Tuesday, 29 January 2013

Lesson Learned


H-9. Ayu, Ria, Made, Komang, dan dua orang teman lain sepakat mengajak saya untuk bersama-sama ke Bedugul minggu depan. Kabarnya, Bedugul itu merupakan area pegunungan yang hijau, udaranya sejuk dan dingin, terdapat pura agung yang merupakan pura terbesar dan menjadi “induk” pura-pura di seantero Bali. Ditambah lagi, ada danau Beratan dan kebun raya yang tak jauh dari pura, semakin membuat saya penasaran. Iseng, saya googling gambar-gambar Bedugul. Benar-benar cantik! Saya semakin jatuh cinta dan tidak sabar ingin segera ke sana.
“Kalau lagi musim hujan begini, pagi-pagi suka ada kabut turun. Udaranya jadi dingin sekali. Jadi, jangan lupa bawa jaket ya.” Komang, salah satu rekan kami yang asli Singaraja, Bali, mengingatkan kami semua.  
Kabut? Aaaahhh… romantisnya!

H-7. Teman-teman sudah siap dengan segala sesuatunya. Schedule sudah direquest jauh-jauh hari, dan sepertinya akan lancar. Paket tour sudah dipesan, dibayar dengan dana dari iuran yang telah dikumpulkan sehari sebelumnya. Sengaja kami ambil paket tour karena jatuhnya akan lebih murah daripada jalan sendiri. Saat itu kebetulan ada harga promo paket untuk tujuh orang, dan dapat diskon 50%. So far, persiapan kami beres sudah.

H-4. Ria, salah seorang rekan kami mengundurkan diri karena  keluarganya akan mengunjunginya ke Bali tiga hari lagi dan akan tinggal selama seminggu. Praktis, Ria tak akan bisa kemana-mana. Meski kecewa, kami tak bisa berbuat apa-apa. Ria bilang dia ikhlas tidak jadi ikut dan ikhlas uang iuran yang sudah dibayarkan hangus begitu saja. Sedikit melegakan kami semua karena tidak harus nambah uang iuran untuk menutup budget. Ya sudahlah.

H-2. Schedule yang sudah saya request jauh-jauh hari harus berubah! Saya gak jadi dapat libur karena ada last minute group booking, rombongan dari India. Duh, malesnyaaaa!!! Kenapa juga mendadak begini sih? Males pertama karena saya jadi harus cancel rencana jalan-jalan saya. Males kedua karena harus handle tamu India, artinya harus siap-siap makan ati. Bukan kenapa-kenapa, orang India itu rata-rata banyak maunya tapi maunya bayar semurah-murahnya. Boro-boro ngasih tip, bayar breakfast 50% buat anaknya (yang sebenarnya sudah kena full charge) saja ogah! Mesti ngajak berantem dulu dengan staff sampai ke manager. Nightmare comes true, gitu lah! Kenapa juga harus saya yang masuk? Kenapa bukan trainee lain yang diminta masuk hari itu?
“GRO full team. Tidak akan ada yang libur hari itu.” Penjelasan dari Bu Nia, GRO manager saya semakin membuat saya senewen.

Mendengar saya yang mendadak mengundurkan diri, tentu teman-teman yang lain jadi kelimpungan. Mau diundur kok, semuanya sudah terbooking dan sudah full payment, mana bookingannya unrefundable, alias uang yang sudah terbayar tidak bisa diminta kembali! Maklum, harga promo. Travel agent jaman sekarang memang semakin kreatif saja memainkan harga, pakai ikut-ikutan term and conditionnya harga pesawat segala. Akibatnya, rencana liburan kami jadi berantakan. Kalau mau ikut, artinya saya harus bolos kerja. Minta izin sepertinya tidak mungkin, bu Nia bilang hari itu full team, yang artinya memang kondisi hotel lagi ramai-ramainya dan mustahil minta libur. Mau gak ikut, saya rugi besar. Sudah lima bulan di Bali, saya hanya muter-muterin Jimbaran-Nusa Dua-Kuta! Bisa booking tour itu juga setelah susah payah mengumpulkan dolar demi dolar hasil dari tip. Aduuuhh.. saya benar-benar gak rela dolar saya terbuang sia-sia!

