Wednesday, 23 October 2013

Loker

Salah satu fasilitas yang diberikan pihak hotel untuk karyawan hotel adalah loker room. Loker room sejatinya adalah sebuah ruangan istirahat yang terbagi menjadi beberapa bagian, umumnya ada shower room, toilet dan wastafel yang dilengkapi dengan kaca super besar, split room yang isinya bunk bed atau ranjang susun, dan ruang ibadah (di beberapa hotel ada juga mushola terpisah). Di the Grand beach, karena jumlah karyawannya ribuan, jumlah lokernya juga ribuan. Shower room berjejer sebanyak delapan buah, toiletnya sepuluh, dan wastafelnya sampai tiga baris. Staff the Grand Beach cukup beruntung mendapatkan satu loker untuk tiap karyawan, sedangkan kami yang trainee  harus cukup puas dengan sharing loker yang bisa dipakai hingga empat orang per loker! Loker berukuran 30 x 60 cm itu sendiri umumnya dipakai untuk menyimpan berbagai keperluan pribadi seperti tas, sepatu, dan peralatan make up. Saya lihat, beberapa staff bahkan menjejalkan berbagai macam benda di dalamnya seperti pakaian ganti berikut hangernya, bantal kecil, snack dan botol minuman, boneka, berbagai macam sepatu lengkap dengan dusnya, sampai satu kresek canang (bunga dan janur yang dipakai untuk berdoa bagi umat hindu) lengkap dengan dupa-nya. Penuh!
Kalau di tempat kerja yang sekarang dan di The Royal Surabaya dulu, yang bertanggung jawab terhadap kebersihan loker umumnya adalah Housekeeping bagian public area yang tugasnya merangkap membersihkan area koridor, loker dan back office. Namun di The Grand Beach, saking besar dan banyaknya karyawannya, sampai ada staff khusus yang tugasnya hanya membersihkan loker! Mulanya saya mikir, ini ibu-ibu enak bener ya cuma bersihin loker aja tugasnya? Soalnya saya kasihan dengan housekeeping bagian publik area yang bertugas di bagian outdoor, tugas mereka adalah membersihkan ‘pekarangan’ the Grand Beach yang berhektar-hektar sampai ke pantainya yang panjangnya ratusan meter itu. Ternyata, setiap hari saya melihat ibu penjaga loker itu mengeluh, dari banyaknya sampah yang berceceran, loker banjir, hingga lantai yang kotor karena rambut-rambut yang berjatuhan dan berbagai macam bekas sepatu campur aduk datang dan pergi seenaknya. Duh!
Di loker sendiri, yang biasa dilakukan biasanya ngobrol dan bergosip. Beberapa sibuk bertransaksi karena nyambi jualan. Sebenarnya berjualan di area hotel tidak diperkenankan oleh pihak management, tapi dasar tuntutan hidup yang tak pernah ada ujungnya, selalu saja ada cara untuk berkelit. Selain itu, peraturan diciptakan memang untuk dilanggar, bukan? Kalau saya iseng nyindir, “Lah, bukannya service charge sama gaji udah gede, Bu. Bapak kan juga kerja di hotel kan ya?”
Mengerti kemana arah pertanyaan saya, mereka langsung protes, “kamu enak, bukan orang Hindu. Gak perlu ikut macam-macam upacara. Kalau orang Hindu ya duitnya habis buat upacara, jegeg!” Lah, ibadahnya gak ikhlas dong?
Jenis jualan yang dijual juga bervariasi, dari yang jualan pulsa, boneka, makanan ringan, kain tenun Bali, pakaian, sepatu, sandal, aksesoris dan perhiasan, kosmetik, hingga kredit barang-barang elektronik dan alat dapur! Beberapa yang lain malah sibuk memprospek beberapa rekan lain untuk dijadikan downline karena ikutan MLM (Multi level marketing). Pasar Badung* pindah tempat rupanya!
Selain bergosip dan jualan, kegiatan yang biasa dilakukan di loker umumnya ya mandi di shower room, ganti baju, gosok gigi dan make up di wastafel yang selalu berakhir narsis; photo-photo dengan berbagai pose. Saya termasuk di dalamnya. Maklumlah, jamannya saya masih muda saya sempat jadi banci kamera juga. Hehehe…
Meskipun ramai bak pasar, ternyata ada loh beberapa karyawan yang memanfaatkan waktu istirahatnya dengan tidur siang. Mereka cuek saja menggelar trash bag (kresek besar untuk menampung sampah) di lantai, dan tidur. Beberapa orang malah ada yang punya bantal di lokernya dan selalu tidur siang pas istirahat. Di The Grand beach sih, saya tidak pernah tidur siang karena berisiknya ampun dan suasananya sudah mirip pasar, lalu tidak ada spit room dan tidak terbiasa tidur di lantai. Tapi di The Royal Surabaya, saya hampir selalu memanfaatkan split room untuk tidur, minimal setengah jam. Biasanya saya menyetel alarm lima menit sebelum jam istirahat saya habis. Tapi pernah sekali waktu, saking nyamannya split room, saya ketiduran dua jam! Alarm sih saya pasang, tapi pas alarm berdering dan masih ada waktu lima menit, saya cuek saja dan melanjutkan tidur, dan ternyata malah kebablasan dua jam! Sayapun kembali ke konter reception dan disambut dengan tatapan penuh tanya dari Citra, junior saya yang saat itu masih training. Aduh, maaf ya dek, saya memang bukan senior yang baik…

