Saturday, 25 October 2014

Mendadak Translator

Setelah 'lulus' dari tempat training saya di Bali lima tahun yang lalu, bahasa Jepang yang dulunya pernah saya bisa perlahan menghilang. Lupa, karena jarang sekali dipakai. Dulunya, sekedar memberi arahan jalan ke arah mana, menyebutkan nomor kamar atau menyebutkan nominal uang dalam bahasa Jepang sih saya bisa, Selain karena saya punya banyak tamu Jepang, Tak (yang ada banyak saya sebut di buku Hotelicious- yang dalam hitungan mundur kurang dari 50 hari akan resmi menjadi suami saya) juga orang Jepang, saya merasa saya harus bisa berbahasa Jepang meskipun saya dan Tak bisa menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari tanpa ada masalah.

Pertama kali belajar bahasa Jepang adalah enam tahun lalu, sebelum saya training ke Bali. Saya masih ingat, saya punya guru bahasa Jepang privat yang datang ke tempat tinggal saya seminggu tiga kali. Sensei (demikian saya memanggil guru privat saya) menganjurkan saya untuk mengikuti  tes tahunan bahasa Jepang (noryoku-shiken) waktu itu. Baru juga dapat enam bab, dan saya merasa saya belum mampu. Tapi karena terus didorong dengan semangat "apa salahnya mencoba?", sayapun memberanikan diri ikut test tersebut. Tidak berharap dapat nilai yang bagus, karena saya juga setengah jalan mempelajarinya. Tapi saya shock berat saat hasilnya keluar; reading saya 40%, listening 30%, grammar 35%, dan rata-rata kalau semua dijumlahkan hanya sekitar 35%-an. Arrrrrrggghhhh saya malu setengah mati dan saya tak berani menunjukkannya ke Tak. 

Setelah saya bekerja sendiri, saya masih belajar bahasa Jepang, sekitar 2 tahun lalu di IMC Centre Surabaya (lembaga pendidikan bahasa dan kebudayaan Jepang). Saya pribadi lebih nyaman belajar begini daripada privat, mungkin karena seperti ada kompetisi di kelas dan di lubuk hati saya yang paling dalam mengatakan : "malu-maluin aja lu kalo gak bisa", dan hal-hal semacam inilah yang memacu saya untuk terus belajar dan tidak mau kalah dari yang lain. Namun lagi-lagi, belum juga saya selesai belajar, Bali memanggil saya kembali dan saya terpaksa berhenti belajar.

Yang saya harapkan dengan bekerja di Bali lagi adalah, saya bisa mempraktekkan skill bahasa Jepang saya yang tidak seberapa saat itu dengan tamu-tamu Jepang saya. Yang saya tidak tahu, ternyata area Seminyak (area dimana saya bekerja saat ini), bukanlah destinasi favorit turis Jepang. Dan kenyataannya, selama setahun bekerja di sini, saya hanya dapat lima turis Jepang (yang saya handle) dan itupun Jepang yang lama tinggal di Amerika atau yang sudah sering travelling ke Eropa sehingga bahasa Inggrisnya jago-jago dan tentu saja saya servisnya tidak usah repot berbahasa Jepang.  

