Sunday, 23 February 2014

Kejadian-kejadian memalukan di hotel



Sebagai seorang hotel staff biasa, saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa (Eiiitttsss… apaan seh?!) Karena selama ini saya selalu jaim (jaga imej), berusaha menunjukkan ke publik bahwa saya adalah seorang hotel staff yang baik, namun, sebagaimana manusia biasa, kadang-kadang saya juga berbuat suatu hal yang memalukan.
Sudah tahu malu, masih diposting juga…
Saya suka berbagi. Terutama berbagi pengalaman di hotel. Yah, namanya juga pengalaman, tak selamanya baik. Ada yang kurang baik, ada yang tidak baik. Ada yang menggelikan, memalukan, bahkan menjijikkan. Seperti kata pepatah, “Experience is the best teacher”, saya merasa bangga jika pengalaman saya bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Cie… kok saya jadi sok bijak gini, ya?
Well, balik ke topik utama. Kejadian pertama, terjadi sekitar 5 tahun lalu, saat saya masih training di The Grand Beach Resort. Suatu hari selepas shift saya selesai, saya langsung ngibrit ke parkiran mencari motor saya diantara ratusan motor lainnya. Saya ingat sekali, saat saya  datang saya parkir motor di sisi sebelah timur agak ke pinggir supaya gampang ngambilnya pas pulang. Ketika pulang, motor saya sudah tidak berada di sana karena mungkin sudah dipindahin sama bapak-bapak security yang berjaga karena saya parkirnya tidak bagus (maklum, saya bisa naik motor juga barusan, apalagi parkir!). Sayapun celingak celinguk nyari motor saya sekalian mencocokkan plat nomor. Satu-satunya clue yang paling gampang adalah mencari plat nomor. Dari ratusan motor, mungkin hanya motor saya yang berplat AG, karena selebihnya DK semua. Warna bisa menipu, karena jenis motor saya ini termasuk motor segala umat, yang warnanya juga pasaran sekali.
Pas lagi sibuk-sibuknya tengok kiri kanan kaya orang dongo nyari sepeda motor, saya melihat seorang cewek bule lagi gendong anak, celingak celinguk juga di ujung parkiran. Refleks, saya mendekati cewek itu dan spontan bertanya,
“Excuse me, Maam. Where would you like to go? Maybe I can help you?”
Ebuset! Keren banget gak sih saya, pake nawarin bantuan segala. Gak rugi deh The Grand Beach menghire saya sebagai trainee (sampai sini kalau ada yang mau muntah, silahkan).
“No, Thanks. “ Jawabnya pendek. Tapi dia masih berdiri di situ dan celingak celinguk.
Heran. Ini orang, sudah tahu kesasar malah gak mau dibantu. Saya masih belum menyerah.
“But this is a staff park area, Maam. May I know your room number so maybe I can escort you there?”
Kalau pak FOM saya ngelihat ini, pasti saya langsung dijadiin staff teladan, saya membatin dalam hati.
“No. But thank you very much for your nice offer.” Katanya lagi.
Ya sudahlah. Saya mau beranjak. Tapi belum ssempat melangkah, Justin, EAM (Executive  Assistant Manager) saya tiba-tiba sudah berada tepat di belakang saya,
“Thank you for your very good approach. This is my wife.” Katanya dan langsung menggendong anak kecil yang tadinya dibawa si cewek bule.
Saya langsung ngeh. Langsung salting, lalu buru-buru ngibrit ke salah satu motor berwarna violet-pink  yang saya kira motor saya dan menstarter motor saya. Sial! Ini motor juga kenapa gak mau nyala, ya?
“Mbak Anna, motornya di sini.” Salah seorang security tiba-tiba sedikit berteriak dari ujung parkiran sebelah barat. Saya makin kikuk. Situasi yang benar-benar absurd.
“Kok Bapak tahu motor saya? Saya aja nyari-nyari dari tadi gak ketemu.”
“Plat AG cuma ada satu, mbak.” Katanya lagi.
Saya nyengir asem se-asem-asemnya. Saya yakin Justin pasti nahan tawa sampai kepingin kentut saking takjubnya melihat kedodolan saya.