*Pasar Badung : Pasar besar di daerah Denpasar

Saturday, 12 October 2013

Bli Bagus

Bicara mengenai staff hotel, rasanya saya perlu cerita sedikit tentang salah satu teman kerja saya yang menurut saya istimewa, namanya Bagus. Bli bagus memang belum lama bekerja di bidang perhotelan. Lulus dari sekolah tinggi bidang kesehatan, bli bagus langsung terjun di dunia perhotelan sejak dua tahun terakhir. Iya, bli bagus korban salah jurusan. Di hotel tempat kami bekerja, bagus seorang bellman.

Saya mengenal Bagus sejak kami sama-sama direkrut menjadi pre-opening team, sekitar enam bulan yang lalu. Dulu saya mengira, Bagus seorang yang pendiam dan tertutup karena jarang bicara dan selalu terlihat sibuk dengan dirinya sendiri. Setelah mengenal lebih dekat, saya sedikit demi sedikit tau betapa istimewanya dia. Pertama kali saya menyadarinya adalah, saat kami bersama-sama istirahat makan siang selepas training hotel system, sekitar sebulan sebelum hotel kami resmi dibuka untuk umum. Saat itu, makan siang masih disediakan di dalam kotak makan yang dipesankan dari catering. Selain nasi dan lauk pauk dan sayur, kami juga mendapatkan dessert berupa buah atau kue, air mineral, dan kerupuk. Sialnya, tiga hari berturut-turut, ketika mengambil box makan siang, saya selalu mendapati tray dessert dan tempat kerupuk sudah kosong. Orang catering yang ditanyapun selalu menjawab, “kami menyediakan sesuai dengan jumlah box, kalau ada yang tidak kebagian, itu karena yang makan duluan mengambil  lebih dari jatahnya.”

Hari keempat, saya dan beberapa teman termasuk bli bagus datang ke kantin yang baru saja buka. Beberapa teman langsung mengambil dessert, dan benar saja, mereka mengambil lebih dari jatah yang seharusnya. Sayapun tergiur untuk ikut-ikutan, anggap saja balas dendam karena tiga hari berturut-turut saya tidak pernah kebagian. Sayapun mawarkan diri untuk mengambilkan sekalian jatah bagus, yang kebetulan duduk semeja dengan saya.
“Aku ambilin sekalian ya bli. Mau berapa?”
Bli bagus yang sedang sibuk dengan ayam gorengnya mendongak sebentar ke arah saya.
“Satu saja, mbak. Jangan ambil banyak-banyak. Kasihan, nanti yang lain gak dapat.” Katanya santai sembari menggigit ayam gorengnya.
Saya terhenyak. Seperti ditampar. Sebagai teman, memang seharusnya saling berbagi. Bukannya menjadi egois dan memikirkan diri sendiri. Ini pelajaran pertama yang diajarkan bli bagus secara tidak langsung, kepada saya.