“Pura-pura sakit saja. Ke klinik dan minta surat dokter. Kalau alasannya sakit, pak GM (General Manager) sekalipun juga bakalan maklum.” Ide brilian datang dari Made.
“Aku kan seger burger gini. Dokter mana yang percaya kalau aku sakit?”
“Ya, namanya juga pura-pura. Bilang saja sakit perut. Tinggal akting, beres! Mana ada dokter yang bisa menganalisa sakit perut beneran apa jadi-jadian. Ya gak?”
Mmm… bener juga sih. Masalahnya, saya bukan artis sinetron yang pinter akting apalagi bohong. Kalau saya yang akting, pasti langsung ketahuan. Ini bahaya!
“Gini deh, anak tetanggaku, Riza, kan lagi sakit. Kita bisa manfaatin dia Ann.”
“Manfaatin gimana?” Saya jadi tambah bingung.
 “Tinggal bawa dia ke dokter, pakai nama kamu. Dia kan sakit, biar dia yang diperiksa, tapi surat dokternya atas nama kamu.”
Ini baru ide bagus.
Kalau masalah trik seperti ini, Made sepertinya lebih jenius.

H-1. Riza bersedia bekerja sama dengan saya setelah saya sogok biaya pembayaran di rumah sakit. Kartu registrasi sudah tertulis atas nama saya. Tinggal periksa, minta obat, dan minta surat keterangan istirahat. Simbiosis Mutualisme, nih. Riza sembuh, saya juga happy karena gak harus ketemu tamu India yang tukang komplain itu, gak perlu berdebat dengan GRO manager minta libur yang sepertinya impossible, dan saya  juga happy karena tour ke Bedugulnya gak jadi cancel.

Saya menemani Riza memasuki ruangan dokter yang masih sepi pagi itu. Seorang dokter setengah baya sedang memepersiapkan peralatan ketika kami masuk. Begitu menoleh, pak dokter yang ramah ini segera menyapa kami. Saya lihat, wajah Riza semakin pucat. Duh, kasihan. Riza sakit apa sih? Apa kalau lihat dokter penyakitnya bisa jadi tambah parah, ya?
“Eh.. Riza kan ya? Sakit lagi?”
Loh loh loh… ini dokter kok tau nama Riza sih? Perasaan saya jadi tak nyaman. Kartu registrasi yang ada di pangkuan Riza bergetar sebentar. Duh, saya makin tak enak. Belum akting masa sudah ketahuan, sih?

Belum juga Riza sempat menjawab, pak dokter menyahut lagi.
“ Sebentar ya Riza, ada peralatan yang perlu saya ambil dulu di Lab. Saya tinggal sebentar tidak apa-apa, kan?” Pak Dokter tersenyum sebentar dan hilang di balik pintu.
“Kok dokternya kenal kamu sih?” Cecar saya ke Riza sambil berbisik. Padahal juga tidak ada siapa-siapa yang bisa mendengar pembicaraan kami.
“Itu dokter klinik dimana biasanya aku periksa. Aku sakit typus dan suka kambuh. Biasanya ke dokter Aldi ini. Saking seringnya ditangani sama dia, jadinya dia kenal baik sama aku. Aku juga gak tahu kenapa dia bisa ada di sini.” Riza melotot ke saya.
Duh.. gimana nih?

Dokter Aldi kembali memasuki ruangan. Wah, ini sih di luar skenario awal. Saya pasrah saja pas dokter Aldi akhirnya memberikan surat keterangan sakit atas nama RIZA tanpa meminta kartu registrasinya. Rencana gagal total!!!

