Monday, 2 December 2013

My Extraordinary Manager

Kerja bertahun tahun dan masih menjadi bawahan -memang ini sudah menjadi pilihan hidup saya (atau nasib?),  saya mengalami banyak moment bersama atasan saya. Bapak Manager. Berkali-kali berganti-ganti manager, saya jadi iseng ingin menuliskan sesuatu tentangnya. Menjelek-jelekkan? Oh, maaf kali ini anda salah. Saya memang bukan orang yang gampang memberi pujian (tapi gampang sekali mencela-seperti anda juga, kan? Hayo ngaku!). Namun, karena manager saya kali ini extraordinary alias tidak biasa, saya rasa saya perlu menulis sesuatu setidaknya sebagai bentuk apresiasi, bahwa kami staffnya senang dipimpin oleh manager sableng sepertinya. Bahwa kami, anak buahnya, lebih merasa diperlakukan sebagai teman daripada sebagai bawahan pada umumnya. Tailah.
***
Sejak FOM saya yang lama resign, kami sebagai Front Office team agak kelimpungan karena tidak memiliki “bapak”. Banyak masalah di operasional seperti banyaknya complain dari tamu yang kurang tertangani, masalah keuangan tamu seperti card verification credit card yang tidak terelease, credit card declined, dan masih banyak lagi. Tak hanya urusan opersional di Front Office sendiri, urusan lain yang menyangkut departemen lain seperti reservasi yang pembayarannya tidak jelas, banyaknya kamar yang out of order, sampai kamar yang kurang bersih, semua permasalahan sepertinya sengaja dilempar ke FO mentang-mentang kami sedang jadi anak yatim dan tidak memiliki ‘orang tua’ untuk mengadu.

Hampir sebulan berlalu sejak kepergian FOM lama, kami mendapati iklan lowongan kerja yang dipasang di mading kantin saat hendak makan siang. Lowongan FOM! Kami langsung jingkrak-jingkrak karena bakalan punya bapak lagi, namun tak lama euphoria kami luntur ketika membaca salah satu persyaratannya: “usia maksimal 28 tahun”. What? 28 Tahun? Ini posisi manager loh, bukan supervisor. Kami sih masih bisa terima jika persyaratan tersebut ditujukan untuk lowongan supervisor, tapi ini manager loh! usia 28 tahun bisa apa? Bisa nyalahin orang? Secara logika, kerja di hotel itu pengalaman menjadi snagat penting. Sebelum menjadi manager, minimal harus pernah menjadi supervisor, dan untuk menjadi supervisor, minimal harus sudah pernah menjadi team leader atau setaranya. Dan untuk menjadi team leader FO, tentu harus sudah pernah menjadi bagian dari FO team itu sendiri, bukan? Secara untuk menjadi receptionist saja, seorang staff harus bisa di Concierge dulu lah, atau jadi Guest relation terlebih dahulu. Dengan usia maksimal 28 tahun, berarti kalau misalnya meniti karir dari nol, harus naik ‘kelas’ setiap tahunnya? Kamipun nggerundel karena ternyata HRD kami mencari manager karbitan. Kami lebih suka memiliki manager yang sudah tuwir, jelek, botak, tapi dewasa dan bisa menjadi problem solver yang baik daripada memiliki manager yang masih muda, ganteng, tapi alay. Iya, alay.  

Tak lama, management akhirnya mendapatkan manager pengganti. Saya sih tak berharap banyak, hanya bisa berdoa mudah-mudahan meskipun manager kami ini masih muda belia (usianya ‘baru’ 27 tahun), tapi tidak sedang dalam masa puber yang emosinya labil. Karena nama aslinya tidak boleh dipublikasikan, sebut saja manager baru ini namanya “Pak manager”. Mulanya sih kami terlalu meremehkan lagi-lagi karena alasan usia, namun ternyata ketakutan kami yang berlebihan itu tidak beralasan sama sekali dan teori kami tidak terbukti. Bapak Manager kami bukanlah seorang manager biasa.

Berikut ini beberapa hal yang membuat kami ngecap bango sekaligus geleng-geleng kepala dengan bapak manager kami sekarang:

1.      Isengnya naudzubillah.
Kalau misalnya kami sedang sibuk handover pekerjaan, pak FOM ini biasanya langsung nimbrung. Kalau tiba-tiba ada telepon berdering, dia yang paling sigap mengangkat telepon. Wow, fast respon. Bukan FOM saya namanya kalau telepon itu langsung dia jawab. Yang ada, dia cepat-cepat angkat telepon dan horn langsung ditempelkan ke reception terdekat. Biasanya ke saya. Ya, saya. Lalu dia buru-buru ngacir kabur sebelum saya nyembur nyumpah-nyumpahin.

