Friday, 4 October 2013

Apalah Arti Sebuah Nama....



Beberapa orang sering menanyakan mengapa nama pena saya “Anna Swan”. Kalau ditanya demikian, saya ‘terpakasa’ akan menjelaskan sedikit mengenai asal usul nama itu dan alasan mengapa sampai sekarang saya menggunakan nama itu. Well, nama asli saya bukanlah Anna apalagi swan (yang dalam bahasa inggris konon katanya artinya angsa, bahkan kata beberapa teman saya yang laki-laki mengatakan bahwa swan itu merk kaos dalam pria, iiiihhhhh).  Nama Anna pertama kali muncul saat saya kuliah, semacam panggilan pembeda saking ‘pasaran’nya nama asli saya. Anna diambil dari nama belakang saya yang berakhiran Ana. This goes that simple!



Swan sendiri sebenarnya bukan dimaksudkan sebagai angsa atau merk pakaian dalam pria (oh No!). Swan disini artinya marga. Ya, marga Swan. Semacam family name gitu kalau di barat. Dapat nama itu sendiri, ada lagi ceritanya. Sekitar tahun 2008- 2009, waktu film Twilight premier pertama kali, saya adalah salah seorang fans gilanya. Saya bela – belain antre panjang dan bolos kerja demi mendapatkan tiketnya. Yang paling berkesan, saya nonton film ini bersama seorang sahabat terbaik saya. Teman saya ini lalu menyebut – nyebut nama saya dan nama Swan dan digandeng, sehingga jadilah nama Anna Swan seperti sekarang ini. Hehehehe… Lucunya, nama itu semakin hari semakin melekat dan saya jadikan nama koresponden tak hanya di private live saya di dunia maya, namun juga jadi nama resmi alamat email yang saya gunakan untuk melamar kerja!  Nama Anna Swan semakin sakti karena Anna Swan selalu identik dengan saya. Belakangan, Anna Swan dikenal sebagai hotelier, padahal di zaman dahulu, ada seorang Anna Swan yang merupakan penderita gigantis alias serang wanita berbadan raksasa. Wow!



Di dunia maya, bolehlah panggilan saya keren, Anna. Tapi di dunia kerja? Mmmm…

“Markonah, minggu depan kamu off hari selasa aja ya. Rabu gak bisa karena ada event.”

Kejam. Ini supervisor saya yang bilang demikian. Anda tidak salah baca, kok. Iya, saya dipanggil Markonah. Saya langsung berasa turun pasaran.

“Iya, mbok.”

Ini panggilang ‘sayang’ (atau balas dendam?) ke beliau. Mbok kalau di Jawa artinya ibu tapi seringnya diasumsikan sebagai mbok tukang pijat, mbok tukang jamu, dan sebagainya. Keren, bukan?



Lain Surabaya, lain di Bali…

“Anna maria... besok aku tukar schedule sama kamu, ya? Kamu aja yang pagi…”

Kali ini yang panggil si Netta. Pulang dari Dubai sepertinya dia terlalu banyak ketemu orang berbangsa Rusia. Untunglah saya belum dipanggil Anna Kazokovic. Taelah!



Di the Grand Beach…

“Nanti siang ada group besar dari Korea akan datang..” Pak Kadek, team leader guest service agent siang itu memberikan pengarahan untuk menangani Korean Group yang akan datang sebentar lagi.

“…Langsung saja arahkan ke lobby utama untuk penyambutan. Ririn, kamu yang bertugas mengalungkan bunga, ya. Lalu, langsung arahkan ke reception group di depan Ballroom 1…” Pak Kadek melirik ke arah saya dan menajamkan penglihatan ke nametag yang saya kenakan.

“Nanda, kamu yang nanti mengarahkan mereka ke Ballroom 1 ya..”

Iya, nama saya jadi Nanda. Insiden ini terjadi karena nametag nama Anna tidak tersedia di HRD, namun, karena menggunakan nametag hukumnya wajib, jadilah saya diberi nametag yang (kata orang HRDnya) mendekati nama saya. Nanda.

Janjinya sih seminggu saya akan mendapatkan nametag baru yang sesuai dengan panggilan saya, kenyataannya saya harus menunggu tiga bulan lamanya… Untungnya meskipun nametag saya atas nama Nanda, saya tetap dipanggil Anna oleh rekan-rekan saya. Thank you, guys…



Saya kira panggilan sesat itu hanya menimpa saya seorang, ternyata… di luar sana banyak juga yang medapatkan nama panggilan yang tak kalah kejam…

“Pak, sudah bikin store request?”

“Sudah aku submit kan, kemarin. Kamu tinggal ke store saja. Ambil barangnya.” Kata Front Office manager saya  sembari mengetik sesuatu di komputernya.

“Soalnya saya tidak tahu apa saja yang mau diambil, Pak. Bisa saya dapat kopiannya?”

“Kamu minta saja sama puput.” Dengan santainya beliau bicara.

Saya menajamkan pendengaran. Puput? Setahu saya orang store laki-laki semua.

“Puput itu siapa, Pak? Ada karyawan baru, gitu?”

“Puput.. si Putra…”

Jegerrr!!! Putra bisa jadi Puput! Saya hanya nyengir asem.

“Lalu, petty cash untuk bulan kemarin dipinjam dari uang housebank loh Pak. Saya minta tandatangannya bapak di sini supaya saya bisa reimburse*.” Saya menyerahkan secarik form reimbursement untuk ditandatangani.

“Oke. Kalau ada lagi yang minta petty cash kamu jangan kasih kecuali ada approve dari saya.”

“Lah, kan bulan lalu petty cash bapak sendiri yang minta! Gimana sih?”

“Oh, iya ya. Saya lupa.”

Taelah. Saya jadi pingin ngemut  bullpen saking gemesnya.

“Soalnya si Titi DJ suka susah ngasih duitnya…” Katanya lagi.

Kembali saya tajamkan pendengaran. Titi Dj? Jangan-jangan panggilan sesat lagi.

“Titi Dj siapa pak?”

“Itu… Sujati. Chief accounting.” Katanya dengan cuek.

Tuuuuhh… kan????!  





*reimburse : Penggantian kembali uang yang telah terpakai untuk keperluan tertentu.

1 comment:

Hannah Boss said...

Saya Ibu Hannah Boss, A pemberi pinjaman uang, saya meminjamkan uang kepada individu atau perusahaan yang ingin mendirikan sebuah bisnis yang menguntungkan, yang menjadi periode utang lama dan ingin membayar. Kami memberikan segala jenis pinjaman Anda dapat pernah memikirkan, Kami adalah ke kedua pinjaman pribadi dan Pemerintah, dengan tingkat suku bunga kredit yang terjangkau sangat. Hubungi kami sekarang dengan alamat email panas kami: (hannahbossloanfirm@gmail.com) Kebahagiaan Anda adalah perhatian kami.

Post a Comment