Hari H. Pukul 9 pagi.
Saya sedang berada di lobby utama the Grand Beach dan kesal setengah mati. Kesal karena gak jadi pergi, juga karena group yang akan saya saya sambut sudah molor lebih dari setengah jam dan gak datang-datang juga. Teman-teman mungkin sudah hampir sampai Bedugul. Ah, siriknya…

Handphone di saku celana saya tiba-tiba bergetar. Telepon dari Made. Saya langsung ngibrit ke toilet supaya bisa leluasa menerima telepon.
“Sialan bener sih ini travel Ann. Untung kamu gak ikut. Belum juga jalan sepuluh menit, mobil udah mogok. Gak bisa dibenerin. Gak ada stok mobil lain. Gak ada solusi. Pak Sopirnya juga stupid gitu sih. Gagal deh semuanya.” Belum juga saya sempat bilang halo, Made sudah nyerocos.
“Terus, gimana?”
“Gimana apanya? Ya batal lah. Pihak travel balikin uang kita. Gak ada tanggung jawabnya sama sekali. Mentang-mentang harga promo, kita dikasi mobil bobrok..”
Antara senang dan sedih, saya tersenyum kecil. Aaahhh… leganya…

***
 H+3.
Saya sedang makan siang dengan Made di kantin ketika Christi dan Cinta datang. Ah, dua staff The Grand Beach yang terkenal sebagai biang gossip. Bukannya aware dengan tatapan mata kami yang mengisyaratkan ogah diganggu, Christi dan Cinta malah meletakkan nampannya di meja kami dan mengambil kursi di depan kami sehingga kami terpaksa duduk berhadap-hadapan.
“Tau gak sih…” Si Christi sepertinya mau mulai bergosip lagi. Christi memang ngomong ke Cinta, bukan ke saya atau Made. Tapi suaranya kan kemana-mana. Suka tak suka, telinga kami mendengar juga celotehan ratu gossip ini. Kalau misalnya gossip internal bisa dijual ke public dan dijadikan berita infotainment, sudah tentu Christi dan Cinta jadi orang kaya baru sekarang.
“Apaan..?” Cinta merespon berlebihan.
Duuuh.. gak banget, tauuukk…
“Tau Hendra anak housekeeping kan? Dia dikeluarkan dari sini.”
Saya dan Made berpandang-pandangan. Secara tidak sadar, menyimak berita yang tumben-tumbennya menarik ini.
“Hendra anak training itu? Dikeluarkan? Kenapa?”
“Mamalsukan surat dokter.” Christi menjawab santai sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Saya langsung tersedak. Berpandang-pandangan lagi dengan Made. Langsung merasa tertampar dengan ucapan Christi barusan, dan jadi teringat kejadian empat hari yang lalu. Apa jadinya kalau dokter Aldi tidak mengenali Riza? Apa jadinya kalau ternyata kami ketahuan memalsukan identitas di surat dokter? Ahhh… saya tidak berani membayangkan. Ternyata, rencana Tuhan itu jauh lebih baik daripada rencana yang telah saya buat. Ah, untungnya…

Thursday, 10 January 2013

Bulu Mata Sapu Badai


Salah satu rekan saya sesama anak training yang paling dekat dengan saya bernama Ayu. Berasal dari Bandung, kuliah di Jakarta dan training di Bali. Sesuai namanya, Ayu menurut saya cantik, tapi kadang terlalu berlebihan bermake up sehingga lebih mirip ondel-ondel berjalan ketimbang miss universe.
“Grooming is number one in the hotel industry.” Katanya selalu mengingatkan setiap orang akan pentingnya dandan.
Grooming memang perlu, tapi juga gak usah lebay begitu kaleee…
Ayu hobbinya dandan dan belanja barang-barang bemerek. Sok borju karena memang orang tuanya berada. Meski begitu, kalau lagi belanja di bazaar, cara dia menawar langsung membuat siapapun langsung kabur dan pura-pura gak kenal saking ilfilnya.
“ Duh… tasnya lucu. Berapaan ini Bang?”
“Lima puluh ribu, Mbok*.”
“Kurang dikit ya.”
“Ya udah, deh. Berapa?”
“Lima ribu boleh ya Bang. Saya bayar tunai loohh…”
….

