Friday, 30 March 2012

Hiiiii Sereeemmmm...!!!


Seperti kebanyakan orang yang percaya adanya hal-hal mistis diluar jangkauan otak, saya juga percaya. Kalau di film-film banyak yang berkisah mengenai hantu di gedung tua, di hotel tempat saya kerjapun (meski tidak bisa dibilang gedungnya sudah tua) hal-hal mistis itu sepertinya memang betulan ada.

Akhir-akhir ini beredar rumor gak enak dari beberapa rekan mengenai hantu di hotel. Perbincangan seputar hantu berwujud perempuan berambut panjang ini tak hanya terjadi di tempat kerja, tapi juga di kantin, dan semakin santer ketika kasak kusuk di locker dengan segerombolan teman yang juga doyan ngerumpi.  Cerita datang dari salah seorang staff reservasi. Suatu hari yang biasa-biasa saja, dia terpaksa harus lembur di kantor sendirian. Jam baru menunjukkan pukul 8, tapi suasana kantor reservasi yang nyambung ke area accounting sudah sepi. Maklum, karena office hour kan hanya sampai jam 6, yang otomatis semua penghuninya bakalan kabur kalau sudah lewat jam itu. Teman saya ini lagi enak-enaknya ngeprint reservasi, ketika ada suara-suara di belakang pintu di sebelah toilet. Celingak celinguk, tidak ada orang sama sekali. Tapi ketika kembali ke mejanya, dia lihat sudah ada seseorang yang duduk di situ, penampakan seorang wanita berambut panjang terurai yang dia asumsikan si kunti. Hiiiiiii… teman saya itu sontak menjerit dan berlari ketakutan. Seketika sekuriti datang dan melihat keadaan. Mbak kunti tadi sudah tidak ada di tempatnya.

Sialnya, seminggu setelahnya saya ketiban masalah menghandle tamu yang ngakunya udah reservasi tapi di system belum ada. Mana kondisi hotel sedang fully booked, alias tak ada kamar lagi yang tersedia. Duty manager yang kebetulan membantu saya menangani tamu ini menenangkan, mungkin berkas yang di fax ke reservasi sudah masuk tapi belum reserved. Jadilah setengah memaksa, duty manager meminta saya naik ke lantai dua untuk nyari itu fax. What?! Ke ruang reservasi sendirian tengah malam gini??! Saya yang sudah parno duluan mau tidak mau menggeret seorang teman receptionist yang juga penakut untuk menemani saya naik. Sampai di atas, suasana benar-benar gelap karena lampu sudah dimatikan. 11 malam ini bo! Grudak gruduk kami berdua bergerak secepat kilat mencari-cari mesin fax. Dan aha! Ketemu! Kami berdua bergegas cabut melewati tangga darurat karena ke lobby paling cepat ya lewat situ. Sialnya, di tangga darurat lampunya mati. Tapi meski gelap, kami berdua pantang mundur balik ke jalan yang seharusnya karena harus turun pakai elevator yang lemot, secara kami sudah ditungguin tamu di lobby. Ketika akan membuka pintu tangga untuk keluar, pintu terdorong sendiri ke arah saya dan sesuatu menabrak saya. Saya yang parno langsung saja jejeritan hingga teman saya menenangkan, ’Biasa aja kali mbak, ini kan cuma housekeeping.’ Ugh! Siapa suruh bikin kaget!

Minggu pertama incharge sebagai guest relation officer (GRO), saya digembleng habis-habisan untuk jadi pemberani. Alasannya, karena GRO satu-satunya staff hotel yang paling leluasa berkeliaran kemana-mana, ya ke kamar tamu, ya ke public area, ya stand by di lobby, kalau perlu malahan sampai ke laundry dan housekeeping segala hanya untuk ngambil barang tamu yang ketinggalan. Kalau keliling-kelilingnya pagi atau siang sih, no problem. Lah kalau malam? Saya suka merinding disko sendiri saat harus inspeksi kamar (apalagi) malam-malam.  Hotel tempat saya bekerja ini memiliki 28 lantai. Dan secara sistematis, kamar di lantai bawah adalah jenis kamar-kamar level standart dan semakin ke atas jenis kamar semakin luas dan semakin mahal, semacam type-type suite room, sehingga lantai bawah lebih padat penghuninya dan semakin ke atas semakin jarang karena jumlah kamarnyapun jauh lebih sedikit. Nah, logikanya kan, kamar-kamar suite yang luas dan mahal itu lebih jarang laku daripada yang standart. Sehingga lantai atas yang sudah sepi itu jarang dihuni.

