Tuesday, 3 April 2012

Jalan-Jalan Borju a la Staff Hotel


Sejak jadi fans berat Trinity traveler di blog terkenalnya the naked traveler, sama seperti kebanyakan pembaca pada umumnya, saya jadi terbius kepingin jalan-jalan. Sebagai orang Indonesia yang (ngakunya) bangga dengan negara tercinta, sering sekali terbesit mimpi untuk berkhianat jalan-jalan ke luar negara. Pelesiran di negeri sendiri, seringkali dianggap hal yang biasa sedangkan kalau bisa ‘menengok’ tetangga dekat (apalagi yang jauh) akan terdengar keren dan ‘wah’. Sejujurnya secara naïf sayapun berfikiran sama, meskipun juga sependapat dengan mbak Trinity bahwa jalan-jalan itu gak harus ke luar negeri, karena toh kita punya kekayaan alam yang lebih melimpah dan bagus dibanding ‘tetangga’.

Sebagai staff hotel ‘biasa’, tak mungkinlah saya punya budget yang cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri, ala gembel sekalipun. Kalaupun bisa jalan palingan mentok ke negara tetangga saja. Tapi percaya atau tidak, bekerja sebagai staff hotel itu artinya berpeluang besar jalan-jalan ke luar negeri yang gaya jalannya lux tapi gak bikin dompet bolong. Caranya?

1.       Berprestasi di tempat kerja
Ini sudah jelas. kalau hotel tempat anda bekerja adalah brand Internasional yang memiliki property yang tersebar di seluruh dunia, besar kemungkinan staff yang berprestasi akan dikirim training ke property satu ke property lain di luar negeri. Cara ini memang paling nikmat, udah transport, makan, dan akomodasi (menginapnya biasanya di hotel tempat training) ditanggung perusahaan, pulang-pulang bawa sertifikat bergengsi (yang pastinya laku jika dipakai apply ke property lain), dan kenaikan level jelas-jelas di depan mata. Meski nikmat, syaratnya pasti berat. Kalau anda staff yang biasa-biasa saja seperti saya, lupakan saja cara ini.

2.       Kerja di kapal pesiar
Yang ini lebih jelas lagi dan relative lebih ‘mudah’ dicapai. Kerja di kapal pesiar itu hampir sama dengan bekerja di hotel yang ada di darat, bedanya kerja di kapal kan hotelnya ‘bergerak’. Apalagi kalau rute perjalanannya panjang, seperti keliling benua Eropa atau Amerika. Pengalaman pribadi teman saya yang bekerja di kapal, mereka jadi hotelier di kapal juga karena keinginan awalnya ingin menjelajahi dunia. Mulanya sih hepi, tapi lama-lama mereka bosan sendiri di luar negeri dan mulai kangen negeri sendiri. Enaknya, hotelier kapal pesiar itu visanya multiple country, jadi bisa masuk dengan leluasa sekaligus di banyak negara. Lagipula, dengar-dengar tip di kapal pesiar jauh lebih gede dan gajipun dalam dollar atau euro. Kalau dihitung-hitung, rata-rata pendapatan seorang staff kapal pesiar sebesar 10 kali lipat pendapatan hotelier biasa di darat dengan level yang sama. Wiiihhh…!!! Gak enaknya, mereka sekali berlayar tujuh hingga delapan bulan baru bisa pulang. Tiap hari yang dilihat itu-itu saja, gak bisa jalan kelayapan di luar. Sekalinya ketemu daratan, tidak sempat berkeliling karena waktu yang pendek, tuntutan pekerjaan yang harus diselesaikan, gak keburu karena kapal harus melanjutkan perjalanan.

3.       Independent traveler
Kalau kedua cara di atas dirasa tidak mungkin, cara yang paling memungkinkan adalah jadi independent traveler. Sebagai staff hotel, biasanya hotel memberlakukan staff’s rate. Harga yang ditawarkan untuk staff ini biasanya paling mahal sebesar 50% dari harga publish. Syaratnya, hotel anda haruslah yang punya jaringan di luar negeri. Semakin besar maka semakin bagus karena pilihannya jadi lebih bervariasi.

