Saturday, 29 November 2014

Ayam atau Babi? (Part 2)

Karena makanan di kantin yang (jarang) enak, kami selalu mencari alternatif pengganjal perut yang sekiranya lebih enak daripada makan siang di kantin. Alternatif paling gampang ya, bawa makanan sendiri dari rumah. Kalau mood masak kebetulan sedang bagus, saya suka iseng mencoba berbagai resep baru. Sampai di kantor biasanya teman-teman ada yang ikut nyicip. Itung-itung food testing, minta feedback dari teman-teman. Kalau feedbacknya kurang bagus, saya selalu minta saran kurang apa dan sebaiknya bagaimana, untuk improvement 'percobaan' selanjutnya. Kalau feedbacknya  bagus, lumayan juga sebagai motivasi tambahan untuk lebih rajin masak-masak sendiri di rumah. Salah seorang teman -namanya Detha, rekan saya yang punya bodi ABRI hati Barbie- bahkan ada yang mau bayar supaya saya mau membuatkan dia donat isi buat adik perempuannya! Sayapun nyelutuk, nge-charge dia dalam dollar. Eh, dia ho-oh ho-oh saja. Jadilah, saya punya pelanggan baru, penggemar masakan buatan saya, dan saya dibayar dalam dolar (meskipun ini dolar hasil dari tip dia sebagai Concierge). Yeay!

Meskipun demikian, karena kesibukan di rumah, saya jarang bisa masak lagi sehingga tidak bisa membawa makanan dari rumah. Mau beli di warung sebelum berangkat saya malas, karena ilfil dengan bentuknya yang (sepertinya) sudah tidak layak makan. Pernah, saya bungkus nasi padang dan saya bawa ke tempat kerja. Ternyata hari itu agak sibuk sehingga jam makan saya molor tiga  jam dari jam seharusnya. Nasi saya benyek saat dibuka, pembungkusnya yang dari kertas minyak itu basah dan saya langsung kehilangan nafsu makan membaui aromanya karena saat dibungkus, itu nasi padang masih panas, uap panasnya sudah mencair membasahi nasi dan teman-temannya.

Alternatif selanjutnya adalah beli makanan di luar hotel. Kebetulan, hotel di tempat saya bekerja ini pas di depan jalan raya yang meskipun banyak turisnya, namun masih banyak pedagang kelilingnya semacam tukang bakso, gado-gado, siomay, tipat cantok, dan sebagainya. Kebetulan saya ini salah satu fans berat bakso, sehingga saya tidak keberatan mengganti makan siang saya hari itu dengan menu bakso. Suatu hari saat lobby sedang lenggang, si abang bakso lewat. Kebetulan, si Detha juga sedang ingin makan bakso, dan sayapun ditawari apakah mau nitip sekalian. Tanpa prasangka buruk, saya nitip satu porsi. Yang saya lupa, si Detha ini selera makannya pedas level dewa, dan otomatis dia main masuk-masukin sambel yang ukurannya gak pakai kira-kira ke setiap plastik bakso titipan teman-teman. Cerita berakhir tragis karena semua orang komplain "ini bakso apa racun" karena rasanya hanya pedas saja, semua orang langsung beruwajah merah dengan keringan menetes deras, bibir jontor dan galon air di back officepun seketika tandas. Dan sayapun sukses menderita diare hingga dua hari berikutnya.

Dan saya kapok nitip bakso lagi ke Detha. Sungguh.

Sayangnya, baru-baru ini HRD menetapkan aturan baru yang menyatakan bahwa seluruh karyawan dilarang membeli makanan dari luar dan harus makan di hotel. Ini tragis. Dan sungguh kejam bagi kami semua.

Namun, bukan kami namanya jika kami kehabisan akal dengan aturan baru HRD.  Lokasi kami bekerja kebetulan sekali berseberangan dengan restoran tempat tamu biasa sarapan. Akal bulus kamipun berjalan. Kami mendekati staff-staff restaurant, pura-pura berpartisipasi clear up piring, cangkir kopi dan cuttleries di meja dekat lobby. Tujuannya jelas, saya dan teman-teman minta jatah sarapan juga dari restaurant. Aha!

Modus yang paling aman (dan paling sering kami lakukan) adalah mengendap-endap mengikuti staff kitchen atau staff restaurant yang mendorong troli ke area main kitchen. Sampai di tempat dimana intaian CCTV diluar jangkauan, maka terjadilah transaksi 'haram' tersebut. Staff kitchen akan memberikan sebungkus makanan (apa saja yang ada) yang telah dipersiapkan sebelumnya kepada kami. Dan kami bisa melenggang santai ke area back office dan makan hasil jarahan beramai-ramai.

P.S: Saya pribadi belum pernah melakukan transaksi ilegal ini. Salah satu rekan saya ada yang sudah menjadi pelanggan tetap. Iya, siapa lagi kalau bukan Detha.

Namanya juga makanan hasil 'nyolong', ada saja yang tertimpa kejadian sial karenanya. Kejadian konyol-lebih tepatnya- menurut saya. Jadi ceritanya, pagi itu si Detha seperti biasa menggelar hasil jarahannya di concierge store- area paling aman karena tertutup dan luput dari intaian CCTV. Deaby, trainee saya yang sedang demam Korea itu ikut masuk ke Concierge store dan ikut-ikutan makan. Hari itu Detha beruntung, ada croissant, danish, cupcakes, waffle dan beberapa slice daging berwarna pink yang kesemuanya masih hangat. Setelah menyikat danish dan croissant, si Deaby lalu makan daging berwarna pink  tersebut.
"Bli Detha, ini apa ya?" Tanyanya polos.
"Udah, makan saja. Enak kan?" Jawab si Detha.
"Enak sih, tapi agak asin, ya?" tanya si deaby lagi.
"Ayam kan?" tanyanya lagi.
"Iyaaa.." Si Detha menjawab tanpa menoleh.
"Ayam kan ya? Kok rasanya lain ya?"
Si Dethapun tidak merespon dan langsung meninggalkan Deaby yang sedang asyik mengunyah. Dan kebetulan saya masuk ke store dan memergoki Deaby sedang memegang daging pink itu, hendak memasukkan suapan entah untuk yang keberapa kalinya.
"Loh, Deb. Kok kamu makan babi?" tanya saya. 
Si Deaby lagsung syok. Terkejut.
"Katanya bli Detha ini ayam mbak?" Si Deaby masih terlihat syok.

Deaby langsung ngibrit ke toilet dan.... huekkkkk!!!!

FYI, si Deaby ini orang Banyuwangi dan seorang muslim, jadi tidak bisa makan daging babi.