Malam itu, ada seorang pejabat teras yang mau check in. Karena levelnya pejabat, biasanya yang disewa adalah jenis royal suite di lantai 27 yang kamarnya nyambung dengan kamar di sebelahnya yang biasanya ikut juga disewa untuk ajudan-ajudannya. Karena pejabat ini termasuk tamu VVIP, jadilah kamarnya harus benar-benar perfect. Sebenarnya ada butler yang akan incharge di sana, namun karena ini tamu VVIP, GRO pun harus ikut turun tangan untuk menginspeksi kelengkapan dan kondisi kamar.  Jadilah saya harus ke sana malam- malam sendirian untuk inspeksi. Karena takut, saya menggeret seorang mas mas housekeeping yang memang hendak ke kamar itu untuk turn down service. Karena ada teman, saya jadi lebih pede dan berani. Semua sudut ruangan, livingroom, bedroom, Kitchen sampai Jacuzzi area sudah saya puterin. Tinggal masuk ke ruang ajudan. Karena di kamar utama baik baik saja, sayapun pede masuk sendirian. Lagian toh ruangan ini nyambung, pikir saya. kalau ada apa-apa pun, masih ada mas-mas housekeeping di sebelah yang siap membantu.

Saya lagi enak-enaknya mengecek sudut ruangan di toilet ketika saya merasa seperti ada sesuatu yang lewat di belakang saya. Saya kira mas –mas housekeeping. Saya lalu mengetes dan berteriak, “sudah belum mas…??!”. Mas –mas housekeeping menyahut sih, tapi suaranya jauuuhh… di ujung ruangan satunya. Berarti, memang mas housekeeping masih di ruangan sebelah. Lah yang barusan? Saya mulai merinding. Dengan cepat saya bergegas kembali ke royal suite, ketika langkah saya tertahan di pintu bathroom. Saya melihat sesosok entah apa, berwarna putih dan tinggi, berdiri tepat di bedside pojokan kamar tidur. Lutut saya langsung lemas, mau teriakpun rasanya hanya tercekat di tenggorokan.  Dua detik rasanya seperti lima jam. Entah mukjizat darimana, tiba-tiba mas-mas housekeeping muncul dan mencolek saya. Saya langsung tersadar dan sosok itu sudah tidak berada di tempatnya. Sayapun bercerita kepada mas-mas housekeeping tentang apa yang barusan terjadi. Mas-mas housekeeping yang sudah 7 tahun bekerja di hotel ini lalu bercerita, “dia mau kenalan sama mbak, kan mbak baru di sini. Dia memang suka begitu. Tapi setelahnya dia gak akan pernah mucul lagi, kok.” Saya menyedengkan telinga. Hah? Kenalan? Yang bener saja. Masa iya mahluk begituan ngajak kenalan? Hiiiii….

Hari-hari selanjutnya saya membekali diri dengan ayat kursi dan macam-macam doa yang diajarkan teman-teman di kosan untuk ‘mengusir’ mahluk tak berwujud itu. Entah mas-mas housekeeping itu yang benar, atau karena doa-doa yang selalu saya ucapkan kala harus ke lantai atas, saya tidak pernah lagi ketemu dengan mahluk putih itu.

Yang aneh, saat saya menulis ini, entah mengapa saya jadi merinding sendiri.


  

Thursday, 29 March 2012

Nikmatnya Training



Asyiknya kerja di hotel, kerjanya tidak hanya datang -- kerja delapan hingga belasan jam dan pulang, tapi juga di sela-selanya banyak sekali mendapatkan pelatihan untuk men’standart’kan kualitas layanan, syukur-syukur kalau layanan yang diberikan itu melebihi standart. Lingkungan hotel sangat dinamis karena dipengaruhi tren yang sedang berlaku, dan untuk itulah management hotel yang bagus akan selalu menggembleng para associatenya supaya tidak ketinggalan informasi dan bisa menyesuaikan diri dengan selera pasar (baca: tamu). Pelatihan (atau yang lazim disebut training) ini jenisnya beragam, seperti training dasar (pengenalan property sendiri yang meliputi sejarah hingga fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya), cultural training yang meliputi kursus tambahan bahasa asing dan kegiatan seni, hygiene training yang berkaitan dengan pengetahuan kebersihan dan kesehatan, training mengenai safety and security seperti simulasi kebakaran gedung sampai ke proses evakuasinya, first aid training, standart service training, dan lain lain. Pokoknya buanyak!

Saya selalu antusias mengikuti training, apalagi yang  ada embel-embel promosinya. Di hotel tempat saya bekerja ini memperbolehkan cross training, artinya staff dari department housekeeping misalnya, training ke bagian lain, semisal di bagian Food and Beverage service (waiter atau waitress gitu..). Staff yang mengikuti cross training ini nantinya akan mendapatkan sertifikat berikut ‘nilai’nya. Jika suatu hari ada vacancy di suatu departemen, sertifikat cross training ini akan sangat membantu ‘memperindah’ CV di internal application form dan pastinya akan sangat diperhitungkan dalam pertimbangan perekrutannya. Jadi untuk bisa ‘naik level’, sebenarnya tidak susah kan?

Mengikuti training resmi di hotel, bagi saya lebih menyenangkan karena penyampaian training selalu dibuat menarik dan tidak membosankan. Asyiknya lagi, ada coffee break yang selalu ada sajian berupa cemilan kue-kue cokelat dan spring roll, serta kopi dan teh unlimited selama break time. Pokoknya selama mengikuti training, perut dijamin akan mendapatkan jatah yang layak, karena tidak mungkin bisa berkonsentrasi menyerap materi training kan, kalau perut keroncongan. Piiiisss!

