Monday, 17 March 2014

Mimpi Kerja



“I'd like to check in” Seorang tamu tiba-tiba muncul di hadapan saya dan mau check in.
“All right Sir. Please take a seat. Saya mempersilahkan tamu tersebut untuk duduk sebentar di kursi yang ada di hadapan saya.
“My reservation is under Kim Joung Soon.” Katanya lagi.
Sayapun segera membuka hotel system dan mencari nama tersebut di icon reservasi.
“All right. I have your reservation already. May I have your passport to be copied?” Sayapun menanyakan passportnya untuk difoto kopi.
“Excuse me?” Seseorang yang lain tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Kim Jong Soon dan langsung menyela.
“Yes, Sir. Could you wait a moment, please. I’ll be with you shortly.” Saya menjawab spontan.
“Excuse me, what is the password for wifi? This is urgent and I need an internet connection for my business.” Katanya lagi.
Dasar bule gak tau aturan. Sudah menyela, sok penting pula. Tapi hanya password, pikir saya. tak akan lama. Sayapun menarik secarik kertas dari printer dan menuliskan username dan password wifi. Biasanya sih username dan password wifi ini sudah disiapkan di kotak reception yang di tengah dan sudah digunting-gunting. Tapi kali ini tidak ada. Sayapun langsung menyumpah-nyumpahi anak shift malam yang lupa menyiapkan password wifi untuk kelancaran operasional besok paginya, dalam hal ini-saya.
“Thank you for waiting, Mr. Kim, and here’s your passport. First of all, I’d like to reconfirm your booking…” Saya menyodorkan selembar registration card hendak mengkonfirmasi bookingan, ketika seorang bule berambut pirang yang lain datang dan lagi-lagi menyela.
“Excuse me..” Katanya.
Saya hanya menengok sebentar, mengisyaratkan agar dia menunggu karena saya sedang menghandle tamu yang sedang check in.
“Allrite, so Mr. Kim, you will stay with us for three night starting from today until 4th of March, the room rate is USD 200 per night for suite room, non smoking king size bed.” Saya menerangkan.
Mr. Kim mengangguk setuju.
“Allrite, kindly to write down your telephone number and email address here, and your signature here.” Saya mengintruksikan Mr. Kim untuk melengkapi data registrasi.
“Excuse me.” Bule yang tadi sempat menyela saya mencoba menyela lagi. Karena saya sedang menunggu Mr. Kim melengkapi datanya, sayapun memutuskan untuk membantu bule ini sebentar.
“Yes, Sir. Thank you for waiting. How may I assist you?”
“Yes, I am just wondering if you have a map of this area.”
“Yes, we do have.” Saya menjawab dan otomatis mengobrak abrik bantex file tempat dimana biasanya anak-anak bell (concierge) menyimpan mapnya. Tapi lagi-lagi nihil. Saya mengobrak abrik bantek satunya, berharap bisa menemukan satu atau dua lembar map supaya saya bisa cepat kembali ke Mr. Kim. Tapi tak satupun saya temukan. Sialan! Anak bell juga pada ngapain sih semalam, bisa-bisanya map habis dan belum di print. Aaaaarrrgghhhh!
Sayapun harus kembali ke meja saya dan mencari-cari folder map untuk diprint. Ketemu! Tangan sayapun reflex menjulur ke arah printer tak sabar menunggu kertas yang barusan saya print keluar. Sialan! Entah saya sedang sial atau apa, hasil print sedikit kabur dan kurang jelas karena tinta printer hampir habis. Sayapun tak mungkin memberikan map jelek itu ke bule ini. Dengan sedikit basa basi, sayapun menanyakan kemana bule itu mau pergi, kali aja dekat-dekat sini sehingga tak perlu map dan langsung saja bisa jalan tanpa takut kesasar.
“Excuse me, Sir. But may I know where would you like to go?” Agak kurang sopan, sih. Tapi apa boleh buat.
“Do you know how far Ku De Ta* is?” tanyanya.
Ealah… cuman Ku De Ta. Gak usah pakai map. Jalan merem aja juga nyampe. Haiz!
“It’s close from here. Only 5 minutes walking distance. Just after the Oberoi hotel, Sir.”
“Oh, pretty close then. No need a map. Thank you.” Katanya lagi. Tailah. Cuma gini doang.
Sayapun kembali ke Mr. Kim. Sepertinya dia sudah selesai dengan registrasinya dan bengong menunggu saya yang ‘berpaling’ ke tamu yang lain.