Selain harga staff, sebagai orang hotel juga diuntungkan dalam pembuatan visa, terutama di negara-negara  yang pelit ngasih visa macam negara di Eropa, Australia atau Amerika. Misalnya begini, anda bekerja di hotel A yang punya jaringan di Jerman. Jika suatu hari anda ingin jalan-jalan ke Jerman, anda cukup booking hotel menggunakan staff rate yang biasanya  diuruskan oleh HRD. Maka, hotel yang anda booking di Jerman itu yang akan menjadi penjamin anda di aplikasi visa anda karena itungannya masih satu perusahaan. Meski tidak ada jaminan 100% dapat visa dengan cara ini, namun kebonafitan perusahaan kan bisa jadi jaminan. Semakin bonafit nama hotelnya, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan visanya. Saya sih belum pernah menerapkan cara ini, tapi teman saya sudah pernah coba, dan berhasil tuh.

Masalah hotel dan visa beres, berikutnya tiket pesawat. Masalah tiket pesawat, sekarang kan sudah ada budjet airline yang harganya sangat miring. Triknya, harus sering-sering cek di website kapan ada promonya. Semakin jauh harinya, biasanya semakin murah harganya.

Lalu ongkos lain lain diluar visa, tiket pesawat dan hotel seperti uang jajan itu sih bisa di’adjust’ sesuai isi tabungan. Kalau punya banyak uang silahkan jalan dan jajan sesuka hati, kalau tabungan sudah tipis ya harus pintar putar otak mendahulukan mana-mana post pengeluaran yang penting dan mana yang tidak. Namanya juga independent traveler, masalah keuangan tetaplah menjadi topic paling krusial. Kalau mau jalan pakai cara ini, syaratnya utamanya harus rajin menabung dan punya uang cukup untuk jalan.

Kalau cara 1-3 masih terasa mustahil, berhentilah bermimpi jalan-jalan keluar negeri a la borju tanpa harus bolongin dompet, sebaliknya tengoklah cara lain jalan-jalan seperti mbak Trinity yang ala backpacker. Kalau cara backpacker juga dirasa masih mustahil, cara terakhir adalah googling saja banyak-banyak, puas-puasin lihat gambar-gambar yang ada di google sambil ngeces baca pengalaman orang yang lebih dulu jalan-jalan kesana. Baca aja terus sampai ngantuk, ntar juga ketiduran dan kalau beruntung anda bisa jalan jalan kesana dalam mimpi.
The last one sounds the easiest, ya? 

Monday, 2 April 2012

Inspeksi Malu-maluin


Di hotel tempat saya bekerja, banyak peraturan ketat yang kadang bikin jiper. Kalau masalah kedisiplinan seperti telat masuk kerja sih buat kami buatlah big issue. Semua orang sudah terbiasa disiplin waktu. Rata-rata sudah siap minimal 15 menit sebelum jam kerja untuk hand over shift berikutnya atau hanya sekedar baca log book, supaya informasi selalu up date sebelum bertugas. Kalaupun sesekali terlambat, itu sih sudah ‘termaafkan’ karena sehari-harinya kan sudah disiplin dan terlihat loyalitasnya.

Yang bikin sebel justru ketatnya pengamanan dari security (rasanya yang rese-rese kok ya selalu di security ya?). kalau ketatnya karena kewaspadaan terhadap aksi terorisme sih wajar. Lah ini, security-security yang ada disini seperti disetting otomatis menjadi manusia-manusia anti maling yang alay dan lebay. Kasus-kasus yang sepertinya biasa selalu dibesar-besarkan, dibikin heboh dan membuat orang lain geregetan. Contohnya, peraturan hotel mengatakan bahwa semua staff dilarang membawa pulang property milik hotel. Oke lah, kedengerannya masuk akal. Tapi kenyataan di dilapangan? Barang kecil yang remehpun dipermasalahkan. Contohnya, seorang staff dapat SP (surat peringatan) hanya gara-gara lupa meninggalkan bolpoin hotel di loker. Nah lo? SP nih beneran! Ckckckck… Kaya abis nyolong apaan aja! Lah kan cuma bolpoin hotel murahan gitu aja, punya selusin diobral juga belum tentu ada yang mau. Padahal kalaupun bolpoin tidak sengaja terbawa kan, cukup disita habis perkara. Atau, si staff diminta balik ke lokernya dan menyimpan bolpennya di sana. Kan beres! Dilemanya, pakai bolpoin merek lain juga tidak diperbolehkan, karena aturannya staff harus ‘on brand’ pada saat bertugas. Jadilah, setiap kali mau pulang saya jadi parno sendiri, melototin diri sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengobrak abrik isi tas, apa masih ada barang hotel yang nyangkut. Yah, dari pada kena SP dengan pasal pencurian bolpen (kedengerannya tidak lebih keren dari pada nyolong sandal di masjid ya? Ckckck…)