Setiap kali ada beauty training , Ayu yang paling antusias dan tidak pernah absen. Dengan semangat, Ayu mengajak teman-teman yang perempuan untuk ikut beauty class. Saking antusiasnya, kadang-kadang dia sampai mentraining rekan-rekannya sendiri yang sesama trainee dengan materi dandan-dandanan sebelum beauty class beneran dimulai.

Selain dandan, Ayu kecanduan perawatan di salon. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, tak luput dari segala treatment yang ampun deh ribetnya. Meni pedi, luluran, cream bath, cukur alis hingga cukur bulu kaki semuanya di salon. Bulu mata palsu, kuku palsu, alis ditatto, rambut dicat cokelat mengkilap, dan bibirnya yang selalu berair (maksudnya lipstiknya shining seperti berair, bukannya dia lagi ileran) membuat Ayu dicap sebagai Asian doll made in China.
“Kalau mau jegeg**, memang mahal.” Katanya dengan enteng.
Heran, kalau nawar di bazaar bisa sampai segitunya, tapi begitu masuk salon ampun deh royalnya.

Suatu hari, Ayu ngajakin saya ikut ke skin care langganannya. Saat konsultasi dengan dokter, saya diajak ikut serta.
“Dokter, kulit muka saya akhir-akhir ini berminyak sekali. Jadi mudah terkena jerawat.” Ayu menunjuk satu jerawat yang merah meradang di pipi kirinya.
Buseeett... konsultasi jerawat seupil gitu aja segitunya!
“Nanti difacial saja ya? Dipeelingnya pakai peeling yang biasanya, lalu pakai masker A yang mengandung bla bla bla supaya kulit tidak memproduksi minyak berlebih. Selanjutnya pakai cream B yang mengandung bla bla bla supaya jerawat tidak mudah tumbuh.”
Haikkkksss, iklan TV udah pindah tempat ternyata.
“Wajahnya sedikit kusam dan kasar ya?” Si dokter menganalisa kulit Ayu.
“Terus,… harus gimana dong dokter?” Raut muka Ayu berubah sangat khawatir.
Biasa aja kaleee…
“Sebaiknya diamplas saja.” Seru si dokter tenang.
Saya melongo. Mencoba mengingat-ingat apa itu amplas. Wait! Amplas itu bukannya semacam kertas kasar yang digunakan untuk menghaluskan permukaan material dinding, kayu atau besi? Kalau wajah diamplas, seperti apa rasanya? Saya semakin bergidik. Ngeri.
“Kalau mau wajahnya mulus, sebaiknya memang sering diamplas!” Si dokter meyakinkan. Saya jadi ragu, ini dokter jangan-jangan dulunya mantan kuli bangunan. Buktinya, dia ahli dalam amplas mengamplas.
“Kalau mau amplas wajah, biayanya berapa dok?” Ayu bertanya tanpa sedikitpun khawatir.
“Satu juta lima ratus.” Si dokter tersenyum mantap.
Saya menelan ludah.
***
“Bulu mata kamu pendek dan lurus Ann, sebaiknya di extension dan dikeriting saja.” Saya bengong. Rambut disambung atau dikeriting sih saya sudah sering lihat. Tapi kalau bulu mata dikeriting? Salah-salah mata saya yang jadi keriting! Eh…
Ayu memaksa saya untuk keriting bulu mata di salon langganannya. Meski ragu, saya ikut juga karena penasaran seperti apa kalau bulu mata dikeriting. Ternyata, bulu mata saya yang seupil itu digulung dengan semacam silinder kecil berperekat, lalu sekitar tiga kali berturut-turut bulu mata diolesi dengan obat keriting setiap setengah jam sekali. Selama menunggu jeda setengah jam, yang saya bisa lakukan hanya tiduran karena mata saya ditutup total dengan semacam selotip plastic. Jangan tanya rasanya gimana. Periiiihhhh…! Sayapun bertahan. Ternyata, untuk jadi cantik itu menyakitkan!

