Wednesday, 4 February 2015

Balada Trainee dan Babu Goblok

***Maaf kalau judulnya agak kasar kali ini. Bukan bermaksud merendahkan, menghina atau apa, tapi memang saya sesuaikan dengan konten blog kali ini.

 Bicara masalah training memang bagi saya tak ada habisnya. Masa training memang menjadi salah satu masa yang paling dikenang karena memang banyak kenangannya *ya iyalah Oneng!
Secara, jadi trainee itu artinya seperti memasuki dunia baru, dan belajar hal yang benar-benar baru, seperti belajar adaptasi. Mengenal orang-orang baru, lingkungan baru, dan suasana baru di tempat kerja  yang seolah-olah memberikan harapan akan masa depan yang cerah padahal palsu .Ngayal suatu hari bisa jadi General Manager teladan, misalnya *ah, itu mah ngelindur di siang bolong!

Next lesson adalah pelajaran memahami perbedaan karena pada dasarnya apa yang diajarkan di kampus itu ternyata berbeda 100% dengan apa yang kita pelajari saat training. Bayangkan, di kampus kan dosen ngasih studi kasus rumit semacam menghitung cost dan budget. Nah kenyataannya saat jadi trainee, boro-boro ngitungin 'duit negara', yang ada saya sibuk ngitungin berapa tamu yang berhasil membuat saya ngemut panadol saking mumetnya ngadepin tingkah mereka yang alhamdulilah... aneh-aneh! Damn!!!

Pelajaran paling berharga yang saya terima saat training tentu saja... belajar sabar! Eits, jangan sekali-kali meremehkan pelajaran satu ini! Jadi trainee kan artinya kita yang belum tau apa-apa bakalan disiksa  digembleng sedemikian rupa oleh para senior yang tingkahnya tak kalah amazingnya dibanding tamu hotel. Ada yang baik, tapi tak sedikit yang jahat kurang bersahabat, memanfaatkan trainee yang lugu dan polos nganterin ini itu, mengerjakan ini itu, atau prepare ini itu sampai saya sendiri lupa 'ini itu' tu apa * Nah lo, bingung gak tuh?

Saya jadi ingat penderitaan saya dikerjain senior mengantar tamu  dan musti jalan-jalan sampai gempor setiap hari muterin pekarangan the Grand Beach sampai kaki saya melepuh. Cerita lengkapnya baca di sini.

Saya sampai bersumpah (wuih bahasanya!), kalau nantinya saya jadi trainer saya gak bakalan jahatin trainee-trainee saya. Saya bakalan didik mereka supaya pinter dan berguna bagi nusa, bangsa, dan dunia (dunia perhotelan maksudnya). Adanya kalau tingkah mereka aneh-aneh, palingan juga besoknya mereka bakalan syok karena kisah ajaib mereka di blog bakalan dibaca ribuan orang yang bakalan gedeg-gedeg tak percaya bahwa manusia beginian beneran ada.

Masih tentang sabar, jadi trainee memang harus extra sabar. Maksud saya sabar menunggu waktu berjalan, dimana masa enam bulan berasa seperti enam windu. Tidak semua orang beruntung mendapatkan tempat training seperti yang mereka cita-citakan, tak semua orang beruntung mendapat tempat enak dimana tamunya baik-baik plus suka ngasih tip dan seniornya doyan nraktir makan *coba cariin saya tempat beginian, mau deh saya ikut training lagi.

Contohnya salah satu teman seangkatan saya saat masih training di the Grand Beach. Namanya Tian, anak Jakarta, dari universitas internasional ternama, anak direktur perusahaan besar di Jakarta pula*kurang apa coba? Ada. Si Tian ini, orangnya tomboy sekali. Masih mending kalau tomboy hanya kelakuannya saja, nah ini penampilannya sudah seperti laki-laki, dengan rambut cepak berdiri, kaos oblong, celana jeans dan sepatu kets. Sekilas, orang tak akan sadar kalau si Tian ini sebenarnya perempuan. 

Nah, karena penampilannya inilah, Tian yang seharusnya ditempatkan di bagian front office harus rela menjalani masa trainingnya sebagai housekeeping. Iya, housekeeping. Bayangkan, Tian yang sehari-harinya dilayani banyak pembantu, sekarang harus 'tabah' menjalani hidupnya sebagai seorang housekeeping trainee. Jangankan membersihkan toilet, pegang sapu aja dia gak pernah *ya iyalah dodol, di rumahnya Tian gak ada sapu, adanya vacuum cleaner kalee...

Orang tuanya sempat datang jauh-jauh dari jakarta ke Bali dan bicara dengan orang HR, barangkali Tian bisa ditempatkan di departemen lain jika memang sebagai frontliner appearance-nya kurang mendukung. Tapi dasar orang HR juga keras kepala, atau mungkin bersikap adil, yak? Gak peduli mau anak pejabat kek, anak konglomerat kek, kalau sudah apply di The Grand Beach ya melamar kerja toh? Meskipun hanya training. Tapi demi nilai, Tian-pun harus rela membersihkan toilet, membuang sampah, mengepel lobby, bahkan membersihkan kamar dan ikutan making bed dengan seniornya. Sabar ya, Tian!


Pelajaran berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah belajar ikhlas, artinya menerima dengan lapang dada. Menerima apa? Ya menerima kenyataan, lah! Namanya trainee, dimana-mana sudah biasa ditindas, dan diperlakukan semena-mena. Disuruh ini itu, disalah-salahin, dan itu semua tanpa digaji. Iya, tanpa digaji. Salah satu teman saya, Prisi, malahan sampai membuat lagu berjudul "Babu goblok", yang kurang lebih menceritakan betapa menderitanya menjadi anak training.

Berikut ini liriknya:
Babu Goblok
Bilangnya aja kita dapat trainingnya di Bali
Bukan jadi pinter kita malahan kaya kuli
Oh sungguh makan ati
Ow ow ow...

Bangun pagi kerja siang pulangnya malam hari
Nungguin enrico yang sedang lagi asyik ngopi
Oh sungguh makan ati
Gak digaji..

So aku nelongso awak loro
Awak soro ow ow ow...

Pagi-pagi pergi kerja jalan kaki ke XXX*
Demi sesuap nasi putih lauk ikan pindang
Minumnya air keran dari korahan

Habis makan kenyang ngerasa kaya orang hutan
Garuk sana garuk sini karena kegatelan
Alergi pindang, ow ow ow...

So tambah nelongso
Ati loro awak soro ow ow...

Babu babu babu, bagu babu goblok...
babu babu goblok...

*confidential content

NB: Lagu ni merupakan gubahan dari lagu Jason Mraz berjudul "I'm Yours", dan kalau penasaran dengan suara merdu prisi, bisa klik link berikut untuk mendengarkan versi asli babu goblok: https://docs.google.com/file/d/0B_w0hx7ZziToM3diaDZ6R0R1YU0/edit?usp=docslist_api
Dan berikut ini copyright dari yang punya lagu:





Meskipun menderita, menjadi anak training itu merupakan langkah awal sebelum memasuki dunia perhotelan yang sesungguhnya. Ibarat pepatah, no pain no gain yang kalau di bahasa Indonesiakan menjadi "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian." Percayalah, meskipun menderita, secara tak sadar, banyak pula ilmu dan pengalaman yang akan didapatkan selama menjalani training, dan itu semua akan menjadi sangat berharga dan berguna kelak saat anda benar-benar bekerja di hotel.

Hidup babu!


No comments:

Post a Comment