Monday, 27 October 2014

Trainee Konyol


Masih ingat dengan trainee saya yang bernama Ben? Iya, salah satu trainee yang pernah saya bahas juga di blog ini April lalu. Trainee saya yang lain waktu itu, saya kira akan sama saja konyolnya dengan si Ben ini. Ternyata saya salah sangka, si Chandra (trainee saya satunya lagi) bener-bener anak baik dan 'berbakti' pada trainernya. Jadilah saya gak jadi nulis yang aneh-aneh tentang si Chandra. Hehehehe..
Saya kira trainee saya yang bernama Ben (baca ulasan tentang si ben ini di sini) adalah trainee paling konyol yang pernah saya temui seumur hidup saya. Nyatanya, setelah si Ben pergi, saya dapat dua trainee yang konyol-nya naudzubillah, alias amit-amit jabang baby. Trainee saya ini cewek semua, satunya anak Bali asli sedangkan satunya dari Banyuwangi, Jawa timur. Karena cewek, yah saya kira mereka bakalan kalem dan jaim-lah. Pertama datang sih mereka malu-malu kucing, sekalinya seminggu disini, ketahuan sudah kelakuan aslinya.
Salah satu Trainee saya yang cewek ini namanya si Deaby. Ngefans banget dengan yang berbau-bau Korea dan Jepang. Kalau ada tamu Jepang atau Korea yang unyu-unyu, mulutnya langsung nyeplos, “ aduh mbak.. lihat deh ini cowok. Gantengnya..”. Dan sayapun hanya bisa mengelus dada menyaksikan kelakuan trainee satu ini yang paling gak bisa diam kalau saya lagi handle tamu Jepang atau Korea.
“Biar aku yang antar luggagenya mbak..” Si Deaby menawarkan diri. Apalagi maksudnya, kalau bukan mau deket-deketan dengan si cowok unyu Korea. Kadang, tak peduli betapa besar koper yang harus diantar. Tak peduli si cowok ada gandengannya, masih sempat-sempatnya dia tebar pesona.
“Siapa tahu nantinya dia jatuh cinta padaku, mbak.” Katanya lagi. Ngarep. Begini nih kalau kebanyakan nonton film drama Korea. Saya tepuk jidat. Ya sudahlah…
Minggu berikutnya saya si Deaby yang saat itu seharusnya belum resmi jadi pengikut saya, jadi mengikuti schedule saya karena senior yang seharusnya dia ikuti schedulnya hari itu tukar off. Saya sih senang-senang saja, secara si Deaby ini anak yang rajin dan sedikit banyak dia sudah bisa membantu saya dalam proses check in dan check out. Singkat cerita, siang itu saya sedang menghandle seorang bule Australia yang ehm! Ehm! Baru saja saya meminta pasportnya, si Deaby dengan sigap menawarkan bantuan untuk memfotokopi paspor tersebut. Bener-bener deh, trainee idola.
“Sekalian aku ambilkan registration card-nya ya mbak.” Katanya lagi. Tuh, kan? Apa saya bilang. Ciamik deh ini anak.
“Eh, namanya Jones ya mbak. Jomblo ngenes. Hihihi.” Si Deaby lagi. Mungkin tanpa tendensi apa-apa. Saya langsung muncrat. Spontan ketawa. Konsentrasi saya seketika buyar. Jomblo ngenes? Ini anak ada-ada saja. Bule cakep begini kok ngenes. Sayapun melanjutkan proses check in sambil cekikikan. Dan seperti yang saya duga, si Deaby mukanya masih innocent seperti tanpa dosa. Dasar!!!
Eniwei, trainee saya yang satunya namanya Ami. Karena dia tidak ikut-ikutan Korean wave, saya kira dia bakalan jadi anak yang 'normal'. Ternyata, si Ami ini jauh lebih parah daripada si Deaby.
Jadi ceritanya suatu hari saya minta si Ami ini nganter surat buat kamar tamu no 323. Ami menolak. Ini aneh. Biasanya, Ami tak pernah menolak kalau dimintai tolong. Sayapun penasaran.
"Kok gak mau, Mi? Kenapa?"
"Pusing mbak.." Katanya. Saya kira si Ami sedang sakit saat itu dan sayapun menyarankan supaya dia ke klinik saja dan istirahat. Ami menggeleng.
Lah, kalau gak sakit trus kenapa dong?
"Ami gak bisa naik lift, mbak. Kalau naik lift Ami langsung jongkok, kepala Ami pusing."
Oh My...!!!! Saya kira cuma tamu saya yang dari daerah saja yang kena syndrom beginian. Ealah ternyata traineeku juga sama. Saya bukannya kasian malah saya sengaja suruh dia sering-sering naik lift. Jangan salah, bukannya saya jahat loh ya, justru demi kebaikan dia sendiri dong. Kalau nanti sudah betulan kerja di hotel dan hotelnya bertingkat banyak kan, mau gak mau harus naik lift. Dan ini ternyata efektif. Dua bulan sejak hari itu (iya, saya tahu lumayan lama juga ya...) Ami tak pernah mengeluh pusing kalau harus naik lift lagi...

