Sunday, 11 November 2012

Balada Orang India

Saya ingat sekali, jamannya saya masih SD, di channel TPI (sekarang sepertinya sudah ganti nama)di televisi sering sekali diputar film India. Dulu saya tidak ada ketertarikan khusus dengan film dari Industri Bollywood ini, namun karena ibu saya selalu memonopoli televisi keluarga, mau tidak mau saya jadi turut mengikuti selera beliau. Yang paling saya ingat adalah film Nagin, siluman ular Cobra.

Ketika saya SMP, rupanya industry perfilman Bollywood semakin maju. Saya lihat, selain TPI ternyata channel TV lain mulai menayangkan film-film India ber-seri. Apalagi sejak kemunculan Kuch-Kuch Hota Hai yang kisahnya banyak membius orang, sayapun sejak itu jadi semakin tergila-gila dengan film India. Selama SMP, saya jadi banyak “mengkonsumsi” film-film India dan mulai banyak mengenal actor dan aktris India yang ternyata buanyak jumlahnya. Sayapun jadi berasumsi, orang-orang India itu ganteng dan cantik, setidaknya itu terwakili sudah dengan beberapa actor dan aktris yang sering tampil di film. Saking gilanya, kamar saya penuh saya tempeli dengan bintang film India, sebut saja Shahrukh Khan, Salman Khan, dan saudara-saudaranya. Tidak hanya itu, saya juga hapal lirik lagu soundtrack-sountracknya (bahkan hingga sekarang saya masih hapal). Bagi saya saat itu, pria India itu ganteng, mancung dan so sweeettt… lah, gimana gak so sweet coba, mau menyatakan cinta aja harus berdarah-darah dulu. Hwehehehehe…

Gilirannya saya nyemplung di hotel dan bertemu dengan banyak orang India sewaktu di Bali, lah saya jadi ilfil luar biasa dengan orang India. Saya paling males kalau harus meladeni tamu India karena mereka banyak maunya. Bayar maunya yang murah tapi mintanya yang macem-macem. Belum lagi cara ngomong mereka yang naudzubillah kaya petasan injak. Tar ter tar ter gak keruan sampai saya pusing karena tidak sengaja ngikut kepala mereka yang ‘nge-per’. Saya gak ngerti kalau speaking speed mereka seperti itu sebelumnya karena selama ini nonton film india yang sudah didubbing. Saya kira hanya saya yang menganggap orang India  itu tukang komplen. Nyatanya, banyak teman sesame staff hotel juga yang mengeluhkan hal serupa. Serunya lagi, Trinity traveler di bukunya juga juga menyebutkan hal senada.

Yang saya sadari lagi adalah tenyata orang India itu tidak se so sweet di film. Mereka hi temper dan kalau ngomong kasar dan ‘jleb’ to the point. Kalau mereka lagi emosi, sudah jadi tontonan biasa kalau mereka gak cuman main omongan tapi sampai tunjuk-tunjuk dan dorong-dorong segala.  Saya jadi ingat saat saya pertama kali install skype di handphone beberapa tahun yang lalu. Skype directory saya search otomatis dan mengirimkan pesan ke masing-masing kontak yang saya tidak kenal tapi nyangkut di skype directory. Dalam hitungan 10 menit, saya ditelpon seorang pria India yang ngamuk-ngamuk ke saya dan bilang kalau dia sudah beristri. Dia kaya orang kesurupan minta saya hapus kontaknya, dan tanpa harus pikir panjang ya saya hapus, kenal juga enggak. Eh, 2 menit kemudian dia malah send invitation lagi ke saya yang saya ignore selamanya. Bener-bener orang gila tuh ya..?

Yang bikin ilfil lagi, ternyata orang India (yang saya kenal) itu raja gombal. Gimana gak gombal coba, hari pertama saya kerja, kenal dengan salah satu staff orang India dan langsung ditembak. Di Facebook, seseorang yang juga baru dua hari saya kenal juga begitu. Mending kalau yang nembak saya Shahrukh Khan, lah ini… orang-orang gak jelas semua…

Terakhir yang saya sadari adalah, beberapa orang (saya gak bilang semuanya) India itu fashion disaster. Separah-parahnya orang kita buta fashion, masih mending lah kalau dibandingkan dengan orang India. Perhatiin deh, pilihan warna pakaian mereka yang selalu ngejreng berwarna stabillo terang, yang kadang-kadang kontras dengan kulit mereka yang sawo matang. Yang paling bikin ilfil adalah ketika saya lagi jalan ke Marina Bay lagi duduk santai makan es krim, tiba-tiba es krim saya numplek gara-gara saya keasyikan ketawa melihat seorang cewek india yang jalan di depan saya. Meski saya buta fashion, tapi saya bisa komentar kalau yang ini benar-benar ancur. Bayangkan saja, atasan sari warna merah menyala dengan ornament permata di seluruh permukaan kainnya, rambut panjang sepinggang dikepang, bawahan beupa celana ala aladin dengan warna senada dengan atasan, footwear berupa sepatu keds putih merk Nike, dan jam tangan warna kuning terang gambar Hello Kitty, masih dikontraskan dengan warna kulit yang gelap. Belum lagi tas ransel kecil biru yang dengan santainya nyangkut di punggung. Aaaarrrrggghhh.....

Meskipun ilfil, sampai sekarang kadang-kadang saya masih suka nonton film India meski tidak sesering dulu. Meskipun cerewet dan tukang complain, saya tak pernah lupa guest comment yang saya yang pertama saya dapat dari tamu India bernama Sapru. Segitu baiknya beliau dengan saya sampai-sampai itu orang nawarin saya tour ke rumah Shahrukh Khan kalau saya travelling ke India*.  Saya iya-iyain saja meskipun kedengarannya gombal dan lebay, seperti kebanyakan orang India pada umumnya. Hehehe…

*)Di India memang terdapat tour ke rumah selebritis. Sebagai gambaran dan rujukan, silahkan kunjungi blog trinity traveler di sini.

