Wednesday, 5 August 2015

LinkedIn, Medsos bagi para professional

Bicara mengenai media sosial, memang tak pernah ada habisnya. Siapa yang tak kenal Facebook, Path, Instagram, Twitter, Pinterest, Foursquare, dan antek-anteknya? Mungkin sebagian besar dari pembaca bisa menyebutkan nama dari beberapa media sosial lain yang mungkin asing bagi saya. Namun saya yakin, hanya segelintir dari pembaca yang mengenal Linked In. Apa hayo? Kasarannya begini, Facebook, Twitter, dan teman-temannya itu tempat 'nongkrongnya' para alay yang sedang galau. Sering juga dipakai sebagai tempat ajang pamer.. Ya pamer materi, pamer pacar, pamer makanan, sampai pamer mantan. Nah, sebaliknya.. Linked In ini medsos yang dibuat khusus bagi para professional. Yah, sebenarnya ajang pamer juga sih. Pamer jabatan. Pamer tempat kerja. Pamer skill dan pengalaman...

Kalau di Facebook, jamak sekali saya menemukan nama-nama alay semacam Adityacyankmucelamanya, an13z ygcelalutecakiti, dsb. Di Linked In, nama yang dipakai ya nama sebenarnya. Kalau nama aslinya Paijo, ya jadi Paijo. Biasanya nama selalu diikuti dengan jabatan dan tempat kerja. Nama sih Paijo, tapi jangan salah.. jabatan sebagai General Manager hotel Bintang Tujuh di Kotagede. Kedengerannya keren, bukan? *walaupun kenyataannya ini hanyalah hotel kelas melati yang kebetulan nama hotelnya memang hotel 'Bintang Tujuh'.

Selain nama, yang membedakan LinkedIn dari medsos lainnya adalah komunitasnya. Komunitas yang dibangun dari persahabatan sesama pengguna LinkedIn adalah komunitas dari lapangan kerja tertentu. Misalnya, orang hotel koneksinya ya sesama orang yang kerja di hotel. Lebih dikhususkan lagi, ada juga loh yang temannya lebih dipilah dan dipilih. Anak perhotelan yang kerja di Front Office hanya mau koneksi yang dari sesama Front Office saja, misalnya. Lah ya mungkin bakalan susah nyambung ya, kalau anak perhotelan terkoneksi dengan orang-orang yang bidangnya Engineering. Gak bakalan nyambung!
Perbedaan selanjutnya adalah mengenai apa-apa yang diposting atau apa yang di-sharing. Postingan paling rame kalau dari komunitas perhotelan sih biasanya yang berhubungan dengan recruitment, misalnya hotel A sedang membutuhkan banyak staff baru di bagian Housekeeping, atau di kota B ada hotel baru yang akan segera buka dan membutuhkan banyak pre-opening team.

Di Facebook notifikasi barunya paling-paling ya si A hari ini berulang tahun, Si A hari ini menikah, dsb. Di Linked In, notifikasi isinya si A hari ini genap setahun bekerja di perusahaan A, atau si A sekarang punya kerjaan baru di perusahaan B.

Yang menarik bagi saya adalah, karena  LinkedIn bisa saya gunakan sebagai semacam CV (curriculum vitae) elektronik. Isi profile pengguna LinkedIn termasuk saya ya, sudah semacam CV namun dengan isian yang lebih lengkap. Haram hukumnya jika CV lebih panjang dari 2 halaman kalau mau melamar kerja. Ya, HRD mana juga sih yang mau baca berlembar-lembar CV? Palingan juga HRDnya mikir, ini CV apa cerpen? Nah, lo?

Karena profilenya yang sudah seperti e-CV tersebut, saya sering sekali mendapatkan tawaran pekerjaan dari LinkedIn. Untuk posisi tertentu, biasanya employer sengaja mengundang kandidat, bukan meminta kandidat untuk melamar atau memohon kerja. Keren, bukan? Bisa jadi jual mahal karena saya gak usah susah-susah capek melamar, adanya mereka-lah yang mengundang saya agar mau bekerja di tempat mereka.