Lain hari, si Ami yang sekarang sudah bisa handle check in dan check out sendiri (siapa dulu trainernya.. hehehe), menghandle seorang tamu bule (yang kelihatannya) minta dibookingkan paket tur. Saya sendiri kurang tau percakapan awalnya bagaimana antara Ami dengan tamu, namun tiba-tiba Ami datang ke arah saya dan langsung tanya:
"Mbak... kalau mau lihat respil itu dimana ya?"
Hah? Respil? Reptil maksudnya? Ada dong jauh di pulau Komodo...
Sayapun mengkonfirmasi, memastikan telinga saya tidak salah.
"Hah? respil?" Si Ami mengangguk. Saya makin bingung. makhluk apakah gerangan si respil ini...
Ya sudahlah karena ogah berdebat, sayapun berinisiatif mendatangi tamu dan bertanya mereka mau ambil paket tur apa dan dimana.
"Yes, we would like to go to the RICE FIELD. Where do you think I can see it?"
Oalah.. yang sedari tadi dibilang respil respil itu ternyata RICEFIELD! RICEFIELD alias sawah!!! Perut sayapun rasanya langsung mules menahan tawa. Saya lihat muka si Ami. Cuek saja seperti tanpa dosa. Ampun maaaakkk, ini anak bener-bener parah. Pertama, pengucapan ricefield yang 'males' banget sampe jadi respil. Yang kedua, perasaan dia yang asli Bali dan saya malah pendatang, masa iya wisata sawah tempatnya dimana aja gak tau?!
Di hari yang lain saat para reception sedang sibuk, Ami menerima telepon dari kamar in house (kamar yang sudah ada penghuninya alias sudah check-in) dan terlihat serius sekali. Entah apa yang diperbincangkan, namun Ami terlihat bingung, dan seperti biasa nanya ke saya, emaknya.
"Mbak, kamar 223 pen-nya rusak. Kontaknya ke enggineering, kan ya?"
Saya yang sedang sibukpun kontan nyelutuk seenaknya.
"Ya kamu kirim pen kamu aja lah. Ngapain manggil engineering segala."
Ami pasang muka bingung lagi.
"Pen ACnya rusak mbak." Ami mulai merengek. Ehm, saya mencium adanya ketidak beresan. Pasti bukan pen biasa...
Dan sayapun menyadari sesuatu..
"Fan AC maksud kamu Mi?"
Bisa ditebak, Ami mengangguk. Pen dan Fan itu beda jauh keles…
Kejadian lain, (masih dengan Ami tentunya). Saya yang masuk pagi saat itu sedang sibuk mengecek bill tamu yang akan check out hari itu. Si Ami yang baru saja datang langsung mendekati saya.
"Mbak, SOP sudah?” katanya.
SOP*? Hah? Memangnya ada aturan baru??
“Memang ada SOP baru? Sejak kapan? Tentang apa? Kamu baca dimana?” Saya penasaran.
Si Ami pasang muka bingung. “Maksudnya, mbak?”
Ini saya yang bego apa saya yang bloon sih?
“Lah itu SOP? Maksudnya apaan?” Saya mencerca.
“Itu mbak, yang dari Agoda** itu loh.. SOP kan? Sudah?”
Saya nyengir asem seasem-asemnya. Biasanya kalau shift pagi salah satu tugas anak reception itu meng-SOF*** voucher dari prepaid booking online semacam Agoda atau Expedia… Tapi SOF dan SOP jauh banget yak…
Dan seharian itu materi training yang saya berikan ke Ami adalah membedakan antara huruf F, V and P. 

Catatan:
*SOP : Singkatan dari Standart Operational Proscedure. Kurang lebih artinya adalah aturan-aturan perusahaan.
** Agoda : Salah satus situs penyedia layanan booking kamar hotel online
**SOF : Singkatan dari Sign on file. Biasanya berupa voucher yang berisi detail kartu kredit dimana merchant mendapatkan kewenangan untuk menarik sejumlah uang dari kartu kredit yang besarnya sesuai dengan jumlah yang tertera di voucher.