Belakangan saya menyadari, dibandingkan (tanpa bermaksud membandingkan dalam arti yang sebenarnya) dengan teman bell yang lain, bli Bagus menurut saya yang paling rajin. Datang tak pernah telat, pulangnya seringan paling belakang, karena dia belum mau pulang kalau hand over belum benar-benar selesai. Bell yang lain saya lihat, mereka akan kabur dengan berbagai alasan kalau jam kerja berakhir, kadang-kadang tanpa pamit sama sekali dengan shift yang datang selanjutnya. Bli Bagus yang paling mengalah kalau jadwalnya ditukar-tukar dengan bell yang lain, meskipun konsekuensinya bakalan jumping shift. Tak hanya sekali saya lihat dia double shift karena harus incharge menggantikan salah seorang bell yang kebetulan sakit. Di kegiatan operasional, bli Bagus yang paling rajin mengingatkan arrangement transport dan selalu menyiapkan ini itu tanpa diminta.

Tiga bulan berlalu sejak hari pertama kami bekerja bersama-sama sebagai team, bulan ketiga service charge yang kami dapatkan rupanya tidak sebagus bulan pertama dan kedua. Mulailah saya mengeluh, “Yaaaah.. service charge-nya segini doang ya bulan ini…”
“Disyukuri mbak…” bli Bagus menyahut sambil tersenyum.
“Padahal hotel rame loh.. ternyata banyak yang dapat compliment nih, jadinya revenue sedikit dan service charge juga jadi sedikit padahal occupancy lumayan,” saya masih menggerutu.
“Masih mending kan mbak, dapat service charge. Saya enggak,” katanya santai sambil masih tetap senyum-senyum. Saya melongo tak percaya.
Saya baru tahu kalau ternyata bli Bagus hanyalah seorang daily worker. Yah, ternyata selama ini dia daily worker. Pekerja hotel yang dibayar lepas per hari tanpa mendapatkan tunjangan apapun. Mulanya saya pikir, dia menjadi staff tetap seperti kami dan mendapatkan fasilitas yang sama seperti yang kami dapatkan. Meskipun menjadi daily worker, bli Bagus tetap bekerja sangat baik. Saya jarang mendengar dia mengeluh, apalagi mengeluhkan tentang gaji kami yang timpang, berbanding 1:4 dengan porsi pekerjaan yang sama berat. Untuk kali kedua, saya merasa ditampar, bli Bagus lagi-lagi memberikan pelajaran. Selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki, karena bisa jadi orang lain tidak seberuntung kita. Saya jadi merasa sangat malu…

Sayang sekali, meski di mata kami semua bli Bagus menjadi bell idola, namun ternyata management malah memandangnya sebelah mata. Management kurang memberikan kepercayaan kepada bli Bagus untuk dipromosikan menjadi staff regular seperti kami. Buktinya, ketika di team kami membutuhkan orang tambahan, management malah lebih suka merekrut orang baru daripada merekrut bli Bagus, yang belum tentu memiliki dedikasi dan loyalitas seperti bli Bagus. Kami semua kecewa.

Kamipun mencoba berbagai cara supaya bli Bagus mendapatkan promosi karena memang kami semua menganggap dia layak, mulai menghadap langsung ke HRD, hingga merayu night manager supaya memasukkan topic tentang promosi untuk bagus di morning briefing kepada GM. Sayangnya posisi FOM saat itu sedang kosong sehingga kami tidak memiliki atasan langsung yang bisa menyampaikan aspirasi kami. Hasilnya? Seperti biasa. Aspirasi kami kurang didengar. Janji promosi untuk Bagus tinggallah janji yang tidak jelas kapan bisa terealisasi.

