Tuesday, 24 July 2012

Tips Memilih hotel untuk bekerja


Enaknya kerja di hotel mana, ya?
Berangkat dari secuil pertanyaan itulah, post kali ini ditulis.

Sebagai seorang staff hotel yang sudah duluan nyemplung di dunia perhotelan, saya banyak sekali menerima pertanyaan dari teman-teman seangkatan mengenai bagaimana memilih hotel yang tepat untuk bekerja. Maksudnya, menentukan hotel yang tepat dengan keinginan dengan standart yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kalau saya sudah mulai buka suara, mereka akan langsung mendengung, “aaahh…kalau mau kerja di hotel yang bagus kan sulit sekali! yang mana dulu saja lah.. yang penting diterima!”. Sejujurnya, statement seperti itu ada benarnya. Tapi, sebagai calon staff kita juga punya hak untuk memilih mana yang terbaik, baik dari segi keseharian kerja, upah, kebijaksanaan management, program hotel, hingga jenjang karir. Banyak juga rekan saya yang sudah jauh-jauh meninggalkan pekerjaannya di Surabaya dibela-belain ke luar pulau berpindah ke lain “hati” (baca: hotel) yang menyesal setelah bekerja di sana karena kenyataannya tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan sebelumnya. Sedikit tips berikut saya rangkum dari nasehat-nasehat orang-orang dekat dan saya alami sendiri. Semoga bisa membantu mahluk-mahluk galau di luar sana yang sedang bingung menentukan pilihan mau bekerja di hotel yang mana.

1.  Kenali kepribadian.
Loh? Ini bicara masalah hotel apa mau psikotes? Jangan salah! Nyari hotel itu ibarat nyari pacar. Harus pas dan sesuai dengan visi dan misi hati. Sebagus apapun hotelnya, kalau tidak sesuai dengan kepribadian anda, anda tidak akan enjoy kerja di sana. Semisal anda adalah seseorang yang menyukai segala hal yang baru dan cepat bosan dengan situasi yang statis. Anda pasti akan bĂȘte jika harus bekerja di business hotel yang begitu-begitu saja. Sebaliknya, bekerja di sebuah resort yang banyak turis, akan menjadi hal yang sangat menyenangkan buat anda. See?

2. Visi misi anda dalam bekerja.
Kebanyakan dari kita pasti memiliki tujuan tersendiri dalam bekerja. Misalnya, prioritas dalam pendapatan, atau prioritas dalam berkarir. Kalau prioritas anda adalah uang, hotel yang seharusnya dipilih adalah yang memiliki service charge yang tinggi dan memiliki banyak tamu. Semakin banyak tamunya, biasanya peluang untuk mendapatkan banyak tip juga semakin besar (dengan catatan, pekerjaan anda yang bersifat guest contact). Jika prioritas anda adalah karir, carilah hotel yang turn overnya tinggi. Maksudnya, banyak  staff yang keluar masuk. Dengan banyaknya vacancy di hotel tersebut, berarti peluang anda mendapatkan posisi baru juga lebih terbuka, bukan?

3. Kenali management hotel.
Beberapa rekan, juga saya, kadang tergiur untuk ‘loncat’ ke hotel sebelah yang baru buka dan berbintang sama. Mulanya sih iri juga melihat teman yang sudah loncat duluan dan bertengger dengan posisi baru yang lebih ‘wah’. Namun, setelah 3 bulan berjalan, muncullah keluhan-keluhan baru seperti “ternyata managementnya tidak bagus,” atau “waaahhh berantakan lah pokoknya di sana”. Nah, meski kelihatannya terlalu general, mengenali management itu penting. Saya jauh lebih percaya dengan management internasional semacam Starwood, Shangri La, Hyatt, JW. Marriott, dan sebagainya ketimbang management lokal yang baru beberapa tahun saja berdiri. Bukan saya meremehkan management lokal, namun sebagai pekerja seharusnya kita tahu ‘apa yang terjadi dengan perusahaan’. Berkaca dari pengalaman rekan saya yang ‘menclok’ ke hotel baru di sebelah dengan management acak adut, belum setahun berdiri, nama hotel dan managementnya sudah berubah. Nah, lo? Ada juga satu hotel yang ‘turun bintang’ sejak managementnya berubah. Jumlah bintang itu, bagi saya sangat berpengaruh dengan image dan kredibilitas sebuah hotel. Kalau bintangnya turun, otomatis, pendapatan akan turun karena harga kamarnya jadi lebih murah.

4. Sesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Banyak orang sukses di perantauan. Karena dengan berada di perantauan, alam mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian. Kalau situasi dan kondisi memungkinkan, bekerja di hotel di negeri ‘seberang’ sebetulnya lebih menjanjikan. Namun, kalau situasi dan kondisi tidak memungkinkan seperti saya (saya ngiler kerja di kapal pesiar), ya cari yang bagus di sekitar sini saja.

5. Business hotel atau resort?
Itu kembali ke passion anda masing-masing. Kerja di resort lebih santai karena lebih kasual. Kerja di business hotel terkesan kaku dan terlalu resmi karena memang standartnya seperti itu. Saya jadi ingat teman saya yang anak housekeeping di hotel yang mengeluh kerja di resort karena hampir semua kamar seperti kapal pecah pas check out. Sebaliknya teman saya yang kerja sebagai concierge di business hotel mengeluh karena susah sekali mendapat tip. Saya? mengeluh karena susah cari cowok bule ganteng di business hotel. Piiiiiissss!

Buat yang masih galau juga, baca juga post enak dan gak enaknya kerja di hotel
Jadi, sudah ada pilihan mau ‘nembak’ hotel yang mana?

Friday, 20 July 2012

W Retreat dan Spa Bali



Bulan april lalu, sebelum ke Singapore saya dan teman saya yang tajir melintir singgah ke Bali karena saat itu direct flight dari Surabaya ke Singapore tidak tersedia. Jadilah rencananya kami berangkat dari Surabaya ke Singapore tapi transit sehari di Bali. Sebagai salah satu hadiah ulang tahun, hadiahnya adalah bermalam di W Retreat and Spa di Seminyak, Bali. Mengapa Seminyak? Itu sih sebenarnya akal-akalan saya, alsannya karena Seminyak adalah satu-satunya wilayah selatan Bali yang hanya pernah saya lewati namun belum pernah saya singgahi. Ternyata teman saya ho-oh ho-oh saja. Asyiknya, ternyata jenis kamar yang dipesan adalah jenis villa dengan private swimming pool! Waaaaahhhh… jelas kami berdua girang setengah mampus.

W seminyak adalah brand W pertama dari Starwood Hotels di Indonesia. konsep yang diusung adalah retreat dan spa, meski saya perhatikan, konsep retreat atau berdiam diri sih tidak seberapa kentara karena ramai di sana sini. Lokasi retreat ini nyempil nun jauh di belantara Seminyak. Dari Ngurah Rai airport saja perjalanan dengan taxi hampir 45 menitan. Seminyak yang pernah saya lewati itu daerah yang ke arah pantai Petitenget, sebelah barat Sunset Road. Sedangkan untuk menuju ke retreat ini ternyata perlu sedikit perjuangan. Dari jalan utama kami memasuki sebuah gang kecil yang jalannya masih ancur, sebagian lagi malah tidak beraspal. Sekalinya beraspal polisi tidurnya di sana sini. Mana pak sopirnya ngebut, saya jadi suka terlonjak kesana kemari. 

Mengingat perjuangan yang payah, kami langsung hore-hore ketika melihat symbol W besar di kiri jalan.Tapi begitu taxi mau masuk dan berhenti sejenak untuk security checking, kami langsung kecewa, “lah kok cuma segini doang?” Saya lihat jalan utama menuju resort hanya sekitar 3,5 meteran, dengan pembatas tanaman bamboo hias. Saya tengok di sebelahnya lagi sudah ada beton setinggi 1,5 meter dan sudah menjadi wilayah resort sebelahnya. Lah masa seupil gini doang???

