Thursday, 11 July 2013

Fully Booked Effect (bagian 1)


Mimpi buruk setiap hotel staff adalah saat hotel fully booked atau kamar yang tersedia habis terjual. Loh, bukannya senang ya hotelnya ramai sehingga dompet di akhir bukan juga ngikut “rame?” Saya sebenarnya sih tidak ada masalah dengan fully booked asalkan didukung dengan sarana dan prasarana dan SDM yang memadai. Seringnya, saat fully booked apalagi sampai berhari-hari, teman-teman tumbang satu per satu karena sakit. Biasalah, management kan punya stok karyawan yang ngepres pres pres. Nah, yang yang ngepres itu saat fully booked tenaganya terforsir. Jika ada satu orang yang sakit, misalnya, yang lain akan meng-cover, sehingga yang seharusnya dikerjakan tiga orang, hanya dikerjakan dua orang. Extend sukarelapun tak terhindarkan karena mau tak mau, sebagai tanggung jawab terhadap pekerjaan, kami harus menyelesaikan tugas sampai benar-benar selesai meskipun jam kerja telah habis. Kadang-kadang, demi menutupi satu staff yang sakit, staff yang lain harus ‘dikorbankan’ shiftnya untuk kepentingan lancarnya operasional. Misalnya hari ini masuk sore pulang jam 11 malam, besok seharusnya masuk sore lagi jam 3, tapi karena shift pagi sakit, maka besok harus masuk pagi jam 6. Terbayang, Pulang kerja jam 11 malam itu belum termasuk extend sukarela-nya, belum termasuk persiapan hendak pulang seperti ganti baju, mengembalikan seragam ke uniform store, diperiksa di pos sekuriti, dan perjalanan pulang itu sendiri. Kalau rumah dekat sih enak. Kalau yang rumahnya jauh? Bisa-bisa jam 1 baru sampai rumah. Dan sampai rumah belum tentu langsung tidur, kan? Minimal butuh setengah jam untuk persiapan dan rebahan sebentar sampai betul-betul tertidur. Dan esoknya harus bangun paling telat jam 4.30 pagi supaya bisa incharge jam 6 pagi. Kalau staff ini schedulnya dibikin jumping tiga hari.. aja, saya jamin hari keempat yang absen ke hotel bukan orangnya tapi surat dokternya alias sick leave.

Sebagai seorang customer service, motto kerja saya adalah customer oriented. Bagi saya, rasanya senang bisa membuat tamu yang saya handle senang dengan pelayanan yang saya berikan. Berdasarkan pengalaman pribadi, sebagian besar tamu yang senang dengan layanan seorang staff, maka kalau mau minta apa-apa pasti maunya sama staff yang sama, tidak akan mau dilayani staff yang lain dan akan rela menunggu lama jika kebetulan staff tersebut sedang menghandle tamu lain. Memang sedikit repot, namun efek bagusnya biasanya tamu akan mengingat nama saya. Pas beli oleh-olehpun, saya ikutan dibelikan oleh-oleh, katanya sebagai ucapan terimakasih karena membuat liburannya memorable selama tinggal di hotel di tempat saya bekerja. Kadang-kadang, ada juga yang menyelipkan selembar dua lembar dolar, atau mata uang lain semacam Euro jika beruntung. Bonus tambahan kalau tamu tersebut menyebut nama saya di guest comment atau trip advisor *ngarep. Saya berusaha semampu saya memenuhi harapan mereka selama saya bisa, tapi seringnya saat fully booked, orientasi saya bukan lagi customer oriented tapi jadi time oriented karena banyak sekali tamu yang harus dihandle sedangkan tenaga kami sangat terbatas.
Dampak paling menyebalkan dari fully booked adalah saya musti extend lebih dari dua jam. Mau protes gimana, mau diam juga gimana. Gara-gara kelewat telat pulang, saya gagal bertemu teman lama dari Surabaya yang berkunjung ke Bali. Mau nyamperin kok dia tinggalnya di daerah Bedugul yang jarak tempuhnya paling cepat 2 jam dari Seminyak (belum termasuk kesasar), sekalinya ke daerah Kuta dan Seminyak dihari terakhir sambil jalan ke airport. Padahal kami sudah lama merencanakan main bareng sebentar di Kuta dan saya sama sekali tidak sempat bertemu karena kelamaan ngantor. Kabar buruknya, teman saya ini sekarang dipindah tugaskan di Papua sehingga kemungkinan  untuk bisa bertemu kembali lebih kecil *nangis darah.