Bulan Agustus sepertinya membawa berkah tak hanya bagi umat muslim yang merayakan hari raya Idul fitri, namun juga bagi kami para pekerja hotel. Hampir sebulan penuh, occupancy hotel selalu penuh sehingga service charge di akhir bulan menjadi banyak. Ketika menerima payroll akhir bulan dari night manager, kebetulan kami iseng-iseng membicarakan masalah promosi Bagus. Dan entah siapa yang memulai, kami merencanakan kejutan kecil untuk Bagus.
Siang itu di bulan September, saya dan Deta, salah seorang bell brondong yang berbody ABRI hati Barbie, mengajak bli Bagus untuk rapat bertiga di Concierge store. Dasar lugu, Deta langsung saja memulai ‘acara’ tanpa aba-aba.
“Bli Gus, ini dari FO team..” langsung saja brondong Barbie ini mengulurkan selembar amplop putih.
Bli Bagus tentu saja terkejut dan reflek bertanya, “ ini apa? Maksud kalian apa?”
“Service charge bulan ini bagus, bli. Jadi, ya, sebagai team, kami semua ingin berbagi sedikit dengan bli Bagus. Ini semua dari teman-teman. Ikhlas. Jangan dilihat dari nominalnya, mungkin tak seberapa. Lihat dari niatnya, ya?” Deta menjelaskan panjang lebar. Mungkin ada semenit kami hanya berpandang-pandangan sampai akhirnya bli Bagus buka suara.
“Makasih ya teman-teman. Saya tidak menyangka kalian sebegitu perhatiannya sama saya.” Bli Bagus berkaca-kaca.
Mulanya saya yang seharusnya mewakili team untuk menyampaikan itu semua ke Bagus. Tapi dasar cengeng, saya tidak bisa. Untungnya ada Deta. Saya segera berbalik dari suasana penuh haru itu. Tak bisa lama-lama melihat mata yang berkaca-kaca itu.
***
“Pagi Babeh…” saya menyapa Pak Medi, night manager saya yang super sabar, seperti bapak sendiri sehingga saya memanggil beliau babe, meskipun Pak Medi bukan orang betawi.
Babeh terlihat serius memandangi layar handphonennya. Lalu bergumam sedikit, “buruk Ann. Seminggu lagi semua daily worker dirumahkan*.”
Tenggorokan saya tiba-tiba tercekat. Seperti tak percaya.Mentang-mentang posisi FOM sedang kosong, masa sih tidak ada yang bisa memperjuangkan? Pak Medi memang night manager, namun beliau tidak memiliki kewenangan apapun dalam hal ini.
“Memangnya sudah pasti, beh? Apa buktinya? Kenapa?” saya masih tidak terima. Berharap ini hanya isu belaka.
“Kamu buka email saja Ann, tanggal kemarin. Ada attachment minute meeting. Semuanya ada di situ.” Babe mengintruksikan saya untuk menggunakan komputer reservasi yang lokasinya bersebelahan dengan meja night manager.  Sepagi itu, orang reservasi belum ada yang datang.
Seperti dihantam badai, saya harus percaya berita itu benar.
“Beh, tolong jangan bilang Bagus dulu, ya? Coba nanti siang aku sama mbak Melin ngomong ke orang HRD, mungkin ada jalan lain.”
Babe mengangguk.

