Thursday, 23 February 2012

Antara Serem dan Nikmatnya Kuliner Jepang

Habis ngomongin masakan Korea yang serem, saya juga jadi pingin cerita juga mengenai masakan Jepang yang dulunya gak kalah serem buat saya. Saya sendiri sebetulnya tidak begitu expert dengan masakan negeri sakura ini, secara saya bisa makan masakan Jepang juga dari traktiran. You know lah, harga Japanese food itu kan bisa bikin hotelier ndeso seperti saya ini jatuh miskin. Pertama kali mencoba masakan Jepang baru sekitar tiga tahun lalu, itupun ‘berani’nya hanya yakiniku (panggangan ala Jepang) di resto all you can eat di salah satu mal besar di Surabaya. Saya masih ingat betul, saat itu kami dapat bonus chawan mushi. Karena teksturnya yang halus banget seperti pudding dan dihias sedemikian cantik, mulanya saya kira itu pudding caramel. Eh, pas saya makan ternyata baunya amis banget! Bau telur! Yep, chawan mushi itu ternyata pudding telur! Dan saya sukses muntah karena bau telurnya yang tajam. Sementara teman saya dengan santainya menawarkan diri ‘nyikat’ chawan mushi sisa saya. Ough!

Tahun berikutnya, saat saya kuliah perhotelan dan mendapatkan materi mengenai Japanese cuisine, mulailah saya mengenal sedikit demi sedikit mengenai ingredients masakan Jepang. Sayapun lalu belajar banyak mengenai cara memotong, memasak dan membentuk, karena makanan Jepang kan bentuknya cantik-cantik. Saya juga baru tahu kalau ternyata membuat chawan mushi itu tidak segampang memuntahkannya. Permukaannya yang lembut itu ternyata susah sekali membuatnya. Chawan mushi yang bagus, teksturnya lembut dan rata. Api yang digunakan tidak boleh terlalu besar, karena akan mengakibatkan banyak uap air menetes di permukaan chawan mushi. Api juga tidak boleh terlalu kecil karena hasilnya akan terlalu juicy. Saya juga jadi ingat saat akhir semester diadakan ujian praktek, jatuhlah undian chawan mushi ke tangan saya. Saya sempat bela-belain latihan berulang kali karena materi chawan mushi ini yang paling saya wanti-wanti. Eh, ternyata masih gagal juga. Padahal ujian tulis saya dapat 100 loooohhh… Sepertinya saya mendapat kutukan dari si chawan mushi. Hiks hiks hiks…


*)Penampakan cantik si chawan mushi

Tahun berikutnya (lagi-lagi) saya ditraktir seorang teman ekspat Jepang saya di resto sushi terkenal di Surabaya. Karena belum begitu familiar dengan sushi, saya ‘hanya’ diorderkan California roll. Teman saya lalu bertaruh, kalau saya tidak doyan dengan rekomendasiannya, saya akan ditraktir dimsum kesukaan saya sepuasnya! Ditantang begitu, siapa takut? Eh, ternyata di luar dugaan saya, California roll itu ternyata enaaaaakkkk….!!! Isinya yang bermacam-macam digulung dengan nasi Jepang yang bear-benar sticky, dilumuri dengan telur ikan tobiko yang terasa 'klethus-klethus' di setiap gigitannya. Nyummy!!!Sejak saat itu, setiap kali teman saya ngajak makan di resto Jepang, California roll tidak pernah absen saya order. Dimsum mah, lewaaaaatttt…!!!


*)California Roll

Saya juga baru sadar ternyata sushi di Indonesia itu fancy abis. Taunya pas suatu hari saya makan siang dengan seorang klien Jepang, saya yang saat itu masih in love dengan California roll, langsung saja pesan sushi favorit saya tersebut. Eh, saya malah diketawai. Beliau bilang, kalau di Jepang, sushi kebanyakan isinya lebih minimalis, dan bukan bermacam macam dan berwarna warni seperti yang saya pesan. Beliau lalu memesan nigiri sushi dimana toppingnya berupa salmon segar (yang saat itu bagi saya masih iiiiiiihhhhh karena ikan itu benar-benar masih mentah!).


