Thursday, 28 June 2012

Mahalnya Singapore


Salah satu negara di Asia tenggara yang dari dulu ingin sekali saya singgahi adalah Singapura. Secara saya penasaran, bagaimana negara semungil itu bisa lebih maju daripada negara kita yang notabene lebih besar dan jauh lebih melimpah kekayaan alamnya. Selain karena alasan itu, saya juga penasaran seperti apa hotel-hotel yang ada di sana, sekalian melakukan kebiasaan norak saya kalau lagi jalan ke luar, yaitu membandingkan harga dengan negara sendiri untuk mengukur taraf hidup.

Beruntungnya saya memiliki teman tajir yang baik hati yang bulan april lalu membawa saya ke negara mini ini. Karena lama tinggal di Australia yang notabene cost of livingnya lebih tinggi, saya kira dia tidak akan kaget kalau nanti di Singapore harganya selangit. Eh, nyatanya sebelum berangkat dia agak-agak khawatir juga. Sempat dia bilang kalau cost of living di Singapore itu hampir sama dengan di Ostrali. Saya jadi deg deg ser, tiket pesawat dan akomodasi sih sudah ditanggung, tapi kalo yang lain ya bayar sendiri. Saya jadi keder juga. Takut kalau uang di tabungan terkuras gara-gara jalan ke Singapore. But show must go on… lagi pula ini destinasi impian yang sudah sejak lama saya inginkan.

Kami tiba di Changi airport jam 2 siang. Belum juga selesai terheran-heran dengan airport Singapore (yang benar-benar jauuuuuuuuhhh bedanya kebersihan dan kemewahannya jika dibandingkan dengan airort-airport yang pernah saya singgahi di negeri sendiri) seseorang berjas hitam yang membawa papan bertuliskan nama kami datang menghampiri. Rupanya, dia seorang driver hotel yang menjemput kami di airport. Teman saya sempat mengatakan kalau dia pesan deluxe car. Saya sih tidak ada ekspektasi apa-apa, namanya deluxe itu biasanya jenis yang paling murah, meskipun kedengarannya ‘wah’. Saya hanya penasaran, kira-kira di Singapore itu jenis mobil yang paling bnyak digunakan jenis mobil apa? Apakah mobil impor Jepang atau Eropa, atau mereka punya mobil nasional? Belum juga rasa penasaran saya terbayar, mobil driver yang saya kira mobil murahan ternyata jenis Mercy S-class! Wiiiiiiihhh…! Kalau yang level deluxe saja sudah mercy, gimana yang level di atasnya? Sayapun gatel bertanya ke pak drivernya. Dan dia dengan enteng jawab, “Audy!”. Wiiiiihhh… Saya makin melongo.

Hotel yang telah terpesan saat itu Mandarin Oriental, rupanya lokasinya lumayan jauh dari bandara. Taxi driver yang membawa kami orangnya ternyata asyik juga. Sepanjang perjalanan kami diajak ngobrol dan dia juga sedikit cerita mengenai negaranya, tempat-tempat yang wajib dikunjungi, peraturan-peraturan  hingga denda. “Singapore is a fine country!” katanya lagi.

Tiba di hotel, kami disambut ramah seorang staff bule yang cantik. Kamar yang kami dapat juga benar-benar wow… jauh dari yang saya harapkan (fyi, saya tidak banyak berharap karena toh saya cuma numpang, hehehe). Saya sebetulnya sudah menyarankan untuk tinggal di hotel chain yang satu perusahaan dengan hotel saya. Tariff untuk saya hanya 50% dari tariff normal dan tanpa breakfast. Lumayan lah, lagian saya tidak terlalu suka sarapan a la hotel yang isinya hanya roti-rotian saja. Sekarang saya tahu kenapa teman saya nolak. Karena hotel yang dia pilih benar-benar jauh lebih bagus dari pada hotel yang saya sarankan. Meskipun untuk itu, dia harus merayu orang tuanya untuk mengeluarkan kocek lebih dalam sebanyak 8 kali lebih mahal dari plan semula.

