang. Saya sempat curiga foto-foto tersebut diambil sebelum hari itu karena masih terang, harusnya jam 7 sudah gelap, kan? Tapi saya tak menemukan alasan mengapa dia harus berbohong. Malamnya tidak sengaja saya cek accu weather untuk melihat cuaca esok di Sydney yang dikabarkan smoky karena bushfire. Disitu terlihat sunset jam 8.10 malam. Oppps! Bodohnya saya. Untung saja saya belum konfrontasi ke suami dan ngeyelin dia.