Siang itu…
Mbak Melin yang baru datang langsung menyapa saya dengan berseri-seri. Hari ini dia telat 5 menit. Tumben, ‘sedikit’ on time.
“Mbak Anna…” sapanya.
Namun hari ini saya tak sedang ingin membahas mengenai keterlambatannya. Tanpa basa basi, saya langsung menarik tangannya menuju kantor FOM yang kosong.
“Mbak, Bagus mau dirumahkan.”
“Hah???!!! Lha kok iso to yo?” Ekspresi kagetnya membuat logat Jawanya keluar. Come on mbak Melin, ini bukan saatnya bercanda.
“ Ada emailnya tentang hasil minute meeting kemarin. Banyak Daily worker yang harus dirumahkan.”
“Tapi ya jangan Bagus toh yo! Kalau Bagus dirumahkan, bell kurang orang! Nanti kalau ada salah satu bell yang libur siapa yang mau jadi bell?”
Saya menggeleng. Tiba-tiba pintu kantor FOM terbuka perlahan. Bli Bagus rupanya.
“Mbak… kok pada rapat sendiri disini? Saya gak diajak?” katanya seperti tak ada apa-apa. Padahal saya tahu, Bagus juga pastinya sudah membaca hasil minute meeting sialan itu.
“Ada apa Gus?” Mbak Melin juga berusaha bersikap sewajar mungkin. Tapi dalam hati, entahlah.
“Saya minta mbak revisi schedule bell untuk minggu depan, sekalian minta tanda tangan form ini…” katanya seraya menyerahkan form pemberhentian kerja. Saya mulai muak.
“ Enggak, Gus. Aku gak mau revisi schedule. Aku gak mau tandatangan ini.” Mbak Melin merampas form itudari tangan Bagus dan beranjak dari tempat duduknya.
“Aku mau ngomong dulu ke HR, mungkin ada jalan lain.” Mbak Melin mengisyaratkan saya untuk ikut. Kamipun beranjak ke ruang HRD, meninggalkan Bagus sendiri di ruang FOM dengan wajah sedih. Saya segera bergegas. Tak sanggup melihat wajah itu…
***
“Jadi kenapa Bagus, Pak?” suasana di ruang HRD sudah panas bahkan sebelum kami masuk tadi. Kami sudah lama memperjuangkan Bagus untuk bisa dipromosikan menjadi staff regular seperti kami selama enam bulan tanpa kepastian. Sekarang management mengadakan pengurangan daily worker dan Bagus termasuk di dalamnya, tentu keputusan itu amat menyakitkan.
“Maaf, Bu Melin, Bu Anna. Tidak hanya pak Bagus. Kami juga ada pengurangan di semua departemen, tidak hanya front office. Dan ini sudah menjadi keputusan managemen, atas intruksi dari General manager, kami sebagai HRD hanya menjalankan apa yang sudah diintruksikan.” ini penjelasan dari orang HRD. Saya semakin muak.
Percuma berdebat. Jalan lainpun tidak ada. Hanya berharap semoga dalam waktu dekat ada lowongan untuk bell yang berstatus staff regular dan kami akan mengajukan Bagus kembali.
Saya pulang masih dengan hati yang hancur. Bukan, saya tidak memiliki ikatan emosi apapun dengan Bagus. Saya hanya melihat Bagus sebagai rekan yang baik dan memang sangat layak untuk diperjuangkan. Sayang, ternyata management kurang bisa ‘melihat’ kinerja bli Bagus. Itu yang membuat saya sangat tidak bisa menerima keputusan tak adil yang mendadak itu. Saya pernah ada di posisi Bagus. Saya masih ingat rasanya. Masih terlalu ingat bagaimana sakitnya. Dan saya tidak mau, hal yang sama terulang di rekan saya.
Tiba-tiba handphone saya bergetar. Ada pesan masuk. Dari Bli Bagus. Ah, saya tidak mau membukanya. Saya betul-betul tak tega. Tapi, sebagai teman yang baik, saya juga tak ingin mengacuhkannya. Saya takut, dia malah berfikiran buruk.





Saya terenyuh. Rasa kesal itu perlahan menghilang, lalu berganti ikhlas. Saya merasa malu. Seperti tertampar, untuk ketiga kalinya. Bli Bagus ternyata punya hati yang besar. Saya sebagai sahabat seharusnya membesarkan hatinya, bukannya dia yang membesarkan hati kami. Mungkin saat ini, kami harus mengikhlaskan Bagus. Tapi saya yakin, Tuhan punya skenario lain yang lebih indah dari yang kami semua harapkan.

Mudah-mudahan.

Thursday, 10 October 2013

Log Book Konyol

     Di tempat kerja, sebagai sarana untuk hand over tugas-tugas yang masih pending atau membutuhkan follow up lebih lanjut, selain mengadakan over handling briefing, kami juga menuliskannya di log book. Log book itu sendiri fisiknya ya buku tulis besar biasa, kadang-kadang diberi kolom untuk memudahkan kami mencatat sesuatu. Hal-hal yang dicatat bisa bervariasi, bisa merupakan informasi yang perlu diketahui oleh semua shift, kejadian penting yang membutuhkan follow up lebih lanjut, complain dari tamu, hingga keluhan-keluhan pribadi yang terkait dengan kegiatan operasional. Karena sifatnya dipakai untuk bersama-sama, dalam satu team, tiap personil memiliki gaya tulisan dan gaya bahasa masing-masing  yang yang kadang-kadang terlihat konyol. Pagi ini, ketika saya sedang over handle tugas dengan salah satu rekan, saya dibuat ngakak dengan salah satu tulisan yang ada di dalamnya. Saya jadi9 teringat dengan beberapa tulisan lama yang juga membuat saya sempat tergelak. Finally, saya bukannya sibuk over handle dengan team, malahan ngikik sendiri membolak balik halaman log book lama dan mengabadikan beberapa tulisan aneh itu.
1. Drama abis