Yuk, bikin akun di LinkedIn!

Tuesday, 14 April 2015

Akibat kurang Jalan - Jalan



Saya sangat setuju dengan pernyataan kak Trinity Traveler bahwa salah satu manfaat jalan-jalan adalah untuk menambah pengetahuan dan tidak kuper. Pengetahuan apa? Ya pengetahuan umum, supaya gak malu-maluin di negeri orang. Saya memang bukan seorang penyuka jalan-jalan atau seorang hard core traveler atau traveler sejati seperti kak Trinity. Maklum, sebagai pekerja biasa, manalah saya bisa cuti sering-sering dan lama *sampai di sini saya langsung merasa sedih. Namun, setidaknya gak naif-naif amat karena banyak baca buku (lagi-lagi bukunya kak Trinity). Iya, saya ngefans banget sama kakak tukang jalan-jalan satu itu. 


Sebenarnya agak gimana ya kalo dibilang malu-maluin. Tapi saya jadi geli saja dengan tamu-tamu yang pertanyaannya membuat saya sakit perut seketika. Contohnya:
" I want to complain." Seorang tamu emak-emak bule datang ke saya dan langsung pasang muka ngambek.
" May I know what's the problem, Maam?"
" 10 minutes ago I asked your colleague where I can withdraw my money." Katanya.
" Yes.. and..?" Saya masih sabar nih ceritanya apa ada yang salah dengan rekomendasi teman saya.
" Then he suggested me to go to the ATM machine just down the road..."
Sampai di sini saya agak-agak khawatir. Banyak kasus kartu tertelan gara-gara si bule kelamaan bengong, tidak segera memencet tombol di mesin ATM.
" You know what, I received rupiah from the ATM. Rupiah, not in Australian dollar!"
Nah lo? Memangnya ada yang salah?
" ATM machine here only has rupiah in it, Maam. So whatever your currency in your card, when you withdraw money, of course it will be in rupiah." Perut saya tiba-tiba kram nahan kentut.
" Oh.." Katanya dengan wajah yang innocent. Kali ini, rasanya saya kepingin kentut beneran saking gak kuat nahan geli.

Contoh lain...
" I want to check out." Seorang bapak-bapak berwajah Cina menghampiri konter saya suatu hari.
Karena prepaid booking, otomatis kamar sudah lunas terbayar. Si tamu juga tidak ada konsumsi apa-apa, dan sayapun mengucapkan terimakasih, proses check out selesai.
Namun s tamu masih di sana, seperti menunggu sesuatu.
" I want the receipt." Katanya.
Nah lo? Receipt apaan? Makan, minum, minibar gak ada semua kok.
" Room receipt. Please print room receipt." Katanya lagi.
Sayapun menjelaskan bahwa dia booking melalui online prepaid booking, yang  artinya bookingannya dia sudah terbayar oleh pihak online agent (Agoda), sehingga di system kami harga yang tertera adalah harga agent (dan sudah terbayar), yang strictly tidak boleh dilihat oleh tamu. Tentu saya menolak memberikan print out bill.
" Other hotels gave me the print bill. Why you are so difficult."
Iya, rasanya saya mau kremes-kremes aja ini tamu.
" Because it is prepaid booking, Sir. You should have receipt from Agoda when you completed the booking." Saya balik ngeyelin dia. 
" I know, but I need the receipt with hotel's letter head on it to refund the tax at the airport."
What?! Rasanya saya pingin langsung muncrat, untungnya bisa saya tahan. Lah sejak kapan pajak hotel bisa direfund? Kalau misalnya belanja di toko-toko tertentu dengan nominal tertentu, memang tax bisa direfund di bandara, tapi sejak kapan hotel tax ikut-ikutan direfund?