Training paling berkesan adalah saat saya mengikuti training bertajuk ABCD (maaf, nama sengaja disamarkan). Training ini berisi beberapa modul dan membahas property dan segala isinya, serta pengenalan pengendalian emosi, ya.. mirip kursus kepribadian begitu lah. asyiknya, training ini panjang banget, diadakan setiap seminggu sekali, dan setiap kalinya selama 8 jam (sudah termasuk lunch time dan coffee break loh!). Selain pengetahuan jadi bertambah, setidaknya dalam delapan jam itu saya benar-benar relax karena penyampaian materi yang catchable. Enaknya lagi, training ini dihitung sebagai jam kerja efektif sehingga tidak perlu mengurangi hari libur mingguan saya. Asyik, kan?

Selain belajar mengenai brand, trainer mengajak kami untuk mengikuti kuisioner, mengenali karakter diri sendiri dan mulai belajar memahami karakter orang lain, serta implementasinya kepada layanan yang diberikan kepada tamu sehari-harinya. Supaya pemahaman kami lebih jelas, kami diminta untuk survey langsung ke departemen store di mal tetangga. Beberapa orang sih serius banget yah do research mengenai kualitas layanan (yang saat itu membandingkan pelayanan Matahari, Sogo, dan Ace Hardware). Beberapa lagi bukannya serius mengamati orang, malahan sibuk sendiri memelototi price tag yang ada label diskonnya. Oalah!

Enaknya lagi menurut saya, kalau jadi staff yang berprestasi, malahan bisa mendapatkan training yang lebih serius lagi dengan embel-embel kenaikan level. Yang membuat orang lain (dan juga saya tentunya) ngiler adalah, trainingnya tidak hanya di sekitar hotel saja, tapi sampai ke luar negeri. Mulai dari yang ‘hanya’ level ASEAN, Asia, hingga Eropa bahkan Amerika! Beberapa manager baru yang bekerja di hotel tempat saya bekerja adalah jebolan dari  hotel tetangga yang rata-rata pernah dikirim ke Shanghai selama tiga bulan untuk training. Bukan orang biasa dong ya? Wiiihh… saya cuma bisa ngeces mendengar mereka cerita. Hotel sebelahnya lagi, mengirim staffnya sampai jauh ke Jerman selama berbulan bulan hanya untuk mendapatkan sertifikasi (sayangnya informasi yang saya dapatkan kurang jelas sertifikasi apaan). Sudah akomodasi, meals dan transport ditanggung, dapat uang saku pulak! Sudah gitu, gaji dari hotel tetap dapat. Wiiiiihh… lalu kapan ya, giliran saya? *mimpi dulu.

Kalau training-training kebanyakan serius, ada satu lai training yang sebenarnya serius tapi bikin saya ngakak sampai sakit perut. Ceritanya, training kali ini mengenai internet. Bukan, kami tidak diajari caranya googling, kok. Hehehehe… Intinya, training yang diconduct oleh orang IT yang namanya pak Andy ini jadi heboh karena trainernya yang kacau. Saya dan kebanyakan staff lain jarang sekali ketemu dengan pak Andy, atau bekerja secara langsung dengannya, karena IT departemen kan nyempil sendiri kantornya. Makanya sekalinya ketemu langsung dan di training, jadilah kami pasang dua ekspresi. Kalau bukan geleng-geleng kepala saking gak mudengnya, ya ketawa aja saking gak nyambungnya. Mulanya training berjalan normal, tapi tiba-tiba jadi aneh karena trainer menjelaskan materinya lompat-lompat. Belum juga selesai membahas halaman 3 sudah lari ke halaman 6, dari halaman 6 eh… balik legi ke halaman 2! Sudah gitu si trainer dikit-dikit menjelaskan semacam chart dengan gambar panel-panel listrik di tiap tap lantai, lalu dengan pedenya mengatakan, “Otak saya semuanya ada di sini! Hahaha!”. Seorang staff yang mengajukan pertanyaan pun, tanyanya kemana.. dijawabnya kemana. Pokoknya gak nyambung. Karena gak tahan, salah seorang rekan menyelutuk, “ Lah pantes gak nyambung, orang otaknya ada di monitor semua kok!”. Dan tawapun kontan membahana.

*)Sebetulnya saya pribadi mengakui pak Andi ini seorang staff IT yang hebat. Terlihat dari bahan presentasinya dan kemampuannya memaksimalkan jaringan internet hingga kecepatannya mencapai 5Mbps, sehingga di hotel kami masalah lemotnya internet tidak pernah menjadi big issue. Sayangnya, pak Andy ‘gak konsen’ menyampaikan materi karena otaknya lagi dipinjemin ke monitor! Hahahaha!   

Jadi, apapun trainingnya, sebenarnya ikut training itu asyik, kan? Training yuk!

Thursday, 22 March 2012

Cinlok a la Hotel Staff


Namanya juga kerja di hotel yang harus bertemu dengan banyak orang, terutama pria, baik itu tamu hotel itu sendiri, sesama associate, sampai event organizer yang sedang ada acara di ballroom hotel, kemungkinan cinta lokasi atau ditaksir orang ‘serumah’ itu selalu ada.