Mr. Marc Schnell (repeater) complaint coz of semut di dalam kamr. Dia very-very upset, dia adalah repeater n love to stay in our hotel…
Ini Tulisan Sonny. Udah campur aduk, gak jelas mana English mana bahasa Indonesia, masih diperparah lagi dengan ‘bentuk’ tulisannya yang mirip cakar ayam nyaris tak terbaca. Bumbu lebaynya yang “very-very upset” itu, makin membuat orang yang membaca langsung tepuk jidat. Drama abis!

2.      Lebay


Yang ini tulisan salah satu rekan yang tak mau disebut namanya. Ceritanya, team FO mendapatkan free pass untuk tour ke Nusa Lembongan dengan kapal mewah yang charge-nya ratusan dolar per orang. Karena jatah hanya enam orang sedangkan kami berdua belas, supaya adil, kamipun mengundinya. Proses pengundian berlangsung adil sih, tapi rasanya terlalu lebay kalau harus membawa ‘saksi hidup’ segala. Ya gak?

3.      Oh No!


 Tak perlu saya jelaskan. Saya tiba-tiba mules baca tulisan ini.

4.      Bahasa Bencong


Ini saya kasih bocoran kosakata lain yang sering kami pakai gara-gara ketularan virus bencong:
-          Lambreta : lambat
-          Kesindang : kesini
-          Maharani : mahal
-          Pelita : pelit
-          Metong : mati

Nb: Don’t try this at home. Dikejar satpol PP tidak ditanggung!

5.      Dendam pribadi


Ini tulisan Erik, salah satu rekan saya yang paling suka complain kalau ada prasarana yang tidak menunjang. Maklum, orang accounting apalagi yang di bagian store itu suka ribet. Printer mati karena tintanya abispun mereka gak bakalan mau kasih baru kalau store request belum dibuat. Pengakuan Erik, dia udah ngemis-ngemis tetep gak dikasih. Kasihan…

6.      Bahasa Planet Pluto


Terjemahan: Laptop dua-duanya tidak bisa dipakai, gimana nih..?

Bagi yang mengerti bahasa Jawa, tentu tak ada masalah. Masalahnya di team kami ada tiga orang Sunda, tiga orang Jawa, lima orang Bali, satu orang Padang, dan satu orang Jakarta. Kalau saya, Sonny, dan supervisor saya yang orang Jawa dengan renyahnya ngobrol memakai bahasa daerah, rekan-rekan yang lain mengeluh tidak bisa membaca subtitle bahasa planet Pluto. Mmm..

Dan ini yang bikin saya sukses guling-guling saking gemesnya…

Housebank used IDR 1.700.000 by Mr. XXX (General Manager) last night as he had a stomatch problem (cepirit). As per P. Medi using that money to pay doctor and medicine. ASAP to make it liquid…

Belum juga kram perut saya hilang gara-gara cepirit itu, di baris terakhir tertulis, “ASAP to make it liquid”, meskipun kami mngerti terjemahan bebas dari bahasa Indonesia yang diinggriskan secara ngasal ini (maksudnya supaya kami segera mereimburse uangnya ke accounting), liquid itu artinya memang cairan tapi to make it liquid? Maksud loh????!!!

Sunday, 6 October 2013

Bule No English

Sepanjang pengalaman kerja saya di hotel di Bali, saya beranggapan bahwa turis asal Rusia adalah turis muka bule yang paling tidak bisa berbahasa Inggris.