Saturday, 11 August 2012

Jogja, Dulu vs Sekarang


Saya terakhir kali ke Jogjakarta sekitar dua belas tahun yang lalu, mengikuti study tour semasa saya masih kelas dua SMP (yaaaah… ketebak deh betapa tuwirnya saya sekarang!). Saat itu tentu saya masih cupu-cupunya, berangkat bareng delapan ratusan anak dengan dua belas bis besar (sekolah saya waktu SMP muridnya ribuan), dan memakai kaos olahraga dengan slayer dan topi yang warnanya seragam. Kami diarak menuju satu persatu tempat wisata yang sebagian besar berupa candi-candi, museum dan keraton. Yang ada di benak saya saat itu, mengunjungi candi itu ampun capek dan panasnya, ke museum sangat membosankan, sedangkan ke keraton hampir sama membosankannya karena (saat itu yang saya lihat) hanya beberapa orang main gamelan dan ada sindennya yang lagi nyanyi. Kalau yang begituan, buat saya sih ngapain harus jauh-jauh ke Jogja, karena di desa-desa tetangga bergiliran menayangkan wayang kulit setiap weekend. Itupun saya tidak pernah nonton. Maklum, dua belas tahun yang lalu pikiran saya (tentu) masih dangkal sekali. satu-satunya hiburan adalah melihat-lihat toko souvenir di setiap tempat wisata. Bagi kami saat itu, tempat souvenir itu jauh lebih menarik ketimbang tempat wisatanya sendiri. Sayang, uang saku yang saya miliki sangat terbatas (seingat saya hanya Rp.75.000 yang bagi saya sendiri lumayan besar nominalnya waktu SMP dulu) sehingga kalau mau beli apa-apa juga pilihannya terbatas. Penjual souvenir yang kebanyakan nyegat wisatawan asing di pintu keluar juga malas menawari kami, karena pastilah kami tak tertarik (dan tak kuat) beli.

Destinasi lain yang menurut saya menarik adalah ke pantai Parangtritis. Bukannya saya norak belum pernah lihat pantai, tapi saat itu pantai-pantai yang saya kunjungi adalah pantai-pantai yang tenang, semacam pantai Kenjeran di Surabaya atau pantai di Tanjung Kodok, Lamongan. Saat itu saya belum tahu kalau karakteristik pantai utara dan pantai selatan itu berlainan. Selain mengagumi ombaknya, kami yang masih SMP kusak kusuk bergosip (halah, masih SMP aja sudah suka bergosip) tentang kebenaran mitos mengenai pantai selatan ini. Konon, wisatawan yang mengunjungi pantai ini dilarang mengenakan pakaian yang berwarna sama dengan pakaian Nyi Roro Kidul, seperti merah, kuning, hijau dan biru. Kalau melanggar, wisatawan tersebut bisa tiba-tiba raib secara misterius.  Kebenaran cerita itu, hingga saya dewasa sekarang ini, masih menjadi misteri.

Dasar anak- anak, saya dulu tidak pernah mikir untuk beli atau mencicipi makanan khas dari tujuan wisata yang saya kunjungi. Tahu apa yang saya beli? Saya beli dodol (karena kasihan sama penjualnya yang seorang nenek-nenek), daster buat ibu saya, dan kaos bergambar mickey mouse berlatar hitam untuk saya sendiri. Iya, saya akui saya cupu abis. Beli makanan tidak perlu, karena kami mendapat jatah makan yang dibawakan pihak sekolah. Bekal jalan saya sendiri (berupa roti manis dan susu) juga sama sekali belum tersentuh sampai saya pulang. Foto-foto bukti study tour juga nyaris tidak ada, karena saat itu kebanyakan dari kami belum punya kamera. Kalaupun ada, hanya satu-dua saja dan itupun pakai yang ada roll filmnya. Kebayang betapa terbatasnya jumlah foto yang bisa diambil. Alhasil, saya tak satupun memiliki foto eksklusif kunjungan study tour ini, karena foto-nya harus ramai-ramai dengan banyak teman sekaligus. Itupun saya malas meng-afdruk karena harus giliran pinjam filmnya.

Dua belas tahu berlalu, dan saya tak pernah menyangka kalau minggu lalu saya bisa ke sana lagi dengan durasi hampir seminggu, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya lihat, hanya berdua ditemani orang yang sangat istimewa, dengan point of view yang benar-benar berbeda. Kalau dulu saya bareng-bareng banyak teman berangkat dan pulang dengan bus pariwisata, kali ini saya berangkat sendiri dengan bus patas dan pulang naik pesawat. Kalau dulu bawaannya tas ransel sekolah, sekarang bawaanya koper hotel. kalau dulu bawa uang berlembar-lembar, sekarang tinggal bawa kartu ATM, dan semua beres.
Destinasi yang saya tuju kali inipun berbeda, saya sempat mengunjungi Solo selama dua hari, makan nasi liwet, nonton di bioskop lokal, mengunjungi mall paling happening di sana, dan keliling-keliling naik becak (ini langka juga, mengingat saya terakhir kali naik becak sudah 6 tahun yang lalu).

Kalau dulu saya dan kawan-kawan tidak menginap dan tiduran di bus, sekarang mau nginap di hotel mana juga saya tinggal pilih. Mau poto-poto di tempat wisata, saya  tak perlu lagi rebutan sisa film dengan teman-teman karena sudah punya kamera digital sendiri, istimewanya teman jalan saya suka sekali memotret saya dan kameranya juga bagus, jadilah kalau saya mau ambil foto, tinggal pose dan tanpa komandopun dia langsung jeprat jepret.