Balik lagi ke topik jalan-jalan. Manfaat lain jalan-jalan adalah membuat orang lebih terbuka atau istilahnya open minded. Open minded bagi saya artinya adalah menerima keadaan. Namanya jalan-jalan, apalagi di negeri orang, janganlah disamakan dengan negara sendiri. Lagi-lagi mengutip bahasa keren kak Trinity bahwa "satu-satunya kepastian di negara tercinta ini adalah ketidakpastian." Kalo di internet dibilangnya sekian kilo hanya butuh sekian menit, pada kenyataannya bisa berpuluh menit jauh dari perkiraan.

Open minded kedua artinya menerima. Menerima apanya? Menerima informasi dari orang lain tanpa harus ngeyel dan membuktikan sendiri kebenarannya. Kalo informasi yang diberikan benar ya sukur, tidak benar ya nothing to loose. Nyebelin banget kalo ada tamu yang sotoy, udah nanya-nanya, dijawab bener malah ngeyel.


"Excuse me." Ini suatu hari ada tamu yang dateng ke konter saya, sepertinya mau nanya sesuatu.
" I want to go to Legian beach. How long does it take by taxi from here?" Tanyanya lagi.
" It takes about 20 minutes, Maam." sambil ngelirik arloji, jam-jamnya lagi macet-macetnya.
" Really? Can not be..." Katanya lagi.
" It is only 2 KM away according to the map. It will take no more than 5 minutes. I can even walk!" Tambahnya.
" Yes, Maam. But Seminyak street is small and so many cars passing and so many cars park on the street and it makes traffic so bad." Saya jelasin panjang lebar aja sekalian biar dia yakin saya gak lebay. Si tamu nanggepinnya gimana gitu, kaya gak percaya dengan keterangan yang saya berikan. Ya udin, kalo gak percaya ya monggo silahkan dibuktikan sendiri! Lagian ini tamu nanya apa ngetes sih? Kalo udah tau ya ngapain nanyak? Saya jadi sewot ini.

Singkatnya, sorenya saya ketemu lagi sama ini tamu waktu dia jalan di lobby. Dia sih gak ada ngeliat ke arah saya, dan jalannya cepet-cepet gitu. But saya sengaja aja nyapa dia, cuma mau ngetes berapa lama dia nyampe Legian. dan diapun ngeluh...
" Yeah, you are right. It took nearly 45 minutes just to go to Legian. Taxi didn't really move. I think walking is faster. Traffic was really crazy."
Sayapun ketawa ngakak dalam hati. Rasain! Eh, ini baru Bali loh, belum tau dia gimana rasanya kalo kejebak macet di Jakarta...

Dan yang paling nyebelin dari semuanya itu, kalo ada tamu yang songong, gayanya selangit, tapi (maaf) bloon. Udah gitu ngeyel dan sok bossy pulak!
Ceritanya ini tamu mau check out, dan niatnya bayar pakai credit card. Pas digesek, eh ternyata DECLINE. Saya kasih tahu tamunya dong, bahwa transaksinya gagal, dan meminta tamu menggunakan alternatif kartu lain (jika ada) atau payment dalam bentuk cash.
" You try again." katanya.
Siap, Boss!!!! Dalam hati saya membatin kesal, kalo aja ini orang bukan tamu, saya sudah bejek-bejek mukanya.Transaksi decline mau dicoba berapa kali kalo decline ya bakalan decline terus, lah!
Dan seperti yang saya duga, percobaan kedua juga decline. Sayapun mengulang permintaan agar tamu menggunakan alternatif kartu lain atau cash, eh.. saya malah dibentak.
" You check the balance there! It should work. I have more than enough to pay!" Katanya dengan gayanya yang super arogant.
Ngecek? Ngecek saldo di EDC? Ini becanda kan ya? Kenapa gak sekalian aja suruh saya narik duit dari mesin EDC? Ampun maaakkk...!