Pria pertama yang sial karena harus naksir saya adalah rekan satu department di concierge. Teman saya ini driver hotel yang ditugaskan mangkal di airport untuk menjemput tamu dari airport ke hotel. Karena jam terbangnya banyakan di luar hotel, dia dibekali dengan handphone hotel yang pulsanya ‘unlimited’ untuk tracking posisi selain alasan keamanan. Sebelnya, dia seringnya menyalahgunakan itu pulsa gratisan buat nelpon saya. Dia dengan rajinnya memperhatikan schedule saya dan menelepon saya pas saya lagi off duty. Duh, bener-bener kurang kerjaan! Padahal seringnya telepon dari dia ngomongin hal yang gak penting, semacam, ‘lagi ngapain?’ atau ‘udah makan belum?’. Duh, basi! Suatu hari saya sebel banget sama dia karena dia telepon saya malam-malam padahal schedule saya jumping (dari shift sore dan besoknya harus shift pagi), saya sms ke nomor pribadinya bilang kalau saya gak mau diganggu karena harus istirahat, eh ternyata dibales sama istrinya. Kebetulan! Saya langsung ‘ngadu’ dan sejak itu saya tak pernah diganggu lagi. Ketahuan nih yeeee….!

Pria kedua yang juga sial adalah seorang cowok berondong (iya, saya jauh lebih tuwir dari dia) yang kerja di bagian steward di kantin karyawan. Mulanya saya gak nyadar kalau ini cowok lagi pedekate sama saya. Sampai seorang teman nyelutuk, ‘ini orang kalau kamu lagi makan di kantin kok mesti duduknya deket-deket kamu ya?’ Wew! Ngapain juga nih brondong, pikir saya. Si brondong lalu cengar cengir, basa basi nanyain rekan satu team saya hari ini masuk ato enggak, lalu dia utak atik hapenya minta nomor telepon rekan saya. Saya lalu tanya buat apaan, yang dia jawab dengan ‘mau beli pulsa mbak’. Oh, Ok. Sayapun ngasih karena rekan saya memang nyambi jualan pulsa. Eh, si berondong nyelutuk, ‘kalau nomor hapenya mbak, berapa, ya?’. Entah dapat bisikan darimana, sayapun nyeplos menyebut 031 456 XXX (yang notabene nomor telepon hotel!). Si berondong cengar cengir puas, lalu iseng-iseng telepon itu nomor, ngecek apa nomor yang saya kasih tadi nyambung ato enggak. Ya jelaslah nyambung! Sayapun buru-buru kabur sebelum si brondong menyadari kalau saya nipu dia. Dua hari berselang, saya ketemu dia lagi tapi kali ini mukanya bête banget kaya abis ngeden dua hari. Belum sempat saya tanya, dia complain duluan, ‘mbak ini sombong amat ya? Di sms kok gak pernah bales?’ Wakakakak… saya membatin, justru kalau saya bisa bales itu malahan aneh, lah sejak kapan nomor telepon kantor (nomor hunting lagi!) bisa balesin sms? Sayapun beralasan kalau saya gak ada pulsa, saya minta dia untuk telepon saja dan tidak usah sms. Dia bilang OK, dan saya buru-buru kabur dari TKP. Bukannya saya jahat, saya hanya mau dia tahu kalau nomor yang saya kasih itu nomor hotel (lagian naïf banget yak, sampe nomor telepon tempat kerjanya aja dia gak tahu). Rencanannya, kalau dia sudah tahu saya bakalan bilang gini ke dia, ‘ lah iya kalau mau cari saya bisa hubungi nomor itu, biar langsung disambungkan ke saya’. But he still kept on complaining, and I kept on playing. Hingga suatu hari saya diantar pacar ke tempat kerja di saat dia juga sedang berada di parkiran. Dari pertama noleh, dia gak noleh noleh lagi dan dari air mukanya itu looo.. desperate banget! Diam-diam saya jadi kasian dan berniat meminta maaf, tapi sejak saat itu saya gak pernah lihat dia duduk di dekat meja saya di kantin pas jam makan siang. Dan meski dia masih bekerja di sana, kalau ketemu saya juga dia udah gak nyapa. Ya sutralah!

Satu bulan pertama bekerja di hotel ini, saya dikenalin rekan kerja dengan seorang chef spesialis masakan India yang juga seorang India otentik. Mulanya saya polos ngasih dia nomor telepon saya karena saya pikir, ini chef down to earth banget ya mau berteman dengan associate level underdog macam saya. Saya juga gak suudzon saat dia sering-sering telepon memuji saya, katanya dia nyambung ngomong sama saya, dan bahasa inggris saya bagus. Bencana baru keliatan saat dia kirim sms. Secara separah-parahnya orang India kalau ngomong Inggris sih saya masih bisa ngerti. Lah kalau ditulis? Kacau! Saya sampe pantengin itu sms lama-lama buat tebak-tebak buah manggis kira-kira dia mau ngomong apaan. Udah grammarnya ancur, nulisnya juga ngawur. Belum lagi di bagian akhir dia selalu nulis ‘c u buy’. See you Bye, kali…!

