Monday, 5 August 2013

Service charge berkasta

Kalau sedang makan di restaurant, pernahkah anda memperhatikan rincian bill yang harus anda bayar? Seringnya di bill ada tambahan sekian persen service dan 10% tax. Pernahkah anda bertanya-tanya biaya apa itu dan kenapa ditagihkan kepada customer?
Government tax atau PPN atau pajak pertambahan nilai atau kalau di dunia hospitality industry istilahnya VAT amount (value added tax) adalah jenis pajak langsung yang dikenakan atas transaksi penyerahan barang dari produsen kepada konsumen. Umumnya kalau di restaurant besarannya 10% sedangkan untuk hotel 11% meskipun beberapa restaurant fine dining juga pajaknya 11%. Saya kira sudah banyak yang tahu mengenai PPN ini. Nah, bagaimana dengan service charge? Besaran service charge juga bervariasi tergantung penyedia jasa. Umumnya di restaurant yang biasa saja tidak ada service charge. Di restaurant terkenal umumnya ada service charge 5%, sedangkan di fine dining restaurant dan hotel, umumnya menambahkan 10% service charge dan dibebankan kepada customernya. Kalau dihitung-hitung, penambahan tax and service bisa mencapai 21%. Nilai yang lumayan, bukan? Semisal anda mengkonsumsi 1 dessert di salah satu outlet di hotel dan harganya 100ribu, maka total akhir yang harus anda bayar adalah 121ribu. Nah, kalau ada tambahan appetizer dan main course? Belum lagi minumannya? Pas makannya si enak, gilirannya harus bayar banyak yang kena stroke mendadak karena kaget dengan jumlahnya.

Saya banyak sekali menerima complain mengenai service dan tax ini. Sudah biasa dong di website atau brosur  hotel menampilkan pricelist dengan harga yang menarik. Misalnya all you can eat BBQ dinner at 100K. Orang pasti mengasumsikan makan macam-macam panggangan sampai kenyang dan bayar cuma 100ribu. Tamu saya makan berdua dan total yang dibayar sejumlah 1,5 juta rupiah dan bayar sambil ngamuk-ngamuk. Iya sih, memang si BBQ harganya cuma 100ribu, tapi belum termasuk tax and service. All you can eat dan bukan all you can eat and drink. Tamu ada order air mineral, jus, dan cola tentu ada lagi tambahan harganya. Karena bawa pacar, supaya lebih romantis tambah lagi deh order wine. Belum termasuk dessert dan tapaz (cemilan) lainnya. Dan namanya juga sudah jadi budaya bule, BBQ tidak akan lengkap tanpa cocktail. Paling murah harga cocktail paling standart adalah 120 ribuan. Pas bayar bill, melongolah dia semelongo melongonya dan ngamuk-ngamuk karena merasa tertipu.

Saya kira semua hotel di dunia memberlakukan aturan yang sama mengenai tax and service ini, ternyata tidak. Di negara Asia tenggara umumnya memang menampilkan harga ++ atau harga dasar tanpa service dan tax sehingga kalau tidak mau kena stroke mendadak, cara paling aman adalah menghitung tambahan ++ nya terlebih dahulu. Di Eropa, pajak yang dikenakan jauh lebih tinggi dari rata-rata pajak kita, namun pricelist yang ditampilkan sudah harga nett, atau harga setelah ditambahkan ini itu. Jadi, tak perlu mikir dua kali dan terjebak dengan iming-iming harga murah tapi akhirnya bayarnya mahal juga.

Kalau tax kan sudah jelas larinya kemana, nah bagaimana dengan nasib service charge? Sesuai dengan namanya, service charge adalah nominal yang harus dibayar tamu atas pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa, tapi bukan tip. Kalau di restaurant, umunya service charge dibagi rata setiap karyawan, sedangkan di hotel umumnya hanya segelintir orang saja yang ‘berhak’ mendapatkan service charge ini.