Berikut penampakan mesin EDC. Ini mesin ajaib loh, kartu KTP digesek juga bisa keluar duit...
Makanya, jalan-jalan sering-sering biar gak gini-gini amat. Belum bisa jalan karena kendala waktu dan biaya? Ya, baca buku travel seperti saya ^_^. Setuju?

Saturday, 7 March 2015

Sekuriti Nyelfi


Saya penasaran waktu si brondong Detha yang punya body ABRI hati Barbie itu tiba-tiba ketawa ngakak gak berenti-berenti selesainya nurunin barang tamu yang check out. Ketika saya tanyain, si Detha malah semakin keras ketawanya. Saya yang makin penasaran melongok ke bawah, yang saya lihat hanya sekuriti yang sedang sibuk mengatur lalu lintas, dan dua orang turis Jepang unyu-unyu yang juga sedang ngikik tertawa sambil melototin sesuatu di iPad mereka. 

Dan si Detha yang ketawanya mulai mereda itupun akhirnya cerita sambil terbata-bata...
Jadi dua cewek Jepang tadi ceritanya minta tolong ke sekuriti untuk motoin mereka di depan hotel dengan halaman dan lobby hotel sebagai latarnya. Si sekuritipun dikasih tahu 'angle' dan ikon mana yang harus dipencet untuk ambil photo. Sekuriti ngangguk-ngangguk, sih. Tapi gak tahu juga ngangguk maksudnya iya iya saja atau ngangguk ngerti nih. Kedua cewek Jepang itupun ambil posisi, berdamping-dampingan dengan pose segala umat; jari telunjuk dan tengah nunjuk di udara membentuk huruf V, sembari sedikit tersenyum ke arah kamera.
Si Sekuriti yang merasa siap pun menghitung aba-aba.
"One, two, three...!" katanya.
Dan... Jebret! Fotopun terambil.

Tanpa melihat hasilnya, itu iPad dikembalikan ke pemiliknya. Duo Jepang itupun sumringah sambil mengecek gallerinya. Dan, mereka langsung ngikik.
Si Detha yang kebetulan berada tepat di belakang dua turis Jepang inipun berusaha mengintip, takut kalau dia ikutan terphoto. Kalau pas pose ganteng sih tidak masalah, kalau posenya pas jelek kan, apa kata dunia? Bisa saja kan habis ini si duo Jepang ngupload itu photo trus itu photo dibuat meme-meme gak jelas di negaranya? Reputasi Detha sebagai seorang bellboy body ABRI hati Barbiepun akan tercemar! *Halah!

Si Detha lalu  dengan hati-hati melirik-lirik iPad. Ada gambar seorang laki-laki agak gendut berkulit coklat sedang senyum dengan jumawa. Detha memperhatikan gambar itu lebih lama, memastikan bahwa gambar selfie yang 90% berisi wajah seorang bapak-bapak dengan senyum jumawa ini adalah orang yang dia kenal. Sekian detik, Dethapun nyadar, foto di iPad duo Jepang tadi itu ya fotonya si Bapak sekuriti! Buahahahahaa....

Mungkin si bapak sekuriti yang awam dengan iPad mengira ikon bergambar kamera itu fungsinya sebagai shutter, padahal itu ikon kamera fungsinya untuk mengubah penggunaan kamera depan/belakang. Jadi secara tidak sengaja itu bapak securiti mengubah settingan kamera dari yang mulanya kamera belakang menjadi kamera depan, lalu entah gimana ceritanya itu bapak sekuriti malahan motret dirinya sendiri instead of motoin itu duo Jepang!

Dethapun menyadari apa yang terjadi dan menghampiri si duo Jepang.
"Excuse me, Miss. Would you like me to take another picture for you?" Ini si Detha nawarin diri sambil menahan kentut ketawa.
"No, No. Thank you." Kata mereka bebarengan, sambil senyum-senyum geli. Mungkin mereka mikir, ogah ah. Daripada diPHP-in. Pinginnya punya foto diri, eh yang nongol malah wujud 'penampakan'. 