2.      Manggil gak jelas.
Yang ini sering sekali terjadi. Skenarionya, si bapak telepon ke extension saya. Kalau saya lagi handle tamu, maka bapak akan menyuruh saya handle tamu terlebih dahulu. Namun jika kedengarannya saya lagi santai…
Bapak: Anna, bisa ke ruangan saya sebentar? Ada yang penting yang mau saya tunjukin ke kamu.
Saya :  Baik Pak, saya segera kesana.
Begitu sampai di kantor si bapak… si Bapak ternyata sedang sibuk dengan layar komputernya. Begitu menyadari kehadiran saya, si bapak langsung memutar layar monitornya. Si bapak nunjukin seseorang yang lagi nyengir pakai kawat gigi yang suer nggak banget.
Bapak: Ann, lihat. Mirip banget sama kamu, ya? Hahaha…
Saya langsung senyum asem.
 “Bapak… manggil saya kesini cuman buat nunjukin itu doang?”
“Iya.” Jawabnya dengan muka innocent tanpa dosa. Sama sekali tanpa dosa.

3.      Eat, eat, and eat.
Bapak saya yang satu ini kalau sedang senggang, kerjanya makaaaan… mulu. Kami anak-anaknya sampai hapal. jangankan saat senggang, saat briefingpun, kami sedang sibuk over handle kerjaan dan beliau sibuk makan. Iya, makan. Kalau dia masuk bawa kantong kresek warna biru, artinya dia bawa gorengan, karena belinya di kaki lima. Kalau dia datang bawa kresek putih ada logo merah pasti isinya roti-rotian semacam sari roti dan saudara-saudaranya, karena dia belinya di Alfamart. Kalau Dia bawa kardus cokelat yang bentuknya pipih dan ditenteng sambil nyengir, artinya dia bawa Pizza. Kerennya, kalau beliau bawa-bawa makanan seperti itu, anak-anak pasti dipanggil semua ke ruangannya. Apa lagi, kalau bukan ngemil bareng. Hehehehe, jangan sirik sama boss saya, ya!
 Ini manager saya loh yang ngajarin potong kue pakai kunci kamar

4.      Narsis level dewa.
Si bapak manager yang satu ini selain narsis banget dan suka banget mamerin foto-fotonya di facebook, ternyata juga hobby banget nampang di wallpaper computer anak-anak reception. Bayangkan, si bapak foto pose paling ganteng, nyengir jumawa penuh charisma, lalu hasil fotonya dijadiin default wallpaper di seluruh computer yang dipakai anak-anak reception. Si bapak rupanya lupa kalau anak-anaknya kreatif dan pada jago dandan, alhasil foto si bapak yang keren abis itu dicoreng moreng diedit sedemikian rupa sehingga wajahnya berwarna-warni gak karuan dan.. dipajang dsebagai wallpaper! Sialnya, suatu ketika ada seorang tamu yang pinjam computer reception karena harus buru-buru ngeprint sesuatu, dibuat shock dengan wallpaper paling fenomenal itu…


5.      Best problem solver ever.
Jujur, saya gak pernah nemu manager yang tiap hari haha hihi macam bapak yang satu ini. Gak pernah marah dan selalu menyelesaikan masalah dengan santai. Ada tamu complain? Ada salah satu staff yang berantem? Boss besar alias pak GM marah karena ada something yang tidak proper? Semua ada jalan keluarnya. Itu prinsip bapak yang satu ini. Tak perlu diselesaikan dengan marah-marah karena marah-marah hanya akan menimbulkan masalah baru. Keren, bukan?

6.      Suka bagi-bagi pulsa.
Yang ini, tentu ada syaratnya. Kalau nama kami muncul di komentar bagus trip advisor, maka si bapak tak akan segan-segan kirim pulsa di akhir bulan setelah gajian. Nilainya memang tak banyak, namun, hadiah kecil semacam ini bagi kami merupakan sebuah penghargaan besar yang secara langsung maupun tidak langsung memotivasi untuk bekerja lebih baik. Jika pelayanan kami bagus, tamu akan senang, lalu nulis review bagus di situs trip advisor, image hotel menjadi bagus pula bukan? Bonus, budget buat beli pulsa bisa dipakai jajan karena dapat hadiah pulsa dari si bapak. Asyik, kan?

