Monday, 23 February 2015

10 Alasan Mengapa Kerja di Hotel itu Keren (Trans)


Berdasarkan  Trends & Statistics survey tahun 2009 oleh  British Hospitality Association (BHA), sekitar 1,9 juta orang di Inggris bekerja di sektor perhotelan. Bisa jadi, jika anda membaca artikel ini, anda adalah salah satunya. Seperti yang anda tahu, sektor satu ini cukup populer dan mungkin anda juga tahu mengapa banyak orang yang tertarik bekerja di hotel. Ya, jam kerja di hotel mungkin akan terasa panjang dan melelahkan, namun mungkin anda hanya akan menemukan segelintir orang yang  tidak menikmati pekerjaannya di hotel. Dan inilah alasannya mengapa bekerja di hotel itu...Keren!

1.Bisa Membuat Orang Lain Bahagia

Tak peduli apakah anda seorang Concierge di hotel atau seorang steward yang bekerja 'di balik layar' ataupun bagian management yang setiap harinya ngantor  di bagian back office, setiap kali anda bekerja, secara langsung atau tidak, pekerjaan anda adalah membuat orang lain bahagia. Bekerja di hotel artinya anda bekerja untuk melayani tamu. Dan goal dari pelayanan itu sendiri adalah jika tamu senang dengan pelayanan yang kita berikan.(Bagi yang belum tahu apa itu concierge, bisa cari tahu di sini. Untuk steward, bisa klik di sini)
NB: Sekalian nambahin pahala kan kalo bisa membuat orang lain senang?

2. Kreatif

Karena bekerja di sektor dimana orientasinya adalah kepuasan tamu, bekerja dihotel artinya anda dituntut untuk menjadi kreatif. Anda harus menciptakan produk-produk baru, entah itu berupa makanan, minuman, atau layanan, dan hal-hal baru selalu tercipta seiring dengan perkembangan tuntutan pelayanan yang tujuan utamanya lagi-lagi, untuk membahagiakan tamu. Kalau dalam hal makanan dan minuman, chef biasanya selalu punya menu baru dalam periode tertentu. Pelayanan kreatif misalnya ketika check in, dari paspor tamu receptionist tahu tanggal lahir tamu dan menyiapkan birthday surprise. Antar kuenya ketika tamu selesai breakfast, ambil photo, lalu di print. Masukkan ke bingkai photo dan kasih tamu ketika check out sebagai souvenir. Dijamin si tamu bakalan pasang muka 'ooo.. sweet!' saking terharunya.

3.Membuka Pintu Dunia

Setiap negara di dunia pasti punya bisnis di bidang perhotelan, dan ketrampilan anda di dunia perhotelan ini bisa diaplikasikan di hotel manapun di dunia, yang artinya karir di dunia perhotelan tidak akan mentok di satu negara saja. Jika kebetulan anda sekarang ini bekerja di hotel yang memiliki jaringan internasional, maka kemungkinan untuk bekerja di negara manapun terbuka lebar untuk anda. Bagi yang bekerja di hotel kecil, tak perlu berkecil hati. Di era modern dimana internet sudah menjadi salah satu kebutuhan primer, banyak ditemukan situs-situs pencari kerja global, seperti catererglobal.com, isearch.com, dan sebagainya.

4.Tidak ada Alasan untuk jadi Bosan.

Kerja di hotel adalah salah satu pekerjaan paling dinamis yang selalu bertemu orang baru setiap harinya. Bosan di receptionis? Pindah ke concierge, atau reservasi, atau sales. Bagaimana dengan yang bekerja di belakang layar, seperti area dapur? Banyak juga kok variasinya. Bosan di bagian hot kitchen, bisa pindah ke bagian pastry, cold kithen, atau butcher. Di hotel tertentu ada rolling section yang mengharuskan karyawannya pindah section dalam periode tertentu. Kerja dimana lagi hayo yang bisa pindah-pindah section seperti ini?

