Tuesday, 18 February 2014

" Mbak, putus..."



"Tulilit.. tulilit..." Teelepon di meja saya berdering
"Good afternoon, Front desk, Anna speaking. How may I assist you?" Saya otomatis greeting tanpa sempat melihat screen yang ada di pesawat telepon karena sibuk mengupdate guest profile tamu yang baru saja check in.
"Mbak Anna... "Rupanya telepon dari mbak Ayu, staff telepon operator.
Saya menengok ke arah screen yang ada di pesawat telepon, memastikan. Benar, dari mbak Ayu.
"Mbak, teleponnya saya forward ke depan, ya? Saya mau pulang." Katanya kalem. Mbak Ayu orang Bali asli, namun, kalau ngomong sangat kalem pakai banget, mirip orang Solo. Kalaupun ngomong pakai bahasa Bali, mbak Ayu juga ngomongnya pakai bahasa yang halus dan sopan. Saya dengar beberapa kali dia angkat telepon dari supplier yang kesasar yang mau antar barang ke hotel, mbak Ayu memberi tahu arah jalan dalam bahasa Bali yang sangat halus. Mungkin seperti Kromo Inggil kalau di bahasa Jawa.
Oh ya, di tempat saya kerja sekarang ini, mbak Ayu ditugaskan sebagai telepon operator. Jam kerjanya mulai dari jam 7 pagi sampai dengan jam 3 sore. Selepas itu, karena tidak terlalu banyak telepon, biasanya selepas jam 3 telepon akan diforward ke bagian front desk.
Saya otomatis menengok kembali ke arah screen komputer di meja saya melihat jam digital yang tertera di pojok kanan screen. Sudah jam 15.20 rupanya. Suami mbak Ayu pasti sudah menjemput di parkiran.
"Iya mbak, sudah jam 15.20 ini. Pulang gih." 
"Makasih mbak. Bilang sama mbak Melin ya, kalau aku pulang. Dia belum balik dari istirahat makan siang sepertinya. Suami saya sudah nungguin di parkiran," katanya lagi.
"Beres." 
Klik. Telepon diputus dan langsung diforward ke extension saya.

Tak lama, telepon berdering.
Tulilit..tulilit...
"Good afternoon, Front desk, Anna speaking how may I assist you?"
"Mbak, putus...."yang di seberang terdengar sedih. 
Saya kaget. Melihat screen pesawat telepon. Rupanya telepon dari luar. Sial, greeting saya tadi salah. Harusnya itu greeting untuk telepon dari internal, bukan dari luar. Ini nih akibatnya kalau terlalu fokus dalam mengerjakan suatu hal, saya jadi kurang fokus mengerjakan suatu hal yang lain. Sepertinya, otak saya memang didesain untuk bisa melakukan satu hal saya dan kurang bisa menghandle banyak hal dalam satu waktu. Padahal di buku berjudul "Why men only can do one thing at one time and women cant stop talking" karya Alan Schultz dan Barbara Peace mengatakan, otak perempuan didesain untuk bisa melakukan banyak hal sekaligus sedangkan laki-laki hanya bisa melakukan satu hal saja.
"Maaf, Ibu, ada yang bisa saya bantu?" Saya terdengar bloon. Ada cewek salah sambung, nelpon dan curhat karena barru saja putus dan saya malah menawarkan bantuan. Maksud loh?
Yang diseberang tidak menyahut dan telepon terputus. Ah, ya sudahlah. Mungkin beneran salah sambung.

Selang lima detik, telepon saya kembali berdering. Kali ini saya sempatkan melihat screen yang ada di pesawat telepon supaya saya tidak salah greeting lagi.
"Good afternoon..."
"Mbak, putus...." Belum juga saya selesai greeting, yang di seberang sana sudah memotong. Dengan suara yang lebih menyedihkan. Saya jadi makin bingung.
"Eeee..." saya bingungg juga mau ngomong apa di situasi yang absurd ini.
"Iya mbak, tadi putus..." Suaranya masih terdengar sedih. Lah terus apa hubungannya dengan saya?  
"Maaf..." hampir saja saya nyeplos menawarkan bantuan lagi.  Saya jadi rikuh. Ini orang ya, putus sama pacarnya kok malah nelponnya ke hotel. Saya kan bukan konsultan yang bisa ngasih saran seperti "apa yang musti dilakukan pasca putus".  Ini maksudnya mau curhat atau gimana? Waduh, salah sambungnya pakai kebangetan nih. Lagian saya belum punya cukup pengalaman dalam hal putus-memutus. Taelah. Kok saya jadi riweuh sendiri.
"Iya, putus sama orang reservasi.." katanya lagi.
What??! Reservasi di tempat saya hanya dua orang, satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Hari ini yang bertugas hanya yang laki-laki saja, namanya pak Hari. Setahu saya Pak Hari ini sudah menikah. Dan cewek yang barusan bilang putus? Apakah artinya Pak Hari punya affair sama cewek yang lagi nelpon ini lalu  ketahuan istrinya dan cewek selingkuhannya diputusin? Oh my God! Its gonna be a hot gossip!
Lah, pikiran saya kok jadi ngelantur kemana-mana gini, ya? Saya sampai tergagap karena cewek yang diseberang tiba-tiba mengagetkan saya.
"Mbak, sambungin lagi dong ke reservasi." 
WTF!!! Ternyata yang sedari tadi dia bilang putus itu, maksudnya teleponnya yang putus, dan bukan hubungan mereka yang putus. Sayapun buru-buru memforward telepon ke bagian reservasi. Kenapa saya mikirnya kemana-mana dan sama sekali gak ada kepikiran kalau yang putus itu teleponnya dan buukan orangnya? kalaupun putus telepon, kenapa juga ngomongnyya harus menye-menye seakana-akan memang baru saja diputusin pacarnya mbak yu? Arrrgggghhh  I felt so stupid!





No comments:

Post a Comment