Kalau dulu pedagang souvenir di pintu keluar malas menawari saya, kini mereka mengejar-ngejar kami sampai ujung pintu keluar segitu keukeuhnya. Barang-barang yang saya beli untuk souvenir kali ini pun berbeda, saya beli Bakpia pathok yang jadi jajanan khas Jogja, beli gantungan kunci dengan symbol I love Jogja, dan menikmati spa dan massage ala Jawa (yang bener-bener strong) dua kali dalam seminggu perjalanan saya.

Yang teringat sekali di benak saya waktu mengunjungi candi-candi semacam Borobudur dan Prambanan adalah ketinggiannya. Yang saya ingat waktu SMP, Borobudur itu tinggi banget. Saya sudah ngos-ngosan naik dan belum nyampe-nyampe juga di puncaknya. Sedangkan sekarang feel saya kok Borobudur ternyata ‘segini doang’. Hahahaha… mungkin dulu waktu masih SMP kaki saya masih pendek.

Yang berbeda lagi adalah dalam perjalanannya sendiri. Di bis, teman-teman laki-laki ada yang bawa gitar akustik dan memainkannya selama perjalanan di bis. Ramai sekali. Sekarang, kami naik taxi kemana-mana dan karaokean berdua dengan memutar music berbahasa Jepang di Ipad. Dulu, selesai study tour tugas kami selanjutnya adalah membuat laporan kunjungan wisata, kalau sekarang saya paling-paling hanya mengumpulkan tulisan sporadic saya di notepad selama perjalanan dan menuliskannya kembali di blog.

Meskipun berbeda, saya merasakan feel yang sama setiap kali ke Jogja. Apanya yang sama? Jogja, bagi saya  tetap cerminan dari keasrian budaya yang masih benar-benar terjaga. Baik dulu hingga sekarang.
However, I love Jogja. 

Friday, 10 August 2012

The Big Bosses

Bicara mengenai Boss, yang ada di benak kebanyakan orang adalah sesosok pimpinan yang sok tahu, sok kuasa, sok borju, dan sok sok lainnya. Saya pernah baca buku My stupid Boss, isinya kurang lebih curhatan mengenai boss yang ridiculous, halah konyol maksud saya. dan hebatnya, buku ini saat ini sudah menerbitkan empat seri buku, dan dua buku lagi adalah fans page. Segitu gilanya si boss, sampai jadi topik pembicaraan di enam buku. Eh, tapi jangan salah… boss saya bukanlah tipe boss seperti itu. Meskipun kadang-kadang ridiculous juga, tapi sebenarnya mereka itu baiiiikkkk… banget!

Start dari mantan pak GM (General manager) saya. kalau dilihat-lihat pak GM ini petakilan sekali. Gimana gak petakilan coba? Pak GM bawa mobil hotel sudah seperti bawa mobil F1 saja. Wuuuuzzzzzzz!!!! Melesat begitu saja di lobby hotel. Gak peduli ada tamu yang kaget, atau staffnya yang jantungan. Kalau lagi off duty, beliau suka berpakaian casual, ngaget-ngagetin staff yang lagi bertugas, sampai main dorong-dorongan pakai troli baggage dengan mas mas bellman. Duh!

Boss aneh berikutnya adalah pak OM (Operational manager). Di kantor sih, Pak OM kelihatan normal-normal saja. Hingga suatu hari diadakanlah sales semi outing, maksudnya makan malam bersama anak-anak sales. Pak OM, jelas gak mau ketinggalan. Karena restoran tempat kami makan itu lokasinya di salah satu mall paling happening, entah sengaja  ato tidak, Pak OM ngajak dugem sehabis makan. Karena dikira bercanda, kami hooh hooh aja. Eh, gak taunya ternyata Pak OM serius. Ya sudah, masuk saja. Sebagian besar dari kami anak sales jaim mau order apa, secara ada big boss mantengin kami semua. Pak Boss sendiri, dengan pedenya order Screwdriver. Sayapun berbisik ke beliau,
Saya : Pak, jangan banyak-banyak loh… besok kan Bapak ada general meeting, Pak GM juga datang.
Pak OM : Cuma orange juice kok…
Saya : Screwdriver itu vodka orange kan, Pak…
Pak OM : (Nyengir) hehehehe… kamu jangan kasih tahu yang lain ya, kalau orange juicenya pakai Vodka. Gak enak kalau anak-anak pada tahu.
Saya : Jiaaaaaaahhhhh…

Boss aneh ketiga adalah PR manager saya. Sebenarnya beliau belum lama bekerja di property kami, namun karena orangnya mudah akrab dan gampang bergaul, jadilah kami hepi menerima beliau sebagai orang baru. Mulanya, saya kira beliau ini orangnya normal-normal saja, hingga suatu saat…
Beliau: (menerima form publisher dari saya)
Saya : (nunggu respon dari dia)
Beliau: Ann, minta tolong dong ininya diituin!
Saya : (Bengong) Hah? Apanya yang diapain, Pak? (tuh, nular deh!)
Beliau: Tulis-tulis dong! (sambil tangannya nulis-nulis di udara)
Saya : (ngasih bolpen)
Beliau : Ok, makasih (langsung kabur)
Saya : (membatin) Maksud Loh???!!!

Lain hari…
Beliau: invoice dari XXX printing mana?
Saya : (ngasih invoice 3 lembar)
Beliau : (muka bingung) Tolong dong Ann, ini semua dikalkulatorin.
Saya : (Lagi-lagi membatin) Bapak kreatif amat ya, bisa menciptakan kata-kata baru. Nilai Bahasa Indonesia dulu berapa Paaaakkk…

Di hari yang lain…
Beliau: (di telpon) Ann, kalau ada Pak OM (Operational Manager) nyari saya, saya ada di opis, ya?
Saya : Ya Pak (dalam hati: Office, kaleeee…)
Beliau : Banner yang dari ABC Printing sudah dikirim?
Saya : Yang mana ya Pak?
Beliau : Kalau gak salah sih yang warnanya piolet.
Saya : (Jiaaaaaahhhh… Violet maksudnya?)
….
Saya: (Menelepon) Pak, Jam segini kok belum datang ya? Bapak hari ini yang jadi manager on duty loh..
Beliau : (background keramaian jalan raya). Iya, masih on de wei. Macet. Pespa depan saya stuck gak mau jalan.
Saya : (lagi-lagi membatin) Pespa itu  kendaraan buatan mana?
….
Saya: Pak, BEO untuk press conference tidak ada change log-nya kan?
Beliau : Ada, sudah saya kirim lewat imel,yang diganti cuma softdrinknya. Kita pake Panta.
Saya : Capeeee deeeeehhhh….!!!