Dampak lain yang membuat saya kadang-kadang bête adalah saya tidak bisa fokus dengan tamu yang sedang saya handle karena telepon selalu berdering. Di tempat kerja ini tidak ada staff khusus yang bertugas sebagai telepon operator, jadi telepon dari dalam dan luar hotel ya semua masuk ke receptionist. Suatu ketika saya sedang menghandle seorang Ibu-ibu dari Jakarta yang sedang check in, baru saja saja saya mau menerangkan mengenai room rate, telepon berbunyi.
“Jadi Ibu Kartika check in hari ini, dan tinggal bersama kami selama dua malam sampai tanggal 14 Juli. Untuk harga kamarnya…”
Tulilit-tulilit. Tulilit-tulilit..
Telepon sialan itu bunyi. Ada telepon dari luar.
Saya mengisyaratkan maaf ke tamu saya karena harus diinterupt oleh telepon. Si Ibu sih maklum…
“Good morning, Boutique hotel Seminyak, Anna speaking how may I assist you?”
Yang di seberang: “Bisa disambungkan ke accounting bagian purchasing?”
“Baik. Mohon tunggu. Terimakasih.” Seperti biasa, tanpa perlu berfikir  saya sambungkan ke bagian purchasing.
Saya mesam mesem sedikit ke Ibu Kartika yang sabar menunggu.
“Baik, Ibu Kartika, untuk harga kamar permalamnya sudah confirmed di dua juta lima…”
Tulilit-tulilit. Tulilit-tulilit…
Taelah itu telepon sialan bunyi lagi dan saya langsung hilang konsen. Mau dibiarin saya bisa budeg sendiri, kalo mau diangkat kok saya jadi gak enak dengan tamu saya. Tapi akhirnya saya pilih opsi kedua. Minta maaf lagi karena proses check in jadi tersendat.
“Good morning, Boutique hotel Seminyak, Anna speaking how may I assist you?”
Yang di seberang : “Bisa minta tolong disambungkan ke accounting bagian pembayaran?”
Ampun! Accounting lagi. Saya dengan sedikit dongkol menyambungkan telepon, lalu kembali ke tamu saya.
“Terimakasih sudah menunggu, Ibu Kartika. Saya lanjutkan sedikit ya.” Tamu saya ngangguk tapi mukanya jadi sedikit asem.
“Untuk kamarnya, sesuai dengan yang sudah Ibu pesan, Suite non smoking king size…
Tulilit-tulilit. Tulilit-tulilit…
Tobaaaatttt!!! Rasanya saya pingin banting saja itu telepon sialan di tempat. Kenapa juga sih bunyinya musti sekarang? Bentar lagi napa kalau tamu saya sudah pergi? Saya nangis dalam hati.
“Good morning, Boutique hotel Seminyak, Anna speaking how may I assist you?”
Yang diseberang: “Dari Bali segar cemerlang, Bu. Bisa minta tolong disambungkan ke accounting bagian receiving?”
Oh God! Mau segar kek, mau cemerlang, kek. Coba yang telepon itu ada di depan saya, pasti sudah saya ikat di kursi dan saya selotip mulutnya pakai lakban supaya gak gangguin saya.
Ketika saya mau balik lagi tamu saya, dengan muka asem se asem-asemnya, tamu saya dengan sadisnya malah bilang gini,
“Tunggu aja dulu mbak, yang nyari bagian pajak dan bagian penagihan belum nelpon.”
Arrrgggghhh….!!!!

Masih tentang telepon, saya sempat mengabadikan momen unik teman saya yang sedang handling telepon saat peak season (kondisi hotel paling ramai) dan hotel sedang overbooked, alias jumlah tamu yang booking kamar lebih banyak daripada jumlah kamar yang tersedia.  Seorang tamu yang telepon entah darimana, ngebet banget ingin booking padahal sejak awal teman saya, Erik, sudah menjelaskan bahwa hotel kami overbooked dan tidak ada kamar lagi. Tapi, si tamu tetap ngotot.
“Its oke, its oke, I can check in later in the evening time after your guest check out.”
“Sorry Maam, but we are overbooked at this moment. We don’t have any rooms available for you tonight.”
“But I believe you still have spare rooms available, right? It is Ok that you don’t have king size bed, you can give me your twin bed.”
Erik mulai pasang mimik nangis.
“Deeply sorry, Maam. Even our twin room is not available for tonight. We are..”
“No, no no. I believe you still have…”
Erik mulai guling-guling di lantai sambil tetap ngoceh menjelaskan bahwa kami memang benar-benar tidak punya kamar lagi.

Si tamu tetap ngeyel. Dan Erik sudah persis seperti kuda lumping kesurupan guling-guling di lantai sambil  pegang horn telepon  saking stressnya.



*)Ini bukan rekayasa

Gak nyangka kan, ada juga hotelier yang kaya begini.

Jawa Pos For Her

Tulisan ini dimuat di Jawa Pos for Her, her Journey, 2 Juli 2013

Eksotisme kegarangan merapi; Nikmati pemandangan yang kontras


Wisata ke Jogjakarta hampir selalu monoton. Kalau tidak ke Keraton, turis lokal maupun mancanegara hampir bisa dipastikan berkeliling memuaskan keinginan berbelanja di Malioboro. Tak banyak yang menjajal rute baru. Mengunjungi kawasan gunung merapi dan sekitarnya, misalnya. Padahal, pemandangan di sana tak kalah menawan.