Ayam atau Babi (Bagian 1)


Saya sering sekali ditanya teman-teman dari Jawa yang kebetulan mau main ke Bali, " Gak susah nyari makanan halal kan disana?" . Jawabannya  sudah tentu: mudah sekali. Di Bali banyak orang muslim, dan makanan 'muslim' (maksudnya makanan yang sama sekali tidak mengandung babi) mudah sekali didapat. Kalau pagi, pillihannya ada nasi Jinggo (semacam nasi kucing kalau di Jawa) yang banyak sekali ditemui di pinggir-pinggir jalan. Beberapa pedagang nasi Jinggo ada juga yang sekalian jualan nasi kuning. Isi lauknya tentu saja ada ayam, telur atau ikan. Dan saya belum pernah tuh, nemu nasi kuning pakai lauk babi.

Kalau siang hari lebih banyak variasinya karena banyak 'warung Jawa' yang buka. Entah kenapa dinamakan warung Jawa, mungkin karena pedangangnya orang Jawa dan yang dijual adalah masakan rumahan ala dapur Jawa, yang pastinya tidak ada babi. Malam hari, di Bali sama seperti di Jawa dimana banyak sekali orang berjualan nasi goreng, bakso, mi ayam dan sebagainya.

Nah, bagaimana ceritanya dengan makanan karyawan di hotel?

Di hotel, para staff mendapatkan jatah makan sesuai shift yang biasanya disediakan di kantin karyawan.  Di hotel saya sekarang, semua makanan dijamin halal karena katering dari luar yang bekerja sama dengan hotel adalah katering 'muslim' sehingga mereka memang tidak menyediakan makanan dengan lauk babi. Sewaktu masih kerja di The Grand Beach, karena karyawannya ribuan dan sekitar 60% karyawannya adalah orang hindu yang bisa makan babi, menu babi memang kadang-kadang disajikan meskipun tidak setiap hari, ditempatkan di wadah khusus dengan signage "Babi" di atasnya. Bahkan, ada salah satu staff katering yang ditugaskan untuk menjaga tray khusus tersebut dan mengingatkan orang-orang berperawakan 'non-hindu' namun masih nekat mau ambil lauk babi.

Lain Bali, lain Surabaya. Kalau di Bali gampang sekali ketemu 'babi', di Surabaya yang mayoritas penduduknya muslim, saya jarang sekali ketemu babi, kecuali di restoran-restoran khusus yang memang menyediakan babi. Di hotel, menu yang sering disajikan di kantin karyawan biasanya ayam, daging sapi, telur dan ikan. Kadang-kadang, kalau 'chef' kantin sedang dalam mood yang bagus (karena beliau cemberut sepanjang hari- atau emang sudah bawaan kali ya?) kami bisa dapat udang atau cumi.

Persamaannya, entah mengapa ya, rasanya kok makanan di kantin jarang yang enak. Kalau bukan karena menunya monoton, ya rasanya yang gak ngalor gak ngidul (terjemahan bebas; bukan ke utara, bukan pula ke selatan alias gak karu-karuan) -kata orang Jawa-. Di rumah, sayur lodeh buatan Ibu tersayang itu ya sayur lodeh dengan aneka sayur dan pakai kuah santan. Kalau di Bali ya kuning begitu saja pakai bumbu seadanya tanpa santan. Jadi bagi saya rasanya aneh. Soto ayam kalau di rumah ya rasa soto ayam. kalau sudah di kantin hotel, penampakan sih soto ayam, tapi rasanya... you never know!

Saking tidak enaknya, kami sampai punya julukan untuk makanan tertentu yang kadar kelezatannya diragukan namun sekring sekali kami temui di kantin. Berikut ini sebutan-sebutan yang membuat nafsu makan kami seketika buyar hanya dengan mendengar namanya :
 
1. Ayam fitness. Ini julukan buat ayam goreng super garing. Harusnya sih ayam garing itu enak ya? Tapi ayam yang satu ini saking garingnya, dagingnya hanya seuprit membalut tulang.Karena itulah kami menamakan ayam goreng jenis ini dengan nama ayam fitness. Karena kebanyakan fitness alias lari-larian dan kebanyakan latihan makanya ni ayam jadi kurus dan dagingnya alot. Duh!

2. Ikan terbang
Julukan ikan terbang (atau kadang-kadang disebut ikan Indosiar) dianugerahkan kepada sejenis ikan keringg yang diiris melintang tipis dan digoreng sampai garing - saya tak tahu ya itu ikan aslinya namanya apa, yang jelas ini ikan rasanya hanya asin saja-. Kalau ada teman yang baru balik dari istirahat makan siang dan mukanya masih kucel, tak usah ditanya lagi "menunya hari ini apa ya?" pasti mereka langsung sewot dan bilang "Ikan terbang!"

3. Nasi Kucing
Bukan nasi kucing yang biasa dijual di warung angkringan pinggir jalan loh ya.. kalau ada yang bilang nasi kucing, di tempat saya artinya menu hari itu adalah ikan pindang. Bukan bermaksud menghina makanan atau apa, tapi biasanya kalau dirumah, pindang selalu identik dengan makanan kucing.

NB: Jangan salah, makanan di kantin hotel itu sebenarnya bagus, loh. Nutricious alias berigizi dan setiap hari kualitas dan kebersihan selalu dikontrol oleh dokter (yang bertugas di klinik hotel). hanya saja, entah mengapa, rasanya kok jarang ada yang enak.