Taxi yang membawa kami mulai masuk ke dalam.  15 meter di depan, ada lagi symbol W besar yang di dalamnya ditanami berbagai tanaman hias. Saya makin penasaran. Rupanya untuk ke lobby utama masih harus masuk lagi. Kali ini kami melewati jalan utama selebar hampir 8 meter dan lobby sudah terlihat. Wow! Ternyata retreat ini beneran Wah! Kontras dengan seupilnya main gate di muka jalan, retreat ini luas amit-amit! Kami langsung check in sambil sesekali tengak tengok kiri kanan saking takjubnya. Di sebelah lobby saya lihat ada bar dengan tempat bersantai yang viewnya menghadap ke laut dengan deburan ombak yang kencang (jadi jangan harap bisa berenang di sini). Mengengok ke sebelah kanan, terdapat restoran yang menghadap langsung ke area swimming pool yang luas, lagi-lagi dengan back ground deburan ombak. Saya dan teman saya langsung kumat noraknya, ambil kamera, photo-photo narsis dengan berbagai back ground dengan pose narsis. Halah!


 Logo W di gate dalam

Proses check in selesai dan karena kamar sudah ready ( seharusnya check in timenya jam tiga sore, tapi karena kami maksa, mbak receptionnya kasian juga. Mungkin takut kalau kami tiba-tiba ngamuk karena ayannya kumat :P) kami diantar buggy ke sebuah villa yang lokasinya persis di sebelah kanan lobby. Hiyyyaaaaaa… berasa borju tiba-tiba!

Villa kami no. 5, terletak persis di deretan nomor 3 dari kiri. Mas bellboy yang lumayan ganteng (saya perhatikan sepertinya staffnya kebanyakan masih muda dan enak dilihat) memberikan key card dan kunci manual untuk membuka pagar (maksud saya pintu pagar) villa. Dasar ndeso, kami langsung ber OOOO.. ketika mas bellboy memperlihatkan cara menggunakan kartu. Selama ini kan kami thunya key card itu diinsert atau dimasukkan ke dalam lubang kunci, sedangkan di villa ini kami bingung gimana masukinnya karena gak ada lubangnya. Ternyata kartu cukup ditempel ke bagian induk kunci yang ada tanda lingkarannya. Dan pintu lantas terbuka. Ealah!

Noraknya kami belum mentok sampai di sini. Begitu masuk ke dalam, kami berdua langsung teriak-teriak ala bar bar begitu melihat ‘daleman’ si villa. Di depan kamar kami ada private swimming pool dengan long chair untuk berjemur, lengkap dengan  bed chairnya, handuk dan payung. Di seberangnya saya lihat ada gazebo di pojokan dengan bantal bantak malas yang membuat kami tidak sabar untuk bermalas-malasan.

Begitu mas bellboy membuka kamar kami, lagi-lagi kami ‘dipaksa’ untuk tercengang. Tempat tidur kami ukuran king bed dengan bantal bulu-bulu berasa di rumah banget. Di kiri dan kana nada amenities berupa mosquito repellent, lotion, air mineral dan gelasnya, lalu sebotol anti nyamuk merek baygon (asal lihat-lihat saja kalau mau minum dilihat dulu labelnya, baygon atau air mineral, hehe).  Berikutnya di sebelah kiri tempat tidur, ada kursi bulu bulu besar, sofa panjang yang benar-benar nyaman menghadap ke TV LED 42 inch, lalu searah jarum jam saya lihat ada lemari kayu kosong tempat menyimpang barang, lalu mini bar yang busyet banyak banget jenisnya. Pas di belakang tempat tidur, terdapat meja kerja dengan berbagai pernak perniknya semacam hotel directory,  Bali map, telephone, dan stationery. Masuk ke dalam lebih lanjut, memasuki area bathroom lagi-lagi membuat saya tercengang. Amenitiesnya buanyak dan luengkap! Ada body butter, seabrek sabun, lotion biasa, lotion buat berjemur, face wash, shampoo, conditioner, dan berbagai macam liquid lain merek bliss, yang masih ditambah mouthwash merek Listerine dalam botol kecil. Yang saya sebutkan tadi baru yang terdapat di wash basinnya saja. Sementara masuk ke dalam shower, atau mencoba nyemplung ke bath up, sabun dan teman-temannya juga sudah tersedia.