Bencana baru datang dua hari yang lalu saat dua orang Jepang bermarga Suzuki datang ke saya dan tanpa basa basi menyodorkan majalah berhuruf paling abstrak sedunia, huruf kanji.
" Sumimasen*, bla bla bla..." Salah satu orang Jepang ini mulai ngoceh.
"Eigode onegaishimasu. Nihongo ga dekimasen." Lah, ini bisa dong bahasa Jepang. Nop! Itu hanya kalimat wajib yang kira-kira artinya "English please. I don't speak Japanese." Apalagi tujuannya, kalau bukan supaya tidak menambah nyut-nyutan kepala saya karena saya memang tidak ada clue sedikitpun menganai apa yang barusan mereka tanyakan. Eh, tapi mereka ngotot...
"E..to... bla bla bla..." sambil nunjuk-nunjuk majalah itu lagi.
Saya perhatikan, di majalah itu ada sepasang bule berpakaian adat Bali. Ah, mungkin maksudnya mereka mau photo studio dengan kostum adat Bali, yak?
Baru juga saya mau tanya, mereka membuka beberapa lembar majalah (berbahasa Jepang lagi dengan huruf abstrak itu tentunya!) dan memperlihatkannya sekali lagi ke saya. Ada gambar gajah di sana. Mungkin elephant ride, saya menebak.
"This." katanya.
 Lah? Mau naik gajah atau mau photo adat Bali? Atau mau photo naik gajah dengan kostum Bali? Ah, saya mulai ngaco. Saya mulai bingung... Dan dengan bahasa Inggris yang gak jelas saya berusaha mengkonfirmasi, mana yang mereka mau booking. Photo adat Bali, atau naik gajah? Tapi jawaban yang saya dapat adalah...
"@$%# $%^&^&*^(*&*"
Saya bengong. Mereka berdua bengong. Ini maunya apa dan mau yang mana?
Tak hilang akal, si turispun mnegeluarkan gadgetnya dan menulis sesuatu di sana. Apalagi kalau bukan google translate. Namun sial, si Google translate ternyata tak banyak membantu. Yang tertulis di layar adalah "Satu kali pulang rumah kembali." Apa maksudnya coba?
Eh.. tiba-tiba saya ide. Saya suruh mereka menunggu sebentar, dan saya pencet nomor paling penting sejagat, nomor Tak. Iya, saya tahu, saya ini manusia jenius. Kalau kepepet, ada saja akalnya. Akal bulus, maksudnya.
"Haloo.." saya langsung nyamber, begitu Tak yang di seberang sana angkat telepon. Tak tentu saja kaget, karena dia tahunya saya lagi kerja, dan tak biasanya tiba-tiba menelepon. Sayapun tanpa basa basi langsung meminta Tak untuk menterjemahkan paket-paket photo adat Bali dan elephant ride beserta harganya. Di seberang, Tak sibuk mencatat segala sesuatunya. Setelah selesai dan Tak siap, gagang telepon saya berikan kepada turis Jepang tadi.
"Hai" katanya.
Perbincangan selanjutnya tentu saja saya tak mengerti, karena semuanya dalam bahasa Jepang, namun yang saya dengar, turis Jepang tersebut sedikit-sedikit angguk-angguk dan bilang "Haaai!"
Ops, maksud saya, baiklah. As long as tidak ada miss komunikasi, saya sih Ok saja.
Gagang telepon lalu dioper ke saya lagi. Tak masih di seberang sana.
"Anna-chan, they want to do Balinese wedding photo at 10AM, then elephant ride  at about 1 PM the day after tomorrow." Sayapun rasanya pingin ngakak. Perasaan tadi ngomongnya panjang banget sampai berbusa-busa dan kesimpulannya cuma begini doang? Ah, baiklah...Dengan susah payah sayapun menyampaikan akan mencoba membookingkan dan mengirim konfirmasinya begitu bookingannya selesai. 

Saya kira nyampe disini urusannya bakalan beres. Ternyata tidak. Paket naik gajah yang diinginkan si turis Jepang sudah habis terjual begitu saya konfirmasi ke agennya. Yang tersedia adalah paket yag lebih mahal, dengan beberapa benefit tambahan, tentunya. Mau dibookingkan saya tak berani, takutnya si Jepang tidak mau karena harganya yang lumayan mahal dan tur dimulai lebih awal. Padahal paginya si turis Jepang sudah confirmed janji dengan studio phto adat Bali. Mau konfirmasi dengan tamunya, merak keburu ngacir. Ya sudahlah saya kasih note saja. Tapi dalam bahasa Inggris? mereka tentu gak ngerti. Satu-satunya jalan adalah... eng ing eng..! Tak lagi!

Sayapun buru-buru kontak Tak lagi dan meminta Tak menuliskan paket elephant ride tersebut dalam bahasa Jepang. Tak sampai 10 menit, saya sudah dapat email dari Tak dan segera saya print. Saya msukkan ke amplop, lalu saya kirim ke kamar tamu Jepang tadi. Beres.



Besoknya, saat breakfast, mereka datang lagi ke saya dan memberi saya seplastik permen susu.
"Arigatou." Katanya. Mungkin hadiah. Atau tip?  
Ah, saya jadi merasa bersalah. Seandainya saya sendiri bisa berkomunikasi dengan mereka, tentu akan lebih bagus. But good think I just realized is, kalau perlu bantuan penerjemah, Tak bisa saya mintain bantuan jadi penerjemah dadakan. I know I'm lucky.Hahaha!


Note:
*Sumimasen: permisi

No comments:

Post a Comment