Monday, 27 October 2014

Trainee Konyol


Masih ingat dengan trainee saya yang bernama Ben? Iya, salah satu trainee yang pernah saya bahas juga di blog ini April lalu. Trainee saya yang lain waktu itu, saya kira akan sama saja konyolnya dengan si Ben ini. Ternyata saya salah sangka, si Chandra (trainee saya satunya lagi) bener-bener anak baik dan 'berbakti' pada trainernya. Jadilah saya gak jadi nulis yang aneh-aneh tentang si Chandra. Hehehehe..
Saya kira trainee saya yang bernama Ben (baca ulasan tentang si ben ini di sini) adalah trainee paling konyol yang pernah saya temui seumur hidup saya. Nyatanya, setelah si Ben pergi, saya dapat dua trainee yang konyol-nya naudzubillah, alias amit-amit jabang baby. Trainee saya ini cewek semua, satunya anak Bali asli sedangkan satunya dari Banyuwangi, Jawa timur. Karena cewek, yah saya kira mereka bakalan kalem dan jaim-lah. Pertama datang sih mereka malu-malu kucing, sekalinya seminggu disini, ketahuan sudah kelakuan aslinya.
Salah satu Trainee saya yang cewek ini namanya si Deaby. Ngefans banget dengan yang berbau-bau Korea dan Jepang. Kalau ada tamu Jepang atau Korea yang unyu-unyu, mulutnya langsung nyeplos, “ aduh mbak.. lihat deh ini cowok. Gantengnya..”. Dan sayapun hanya bisa mengelus dada menyaksikan kelakuan trainee satu ini yang paling gak bisa diam kalau saya lagi handle tamu Jepang atau Korea.
“Biar aku yang antar luggagenya mbak..” Si Deaby menawarkan diri. Apalagi maksudnya, kalau bukan mau deket-deketan dengan si cowok unyu Korea. Kadang, tak peduli betapa besar koper yang harus diantar. Tak peduli si cowok ada gandengannya, masih sempat-sempatnya dia tebar pesona.
“Siapa tahu nantinya dia jatuh cinta padaku, mbak.” Katanya lagi. Ngarep. Begini nih kalau kebanyakan nonton film drama Korea. Saya tepuk jidat. Ya sudahlah…
Minggu berikutnya saya si Deaby yang saat itu seharusnya belum resmi jadi pengikut saya, jadi mengikuti schedule saya karena senior yang seharusnya dia ikuti schedulnya hari itu tukar off. Saya sih senang-senang saja, secara si Deaby ini anak yang rajin dan sedikit banyak dia sudah bisa membantu saya dalam proses check in dan check out. Singkat cerita, siang itu saya sedang menghandle seorang bule Australia yang ehm! Ehm! Baru saja saya meminta pasportnya, si Deaby dengan sigap menawarkan bantuan untuk memfotokopi paspor tersebut. Bener-bener deh, trainee idola.
“Sekalian aku ambilkan registration card-nya ya mbak.” Katanya lagi. Tuh, kan? Apa saya bilang. Ciamik deh ini anak.
“Eh, namanya Jones ya mbak. Jomblo ngenes. Hihihi.” Si Deaby lagi. Mungkin tanpa tendensi apa-apa. Saya langsung muncrat. Spontan ketawa. Konsentrasi saya seketika buyar. Jomblo ngenes? Ini anak ada-ada saja. Bule cakep begini kok ngenes. Sayapun melanjutkan proses check in sambil cekikikan. Dan seperti yang saya duga, si Deaby mukanya masih innocent seperti tanpa dosa. Dasar!!!
Eniwei, trainee saya yang satunya namanya Ami. Karena dia tidak ikut-ikutan Korean wave, saya kira dia bakalan jadi anak yang 'normal'. Ternyata, si Ami ini jauh lebih parah daripada si Deaby.
Jadi ceritanya suatu hari saya minta si Ami ini nganter surat buat kamar tamu no 323. Ami menolak. Ini aneh. Biasanya, Ami tak pernah menolak kalau dimintai tolong. Sayapun penasaran.
"Kok gak mau, Mi? Kenapa?"
"Pusing mbak.." Katanya. Saya kira si Ami sedang sakit saat itu dan sayapun menyarankan supaya dia ke klinik saja dan istirahat. Ami menggeleng.
Lah, kalau gak sakit trus kenapa dong?
"Ami gak bisa naik lift, mbak. Kalau naik lift Ami langsung jongkok, kepala Ami pusing."
Oh My...!!!! Saya kira cuma tamu saya yang dari daerah saja yang kena syndrom beginian. Ealah ternyata traineeku juga sama. Saya bukannya kasian malah saya sengaja suruh dia sering-sering naik lift. Jangan salah, bukannya saya jahat loh ya, justru demi kebaikan dia sendiri dong. Kalau nanti sudah betulan kerja di hotel dan hotelnya bertingkat banyak kan, mau gak mau harus naik lift. Dan ini ternyata efektif. Dua bulan sejak hari itu (iya, saya tahu lumayan lama juga ya...) Ami tak pernah mengeluh pusing kalau harus naik lift lagi...

Lain hari, si Ami yang sekarang sudah bisa handle check in dan check out sendiri (siapa dulu trainernya.. hehehe), menghandle seorang tamu bule (yang kelihatannya) minta dibookingkan paket tur. Saya sendiri kurang tau percakapan awalnya bagaimana antara Ami dengan tamu, namun tiba-tiba Ami datang ke arah saya dan langsung tanya:
"Mbak... kalau mau lihat respil itu dimana ya?"
Hah? Respil? Reptil maksudnya? Ada dong jauh di pulau Komodo...
Sayapun mengkonfirmasi, memastikan telinga saya tidak salah.
"Hah? respil?" Si Ami mengangguk. Saya makin bingung. makhluk apakah gerangan si respil ini...
Ya sudahlah karena ogah berdebat, sayapun berinisiatif mendatangi tamu dan bertanya mereka mau ambil paket tur apa dan dimana.
"Yes, we would like to go to the RICE FIELD. Where do you think I can see it?"
Oalah.. yang sedari tadi dibilang respil respil itu ternyata RICEFIELD! RICEFIELD alias sawah!!! Perut sayapun rasanya langsung mules menahan tawa. Saya lihat muka si Ami. Cuek saja seperti tanpa dosa. Ampun maaaakkk, ini anak bener-bener parah. Pertama, pengucapan ricefield yang 'males' banget sampe jadi respil. Yang kedua, perasaan dia yang asli Bali dan saya malah pendatang, masa iya wisata sawah tempatnya dimana aja gak tau?!
Di hari yang lain saat para reception sedang sibuk, Ami menerima telepon dari kamar in house (kamar yang sudah ada penghuninya alias sudah check-in) dan terlihat serius sekali. Entah apa yang diperbincangkan, namun Ami terlihat bingung, dan seperti biasa nanya ke saya, emaknya.
"Mbak, kamar 223 pen-nya rusak. Kontaknya ke enggineering, kan ya?"
Saya yang sedang sibukpun kontan nyelutuk seenaknya.
"Ya kamu kirim pen kamu aja lah. Ngapain manggil engineering segala."
Ami pasang muka bingung lagi.
"Pen ACnya rusak mbak." Ami mulai merengek. Ehm, saya mencium adanya ketidak beresan. Pasti bukan pen biasa...
Dan sayapun menyadari sesuatu..
"Fan AC maksud kamu Mi?"
Bisa ditebak, Ami mengangguk. Pen dan Fan itu beda jauh keles…
Kejadian lain, (masih dengan Ami tentunya). Saya yang masuk pagi saat itu sedang sibuk mengecek bill tamu yang akan check out hari itu. Si Ami yang baru saja datang langsung mendekati saya.
"Mbak, SOP sudah?” katanya.
SOP*? Hah? Memangnya ada aturan baru??
“Memang ada SOP baru? Sejak kapan? Tentang apa? Kamu baca dimana?” Saya penasaran.
Si Ami pasang muka bingung. “Maksudnya, mbak?”
Ini saya yang bego apa saya yang bloon sih?
“Lah itu SOP? Maksudnya apaan?” Saya mencerca.
“Itu mbak, yang dari Agoda** itu loh.. SOP kan? Sudah?”
Saya nyengir asem seasem-asemnya. Biasanya kalau shift pagi salah satu tugas anak reception itu meng-SOF*** voucher dari prepaid booking online semacam Agoda atau Expedia… Tapi SOF dan SOP jauh banget yak…
Dan seharian itu materi training yang saya berikan ke Ami adalah membedakan antara huruf F, V and P. 