Si Dethapun naik ke lobby dan masih ketawa-ketawa. Dari jauh, saya lihat pak sekuriti di bawah sana masih senyum-senyum ke dua bule Jepang yang sama, tanpa wajah dosa.

 P.S: Cerita heroik Detha yang lain bisa dibaca di sini


Monday, 23 February 2015

10 Alasan Mengapa Kerja di Hotel itu Keren (Trans)


Berdasarkan  Trends & Statistics survey tahun 2009 oleh  British Hospitality Association (BHA), sekitar 1,9 juta orang di Inggris bekerja di sektor perhotelan. Bisa jadi, jika anda membaca artikel ini, anda adalah salah satunya. Seperti yang anda tahu, sektor satu ini cukup populer dan mungkin anda juga tahu mengapa banyak orang yang tertarik bekerja di hotel. Ya, jam kerja di hotel mungkin akan terasa panjang dan melelahkan, namun mungkin anda hanya akan menemukan segelintir orang yang  tidak menikmati pekerjaannya di hotel. Dan inilah alasannya mengapa bekerja di hotel itu...Keren!

1.Bisa Membuat Orang Lain Bahagia

Tak peduli apakah anda seorang Concierge di hotel atau seorang steward yang bekerja 'di balik layar' ataupun bagian management yang setiap harinya ngantor  di bagian back office, setiap kali anda bekerja, secara langsung atau tidak, pekerjaan anda adalah membuat orang lain bahagia. Bekerja di hotel artinya anda bekerja untuk melayani tamu. Dan goal dari pelayanan itu sendiri adalah jika tamu senang dengan pelayanan yang kita berikan.(Bagi yang belum tahu apa itu concierge, bisa cari tahu di sini. Untuk steward, bisa klik di sini)
NB: Sekalian nambahin pahala kan kalo bisa membuat orang lain senang?

2. Kreatif

Karena bekerja di sektor dimana orientasinya adalah kepuasan tamu, bekerja dihotel artinya anda dituntut untuk menjadi kreatif. Anda harus menciptakan produk-produk baru, entah itu berupa makanan, minuman, atau layanan, dan hal-hal baru selalu tercipta seiring dengan perkembangan tuntutan pelayanan yang tujuan utamanya lagi-lagi, untuk membahagiakan tamu. Kalau dalam hal makanan dan minuman, chef biasanya selalu punya menu baru dalam periode tertentu. Pelayanan kreatif misalnya ketika check in, dari paspor tamu receptionist tahu tanggal lahir tamu dan menyiapkan birthday surprise. Antar kuenya ketika tamu selesai breakfast, ambil photo, lalu di print. Masukkan ke bingkai photo dan kasih tamu ketika check out sebagai souvenir. Dijamin si tamu bakalan pasang muka 'ooo.. sweet!' saking terharunya.

3.Membuka Pintu Dunia

Setiap negara di dunia pasti punya bisnis di bidang perhotelan, dan ketrampilan anda di dunia perhotelan ini bisa diaplikasikan di hotel manapun di dunia, yang artinya karir di dunia perhotelan tidak akan mentok di satu negara saja. Jika kebetulan anda sekarang ini bekerja di hotel yang memiliki jaringan internasional, maka kemungkinan untuk bekerja di negara manapun terbuka lebar untuk anda. Bagi yang bekerja di hotel kecil, tak perlu berkecil hati. Di era modern dimana internet sudah menjadi salah satu kebutuhan primer, banyak ditemukan situs-situs pencari kerja global, seperti catererglobal.com, isearch.com, dan sebagainya.

4.Tidak ada Alasan untuk jadi Bosan.