Kejadian memalukan selanjutnya terjadi  suatu siang di afternoon briefing. Lima menit sebelum briefing waktu kerja saya sudah molor 15 menit, karena saya sedang menunggu rekan yang lain berkumpul, saya sempatkan melirik handphone sebentar  dan mengecek barangkali ada pesan yang masuk. Belum juga sempat, seorang bellman masuk dan memanggil saya karena ada tamu yang check in di depan. Saya buru-buru ngibrit dan meninggalkan handphone saya di meja operator yang saat itu sedang tak berpenghuni.
Briefingpun dimulai. Rupanya hari itu banyak juga pendingan pekerjaan yang harus disampaikan dari shift pagi ke shift siang sehingga acara briefing jadi agak lama. Sedang serius-seriusnya hand over, tiba-tiba handphone FOM saya berbunyi. Iya, FOM yang konyol itu. Siapa lagi, coba?
Dia otomatis ngecek handphone dan dengan lantangnya bilang,
“Honey, have a nice day..”
Penting banget gak sih. Ngomong kaya gitu keras-keras di afternoon briefing! Saya membatin dalam hati.
Babe (demikian saya biasa memanggil FOM saya) tiba-tiba menoleh ke arah saya. Haizzz… apa dia tahu apa yang ada di pikiran saya, ya?
Satu detik. Dia masih ngelihatin saya.
Dua detik. Masih sama.
Tiga detik.
Tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Handphone saya! Saya buru-buru ngibrit ke meja operator dan handphone saya tidak ada di sana. Hwaaaaaa….!!!! Ternyata tadi dia ambil handphone saya, baca pesannya trus handphone saya diumpetin dan sekarang dia ngebacain pesan dari pacar saya ke semua orang! Keterlaluan!!!
Rasanya memang manager saya yang satu ini paling suka iseng. Lain waktu, sembari menunggu jam pulang, saya menyempatkan menelepon pacar via VOIP mumpung wifi di kantor lagi kenceng-kencengnya karena jam segitu jarang ada yang pakai. Lagi enak-enaknya teleponan, babe lagi-lagi kumat isengnya. Pura-pura nelpon seseorang dan bahasa itu loh… LUEBAY pakai banget! Sampai cicak yang lagi asyik lari-lari di dinding aja bias jatuh ke lantai gara-gara denger omongannya dia. Lah, bukannya ini lebay juga?Ooopss!
“OK, OK? Berapa? 500 juta? Siap.. siap… uang segitu mah buat saya kecil…” Katanya nyombong.
Saya berusaha gak denger, mencoba berkonsentrasi untuk tetap ngobrol sama ayang yang di seberang. But what the hell, bukan babe saya namanya kalau isengnya berhenti.
“Yes Honey, I love you soooo much, you know. Don’t worry I’ll be OK here.” Katanya lagi dengan aksen lebaynya yang khas, mirip di sinetron-sinetron di TV. Hhhh…
Kejadian memalukan yang terakhir, terjadi belum lama ini, saat saya harus closing cashier dan mengerjakannya sendirian di back office. Karena hari sabtu, orang-orang management sudah pada pulang sejak jam 3. Kantor sedikit agak gelap dan sepi karena tidak ada orang sama sekali, sedangkan kantor di lantai 2 tempat orang managemen dan kantor GM malah sudah gelap gulita. Entah mengapa tiba-tiba saya terbayang film horror, dan flashback cerita beberapa teman tentang kursi yang bias jalan sendiri di lantai 2 itu tiba-tiba membuat saya ngeri. Sialnya, laporan saya hari itu lumayan banyak dan membutuhkan minimal 15 menit untuk mengerjakannya, belum termasuk menghitung uang housebank dan menulis di log book beberapa hal yang perlu difollow up oleh shift selanjutnya. Mengerjakan di depan artinya saya harus siap jika tiba-tiba ada tamu yang tanya ini itu, booking ini itu dan complain ini itu. Taka da pilihan, saya sendirian di belakang mengerjakan laporan, dan supaya rasa takut sedikit hilang, saya pasang earphone dan mengerjakan laporan sambil mendengarkan musik. Yang saya putar saat itu, tentu saja, lagu andalan Christina Perri berjudul Jar of Heart.
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?
Dasar latah, bagian favorit saya ini mau tidak mau membuat saya ikut-ikutan menyanyikan lirik itu. Belum puas, saya sampai replay karena dalam satu putaran lagu, report saya belum juga selesai.
Tiba-tiba seseorang ikut-iktan nyanyi di belakang saya dengan suara yang nge-bass abis..
“And who do you think you are..”
Sayapun reflex menoleh dan langsung kepingin pingsan melihat siapa yang ada di sana. Pak GM! Saya ulang yah biar lebih heboh. Pak GM bro! Beliaupun cekikikan melihat saya yang masih syok. Saya baru sadar bahwa pak GM sedari tadi belum pulang dan masih bertapa di kantornya yang terlihat gelap dari bawah. Benar-benar memalukan. Berarti beliau sedari tadi mendengarkan suara saya yang mirip kaleng rombeng cempreng ini. Ya ampun…








Tuesday, 18 February 2014

" Mbak, putus..."