Pertengahan Agustus 2012 lalu, HRD manager menyampaikan internal memo mengenai pengambilan cuti tahunan. Supervisor saya member saya cuti total tujuh hari. Enggan tinggal di rumah saja, saya menelepon teman jalan saya, Taki, yang masih bekerja di Kuala Lumpur. Dari hasil diskusi singkat, kami sepakat untuk menghabiskan liburan ke Jogjakarta.
Satu tempat yang menjadi jujukan kami adalah Kaliurang. Mencari hotel untuk ke Kaliurangpun menjadi seni tersendiri. Di situs booking membooking hotel online, sangat jarang ada yang menampilkan hotel di Kaliurang. Akhirnya, kami berhasil juga menemukan juga hotel bagus yang “nyempil” di sebuah desa. Cangkringan villa and Spa, namanya. Ternyata, villa yang terlihat tersembuny dip eta itu benar-benar “nyempil” keberadaannya.
Sopir taksi kami yang orang lokal saja dibuat berputar-putar selama dua jam. Hikmahnya, kami bisa melihat banyak hal. Sawah-sawah hijau, bukit yang menjulang sebagian rumah, serta wilayah yang rusak karena muntahan merapi.
Perjuangan selama tiga jam akhirnya berlalu. Kami sampai di lokasi tersebut dan takjub. Tepat di sebelahnya ada merapi golf. Yang membuat saya takjub, kawasan ini terkena langsung dampak merapi. Tapi saat saya kesana, terkesan tidak pernah terjadi apa-apa.
Saat check in, kami ditawari tur ke merapi seharga Rp. 400ribu oleh resepsionis hotel. Karena penasaran, kami setuju untuk ikut. Tur dimulai pukul 5 pagi keesokan harinya. Sekeliling masih gelap ketika kami berangkat.kami dijemput kendaraan semacam jip dan touring off road selama lebih dari tiga jam.
Mulanya kami mengira kami akan dibawa ke hutan, atau ke spot-spot indah yang manarik untuk difoto. Tidak tahunya, kami dibawa ke jalanan sempit berbatu. Semakin naik ke atas, semakin gundul. Ketika memasuki wilayah merapi, pemandangan sekitar yang sebelumnya hijau berganti cokelat dan abu-abu. Pepohonan kering kerontang, debu beterbangan, dan puing-puing rumah yang terbakar terlihat jelas di depan mata.
Kamipun sampai di tepi sebuah jurang. Di depannya terhampar sungai pasir yang lebar. Guide kami menerangkan, dulunya itu adalah sungai yang diterjang Merapi. Material Merapi yang menumpuk di sungai tersebut yang membuat kering sungai itu. Jika hujan turun, tentu sangat berbahaya karena lahar dingin sewaktu-waktu mengancam.
Hari beranjak terang. Guide membawa kami ke batu Alien, sebuah batu besar dengan wajah mirip alien. Kamipun berjalan kaki karena mobil tidak bisa lewat. Lautan pasir berundak dengan hiasan batu beraneka ukuran ditengah, diselingi jurang dan bukit kecil tumpukan material merapi.
Di sisi kanan dan kiri, terhampar pemandangan yang kontras. Hutan hijau dengan sedikit warna putih dari pohon-pohon yang mati bagaikan menghidupkan lukisan alam itu. Warna matahari semburat dari sisi kiri landskap tersebut, membingkai merapi dengan gagahnya berdiri menjulang di tengah-tengah. Merapi memang menghancurkan segalanya, namun bekas-bekas jajahannya meninggalkan pemandangan yang tak kalah indah.

Saatnya pulang. Sopir kami rupanya tidak membawa kami melewati jalan yang sama. Kami dibawa memutar, turun ke sungai pasir, menjajaki jalanan berbatu dan melewati tebing curam. Sesekali ada atraksi. Mobil dijalankan berputar 360 derajat di kubangan pasir setinggi hampir tiga meter dengan kemiringan 45 derajat. Kamipun berteriak-teriak antara takjub, ngeri dan tegang.

Tuesday, 9 July 2013

Kacamata Kuda


Entah ini hanya kebetulan atau memang sedang sial, seharian itu saya incharge dengan bli Bagus, teman saya yang asli Bali, saya sampai sakit perut menertawakan dia karena banyak menemukan masalah dengan kacamata kuda, alias Bra.