5. Mudah 'naik pangkat'

Hotel adalah salah satu tempat kerja yang 'turn over'nya tinggi. Artinya banyak sekali karyawan yang keluar masuk karena kompetisi dan kesempatan yang luas di luar sana. Dengan banyaknya turn over tersebut, kebanyakan hotel lebih memilih mengangkat karyawan lama ke posisi selanjutnya daripada merekrut orang baru yang artinya masih membutuhkan waktu untuk adaptasi dan training.Tak heran, banyak staff hotel di luar sana yang awalnya hanya trainee, dan kurang dari 10 tahun bekerja di hotel sudah menjadi manager (atau minimal supervisor).

6.Bukan Orang Kantoran Yang jam Kerjanya dari Jam 9 ke Jam 5

Jika anda seseorang yang menyukai keterikatan dengan apa yang dinamakan rutinitas, bangun di jam yang sama setiap hari, sarapan, menghadapi macet saat berangkat kantor, dan pulang di jam-jam macet pula, maka berkerja di hotel tidaklah cocok. Sebaliknya, kerja di hotel dengan sistem shifting enaknya setiap harinya selalu berbeda, kadang bisa menikmati sunset, kadang bisa santai sarapan tanpa harus buru-buru, dan kadang-kadang bisa molor seharian karena dapat shift sore.

7. Tak Perlu Gelar Berbelit

Tidak seperti pegawai negeri yang gajinya tak seberapa, musti sarjana atau master, banyak sogokannya tapi tesnya ampun ampun lulusnya, kerja di hotel tidak banyak membutuhkan pendidikan formal yang berbelit. Pendidikan dasar pengetahuan perhotelan memang sangat diperlukan sebagai bekal awal, namun ketrampilanlah yang nantinya akan sangat menentukan kualitas. Itu sebabnya, setiap lembaga pendidikan perhotelan pasti mensyaratkan job training sebagai salah satu syarat kelulusan.

8. Kesenangan Lain Lain

(Jujur saya bingung menerjemahkan judul aslinya= Perks artinya tunjangan, tapi yang saya maksud bukan tunjangan seperti yang ada di pikiran anda)
Gimana ya? Kalau and kerja di kantor, hiburannya paling-paling ke karaoke atau makan bareng teman sekantor. Kalau di hotel beda. Setiap bulan akan ada semacam staff party dengan makanan a la hotel dan di hotel-hotel tertentu ada aktifitas outing, pergi ke suatu tempat, party-party dan dibayarin kantor!

9. Lingkungan Kerja Yang Menyenangkan

Di kebanyakan tempat, selalu ada rekan kerja yang tidak menyenangkan, dan selalu ada satu atau dua yang juteknya setengah mati. Kabar baiknya, di hotel bakalan jarang yang seperti itu. Mengapa? Karena staff hotel yang baik adalah staff yang ramah, dan HRD tentu tidak akan merekrut karyawan yang judes. Bayangkan saja jika seorang staff dikomplain tamu dan si staff ngebentak balik ke si tamu? Serem, bukan?

10. Bidang Kerja Yang Aman

Semua orang pasti butuh makanan, minuman, dan tidur, bukan? Maka dari itu, meskipun terjadi krisis ekonomi, bidang perhotelan mungkin akan sedikit terkena dampak, namun akan masih tetap aman dan berkelanjutan. Maksud saya, tidak pernah ada ceritanya tiba-tiba saja hotel A bangkrut, gulung tikar, dan serta merta memecat seluruh karyawannya. Batul tidak?

 
Jadi, tunggu apa lagi? Buruan apply kerja ke hotel!

 Note: Artikel ini adalah artikel terjemahan dengan beberapa gubahan yang disesuaikan; lihat heading judul (Trans). Artikel aslinya bisa dibaca di  sini

Wednesday, 4 February 2015

Balada Trainee dan Babu Goblok

***Maaf kalau judulnya agak kasar kali ini. Bukan bermaksud merendahkan, menghina atau apa, tapi memang saya sesuaikan dengan konten blog kali ini.