Dan inilah puncaknya…
Beliau: Ann, pinjam cetokan sebentar.
Saya : (amazingly langsung ngerti) ngasih stempel tanggal.
Beliau : (Langsung muter-muterin tanggal dan mengecap-ngecap di kertasnya)
            Beres, deh….
Saya : Pak, tahunnya kok 2013?
Beliau: Loh, emang ini tahun berapa?
Saya : Terjengkang!

Di hari yang lain, beliau jadi manager on duty. Saat muter-muter area lobby, beliau menemukan ada banyak sampah puntung rokok tercecer di sebelah standing ashtray. Beliaupun berinisiatif memanggil public area houseeking yang berjaga menggunakan HT (Handy Talky).
Beliau: Housekeeping masuuukk…
Tidak ada yang menyahut.
Beliau : Housekeeepiiiiing…. Masuuuuuuuuukkkk…..
Masih tidak ada sahutan.
Beliau bergumam sendiri. HT direstart. Dicoba lagi. Dikocok-kocok. Shake shake mirip bartender. Masih tidak ada sahutan.
Beliau: Ini HTnya rusak ya?
Saya yang sedang berada di TKP sedang asyik terpingkal-pingkal sampai tidak bisa menjelaskan ke beliau, kalau mau panggil seharusnya “Housekeeping monitor”, nah kalau housekeepingnya nyautin, mereka bakal jawab “housekeeping masuk…”. Di Kasus PR Manager saya ini, karena beliau bilangnya “Housekeeping masuuukk…” berulang-ulang, semua orang gak ada yang ngeh pas dipanggil, malahan adanya mereka ngira ada anak housekeeping yang stupid, orang tidak ada yang manggil kok malah nyautin.  Hadeh…

Tuesday, 24 July 2012

Tips Memilih hotel untuk bekerja


Enaknya kerja di hotel mana, ya?
Berangkat dari secuil pertanyaan itulah, post kali ini ditulis.

Sebagai seorang staff hotel yang sudah duluan nyemplung di dunia perhotelan, saya banyak sekali menerima pertanyaan dari teman-teman seangkatan mengenai bagaimana memilih hotel yang tepat untuk bekerja. Maksudnya, menentukan hotel yang tepat dengan keinginan dengan standart yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kalau saya sudah mulai buka suara, mereka akan langsung mendengung, “aaahh…kalau mau kerja di hotel yang bagus kan sulit sekali! yang mana dulu saja lah.. yang penting diterima!”. Sejujurnya, statement seperti itu ada benarnya. Tapi, sebagai calon staff kita juga punya hak untuk memilih mana yang terbaik, baik dari segi keseharian kerja, upah, kebijaksanaan management, program hotel, hingga jenjang karir. Banyak juga rekan saya yang sudah jauh-jauh meninggalkan pekerjaannya di Surabaya dibela-belain ke luar pulau berpindah ke lain “hati” (baca: hotel) yang menyesal setelah bekerja di sana karena kenyataannya tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan sebelumnya. Sedikit tips berikut saya rangkum dari nasehat-nasehat orang-orang dekat dan saya alami sendiri. Semoga bisa membantu mahluk-mahluk galau di luar sana yang sedang bingung menentukan pilihan mau bekerja di hotel yang mana.

1.  Kenali kepribadian.
Loh? Ini bicara masalah hotel apa mau psikotes? Jangan salah! Nyari hotel itu ibarat nyari pacar. Harus pas dan sesuai dengan visi dan misi hati. Sebagus apapun hotelnya, kalau tidak sesuai dengan kepribadian anda, anda tidak akan enjoy kerja di sana. Semisal anda adalah seseorang yang menyukai segala hal yang baru dan cepat bosan dengan situasi yang statis. Anda pasti akan bête jika harus bekerja di business hotel yang begitu-begitu saja. Sebaliknya, bekerja di sebuah resort yang banyak turis, akan menjadi hal yang sangat menyenangkan buat anda. See?

2. Visi misi anda dalam bekerja.
Kebanyakan dari kita pasti memiliki tujuan tersendiri dalam bekerja. Misalnya, prioritas dalam pendapatan, atau prioritas dalam berkarir. Kalau prioritas anda adalah uang, hotel yang seharusnya dipilih adalah yang memiliki service charge yang tinggi dan memiliki banyak tamu. Semakin banyak tamunya, biasanya peluang untuk mendapatkan banyak tip juga semakin besar (dengan catatan, pekerjaan anda yang bersifat guest contact). Jika prioritas anda adalah karir, carilah hotel yang turn overnya tinggi. Maksudnya, banyak  staff yang keluar masuk. Dengan banyaknya vacancy di hotel tersebut, berarti peluang anda mendapatkan posisi baru juga lebih terbuka, bukan?

