Sunday, 24 August 2014

Bule oh Bule, Dulu Vs Sekarang (Part 1)

 Edisi photo-photo bareng Bule

Perbincangan mengenai bule, bagi saya kok tidak ada habisnya yah. Mungkin karena dilihat dari fisik, kita dan mereka sangat berbeda, lalu gaya hidup dan kebudayaan yang sangat berbeda, dan seringkali perbedaan itu yang membuatnya menarik.

Topik kali ini berangkat dari pembicaraan ringan antara saya dengan Yanti, teman sesama host di pagi yang agak senggang (setelah serangan bertubi-tubi kamar back to back karena occupancy yang tinggi), mengenai foto bareng bule pertama kali.

Yanti: Mbak Anna foto bareng bule pertama kali kapan?
Ini si Yanti membuka percakapan.
Saya : Kapan ya? Waktu SMP kelas satu deh kayaknya. Waktu ke Borobudur. Biasalah, study tour gitu, wawancara sama bule, tugas bahasa inggris karena musti bikin laporan yang nantinya dikumpulkan buat tugas akhir semester. Kalau kamu?
Si Yanti senyum-senyum kecut dan bilang.. "Sama dong mbak. Aku juga pertama kali ketemu sama bule saat SMP, di Borobudur pulak."
Buset!!! bukannya di Bali banyak bule, yah? FYI, si Yanti ini orang Bali asli and you know lah, Bali kan di setiap sudutnya juga banyak turis.
Dia hanya mesam mesem asem dan bilang, "Yah.. jaman segitu aku belum bisa bahasa Inggris mbak.."
Hohoho.. sama dong.

Perbincangan mengenai Bule ketemu di Borobudurpun berlanjut.
Saya : Jaman segitu seneng banget tauk bisa poto-potoan sama bule. Masih ingat rasanya deg-degan saat pertama kali ngobrol langsung sama mereka, mana percakapan pake direkam segala ke walkman recorder.
Yanti: Hahaha. Iya ,mbak. Bangga gitu bisa foto-fotoan sama bule. Bisa dipamerin tuh fotonya ke teman-teman satu sekolah.
Saya: Nah, kalo sekarang?
Yanti : (Tertawa khas ala kuntilanak). Sekarang n*j*s mbak. Geli aku ngelihat foto jaman dulu. Dalam hati mikir, 'gak ada bule yang cakepan apa ya, bule jelek gini aku ajak poto-potoan'. Hahahaha

Sayapun nyengir asem. Jadi teringat beberapa hari yang lalu seorang teman yang barusan pulang dari Borobudur selfie bareng bule. Banyak pulak yang komen, mulai dari yang menanyakan gimana caranya ngajak si bule poto bareng, hingga tips-tips supaya bisa poto-potoan sama bule dan sejujurnya saya sampai sakit perut menahan tawa. Bukan bermaksud merendahkan, tapi mengingat pengalaman saya saat masih SMP dulu, foto sama bule itu merupakan hal hebat yang bisa dipamerin ke seluruh penjuru sekolah, sekampung malah kalau perlu.Maklum, saya berasal dari dusun dimana bule itu hanya bisa kami lihat dari tivi, yang percakapannya baru bisa dimengerti kalau didubbing ke dalam bahasa Indonesia. 

Saya makin geli teringat salah seorang teman bule saya yang pernah ngajak main ke Tretes, Malang. Tujuannya ke air terjun di Tretes. Karena turis bule hanyalah dia satu-satunya, otomatislah dia menjadi pusat perhatian para turis lokal. Iya, seperti ketemu selebriti gitu, mirip kelakuan saya dan teman-teman waktu ke Borobudur, ketemu mahluk bernama 'bule' untuk pertama kalinya. Saya sih berusaha menghindar, karena fans dadakan di sekitar teman bule saya yang mendadak jadi artis ini mulai aneh-aneh tingkahnya. Mulai dari jadi wartawan dadakan karena mewawancarai kami (tak hanya si bule), sayapun diwawancarai! Apalagi topiknya kalau bukan kenal sama ini bule dimana, gimana cara ngomongnya, belajar bahasa Inggris dimana, dan sebagainya. Yang menyebalkan, perjalanan saya menuju air terjun terganggu karena si bule suka diculik para fans dadakan ini. Lagi enak-enaknya ngobrol sambil jalan (saya di depan dan teman bule saya berjalan di belakang saya), tiba-tiba tak ada jawaban dan ketika saya nengok, si bule sudah berada di kerumunan orang-orang yang sedang sibuk foto. Salah seorang peserta foto iseng berjalan mendekati saya dan bilang, "mbak, boleh minta tolong potoin sama mister bule?" Duh!