Catatan:
*SOP : Singkatan dari Standart Operational Proscedure. Kurang lebih artinya adalah aturan-aturan perusahaan.
** Agoda : Salah satus situs penyedia layanan booking kamar hotel online
**SOF : Singkatan dari Sign on file. Biasanya berupa voucher yang berisi detail kartu kredit dimana merchant mendapatkan kewenangan untuk menarik sejumlah uang dari kartu kredit yang besarnya sesuai dengan jumlah yang tertera di voucher.


Saturday, 25 October 2014

Mendadak Translator

Setelah 'lulus' dari tempat training saya di Bali lima tahun yang lalu, bahasa Jepang yang dulunya pernah saya bisa perlahan menghilang. Lupa, karena jarang sekali dipakai. Dulunya, sekedar memberi arahan jalan ke arah mana, menyebutkan nomor kamar atau menyebutkan nominal uang dalam bahasa Jepang sih saya bisa, Selain karena saya punya banyak tamu Jepang, Tak (yang ada banyak saya sebut di buku Hotelicious- yang dalam hitungan mundur kurang dari 50 hari akan resmi menjadi suami saya) juga orang Jepang, saya merasa saya harus bisa berbahasa Jepang meskipun saya dan Tak bisa menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari tanpa ada masalah.

Pertama kali belajar bahasa Jepang adalah enam tahun lalu, sebelum saya training ke Bali. Saya masih ingat, saya punya guru bahasa Jepang privat yang datang ke tempat tinggal saya seminggu tiga kali. Sensei (demikian saya memanggil guru privat saya) menganjurkan saya untuk mengikuti  tes tahunan bahasa Jepang (noryoku-shiken) waktu itu. Baru juga dapat enam bab, dan saya merasa saya belum mampu. Tapi karena terus didorong dengan semangat "apa salahnya mencoba?", sayapun memberanikan diri ikut test tersebut. Tidak berharap dapat nilai yang bagus, karena saya juga setengah jalan mempelajarinya. Tapi saya shock berat saat hasilnya keluar; reading saya 40%, listening 30%, grammar 35%, dan rata-rata kalau semua dijumlahkan hanya sekitar 35%-an. Arrrrrrggghhhh saya malu setengah mati dan saya tak berani menunjukkannya ke Tak. 

Setelah saya bekerja sendiri, saya masih belajar bahasa Jepang, sekitar 2 tahun lalu di IMC Centre Surabaya (lembaga pendidikan bahasa dan kebudayaan Jepang). Saya pribadi lebih nyaman belajar begini daripada privat, mungkin karena seperti ada kompetisi di kelas dan di lubuk hati saya yang paling dalam mengatakan : "malu-maluin aja lu kalo gak bisa", dan hal-hal semacam inilah yang memacu saya untuk terus belajar dan tidak mau kalah dari yang lain. Namun lagi-lagi, belum juga saya selesai belajar, Bali memanggil saya kembali dan saya terpaksa berhenti belajar.

Yang saya harapkan dengan bekerja di Bali lagi adalah, saya bisa mempraktekkan skill bahasa Jepang saya yang tidak seberapa saat itu dengan tamu-tamu Jepang saya. Yang saya tidak tahu, ternyata area Seminyak (area dimana saya bekerja saat ini), bukanlah destinasi favorit turis Jepang. Dan kenyataannya, selama setahun bekerja di sini, saya hanya dapat lima turis Jepang (yang saya handle) dan itupun Jepang yang lama tinggal di Amerika atau yang sudah sering travelling ke Eropa sehingga bahasa Inggrisnya jago-jago dan tentu saja saya servisnya tidak usah repot berbahasa Jepang.  

Bencana baru datang dua hari yang lalu saat dua orang Jepang bermarga Suzuki datang ke saya dan tanpa basa basi menyodorkan majalah berhuruf paling abstrak sedunia, huruf kanji.
" Sumimasen*, bla bla bla..." Salah satu orang Jepang ini mulai ngoceh.
"Eigode onegaishimasu. Nihongo ga dekimasen." Lah, ini bisa dong bahasa Jepang. Nop! Itu hanya kalimat wajib yang kira-kira artinya "English please. I don't speak Japanese." Apalagi tujuannya, kalau bukan supaya tidak menambah nyut-nyutan kepala saya karena saya memang tidak ada clue sedikitpun menganai apa yang barusan mereka tanyakan. Eh, tapi mereka ngotot...
"E..to... bla bla bla..." sambil nunjuk-nunjuk majalah itu lagi.
Saya perhatikan, di majalah itu ada sepasang bule berpakaian adat Bali. Ah, mungkin maksudnya mereka mau photo studio dengan kostum adat Bali, yak?
Baru juga saya mau tanya, mereka membuka beberapa lembar majalah (berbahasa Jepang lagi dengan huruf abstrak itu tentunya!) dan memperlihatkannya sekali lagi ke saya. Ada gambar gajah di sana. Mungkin elephant ride, saya menebak.
"This." katanya.
 Lah? Mau naik gajah atau mau photo adat Bali? Atau mau photo naik gajah dengan kostum Bali? Ah, saya mulai ngaco. Saya mulai bingung... Dan dengan bahasa Inggris yang gak jelas saya berusaha mengkonfirmasi, mana yang mereka mau booking. Photo adat Bali, atau naik gajah? Tapi jawaban yang saya dapat adalah...
"@$%# $%^&^&*^(*&*"
Saya bengong. Mereka berdua bengong. Ini maunya apa dan mau yang mana?
Tak hilang akal, si turispun mnegeluarkan gadgetnya dan menulis sesuatu di sana. Apalagi kalau bukan google translate. Namun sial, si Google translate ternyata tak banyak membantu. Yang tertulis di layar adalah "Satu kali pulang rumah kembali." Apa maksudnya coba?
Eh.. tiba-tiba saya ide. Saya suruh mereka menunggu sebentar, dan saya pencet nomor paling penting sejagat, nomor Tak. Iya, saya tahu, saya ini manusia jenius. Kalau kepepet, ada saja akalnya. Akal bulus, maksudnya.
"Haloo.." saya langsung nyamber, begitu Tak yang di seberang sana angkat telepon. Tak tentu saja kaget, karena dia tahunya saya lagi kerja, dan tak biasanya tiba-tiba menelepon. Sayapun tanpa basa basi langsung meminta Tak untuk menterjemahkan paket-paket photo adat Bali dan elephant ride beserta harganya. Di seberang, Tak sibuk mencatat segala sesuatunya. Setelah selesai dan Tak siap, gagang telepon saya berikan kepada turis Jepang tadi.
"Hai" katanya.
Perbincangan selanjutnya tentu saja saya tak mengerti, karena semuanya dalam bahasa Jepang, namun yang saya dengar, turis Jepang tersebut sedikit-sedikit angguk-angguk dan bilang "Haaai!"
Ops, maksud saya, baiklah. As long as tidak ada miss komunikasi, saya sih Ok saja.
Gagang telepon lalu dioper ke saya lagi. Tak masih di seberang sana.
"Anna-chan, they want to do Balinese wedding photo at 10AM, then elephant ride  at about 1 PM the day after tomorrow." Sayapun rasanya pingin ngakak. Perasaan tadi ngomongnya panjang banget sampai berbusa-busa dan kesimpulannya cuma begini doang? Ah, baiklah...Dengan susah payah sayapun menyampaikan akan mencoba membookingkan dan mengirim konfirmasinya begitu bookingannya selesai. 

