Thursday, 12 January 2012

Kulkas Oh Kulkas!

Saya punya beberapa pengalaman buruk dengan kulkas. Kadang-kadang suka mikir loh, kenapa sih dengan kulkas? Iya, kulkas si mesin pendingin itu. Beberapa teman saya bilang, saya kualat karena seringnya ‘ngrasani’ bule innocent yang saya kata-katai segede kulkas dua pintu. Oh, apakah saya bersalah? Saya kan cuma ngomong apa adanya!

Jadi ceritanya, FO (Front Office department) di tempat saya bekerja punya pantry dengan kulkas kecil tempat menyimpan makanan kecil dan minuman- minuman ringan. Sebenernya sih, kulkas itu buat nyimpen makanan tamu yang suka dititipin ke orang-orang FO. Tapi berhubung titipan kan jumlahnya gak banyak, jadi bisa sekalian dipakai buat karyawan juga.

Suatu hari, saya ngacir sebentar ke in room dining office untuk meminta amenities VIP berupa buah dan cokelat. Dasar orang in room dining ini teman baik saya, sayapun ‘disangoni’ sebotol jus apel. Saya teguk sedikit, lalu saya simpan di kulkas FO. Selang beberapa jam, saya yang hari itu kebanjiran order showing room kehausan dan tanpa ba bi bu langsung nyamber jus apel saya yang sudah dingin. Saya teguk tanpa curiga. Hueeeeekkk.. rasanya kok aneh, ya? Saya bolak balik botolnya, ya emang ini botol jus apel saya. Tapi kok berasa bir? Eh ladalah ternyata ada anak concierge yang udah ngabisin jus saya trus isinya diganti bir. Sial!

Besoknya, dengan kulkas yang sama, seorang teman menawari saya es kopi. Katanya sih, ditaroh di rak chiller nomor dua, botol air mineral 600 ml. ketika saya buka chillernya, ada dua botol air mineral dan dua-duanya sama-sama berwarna hitam. Saya main feeling saja, tebak-tebak buah manggis, do re mi fa sol, kira-kira mana yang isinya es kopi. Ok, feeling saya mengatakan botol sebelah kiri. Saya buka botolnya, dan tanpa curiga saya tenggak. Hueeeeeekkkkkkkk!!! Ini kopi apa racun ya??? Beneran gak ada rasa apa-apa selain paiiiiitt yang ‘nyelekit’ sampai ke tenggorokan. Ternyata eh ternyata yang kebetulan saya minum itu jamu temuireng milik ibu-ibu kasir valet yang habis melahirkan! Oh No!

Nasib sial dengan kulkas ‘ajaib’ ini ternyata tak hanya menimpa saya. Suatu hari, seorang housekeeping yang kebetulan sedang membersihkan pantry meminta minum sama saya yang juga kebetulan sedang berada di TKP. Karena saya sedang asyik mengaduk-aduk kopi di cangkir saya (duh nikmatnya!) sayapun mengintruksikan dia supaya ambil air mineral punya saya yang saya taroh di chiller. Saya masih asyik dengan kopi saya, hingga tak sengaja saya perhatikan si housekeeping sedang membuka botol air mineral yang salah. You know guys, dia ambil botol yang ada tulisannya gede-gede: CALIBRATION WATER*). DO NOT DRINK! Spontan saya teriak. Emangnya mau bunuh diri, minum air raksa???

Teman saya yang lain, sedang enak-enaknya makan spiku saat saya masuk pantry mau ambil minum. Sayapun iseng nyelutuk.
Saya: wah.. enak nih ada spiku. Sapa yang bawa?
Teman saya: iya nih mbak, dari anak-anak. Katanya dikasih tamu.
Saya: ooohh… (ngeliat ke spiku di box, kayaknya enak niihhh…)
Teman saya: (kayaknya tau kalo saya juga kepingin incip-incip) Ambil aja mbak… masih banyak juga kok..

