Wednesday, 20 June 2012

I love Front Desk!


Kalau ada yang iseng nanya, kenapa dari sekian banyaknya section yang ada di hotel saya lebih milih front office atau FO, saya punya alasan personal yang cukup masuk akal. Pertama, sewaktu kuliah, mata kuliah yang paling saya kuasai itu yang menyangkut front desk. Saya bela-belain kursus bahasa Inggris dan bayar mahal guru bule supaya bahasa Inggris saya lancar ya, untuk bisa kerja di front desk. Jadi, apa yang saya kira paling saya kuasai, itu yang saya tekuni. Mengenai penguasaan terhadap mata kuliah ini, jamannya saya kuliah saya paling males dengan housekeeping. Sebenarnya menarik juga belajar mengenai bidang ini secara teoritis, saya jadi tahu mengenai chemical-chemical yang digunakan untuk membersihkan property seperti berbagai macam lantai dan mulai belajar mengenai bahan-bahan atau material dasar linen serta cara merawatnya dengan benar. Kalau dipikir-pikir, keren juga sih. Tapi pas praktek housekeeping, dngan rese’nya dosen menyuruh kami – mahasiswanya yang polos dan lugu- untuk ngepel lantai dan membersihkan toilet kampus yang ampun deh joroknya. Huek! Saya langsung ilfil dan mulai berfikir bahwa ternyata pelajaran housekeeping itu asyik pas teori tapi bikin ilfil pas praktek. Saya jadi ingat saat ujian akhir dan ujiannya praktek housekeeping, saya kebagian tugas making bed (menata tempat tidur) dan brushing lantai menggunakan brushing machine. Making bed ditarget 5 menit dan saya molor 2 menit, sedangkan pas brushing menggunakan mesin, saya sukses nabrak dinding kelas hingga itu dinding jadi gak cantik lagi karena bocel-bocel. Duh! Untungnya nilai ujian tulis saya bagus sehingga lumayan bisa mengatrol nilai ujian prakteknya.

Alasan kedua adalah karena saya cinta kebersihan. Kerja di front desk itu artinya dituntut untuk selalu berpenampilan bersih dan rapi, alasannya karena kesan pertama tamu adalah dari front desknya. Jika kesan pertama sudah bagus, maka selanjutnya terserah anda. Halah, iklan banget!

Alasan ketiga, section besar yang belum saya sebutkan sebelumnya juga sama sekali tidak membuat saya tertarik. Yap, yang saya maksud adalah kitchen section atau apalah yang berhubungan dengan masak memasak. Sejak kecil, saya tidak pernah melihat ada tanda-tanda ada bakat memasak dalam diri saya. Pas saya kuliah, saya juga tidak suka harus berjibaku dengan kompor dan wajan di dapur kampus untuk praktek food product. Selain tidak ada bakat, saya juga malas sekali harus berpanas-panasan dan berkotor-kotoran dengan bahan makanan terutama yang mengandung minyak. Saya jadi ingat, setiap kali pulang praktek memasak, yang saya selalu lakukan adalah mandi keramas dan mencuci baju dan semua kelengkapannya seperti celemek dan topi karena sekujur tubuh saya berminyak dan bau rempah-rempah.

Sebenarnya, food product itu dibagai dalam dua golongan besar, yaitu food product sendiri (yang memproduksi berbagai macam makanan) dan pastry (memproduksi berbagai macam roti, kue dan sejenisnya). Meskipun lebih menyenangkan, pelajaran pastry ini juga tidak membuat saya berminat karena lagi lagi alasan bakat. Jangankan membuat tiramisu, membuat kue ‘gagal’ seperti brownies saja saya tidak becus. Problemnya kurang lebih sama, hasil kue buatan saya bantat.

Saya jadi teringat dua tahun lalu, saya berniat merayakan ulang tahun saya sekaligus merayakan natal bareng keluarga pacar karena kebetulan hari ulang tahun saya berdekatan dengan perayaan natal. Saya membantu calon ibu mertua membuat sponge cake dalam jumlah lumayan banyak, sekitar 10 pan yang rencananya akan dibagikan kepada tetangga dan kerabat, dan sebagian lagi dibawa ke gereja. Percobaan pertama sih sukses, pan cake buatan saya dan camer hasilnya mengembang bagus. Percobaan kedua, pas ketika camer sedang mengaduk adonan, seorang teman gereja menelpon dan meminta beliau ikut latihan karawitan untuk perayaan natal di gereja saat itu. Beliau langsung cabut dan menyerahkan semua pekerjaan itu kepada saya. Inilah ujian terberat, karena kredibilitas saya sebagai mahasiswa perhotelan diuji saat itu. Bagaimana tidak, camer saya tahunya saya diajari pastry di kampus dan pastinya bisa mengerjakan PR ini sendiri. Yang beliau tidak tahu, bakat adalah hal terpenting yang menurut saya harus ada, dan celakanya itu tidak dianugerahkan kepada saya. Singkatnya, seperti biasa hasil karya saya kempes dan bantat, dan saya malu luar biasa kepada beliau karena hal ini. Sebagai gantinya, akhirnya kami beli yang sudah jadi di toko roti. Hiks, memalukan sekali!
                                                                                                                 
Buat anda yang juga kerja di hotel, section apa yang paling anda sukai?

9 comments:

Post a Comment