Thursday, 5 September 2013

Language Trouble



Sore kemarin ketika saya sedang ngobrol dengan seorang teman bule, saya dibuat tertawa sampai guling-guling saking sotoy-nya si Bule. Ngakunya sih sudah lama di Indonesia tapi bahasa Indonesianya…alamak mending gak usah ditanya. Kacau!
Do you know why I like Jakarta?” Tanyanya suatu hari, saat kami dalam perjalanan ke Kemang.
Saya menggeleng. “Why?”
“Shopping mall is everywhere. Cheap taxi. Cheap foods. Cheap bla.. bla.. bla…”
Ini nih, yang paling bikin ngiri. Enaknya jadi bule yang terbiasa hidup di negara yang cost of livingnya tinggi sehingga kalo main ke Indonesia mesti bilang everything is cheap!
Dia lanjut lagi. “Girls are pretty and many boys gantung!”
Waks? Gantung? Apanya yang digantung, coba?
“What? Gantung?”
“Yes, gantung. Handsome.” Katanya lagi dengan muka innocent.
Ganteng dibilang gantung. Orang digantung ya mati! Ganteng dengan gantung itu jauuuuuhhh jendral!!!
Sopir taxi yang sedari tadi hanya senyum-senyum asem mendengar pembicaraan kami, tiba-tiba buka suara.
“Lampu merah ini belok kanan, neng?”
Oh.. sepertinya si abang taxi ini orang betawi. Belum juga saya menjawab, si bule sebelah yang nyautin.
“Turuuus pak.”
Supir taxi ngakak. Saya bengong. Ini bule sepertinya dulu berprofesi sebagai juru hitung pemilu di negaranya.

Saya kira perbendaharaan kata berbahasa Indonesia si bule aneh ini hanya ‘kepleset’ saat dia ngomong saja. Ternyata, kamus yang dia jadikan sebagai peganganpun kadang-kadang membuat kesalahan fatal dalam menerjemahkan arti suatu kata.
Jadi ceritanya saya lagi chatting sama dia via whatsapp. Entah apa yang jadi topik, saya ngomong pakai bahasa Indonesia dan menyelipkan kata “pura-pura”. Eh, rupanya si bule gak ngerti apa itu pura-pura sehingga dia buka kamus dan langsung balas,
“Pura-pura is demo.”
Lah? Pura-pura sama dengan demo?
Saya jadi curiga jangan-jangan dia bukannya buka kamus, tapi malah buku politik. Duuuh…


 Lain teman saya, lain tamu saya. Kalau biasanya saya mendengar bahasa Inggris yang dibahasa Indonesiakan, kali ini sebaliknya. Bahasa Indonesia yang dibahasa Inggriskan.
I sometimes can’t understand Asian culture.” Kata seorang tamu bule membuka percakapan basa- basi sehabis proses check in selesai. Kebetulan, sore itu memang sedang sepi sehingga bisa dengan leluasa ngobrol panjang.
“What’s wrong, Mr. James.” Iseng saya menanggapi kalimatnya barusan.
“In Thailand I found people sell deep fried cockroach as a snack in the market.”
“Ya, I have ever heard about that, too.”
Katanya sih memang ada di pasar tradisional. Entahlah. Malang sekali si bule ini, jauh-jauh ke Thailand dan ketemu kecoak goreng dijual orang di pasar buat cemilan. Hiyaaakkkss!
“And now in Indonesia people sell cat to be eaten with rice.”
Loh loh loh? Ini bule habis traveling dari mana ya, sampai nemu kucing dijual orang untuk dimakan pakai nasi? Saya pernah dengar sih ada orang jual daging anjing, tapi kucing? Ah, pasti ada yang salah.
“May I know where is it?”
Si Bule menghela nafas sedih. “Jogjakarta. I went there four days ago before I went Surabaya and now Bali.”
Baru saja saya mau ngomong menjelaskan, si bule udah nyamber duluan.
“They  named it Nasi Kucing. Nasi is rice while kucing is cat, right?”
Errrr… namanya sih boleh nasi kucing, tapi bukan berarti isinya nasi sama daging kucing! Kalau  menerjemahkan langsung berdasarkan kamus ya begini nih hasilnya. Gebleg!
Sebelum image negara tercoreng dengan statement “orang Indonesia ternyata makan kucing” sayapun meluruskan pemahaman yang salah ini.
“ The name is Nasi kucing is because the portion is very small like a cat’s meal and doesn’t mean we eat cats .” Saya mencoba mengklarifikasi.
Si bule tambah bingung. “Cat’s meal? Are you kidding? Cat is carnivore and they don’t eat rice.”
Hahahahaha. Lupa ding. Kucing di luar negeri gak makan nasi. Makan pizza kaleee… Ampun deh!