Destinasi pertama yang ingin kami tuju sebenarnya adalah Merlion park, yang lokasinya lumayan dekat dari hotel (bahkan dari kamar hotelpun, sebenarnya kami sudah bisa menikmati pemandangan landmark Singapore, mulai Marina Bay sand yang bentuknya seperti perahu, stadion bola, taman kota hingga Merlion Park) namun, karena cuaca sedang tidak bagus dan hujan mulai turun, kami naik taxi ke Jewel box. Saya kira apaan, karena untuk kesana saya harus patungan merogoh kocek lumayan dalam untuk bayar taxi yang cuma jalan 10 menit saja tariffnya sudah di atas 100 ribuan. Ternyata Jewel Box itu semacam cable car yang destinasinya ke Sentosa Island! Waaahhh… saya langsung semangat tapi balik lemes lagi saat harus bayar tiket. Per orangnya kalau dirupiahin saat itu sekitar 500ribuan. Apaaaaahhhh????!!!

Eniwei pemandangan yang dilalui cable car ini benar-benar spektakuler. Sebetulnya saya pernah juga naik cable car di puncak, Bogor, namun tidak setinggi dan seindah yang ini. Untungnya saya tidak fobia ketinggian, jadi enak saja menikmati pemandangan indah a la bird’s eye. Sedangkan teman saya sibuk nutup mata dan pegangan lengan saya kuat-kuat. Lah kalau takut ketinggian, buat apa bayar mahal-mahal naik beginian??!

Sesampainya di Sentosa Island, dasar kere, kami langsung menuju ke museum cable car (karena itu satu-satunya wahana yang gratis), lalu poto-poto norak berbagai pose. Jalan keluar dari museum ini ternyata melewati toko souvenir yang barangnya bujubuset mahal. Gantungan kunci logam berbentuk ikon Singapore misalnya, harganya rata-rata sedolaran (padahal satu dolarnya kalau dirupiahin sudah delapan ribuan). Sedangkan gantungan kunci terbuat dari acrylic yang berbentuk cable car harganya malah 5 dolaran. Busyeeettt!!!

Oke, karena sudah terlanjur ada di Sentosa, kami lalu mengublek-ublek seisi Sentosa, mulai Tiger sky tower, The image of Singapore, hingga the giant statue. Itu tuh, patung singa raksasa yang menjulang tinggi di tengah rimbunnya Sentosa island. Saya urung masuk Tiger Sky tower karena teman saya fobia ketinggian. Saya takut begitu nyampek atas, dia nyakar muka saya saking parnonya. Supaya aman, kami masuk ke wahana ‘The image of Singapore yang isinya kurang lebih cuma patung lilin yang dirancang sedemikian rupa menceritakan awal mula terbentuknya negara Singapura, hingga manusia hologram yang nongolnya hanya sekitar lima menitan di awal acara.  Bosan, kami lalu ke giant statue, lagi-lagi latihan buat teman saya supaya tidak takut ketinggian. Rupanya, untuk menuju kesana kami harus melalui escalator-eskalator otomatis. Lagi asyik-asyiknya jalan, segerombolan anak muda dengan seragam warna hijau menyerobot jalan. Belum juga kaget kami hilang, segerombolan lain berseragam merah berlarian ke arah kami, meyerobot jalan lalu berlari ke rimbunan semak-semak. Berikutnya, satu kru televisi datang dan mewawancarai kami. Rupanya, mereka tadi itu peserta acara reality show suatu stasiun TV swasta. Kamipun diwawancarai sebentar. Noraknya! Bahkan di negeri sendiripun kami belum pernah masuk tipi. Hehehehe…

The giant statue yang kami tuju ternyata hanya sebuah tower dimana kami bisa menikmati pemandangan indah sentosa Island dari ketinggian. Teman saya rupanya sudah sedikit terbiasa, buktinya dia suda berani jalan sendiri tanpa harus pegangan tangan saya (saya sampai geli dan  takut pasaran turun karena bisa jadi orang mengira kami lesbi). Sesampainya di atas ternyata ada juru foto yang memotret kami dengan tiga pose garing, satu pose biasa, pose mengaum dengan tangan membentuk cakar di udara, dan terakhir pose kedua tangan menengadah yang kami masih gak ngerti maksudnya apa. Begitu turun mau keluar, lagi-lagi kami harus melalui toko souvenir. Ketika mau melenggang, seseorang memanggil.
“your photo miss. Don’t you want to print them?” katanya.
Ketika menoleh, ternyata photo kami yang diambil photographer di atas patung tadi sudah terpampang manis di monitor seukuran kira-kira 24 inchi. Karena hasilnya bagus, kami gatel mau ngeprint.  Kirain gratis karena sudah termasuk harga tiket masuk, eh ternyata kami harus bayar 15 dolar per lembarnya. Total kami bayar 45 dolar untuk ngeprint photo ukuran 5R itu. Duuuhh….!