Saya kira nyampe disini urusannya bakalan beres. Ternyata tidak. Paket naik gajah yang diinginkan si turis Jepang sudah habis terjual begitu saya konfirmasi ke agennya. Yang tersedia adalah paket yag lebih mahal, dengan beberapa benefit tambahan, tentunya. Mau dibookingkan saya tak berani, takutnya si Jepang tidak mau karena harganya yang lumayan mahal dan tur dimulai lebih awal. Padahal paginya si turis Jepang sudah confirmed janji dengan studio phto adat Bali. Mau konfirmasi dengan tamunya, merak keburu ngacir. Ya sudahlah saya kasih note saja. Tapi dalam bahasa Inggris? mereka tentu gak ngerti. Satu-satunya jalan adalah... eng ing eng..! Tak lagi!

Sayapun buru-buru kontak Tak lagi dan meminta Tak menuliskan paket elephant ride tersebut dalam bahasa Jepang. Tak sampai 10 menit, saya sudah dapat email dari Tak dan segera saya print. Saya msukkan ke amplop, lalu saya kirim ke kamar tamu Jepang tadi. Beres.



Besoknya, saat breakfast, mereka datang lagi ke saya dan memberi saya seplastik permen susu.
"Arigatou." Katanya. Mungkin hadiah. Atau tip?  
Ah, saya jadi merasa bersalah. Seandainya saya sendiri bisa berkomunikasi dengan mereka, tentu akan lebih bagus. But good think I just realized is, kalau perlu bantuan penerjemah, Tak bisa saya mintain bantuan jadi penerjemah dadakan. I know I'm lucky.Hahaha!


Note:
*Sumimasen: permisi

Sunday, 7 September 2014

Bule Oh Bule (part 2)

Masih tentang bule...

Mungkin karena pekerjaan saya yang mengharuskan banyak ketemu bule setiap harinya, pandangan saya mengenai bule sudah banyak berubah. Dulunya saya menganggap bule itu semuanya tinggi, berhidung mancung, berambut pirang dan berbahasa Inggris. Kenyataannya, ada banyak juga bule yang lebih pendek dari pada saya. Ledekan teman saya, bule yang seperti itu dibilang 'bule kurang gizi' (iya, saya tahu ledekannya jahat sekali). Namun dalam hati saya bahagia juga karena ternyata ada juga ya bule yang lebih pendek dari pada saya (padahal saya sudah termasuk kuntet). Tentang bule berhidung mancung, ternyata anggapan saya juga salah, karena ada juga beberapa bule (biasanya hasil perkawinan campuran) yang fisiknya cukup nyentrik, - kulit putih, rambut pirang, mata biru tapi hidungnya (maaf) pesek! Anggapan paling parah adalah saya kira semua bule itu bisa berbahasa Inggris (karena bahasa Inggris kan bahasa internasional yah?) Dan kembali saya harus kecewa karena nemu beberapa tamu dengan fisik bule tapi pas diajak ngomong bahasa Inggris malah bengong dan keluarlah bahasa-bahasa yang terdengar seperti 'dzong-dzong'. Hahahaha!

Shock tentang bule tak hanya sampai di situ. Saya dulu tahunya yang namanya bule itu namanya mesti keren. Keinggris-inggrisan dan kebarat-baratan (ini apa bedanya coba?) yang seringkali membuat orang Indonesia seperti saya ini terpeleset lidahnya.  Tentang nama bule ini, saya masih ingat kejadian konyol bulan lalu ketika seorang driver datang ke konter saya, mengecek reservasi sekaligun mencheck-in kan tamunya.
Driver: Mbak, mau check in atas nama Kasidi.
Saya: Oh, tamunya lokal ya pak?
Driver: (Bengong) Orang Irlandia kok mbak...
Saya : (Membatin dalam hati: Kok orang Irlandia namanya Jawa begini ya?)

Tak lama, dua orang bule datang menghampiri dan sekali lagi menyebutkan namanya.
Bule: Hi, check in under Cassidy, please...!
Dan perut saya langsug kram menahan ketawa. Kasidi? Cassidy? Ah, whatever!

Masih tentang nama bule, cerita datang dari rekan sesama reception bernama Yanti (iya, Yanti lagi!). Ceritanya, suatu hari seorang driver yang akan menjemput tamunya meminta Yanti untuk menelepon kamar atas nama Suwarni. Tanpa curiga, Yantipun mengetik keyword atas nama Suwarni. Search. Tidak ada. Ok, keyword diganti. Warni. Search. Tidak ada juga. Yanti mencoba cek  tamu yang akan check in. Nihil. Ok, cari juga di kolom tamu yang sudah check out. Dan tidak ada juga.
Yanti: Maaf Pak, atas nama Suwarni tidak ada di system kami. Mungkin atas nama lain? Partnernya barangkali?
Driver : Pasti ada, mbak... orang kemarin check in sama saya.
Si Yanti dengan muka asem melanjutkan pencarian dan hasilnya tetap tidak ada. Eh, seorang bule ganteng datang menghampiri si driver.
Si bule ganteng : (nepok pundak pak driver) Hi. I'm Zoe. Ready to go?
Zoe? dan si yantipun search atas nama itu dan terpampanglah di komputer sebuah nama : Zoe Warney. Oalah mak... Zoe Warney dan bukan Suwarni! Si Cumi alias Yantipun guling-guling di lantai saking gemesnya sama pak driver.

P.s: Postingan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau menghina pihak manapun.

Sunday, 24 August 2014

Bule oh Bule, Dulu Vs Sekarang (Part 1)

 Edisi photo-photo bareng Bule

Perbincangan mengenai bule, bagi saya kok tidak ada habisnya yah. Mungkin karena dilihat dari fisik, kita dan mereka sangat berbeda, lalu gaya hidup dan kebudayaan yang sangat berbeda, dan seringkali perbedaan itu yang membuatnya menarik.

Topik kali ini berangkat dari pembicaraan ringan antara saya dengan Yanti, teman sesama host di pagi yang agak senggang (setelah serangan bertubi-tubi kamar back to back karena occupancy yang tinggi), mengenai foto bareng bule pertama kali.