 Bicara masalah training memang bagi saya tak ada habisnya. Masa training memang menjadi salah satu masa yang paling dikenang karena memang banyak kenangannya *ya iyalah Oneng!
Secara, jadi trainee itu artinya seperti memasuki dunia baru, dan belajar hal yang benar-benar baru, seperti belajar adaptasi. Mengenal orang-orang baru, lingkungan baru, dan suasana baru di tempat kerja  yang seolah-olah memberikan harapan akan masa depan yang cerah padahal palsu .Ngayal suatu hari bisa jadi General Manager teladan, misalnya *ah, itu mah ngelindur di siang bolong!

Next lesson adalah pelajaran memahami perbedaan karena pada dasarnya apa yang diajarkan di kampus itu ternyata berbeda 100% dengan apa yang kita pelajari saat training. Bayangkan, di kampus kan dosen ngasih studi kasus rumit semacam menghitung cost dan budget. Nah kenyataannya saat jadi trainee, boro-boro ngitungin 'duit negara', yang ada saya sibuk ngitungin berapa tamu yang berhasil membuat saya ngemut panadol saking mumetnya ngadepin tingkah mereka yang alhamdulilah... aneh-aneh! Damn!!!

Pelajaran paling berharga yang saya terima saat training tentu saja... belajar sabar! Eits, jangan sekali-kali meremehkan pelajaran satu ini! Jadi trainee kan artinya kita yang belum tau apa-apa bakalan disiksa  digembleng sedemikian rupa oleh para senior yang tingkahnya tak kalah amazingnya dibanding tamu hotel. Ada yang baik, tapi tak sedikit yang jahat kurang bersahabat, memanfaatkan trainee yang lugu dan polos nganterin ini itu, mengerjakan ini itu, atau prepare ini itu sampai saya sendiri lupa 'ini itu' tu apa * Nah lo, bingung gak tuh?

Saya jadi ingat penderitaan saya dikerjain senior mengantar tamu  dan musti jalan-jalan sampai gempor setiap hari muterin pekarangan the Grand Beach sampai kaki saya melepuh. Cerita lengkapnya baca di sini.

Saya sampai bersumpah (wuih bahasanya!), kalau nantinya saya jadi trainer saya gak bakalan jahatin trainee-trainee saya. Saya bakalan didik mereka supaya pinter dan berguna bagi nusa, bangsa, dan dunia (dunia perhotelan maksudnya). Adanya kalau tingkah mereka aneh-aneh, palingan juga besoknya mereka bakalan syok karena kisah ajaib mereka di blog bakalan dibaca ribuan orang yang bakalan gedeg-gedeg tak percaya bahwa manusia beginian beneran ada.

Masih tentang sabar, jadi trainee memang harus extra sabar. Maksud saya sabar menunggu waktu berjalan, dimana masa enam bulan berasa seperti enam windu. Tidak semua orang beruntung mendapatkan tempat training seperti yang mereka cita-citakan, tak semua orang beruntung mendapat tempat enak dimana tamunya baik-baik plus suka ngasih tip dan seniornya doyan nraktir makan *coba cariin saya tempat beginian, mau deh saya ikut training lagi.

Contohnya salah satu teman seangkatan saya saat masih training di the Grand Beach. Namanya Tian, anak Jakarta, dari universitas internasional ternama, anak direktur perusahaan besar di Jakarta pula*kurang apa coba? Ada. Si Tian ini, orangnya tomboy sekali. Masih mending kalau tomboy hanya kelakuannya saja, nah ini penampilannya sudah seperti laki-laki, dengan rambut cepak berdiri, kaos oblong, celana jeans dan sepatu kets. Sekilas, orang tak akan sadar kalau si Tian ini sebenarnya perempuan. 

Nah, karena penampilannya inilah, Tian yang seharusnya ditempatkan di bagian front office harus rela menjalani masa trainingnya sebagai housekeeping. Iya, housekeeping. Bayangkan, Tian yang sehari-harinya dilayani banyak pembantu, sekarang harus 'tabah' menjalani hidupnya sebagai seorang housekeeping trainee. Jangankan membersihkan toilet, pegang sapu aja dia gak pernah *ya iyalah dodol, di rumahnya Tian gak ada sapu, adanya vacuum cleaner kalee...