Kerja di hotel adalah salah satu pekerjaan paling dinamis yang selalu bertemu orang baru setiap harinya. Bosan di receptionis? Pindah ke concierge, atau reservasi, atau sales. Bagaimana dengan yang bekerja di belakang layar, seperti area dapur? Banyak juga kok variasinya. Bosan di bagian hot kitchen, bisa pindah ke bagian pastry, cold kithen, atau butcher. Di hotel tertentu ada rolling section yang mengharuskan karyawannya pindah section dalam periode tertentu. Kerja dimana lagi hayo yang bisa pindah-pindah section seperti ini?

5. Mudah 'naik pangkat'

Hotel adalah salah satu tempat kerja yang 'turn over'nya tinggi. Artinya banyak sekali karyawan yang keluar masuk karena kompetisi dan kesempatan yang luas di luar sana. Dengan banyaknya turn over tersebut, kebanyakan hotel lebih memilih mengangkat karyawan lama ke posisi selanjutnya daripada merekrut orang baru yang artinya masih membutuhkan waktu untuk adaptasi dan training.Tak heran, banyak staff hotel di luar sana yang awalnya hanya trainee, dan kurang dari 10 tahun bekerja di hotel sudah menjadi manager (atau minimal supervisor).

6.Bukan Orang Kantoran Yang jam Kerjanya dari Jam 9 ke Jam 5

Jika anda seseorang yang menyukai keterikatan dengan apa yang dinamakan rutinitas, bangun di jam yang sama setiap hari, sarapan, menghadapi macet saat berangkat kantor, dan pulang di jam-jam macet pula, maka berkerja di hotel tidaklah cocok. Sebaliknya, kerja di hotel dengan sistem shifting enaknya setiap harinya selalu berbeda, kadang bisa menikmati sunset, kadang bisa santai sarapan tanpa harus buru-buru, dan kadang-kadang bisa molor seharian karena dapat shift sore.

7. Tak Perlu Gelar Berbelit

Tidak seperti pegawai negeri yang gajinya tak seberapa, musti sarjana atau master, banyak sogokannya tapi tesnya ampun ampun lulusnya, kerja di hotel tidak banyak membutuhkan pendidikan formal yang berbelit. Pendidikan dasar pengetahuan perhotelan memang sangat diperlukan sebagai bekal awal, namun ketrampilanlah yang nantinya akan sangat menentukan kualitas. Itu sebabnya, setiap lembaga pendidikan perhotelan pasti mensyaratkan job training sebagai salah satu syarat kelulusan.

8. Kesenangan Lain Lain

(Jujur saya bingung menerjemahkan judul aslinya= Perks artinya tunjangan, tapi yang saya maksud bukan tunjangan seperti yang ada di pikiran anda)
Gimana ya? Kalau and kerja di kantor, hiburannya paling-paling ke karaoke atau makan bareng teman sekantor. Kalau di hotel beda. Setiap bulan akan ada semacam staff party dengan makanan a la hotel dan di hotel-hotel tertentu ada aktifitas outing, pergi ke suatu tempat, party-party dan dibayarin kantor!

9. Lingkungan Kerja Yang Menyenangkan

Di kebanyakan tempat, selalu ada rekan kerja yang tidak menyenangkan, dan selalu ada satu atau dua yang juteknya setengah mati. Kabar baiknya, di hotel bakalan jarang yang seperti itu. Mengapa? Karena staff hotel yang baik adalah staff yang ramah, dan HRD tentu tidak akan merekrut karyawan yang judes. Bayangkan saja jika seorang staff dikomplain tamu dan si staff ngebentak balik ke si tamu? Serem, bukan?

10. Bidang Kerja Yang Aman

Semua orang pasti butuh makanan, minuman, dan tidur, bukan? Maka dari itu, meskipun terjadi krisis ekonomi, bidang perhotelan mungkin akan sedikit terkena dampak, namun akan masih tetap aman dan berkelanjutan. Maksud saya, tidak pernah ada ceritanya tiba-tiba saja hotel A bangkrut, gulung tikar, dan serta merta memecat seluruh karyawannya. Batul tidak?