3. Kenali management hotel.
Beberapa rekan, juga saya, kadang tergiur untuk ‘loncat’ ke hotel sebelah yang baru buka dan berbintang sama. Mulanya sih iri juga melihat teman yang sudah loncat duluan dan bertengger dengan posisi baru yang lebih ‘wah’. Namun, setelah 3 bulan berjalan, muncullah keluhan-keluhan baru seperti “ternyata managementnya tidak bagus,” atau “waaahhh berantakan lah pokoknya di sana”. Nah, meski kelihatannya terlalu general, mengenali management itu penting. Saya jauh lebih percaya dengan management internasional semacam Starwood, Shangri La, Hyatt, JW. Marriott, dan sebagainya ketimbang management lokal yang baru beberapa tahun saja berdiri. Bukan saya meremehkan management lokal, namun sebagai pekerja seharusnya kita tahu ‘apa yang terjadi dengan perusahaan’. Berkaca dari pengalaman rekan saya yang ‘menclok’ ke hotel baru di sebelah dengan management acak adut, belum setahun berdiri, nama hotel dan managementnya sudah berubah. Nah, lo? Ada juga satu hotel yang ‘turun bintang’ sejak managementnya berubah. Jumlah bintang itu, bagi saya sangat berpengaruh dengan image dan kredibilitas sebuah hotel. Kalau bintangnya turun, otomatis, pendapatan akan turun karena harga kamarnya jadi lebih murah.

4. Sesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Banyak orang sukses di perantauan. Karena dengan berada di perantauan, alam mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian. Kalau situasi dan kondisi memungkinkan, bekerja di hotel di negeri ‘seberang’ sebetulnya lebih menjanjikan. Namun, kalau situasi dan kondisi tidak memungkinkan seperti saya (saya ngiler kerja di kapal pesiar), ya cari yang bagus di sekitar sini saja.

5. Business hotel atau resort?
Itu kembali ke passion anda masing-masing. Kerja di resort lebih santai karena lebih kasual. Kerja di business hotel terkesan kaku dan terlalu resmi karena memang standartnya seperti itu. Saya jadi ingat teman saya yang anak housekeeping di hotel yang mengeluh kerja di resort karena hampir semua kamar seperti kapal pecah pas check out. Sebaliknya teman saya yang kerja sebagai concierge di business hotel mengeluh karena susah sekali mendapat tip. Saya? mengeluh karena susah cari cowok bule ganteng di business hotel. Piiiiiissss!

Buat yang masih galau juga, baca juga post enak dan gak enaknya kerja di hotel
Jadi, sudah ada pilihan mau ‘nembak’ hotel yang mana?

Friday, 20 July 2012

W Retreat dan Spa Bali



Bulan april lalu, sebelum ke Singapore saya dan teman saya yang tajir melintir singgah ke Bali karena saat itu direct flight dari Surabaya ke Singapore tidak tersedia. Jadilah rencananya kami berangkat dari Surabaya ke Singapore tapi transit sehari di Bali. Sebagai salah satu hadiah ulang tahun, hadiahnya adalah bermalam di W Retreat and Spa di Seminyak, Bali. Mengapa Seminyak? Itu sih sebenarnya akal-akalan saya, alsannya karena Seminyak adalah satu-satunya wilayah selatan Bali yang hanya pernah saya lewati namun belum pernah saya singgahi. Ternyata teman saya ho-oh ho-oh saja. Asyiknya, ternyata jenis kamar yang dipesan adalah jenis villa dengan private swimming pool! Waaaaahhhh… jelas kami berdua girang setengah mampus.

W seminyak adalah brand W pertama dari Starwood Hotels di Indonesia. konsep yang diusung adalah retreat dan spa, meski saya perhatikan, konsep retreat atau berdiam diri sih tidak seberapa kentara karena ramai di sana sini. Lokasi retreat ini nyempil nun jauh di belantara Seminyak. Dari Ngurah Rai airport saja perjalanan dengan taxi hampir 45 menitan. Seminyak yang pernah saya lewati itu daerah yang ke arah pantai Petitenget, sebelah barat Sunset Road. Sedangkan untuk menuju ke retreat ini ternyata perlu sedikit perjuangan. Dari jalan utama kami memasuki sebuah gang kecil yang jalannya masih ancur, sebagian lagi malah tidak beraspal. Sekalinya beraspal polisi tidurnya di sana sini. Mana pak sopirnya ngebut, saya jadi suka terlonjak kesana kemari. 

Mengingat perjuangan yang payah, kami langsung hore-hore ketika melihat symbol W besar di kiri jalan.Tapi begitu taxi mau masuk dan berhenti sejenak untuk security checking, kami langsung kecewa, “lah kok cuma segini doang?” Saya lihat jalan utama menuju resort hanya sekitar 3,5 meteran, dengan pembatas tanaman bamboo hias. Saya tengok di sebelahnya lagi sudah ada beton setinggi 1,5 meter dan sudah menjadi wilayah resort sebelahnya. Lah masa seupil gini doang???

Taxi yang membawa kami mulai masuk ke dalam.  15 meter di depan, ada lagi symbol W besar yang di dalamnya ditanami berbagai tanaman hias. Saya makin penasaran. Rupanya untuk ke lobby utama masih harus masuk lagi. Kali ini kami melewati jalan utama selebar hampir 8 meter dan lobby sudah terlihat. Wow! Ternyata retreat ini beneran Wah! Kontras dengan seupilnya main gate di muka jalan, retreat ini luas amit-amit! Kami langsung check in sambil sesekali tengak tengok kiri kanan saking takjubnya. Di sebelah lobby saya lihat ada bar dengan tempat bersantai yang viewnya menghadap ke laut dengan deburan ombak yang kencang (jadi jangan harap bisa berenang di sini). Mengengok ke sebelah kanan, terdapat restoran yang menghadap langsung ke area swimming pool yang luas, lagi-lagi dengan back ground deburan ombak. Saya dan teman saya langsung kumat noraknya, ambil kamera, photo-photo narsis dengan berbagai back ground dengan pose narsis. Halah!


 Logo W di gate dalam

Proses check in selesai dan karena kamar sudah ready ( seharusnya check in timenya jam tiga sore, tapi karena kami maksa, mbak receptionnya kasian juga. Mungkin takut kalau kami tiba-tiba ngamuk karena ayannya kumat :P) kami diantar buggy ke sebuah villa yang lokasinya persis di sebelah kanan lobby. Hiyyyaaaaaa… berasa borju tiba-tiba!