Sekarang, saya sudah tidak 'nggumun' lagi dengan bule. Malah rasanya pingin sekali sehari tak usah ketemu bule, biar berasa ada di negeri saya sendiri. Tapi ya mana bisa toh ya, orang saya sekarang ini berdomisili di Bali, di distrik favorit kampung kedua para bule. Kecuali kalau saya pulang kampung, baru deh gak akan ketemu bule. 

(Bersambung ke part 2)


Thursday, 14 August 2014

Menerbitkan Buku

Jadi ceritanya, banyak email masuk dari gmail dan Facebook saya yang menanyakan mengenai cara menerbitkan buku. Dibilang expert, enggak lah. Secara buku saya baru juga terbit satu ( yang kedua dan ketiga akan terbit menyusul). Apa menerbitkan buku itu susah? Itu pertanyaan pertama yang paling banyak ditanyakan. Yang jelas susah-susah gampang. Dibilang susah, karena membutuhkan waktu yang lama, kesabaran dan ketelatenan dalam menulis akan sangat diuji karena proses editing yang panjang. Dibilang gampang, karena dari pengalaman saya, saya kirim email ke penerbit cuma satu kali, pertama kali pula, dan naskah saya langsung di-approve untuk diterbikan, dengan kontrak 3 buku berseri sekaligus.

Lalu bagaimana caranya menerbitkan buku? Itu pertanyaan selanjutnya yang selalu terlontar. Langkah pertama, ya harus banyak baca dulu. Bagaimana ceritanya bisa menulis kalau nggak suka baca, kan? Seperti makanan, setiap orang memiliki selera membaca yang berbeda-beda. Ada yang suka fiksi. Ada yang suka non fiksi. Dari genre fiksi pun orang ada yang suka novel romantis, ada yang suka novel thriller, ada yang suka horror, misteri, dan sebagainya. Jadi banyak sekali macamnya. Semakin banyak anda membaca, maka akan semakin bagus. Lama kelamaan anda akan memahami gaya bahasa tiap penulis. Ya, tiap penulis itu punya ‘gaya’ sendiri-sendiri. Sama dengan gaya bicara, menulispun punya gaya. Layaknya orang bicara, ada yang suka menyampaikan opini dengan humor, ada yang serius, ada yang berkoar-koar dengan menambahkan banyak ‘bumbu lebay’ di sana-sini, dan sebagainya.

Langkah kedua, adalah dengan mencoba menulis. Buku yang menginspirasi saya untuk menulis adalah buku milik Trinity (The Naked traveler series) – Iya, saya ini fans beratnya -. Memang genre buku Trinity ini masuk golongan travel, tapi lihatlah gaya menulisnya. Dia cerita benar-benar dari sudut pandangnya sendiri- seperti mendengar ocehan seorang teman yang sedang bersemangat cerita karena baru pulang pelesiran dari negeri antah berantah yang belum pernah saya lihat. Misalnya, ketika Trinity cerita mengenai slah satu negara, China. Yang saya tahu, secara general China itu identik dengan tembok besar China, lalu makanan khas China semacam dimsum dan sebagainya. Namun Trinity malah cerita betapa joroknya negara satu itu secara deskriptif, ditambahi dengan ‘bumbu’ khas ocehannya dan membuat saya mengernyit tak percaya, sekaligus takjub. Kalimatnya yang informative sangat jujur, tak ada yang ditutupi, sekaligus menambah wawasan karena yang dia tuturkan sama sekali berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Dari sini, saya merasa saya punya persamaan dengan Trinity, yaitu cerita mengenai sesuatu secara jujur mengenai suatu hal. Cerita mengenai apa? Dalam kasus saya, karena saya kerja di hotel dan menurut saya bekerja di hotel itu banyak warna, saya merasa ‘harus’ bisa cerita mengenai hal yang saya paling tahu – lingkungan kerja saya sendiri-. Tak usah peduli apa tulisan anda jelek. Teruskan saja menulis hingga anda selesai dan usahakan jangan berhenti sebelum tulisan anda selesai. Dalam kasus saya, karena saya harus ‘pause’ sejenak dalam menulis karena banyak alasan, ketika akan kembali menulis, seringkali mood saya menulis tidak akan sama lagi.