 
Jadi, tunggu apa lagi? Buruan apply kerja ke hotel!

 Note: Artikel ini adalah artikel terjemahan dengan beberapa gubahan yang disesuaikan; lihat heading judul (Trans). Artikel aslinya bisa dibaca di  sini

Wednesday, 4 February 2015

Balada Trainee dan Babu Goblok

***Maaf kalau judulnya agak kasar kali ini. Bukan bermaksud merendahkan, menghina atau apa, tapi memang saya sesuaikan dengan konten blog kali ini.

 Bicara masalah training memang bagi saya tak ada habisnya. Masa training memang menjadi salah satu masa yang paling dikenang karena memang banyak kenangannya *ya iyalah Oneng!
Secara, jadi trainee itu artinya seperti memasuki dunia baru, dan belajar hal yang benar-benar baru, seperti belajar adaptasi. Mengenal orang-orang baru, lingkungan baru, dan suasana baru di tempat kerja  yang seolah-olah memberikan harapan akan masa depan yang cerah padahal palsu .Ngayal suatu hari bisa jadi General Manager teladan, misalnya *ah, itu mah ngelindur di siang bolong!

Next lesson adalah pelajaran memahami perbedaan karena pada dasarnya apa yang diajarkan di kampus itu ternyata berbeda 100% dengan apa yang kita pelajari saat training. Bayangkan, di kampus kan dosen ngasih studi kasus rumit semacam menghitung cost dan budget. Nah kenyataannya saat jadi trainee, boro-boro ngitungin 'duit negara', yang ada saya sibuk ngitungin berapa tamu yang berhasil membuat saya ngemut panadol saking mumetnya ngadepin tingkah mereka yang alhamdulilah... aneh-aneh! Damn!!!

Pelajaran paling berharga yang saya terima saat training tentu saja... belajar sabar! Eits, jangan sekali-kali meremehkan pelajaran satu ini! Jadi trainee kan artinya kita yang belum tau apa-apa bakalan disiksa  digembleng sedemikian rupa oleh para senior yang tingkahnya tak kalah amazingnya dibanding tamu hotel. Ada yang baik, tapi tak sedikit yang jahat kurang bersahabat, memanfaatkan trainee yang lugu dan polos nganterin ini itu, mengerjakan ini itu, atau prepare ini itu sampai saya sendiri lupa 'ini itu' tu apa * Nah lo, bingung gak tuh?

Saya jadi ingat penderitaan saya dikerjain senior mengantar tamu  dan musti jalan-jalan sampai gempor setiap hari muterin pekarangan the Grand Beach sampai kaki saya melepuh. Cerita lengkapnya baca di sini.

Saya sampai bersumpah (wuih bahasanya!), kalau nantinya saya jadi trainer saya gak bakalan jahatin trainee-trainee saya. Saya bakalan didik mereka supaya pinter dan berguna bagi nusa, bangsa, dan dunia (dunia perhotelan maksudnya). Adanya kalau tingkah mereka aneh-aneh, palingan juga besoknya mereka bakalan syok karena kisah ajaib mereka di blog bakalan dibaca ribuan orang yang bakalan gedeg-gedeg tak percaya bahwa manusia beginian beneran ada.

Masih tentang sabar, jadi trainee memang harus extra sabar. Maksud saya sabar menunggu waktu berjalan, dimana masa enam bulan berasa seperti enam windu. Tidak semua orang beruntung mendapatkan tempat training seperti yang mereka cita-citakan, tak semua orang beruntung mendapat tempat enak dimana tamunya baik-baik plus suka ngasih tip dan seniornya doyan nraktir makan *coba cariin saya tempat beginian, mau deh saya ikut training lagi.