Saat sedang enak-enaknya santai di front desk, seorang bule tiang listrik topless menghampiri saya.
“I want to take my surf board. Yesterday one of you kept there at your storage.” Oh.. rupanya ini bule mau ambil papan surfingnya.
“Well, may I have the luggage tag*, please?” Tanya saya.
Si bule mengeluarkan secarik kertas kucel dari sakunya. Ya oloh ini mah bukan luggage tag namanya. Udah kucel, lecek, basah lagi. Sampai-sampai tulisan yang tertera di kertas itu hampir saja tidak dapat terbaca.
Saya melirik sebentar ke dalam gudang penyimpanan yang lokasinya tepat di belakang konter reception, memastikan ada papan surfing disana. Papan surfing memang ada, dan setelah saya cocokkan dengan luggage tag yang diberikan si bule tadi, nomornya sama. Jadi tidak ada masalah. Masalahnya, itu papan surfing ukuran paling besar dan letaknya paling nyempil di ujung gudang, terjebit diantara koper-koper segede gaban. Saya sih ogah susah payah mengambil papan surfing itu, jadilah saya memanggil bli Bagus, teman saya yang orang bellboy untuk mengambilkan.  Kebetulan dia baru balik dari kamar di lantai dua, mengantarkan barang tamu yang baru saja check in.
Termehek-mehek si bli Bagus mengeluarkan papan surfing, ternyata ada tali dan secarik kain hitam terbelit di ujung papan.
“Take that out. I keep that in my bag.” Si bule mengintruksikan bli bagus untuk melepas atribut papan surfing tersebut. Tali terlepas dan masuk ke dalam tas mas bule. Tinggal secarik kain hitam itu. Bli Bagus yang penasaran pun menarik-narik kain itu dan dengan muka innocent tanpa dosa mengayun-ayunkan benda tersebut di depan muka si bule.
“This one also, ya?” katanya.
“What is that?” Kata si bule. Nah, barangnya sendiri kok gak tau, gimana sih?
Saya mencium ketidakberesan.
“Mmmm…” Bli Bagus malah menarik-narik kain elastic itu di depan si bule dan saya baru menyadari sesuatu: kain itu bagian atas bikini alias swimming bra tanpa tali! Kacamata kuda!!!
“Ssst… Sttt!” Saya mengisyaratkan bli Bagus supaya berhenti menarik-narik kain itu.
Terlambat. Mas bule nyadar lebih dulu. Bli Bagus melongo.
“You can keep that for you.” Kata si bule. Lah, kalo ini bukan barangnya si bule trus barang milik siapa? Kenapa juga bisa nyangkut di ujung papan surfing si bule? Absurdnya, dengan muka lempeng.com si bule malah ngasiin itu kacamata kuda ke bli bagus yang lagi merah padam mukanya saking malunya karena sudah menarik-narik benda tadi di depan si bule!

Baru saja saya berhenti tertawa melihat muka bli bagus yang merah padam karena kejadian barusan, seorang tamu bule yang lain mendatangi saya.
Ketika mau sapa, HT di meja saya berbunyi, housekeeping mengontak front desk. Jadilah nona-nona cantik itu mendatangi bli bagus yang kebetulan berdiri di sebelah saya, siap siaga.
“Hi. Yesterday I had a laundry service here in this hotel and I received yesterday evening. I just realized that one of my stuff was missing. It was a light brown bra. I think this one is not mine. Color is same not this one.” Si bule mengulurkan sebuah benda dari tangannya, warna cokelat muda, dan hanya dibungkus plastik transparan. Eng ing eng…! Kacamata kuda lagi!!!
Bli Bagus kembali terbengong-bengong. Kalau benda ini dibungkus plastik hitam atau benda sejenis dan tidak terlihat dari luar sih, tidak masalah. Nah ini, ditenteng begitu saja dan cuek pakai plastik bening dan langsung mencolok mata!
“Please check to your laundry staff and get my stuff back.”
“O-OK, Maam. I.. I will check.” Bli Bagus yang masih syok jadi gelagapan bicaranya.
“OK, thank you. My room is 121.” Katanya lagi dengan cueknya. Lalu ngeloyor pergi.
Sayapun tergelak melihat bli Bagus yang masih bengong. Mungkin kena sawan karena tak terbiasa memegang benda perempuan.
Dengan muka memelas, bli Bagus lalu menghampiri saya.
“Mbak, tolong dong mbak saja yang ngecek di laundry. Masa saya bawa beginian ke laundry?”
Saya hanya tersenyum dan menelepon laundry. Tak ada jawaban. Berarti anak laundry sedang ada di washing room, entah sedang mencuci atau menyetrika. Saya lalu mengontak housekeeping, minta bantuan. Semua housekeeping sibuk, supervisor sedang menginspeksi kamar karena tamu VIP akan check in sebentar lagi.
“Waduh, Bli. Maaf, semuanya tidak bisa.”
Bli Bagus menyerah pasrah. Receptionist yang in charge hanya saya seorang, karena shift berikutnya datang paling cepat dua jam lagi, dan bellman yang in charge kebetulan hanya Bli Bagus. Kalau saya tinggal dan ada tamu yang mau check out atau ada yang check in atau kuncinya bermasalah dan minta diganti, bli Bagus tentu tidak bisa (dan tidak diperbolehkan) menangani. Tapi kalau bli Bagus yang pergi, kalau ada tamu yang check in dan barang bawaannya banyak, saya masih bisa minta tolong security. Kalau ada tamu yang check out dan minta luggage assistance atau dibantu menurunkan barang bawaannya, saya masih bisa minta tolong anak restaurant atau housekeeping, atau bahkan duty manager* saya.
Jadilah dengan berat hati bli Bagus menenteng si kacamata kuda sampai ke laundry.
Rupanya, penderitaan bli Bagus belum berakhir. Orang laundry hanya in charge satu orang karena staff yang lain sedang sakit, sedangkan dia juga sedang mengoperasikan washing machine, jadi tidak bisa ditinggal. Sedangkan kalau kelamaan mengantar ke kamar tamu, bisa jadi panjang urusannya karena tamu bisa saja complain dan malah nyari-nyari kesalahan yang ujung-ujungnya minta diskon ini itu. Oh well, no other way bli Bagus juga yang harus mengantar!