Yanti: Mbak Anna foto bareng bule pertama kali kapan?
Ini si Yanti membuka percakapan.
Saya : Kapan ya? Waktu SMP kelas satu deh kayaknya. Waktu ke Borobudur. Biasalah, study tour gitu, wawancara sama bule, tugas bahasa inggris karena musti bikin laporan yang nantinya dikumpulkan buat tugas akhir semester. Kalau kamu?
Si Yanti senyum-senyum kecut dan bilang.. "Sama dong mbak. Aku juga pertama kali ketemu sama bule saat SMP, di Borobudur pulak."
Buset!!! bukannya di Bali banyak bule, yah? FYI, si Yanti ini orang Bali asli and you know lah, Bali kan di setiap sudutnya juga banyak turis.
Dia hanya mesam mesem asem dan bilang, "Yah.. jaman segitu aku belum bisa bahasa Inggris mbak.."
Hohoho.. sama dong.

Perbincangan mengenai Bule ketemu di Borobudurpun berlanjut.
Saya : Jaman segitu seneng banget tauk bisa poto-potoan sama bule. Masih ingat rasanya deg-degan saat pertama kali ngobrol langsung sama mereka, mana percakapan pake direkam segala ke walkman recorder.
Yanti: Hahaha. Iya ,mbak. Bangga gitu bisa foto-fotoan sama bule. Bisa dipamerin tuh fotonya ke teman-teman satu sekolah.
Saya: Nah, kalo sekarang?
Yanti : (Tertawa khas ala kuntilanak). Sekarang n*j*s mbak. Geli aku ngelihat foto jaman dulu. Dalam hati mikir, 'gak ada bule yang cakepan apa ya, bule jelek gini aku ajak poto-potoan'. Hahahaha

Sayapun nyengir asem. Jadi teringat beberapa hari yang lalu seorang teman yang barusan pulang dari Borobudur selfie bareng bule. Banyak pulak yang komen, mulai dari yang menanyakan gimana caranya ngajak si bule poto bareng, hingga tips-tips supaya bisa poto-potoan sama bule dan sejujurnya saya sampai sakit perut menahan tawa. Bukan bermaksud merendahkan, tapi mengingat pengalaman saya saat masih SMP dulu, foto sama bule itu merupakan hal hebat yang bisa dipamerin ke seluruh penjuru sekolah, sekampung malah kalau perlu.Maklum, saya berasal dari dusun dimana bule itu hanya bisa kami lihat dari tivi, yang percakapannya baru bisa dimengerti kalau didubbing ke dalam bahasa Indonesia. 

Saya makin geli teringat salah seorang teman bule saya yang pernah ngajak main ke Tretes, Malang. Tujuannya ke air terjun di Tretes. Karena turis bule hanyalah dia satu-satunya, otomatislah dia menjadi pusat perhatian para turis lokal. Iya, seperti ketemu selebriti gitu, mirip kelakuan saya dan teman-teman waktu ke Borobudur, ketemu mahluk bernama 'bule' untuk pertama kalinya. Saya sih berusaha menghindar, karena fans dadakan di sekitar teman bule saya yang mendadak jadi artis ini mulai aneh-aneh tingkahnya. Mulai dari jadi wartawan dadakan karena mewawancarai kami (tak hanya si bule), sayapun diwawancarai! Apalagi topiknya kalau bukan kenal sama ini bule dimana, gimana cara ngomongnya, belajar bahasa Inggris dimana, dan sebagainya. Yang menyebalkan, perjalanan saya menuju air terjun terganggu karena si bule suka diculik para fans dadakan ini. Lagi enak-enaknya ngobrol sambil jalan (saya di depan dan teman bule saya berjalan di belakang saya), tiba-tiba tak ada jawaban dan ketika saya nengok, si bule sudah berada di kerumunan orang-orang yang sedang sibuk foto. Salah seorang peserta foto iseng berjalan mendekati saya dan bilang, "mbak, boleh minta tolong potoin sama mister bule?" Duh!

Sekarang, saya sudah tidak 'nggumun' lagi dengan bule. Malah rasanya pingin sekali sehari tak usah ketemu bule, biar berasa ada di negeri saya sendiri. Tapi ya mana bisa toh ya, orang saya sekarang ini berdomisili di Bali, di distrik favorit kampung kedua para bule. Kecuali kalau saya pulang kampung, baru deh gak akan ketemu bule. 

(Bersambung ke part 2)


Thursday, 14 August 2014

Menerbitkan Buku

Jadi ceritanya, banyak email masuk dari gmail dan Facebook saya yang menanyakan mengenai cara menerbitkan buku. Dibilang expert, enggak lah. Secara buku saya baru juga terbit satu ( yang kedua dan ketiga akan terbit menyusul). Apa menerbitkan buku itu susah? Itu pertanyaan pertama yang paling banyak ditanyakan. Yang jelas susah-susah gampang. Dibilang susah, karena membutuhkan waktu yang lama, kesabaran dan ketelatenan dalam menulis akan sangat diuji karena proses editing yang panjang. Dibilang gampang, karena dari pengalaman saya, saya kirim email ke penerbit cuma satu kali, pertama kali pula, dan naskah saya langsung di-approve untuk diterbikan, dengan kontrak 3 buku berseri sekaligus.

Lalu bagaimana caranya menerbitkan buku? Itu pertanyaan selanjutnya yang selalu terlontar. Langkah pertama, ya harus banyak baca dulu. Bagaimana ceritanya bisa menulis kalau nggak suka baca, kan? Seperti makanan, setiap orang memiliki selera membaca yang berbeda-beda. Ada yang suka fiksi. Ada yang suka non fiksi. Dari genre fiksi pun orang ada yang suka novel romantis, ada yang suka novel thriller, ada yang suka horror, misteri, dan sebagainya. Jadi banyak sekali macamnya. Semakin banyak anda membaca, maka akan semakin bagus. Lama kelamaan anda akan memahami gaya bahasa tiap penulis. Ya, tiap penulis itu punya ‘gaya’ sendiri-sendiri. Sama dengan gaya bicara, menulispun punya gaya. Layaknya orang bicara, ada yang suka menyampaikan opini dengan humor, ada yang serius, ada yang berkoar-koar dengan menambahkan banyak ‘bumbu lebay’ di sana-sini, dan sebagainya.

Langkah kedua, adalah dengan mencoba menulis. Buku yang menginspirasi saya untuk menulis adalah buku milik Trinity (The Naked traveler series) – Iya, saya ini fans beratnya -. Memang genre buku Trinity ini masuk golongan travel, tapi lihatlah gaya menulisnya. Dia cerita benar-benar dari sudut pandangnya sendiri- seperti mendengar ocehan seorang teman yang sedang bersemangat cerita karena baru pulang pelesiran dari negeri antah berantah yang belum pernah saya lihat. Misalnya, ketika Trinity cerita mengenai slah satu negara, China. Yang saya tahu, secara general China itu identik dengan tembok besar China, lalu makanan khas China semacam dimsum dan sebagainya. Namun Trinity malah cerita betapa joroknya negara satu itu secara deskriptif, ditambahi dengan ‘bumbu’ khas ocehannya dan membuat saya mengernyit tak percaya, sekaligus takjub. Kalimatnya yang informative sangat jujur, tak ada yang ditutupi, sekaligus menambah wawasan karena yang dia tuturkan sama sekali berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Dari sini, saya merasa saya punya persamaan dengan Trinity, yaitu cerita mengenai sesuatu secara jujur mengenai suatu hal. Cerita mengenai apa? Dalam kasus saya, karena saya kerja di hotel dan menurut saya bekerja di hotel itu banyak warna, saya merasa ‘harus’ bisa cerita mengenai hal yang saya paling tahu – lingkungan kerja saya sendiri-. Tak usah peduli apa tulisan anda jelek. Teruskan saja menulis hingga anda selesai dan usahakan jangan berhenti sebelum tulisan anda selesai. Dalam kasus saya, karena saya harus ‘pause’ sejenak dalam menulis karena banyak alasan, ketika akan kembali menulis, seringkali mood saya menulis tidak akan sama lagi.