*)Kanan: Nigiri sushi

Januari lalu, saat saya liburan bersama ayah saya ke Bangkok,  saya sempat diajak ke Sushi bar terkenal di dekat Thaniya plaza. Sushi Tsukiji, kalau tak salah namanya. Saya, yang masih tergila-gila dengan California roll, dengan girangnya order. Eng ing eng! Yang datang adalah satu plate dengan 5 roll besar dengan lumuran telur ikan tobiko berwarna oranye ngejreng yang tebal saking banyaknya. Mmmmm… benar-benar sushi paling enak yang pernah saya makan! Ayah saya ternyata juga order chawan mushi dan miso shiru (clear soup) yang bagi saya benar-benar enak. Seumur-umur saya tidak doyan chawan mushi dan tidak suka miso shiru, tapi kali ini memang berbeda. Chawan mushinya tidak ada bau telur sama sekali, dan miso shirunya sedikit gurih dengan komposisi miso (pasta yang terbuat dari fermentasi kedelai) yang benar-benar pas! Nyummy!


*)California roll paling enak sejagad!

Puncaknya, datanglah satu set sashimi yang benar-benar baru bagi saya. Ayah saya bilang itu hi recommended dan beliau setengah memaksa saya untuk coba. Sayapun lalu memberanikan diri. Pertama saya ambil yang salmon, saya celup ke shoyu (kecap asin Jepang) banyak-banyak, lalu saya makan. Rasanya aneh karena rasa shoyu sangat mendominasi. Berikutnya saya coba tuna dan mackerel, kali ini tanpa shoyu. Eh, ternyata enak. Maksud saya, enaaaaakkk banget!!! Sayapun lalu keterusan dan endingnya saya habiskan satu set tanpa shoyu sama sekali. Ayah saya sampai kaget. Lebih kaget lagi waktu mendengar pengakuan saya, kalau favorit saya ikan mackerel, bukan tuna atau salmon seperti orang kebanyakan. Bukan kenapa-kenapa, beliau heran karena ikan mackerel itu kan yang paling fishy atau amis, kalau dibandingkan dengan jenis ikan yang lain, apalagi itu kali pertama saya makan sashimi. Ayah saya lalu memesan lagi satu set sashimi, tapi ternyata setengahnya untuk saya. hehehehehe.. you know guys, itu adalah rekor makan malam saya dengan menu sushi dan sashimi terenak dan terbanyak!


*)Sashimi, ki-ka: salmon, mackerel, tuna. Yang tengah atas n bawah itu saya lupa namanya ikan apaan.

Besok dan besoknya lagi, selama empat hari di Bangkok, setiap harus makan di resto Jepang, sashimi tak pernah ‘absen’ jadi menu wajib yang saya pesan. Next time, kalau ada yang traktir Japanese food lagi, mau deh saya dibelikan sashimi lagi. Hehehehe…

Thursday, 9 February 2012

Seremnya Makanan Korea

Di Indonesia, masakan Korea memang kurang popular. Restoran yang menyediakan masakan Korea juga sangat jarang. Kalau iseng, silahkan main – main ke hotel. Coba sebutkan hotel mana di negeri ini yang memiliki restoran khusus masakan Korea? Saya kira kok belum ada ya? Kalau dibadingkan dengan Negara tetangganya Jepang, dimana restoran masakan Jepang sudah menjamur di mana-mana, Restaurant makanan Korea memang masih sepi.

Saya sendiri yang doyan wisata kuliner level amatir (baca: doyan banget kalau ada yang traktir, hehehehe) juga baru-baru ini beruntung mencicipi masakan negeri ginseng itu. Ceritanya, teman saya yang orang ekspat Jepang secara tidak sengaja mengajak saya makan siang di restoran Jepang yang sekaligus menyediakan masakan Korea. Bosan dengan masakan Jepang, beliaupun lalu merekomendasikan masakan Korea sebagai alernatif pilihan. Saya kira akan aman karena saya tidak harus (dipaksa) makan ikan mentah ( sashimi maksudnya –yang buat saya yang orang pribumi ini seram sekali ), sayapun pasrah mau diorderin apa sama beliau. Toh saya cuma ditraktir. Iya saya tahu, cheapshit saya lagi kumat.