Sepulangnya dari mengantar kacamata kuda, bli Bagus senyum geli ke arah saya.
“Mbak..”
“Ya?” Saya jawab tanpa menoleh karena sedang sibuk mengupdate guest profile tamu VIP yang baru saja check in di system.
“Ternyata kaca mata kuda itu pakai spons, ya? Saya baru tahu.”
Oooppss!!! Gantian saya yang merah padam.

*Luggage Tag : Sebuah kertas dengan nomor seri milik bellboy yang dipakai untuk menandai barang milik tamu.

*Duty Manager: Manager yang bertugas di setiap shift, tugasnya adalah bertanggung jawab atas keseluruhan hotel dan menangani complain, jika ada.

Mulutmu, Harimaumu

Saat sedang senggang, salah satu kerjaan saya dan teman-teman lain untuk mengisi waktu adalah ngomongin orang.
Akuilah, ngerumpi dan ngomongin orang itu sudah jadi satu paket dan sudah membudaya. Tak hanya kalangan perempuan loh, teman saya yang laki-lakipun doyan ngerumpi. Bahkan, manager saya sekalipun!

Ceritanya saat itu salah seorang manager saya sedang stand by di belakang meja receptionist ketika sepasang bule nenek-nenek dan kakek-kakek datang.
I passed through this location and accidentally saw your hotel. It is very lovely. I’d like to see what do you have, for our reference for next holiday. It will be lovely if we could see your room as well.”
Rupanya mereka ingin melihat kamar. Kebetulan sekali hotel sedang sepi, jadi kami ada waktu untuk hotel tour, membawa mereka melihat-lihat kamar dan fasilitas hotel lainnya seperti swimming pool, restaurant, gym, dan spa.
Saya baru saja mau membuatkan kunci kamar, ketika Soni, salah seorang teman receptionist malah menawarkan diri untuk mengantar.
“Daripada bengong. “ Katanya.
Ya sutralah.

Sayapun sibuk ngerumpi dengan manager saya sampai pasangan nenek-kakek tersebut kembali ke lobby. Teman saya mendatangi saya, meminta secarik kertas berisi guest detail untuk diisi oleh pasangan tersebut.
Tiba-tiba, manager saya nyelutuk,
“Itu nenek-nenek ama kakek kakek ngapain, Son?”
“Mau booking kamar. “
“Ahahaha… mau bulan madu kali ya?” Manager saya terkekeh. Soni diam.
Saya merasa ada yang tidak beres…
Sampai Sonny kembali dari mengantar mereka dan bilang,”Pak, kenapa juga bapak ngomong gitu pas mereka nulis guest detail? Mereka bisa bahasa Indonesia loh!”
“What???!!!”
Nah, lo? Manager saya langsung pucat pasi.

Kapok? Enggak tuh. Namanya juga sudah membudaya, kami jadi berkaca dari pengalaman itu, bahwa bule di Bali itu sudah banyak yang bisa bahasa Indonesia karena sudah kelamaan atau keseringan tinggal disini dan banyak bergaul dengan orang lokal. Jadilah, bahasa Indonesia kami hindari. Alternatifnya pakai bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa. Kebetulan sesama rekan kami yang front office, ada tiga orang yang dari Jawa. Dua orang dari Semarang, dan saya dari pelosok Jawa timur. Rasanya senaaang banget bisa blak blakan ngomongin orang tanpa khawatir orang tersebut mengerti apa yang kami bicarakan. Jangankan tamu, rekan kerja kami yang berasal dari berbagai daerah dan berbagai suku seperti Sunda, Bali, dan Batak juga bête kalau kami sedang keceplosan ngomong pakai bahasa Jawa padahal sedang briefing! Sebagian ada yang merasa tersinggung karena dikiranya kami sedang ngerumpiin dia! Entahlah, rasanya mulut ini tersetting otomatis akan switch ke bahasa Jawa kalau saya mau ngomong dengan teman saya yang orang Jawa, sama halnya ketika berhadapan dengan tamu saya yang bule, saya akan otomatis switch ke bahasa Inggris, atau langsung nyerocos pakai bahasa Indonesia kalau mau ngobrol dengan teman beda suku.