Sayapun ambil satu. Ketika mau saya gigit, eh saya tak sengaja ngeliat ke box-nya. Ada tulisan gede-gede : EXP DATE 12/12/11. Hah? Lah ini kan sudah tanggal 19? Berarti spikunya udah expired 1 minggu?

Saya: mas, spikunya enak ya? (sumpah saya gak tega mau bilang)
Teman saya: enak kok mbak… saya sudah habis 3 ini tadi.. spiku mahal ini mbak..
Saya:tapi spikunya sudah expired 1 minggu loh mas!
Teman saya: Apa?????!!!(langsung ngi brit ke toilet dan huek huekkk…)


*)keliatannya enak ya???

*) Calibration water: ada juga yang menyebut water gel, cairan raksa yang dicampur silica gel. Ditarok di chiller dan freezer sebagai penstabil suhu.


Wednesday, 11 January 2012

Stasiun Aneh - Aneh

Saya pribadi kadang-kadang merasa takjub dengan kepribadian orang bule. Dengan selera eksotis mereka yang aneh (baca post sebelumnya), kebiasaan yang aneh, hingga pemikiran mereka yang aneh-aneh. Seperti halnya beberapa hari yang lalu, seorang bule tiba-tiba mendatangi saya bermaksud meminta tolong membookingkan tiket kereta api ke Jogja.

Bule: I would like to book a train ticket to Jogjakarta.
Saya: All right, Sir.
Bule: So, where’s the closest railway station here?
Saya: Gubeng station, Sir.
Bule: (mengkerut) what did you say? Gubeng?
Saya: Yes, Sir.
Bule: No, I don’t want to depart from Gubeng. I want to leave from ‘SELERA PEMBERANI’ station!
Saya: (menyedengkan telinga, memastikan saya tidak salah dengar) excuse me, Sir? SELERA PEMBERANI station?
Bule: (dengan pede 100%) yes!
Saya: but I am 100% sure there’s no station namely ‘SELERA PEMBERANI’ here.
Bule: what did you say? I have been there last year and I also 100% sure the name of the station is ‘SELERA PEMBERANI’!

Nah lo… mampus! Mana ada coba stasiun namanya ‘SELERA PEMBERANI’???

Bule: (mengeluarkan pocket kamera dari saku dan menunjukkan sebuah gambar kepada saya) Look at this! The name of the station is ‘SELERA PEMBERANI’!
Saya: (memperhatikan gambar dan setengah mampus pengin ketawa) excuse me, Sir. But selera Pemberani is just a cigar advertisement. Selera pemberani means a taste of brave.
Bule: (melongo se melongo-melongonya) so? What is the name of this station?
Saya: (rundingan dengan beberapa rekan driver yang mungkin familiar dengan stasiun yag ada plang selera pemberani-nya itu) ooohh.. this is Gubeng Station, Sir.
Bule: ooohh.. OK OK.. book me a ticket and I’ll depart from there. But if I didn’t find the name of selera pemberani on the top of it, I’d call you.
Saya: ??????





Besoknya sodara-sodara… saya tunggu sampai jam 5 sore, tepatnya dua jam setelah keberangkatan kereta si bule aneh, telepon di konter saya sama sekali tidak berdering!

Saya hanya berharap si bule tidak singgah ke stasiun balapan di solo atau dia akan me’namai’ itu stasiun antangin karena ada papan iklan antangin yang super gede terpampang disana!


Saturday, 7 January 2012

Hey!!! How Exotic!


Bicara mengenai eksotika, saya kira tiap orang memiliki selera eksotik yang berbeda-beda. Kata eksotik itu sendiri bagi saya yang unsophisticated ini bisa berarti unik atau khas. Atau, something yang langka, indah natural atau apa lah pokoknya eksotik! (*frustasi deh saya karena gak ngerti jelasinnya gimana). Kalau anda kebetulan fans Trinity (author buku perjalanan bombastis: The naked Traveler), pasti anda juga pernah dibikin ngakak dengan ceritanya mengenai eksotisme pohon pisang. Iya, pohon pisang yang biasa kita lihat di pekarangan rumah (orang) itu buat beberapa orang di suatu negara antah berantah sana dianggap eksotis dan merupakan salah satu obyek pariwisata. 