Bencana berikutnya adalah dia ngajakin saya nonton! Wew, saya dengan halus tentu menolak. Secara ketemu dia sekelebatan saja saya sudah nyesek tahan napas. Bukannya kenapa-kenapa, baunya itu looohh…! Apalagi membayangkan harus nonton sama dia, saya kan belum mau kena asma! Sialnya, dasar India yang pedenya lima ratus persen, meski sudah ditolak dia masiiiiihh aja dengan gigih ngajak nonton. Lama-lama kegigihannya berubah jadi terror, lah gimana bukan terror namanya kalau semalaman itu saya disms 86 kali dan ditelpon 120 kali??? Sebabnya sih simple saja, sms dan telpon pertama saya cuekin. Saya juga kaget ternyata si India itu keukeuh sms dan nelpon sampe segitunya. Mulanya saya mau matiin tuh hape tapi takutnya ada emergency call atau sms penting dari teman atau keluarga. So, saya diemin aja itu hape samapai baterenya habis dan mati sendiri karena kehabisan tenaga habis kerja rodi. Besoknya, saya dicegat saat absen fingerprint di basement. Dia yang udah dandan melintir mirip pedangdut tahun 80an, masih pede nungguin saya pulang. Belum juga saya sempat ngomong, si India udah ngajak cabut. Oh God! Sayapun membuat-buat alasan supaya saya tidak harus pergi. Ketika dia masih nyerocos, saya sampai setengah berlari kabur menghindar. Besok dan besoknya lagi, saya sampai nyogok teman buat nganter saya pulang saking takutnya saya dicegat. Huh, kok jadi horror gini ya?  

Saya kira penderitaan saya ditaksir di ‘rumah’ hanya mentok sampai di sini. Ternyata, tidak hanya associate, tapi juga tamu hotel itu sendiri kadang-kadang juga suka ngisengin. Entah mengapa, yang doyan sama saya kok kebanyakan om om bule yang bodinya gede-gede. Atau sekalian orang Jepang tapi yang tuwir banget (padahal saya ngarepnya sama Australian navy yang tinggi-tinggi dan bodinya kotak kotak). Di team saya yang hanya 4 orang, saya satu-satunya yang bermuka Jawa dan berkulit sawo matang. Sisanya, keturunan Chinese dan kulitnya bening-bening. Herannya, orang dengan dua kategori di atas mesti menolak teman saya yang Cina dan selalu memilih saya yang notabene paling item. Rekan saya sampai nyelutuk, mereka kan pengennya yang lokal, gak mau yang import! Haha… Sudah dua kali ini saya diiming-imingi jaguar kalau saya mau kawin sama mereka. Pernah juga saya ‘ditawar’ untuk jadi istri simpanannya selama mereka dinas di Indonesia. ada juga sih yang niatnya ‘bener’, ngawinin saya dan saya diminta pindah ke negaranya. Tapi menikah dengan kakek-kakek? Iiiih, ogah!

Yang paling aneh adalah seorang EO (event organizer) yang kebetulan sedang punya gawe di ballroom hotel tempat saya kerja. Mulanya saya ngobrol-ngobrol ringan dengan si EO, ngomongin hal yang ‘standart-standart’ saja sampai kami nyambung banget ngomongin pengalaman bekpeking. Kamipun bertukar nomor telepon dan merencanakan bekpeking massal ke Jogja dan berencana mengajak teman masing-masing. Eh, sampai di rumah, dia dengan santainya sms, ngajak saya bekpekingan berdua, sambil dibumbui dengan kata-kata rayuan basi. Tanpa pikir panjang, saya hapus nomornya dari telephone list saya saat itu juga!

Sunday, 18 March 2012

Terperangkap di Hotel


Saya pertama kali ke hotel sekitar empat tahun lalu, saat seorang kenalan mengundang saya makan malam di sebuah hotel mewah di belantara kota metropolitan, Surabaya. Saya yang orang ndeso dibuat berdecak kagum dengan apa yang saya lihat di lobby dan restoran hotel berbintang saat itu, yang seumur-umur hanya bisa saya lihat di TV. Saya juga setengah mati iri dengan staf-stafnya yang kerjaannya hanya ngurusin satu meja saja. Saya berpikir, enak kali ya kerja di hotel?  Sampai tahun berikutnya Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan mengirimkan seorang sponsor yang mau berbaik hati membantu saya mendapatkan pendidikan perhotelan.

Singkatnya, semenjak itu saya tejun ke dunia hotel. Dan ternyata, dunia perhotelan itu dalam kenyataannya memang tak seindah yang selama ini saya bayangkan. Banyak hal baru yang dipelajari setiap harinya, mulai bertemu dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai karakternya, sampai standart operasional yang harus benar-benar dijaga dalam bekerja, belum lagi harus belajar mengontrol emosi dan berusaha tersenyum setulus-tulusnya di depan tamu padahal aslinya bête setengah mati mikirin hal lain di luar kerjaan.