Sampai suatu hari kami memperhatikan seorang pria bule segede gaban menggandeng seorang cewek Bali yang kurus sekali. Keduanya masuk area lobi dan langsung duduk di sofa membelakangi kami, tak jauh dari konter reception. Hasrat ngomongin orang tiba-tiba muncul begitu saja, dan bertanyalah saya kepada Soni.
“Son,  awakmu milih endi, duwe pacar sing lemu opo sing kuru?” (Son, kamu pilih yang mana, punya pacar yang gemuk apa yang kurus?)
“Sing kuru ae Ann.” (Yang kurus aja Ann)
“Opo’o?” (kenapa?)
“Ngirit ban! Hahaha..”
Kamipun ngakak sama-sama. Sampailah seorang pria bermuka Jawa menghampiri saya dan bertanya,
“Mbak, ada kelihatan mister Joko disini?”
Saya bengong pandang-pandangan dengan Soni.
“Mister Joko? Aneh banget namanya.” Kami lanjut ngakak.
“Iya. Tadi katanya kesini mau minum sebantar di café. Cafenya di sebelah mana, ya?”
Saya menujuk ke lounge di lobi yang hanya dibatasi tangga. Saya lihat hanya ada dua orang yang sedang duduk di sana, si gendut dan si kurus! Dan si pria muka Jawa yang sepertinya seorang guide itu menuju ke sana.
Saya langsung telepon extension lounge tersebut untuk memastikan.
“Itu yang sedang duduk-duduk di sofa merah itu atas namanya siapa ya mbak?”
“Mister Joko mbak. Lucu ya, muka bule tapi ngomong pakai bahasa Jawa.”
Jegeeeerrrrr!!!!! Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Mampus!

Saya lihat guide tadi ngobrol sebentar dengan mister Joko lalu bergegas pergi. Mister Joko dan ceweknya beranjak dari café lalu malah duduk di sofa yang letaknya paling dekat dengan konter reception sehingga  sayapun mendengar percakapan mereka,
“Kok suwe? Mobile diparkir nangendi to karo pak supir iki.” (kok lama ya? Mobilnya diparkir dimana sih sama pak supir ini?” Kata si mister Joko.
“Ngarepe circle K. Macet paling.” (Di depan circle K. Mungkin macet)
Gubrak! Ampuuuunnnn… ternyata si cewekpun orang Jawa!!!

Saya dan Sonny langsung mematung berpandang-pandangan. Dan seperti dikomando, kami langsung pura-pura sibuk dengan computer masing-masing. Sonny pura-pura mengetik dengan hentakan keyboard yang nyaring, sedangkan saya pura-pura menelepon housekeeping dan ngobrol garing.

Begitu si guide Jawa -yang ternyata adalah driver mereka- datang dan membawa mereka pergi, saya dan Sonni langsung ngakak  dan berguling-guling. Apeeesss… apes! Untung saja kami tidak dilabrak. Sejak itu, kami benar-benar kapok ngomongin orang lagi!


Monday, 8 July 2013

The Magic Mushroom


Saya paling sebel kalau ada tamu saya yang nanya, “do you know where can I get magic mushroom?”

Bagi yang sering ke Bali dan suka pelesiran di area Kuta dan sekitarnya, pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya magic mushroom. Magic mushroom ini sejatinya adalah sejenis jamur yang konon tumbuh dari kotoran sapi atau kerbau. Magic mushroom ini bisa memberikan efek halusinansi sesaat bagi penggunanya, namun bukan termasuk golongan narkotika yang sudah jelas dilarang penggunaanya. Di Jakarta saya dengar sudah banyak dilarang dan diawasi dari penanaman hingga peredarannya. Meski dilarang, anehnya di Bali banyak sekali ditemui penjualnya, entah di emperan, toko, bahkan sampai ke restoran!

Jamur halusinogenik seperti magic mushroom ini tergolong dalam genus Psilocybin. Jenis ini, telah diteliti di seluruh dunia dan diekstraksi ke dalam bentuk obat untuk mengobati penyakit neurologikdan psikiatrik, dan dipasarkan dengan tujuan eksperimental dan sebagai agen psikoterapi. Di beberapa negara di dunia, jenis jamur ini bahkan digunakan sebagai pengganti methadone untuk terapi pecandu narkotika. Meskipun begitu, jenis jamur ini tidak menyebabkan keracunan atau ketagihan. Cara mengkonsumsi magic mushroom ini juga unik, bisa dibikin jus atau langsung dicampur kedalam makanan dan dimasak bersamaan, seperti dibikin campuran sayur, nasi goreng, sampai martabak.

Efek setelah mengkonsumsi si jamur ajaib ini bervariasi, tergantung dari mood penggunanya sebelum mengkonsumsinya. Efek halusinogen dari jamur ini adalah mengeluarkan segala isi hati dan memberikan efek distorsi visual, ruang dan waktu. Jika pengguna jamur ini sedang dalam keadaan berbahagia, maka setelah mengkonsumsi jamur ini penggunanya akan menjadi berlebihan mengekspresikan euphoria kebahagiaannya. Efek yang paling sering saya lihat adalah tertawa terbahak-bahak tanpa control dan menyanyi lagu-lagu ceria dengan penuh penghayatan layaknya seorang penyanyi dalam konser tunggal. Efek sebaliknya, jika penggunannya sedang sedih, maka saat sedang dalam pengaruh jamur ajaib, penggunanya akan berkali-kali lipat kesedihannya bahkan depresi dan di beberapa kasus ada yang sampai melakukan percobaan bunuh diri segala. Hiii!

Seringnya, restoran masakan Bali yang lokasinya tepat persis di seberang hotel tempat saya kerja ini, pelanggannya ada yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan teriak-teriak di depan restaurant sehingga terdengar sampai ke dalam hotel.  Belakangan saya tahu, di restaurant ini juga menyediakan magic mushroom yang bisa dicampur ke berbagai masakan sesuai dengan pesanan! Tak hanya teriak-teriak, tamu ini juga bernyanyi-nyanyi sambil seakan-akan sedang mengadakan konser tunggal. Sudah tau sedang “fly”, orang-orang disekitarnya malahan menyemangati sang “penyanyi” dan suasanapun menjadi semakin hingar bingar.