Villa kami no. 5, terletak persis di deretan nomor 3 dari kiri. Mas bellboy yang lumayan ganteng (saya perhatikan sepertinya staffnya kebanyakan masih muda dan enak dilihat) memberikan key card dan kunci manual untuk membuka pagar (maksud saya pintu pagar) villa. Dasar ndeso, kami langsung ber OOOO.. ketika mas bellboy memperlihatkan cara menggunakan kartu. Selama ini kan kami thunya key card itu diinsert atau dimasukkan ke dalam lubang kunci, sedangkan di villa ini kami bingung gimana masukinnya karena gak ada lubangnya. Ternyata kartu cukup ditempel ke bagian induk kunci yang ada tanda lingkarannya. Dan pintu lantas terbuka. Ealah!

Noraknya kami belum mentok sampai di sini. Begitu masuk ke dalam, kami berdua langsung teriak-teriak ala bar bar begitu melihat ‘daleman’ si villa. Di depan kamar kami ada private swimming pool dengan long chair untuk berjemur, lengkap dengan  bed chairnya, handuk dan payung. Di seberangnya saya lihat ada gazebo di pojokan dengan bantal bantak malas yang membuat kami tidak sabar untuk bermalas-malasan.

Begitu mas bellboy membuka kamar kami, lagi-lagi kami ‘dipaksa’ untuk tercengang. Tempat tidur kami ukuran king bed dengan bantal bulu-bulu berasa di rumah banget. Di kiri dan kana nada amenities berupa mosquito repellent, lotion, air mineral dan gelasnya, lalu sebotol anti nyamuk merek baygon (asal lihat-lihat saja kalau mau minum dilihat dulu labelnya, baygon atau air mineral, hehe).  Berikutnya di sebelah kiri tempat tidur, ada kursi bulu bulu besar, sofa panjang yang benar-benar nyaman menghadap ke TV LED 42 inch, lalu searah jarum jam saya lihat ada lemari kayu kosong tempat menyimpang barang, lalu mini bar yang busyet banyak banget jenisnya. Pas di belakang tempat tidur, terdapat meja kerja dengan berbagai pernak perniknya semacam hotel directory,  Bali map, telephone, dan stationery. Masuk ke dalam lebih lanjut, memasuki area bathroom lagi-lagi membuat saya tercengang. Amenitiesnya buanyak dan luengkap! Ada body butter, seabrek sabun, lotion biasa, lotion buat berjemur, face wash, shampoo, conditioner, dan berbagai macam liquid lain merek bliss, yang masih ditambah mouthwash merek Listerine dalam botol kecil. Yang saya sebutkan tadi baru yang terdapat di wash basinnya saja. Sementara masuk ke dalam shower, atau mencoba nyemplung ke bath up, sabun dan teman-temannya juga sudah tersedia.


Bedroom dengan bantal bulu-bulu berasa di rumah


Salah satu sudut Bathroom dengan amenities bejibun


Private swimming pool favorit saya

Sebagai penutup kekaguman kami, mas bellboy mengambil sebuah remote di atas meja dan mengarahkannya ke tirai. Mulanya saya kira itu remote DVD atau TV, eh tidak taunya begitu salah satu tombol dipencet, tirai emacam screen proyektor itu naik turun perlahan secara otomatis. Wuiiiihhhh!!!! Mempermanis suasana, dia lalu menyalakan DVD blue ray di sebelah kanan meja kerja. Lagu yang diputar saat itu, I am Yours nya Jason Mraz yang ‘gue banget’.

Kamipun buru-buru ‘ngusir’ mas bellboy dengan selembaran dua puluh ribuan yang tersisa. Wah wah wah, benar-benar berasa di surga! Di sini baru konsep retreatnya terlihat, secara di villa kan kami cuma berdua. Dan memang sepiiiii sekali. Repotnya (kalau ini boleh dibilang suatu kerepotan karena pada dasarnya kami pemalas akut) kalau mau keluar kemana kami harus telepon call service untuk mengirim buggy ke villa kami. Jalan kaki sih Oke, tapi kalau malam kan malas sekali. Lokasi villa yang di tengah kebun begitu kan banyak nyamuk. Belum lagi gelap dan tidak ada siapa-siapa. Kalau tiba-tiba kami ketemu leak, gimana coba?

Besoknya setelah sarapan yang kesiangan, kami bergegas menuju swimming pool yang lokasinya dekat pantai. Jangan dikira kami mau berenang, ya. Nope! Tujuan utama kami hanya melihat-lihat pemandangan spektakuler ombak pagi menjelang siang dan pura-pura berjemur sambil ngecengin cowok ganteng, dengan catatan kalau ada. Rupanya, selain jenis kamar villa kami juga menemukan jenis kamar suite yang lokasinya menghadap ke pantai dan kolam renang. Segerombolan bule ganteng sih mulai bermunculan, tapi masing-masing menggandeng ceweknya. Ada sih yang single, tapi tuwir-tuwir begitu. Berewokan lagi. Iiiihhhh!!! Kamipun pura-pura sibuk in action (pasang aksi poto-poto) ketika bule berewokan itu berserobot pandang dengan kami.


Spot favorit tempat saya ngecengin cowok ganteng

Tak terasa sudah jam 11 siang, saatnya kami segera berkemas dan menuju airport dan terbang lagi ke Singapura. Dengan berat hati, kami berjalan gontai menuju receptionist untuk check out. Kami memandang sekeliling untuk menikmati pemandangan sekaligus nyari cowok ganteng (sempat-sempatnya, ya?) sebelum kami pulang. Eh, ternyata kali ini keinginan kami terkabul. Seorang cowok ganteng topless menuju ke arah kami, menunggu buggy sambil ngajak kenalan. Kami hampir setengah pingsan saking girangnya. Sayangnya kami harus segera cabut, kalau tidak mau ketinggalan pesawat. Jadilah, kami hanya basa basi saja dengan si bule. Reception yang sudah selesai memprint out tagihan kami menunjukkan total bill yang harus kami bayar. Di kertas tagihan itu tertulis, 10 Juta untuk menginap di surga selama semalam saja! Oh GOD! Kali ini kami berdua mau pingsan beneran!
  