Sementara itu, di dalam hotel sendiri, selain belajar, saya juga mengalami hal-hal konyol tak terduga yang mewarnai hari-hari saya dalam bekerja. Hal konyol tak hanya terjadi karena kekacauan di luar standart, tapi juga ternyata ‘tercipta’ dari kawan-kawan saya sesama associate dan tamu hotel itu sendiri. Bekerja di hotel tidak selamanya menyenangkan, tapi buat saya yang penting adalah mensyukurinya. Saya bersyukur bertemu tamu-tamu yang baik dan tidak banyak maunya, sukur-sukur kalau mereka tipe-tipe big tipper. Sebaliknya, saya juga bersyukur bertemu dengan tamu aneh, pelit dan konyol, karena kekonyolan itu akhirnya bisa menjadi cerita yang saya tulis di jurnal harian saya. Intinya, sekonyol apapun hal yang terjadi di sekitar saya, selelah apapun saya bekerja mengurusi tamu yang beraneka rupa, sesial apapun kejadian yang menimpa saya,  sebenarnya saya amat mencintai pekerjaan saya, dan tetap bangga bisa menjadi bagian dari keluarga besar property dimana saya bekerja. Yes, I do love my Job so much!
  
About Hotel

I'm not going to talk about the definition of the hotel itself or the history of the hotel here. Yang saya maksud about Hotel di sini lebih ke pandangan saya dan juga pandangan menurut orang lain terhadap hotel. Karena tidak semua orang beranggapan sama mengenai hotel. Contohnya di kampung kelahiran saya, ibu saya terpaksa berbohong kepada tetangga yang 'iseng' tanya-tanya apa pekerjaan saya. Setiap kali ibu saya ditanya begitu, pasti beliau akan menjawab, "anakku kerja di pabrik garem". Why? karena kalau Ibu saya bilang saya kerja di hotel, habislah ibu saya diceramahi tetangga karena mereka mengira orang yang kerja di hotel itu perempuan tidak bener. Maksudnya, disamain dengan hotel esek-esek yang di gang Dolly yang terkenal itu.

Teman satu kosan saya yang juga teman sekampus waktu kuliah perhotelan berbeda lagi pendapatnya mengenai hotel. Katanya, kerja di hotel itu seperti babu bersertifikat. Istilah yang moderat namun ironis. Tapi saya pribadi setuju dengan pendapatnya. Seorang hotelier yang berkualitas memiliki pendidikan formal sebagai dasar pengetahuan, dan harus pula memiliki pengalaman praktek yang memadai. Kalau dilihat dari segi edukasi, memang terlihat wah, apalagi sekarang pendidikan formal perhotelan dan pariwisata yang menawarkan program strata satu sampai lanjutan sudah menjamur dimana-mana. Ironisnya, kalau sudah terjun di hotel ya, siap-siap jadi babu. Karena apapun jabatannya di hotel, pada dasarnya semua tugasnya sama, yaitu melayani tamu. Semakin bagus pelayanan yang diberikan sebuah hotel, semakin bagus pula kualitasnya dan artinya semakin mahal pula tariff kamarnya. Kalau dirumuskan ke dalam teori teman saya, semakin bekualitas babunya, semakin mahal hotelnya. Nyambung gak sih?!

Teman saya yang maniak artis, dibela-belain sengsara jadi daily worker di hotel (padahal dia sarjana hukum!) demi bisa bertemu dengan idolanya secara langsung dari dekat. Meskipun tidak bisa teriak-teriak minta tanda tangan dan foto-foto seperti penggemar lainnya, dia sudah cukup puas bertatap muka langsung dan melihat idolanya tersenyum. Saya hargai usahanya yang aneh, tapi memang kalau dipikir-pikir ketemu langsung memang susah, nonton konsernya juga harus rela berdesak-desakan di lapangan, belum lagi resiko kecopetan dan terjatuh karena pingsan. Itupun bisa lihat langsung tapi hanya bisa melongo dari jarak jauh, mau foto juga hasilnya pasti ngeblur karena kamera dipaksa nge-zoom berkali lipat. Kalau ‘nyamar’ jadi housekeeping hotel kan, bisa aja cari-cari kesempatan supaya bisa ketemu langsung meski cuman sebentar. Hotel buat dia adalah tempat paling possible buat ketemu artis meski untuk itu dia harus mengorbankan diri menjadi daily worker karena gak kuat pakai cara borju nginep di hotel, jadi tamu beneran dan ngejar si artis . Halah!

Teman saya yang orang pabrik, lain lagi persepsinya terhadap hotel. Dia yang masih 'lugu', taunya orang yang kerja di hotel itu enak, pakaian rapi, dan gajinya tinggi. Padahal yang sebenarnya, kerja di hotel itu ada beberapa bagian, tidak semuanya enak, tidak semuanya rapi-rapi, ganteng dan cantik dan tidak semuanya bergaji tinggi. Karena di hotel banyak sekali pekerja harian yang cuma diupah 50 ribu per hari selama 9 jam. Itupun kerjanya ampun deh sengsara bagi saya. Seorang gardener atau engineering yang daily worker, juga kasihan sekali nasibnya.