Langkah selanjutnya, baca tulisan yang telah anda buat tadi dan lakukan self editing. Sejujurnya, ini bagian yang saya paling tidak suka karena harus membaca tulisan yang sama berulang-ulang. Namun, saya terus tanamkan dalam diri saya untuk disiplin. Kalau saya saja enggan membaca tulisan saya, apalagi dengan pembaca nantinya, kan? Perbaiki setiap kata yag kurang tepat, typo, salah penggunaan tanda baca, dan sebagainya.

Sekarang, saatnya mengirimkan naskah yang sudah ditulis ke penerbit. Langkah ini bagi saya sangat penting, karena sebagus apapun naskah yang anda punya jika anda mengirimkannya ke penerbit yang salah, maka usaha anda menulis akan sia-sia. Lalu bagaimana caranya memilih penerbit yang tepat? Kembali ke point pertama: banyak baca! Jangan protes dulu, dengan banyak baca, anda akan mengerti sendiri naskah seperti apa yang disukai penerbit. Dari sini silahkan membandingkan naskah anda dengan naskah yang sudah terbit, apakah kira-kira naskah anda juga layak diterbitkan? Kadang-kadang, di halaman paling belakang buku ada undangan langsung dari penerbit untuk pembaca yang memiliki naskah bagus untuk dipublikasikan. Atau, coba kujungi langsung websitenya dan melihat bagaimana cara mengirim naskah dan naskah seperti apa yang sedang dicari. Setiap penerbit memiliki aturan yang berbeda-beda dalam prosedur pengiriman naskah. Ada yang cukup diemail, ada pula yang memerlukan print out. Ada pula yang memerlukan synopsis dan outline, dan sebagainya.
Catatan: kirim naskah hanya ke satu penerbit saja, jangan ke beberapa penerbit sekaligus. Tunggu hingga ada jawaban dari pihak penerbit, apakah naskah anda diterima atau ditolak. Kalau ditolak, jangan berkecil hati. Masih banyak penerbit lain yang menanti. Atau, kalau anda mau, bisa kok mencoba self publishing.  Kalau naskah anda diterima, mari lanjutkan ke step selanjutnya.
Langkah selanjutnya, anda akan diberikan kontrak oleh penerbit. Jika disetujui, maka naskah akan segera diterbitkan. Tentunya tergantung penerbit, bisa saja naskah anda sebenarnya bagus, hanya saja memerlukan banyak editing, atau memerlukan beberapa data pendukung, dan sebagainya. Penerbit akan menyediakan satu editor yang akan membantu mengevaluasi naskah anda sampai naskah anda benar-benar layak terbit.

Kalau proses editing sudah hampir selesai, biasanya pihak penerbit akan menyediakan desainer yang akan mendesain lay out buku yang kaan diterbitkan nantinya, ilustratrasi, cover buku, dan sebagainya. Ini sih bagiannya penerbit. Kita hanya tinggal duduk manis dirumah saja dan berdoa semoga lekas selesai dan naskah bisa segera terbit.

Langkah terakhir, ketika buku anda sudah benar-benar terbit, maka promosikan buku anda sebanyak-banyaknya. Jaman sekarang banyak sekali media sosial yang bisa dijadikan sarana promosi buku anda.


Mudah kan? Let’s start write, then ^_^