“Thank you for waiting, Mr. Kim. So…”
“Tulilit..tulilit..” tiba-tiba telepon di meja saya berdering nyaring. Hampir membuat kaget semua orang. Ini pasti kerjaan babe (iya, FOM saya yang konyol itu). Beliau yang selalu menyetting dering telepon senyaring mungkin karena kami selalu punya kebiasaan menurunkan volume dering karena bunyinya mengganggu konsentrasi, apalagi saat kami sedang ada tamu.
Saya menengok sebentar ke arah layar telepon. Dari reservasi rupanya.
“ Good afternoon front desk, Anna speaking how may I help you?” Saya greeting dengan full speed, supaya bisa cepat selesai dan kembali ke tamu saya.
“Anna..” Ternyata mbak Phia yang menelepon. “Ada tambahan check in hari ini dari booking.com**..”
“Oke mbak, dicopy***. Nanti aku telpon balik ya. Masih ada tamu check in.” Saya menjawab masih dengan full speed dan langsung menutup gagang telepon tanpa menunggu jawaban dari mbak Phia. Ah, saya rasa dia juga mengerti kondisi saya. kalau lagi senggang sih, biar sambil bercandaan di telepon juga saya layani.
Saya baru saja mau kembali ke Mr. Kim ketika handy talkie di meja concierge yang saat itu tidak berpenghuni berbunyi.
“FO monitor…” Hadeh… suara security! Sayapun secepat kilat melesat menuju meja Concierge hendak menjawab panggilan. Tapi dasar security, baru juga jeda 3 detik dan tidak ada jawaban, mereka akan kontak kembali.
“FO monitor… check in tiba di bawah.” Katanya lagi.Tuh, kan? Hadeuhhhh…
“FO masuk. Security tolong dibantu barangnya pak.” Sahut saya dan langsung melesat balik ke meja saya, tapi lagi-lagi dihadang seorang tamu yang tiba-tiba saja menyerahkan kuncinya.
“I have settled my bill.” Katanya sambil termehek-mehek membawa karung, ah maksud saya tas ransel super besar di punggungnya.
“Let me check first, could you please wait a moment, Sir?”
“No, I am in hurry. I have settled already. I just want to ruturn this key back to you.” Katanya lagi sambil menyerahkan kunci kamar. Wadoooh…
“Any consumption from minibar, Sir? And may I have your room number, please?”
“No. I am from 211. Can somebody help me with my luggage? I am catching my flight and almost late. And get me taxi, please.” Dan tamu tersebut langsung ngibrit turun tangga dan meninggalkan kopernya yang bujubuset segede gaban ke hadapan saya. Saya menghela napas. Bahkan rasa-rasanya saya terserang asma mendadak. Ini kerjaan bertubi-tubi menyerang saya yang sendirian bekerja. Benar-benar sendirian. Saya tengok kiri kanan barangkali ada anak restaurant atau engineering yang bisa saya mintai bantuan tapi amazingly tak ada orang satupun. Sayapun stress. Ini semua orang pada kemana ya kok pada ngilang semua. Seingat saya ada Deta si bellboy body Abri hati Barbie, juga ada John Wisnu yang incharge reception satu shift dengan saya. Tapi mereka sepertinya punya ilmu gaib atau apa, buktinya mereka bisa menghilang begitu cepat tanpa saya sempat menyadarinya.
“Can you help me with that suitecase?” Tamu tadi setengah berteriak ke arah saya yang sedang bengong. Dia sudah di bawah rupanya, menunggu kopernya diturunkan dan tak ada seorangpun yang membantu.
Sayapunpun terpaksa membantu. Tapi ini koper ternyata tak hanya besar tapi beratnya amit-amit... sayapun termehek-mehek menurunkan koper sialan itu menuruni satu demi satu anak tangga dan klak! Rasanya tulang saya patah satu dan rasanya sakit sekali. Sayapun meringis kesakitan memegangi tangan saya.
Ketika saya membuka mata, tangan saya masih memegangi tangan saya yang sakit. Ada ruam sedikit kebiruan di dekat siku saya, dan saya menyadari sesuatu: saya mengenakan baju tidur dan bukan seragam kerja. Sayapun gelagapan lalu membuka mata saya lebar-lebar, mengumpulkan nyawa yang masih tercecer entah dimana. Ah, ternyata saya hanya mimpi. Sialan! Bahkan dalam mimpipun saya bekerja!

*Ku De Ta : Beach Club paling happening di wilayah Seminyak
**Booking.com : Salah satu situs hotel booking online
***Dicopy : Dimengerti