Teman saya yang lainnya lagi beranggapan, bahwa kalau mau kerja di hotel itu harus berijazah sarjana, atau minimal diploma perhotelan atau pariwisata. "Kalau cuma SMK sih, gak bakalan laku," katanya. Saya kira itu persepsi yang SALAH! Karena banyak teman- teman saya yang sukses meniti karir di hotel malahan bukan Sarjana. Contohnya, Health Club Manager saya yang sekarang ijazahnya cuma SMA. Dia meniti karir bener-bener dari nol. Awal kerja cuman jadi therapys. Contoh lagi, Butler manager saya juga seorang perempuan yang bagi saya tegas sekali, usia baru 32 tahun, ijazah cuman SMA dan beliau meniti karirnya dari door girl! Bayangin deh, dari seorang door girl/ greeter menuju butler manager... sebuah prestasi yang membanggakan, bukan???

Sayapun berpendapat sama dengan salah satu motto sekolah perhotelan di Surabaya, bahwa untuk bisa kerja di hotel itu tak perlu gelar, tapi ketrampilan. Percaya deh, itu berlaku buat semua orang. Tinggal kemauan untuk belajarnya itu ada atau tidak.

Bagi saya, dengan bekerja di hotel artinya saya tak pernah berhenti untuk belajar. Seorang hotelier yang peka bisa meraba situasi yang berubah-ubah setiap harinya, karena mau tidak mau, hotelier selalu berhubungan dengan tamu, yang notabene dinamis dan karakternya yang bervariasi. Sejujurnya, saya bukanlah seorang hotelier senior yang memiliki puluhan tahun pengalaman bekerja di hotel. Saya juga bukannya mau cerita mengenai do’s and don’ts menjadi seorang hotelier yang baik. Saya loh masih newbie dan ‘bendera’ hotel saya juga belum banyak. Yang saya mau paparkan di sini lebih ke pengalaman pribadi saya, yang literally sebagai pekerja hotel yang doyan curhat. Karena setiap harinya, sebagai seorang hotelier yang memang belum berpengalaman, kejadian demi kejadian seperti tersetting mewarnai kehidupan saya.

Jadi kesimpulannya,
buat anda yang doyan ke hotel, sadarlah bahwa hotelier itu juga manusia.
Buat anda yang tidak pernah ke hotel, ketahuilah bahwa hotel itu gak selamanya jadi tempat mesum dan maksiat.
Buat anda yang sudah duluan kerja di hotel, bersyukurlah karena jadi hotelier itu bisa ketemu artis. Loh?

Hmmm… Siapa berani jadi the next hotelier?

Saturday, 17 March 2012

Sang Pemabok


Yang saya maksud di sini bukannya mabok minuman atau mabok judi apalagi mabok janda *maksud loh? Tapi mabok darat, perasaan tidak menyenangkan yang tiba-tiba timbul karena naik kendaraan darat, seperti mobil, kereta atau bus.

Saya baru tahu kalau saya seorang pemabok pertama kali saat saya masih lima tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak. Saat piknik bersama naik bus, saya muntah sepanjang perjalanan sehingga saya tidak bisa menikmati piknik saya sama sekali kala itu. Mulanya rasa pikir mabok itu akan hilang setelah saya beranjak dewasa, tapi ternyata penyakit satu itu sudah bawaan orok, alias tidak bisa hilang dengan instant. Saat SMP dan berani jalan sendirian naik bus ke Surabaya, tas saya penuh saya jejali dengan aneka perlengkapan anti mabok seperti antimo, antangin, sampai koyo salonpas (yang konon harus ditempel di pusar supaya tidak mabok).  Manjurkah? Mungkin ya buat orang tertentu, tapi tidak buat saya. Mengkonsumsi obat anti mabok sesaat sebelum berkendara tidak bisa mengusir rasa mual dan pusing yang selalu melanda ketika saya harus naik bus, entah itu yang AC ataupun yang non AC. Pernah saya jackpot di halte bus, mabok duluan bahkan sebelum saya naik busnya, hanya karena saya membaui aroma knalpot bus umum yang luar biasa pekatnya. Belum lagi kalau harus naik bus yang lelet, alias jalannya merayap, atau yang doyan ngetem. Rasanya benar-benar tersiksa, badan saya tiba-tiba jadi lemas tak berdaya, perut mual tak menyenangkan, kepala pening luar biasa, dan mulut kering tapi terus-terusan mengeluarkan lendir yang aneh. Apalagi kalau supirnya nyetir pakai atraksi—gas rem gas rem--, rasanya semakin lengkaplah penderitaan saya.