7.      Slengekan.
Yang ini sudah tentu. Bercanda-bercanda kalau anak-anak sedang senggang. Bergosip ria atau mendekati anak FB yang endingnya dapat Cappuccino gratisan. 

 See? Can you believe it?

8. CMIIW
Boss saya yang satu ini demen banget berinovasi. Hebatnya, inovasi barunya ini dikonsultasikan dulu kepada subordinatenya sebelum diterapkan. Ketika sedang membahas ide barunya, pak boss sih mukanya serius level kuntilanak beranak gitu sih, tapi endingnya dia bilang, "CMIIW!"
Saya dengan muka bingung, karena tidak tahu apa yang barusan dia bilang, otomatis saya bertanya, "Maaf, Pak. Barusan itu apa, ya? cemiw?" Wew, saya jadi geli sendiri.
"Iya, cemiw." katanya lagi.
"Correct Me If I am Wrong, CMIIW, kan?"
Ya oloh...

09. Maling Bulpen
Di kantor, saya tergolong yang paling sentimen dengan keberadaan bulpen. Saya pasti ngamuk kalau tiba-tiba bulpen saya menghilang secara misterius. Bulpen memang harganya tidak mahal sih, tapi akan sangat tidak nyaman kalau tiba-tiba bulpen hilang, kan? Bayangkan saja kalau saya tiba-tiba harus  handle tamu yang check in atau check out dan saya harus minta tanda tangan tamu dan bulpen saya gak ada! Saya bakalan langsung ngomel gak peduli dengan anak bell atau sesama anak reception  yang kebetulan in charge bareng saya. Saya asal nuduh saja gitu, gak peduli beneran mereka yang 'pinjam' atau orang lain. Nah, kalau ternyata manager saya yang ngembat?
"Pak, balikin bulpen saya!" . Dan seperti biasa, manager saya pasang muka innocent tanpa dosa, padahal itu bulpen jelas-jelas sedang dipakai sama beliau. Errrr...
Bukan, bukan manager saya namanya kalau beliau kapok ngembat bulpen saya meskipun itu bulpen murahan saya tagih terus-terusan. Karena cara biasa sudah saya hapal (saya memperhatikan gerak gerik beliau kalau sedang berada di sekitar meja saya), dan sering pula kepergok nyolong bulpen, beliaupun berinovasi degan cara lain.
"Ann, pinjam komputer kamu sebentar dong." Serius. Tumben, mukanya serius banget. Sayapun tahu diri langsung menggeser kursi dan angkat pantat.
Saya lihat si bapak mengutak atik sistem sebentar, lalu menoleh ke arah saya.
"Kamu pindah saja di komputer sebelah," Katanya.
Waduh. Mampus. Kalau si bapak cuma utak atik sistem sih gak apa-apa. Itu tadi masalahnya saya buka facebook di komputer dan saya belum sempat log out. Bukan takut diomelin, tapi takut dibajak.
Baru saja pantat saya nempel di kursi meja sebelah, si bapak sudah beranjak.
"Makasih ya. Anna baik deh." Katanya senyum-senyum. Mencurigakan.
Saya buru-buru menuju meja komputer saya. Facebook saya masih aman. blog saya juga aman. Tapi saya tetap merasa ada yang aneh. Tapi apa?
Saya lihat sekeliling dan menyadari sesuatu. bulpen saya kembali raib!

10. Kerja! Jangan browsing mulu!
Karena kondisi hotel lagisepi-sepinya (maklum, lagi low season broh!), bosan mengutak atik sistem, sayapun iseng ngutak atik handphone. Ketika buka facebook, saya mendapat notifikasi dari salah satu teman yang mengirimi saya gambar yang menurut saya bagus. Iseng, saya forward gambar tersebut ke boss saya, dan tak lama... notifikasi saya nambah satu karena ada tanggapan dari pak Boss.

Pak Boss komen, artinya pak Boss juga lagi... Upppsss! 

Meskipun slengekan kami tak pernah kehilangan respek terhadap beliau. Justru malah segan, karena beliau sudah sangat baik dan membuat suasana kerja selalu cair, nyaman, dan menyenangkan. Tentu kami akan merasa tak enak jika kami berbuat salah atau berbuat hal yang konyol. 
Saya jadi berfikir, jika manager saya menerapkan pola kememimpinan seperti itu tanpa harus kehilangan respek sebagai atasan, kenapa juga masih banyak boss di luaran sana yang otoriter? Percayalah, tindakan otoriter anda hanya membuat anda ditakuti, bukan disegani. Setuju?