Sewaktu di Bali, saya sempat main petak umpet sama seorang bule segede kulkas gara-garanya si bule pingin pegang tangan saya. “I like your skin color. Yours exotic!”. Saya juga bingung kenapa kulit item gini dibilang eksotik. Padahal tiap hari aslinya saya pakai lotion pemutih, berharap kulit saya bisa (sedikit) lebih cerah. Ehh.. mereka yang berkulit putih  malahan bela-belain jauh-jauh datang dari negaranya buat jemuran! Katanya sih, kulitnya yang tanned alias gosong  bekas dijemur itu mau dipamer-pamerin ntar kalo mereka pulang ke negaranya. Sekali lagi, demi sebuah eksotika, atau kata lain gosongtika. (Ckckckck… iya saya tahu, itu kata baru dan tidak nyambung  sama sekali!)

Di Bali juga, saya yang kebetulan berkesempatan main di Ubud dan me-research beberapa resort mewah yang ada disana, dibuat takjub dengan selera pasar mereka. Bayangin, jauh-jauh dari benua nun jauh di utara, bayar hingga ribuan dolar semalem, dapatnya Cuma tidur di rumah mirip pondok beratap rumbia di tengah sawah! Ketika saya iseng tanya ke salesnya mengapa konsepnya dibikin ‘ndeso’ begitu? Jawabannya lagi-lagi karena pasar mereka menginginkan sesuatu yang eksotis. Lah, kalau begitu, eksotis = ndeso???



*)Percayakah anda kalau foto ini diambil di salah satu resort keren di Ubud??

Yang paling aneh, adalah saat saya dicurhatin seorang teman saya yang seorang driver mobil hotel. Ceritanya, pak driver ini mengantarkan seorang turis yang mau jalan-jalan ke beberapa obyek wisata yang ada di Surabaya. Sebelum berangkat, si bule berpesan menggunakan keyword andalan, ‘I want to see something exotic here’. Dan singkat cerita, dibawalah bule tersebut ke museum kapal selam, musium rokok, plaza-plaza terkenal, ke pantai, pasar tradisional, hingga jembatan Suramadu. Tapi si bule sama sekali tidak tertarik. Katanya, obyek beginian sih banyak di Negaranya sono. Si bule yang kebetulan seorang photografer terlihat frustasi karena belum menemukan hal ‘eksotik’ yang diinginkannya. Bayangin, keliling kota 4 jam di tengah macet dan tidak mendapatkan inspirasi sama sekali. Bete pastinya. Si supir yang ketularan bĂȘte, akhirnya memutuskan untuk balik pulang ke hotel saja. Di tengah perjalanan, saat pak driver melewati sebuat jembatan paling macet di Surabaya, eh ladalah si bule tiba-tiba minta stop. Pak driver yang kaget, langsung minggirin mobilnya. Mulanya dikiranya si bule kebelet pipis and mau pipis di sungai (iiiiihhh.. gak banget deh ya!), eeehh.. ternyata si bule malah ngambil kameranya dan terlihat sibuk memotret ke arah sungai. Eh, dia bukan motret sungai loh, tapi… motret sebaris anak anak yang berjejer di pinggiran kali dan mereka lagi (maaf) eek bareng. Yippiiiiiii…!!! Si bule girang bukan main mendapatkan  apa yang dia inginkan. Dari sini saya makin bingung. Jadi, eksotis itu = eek????
Hueeekkkkkkkk!!!!!!!!!!!!

*)P.s: Seandainya semua turis yang datang ke Surabaya maunya yang eksotik- eksotik, tentu pemerintah akan membuat obyek wisata baru : nonton orang eek masal di kali XXX. masalahnya, siapa ya yang mau jadi obyeknya??? hahahaha.....