Sekembalinya dari sentosa, karena lapar, kami memutuskan untuk makan di China town. Dari berbagai referensi, makan di China town itu salah satu cara wisata kuliner murah karena barang dan makanan yang dijajakan bagus, murah dan enak. Kamipun lagi-lagi tancap gas ke China town pakai taxi yang argonya bikin mampus. Sekalinya sampai, kami nemu restoran kecil menjual masakan cina. Karena restorannya kecil (hampir miri kedai gitu), saya kira harga makanannya juga akan murah. Begitu disodori buku menu, lagi-lagi kami dibikin shock. Makanannya sih biasa saja, tapi minuman yang tersedia hanya wine dan wine. Kalaupun ada air, adanya yang sparkling water. Chinese tea juga tidak ada. Teman saya yang doyan wine langsung hepi, sedang saya bingung mau minum apa. Sayapun akhirnya nyogok minta dibelikan cola dari toko sebelah. Memang kombinasi yang aneh. seumur-umur baru kali ini saya makan masakan cina minumnya cola.  Sudah aneh, harganya (yang katanya murah) bagi saya juga masih mahal. Harga souvenir yang ditawarkan juga sama, sedolaran perbijinya. Heeeelp!!!

Besoknya kami jalan-jalan ke Merlion dan Marina Bay Sand. Ke Merlionnya sih murah, karena gratis gak usah bayar. Hanya repotnya, mau foto-foto jadi gak asyik karena terlalu banyak orang. Pas ke Marina Bay sand, lagi-lagi kami harus bayar untuk bisa ke invinity (sebutan untuk kapal kesasar itu..). Seumur-umur saya masuk hotel dimana-mana gratis kecuali kalau makan dan minum, tapi di sini kami mesti bayar lagi bayar lagi. Tapi pemandangan dari atas invinity memang luar biasa, selain pemandangan alamnya yang wow, ternyata pemandangan di kolam tertinggi inipun wow, banyak bule-bule ganteng bertebaran di mana-mana. Hehehehe…


*)Pemandangan spektakuler dari Invinity

Rupanya hotel ini nyambung jadi satu dengan lokasi casino dan mall besar. Kami hanya nengok ke casino karena tidak bawa passport, karena untuk masuk kami harus menunjukkan passport. Kami lalu jalan-jalan ke mallnya. Bener-bener gede dan baguuussss…. Dan tentu saja mahal, secara brand-brand yang terpajang juga merk-merk mahal.

Perjalanan berikutnya adalah ke Orchard road. Karena seorang teman yang suka ngompor-ngomporin, jadilah saya ke sana, kirain ada apa, ternyata orchard road itu isinya hanya mall dan toko- toko doang! Beuh beuh.. Sepanjang perjalanan isinya toko lagi toko lagi! Karena kelaparan jalan-jalan seharian dan hanya bisa ngeces, kami putuskan ke China town lagi karena sepanjang jalan tidak ada restoran. Kalaupun ada, ya jenis yang mahalan yang tentu saja berat di kantong. Taxi yang kami tumpangi kali ini drivernya masih muda dan ganteng, sayangnya cuek banget, jarang ngomong karena dia sibuk dengan ipad 2 nya di dasbor mobil. Kirain dipakai buat Gps, eh gak taunya buat chatting sama girlfiend-nya. Keren sih, taxi driver aja udah bawa ipad kemana-mana. Saya yang orang hotel juga gak punya ipad. Gimana yang kalangan eksekutifnya ya?Sedang di negara kita, yang punya ipad cuma golongan tertentu saja. Saya yang orang hotel saja belum mampu beli. Hiks, kasihan sekali saya… 

Overall, bagi saya Singapore tetap menjadi negara impian, melihat modernitas, kebersihan dan ketertibannya, membuat saya saya selau ingin kembali mengunjunginya lain waktu. Selain karena cost of living yang tinggi, saya sangat merekomendasikan negara ini untuk menjadi salah satu tujuan wisata saat libur. Yang menyedihkan, ketika menulis post ini, saya jadi ingat tabungan saya yang tipis akibat saya gasak selama di sana. Singapore, please return back my money!