"Tulilit.. tulilit..." Teelepon di meja saya berdering
"Good afternoon, Front desk, Anna speaking. How may I assist you?" Saya otomatis greeting tanpa sempat melihat screen yang ada di pesawat telepon karena sibuk mengupdate guest profile tamu yang baru saja check in.
"Mbak Anna... "Rupanya telepon dari mbak Ayu, staff telepon operator.
Saya menengok ke arah screen yang ada di pesawat telepon, memastikan. Benar, dari mbak Ayu.
"Mbak, teleponnya saya forward ke depan, ya? Saya mau pulang." Katanya kalem. Mbak Ayu orang Bali asli, namun, kalau ngomong sangat kalem pakai banget, mirip orang Solo. Kalaupun ngomong pakai bahasa Bali, mbak Ayu juga ngomongnya pakai bahasa yang halus dan sopan. Saya dengar beberapa kali dia angkat telepon dari supplier yang kesasar yang mau antar barang ke hotel, mbak Ayu memberi tahu arah jalan dalam bahasa Bali yang sangat halus. Mungkin seperti Kromo Inggil kalau di bahasa Jawa.
Oh ya, di tempat saya kerja sekarang ini, mbak Ayu ditugaskan sebagai telepon operator. Jam kerjanya mulai dari jam 7 pagi sampai dengan jam 3 sore. Selepas itu, karena tidak terlalu banyak telepon, biasanya selepas jam 3 telepon akan diforward ke bagian front desk.
Saya otomatis menengok kembali ke arah screen komputer di meja saya melihat jam digital yang tertera di pojok kanan screen. Sudah jam 15.20 rupanya. Suami mbak Ayu pasti sudah menjemput di parkiran.
"Iya mbak, sudah jam 15.20 ini. Pulang gih." 
"Makasih mbak. Bilang sama mbak Melin ya, kalau aku pulang. Dia belum balik dari istirahat makan siang sepertinya. Suami saya sudah nungguin di parkiran," katanya lagi.
"Beres." 
Klik. Telepon diputus dan langsung diforward ke extension saya.

Tak lama, telepon berdering.
Tulilit..tulilit...
"Good afternoon, Front desk, Anna speaking how may I assist you?"
"Mbak, putus...."yang di seberang terdengar sedih. 
Saya kaget. Melihat screen pesawat telepon. Rupanya telepon dari luar. Sial, greeting saya tadi salah. Harusnya itu greeting untuk telepon dari internal, bukan dari luar. Ini nih akibatnya kalau terlalu fokus dalam mengerjakan suatu hal, saya jadi kurang fokus mengerjakan suatu hal yang lain. Sepertinya, otak saya memang didesain untuk bisa melakukan satu hal saya dan kurang bisa menghandle banyak hal dalam satu waktu. Padahal di buku berjudul "Why men only can do one thing at one time and women cant stop talking" karya Alan Schultz dan Barbara Peace mengatakan, otak perempuan didesain untuk bisa melakukan banyak hal sekaligus sedangkan laki-laki hanya bisa melakukan satu hal saja.
"Maaf, Ibu, ada yang bisa saya bantu?" Saya terdengar bloon. Ada cewek salah sambung, nelpon dan curhat karena barru saja putus dan saya malah menawarkan bantuan. Maksud loh?
Yang diseberang tidak menyahut dan telepon terputus. Ah, ya sudahlah. Mungkin beneran salah sambung.

Selang lima detik, telepon saya kembali berdering. Kali ini saya sempatkan melihat screen yang ada di pesawat telepon supaya saya tidak salah greeting lagi.
"Good afternoon..."
"Mbak, putus...." Belum juga saya selesai greeting, yang di seberang sana sudah memotong. Dengan suara yang lebih menyedihkan. Saya jadi makin bingung.
"Eeee..." saya bingungg juga mau ngomong apa di situasi yang absurd ini.
"Iya mbak, tadi putus..." Suaranya masih terdengar sedih. Lah terus apa hubungannya dengan saya?  
"Maaf..." hampir saja saya nyeplos menawarkan bantuan lagi.  Saya jadi rikuh. Ini orang ya, putus sama pacarnya kok malah nelponnya ke hotel. Saya kan bukan konsultan yang bisa ngasih saran seperti "apa yang musti dilakukan pasca putus".  Ini maksudnya mau curhat atau gimana? Waduh, salah sambungnya pakai kebangetan nih. Lagian saya belum punya cukup pengalaman dalam hal putus-memutus. Taelah. Kok saya jadi riweuh sendiri.
"Iya, putus sama orang reservasi.." katanya lagi.
What??! Reservasi di tempat saya hanya dua orang, satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Hari ini yang bertugas hanya yang laki-laki saja, namanya pak Hari. Setahu saya Pak Hari ini sudah menikah. Dan cewek yang barusan bilang putus? Apakah artinya Pak Hari punya affair sama cewek yang lagi nelpon ini lalu  ketahuan istrinya dan cewek selingkuhannya diputusin? Oh my God! Its gonna be a hot gossip!
Lah, pikiran saya kok jadi ngelantur kemana-mana gini, ya? Saya sampai tergagap karena cewek yang diseberang tiba-tiba mengagetkan saya.
"Mbak, sambungin lagi dong ke reservasi." 
WTF!!! Ternyata yang sedari tadi dia bilang putus itu, maksudnya teleponnya yang putus, dan bukan hubungan mereka yang putus. Sayapun buru-buru memforward telepon ke bagian reservasi. Kenapa saya mikirnya kemana-mana dan sama sekali gak ada kepikiran kalau yang putus itu teleponnya dan buukan orangnya? kalaupun putus telepon, kenapa juga ngomongnyya harus menye-menye seakana-akan memang baru saja diputusin pacarnya mbak yu? Arrrgggghhh  I felt so stupid!