Suatu malam sehabis hujan, seorang bule masuk ke lobby dengan dipapah seorang teman wanitanya dan dibantu seorang security. Saya kira si bule sakit atau apa, karena pas naik tangga lobby yang tingginya tak lebih dari 20 cm saja si bule sampai merangkak sambil bercucuran keringat seperti mendaki gunung Semeru. Begitu sampai di lobby, si bule duduk termenung dan menangis tersedu. Begitu musik di lobby mati (jeda dengan musik berikutnya) si bule makin kenceng nangisnya dan merengek-rengek minta diputarkan musik, persis seperti orang yang baru pertama kali mendengar musik. Begitu musik diputar lagi, si bule kembali sibuk dengan dirinya sendiri dan terlihat sangat menikmati. Sayapun iseng menanyai pacarnya kenapa si bule bisa seperti itu.
Nothing, just magic mushroom,” katanya.
Oh, pantas!
Si  cewek juga cerita, si bule ketakutan luar biasa saat naik taxi. Jelas-jelas si taxi cuma jalan 20 km/jam karena jalanan macet, si bule sudah ketakutan luar biasa karena menurutnya dia sedang naik mobil F1 dengan kecepatan melebihi 200 km/jam! Nah lo?

Pernah suatu hari tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar 111 yang lokasinya dekat dengan lobby area. Langsung saja saya hubungi security dan duty manager untuk memeriksa kamar tersebut. Team kami baru saja sampai di depan kamar tersebut ketika seseorang tiba-tiba keluar dari kamar itu dan langsung menabrak team kami. Wajahnya pucat ketakutan. Kamipun bertanya ada apa sampai teriak-teriak di kamar.
“A-ada hantu!” Katanya.
Kami berpandang-pandangan. Mana ada hantu nongol siang-siang begini?
Kamipun mengajaknya kembali masuk dan menunjukkan kepada kami dimana hantunya. Tentu dia menolak. Sekali, dua kali… Ketiga kalinya mencoba barulah akhirnya kami semua masuk setelah berkali-kali kami berusaha membujuk.
“Dimana hantunya?” chief security mengawali investigasi.
Pemuda ini menunjuk ke arah cermin. Saya langsung teringat kuntilanak. Di film-film horror kan kuntilanak suka keluar dari cermin. Hhhiii… saya jadi bergidik. Tapi masa iya kuntilanak eksis juga di Bali?
Chief security mendekat ke arah cermin, dan menyentuh permukaannya. Tentu saja, tidak terjadi apa-apa.
“Tidak ada hantu. Ayo sini! Ini tidak apa-apa kok.” Katanya.
Pemuda itu masih tidak mau mendekat. Kami membujuknya kembali sampai dia mau, meskipun kami sedikit menyeretnya untuk membuatnya yakin, bahwa di kamar itu tidak ada hantunya. Pemuda itu perlahan-lahan membuka telapak tangan yang sedari tadi menutupi wajahnya. Hanya sedetik ia mengamati wajahnya sendiri di cermin dan..
“Aaaaaaaa…… !!!! Setaaaannnnnnnnnn!!!!”
Lah? berarti yang tadi dia bilang setan itu bayangannya sendiri di cermin???!!
Ternyata… tamu saya ini sedang berhalusinasi setelah makan pizza topping magic mushroom yang masih bersisa di atas meja di kamarnya. Ya ampun!


Tragedi Pagi-Pagi


Kejadian ini betul-betul absurd dan mudah-mudahan hanya saya saja yang mengalaminya.

Pukul 5.40
Suatu pagi saat saya masih sibuk bermimpi, suara gas motor brong yang super berisik dari halaman depan kamar mengagetkan saya. Sambil mengumpat dan menyumpahi pemilik motor tak tahu aturan itu, dengan malas saya membuka mata dan secara reflex memandang ke arah jendela. Ada sedikit semburat warna jingga, ufuk pagi. Saya jadi tergagap dan langsung menyambar handphone yang tergeletak tak berdaya di sebelah bantal, langsung melihat jam digital yang tertera di layarnya, jam 5.40. Loh? Loh? Loh? Mampus! Kan saya masuk jam 6 pagi!!!