Thursday, 28 June 2012

Mahalnya Singapore


Salah satu negara di Asia tenggara yang dari dulu ingin sekali saya singgahi adalah Singapura. Secara saya penasaran, bagaimana negara semungil itu bisa lebih maju daripada negara kita yang notabene lebih besar dan jauh lebih melimpah kekayaan alamnya. Selain karena alasan itu, saya juga penasaran seperti apa hotel-hotel yang ada di sana, sekalian melakukan kebiasaan norak saya kalau lagi jalan ke luar, yaitu membandingkan harga dengan negara sendiri untuk mengukur taraf hidup.

Beruntungnya saya memiliki teman tajir yang baik hati yang bulan april lalu membawa saya ke negara mini ini. Karena lama tinggal di Australia yang notabene cost of livingnya lebih tinggi, saya kira dia tidak akan kaget kalau nanti di Singapore harganya selangit. Eh, nyatanya sebelum berangkat dia agak-agak khawatir juga. Sempat dia bilang kalau cost of living di Singapore itu hampir sama dengan di Ostrali. Saya jadi deg deg ser, tiket pesawat dan akomodasi sih sudah ditanggung, tapi kalo yang lain ya bayar sendiri. Saya jadi keder juga. Takut kalau uang di tabungan terkuras gara-gara jalan ke Singapore. But show must go on… lagi pula ini destinasi impian yang sudah sejak lama saya inginkan.

Kami tiba di Changi airport jam 2 siang. Belum juga selesai terheran-heran dengan airport Singapore (yang benar-benar jauuuuuuuuhhh bedanya kebersihan dan kemewahannya jika dibandingkan dengan airort-airport yang pernah saya singgahi di negeri sendiri) seseorang berjas hitam yang membawa papan bertuliskan nama kami datang menghampiri. Rupanya, dia seorang driver hotel yang menjemput kami di airport. Teman saya sempat mengatakan kalau dia pesan deluxe car. Saya sih tidak ada ekspektasi apa-apa, namanya deluxe itu biasanya jenis yang paling murah, meskipun kedengarannya ‘wah’. Saya hanya penasaran, kira-kira di Singapore itu jenis mobil yang paling bnyak digunakan jenis mobil apa? Apakah mobil impor Jepang atau Eropa, atau mereka punya mobil nasional? Belum juga rasa penasaran saya terbayar, mobil driver yang saya kira mobil murahan ternyata jenis Mercy S-class! Wiiiiiiihhh…! Kalau yang level deluxe saja sudah mercy, gimana yang level di atasnya? Sayapun gatel bertanya ke pak drivernya. Dan dia dengan enteng jawab, “Audy!”. Wiiiiihhh… Saya makin melongo.

Hotel yang telah terpesan saat itu Mandarin Oriental, rupanya lokasinya lumayan jauh dari bandara. Taxi driver yang membawa kami orangnya ternyata asyik juga. Sepanjang perjalanan kami diajak ngobrol dan dia juga sedikit cerita mengenai negaranya, tempat-tempat yang wajib dikunjungi, peraturan-peraturan  hingga denda. “Singapore is a fine country!” katanya lagi.

Tiba di hotel, kami disambut ramah seorang staff bule yang cantik. Kamar yang kami dapat juga benar-benar wow… jauh dari yang saya harapkan (fyi, saya tidak banyak berharap karena toh saya cuma numpang, hehehe). Saya sebetulnya sudah menyarankan untuk tinggal di hotel chain yang satu perusahaan dengan hotel saya. Tariff untuk saya hanya 50% dari tariff normal dan tanpa breakfast. Lumayan lah, lagian saya tidak terlalu suka sarapan a la hotel yang isinya hanya roti-rotian saja. Sekarang saya tahu kenapa teman saya nolak. Karena hotel yang dia pilih benar-benar jauh lebih bagus dari pada hotel yang saya sarankan. Meskipun untuk itu, dia harus merayu orang tuanya untuk mengeluarkan kocek lebih dalam sebanyak 8 kali lebih mahal dari plan semula.

Destinasi pertama yang ingin kami tuju sebenarnya adalah Merlion park, yang lokasinya lumayan dekat dari hotel (bahkan dari kamar hotelpun, sebenarnya kami sudah bisa menikmati pemandangan landmark Singapore, mulai Marina Bay sand yang bentuknya seperti perahu, stadion bola, taman kota hingga Merlion Park) namun, karena cuaca sedang tidak bagus dan hujan mulai turun, kami naik taxi ke Jewel box. Saya kira apaan, karena untuk kesana saya harus patungan merogoh kocek lumayan dalam untuk bayar taxi yang cuma jalan 10 menit saja tariffnya sudah di atas 100 ribuan. Ternyata Jewel Box itu semacam cable car yang destinasinya ke Sentosa Island! Waaahhh… saya langsung semangat tapi balik lemes lagi saat harus bayar tiket. Per orangnya kalau dirupiahin saat itu sekitar 500ribuan. Apaaaaahhhh????!!!

Eniwei pemandangan yang dilalui cable car ini benar-benar spektakuler. Sebetulnya saya pernah juga naik cable car di puncak, Bogor, namun tidak setinggi dan seindah yang ini. Untungnya saya tidak fobia ketinggian, jadi enak saja menikmati pemandangan indah a la bird’s eye. Sedangkan teman saya sibuk nutup mata dan pegangan lengan saya kuat-kuat. Lah kalau takut ketinggian, buat apa bayar mahal-mahal naik beginian??!