Wednesday, 4 September 2013

Gaji kerja di hotel



Setiap kali saya membuka akun google analytic untuk mencari tahu keyword apa yang paling banyak mengunjungi blog saya, rata-rata sebenarnya ingin tahu seperti apa kerja di hotel, enak dan tidak enaknya, serta berapa gajinya.
Ngomongin gaji? Kenapa tidak?
Kalau anda adalah seseorang yang baru mulai berpikir untuk masuk ke dunia hotel, ada baiknya lebih dulu tahu berapa sih yang kira-kira akan anda hasilkan jika anda bekerja di hotel (yang saya maksud ini pegawai regular dan bukan daily worker. Ulasan mengenai daily worker, bisa dibaca disini)
Pada dasarnya, seperti yang sudah pernah saya singgung di artikel enak dan gak enaknya kerja di hotel, gaji orang hotel terdiri dari tiga sumber utama, yaitu gaji pokok, service charge, dan tip. Mari kupas satu persatu.
1.      Gaji pokok
Untuk gaji pokok besarannya bervariasi, sangat tergantung dengan posisi, bagian, dan kebijakan manajemen. Gaji pokok paling besar setahu saya di bagian kitchen section, seperti cook dan antek-anteknya. Di bawahnya biasanya golongan Sales, lalu Finance dan front office, kemudian disusul Food and beverage service, Engineering, dan housekeeping. Besarannya? Tergantung kebijakan management. Ada yang menetapkan sesuai standart UMK (upah minimum kabupaten), namun ada pula yang lebih besar dari UMK. Ada hotel yang memberlakukan gaji pokok sama untuk setiap level karyawannya, ada pula yang bisa nego, staff yang berpengalaman mendapatkan gaji pokok lebih baik daripada  yang belum berpengalaman, meskipun dengan level yang sama. Selain gaji pokok, tunjangan seperti transport dan tunjangan pension sengaja saya tidak masukkan kesini karena besarannya tetap dan tergantung dari kebijakan management.

2.      Service charge
Pembagian service charge bervariasi di setiap hotel, tergantung dari kebijakan management. Ada yang menganut system segitiga sama kaki, yaitu staff level terendah mendapatkan prosentase service charge terbanyak, semakin naik levelnya prosentase semakin kecil, karena hitungannya semakin naik levelnya semakin besar pula gaji pokok dan tunjangan yang didapatkan. Ada pula yang menganut system segitiga terbalik, kebalikan dari system segitiga sama kaki. Namun sampai saat ini, saya sih belum ketemu hotel yang memberlakukan system ini. Ya ogah,lah! udah level terndah pasti gajinya paling kecil, masih pula mendapatkan prosentase service charge yang kecil!
Sistem ketiga adalah pembagian service charge pro rata, yaitu besaran service charge yang dibagi sama rata. Sistem inilah yang paling adil dan paling banyak dipakai di hotel-hotel di kota besar semacam Surabaya dan Jakarta. Sayangnya, di Bali ada beberapa hotel yang memberlakukan service pro rata namun untuk yang berstatus karyawan kontrak hanya mendapatkan service charge setengahnya. Ada lagi ketentuan untuk karyawan baru yang masih berstatus probation (karyawan percobaan) hanya mendapatkan gaji pokok dan tidak mendapatkan service charge sama sekali sampai masa probationnya selesai.
Untuk bisa mendapatkan service charge yang sepertinya berkasta ini memang butuh perjuangan yang tidak mudah. Namun service charge ini memang layak diperjuangkan, karena besarannya yang bisa berkali-kali lebih besar dari gaji pokok. Sebagai acuan, rata-rata bisnis hotel ternama di Surabaya tahun 2012 lalu rata-rata menghasilkan 2,5juta – 3 juta per bulan, sedangkan resort di Bali sekelas Four Seasons (informasi dari salah seorang teman yang bekerja di sana), rata-rata mendapatkan 8jutaan per bulan. Silahkan membayangkan sendiri berapa service charge yang didapat pegawai St. Regis, Mulia, dan Bvlgari, 3 resort termahal di Bali di tahun ini. Glek!

3.      Tip
Tip tentu sangat tergantung  “bejo”  atau keberuntungan seseorang. Biasanya staff yang mendapatkan tip ini adalah bellman, porter atau juru angkut barang, nama ledekan yang diberikan oleh salah satu teman saya. Meski demikian, bukan berarti staff di bagian lain tidak ‘kecipratan’ rezeki. Selain porter, F & B department juga sering dapat tip. Housekeepingpun sering dapat tip kalau pas make up kamar. Receptionist seperti saya? Tip sih jarang, kecuali ada tamu yang benar-benar puas dengan layanan saya atau kadang-kadang nyogok, minta kamar nomor spesifik karena mengincar view dan luasnya. Namun, uang tip yang saya dapatkan juga berasal dari kembalian tamu yang gak mau menerima uang kembalian. Tidak banyak sih, palingan sekitaran puluhan ribu saja. Tapi kalau hotel sedang ramai, dan banyak yang check out dan settle bill pakai uang cash dan tidak mau kembalian?  Jadi lumayan juga jumlahnya.

Selain tiga sumber di atas, saya kadang-kadang juga dapat komisi, karena merekomendasikan spa atau tour tertentu. Di Bali, banyak spa dan tour menjamur di mana-mana dan bersaing dengan ketatnya untuk mendapatkan customer. Salah satu caranya ya, mendekati staff hotel dan memberikan iming-iming komisi. Hotel sendiri sebenarnya ada spa dan ada kerjasama dengan tour yang sudah terikat kontrak, namun karena dimark up untuk harga hotel, jadinya spa dan tour tersebut malah jarang laku karena overpriced. Jadilah tamu seringnya suka minta tour alternative yang harganya masih masuk akal.
Kalau ditotal-total, selama low season sekalipun, gaji kerja di hotel tetap lumayan, kok.
Saya jadi heran dengan teman saya yang stress karena gagal jadi PNS. Masih ada banyak pekerjaan lain yang gaji dan masa depannya bagus, kok. Kerja di hotel seperti saya, misalnya. Hehehehe…