Saturday, 25 October 2014

Mendadak Translator

Setelah 'lulus' dari tempat training saya di Bali lima tahun yang lalu, bahasa Jepang yang dulunya pernah saya bisa perlahan menghilang. Lupa, karena jarang sekali dipakai. Dulunya, sekedar memberi arahan jalan ke arah mana, menyebutkan nomor kamar atau menyebutkan nominal uang dalam bahasa Jepang sih saya bisa, Selain karena saya punya banyak tamu Jepang, Tak (yang ada banyak saya sebut di buku Hotelicious- yang dalam hitungan mundur kurang dari 50 hari akan resmi menjadi suami saya) juga orang Jepang, saya merasa saya harus bisa berbahasa Jepang meskipun saya dan Tak bisa menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari tanpa ada masalah.

Pertama kali belajar bahasa Jepang adalah enam tahun lalu, sebelum saya training ke Bali. Saya masih ingat, saya punya guru bahasa Jepang privat yang datang ke tempat tinggal saya seminggu tiga kali. Sensei (demikian saya memanggil guru privat saya) menganjurkan saya untuk mengikuti  tes tahunan bahasa Jepang (noryoku-shiken) waktu itu. Baru juga dapat enam bab, dan saya merasa saya belum mampu. Tapi karena terus didorong dengan semangat "apa salahnya mencoba?", sayapun memberanikan diri ikut test tersebut. Tidak berharap dapat nilai yang bagus, karena saya juga setengah jalan mempelajarinya. Tapi saya shock berat saat hasilnya keluar; reading saya 40%, listening 30%, grammar 35%, dan rata-rata kalau semua dijumlahkan hanya sekitar 35%-an. Arrrrrrggghhhh saya malu setengah mati dan saya tak berani menunjukkannya ke Tak. 

Setelah saya bekerja sendiri, saya masih belajar bahasa Jepang, sekitar 2 tahun lalu di IMC Centre Surabaya (lembaga pendidikan bahasa dan kebudayaan Jepang). Saya pribadi lebih nyaman belajar begini daripada privat, mungkin karena seperti ada kompetisi di kelas dan di lubuk hati saya yang paling dalam mengatakan : "malu-maluin aja lu kalo gak bisa", dan hal-hal semacam inilah yang memacu saya untuk terus belajar dan tidak mau kalah dari yang lain. Namun lagi-lagi, belum juga saya selesai belajar, Bali memanggil saya kembali dan saya terpaksa berhenti belajar.

Yang saya harapkan dengan bekerja di Bali lagi adalah, saya bisa mempraktekkan skill bahasa Jepang saya yang tidak seberapa saat itu dengan tamu-tamu Jepang saya. Yang saya tidak tahu, ternyata area Seminyak (area dimana saya bekerja saat ini), bukanlah destinasi favorit turis Jepang. Dan kenyataannya, selama setahun bekerja di sini, saya hanya dapat lima turis Jepang (yang saya handle) dan itupun Jepang yang lama tinggal di Amerika atau yang sudah sering travelling ke Eropa sehingga bahasa Inggrisnya jago-jago dan tentu saja saya servisnya tidak usah repot berbahasa Jepang.  