Ternyata eh ternyata, seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan bule-bule lain yang ngakunya dari negara terkenal di Eropa tapi sama sekali gak ngerti bahasa Inggris. Saya sampai nganga tidak percaya, melihat passport mereka yang sedang saya pegang sehabis difotokopi. Dulunya sih, saya mengira orang Eropa itu kesemuanya berbahasa Inggris meskipun bahasa Inggris bukan merupakan bahasa nasional. Saya ada teman dari Perancis yang bahasa inggrisnya tidak begitu lancar. But at least, bisa bahasa Inggris, kan? Kalau pernah nonton film Habibie & Ainun, perhatikan saja percakapan antara Habibie dengan orang-orang Jerman. Orang Jerman lebih suka memakai bahasanya sendiri ketimbang memakai bahasa Inggris. Salah satu tamu saya yang dari Jerman juga bisa berbahasa Inggris meskipun aksennya sedikit aneh. Salah satu rekan saya punya pacar dari Swedia dan bahasa inggrisnya juga patah-patah. *Ini ngomongin bahasa atau ngomongin goyang dangdut, sih?

Kalau orang Rusia sih, saya sudah mulai maklum. Kalau dilihat dari sejarah pada saat dunia masih suka perang, long..long time ago, Rusia itu musuhan sama Amerika. Paham yang dianutpun berbeda. Amerika negara Liberal sedangkan Rusia komunis. -Salah satu ciri negara komunis ya, nasionalis sekali. Termasuk bahasa. Saya dengar, bahasa Rusia adalah salah satu bahasa tertua di dunia yang juga merupakan salah satu yang paling sulit dipelajari-. Mungkin karena itu, mereka tidak mau mengenal (atau mungkin tidak diperbolehkan?) mempelajari bahasa Inggris, yang notabene musuh berat mereka. Pssstt.. jangan menjadikan ini sebagai acuan karena ini hanya pendapat saya pribadi dan tidak ada hubungannya dengan pelajaran sejarah. *)Kalau ada yang tahu mengenai alasan yang lebih jelas, boleh juga share di sini.