Langkah selanjutnya, baca tulisan yang telah anda buat tadi dan lakukan self editing. Sejujurnya, ini bagian yang saya paling tidak suka karena harus membaca tulisan yang sama berulang-ulang. Namun, saya terus tanamkan dalam diri saya untuk disiplin. Kalau saya saja enggan membaca tulisan saya, apalagi dengan pembaca nantinya, kan? Perbaiki setiap kata yag kurang tepat, typo, salah penggunaan tanda baca, dan sebagainya.

Sekarang, saatnya mengirimkan naskah yang sudah ditulis ke penerbit. Langkah ini bagi saya sangat penting, karena sebagus apapun naskah yang anda punya jika anda mengirimkannya ke penerbit yang salah, maka usaha anda menulis akan sia-sia. Lalu bagaimana caranya memilih penerbit yang tepat? Kembali ke point pertama: banyak baca! Jangan protes dulu, dengan banyak baca, anda akan mengerti sendiri naskah seperti apa yang disukai penerbit. Dari sini silahkan membandingkan naskah anda dengan naskah yang sudah terbit, apakah kira-kira naskah anda juga layak diterbitkan? Kadang-kadang, di halaman paling belakang buku ada undangan langsung dari penerbit untuk pembaca yang memiliki naskah bagus untuk dipublikasikan. Atau, coba kujungi langsung websitenya dan melihat bagaimana cara mengirim naskah dan naskah seperti apa yang sedang dicari. Setiap penerbit memiliki aturan yang berbeda-beda dalam prosedur pengiriman naskah. Ada yang cukup diemail, ada pula yang memerlukan print out. Ada pula yang memerlukan synopsis dan outline, dan sebagainya.
Catatan: kirim naskah hanya ke satu penerbit saja, jangan ke beberapa penerbit sekaligus. Tunggu hingga ada jawaban dari pihak penerbit, apakah naskah anda diterima atau ditolak. Kalau ditolak, jangan berkecil hati. Masih banyak penerbit lain yang menanti. Atau, kalau anda mau, bisa kok mencoba self publishing.  Kalau naskah anda diterima, mari lanjutkan ke step selanjutnya.
Langkah selanjutnya, anda akan diberikan kontrak oleh penerbit. Jika disetujui, maka naskah akan segera diterbitkan. Tentunya tergantung penerbit, bisa saja naskah anda sebenarnya bagus, hanya saja memerlukan banyak editing, atau memerlukan beberapa data pendukung, dan sebagainya. Penerbit akan menyediakan satu editor yang akan membantu mengevaluasi naskah anda sampai naskah anda benar-benar layak terbit.

Kalau proses editing sudah hampir selesai, biasanya pihak penerbit akan menyediakan desainer yang akan mendesain lay out buku yang kaan diterbitkan nantinya, ilustratrasi, cover buku, dan sebagainya. Ini sih bagiannya penerbit. Kita hanya tinggal duduk manis dirumah saja dan berdoa semoga lekas selesai dan naskah bisa segera terbit.

Langkah terakhir, ketika buku anda sudah benar-benar terbit, maka promosikan buku anda sebanyak-banyaknya. Jaman sekarang banyak sekali media sosial yang bisa dijadikan sarana promosi buku anda.


Mudah kan? Let’s start write, then ^_^

Monday, 7 April 2014

Trainee oh Trainee

Bukan, saya bukannya mau brnostalgia mengingat kembali aib-aib memalukan semasa saya menjadi trainee dulu. Namun, karena sekarang ini saya menjadi trainer dan bukan lagi trainee di tempat saya bekerja sekarang ini, saya jadi pingin sedikit cerita mengenai ajaibnya anak didik saya.

Trainee saya ada dua orang, yang satu namanya Bean (namun kami semua memanggilnya Ben), sedangkan yang satunya lagi bernama Chandra. Dua mahasiswa ABG dari sekolah tinggi pariwisata Bali yang kurang beruntung masuk ke tempat yang salah, di hotel tempat saya bekerja dimana orang-orangnya pada sableng semua. Saya sedikit prihatin dengan nasib mereka, khawatir mereka bukannya mendapatkan ilmu yang baik selesai masa trainingnya di sini, tapi malah ketularan gila seperti kami semua. Hmmm….

Pertama incharge sebagai trainee sih mereka masih polos, lugu, manis dan unyu-unyu.. namun begitu kenal seminggu, baru ketahuan ternyata mereka unbelievable juga (terjemahan bebas: kelakuannya ajaib). Yang kali ini saya mau ceritakan adalah si Ben, trainee yang hampir sebulan ini menjadi pengikut (sesat) saya. Sedangkan Chandra, masih belum ketahuan ajaibnya karena baru akan menjadi pengikut saya berikutnya start bulan depan. Well, tunggu saja tanggal mainnya…

“Mbak Anna..” Ini si Ben yang manggil saya.
“Mmmm..” Jawab saya dengan pandangan masih menghadap ke monitor karena sibuk update profil tamu yang barusan check in.
“Mbak Anna…!” Ben manggil lagi. Seperti anak SD yang lagi caper alias cari perhatian sama emaknya, Ben bakalan terus manggil kalau saya nggak noleh ke dia.
“Apaaa…!” saya menjawab malas, sambil menoleh ke arah dia yang lagi menggunting-gunting kertas berisi password wifi.
Bukannya membalas, si Ben malah buang muka. Sayapun tak ambil pusing dan melanjutkan pekerjaan saya. Eh, si anak caper ini manggil lagi. Hadeuh!
“Mbak Anna, mbak Anna…” Ben manggil-manggil lagi.
“Apaaaaaa…” Haizzzz… saya yang temperamen ini jadi gak sabar. “Ngomong dong. Dari tadi manggil-manggil mulu kamu ini.”
Ben nyengir kuda dan tanpa dosa bilang, “Gak apa-apa kok mbak. Hehehe..”
Tailah…