Sepertinya karma itu masih berlaku. Security yang rese’pun kena tulah gara-gara ulah seorang oknum (entah mengapa saya tiba-tiba jadi jengah kala memakai kata ‘oknum’). Ceritanya, hari itu ada inspeksi dari HRD. Karena bulan itu ada auditor, jadilah semua yang berbau inspeksi artinya menghadirkan auditor dari perusahaan pusat. Auditornya sendiri seorang ibu bule berkebangsaan perancis, tapi konon beliau bekerja di kantor pusat regional Asia Pasifik. Pihak manajemen hotel sih sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti semua staff supaya berhati-hati karena ibu auditor ini orangnya perfeksionis sekali. Konon, laporan dari auditor ini akan dilaporkan ke regional Asia Pasifik yang kemudian diteruskan ke pusat yang berada di Amerika. Kalau nilai audit hotel jelek, otomatis orang dari pusat akan semakin rajin datang dan inspek, disamping rangking hotel juga turun. Selain itu, orang dari pusat akan mentraining seluruh staff selama setahun supaya sesuai brand standart, yang artinya audit itu dilakukan setiap hari. Duh, malesnya!

Auditpun dilakukan di semua departemen dan section, meliputi standart umum Food and beverage serving, sanitasi n hygiene, check in and check out proses, guest’s courtesy call, sampai dengan safety and security. Masalah pengamanan sih okelah, secara security hotel sudah disetting anti maling (kalau anti terror saya ogah komen dah). Karena semua section sudah clear, auditpun mulai ngulik section human resources. Selain memeriksa data karyawan, auditor ternyata juga ngublek-ngublek loker karyawan. Standartnya sih, karyawan tidak diperkenankan menyimpan uniform atau property milik hotel yang bukan haknya di loker. Dan dari sinilah tragedy itu dimulai….

Dalam inspeksinya, auditor ditemani HRD dan chief Security yang dari awal udah pede ngebangga-banggain staffnya mulu. Yah, sebenarnya wajar sih, atasan kan harus bangga sama bawahannya. Tapi ya gak segitu pedenya kali… Emangnya security doang yang kerja? (iya, saya akui saya sirik banget!). Well, loker pertama yang diinspek adalah loker cewek. Di loker pertama yang digeledah, tidak menemukan barang yang berarti. Loker kedua, ketiga, keempat. Nihil. Loker kelima, ditemukan piring plastic, sendok dan garpu plastic. Kami semua menyimpulkan pemilik loker doyan makan-makan di loker. Padahal membawa makanan di loker juga larangan. Auditorpun mencatat sesuatu di bukunya. Loker berikutnya, mereka menemukan celana dalam dan bra (saya juga heran bisa-bisanya ada yang nyimpan pakaian dalam di loker). Auditor menahan tawa, orang HRD geleng-geleng kepala, dan chief security ngomel-ngomel. Loker berikutnya lebih ajaib lagi isinya. Setumpuk CD film bokep! Kali ini auditor melongo, HRD menutup muka, sedang pak chief security sok pasang aksi teriak-teriak, “lokernya siapa nih? Lokernya siapa? Periksa bu, periksa!” Pak Chief segitu hebohnya ingin tahu pemilik loker itu. And you know guys, pemiliknya adalah si xxx, satu-satunya security cewek di hotel kami. Pak chief langsung mingkem, while ibu auditor dan HRD saling pandang. Nah lo, security still the best kah pak?

I know you all mesti bertanya-tanya heran, kok saya tahu kejadian ini? Lah iya, secara saat inspek kan saya ada di TKP lagi break time!