Bencana baru datang dua hari yang lalu saat dua orang Jepang bermarga Suzuki datang ke saya dan tanpa basa basi menyodorkan majalah berhuruf paling abstrak sedunia, huruf kanji.
" Sumimasen*, bla bla bla..." Salah satu orang Jepang ini mulai ngoceh.
"Eigode onegaishimasu. Nihongo ga dekimasen." Lah, ini bisa dong bahasa Jepang. Nop! Itu hanya kalimat wajib yang kira-kira artinya "English please. I don't speak Japanese." Apalagi tujuannya, kalau bukan supaya tidak menambah nyut-nyutan kepala saya karena saya memang tidak ada clue sedikitpun menganai apa yang barusan mereka tanyakan. Eh, tapi mereka ngotot...
"E..to... bla bla bla..." sambil nunjuk-nunjuk majalah itu lagi.
Saya perhatikan, di majalah itu ada sepasang bule berpakaian adat Bali. Ah, mungkin maksudnya mereka mau photo studio dengan kostum adat Bali, yak?
Baru juga saya mau tanya, mereka membuka beberapa lembar majalah (berbahasa Jepang lagi dengan huruf abstrak itu tentunya!) dan memperlihatkannya sekali lagi ke saya. Ada gambar gajah di sana. Mungkin elephant ride, saya menebak.
"This." katanya.
 Lah? Mau naik gajah atau mau photo adat Bali? Atau mau photo naik gajah dengan kostum Bali? Ah, saya mulai ngaco. Saya mulai bingung... Dan dengan bahasa Inggris yang gak jelas saya berusaha mengkonfirmasi, mana yang mereka mau booking. Photo adat Bali, atau naik gajah? Tapi jawaban yang saya dapat adalah...
"@$%# $%^&^&*^(*&*"
Saya bengong. Mereka berdua bengong. Ini maunya apa dan mau yang mana?
Tak hilang akal, si turispun mnegeluarkan gadgetnya dan menulis sesuatu di sana. Apalagi kalau bukan google translate. Namun sial, si Google translate ternyata tak banyak membantu. Yang tertulis di layar adalah "Satu kali pulang rumah kembali." Apa maksudnya coba?
Eh.. tiba-tiba saya ide. Saya suruh mereka menunggu sebentar, dan saya pencet nomor paling penting sejagat, nomor Tak. Iya, saya tahu, saya ini manusia jenius. Kalau kepepet, ada saja akalnya. Akal bulus, maksudnya.
"Haloo.." saya langsung nyamber, begitu Tak yang di seberang sana angkat telepon. Tak tentu saja kaget, karena dia tahunya saya lagi kerja, dan tak biasanya tiba-tiba menelepon. Sayapun tanpa basa basi langsung meminta Tak untuk menterjemahkan paket-paket photo adat Bali dan elephant ride beserta harganya. Di seberang, Tak sibuk mencatat segala sesuatunya. Setelah selesai dan Tak siap, gagang telepon saya berikan kepada turis Jepang tadi.
"Hai" katanya.
Perbincangan selanjutnya tentu saja saya tak mengerti, karena semuanya dalam bahasa Jepang, namun yang saya dengar, turis Jepang tersebut sedikit-sedikit angguk-angguk dan bilang "Haaai!"
Ops, maksud saya, baiklah. As long as tidak ada miss komunikasi, saya sih Ok saja.
Gagang telepon lalu dioper ke saya lagi. Tak masih di seberang sana.
"Anna-chan, they want to do Balinese wedding photo at 10AM, then elephant ride  at about 1 PM the day after tomorrow." Sayapun rasanya pingin ngakak. Perasaan tadi ngomongnya panjang banget sampai berbusa-busa dan kesimpulannya cuma begini doang? Ah, baiklah...Dengan susah payah sayapun menyampaikan akan mencoba membookingkan dan mengirim konfirmasinya begitu bookingannya selesai. 

Saya kira nyampe disini urusannya bakalan beres. Ternyata tidak. Paket naik gajah yang diinginkan si turis Jepang sudah habis terjual begitu saya konfirmasi ke agennya. Yang tersedia adalah paket yag lebih mahal, dengan beberapa benefit tambahan, tentunya. Mau dibookingkan saya tak berani, takutnya si Jepang tidak mau karena harganya yang lumayan mahal dan tur dimulai lebih awal. Padahal paginya si turis Jepang sudah confirmed janji dengan studio phto adat Bali. Mau konfirmasi dengan tamunya, merak keburu ngacir. Ya sudahlah saya kasih note saja. Tapi dalam bahasa Inggris? mereka tentu gak ngerti. Satu-satunya jalan adalah... eng ing eng..! Tak lagi!

Sayapun buru-buru kontak Tak lagi dan meminta Tak menuliskan paket elephant ride tersebut dalam bahasa Jepang. Tak sampai 10 menit, saya sudah dapat email dari Tak dan segera saya print. Saya msukkan ke amplop, lalu saya kirim ke kamar tamu Jepang tadi. Beres.



Besoknya, saat breakfast, mereka datang lagi ke saya dan memberi saya seplastik permen susu.
"Arigatou." Katanya. Mungkin hadiah. Atau tip?  
Ah, saya jadi merasa bersalah. Seandainya saya sendiri bisa berkomunikasi dengan mereka, tentu akan lebih bagus. But good think I just realized is, kalau perlu bantuan penerjemah, Tak bisa saya mintain bantuan jadi penerjemah dadakan. I know I'm lucky.Hahaha!


Note:
*Sumimasen: permisi