Meski suka manggil-manggil gak jelas (saya rasa dia sudah ketularan FOM saya - iya, FOM yang konyol itu – siapa lagi!), rupanya Ben punya hobby lain, yaitu curhat. Misalnya saat dia sedang tes praktek room division di kampusnya. Ceritanya, Ben akan tes praktek menghandle reservasi via telepon. Skenarionya, seseorang akan telpon dari ruangan sebelah dan pura-pura memesan kamar. Sebelum giliran Ben, seorang temannya yang mendapat giliran duluan terlihat sangat gugup, terlihat dari mukanya yang pucat dan berkeringat dingin. Apalagi saat mengangkat gagang telepon, suaranya terputus-putus dan bibirnya bergetar. “Ha- ha-lo…” katanya tersendat. Dan adegan yang sama terulang sekitar satu menit dengan ekspresi yang sama sampai seseorang mengetuk pintu kelas dan langsung masuk dan spontan komplain,” pantesan dari tadi saya telpon gak bisa dan nada sibuk terus. Orang itu teleponnya lagi dipakai.”
Semua orangpun menyadari sesuatu, teman Ben ini saking gugupnya sudah angkat telpon bahkan sebelum telepon berdering! Oalah! Perut saya sampai kram karena terlalu lama ketawa mendengar cerita Ben ini.
***
“Mana bullpen kamu?” Ini ketika suatu hari pas incharge sama saya sore hari, Ben saya tugaskan menghandle barang seorang tamu yang baru saja check out. Karena harus menuliskan nomor kamar dan jumlah barang di luggage tag, Ben yang kebetulan lupa tidak bawa bulpen meminta saya untuk meminjamkan bulpen sebentar padanya. “Iya mbak, saya lupa bawa bulpen.” Jawabnya polos.
Saya geleng-geleng kepala. Heran. Sudah tahu hotel tidak menyediakan bulpen untuk karyawan, dan saya orangnya paling senewen masalah bulpen karena bulpen saya hilang dicolong-colong mulu (tahu kan siapa pelakunya?), masih juga lupa bawa bulpen dan berani-beraninya minjem ke saya. Ibarat pepatah, sudah tahu singa itu galak, masih diajak main-main juga. *Pepatah dari mana tuh neng? Tauk ah, gelap!
Sayapun kesel, sekesel-keselnya dalam hati dan membatin, “ini anak niat gak sih? Training itu kan sama dengan sekolah. Bulpen itu sama pentingnya dengan tangan. Ada tangan gak ada bulpen, ya sama saja bohong.” Tapi yang keluar malah kalimat lain, “Kali ini saja ya. Besok gak lagi-lagi pinjam bulpen!”.
Saya lihat wajah Ben pucat. Mungkin dia ketakutan, singanya benar-benar ngamuk.
Di akhir jam incharge, Ben pamitan sama saya sebelum pulang, dan entah mengapa mulut saya dengan pedasnya nyelutuk, “jangan lupa besok bawa bulpen sekotak, ya?” Mulut saya otomatis, tanpa tendensi apa-apa. Ben mengangguk dan melenggang pergi, masih dengan wajah pucat tanpa ekspresi, seperti tadi siang.
Besoknya saya inharge bareng Ben lagi. Saya lihat wajahnya cerah. belum juga saya sempat sapa dia, dia dengan riangnya menghampiri saya sambil membawa sesuatu.
“Ini buat mbak Anna.” Katanya dengan wajah polos, menyodorkan sekotak bulpen!
Saya melongo. Takjub, merasa bersalah, bingung, haru, dan sedih bercampur aduk jadi satu. Tiba-tiba saya mual.
“Ben, aku kemarin tidak ada maksud apa-apa. Cuma becandain kamu saja. Kamu gak perlu bawa bulpen segini banyak…” Saya nyesek sendiri. Benar-benar merasa bersalah. Merasa saya sudah terlalu jahat dan galak. Padahal Ben hanya trainee, yang seharusnya saya bimbing, bukan saya marahi.
“Bukan karena kemarin, Mbak. Tak apalah saya beli bulpen sebanyak ini. Kan bisa berguna buat yang lain juga. Misalnya kalau saya sudah selesai training, bulpen saya masih di sini dan dipakai sama kalian, setidaknya nantinya bisa jadi kenangan, bulpen ini peninggalan saya.”
Saya  makin nyesek dan menangis dalam hati.  Merasa bersalah sedalam-dalamnya.
Sejak saat itu, Ben tak pernah lagi lupa bawa bulpen. Dan, meskipun tahu saya galak dan jahat, saya takjub juga ternyata Ben bukannya malah menjauhi saya, tapi malah semakin dekat dan perhatian sama saya, dan membuat saya menyadari sesuatu. Ben ini trainee yang tak biasa. Seperti waktu nyepi kemarin, di saat yang lain mungkin sedang sibuk dengan diri masing-masing, Ben ternyata masih sempat meluangkan waktu mengirim pesan untuk saya via whatsapp, mengkhawatirkan keadaan saya. 




Cerita lain tentang istimewanya trainee saya yang satu ini…
“Tamu yang barusan itu baik banget deh mbak.” Katanya suatu hari selesai mengantar seorang tamu yang barusan check in sama saya.
“Baik kenapa? Kamu dapet tip banyak, ya?”seperti biasa, mulut saya nyeplos tanpa perasaan. Ngomong ngawur dengan mata masih fokus dengan layar komputer.
“Bukan begitu, mbak.” Katanya lagi.
“Tamu ini ngasih saya kesempatan bicara, mbak. Saya merasa dia memperhatikan setiap keterangan yang saya berikan. Saya merasa dihargai.”
Saya berhenti sejenak. Ini menarik.
“Saya cuma dapat tip sepuluh ribu.” Katanya lagi sembari membeberkan selembar uang kertas lusuh sepuluh ribuan  dari sakunya.
“Saya lebih suka nggak dapat tip tapi apa yang saya katakan didengar, mbak. Dengan begitu saya jadi semangat dan lebih mengerti peran customer service. Daripada dapat tip seratus ribu tapi tamu mengacuhkan saya. Seratus ribunya palingan gak akan awet sampai dua hari. Habis ya habis saja. Selesai sudah. Tapi pengalaman didengar tamu dan perasaan dihargai, meskipun saya sudah tidak jadi trainee lagi disini nantinya, itu masih akan saya ingat sampai saya lulus dan kerja jadi customer service betulan.”
Saya trenyuh. Tak menyangka. Ben yang kadang-kadang slengekan ini ternyata berhati besar.  Moral of Ben’s story : penghargaan seorang customer service yang sesungguhnya bukanlah pada besarnya tip yang diberikan tamu, tapi besarnya apresiasi tamu terhadap service yang kita berikan.

Saya merasa beruntung bisa menjadi trainer untuk Ben, meskipun mungkin saya bukan seorang trainer yang baik. Ben secara tak langsung mengajari saya untuk merubah saya menjadi pribadi yang lebih sabar dan menjadi pendengar yang baik. Masa training Ben sebentar lagi akan habis. Saya harap, Ben tetap berhati besar dan menjadi hotel staff yang baik nantinya saat terjun betulan di hospitality industry yang sebenarnya. Semoga.