Kerja di hotel itu menurut saya ada ‘kasta’nya. Ini sih saya hanya iseng menggolong-golongkan menurut pengetahuan saya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan level dan posisi dan sangat tergantung dari kebijakan masing-masing management hotel. Kasta 1 golongan executive comitee, seperti departemen head dan General manager. Kasta kedua adalah level Manager, senior team leader dan supervisor. Kasta ketiga adalah karyawan biasa seperti saya, baik itu yang kontrak maupun permanen. Kasta keempat adalah daily worker atau pekerja harian, dan tentu saja trainee. Dari kelima golongan ini, hanya kasta kedua yang sudah pasti mendapatkan service charge, sedangkan kasta ketiga tidak semuanya mendapatkan service charge. Di beberapa hotel saya dengar hanya staff permanen saja yang mendapatkan service charge. Beberapa hotel lain lagi memeberlakukan hanya 50% service charge untuk karyawan kontrak. Kasta pertama tidak mendapatkan service charge karena gaji dan tunjangannya sudah besar. Kasta keempat tentu yang paling kasihan, karena mereka dibayar harian dan tidak mendapatkan tunjangan apa-apa, sedangkan untuk trainee, jangankan service charge, gaji pun seringnya tidak dapat.
Ngomongin masalah service charge, saya kadang-kadang merasa ada ketimpangan sosial yang mencolok antar kasta-kasta. Tentu yang saya bahas bukan kasta pertama dan kedua, namun kasta ketiga dan keempat. Pekerjaan kami sama berat, -ibarat permainan catur, kasta ketiga dan keempat adalah pion prajurit yang selalu mati duluan-, namun di akhir bulan saldo rekening kami berbeda. Menyakitkan, memang. Seing saya dapat komentar dari rekan-rekan yang daily worker, “ngapain repot-repot, kan ada staff. Mereka dong yang seharusnya lebih bertanggung jawab.” Jujur saya sedih dengan kalimat seperti ini. Bagi saya, ini artinya sama saja mereka tidak ikhlas dengan apa yang mereka kerjakan. Tidak ada yang namanya sense of belonging dengan pekerjaan. Terlepas mereka dibayar harian atau dibayar bulanan, hak dan kewajiban sudah mereka sepakati kan saat mereka menandatangani kontrak kerja? Jangan salah sangka. Saya juga pernah loh berada di posisi sebagai daily worker waktu awal bekerja di hotel. Iri? Sudah pasti. Tapi saya kerja berdasarkan apa yang sudah menjadi tugas saya. Mulanya saya hanya seorang greeter atau penyambut tamu, saya terima penghasilan yang saya dapatkan saat itu karena pekerjaan saya memang tidak beresiko (meskipun teman-teman yang sudah senior dan menjadi permanent employee gajinya 4x lipat dibanding saya. Glek!) Sayapun berimprovisasi dan berusaha menunjukkan diri supaya saya ‘dilirik’ untuk dipromosikan ke bagian lain yang sesuai dengan skill saya dan sudah pasti mendapat service charge. Bukan, bukan dengan ‘menjilat’ atasan, saya ikuti training di departemen lain yang saya incar. Tidak lama, hanya 1 sampai 2 jam saja sehari setelah tugas saya selesai. Di hotel tempat saya bekerja, ada yang namanya cross training, atau training di department atau section lain untuk menambah pengetahuan. Usaha saya sedikit demi sedikit berhasil. Setidaknya saya mendapatkan pengakuan kompetensi dari chief concierge saya (greeter masuk di section concierge di sini), saya juga banyak memanen pujian dari departemen tempat saya training karena katanya saya a fast learner dan adaptable. Terlebih lagi, setelah saya memenangkan kontes pidato berbahasa Inggris, nama saya semakin dikenal di lingkungan hotel. I was no one, then I tried mybest to show them that I deserved to be someone and I proved it. Lalu, apakah promosi datang begitu saja? Tentu saja tidak. Lowongan untuk menjajal peruntungan sebagai Guest relation memang ada, tapi ternyata ada saja tangan-tangan asing yang berusaha menjegal. Entah apa yang ada di dalam tubuh management dan apa yang mereka lihat, dedikasi saya kurang diapresiasi. Jadilah saya incharge 3 bulan sebagai Guest relation dan status saya masih sebagai daily worker. Lebih manyakitkan lagi, management merekrut orang baru dan langsung dikontrak dan mendapatkan service charge. Saya sempat bertahan satu bulan. Karena tidak ada perkembangan, saya memutuskan untuk langsung cabut dari hotel tersebut (karena saya mendapatkan tawaran lain yang jauh lebih menggiurkan di hotel tetangga) dan pamitan mendadak supaya kejutannya lebih berasa. Eh, ternyata saya malah diajak duduk ngobrol empat mata oleh manager saya dan intinya akan ada tawaran khusus untuk saya. Saya terima tawaran tersebut dengan alasan, pertama, saya malas kalau harus memulai kembali belajar dari nol mengenai sistem hotel dan segala tetek bengeknya. Hal kedua, saya sudah merasa nyaman di hotel tempat saya bekerja saat itu dan rasanya sangat sayang untuk ditinggalkan. Ketiga, lokasi tempat saya kerja ini sangat strategis, ke shopping mall tinggal jalan kaki lima menit saja, kos-kosan melimpah ruah dimana-mana dan harganya murah. Banyak warung disekitarnya sehingga tak perlu repot-repot kalau tiba-tiba lapar melanda.

Selang dua bulan kemudian, ternyata tawaran yang dijanjikan tak juga diwujudkan. Sayapun ngambek sengambek-ngambeknya dan memutuskan untuk perang dingin. Saya apply di property lain yang satu management yang kebetulan sedang ada vacancy di departemen yang saya geluti dan saya diterima dengan mudah. Sayapun langsung mendapatkan service charge berikut asuransi, annual leave atau cuti tahunan, dan berbagai tunjangan ini itu yang sudah seharusnya menjadi hak saya.

Menjadi daily worker memang menyakitkan. Namun, saya banyak belajar dari sana. Bahwa segala sesuatunya suatu hari akan berubah asalkan kita mau memperjuangkan apa yang kita ingin dapatkan.

Adakah dari pembaca semua yang menjadi daily worker di hotel?
Semangat ya guys, semua pasti ada jalannya.
Happy working J

2 comments:

Umi Rismawati said...

3 tahun saya dikontrak kerja, tapi mulai bulan ini saya dan teman" semuanya jadi daily worker karena perusahaan yang sudah sekarat. saya sudah apply di hotel lain dan sudah probation satu hari. tapi yang saya dengar di hotel baru tersebut untuk dapat dikontrak haruslah menitipkan ijazah.
maka manakah yang harus saya pilih? tetap bertahan dengan perusahaan yang lama dengan status daily worker ataukah memilih di perusahaan baru yang mengharuskan menitipkan ijazah kepada perusahaan sebagai jaminan?

Umi Rismawati said...

saya dapet kerjaan di hotel quest hotel surabaya sebagai reservation agent dengan status daily worker. meski baru daily worker saya berharap akan mendapat banyak pengalaman sebagai ilmu tambahan saya untuk miniti karir yang lebih bagus. tanggal 21 juli bulan ini baru akan mulai kerja. semoga keputusan yang saya ambil adalah baik. amiin

Post a Comment