Thursday, 21 June 2012

Chinese Party


Kerja di hotel yang juga memiliki ballroom yang berfungsi salah satunya sebagai tempat pesta kawinan, membuat saya memperhatikan orang-orangnya. Saya perhatikan, dari 10 pesta kawinan, sebanyak 9 diantaranya adalah kawinan orang Cina. Pestanyapun selalu heboh, dengan dekoran yang meriah dan tamu yang tidak hanya ratusan tapi hingga ribuan orang.  Karena pestanya saja sudah heboh, tamu yang datang (terutama tamu perempuan) juga tidak kalah heboh dandanannya, kalau tidak berpakaian a la barat (mirip artis Hollywood yang pakai gaun-gaun backless gitu), ya pakai baju a la Cinderella dan berwarna-warni, belum lagi dengan sepatu berhak belasan centimeter, dan tatanan rambut dengan sanggul tinggi dan berbagai aksesorisnya yang berkelap kelip. Silau man! Saya sampai susah membedakan yang mana yang mempelai yang mana yang tamunya karena dandanannya sama hebohnya. Namun kebanyakan, mempelai itu standartnya pakai gaun berwarna putih, sedangkan tamunya pakai gaun ngejreng warna warni. Saya perhatikan, pilihannya kebanyakan kalau bukan merah menyala ya biru ngejreng. Halah!

Bicara mengenai dekoran yang juga heboh, kadang-kadang saya suka takjub sendiri. Harga yang ditawarkan  pihak dekor untuk membuat dekoran semeriah itu ternyata tidaklah murah. Yang paling sederhana biasanya kisaran puluhan juta rupiah, dan yang paling mahal hingga ratusan juta rupiah, tergantung jenis dekoran yang diminta dan request bunga segar jenis apa yang hendak dipakai. Kalau sedang iseng pingin berhitung, saya kadang sampai bawa kalkulator dan berhitung sendiri. Harga 1 tangkai bunga mawar segar sekitar 700 hingga seribu rupiah untuk harga supplier. Nah, jika dekorannya heboh, bisa menghabiskan hingga puluhan ribu tangkai bunga mawar, belum lagi dengan jenis bunga lainnya, dan kalau dihitung-hitung biayanya sudah mahal. Di hotel Mandarin oriental Bangkok saya pernah lihat dekoran ballroom yang seluruh dindingnya dihias bukan dengan tirai seperti umumnya tapi menggunakan bunga  anggrek warna putih. Silahkan membayangkan sendiri berapa ongkosnya. Yang bikin saya kagum lagi, orang dekor kerja seperti sulap. Baru saja kemarin sore saya lihat ballroom masih kinclong kosong, paginya saya lihat sudah heboh dekorannya. Eeeehh.. besoknya saya lihat sudah kinclong lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa malam sebelumnya. Ckckck…

*)Decor full white Orchid di hotel Mandarin Oriental Bangkok


Kredibilitas dan tingkat kekayaan seorang mempelai biasanya juga bisa dilihat dari pestanya. Umumnya seorang mempelai yang memiliki perusahaan besar, di pesta kawinannya akan terpajang papan karangan bunga beraneka rupa dari berbagai perusahaan dan bank. Semakin terkenal orangnya dan semakin besar perusahaannya, maka semakin banyak pula papan karangan bunga berisi ucapan selamat yang menghiasi lobby hotel. Kalau orangnya tajir sekali dan perusahaan yang dimiliki besar sekali, karangan bunga yang terpajang kadang-kadang sampai meluber ke jalan saking penuhnya. Padahal karangan bunga semacam itu tidak murah loh… Saya pernah iseng tanya harga ke seorang florist yang kebetulan mengantar karangan bunga ke lobby. Katanya yang paling murah sekitar 800 ribuan hingga jutaan, tergantung desain dan  (lagi-lagi) tingkat kehebohan bunga yang dipasang. Ya ampun, kalau papan bunganya aja bisa semahal itu, lantas berapa ya kira-kira angpau yang diberikan untuk mempelainya? Gaji saya setahun atau lebih mungkin ya…? Wah wah wah… dengan duit segitu sih saya sudah bisa beli mobil dong ya… *)hehehehe.. ngayal deh ya…!