Bedroom dengan bantal bulu-bulu berasa di rumah


Salah satu sudut Bathroom dengan amenities bejibun


Private swimming pool favorit saya

Sebagai penutup kekaguman kami, mas bellboy mengambil sebuah remote di atas meja dan mengarahkannya ke tirai. Mulanya saya kira itu remote DVD atau TV, eh tidak taunya begitu salah satu tombol dipencet, tirai emacam screen proyektor itu naik turun perlahan secara otomatis. Wuiiiihhhh!!!! Mempermanis suasana, dia lalu menyalakan DVD blue ray di sebelah kanan meja kerja. Lagu yang diputar saat itu, I am Yours nya Jason Mraz yang ‘gue banget’.

Kamipun buru-buru ‘ngusir’ mas bellboy dengan selembaran dua puluh ribuan yang tersisa. Wah wah wah, benar-benar berasa di surga! Di sini baru konsep retreatnya terlihat, secara di villa kan kami cuma berdua. Dan memang sepiiiii sekali. Repotnya (kalau ini boleh dibilang suatu kerepotan karena pada dasarnya kami pemalas akut) kalau mau keluar kemana kami harus telepon call service untuk mengirim buggy ke villa kami. Jalan kaki sih Oke, tapi kalau malam kan malas sekali. Lokasi villa yang di tengah kebun begitu kan banyak nyamuk. Belum lagi gelap dan tidak ada siapa-siapa. Kalau tiba-tiba kami ketemu leak, gimana coba?

Besoknya setelah sarapan yang kesiangan, kami bergegas menuju swimming pool yang lokasinya dekat pantai. Jangan dikira kami mau berenang, ya. Nope! Tujuan utama kami hanya melihat-lihat pemandangan spektakuler ombak pagi menjelang siang dan pura-pura berjemur sambil ngecengin cowok ganteng, dengan catatan kalau ada. Rupanya, selain jenis kamar villa kami juga menemukan jenis kamar suite yang lokasinya menghadap ke pantai dan kolam renang. Segerombolan bule ganteng sih mulai bermunculan, tapi masing-masing menggandeng ceweknya. Ada sih yang single, tapi tuwir-tuwir begitu. Berewokan lagi. Iiiihhhh!!! Kamipun pura-pura sibuk in action (pasang aksi poto-poto) ketika bule berewokan itu berserobot pandang dengan kami.


Spot favorit tempat saya ngecengin cowok ganteng

Tak terasa sudah jam 11 siang, saatnya kami segera berkemas dan menuju airport dan terbang lagi ke Singapura. Dengan berat hati, kami berjalan gontai menuju receptionist untuk check out. Kami memandang sekeliling untuk menikmati pemandangan sekaligus nyari cowok ganteng (sempat-sempatnya, ya?) sebelum kami pulang. Eh, ternyata kali ini keinginan kami terkabul. Seorang cowok ganteng topless menuju ke arah kami, menunggu buggy sambil ngajak kenalan. Kami hampir setengah pingsan saking girangnya. Sayangnya kami harus segera cabut, kalau tidak mau ketinggalan pesawat. Jadilah, kami hanya basa basi saja dengan si bule. Reception yang sudah selesai memprint out tagihan kami menunjukkan total bill yang harus kami bayar. Di kertas tagihan itu tertulis, 10 Juta untuk menginap di surga selama semalam saja! Oh GOD! Kali ini kami berdua mau pingsan beneran!