Sayapun panik, menerjang bantal dan guling, melempar selimut ke lantai dan mengibas-ngibaskan sprei yang iseng nyangkut di pergelangan kaki, setengah berlari menuju ke kamar mandi. Ooohh.. tentu bukan untuk mandi karena saya sudah tidak ada waktu lagi. Perjalanan dari kost sampai ke hotel saja perlu setidaknya 15 menit, dan sesampainya di hotel saya biasanya masih perlu sekitar 15 menit untuk ganti baju dengan seragam yang harus saya ambil terlebih dahulu di laundry, lalu make up, dan menata rambut. Cara tercepat saat ini adalah hanya menggosok gigi,  cuci muka, grusak grusuk ganti baju dan.. cuzz!!!
Pukul 5.50
Dengan kesal saya mencoba menstarter motor. Tak juga menyala. Aduuuhh… kenapa lagi sih ini! Tak biasa-biasanya pinky (nama motor kesayangan saya) ngadat di saat yang tidak tepat begini! Sayapun dengan panik memeriksa sekeliling, memastikan apa ada yang salah dengan si Pinky. Ketika melongok ke arah roda, saya menyadari sesuatu. Side stand (penyangga samping) si pinky masih turun. Ya ampun…! Si pinky ini jenis motor matic yang (promosinya) aman karena saat side stand turun, maka tidak akan bisa dinyalakan. Jelas aja si pinky tidak bergeming dari tadi. Sampai lebaran monyet juga si pinky gak bakalan bisa on. Adanya juga seandainya si pinky bisa ngomong, dia bakalan protes dan gantian marahin saya, “Bego amat sih lo Non. Itu side stand-nya dinaikin dulu!”
Aduh, maaf…!

 Pukul 6.00
Saya pacu pinky sekencang-kencangnya. Semoga saja sampai dalam 10 menit. Handphone sialan. Saya ingat semalam saya sempat setel alarm jam 4.45 supaya saya punya cukup waktu untuk siap-siap. Eh, ternyata alarm handphone ini malah mengkhianati saya.  Icon alarm yang biasanya terlihat di pojok kiri atas tidak ada. Pasti ada yang salah. Saya punya kebiasaan memencet tombol snooze untuk mengulur-ngulur waktu bangun (dan saya yakin anda juga kan? Hayo, ngaku!). Biasanya saya set snooze sepuluh menit supaya alarm terulang setiap sepuluh menit sekali sampai jam sudah menunjukkan bahwa waktu sudah mepet dan saya sudah tidak boleh tidur dan mengulur waktu lagi. Baiklah, mungkin tadi alarm membangunkan saya dan saya tidak sengaja mematikan alarm, bukan memencet tombol snooze seperti biasanya, sehingga saya balik tidur dan bablas. Bagus!

Jam 6.10
Saya sampai juga di parkiran hotel. Fyyyyuuuhhhh!!! Saya lihat sekeliling, kok masih sepi ya? Biasanya jam 5 pagi saja sudah susah mencari tempat parkir yang nyaman untuk Pinky. Ya sudahlah. Saya bergegas masuk, absen di fingerprint machine, dan setengah berlari menuju uniform room untuk mengambil seragam. Loh? Orang uniform kok juga belum kelihatan ya, batang hidugnya? Pada kemana nih? Pasti ditinggal ngerumpi ke Housekeeping office nih! Saya tak peduli. Dengan susah payah saya cari sendiri seragam saya diantara ratusan baju yang tergantung di linen room. Entah sudah berapa kali saya mengumpat pagi itu. Kenapa juga di saat genting begini tak satupun yang lancar. Benar-benar sial!

Jam 6.20
Nafas saya tersengal karena lari menaiki tangga dari basement  sampai ke lantai 1. Make up yang saya kenakan “apa adanya”  saking terburu-burunya, sudah separuh luntur terkena keringat. Benar-benar pagi yang panas, meskipun Bali semalaman terguyur hujan.
“Eh, mbak Anna. Rajin amat, jam segini sudah datang!” Erik, teman receptionist saya menyapa.
“Kamu nyindir, Rik?” Saya sudah setengah mati segininya, enak saja dia bilang begitu.
“Baru jam setengah tujuh kurang ini. Anak-anak lain biasanya kan datang jam tujuh teng!” Erik masih santai sambil sesekali memencet tombol kalkulator, menghitung bill tamu yang masih pending yang akan check out hari itu.
Saya jadi tersadar. Jam tujuh…? Jam tujuh?!!!
 Kutukupret! Beneran saya kepagian!!! Pantesan semuanya masih santai dan sepi.
Saya masih terbawa suasana kerja di tempat lama, dimana shift pagi dimulai jam 6 pagi. Sekarang saya di Bali dan shift pagi dimulai jam 7! Ya ampunnnnn….!
“Mbak Anna hari ini incharge sama siapa? Check out-an banyak loh hari ini.” Erik menoleh ke arah saya sebentar, tanpa menyadari kedodolan yang telah terjadi.
Saya langsung menyambar Schedule sheet di dalam log book, mengamati… dan mengamati…
Seperti tahu ada hal yang aneh, Erik ikut membantu saya melihat schedule hari itu.
“Kalau tidak salah sih mbak Anna hari ini masuk siang deh..” Suara Erik masih ringan, seperti tidak ada apa-apa.
“Eh.. hari ini tanggal 7 ya? Loh? Mbak Anna kan hari ini off?” Mukanya berubah bertanya-tanya.
Nah lo?
Sayapun memastikan sekali lagi. Saya cek tanggal di handphone. Saya cek tanggal di schedule. Benar. Hari ini saya libur.
Perjuangan saya pagi itu sia-sia sudah.

Kampreeeeeeettttt!!!!