Orang tuanya sempat datang jauh-jauh dari jakarta ke Bali dan bicara dengan orang HR, barangkali Tian bisa ditempatkan di departemen lain jika memang sebagai frontliner appearance-nya kurang mendukung. Tapi dasar orang HR juga keras kepala, atau mungkin bersikap adil, yak? Gak peduli mau anak pejabat kek, anak konglomerat kek, kalau sudah apply di The Grand Beach ya melamar kerja toh? Meskipun hanya training. Tapi demi nilai, Tian-pun harus rela membersihkan toilet, membuang sampah, mengepel lobby, bahkan membersihkan kamar dan ikutan making bed dengan seniornya. Sabar ya, Tian!


Pelajaran berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah belajar ikhlas, artinya menerima dengan lapang dada. Menerima apa? Ya menerima kenyataan, lah! Namanya trainee, dimana-mana sudah biasa ditindas, dan diperlakukan semena-mena. Disuruh ini itu, disalah-salahin, dan itu semua tanpa digaji. Iya, tanpa digaji. Salah satu teman saya, Prisi, malahan sampai membuat lagu berjudul "Babu goblok", yang kurang lebih menceritakan betapa menderitanya menjadi anak training.

Berikut ini liriknya:
Babu Goblok
Bilangnya aja kita dapat trainingnya di Bali
Bukan jadi pinter kita malahan kaya kuli
Oh sungguh makan ati
Ow ow ow...

Bangun pagi kerja siang pulangnya malam hari
Nungguin enrico yang sedang lagi asyik ngopi
Oh sungguh makan ati
Gak digaji..

So aku nelongso awak loro
Awak soro ow ow ow...

Pagi-pagi pergi kerja jalan kaki ke XXX*
Demi sesuap nasi putih lauk ikan pindang
Minumnya air keran dari korahan

Habis makan kenyang ngerasa kaya orang hutan
Garuk sana garuk sini karena kegatelan
Alergi pindang, ow ow ow...

So tambah nelongso
Ati loro awak soro ow ow...

Babu babu babu, bagu babu goblok...
babu babu goblok...

*confidential content

NB: Lagu ni merupakan gubahan dari lagu Jason Mraz berjudul "I'm Yours", dan kalau penasaran dengan suara merdu prisi, bisa klik link berikut untuk mendengarkan versi asli babu goblok: https://docs.google.com/file/d/0B_w0hx7ZziToM3diaDZ6R0R1YU0/edit?usp=docslist_api
Dan berikut ini copyright dari yang punya lagu:





Meskipun menderita, menjadi anak training itu merupakan langkah awal sebelum memasuki dunia perhotelan yang sesungguhnya. Ibarat pepatah, no pain no gain yang kalau di bahasa Indonesiakan menjadi "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian." Percayalah, meskipun menderita, secara tak sadar, banyak pula ilmu dan pengalaman yang akan didapatkan selama menjalani training, dan itu semua akan menjadi sangat berharga dan berguna kelak saat anda benar-benar bekerja di hotel.

Hidup babu!


Monday, 2 February 2015

Korea Oh Korea



Belakangan di hotel kedatangan banyak tamu  yang berasal dari Korea. Seneng sih, karena tamu-tamu Korea gini yang paling gampang handlenya. Dari pertama datang dan check in, sudah ada guide sendiri yang akan ngurusin semua keperluannya dia, mulai dari registrasi, makan, sampai check out. Payment sih gak usah pusing, karena semuanya sudah dibayar lunas jauh sebelum si tamu check in. jarang sekali tamu-tamu Korea begini consume apa-apa di hotel, karena seringnya nyentuh minibar saja enggak, gak seperti tamu-tamu bule ABG yang sampe dibela-belain berantem karena housekeeping info tamunya ambil minibar tapi merekanya ngotot gak minum apa-apa. Gak semuanya begini loh ya, sebagian saja kok. Sebagian besar aja maksudnya *sambil ngremes-ngremes bill minibar saking geregetannya.

