Thursday, 24 May 2012

Siapa mau Makan Pipis Ikan?


Belakangan saya kedatangan seorang teman yang asli orang Australia. Teman saya ini sebelumnya pernah ke Indonesia dan lama berkunjung ke Jogjakarta. Kedatangannya kali ini masih tetap untuk berlibur, hanya saja karena sudah pernah ke Jogja, dia berencana akan tinggal sekitar dua minggu di Surabaya. Sebenarnya tidak ada masalah sih, hanya saja karena dia tidak punya teman sama sekali di Surabaya, jadilah saya harus dengan sukarela menjadi guide-nya. And you know lah guys, Surabaya kan bukan kota wisata. Objek wisata yang wajib dikunjungi paling-paling ‘hanya’ jembatan Suramadu, museum kapal selam, museum rokok, dan pasar-pasar tradisional. Selebihnya, ya lihat kemacetan, dan melihat kebisingan dan kesibukan kota sepanjang hari.

Dua hari berkeliling dan mentok, sayapun bĂȘte dan kehabisan ide ngajak dia kemana. Mau makanpun musti mikir dulu apa perut dia kuat dengan rempah-rempah lokal yang spicy banget ini. Mau ngikutin dia makan ala kebiasaannya juga saya malas. Dia doyan makanan a la Italy berupa Pizza atau pasta, yang bagi saya hanya ‘cemilan’. Burger dan hotdog yang sehari-harinya jadi menu sarapan, buat saya hanya pengganjal perut. Bukannya saya pemakan banyak, tapi sebagai orang Indonesia asli, asli perut saya tidak akan merasa kenyang sebanyak apapun saya makan burger kalau  belum ketemu nasi. Hehehe…

Dan dua hari itu juga, saya sudah mulai bosan menyesuaikan diri dengan makanan. Ini ceritanya saya tuan rumahnya kok saya yang dijajah?! Males dong! Sayapun  lalu memberanikan diri menegur dia secara halus, “Hi dude, what is the justification of you being here if you just eat western foods? You have to try local foods!” sayapun pura-pura sewot. Eh, dia dengan enteng menerima tawaran saya. Saya jadi hepi dan ngajak dia ke restoran masakan Cina. Maksudnya buat latihan gitu, sebelum dia betul-betul makan masakan lokal yang ‘nendang’.

Percobaan pertama saya ajari dia makan koloke, tumis kailan daging sapi, tim ikan kuah cokelat (pokoknya kuahnya berwarna cokelat, saya lupa apa bumbunya) dengan nasi Hainan yang notabene favorit saya. Di luar dugaan, dia doyan banget semua makanan itu dan ngajak saya makan itu lagi besok. Sayapun tentu menolak. Meski favorit, tapi ogah ah makan makanan yang sama dua kali berturut-turut. Si bule dengan pedenya mencatat sesuatu di buku catatannya. Mungkin mencatat nama makanan yang barusan dia makan, karena dia sempat tanya sama saya nama makanannya sebelum dia mencatat. Si bule lebih girang lagi saat bill datang. Saya kira dia kena ayan mendadak karena kaget melihat mahalnya harga yang tertera di bill. Eh, dia nyengir ke saya dan bisik-bisik, “the price of foods here are really cheaaaaapppp!!!!”. Nah lo, giliran saya yang mau kena ayan. Makan segitu aja habis hampir 400ribu dan dia bilang murah bangetttt…. Saya yang sarap apa dia ya?!