Salah satu acara adat kawinan orang Cina keturunan ada yang mirip dengan acara tujuh bulanan bayi adat Jawa, yaitu menaburkan beras kuning yang di dalamnya juga ada uang koinnya, biasanya besaran 500 hingga seribu perak. Bedanya, kalau orang Jawa menabur koin dan beras kuning itu perlambang berbagi kebahagiaan dengan sesama karena uang koinnya jadi rebutan (umumnya anak-anak kecil), nah kalau di tradisi Cina, lempar uang koin itu perlambang buang sial.  Saya tahunya saat suatu hari di briefing pagi, salah seorang duty manager menyinggung staff concierge yang bukannya bertugas saat pesta berlangsung, malahan sibuk mungutin uang koin. Lah, mau kena sial mas?

Umumnya, pihak mempelai selalu menyiapkan souvenir untuk para tamu undangan yang telah datang. Biasanya berupa cangkir cantik bertuliskan nama mempelai, kipas unik, parcel mini, hingga handuk cantik. Namun, saya pernah menjumpai souvenir paling aneh yang membuat saya sampai tergelak. Bukan pesta kawinan sih, tapi kali ini pesta ulang tahun ke 80 seorang kakek keturunan Cina. Katanya nih, dalam tradisi orang Cina keturunan, umur 80 tahun itu harus dirayakan sebagai ungkapan syukur panjang umur. Biasanya souvenir yang dibagikan juga wajar dan standar, namun souvenir kali ini boleh dibilang aneh, yaitu berupa satu paket berisi obat-obatan, vitamin dan anti biotik. Halah, lansia sekali ya?

Salah satu pesta Chinese aneh yang pernah saya jumpai lagi adalah pesta ulang tahun seorang anak berumur 2 tahun. Bukan orangnya yang aneh,  namun susunan menunya. Jadi di BEOnya (Banquet Event Order) saya lihat untuk anak-anak disediakan kid’s buffet, ada juga adult buffet dengan tambahan booth untuk bar yang menyediakan draught beer dan aneka alcoholic drink yang menyediakan berbagai macam cocktail on request dan wine aneka rupa. Nah lo? Ini bapaknya atau anaknya sih yang mau pesta?

Wednesday, 20 June 2012

I love Front Desk!


Kalau ada yang iseng nanya, kenapa dari sekian banyaknya section yang ada di hotel saya lebih milih front office atau FO, saya punya alasan personal yang cukup masuk akal. Pertama, sewaktu kuliah, mata kuliah yang paling saya kuasai itu yang menyangkut front desk. Saya bela-belain kursus bahasa Inggris dan bayar mahal guru bule supaya bahasa Inggris saya lancar ya, untuk bisa kerja di front desk. Jadi, apa yang saya kira paling saya kuasai, itu yang saya tekuni. Mengenai penguasaan terhadap mata kuliah ini, jamannya saya kuliah saya paling males dengan housekeeping. Sebenarnya menarik juga belajar mengenai bidang ini secara teoritis, saya jadi tahu mengenai chemical-chemical yang digunakan untuk membersihkan property seperti berbagai macam lantai dan mulai belajar mengenai bahan-bahan atau material dasar linen serta cara merawatnya dengan benar. Kalau dipikir-pikir, keren juga sih. Tapi pas praktek housekeeping, dngan rese’nya dosen menyuruh kami – mahasiswanya yang polos dan lugu- untuk ngepel lantai dan membersihkan toilet kampus yang ampun deh joroknya. Huek! Saya langsung ilfil dan mulai berfikir bahwa ternyata pelajaran housekeeping itu asyik pas teori tapi bikin ilfil pas praktek. Saya jadi ingat saat ujian akhir dan ujiannya praktek housekeeping, saya kebagian tugas making bed (menata tempat tidur) dan brushing lantai menggunakan brushing machine. Making bed ditarget 5 menit dan saya molor 2 menit, sedangkan pas brushing menggunakan mesin, saya sukses nabrak dinding kelas hingga itu dinding jadi gak cantik lagi karena bocel-bocel. Duh! Untungnya nilai ujian tulis saya bagus sehingga lumayan bisa mengatrol nilai ujian prakteknya.

Alasan kedua adalah karena saya cinta kebersihan. Kerja di front desk itu artinya dituntut untuk selalu berpenampilan bersih dan rapi, alasannya karena kesan pertama tamu adalah dari front desknya. Jika kesan pertama sudah bagus, maka selanjutnya terserah anda. Halah, iklan banget!