Pas check in, saya juga tak usah susah-susah menerangkan ini itu, paling tinggal dimintain passport untuk dicopy, lalu ngomong aja sama guidenya dan si guide-lah yang bakalan cuap-cuap  nerangin segala sesuatunya. Deposit saya hampir tak pernah minta, karena mereka palingan tinggal cuma sehari dua hari, karena biasanya mereka ikutan paket tur dan harus mengunjungi beberapa tempat. Itupun, check in malam-malam dan besoknya check out pagi-pagi. Kalaupun stay over, biasanya merekalah yang ambil breakfast pagi-pagi, karena setelah itu mereka pergi seharian tour entah kemana, dan balik pulang hotel sesaat sebelum jam makan malam.

Selama tinggal, tamu-tamu Korea ini hampir tak pernah menelepon ke operator perkara minta ini itu, mungkin karena kendala bahasa. Biasanya tau-tau ada telpon dari agent dan minta nomor sekian minta ini minta itu. Jadi mereka ini nelpon guidenya dulu, nyuruh si guide buat nelponing resepsionist kalau mereka ada request. Halah, ribetnya...
Pas check out, proses check out tamu Korea ini yang paling cepat. Karena semua bill sudah settle dan tidak ada konsumsi apa-apa, ya tinggal kasih kunci saja dan check out. Beres! Bellboypun gak usah ribet karena mereka biasanya bawa sendiri koper-kopernya. Saya jadi ngayal, andai semua tamu model begini, dipastikan saya bakalan makan gaji buta dan tak usahlah saya minum panadol lagi saking pusingnya ngadepin beberapa tamu yang aneh-aneh*ngarep!

Saya selalu geli setiap kali handle tamu Korea. Entah kebetulan atau gimana, kok ya setiap yang datang pasti berpasangan. Dan semua pasangan itu pasti pakai atribut couple-an. Mulai dari koper, topi, syal, dan sepatu yang salah satunya pasti kembaran. Mulanya saya kira sih, karena mereka keluar negeri berdua dan mereka takut ilang satu sama lain kali ya...makanya mereka pakai baju seragam biar kalau ilang gampang nyarinya. Eh, ternyata besoknya pas mereka mau tur, mereka pakai baju couple lagi dengan motif beda! Yang membuat saya makin geli, eh mereka dong dengan pedenya pakai kaos couple dan tulisannya di depan "Wife" nah, yang punya cowok tulisannya "Husband", dan pas mereka berbalik di bagian punggungnya tulisannya "Just Married". Cie cie cie...! Tapi gak segitunya juga kali...! *Melirik sirik.
Anak training sayapun gatel komentar, "Orang Korea itu lo mbak, apa-apa berdua, apa-apa samaan, baju aja kembaran. Ah, mana saya ada kesempatan PDKT!"
Dasar!!!

Bukan, ini hanya ilustrasi. Bukan jualan :P

Kendala selama menghadapi tamu Korea saya rasa tidak ada. Palingan sih kalau kebetulan kunci mereka tidak berfungsi dan guide tidak ada, mereka lanngsung ke resepsionis dan langsung ngomong pakai bahasa mereka yang notabene saya gak ngerti. Dan dalam situasi begini, satu-satunya bahasa universal yang bisa dimengerti kedua belah pihak adalah... bahasa tubuh!!! Ya.. gitu deh, si Korea nunjuk-nunjuk ke kuncinya, lalu kedua tangannya disilang ke udara. Pas ditanya nomor kamar berapa, si Korea keukeuh ngasi tahu dalam bahasa Korea lagi. Dasar saya sudah gak kaget sama yang beginian, saya sih nyantai aja ngasih dia bulpen dan kertas, baru ketahuan deh dia tinggal di kamar nomor berapa.

Kendala lain selain percakapan, kadang-kadang saya juga dibuat bengong pusing dengan huruf-huruf korea yang berupa bulatan-bulatan abstrak itu. Ceritanya, kelar check in, kami harus mengupdate profile tamu yang meliputi alamat rumah, alamat email, nomor telepon, dan detail passportnya. Seharusnya sih tidak ada masalah karena tamu saya mengisi semua kolom yang wajib diisi, tapi kalau isinya huruf Korea, saya ngupdatenya gimana, coba?