Besoknya, karena berniat ngerjain dia, saya yang lagi ‘kumat’pun mengajak dia makan di restoran padang. Bukannya saya jahat, saya kan maunya dia merasakan local taste. Supaya sampai di negaranya dia cerita bahwa di Indonesia itu makanannya enak-enak dan murah. And once again you know lah guys, kalau restoran masakan padang itu unik banget. Semua makanan yang ada dihidangkan di atas meja panjang. Si bule udah mulai deh noraknya dan tanya-tanya, kenapa gak ada buku menunya lah (lah emang restoran Italia?), kenapa mejanya panjang banget dan bukannya kecil-kecil seperti restoran pada umumnya, yang saya jawab kalau meja ini fungsinya untuk mendisplay makanan yang akan disediakan yang dia asumsikan sebagai makan ala buffet (pasmanan). Dia lalu tanya-tanya kalau buffet kenapa gak ada satupun makanan yang terhidang? Saya yang bĂȘte dan sudah mulai bosan ditanya-tanyapun berang, “you (nunjuk dia) shut up! Just wait and see!”. Saya mulai gak sabar. Oke, sebagai personal guide saya akui saya ini bukan guide yang baik. Meski mukanya sedikit upset, si bule menuruti kata saya. Saat mas-mas pramusaji mulai beraksi mengantar makanan di piring yang ditumpuk-tumpuk diatas dua tangannya, saat itulah saya teriak ke dia, “cepetan ambil kamera, itu ada pertunjukan bagus.” Si bule gak mau ketinggalan moment bagus ini, yang langsung dia abadikan dalam bentuk video di kameranya. Dia lalu senyum-senyum najong kemenangan, dan menyesalkan kenapa juga saya gak mau bilang ke dia kalau bakalan ada atraksinya segala di sini. Halah, kalau orang kita lihat begituan kan biasa…

Mas pramusaji telah selesai meletakkan semua piringnya di meja. Nah lo, si bule masang muka  bingung dan mulai rese tanya- tanya lagi, “so, I have to eat all of these foods?” yang saya jawab dengan, “yes, if your tummy has enough space for that”. Si Bule nyengir dan dengan lahap makan. Gak nyangka ya, muka boleh bule, tapi makannya kaya kuli angkut gini. Hehehe…

Rupanya si bule ostrali yang satu ini beda banget dengan teman-teman bule saya yang lain. Yang ini perutnya kuat makan rempah-rempah yang spicy dan kuat makan pedas. Buktinya, dia gak sakit perut setelah makan masakan padang yang terkenal pedes dan nendang itu. Sayapun jadi hepi ngajak dia makan ala streetfood karena gak usah khawatir dia sakit perut setelahnya. Saya ajak dia berkeliling ke restoran masakan Makassar, masakan Sunda, hingga ke warung pinggir jalan yang menu andalannya sayur asem, lodeh, hingga yang menyediakan gule kambing dan kikil sapi.

Tak terasa dua minggu hampir berakhir. Saya sedih juga harus melepas dia balik ke Perth. Padahal dia teman makan dan jajan yang enak banget karena bisa menyesuaikan selera saya. lebih enak lagi karena setiap kali jajan selalu dia yang bayar karena dia bilang makanan di Indonesia murah-murah (yang ini dilarang sirik, wek:P!). Sebelum berpisah dan menunggu pesawat, kamipun bercerita flash back mengenai kesan kesan dia selama di Surabaya dua minggu ini. Sayapun tidak kaget saat dia bilang, “Surabaya is great. The foods are all nice and cheaaaaapppp!” (Jujur saya sedih setiap kali dia bilang di sini makanan murah-murah karena kenyataan buat saya tidaklah demikian). Lalu saya tanya makanan apa yang menjadi favoritnya. Dan dengan lantang dan 100% pede dia jawab, “Pipis ikan is my favourite!”.  What? Sayapun melongo gak ngerti. Lalu berusaha mengingat-ingat dosa apa yang saya perbuat sampe saya ngasih makan nih bule pipis ikan. Dan saya ingat betul saya tidak pernah masuk restoran yang menyediakan menu pipis ikan.
“Sorry me but I don’t understand what is pipis ikan.” Si Bule membuka-buka catatan kecilnya. “Pipis ikan is served with sour veggie soup. The taste was really nice.” Sayapun dengan keras mencoba mengingat-ingat jenis makanan apa yang dimakan bareng sayur asem. Oalah, yang dia maksud itu pepes ikan yang dia baca dengan pipis ikan! Halah, dasar bule!

So, Siapa mau makan pipis ikan??