Alasan ketiga, section besar yang belum saya sebutkan sebelumnya juga sama sekali tidak membuat saya tertarik. Yap, yang saya maksud adalah kitchen section atau apalah yang berhubungan dengan masak memasak. Sejak kecil, saya tidak pernah melihat ada tanda-tanda ada bakat memasak dalam diri saya. Pas saya kuliah, saya juga tidak suka harus berjibaku dengan kompor dan wajan di dapur kampus untuk praktek food product. Selain tidak ada bakat, saya juga malas sekali harus berpanas-panasan dan berkotor-kotoran dengan bahan makanan terutama yang mengandung minyak. Saya jadi ingat, setiap kali pulang praktek memasak, yang saya selalu lakukan adalah mandi keramas dan mencuci baju dan semua kelengkapannya seperti celemek dan topi karena sekujur tubuh saya berminyak dan bau rempah-rempah.

Sebenarnya, food product itu dibagai dalam dua golongan besar, yaitu food product sendiri (yang memproduksi berbagai macam makanan) dan pastry (memproduksi berbagai macam roti, kue dan sejenisnya). Meskipun lebih menyenangkan, pelajaran pastry ini juga tidak membuat saya berminat karena lagi lagi alasan bakat. Jangankan membuat tiramisu, membuat kue ‘gagal’ seperti brownies saja saya tidak becus. Problemnya kurang lebih sama, hasil kue buatan saya bantat.

Saya jadi teringat dua tahun lalu, saya berniat merayakan ulang tahun saya sekaligus merayakan natal bareng keluarga pacar karena kebetulan hari ulang tahun saya berdekatan dengan perayaan natal. Saya membantu calon ibu mertua membuat sponge cake dalam jumlah lumayan banyak, sekitar 10 pan yang rencananya akan dibagikan kepada tetangga dan kerabat, dan sebagian lagi dibawa ke gereja. Percobaan pertama sih sukses, pan cake buatan saya dan camer hasilnya mengembang bagus. Percobaan kedua, pas ketika camer sedang mengaduk adonan, seorang teman gereja menelpon dan meminta beliau ikut latihan karawitan untuk perayaan natal di gereja saat itu. Beliau langsung cabut dan menyerahkan semua pekerjaan itu kepada saya. Inilah ujian terberat, karena kredibilitas saya sebagai mahasiswa perhotelan diuji saat itu. Bagaimana tidak, camer saya tahunya saya diajari pastry di kampus dan pastinya bisa mengerjakan PR ini sendiri. Yang beliau tidak tahu, bakat adalah hal terpenting yang menurut saya harus ada, dan celakanya itu tidak dianugerahkan kepada saya. Singkatnya, seperti biasa hasil karya saya kempes dan bantat, dan saya malu luar biasa kepada beliau karena hal ini. Sebagai gantinya, akhirnya kami beli yang sudah jadi di toko roti. Hiks, memalukan sekali!
                                                                                                                 
Buat anda yang juga kerja di hotel, section apa yang paling anda sukai?

Tuesday, 5 June 2012

Ketika Orang Jepang Ngomong Inggris...




Meskipun teman ekspat Jepang saya sudah tinggal di Indonesia lebih dari sepuluh tahun dan bahasa Indonesianya sudah lancar, bukan berarti saya selalu mengerti apa yang dia katakan. Orang Jepang yang saya tahu itu tidak bisa mengatakan huruf ‘L’ dengan baik dan benar. Misalnya, suatu hari saat kami membicarakan masalah kenaikan harga ikan (karena dia eksportir ikan), dia bilang, “ah… itu mahar..”. Kalau saya sih, sudah mulai paham, maksud dia tuh mau ngomong mahal, bukannya tiba-tiba ngomongin mahar buat kawinan. Hehehe…

Yang kedua, orang Jepang biasanya tidak bisa mengucapkan membaca huruf mati, kecuali huruf ‘N’. Misalnya class yang seringnya dibaca ‘kurasu’. Itupun kalau huruf ‘N’nya terletak di akhir kata, maka yang keluar biasanya kata sengau yang terdengar seperti ‘ng’. Misalnya makan yang berubah menjadi ‘makang’, sen menjadi ‘seng’, aircon (AC) terdengar seperti ‘eakong’, dan sebagainya.