Saya kira penderitaan mabok naik bus itu karena saya kurang terbiasa. Ternyata setelah tinggal selama setahun di Surabaya dan hampir setiap hari naik bus, saya tetap pusing dan mual (meski belum sempat jackpot karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh). Anehnya, saya tidak pernah mabuk kalau naik bis malam apalagi yang ada labelnya ‘Sumber Kencono’ (belakangan saya tahu bahwa bus ini berganti nama menjadi ‘Sumber Selamat’—karena seringnya diplesetkan masyarakat menjadi ‘Sumber Bencono’-- dan beberapa armada baru dinamai ‘Sugeng Rahayu’). Bus ekonomi jurusan Surabaya-Jogja ini memang dikenal sebagai bus maut karena rekor catatan kecelakaannya yang menewaskan puluhan orang setiap tahunnya. Hiiii…. Tapi buat saya pribadi naik bis ini (apalagi malam hari) bisa mempersingkat waktu perjalanan, yang berarti meminimalisasikan kesempatan saya untuk mabuk. Syaratnya, kalau naik bis ini meskipun tengah malam tidak mengantuk, tapi mata harus saya pejamkan. Kalaupun terbuka, artinya harus banyak-banyak berdoa saking ngerinya (apalagi kalau duduk di kursi depan). Naik bis ini buat saya seperti naik roller coaster, bikin sport jantung! Bagaimana tidak, bis yang melaju dengan kecepatan sekitar 100 km/jam ini nyantai saja nyalip truk di depannya padahal dari arah berlawanan jelas-jelas sedang melaju bus lain dengan kecepatan tinggi pula! Kalaupun gagal nyalip, moncong bis yang mepeeet banget dengan pantat truk (mungkin sekitar sejengkal tangan saya jaraknya) makin membuat saya dan penumpang lainnya senewen. Lah, kalau tiba-tiba truk di depan ngerem, apa gak nyundul tuh bisnya? Belum lagi kalau harus berbelok, biarpun atap bis sudah menerjang ranting-ranting pohon pembatas tepi jalan, si sopir dengan cueknya tetap melajukan busnya dengan kecepatan tinggi. Dan beberapa penumpangpun sampai terguling dari kursinya saking miringnya posisi bis belokan. Busyet! Meskipun deg-degan sepanjang perjalanan, tapi saya masih setia memakai bis ini kalau harus pulang ke kampung halaman saya. Kalau siang hari saya berangkat dari rumah ke Surabaya makan waktu sekitar 3,5-4 jam, sedangkan kalau malam hanya perlu 1,5 jam saja. Silahkan membayangkan ngebutnya kaya apa.

Selama di hotel dan masih in charge di Concierge section, saya kebagian tugas yang mostly ngurusin administrasi. Di bawah naungan ‘buku’ saya, ada mas- mas valet dan bapak-bapak driver. Concierge yang notabene jualannya cuman mobil hotel, mau tidak mau, saya sebagai seksi administrasi ya cuman ngurusin seputar mobil hotel. Saya dengan sotoynya ngurusin bookingan, ngatur schedule buat driver yang in charge, buat laporan revenue setiap harinya, me-record pengeluaran untuk fuel, sampai pengurusan PO (purchase order) untuk penggantian oli dan service rutin mobil-mobil hotel. Orang-orang mengira, saya tahu banyak tentang mobil, bahkan ada yang percaya kalau saya bisa nyetir. Padahal aslinya, jangankan nyetir, naik mobil hotel –merk Innova—saja saya mabok! Taunya, pas suatu hari saya setengah dipaksa untuk ikut bersama rekan-rekan concierge yang mengunjungi salah seorang rekan yang baru saja operasi di Rumah sakit daerah Surabaya bagian timur. Baru saja saya naik mobil, bau dari parfum mobil yang bercampur dengan sofa mobil yang bau matahari (karena mobil barusan ‘dijemur’ di lapangan parkir depan lobby yang panas) langsung menyeruak dan seketika membuat saya pusing. Macetnya lalu lintas menuju rumah sakit malah semakin meperburuk keadaan. Tidak menunggu lama, jackpotlah saya di dalam mobil! Teman-teman sampai panic. Ini judulnya kami mengunjungi rekan yang sakit, tapi teman-teman saya malah sibuk ngurusin saya yang ‘sakit’.

Mobil Innova kedua yang saya jackpot-i milik teman Jepang saya. Kebetulan suatu hari saya diajak mengunjungi salah satu pabrik pengemasan ikan teri miliknya di daerah Nguling, perbatasan antara kota Pasuruan dengan kabupaten Probolinggo. Saya yang awalnya ceria diajak ngobrol ngalor ngidul sambil jalan. Lambat laun, kepala saya seperti biasa mulai pening dan perut saya mulai mual. Dan seperti biasa, gak pakai lama saya sukses Jackpot bahkan sebelum kami sampai Nguling!

Tahun 2010, saya dapat hadiah dari ayah saya menginap di salah satu resort mewah di Bali. Di emailnya ayah saya bilang, beliau memesankan limousine untuk penjemputan dari airport. Mulanya saya kira limousine itu sejenis mobil panjang seperti di film Pretty woman, taunya ternyata ‘hanya’ mobil mercedez biasa. Kerennya, mercedez ini yang type E class, jadi seharusnya nyaman dan mewah. Sialnya, pesawat saya jadwal terbangnya maju satu jam dari yang seharusnya, sehingga sayapun kaya orang bego nunggu mercy jemputan saya selama satu jam di airport. Sekalinya naik dan belum juga ada 15 menit jalan, lagi-lagi saya sudah huek-huek mau jackpot (untungnya saya belum sempat Jackpot di mobil). Padahal mobil ini ampun kerennya, tapi kok ya tetep saja orang ndeso seperti saya ini mabok. Dasar resort bintang lima ini pelayanannnya luar biasa keren, keterlambatan jemputan saya (yang notabene bukan salahnya hotel) direcovery dengan transfer ke Ubud gratis (pakai mercy lagi!) dan selama saya tinggal saya dikasi sekeranjang buah setiap harinya karena dikira saya sedang sakit karena hoek-hoek di mercy!