Nah nah nah, balik lagi ke topik semula. Jadi ini tadi ceritanya ada dua orang tamu warga negara Perancis yang walk in, alias check in tanpa reservasi. Mulanya karena mukanya bule, saya cuek nerangin hotel facilities panjang lebar dengan bahasa Inggris, mulai dari restaurant yang kami punya, bar, night club dan swimming pool lengkap dengan jam buka tutupnya sekaligus promosi happy hour, fasilitas yang ada di kamar, library, gym, sampai internet access. Sampai si bule mukanya berubah bingung dan bilang,
“Sorry I don’t understand.”
Lah? berarti percuma dong dari tadi saya ngomong ampe berbusa?
“Which one that you didn’t understand, Sir?”
Si bule mulai geleng-geleng.
“Sorry No English. I am France.”
Mampus. Ini orang beneran gak bisa ngomong Inggris. Lah saya blas gak bisa bahasa Perancis. Gimana dong?
Saya bingung mau ngomong apaan, sementara mereka berdua lagi diskusi, tentu dengan bahasa Perancis yang saya tidak mudeng sama sekali. Tiba-tiba si bule cowok ngambil tas kecil dan cuek membukanya di atas konter saya dan… bergepok-gepok seratus ribuan rupiah meluncur begitu saja di atas konter.
“Pay? Pay?” katanya.
Lah? bikin reservasinya aja belum kok udah pay? Sebelum terjadi pendarahan otak, sayapun berinisiatif untuk mengklarifikasi booking status terlebih dahulu.
“Stay one night only?” Udah, gak ngurusin grammar. Ngomong ngawur gini aja entah dia ngerti entah enggak, kok.
Hah? Noooo..” Katanya. Nah lo? Saya bilang juga apa!
“Ok, today is 16,” Saya ngambil kalender dan ngasih lingkaran gede.
You check in 16, check out tomorrow, 17. Ok?”Saya ngambil stabillo ijo terang untuk menggambar lingkaran di kalender. Mudah-mudahan dia ngerti.
“Noooo… check in one six, check out  two six.” Katanya sambil merebut stabillo saya dan melingkari sendiri tanggal di kalender itu.
“So, you stay 10 nights?” Saya terbelalak sambil kesepuluh jari saya terangkat di udara, memastikan si bule benar-benar mau tinggal sepuluh hari. Jarang banget ada tamu yang walk in dan langsung long stay. Saya jadi ragu-ragu. Bukan saya meremehkan, hanya takut ada kesalahpahaman nantinya. Karena kendala bahasa yang kurang dimengerti oleh masing-masing pihak.
Si bule menghitung-hitung pakai bahasa Perancis, membuka satu persatu jari-jarinya. Mirip murid taman kanak-kanak yang sedang belajar berhitung. Lalu bengong sebentar. Diskusi sama istrinya. Bengong lagi. Saya jadi mengantuk, tiba-tiba ingin menguap.
“Yes yes yes, ten day!” katanya mengagetkan saya yang baru saja mau menguap. Duh, ngagetin aja!
“Pay how much?” tanyanya.
Kalau yang begini saya udah biasa handle. Tak usah bingung-bingung gimana ngomongnya. Pakai ilmu yang saya dapat dari pedagang pasar malam di Thailand. Pakai kalkulator!
Sayapun mengetik angka 200 di kalkulator dan saya tunjukkan ke dia.
“two zero zero dolar.”
“Oh… two ou ou.” Dia bengong sejenak. Mau dua nol kek, mau dua o kek, gak masalah. Yang penting deal!
“Rupiah?” tanyanya lagi. Sayapun dengan sigap mengalikan 200 dengan bookkeeping rate* saat itu. Totalnya jadi dua juta rupiah, untuk rate per malam saat itu.
“OK!” katanya setengah teriak, kembali ngagetin saya.
“Ok, so ten days is 20 milion ya?” Sekali lagi, make sure kalo si bule mengerti bahwa dua puluh dolar itu harga per kamar. Eh, dia bengong lagi. Sayapun kembali pakai jurus pedagang Thailand. Mengalikan angka  di kalkulator dengan 10.
“Ten days.” Saya meyakinkan kembali.
“Oh yes. Ok.” Katanya. Tuh kan, jurusnya ampuh juga ternyata.
Tanpa banyak bicara, si bule ngeluarin lagi bergepok-gepok duit ratusan ribu dari dalam tasnya. Buset, itu beneran duit! Lalu menghitungnya satu per satu. Dipisah-pisahin duitnya masing-masing per sepuluh lembar dan dengan cueknya digelar begitu saja di atas konter. Gila, ini duit man, bukan jemuran!
Proses pembayaran selesai. Saatnya mengantarkan tamu ini ke kamar. Sayapun kikuk sendiri membayangkan betapa susahnya menerangkan ke mereka tentang fasilitas hotel yang (menurut standart) memang harus diterangkan satu persatu. Ah.. tiba-tiba saya ada ide. Saya bawa tamu ini keliling hotel. Pertama, saya ke restoran terdekat.
“This is restaurant for breakfast. Open 6 to 11.” Saya memberi kode dengan jemari tangan.
Si bule mengangguk-angguk. Mengerti? Entahlah.
Saya bawa ke bar dan swimming pool masih dengan kode yang sama dan so far baik-baik saja.
Sampai di kamar, belum juga saya mempersilahkan mereka masuk, si bule sudah masuk duluan.
“Ok, thank you, thank you.” Katanya.
Saya bengong. Ini tamu aneh banget. Pertama, mereka main masuk saja padahal saya belum sempat memepersilahkan. Kedua, kuncinya masih ada di saya. Kunci itu fungsinya selain sebagai pembuka pintu kamar, juga harus dimasukkan ke dalam slot electricity untuk menghidupkan seluruh listrik di ruangan itu. Mau saya ketok pintunya, saya kok merasa tidak enak. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, dan si bule Perancis langsung merepet panjang.
“ %$&%^%&()*^%$@#@  bla.. bla.. bla..” sembari telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk lubang AC.
Saya masih bengong.
“…%^&#%@^& bla.. bla.. bla… “ sambil telunjuknya menunjuk lampu dan TV.
Saya nyengir. Ini bule palingan dia mau bilang kalau AC, TV dan lampunya gak nyala. Ya iyalah, orang kunci juga masih saya pegang!
Saya lalu memasukkan kunci pintu ke slot listrik. Klek. Byar!!! Lampu, AC, dan TV otomatis menyala semua.
“Ah.. good..good.. good.. Thank you, thank you.” Katanya girang.

Saya tepuk jidat. Ah, tamu yang aneh...