Well, ceritanya, suatu hari selesai inspeksi dari pabrik ikan, teman saya ngajak nongkrong. Karena tidak tahu mau kemana, diapun berinisiatif, mengajak saya ke ‘makudo’. Saya yang kurang mengertipun mengklarifikasi,
“hah? Makudo? Dimana itu?”
“iya. Makudo narudo. Ada di dekat sini” katanya lagi.
Saya sampai bingung. Apa itu makudo. Eh, makudo narudo. Saya sibuk mengingat-ingat apa ada cafĂ© ala Jepang di sekitar sini yang baru buka dan bernama ‘Makudo Narudo’. Ah, saya rasa kok tidak ada. Apa sejenis toko mainan yang menjual replica tokoh anime Naruto ya? Ketika mau bertanya, mobil yang kami tumpangi belok ke arah parkiran restoran fast food paling happening sejagad, yaitu MCD!!! So, yang dari tadi dia omongin itu ternyata cuma MCD! Oh no! MCD gitu loh…!

Sampai di dalam MCD saya belum berhenti tertawa karena spelling yang kacau ini. Si ekspatpun lalu minta diajari cara ngomong MCD yang baik dan benar. Tapi yang keluar kok jadi aneh, mulai dari ‘mekede’, ‘makudo’, ‘mekedo’, sampai ‘mekudi’. Ah, sudahlah! Si Jepang pun sudah mulai ampun-ampun mengeluh rahangnya capek karena harus mengulang kata yang sama dan gak bisa-bisa juga. Karena susah, kamipun sepakat menyebut MCD dengan ‘mekudi’, karena hanya kata itu yang paling mirip. Daripada ‘mekudo’, jauh amat kan?
Karena ngomong MCDnya udah mendingan, jadilah kami mulai memesan makanan dan si Jepang dengan pedenya order,
“Saya mau 1 ‘sandoichi’ dan cola!”
Saya +Mas-mas MCD: bengong pandang-pandangan. Sandoichi??? Sandwich kaleeeeee….

Jangan dikira perbincangan kami yang kacau dengan menggunakan kata serapan berbahasa Inggris mentok sampai di sini. Sambil menikmati ‘sandoichi’ (yang kedengerannya lebih mirip merk sandal jepit), diapun cerita mengenai jaman dia masih bekerja di Jepang. Jadi ceritanya, di kantor dia punya rekan kerja dari Amrik 3 orang, masing-masing bernama Nikooru, Kaeru, dan Jemusu. Jangan kaget, ini bukannya orang Jepang yang jadi imigran di Amrik trus balik ke Jepang loh, tapi beneran orang Amrik yang namanya sudah ‘dijepangkan’. Nikooru itu aslinya bernama Nicole, Jemusu itu berasal dari nama James, sedangkan Kaeru (yang berarti kodok dalam bahasa Jepang) itu aslinya Kyle. Kasihan sekali si Kodok, eh si Kyle yang berubah namanya jadi kodok. Hehehe.. Mereka berempat ini, ceritanya kompak banget baik di dalam hal bekerja atau di luar kerja. Mereka suka keluar nonton film, apalagi yang actor utamanya ‘Burapi’. Pasti bingung kan, siapa itu Burapi??? Burapi atau kadang-kadang disebut Burapido itu Brad Pitt! Hah, kacau juga ya, sampai Brad Pitt juga tidak luput dari ‘siksaan’. Hwahwahwahwa…

Untungnya nama saya Anna, yang ada huruf vokalnya baik di depan dan di belakang kata. Jadi tidak mungkin diplesetkan menjadi nama baru yang aneh. Syukurrr….

Eniwei meskipun orang Jepang susah mengucapkan kata berbahasa Inggris, ternyata  tidak semua orang Jepang seperti itu. Setidaknya ayah saya yang orang Jepang bahasa Inggrisnya bagus dan bisa mengucapkan huruf ‘L’ dengan baik dan benar, lalu dua teman Japanese GRO sewaktu training di Bali yang notabene asli orang Jepang juga bahasa Inggrisnya lancar dan jelas, apalagi orang Jepang yang hidupnya kelamaan di negara yang berbahasa Inggris.

Saya jadi maklum dengan bahasa Inggris ala Jepang, dan mulai bertanya-tanya dalam hati, kalau misalnya orang Jepang mendengar orang Jawa ngomong Inggris dan medok, apa mereka juga akan ketawa yach?