Meski belum pernah mencicipi masakan Korea sebelumnya, tapi sebenarnya saya tidak buta-buta amat mengenainya. Setidaknya saya tahu apa itu Bulgogi dan Galbi 1,2). Guru bahasa Inggris saya di hotel ngakunya pernah bekerja bareng orang Korea dan beliau cerita kalau hampir 90% masakan Korea itu menambahkan Khimchi sebagai penambah rasa yang mendarah daging sudah seperti  bawang merah bawang putih saja kalau di kuliner kita. Lucunya, khimchi itu menimbulkan bau badan yang khas sehingga orang Korea secakep apapun (yang unyu-unyu yang sering nampang di TV itu looo..) pasti bau badannya bau khimchi! Guru saya juga pernah cerita, selama bekerja di company punya Korea dulu, beliau akan dengan mudah mengenali orang Korea di kerumunan orang karena bau khimchinya yang khas.

Cerita lain, masih tentang guru bahasa Inggris saya (namanya ibu Diah) ini suatu hari hendak mengadakan pesta tahun baru bersama kolega Koreanya. Karena tuan rumahnya orang Korea, ibu Diah pun diminta untuk membantu acara masak-masak di apartemennya. Lagi enak-enaknya motong-motong spring onion, si Korea teriak-teriak complain, kenapa bagian hijaunya dibuang, disisakan yang bagian pangkal yang putih itu. Eh ladalah ternyata kalau di Korea, spring onion itu yang dipakai malah yang bagian daun yang hijau itu, sedangkan pangkalnya yang putih itu dibuang. Lah di kuliner kita kan, yang ijo itu jadi sampah...


*)Kalau ladies masak2, bagian ijo atau bagian putihnya yang dipakai?

Eh, kembali ke cerita awal. Jadi orderan saya sudah datang. Teman Jepang sayapun menerangkan sedikit, yang dia pesankan buat saya adalah nasi campur Korea (sayang saya lupa apa nama Koreanya). Berupa sayur-sayuran, daging, mushroom, dan telur yang masih juicy banget di tengah-tengahnya. Disajikan dalam semacam bowl dari batu yang dipanasi. Nasinya tidak kelihatan, tertutup sayuran dan daging di atasnya. Sayapun mencoba sedikit sayur dan nasinya. Mmmm…. Nyummy!  Sengaja saya tidak menyentuh telur sama sekali, karena tidak terbiasa makan telur mentah. Eh, ladalah teman saya tiba-tiba mengambil alih mangkuk saya dan ‘ngajarin’ saya bagaimana caranya makan nasi campur Korea ‘yang baik dan benar’. Jadi, dengan cueknya dia ambil chopstick saya lalu menganduk semua yang ada di bowl saya sampai telur yang masih meleleh itu bercampur baur dengan sayur dan nasi. Hiiiiiiyyyyyy… sumpah saya ‘jijay’ setengah mati karena telur mentah yang saya hindari malah diaduk-aduk dan sekarang makanan saya jadi tak cantik lagi, malahan lebih mirip makanan bebek. Huh! Masih belum selesai, teman saya malah dengan nyengir kuda mempersilahkan saya makan. Dengan berat hati (dan separo pengin muntah melihat penampilannya) sayapun melahap suapan pertama. Eh, enak ternyata. Sayapun berimajinasi membayangkan nasi goreng pojok langganan saya dan memperhatikan teman saya ngobrol untuk mengalihkan konsentrasi makan saya. Duh!


*)Nasi campur Korea.
Kalau sudah diaduk-aduk, bentuknya gak akan secantik ini lagi.

Baru suapan kedua, pesanan teman sayapun datang. Dia sempat menyebutkan namanya ‘sannakji’. Yang datang adalah seekor gurita hidup yang masih menggelepar-gelepar di piringnya! Dan dengan sadisnya itu gurita yang masih meronta-ronta itu di’jagal’ di TKP! Ooouuughhhh!!!!! Kalau yang satu ini, biarpun ditawarin dengan imbalan apa juga, saya gak mau makan!!!

Note:

  1. Bulgogi : Daging sapi lada hitam
  2. Galbi    : Iga panggang
  3.  Khimchi: bumbu masakan Korea beupa sayuran yang telah difermentasikan