Contohnya salah satu teman seangkatan saya saat masih training di the Grand Beach. Namanya Tian, anak Jakarta, dari universitas internasional ternama, anak direktur perusahaan besar di Jakarta pula*kurang apa coba? Ada. Si Tian ini, orangnya tomboy sekali. Masih mending kalau tomboy hanya kelakuannya saja, nah ini penampilannya sudah seperti laki-laki, dengan rambut cepak berdiri, kaos oblong, celana jeans dan sepatu kets. Sekilas, orang tak akan sadar kalau si Tian ini sebenarnya perempuan. 

Nah, karena penampilannya inilah, Tian yang seharusnya ditempatkan di bagian front office harus rela menjalani masa trainingnya sebagai housekeeping. Iya, housekeeping. Bayangkan, Tian yang sehari-harinya dilayani banyak pembantu, sekarang harus 'tabah' menjalani hidupnya sebagai seorang housekeeping trainee. Jangankan membersihkan toilet, pegang sapu aja dia gak pernah *ya iyalah dodol, di rumahnya Tian gak ada sapu, adanya vacuum cleaner kalee...

Orang tuanya sempat datang jauh-jauh dari jakarta ke Bali dan bicara dengan orang HR, barangkali Tian bisa ditempatkan di departemen lain jika memang sebagai frontliner appearance-nya kurang mendukung. Tapi dasar orang HR juga keras kepala, atau mungkin bersikap adil, yak? Gak peduli mau anak pejabat kek, anak konglomerat kek, kalau sudah apply di The Grand Beach ya melamar kerja toh? Meskipun hanya training. Tapi demi nilai, Tian-pun harus rela membersihkan toilet, membuang sampah, mengepel lobby, bahkan membersihkan kamar dan ikutan making bed dengan seniornya. Sabar ya, Tian!


Pelajaran berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah belajar ikhlas, artinya menerima dengan lapang dada. Menerima apa? Ya menerima kenyataan, lah! Namanya trainee, dimana-mana sudah biasa ditindas, dan diperlakukan semena-mena. Disuruh ini itu, disalah-salahin, dan itu semua tanpa digaji. Iya, tanpa digaji. Salah satu teman saya, Prisi, malahan sampai membuat lagu berjudul "Babu goblok", yang kurang lebih menceritakan betapa menderitanya menjadi anak training.

Berikut ini liriknya:
Babu Goblok
Bilangnya aja kita dapat trainingnya di Bali
Bukan jadi pinter kita malahan kaya kuli
Oh sungguh makan ati
Ow ow ow...

Bangun pagi kerja siang pulangnya malam hari
Nungguin enrico yang sedang lagi asyik ngopi
Oh sungguh makan ati
Gak digaji..

So aku nelongso awak loro
Awak soro ow ow ow...

Pagi-pagi pergi kerja jalan kaki ke XXX*
Demi sesuap nasi putih lauk ikan pindang
Minumnya air keran dari korahan

Habis makan kenyang ngerasa kaya orang hutan
Garuk sana garuk sini karena kegatelan
Alergi pindang, ow ow ow...

So tambah nelongso
Ati loro awak soro ow ow...

Babu babu babu, bagu babu goblok...
babu babu goblok...

*confidential content

NB: Lagu ni merupakan gubahan dari lagu Jason Mraz berjudul "I'm Yours", dan kalau penasaran dengan suara merdu prisi, bisa klik link berikut untuk mendengarkan versi asli babu goblok: https://docs.google.com/file/d/0B_w0hx7ZziToM3diaDZ6R0R1YU0/edit?usp=docslist_api
Dan berikut ini copyright dari yang punya lagu:





Meskipun menderita, menjadi anak training itu merupakan langkah awal sebelum memasuki dunia perhotelan yang sesungguhnya. Ibarat pepatah, no pain no gain yang kalau di bahasa Indonesiakan menjadi "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian." Percayalah, meskipun menderita, secara tak sadar, banyak pula ilmu dan pengalaman yang akan didapatkan selama menjalani training, dan itu semua akan menjadi sangat berharga dan berguna kelak saat anda benar-benar bekerja di hotel.

Hidup babu!