Dua jam yang berlalu dengan penuh penderitaan akhirnya berakhir juga. Saya sudah tidak sabar ingin melihat hasil akhir bulu mata setelah dikeriting. Sebelum pengeritingan, saya sempat browsing sana sini untuk mendapatkan informasi. Rata-rata puas dengan hasil akhirnya. Bulu mata menjadi lentik alami tanpa harus dijepit dengan penjepit bulu mata. Tinggal dipakein mascara, bulu mata sudah lebat dan panjang, saingan dengan bulu mata anti badainya Syahrini. Kelentikan itu sendiri nantinya bisa bertahan sekitar tiga bulanan. Saya tersenyum puas. Semakin tak sabar melihat bulu mata baru saya yang lentik.

Selotip penutup mata saya sudah mulai perlahan-lahan dibuka. Setelah itu, roll penggulung bulu mata dilepaskan dan saya bisa merasakan ujung-ujung cotton bud menyentuh bulu-bulu mata saya yang terasa makin berat. Treatment selesai. Saya diminta membuka mata. Layaknya adegan di sinetron yang tokoh utamanya baru sadar dari pingsan, saya perlahan-lahan membuka mata. Yang saya lihat pertama kali adalah bayangan saya di kaca. Yang saya harapkan untuk dilihat adalah bulu mata saya yang lentik. Pada kenyataannya, saya shock berat karena bulu mata saya terlihat aneh, menempel di kelopak mata dan kaku seperti ijuk! Kalau dibuat adegan sinetron, mungkin si tokoh utama kembali pingsan melihat wajahnya sendiri di kaca.
“I-ini kenapa bulu mata saya lengket begini?”
Ayu ikutan melongo dan ikutan panik.
“Mbok, kok hasilnya begini ya?” Wajah Ayu terlihat prihatin melihat bulu mata saya yang gagal.
“Ini masih basah, jegeg. Nanti kalau sudah kering, lentik sendiri kok. Palingan prosesnya dua atau tiga hari.”
Apaaahhh??? Jadi dua hingga tiga hari ke depan wajah saya bakalan aneh begini?
Oke, karena masih penasaran, saya menunggu. Sehari, dua hari, tak ada perubahan. Bulu mata saya tetap berdiri kaku dan menempel di kelopak mata. Hari ke tiga, tetap saja begitu. Saya jadi senewen. Saya datangi salon itu untuk dimintai pertanggung jawaban. Aduh.. ini pasti malpraktek.
Saya sampai di depan salon yang masih tutup. Sepuluh menit, dua puluh menit, salon tidak juga terbuka.
“Mbok menunggu siapa?” Seorang anak kecil mengagetkan saya.
“Menunggu salon ini buka, adek.” Jawab saya sembari harap-harap cemas.
“Ooo.. orangnya pindahan sejak lusa. Katanya ke Lombok. Itu salonnya sudah kosong. Tiang*** tinggal di bekas salon itu. Mama tiang mau bikin toko. Nanti mbok kalau beli apa-apa  kesini saja.”
“APAAAAAHHH????”
Anti klimaks. Sinetron tamat, karena tokoh utamanya pingsan selamanya.

Hari hari saya selanjutnya saya lalui dengan bulu mata baru saya yang tegak berdiri menantang langit. Saya punya julukan baru untuk bulu mata saya yang tak kalah fenomenal dari si boneka buatan China. Julukan baru itu adalah Bulu mata sapu badai yang saya sandang selama tiga bulan!

*Mbok : Mbak
**Jegeg : Cantik
*** Tiang : Saya