Sesampainya di Sentosa Island, dasar kere, kami langsung menuju ke museum cable car (karena itu satu-satunya wahana yang gratis), lalu poto-poto norak berbagai pose. Jalan keluar dari museum ini ternyata melewati toko souvenir yang barangnya bujubuset mahal. Gantungan kunci logam berbentuk ikon Singapore misalnya, harganya rata-rata sedolaran (padahal satu dolarnya kalau dirupiahin sudah delapan ribuan). Sedangkan gantungan kunci terbuat dari acrylic yang berbentuk cable car harganya malah 5 dolaran. Busyeeettt!!!

Oke, karena sudah terlanjur ada di Sentosa, kami lalu mengublek-ublek seisi Sentosa, mulai Tiger sky tower, The image of Singapore, hingga the giant statue. Itu tuh, patung singa raksasa yang menjulang tinggi di tengah rimbunnya Sentosa island. Saya urung masuk Tiger Sky tower karena teman saya fobia ketinggian. Saya takut begitu nyampek atas, dia nyakar muka saya saking parnonya. Supaya aman, kami masuk ke wahana ‘The image of Singapore yang isinya kurang lebih cuma patung lilin yang dirancang sedemikian rupa menceritakan awal mula terbentuknya negara Singapura, hingga manusia hologram yang nongolnya hanya sekitar lima menitan di awal acara.  Bosan, kami lalu ke giant statue, lagi-lagi latihan buat teman saya supaya tidak takut ketinggian. Rupanya, untuk menuju kesana kami harus melalui escalator-eskalator otomatis. Lagi asyik-asyiknya jalan, segerombolan anak muda dengan seragam warna hijau menyerobot jalan. Belum juga kaget kami hilang, segerombolan lain berseragam merah berlarian ke arah kami, meyerobot jalan lalu berlari ke rimbunan semak-semak. Berikutnya, satu kru televisi datang dan mewawancarai kami. Rupanya, mereka tadi itu peserta acara reality show suatu stasiun TV swasta. Kamipun diwawancarai sebentar. Noraknya! Bahkan di negeri sendiripun kami belum pernah masuk tipi. Hehehehe…

The giant statue yang kami tuju ternyata hanya sebuah tower dimana kami bisa menikmati pemandangan indah sentosa Island dari ketinggian. Teman saya rupanya sudah sedikit terbiasa, buktinya dia suda berani jalan sendiri tanpa harus pegangan tangan saya (saya sampai geli dan  takut pasaran turun karena bisa jadi orang mengira kami lesbi). Sesampainya di atas ternyata ada juru foto yang memotret kami dengan tiga pose garing, satu pose biasa, pose mengaum dengan tangan membentuk cakar di udara, dan terakhir pose kedua tangan menengadah yang kami masih gak ngerti maksudnya apa. Begitu turun mau keluar, lagi-lagi kami harus melalui toko souvenir. Ketika mau melenggang, seseorang memanggil.
“your photo miss. Don’t you want to print them?” katanya.
Ketika menoleh, ternyata photo kami yang diambil photographer di atas patung tadi sudah terpampang manis di monitor seukuran kira-kira 24 inchi. Karena hasilnya bagus, kami gatel mau ngeprint.  Kirain gratis karena sudah termasuk harga tiket masuk, eh ternyata kami harus bayar 15 dolar per lembarnya. Total kami bayar 45 dolar untuk ngeprint photo ukuran 5R itu. Duuuhh….!

Sekembalinya dari sentosa, karena lapar, kami memutuskan untuk makan di China town. Dari berbagai referensi, makan di China town itu salah satu cara wisata kuliner murah karena barang dan makanan yang dijajakan bagus, murah dan enak. Kamipun lagi-lagi tancap gas ke China town pakai taxi yang argonya bikin mampus. Sekalinya sampai, kami nemu restoran kecil menjual masakan cina. Karena restorannya kecil (hampir miri kedai gitu), saya kira harga makanannya juga akan murah. Begitu disodori buku menu, lagi-lagi kami dibikin shock. Makanannya sih biasa saja, tapi minuman yang tersedia hanya wine dan wine. Kalaupun ada air, adanya yang sparkling water. Chinese tea juga tidak ada. Teman saya yang doyan wine langsung hepi, sedang saya bingung mau minum apa. Sayapun akhirnya nyogok minta dibelikan cola dari toko sebelah. Memang kombinasi yang aneh. seumur-umur baru kali ini saya makan masakan cina minumnya cola.  Sudah aneh, harganya (yang katanya murah) bagi saya juga masih mahal. Harga souvenir yang ditawarkan juga sama, sedolaran perbijinya. Heeeelp!!!

Besoknya kami jalan-jalan ke Merlion dan Marina Bay Sand. Ke Merlionnya sih murah, karena gratis gak usah bayar. Hanya repotnya, mau foto-foto jadi gak asyik karena terlalu banyak orang. Pas ke Marina Bay sand, lagi-lagi kami harus bayar untuk bisa ke invinity (sebutan untuk kapal kesasar itu..). Seumur-umur saya masuk hotel dimana-mana gratis kecuali kalau makan dan minum, tapi di sini kami mesti bayar lagi bayar lagi. Tapi pemandangan dari atas invinity memang luar biasa, selain pemandangan alamnya yang wow, ternyata pemandangan di kolam tertinggi inipun wow, banyak bule-bule ganteng bertebaran di mana-mana. Hehehehe…


*)Pemandangan spektakuler dari Invinity

Rupanya hotel ini nyambung jadi satu dengan lokasi casino dan mall besar. Kami hanya nengok ke casino karena tidak bawa passport, karena untuk masuk kami harus menunjukkan passport. Kami lalu jalan-jalan ke mallnya. Bener-bener gede dan baguuussss…. Dan tentu saja mahal, secara brand-brand yang terpajang juga merk-merk mahal.

Perjalanan berikutnya adalah ke Orchard road. Karena seorang teman yang suka ngompor-ngomporin, jadilah saya ke sana, kirain ada apa, ternyata orchard road itu isinya hanya mall dan toko- toko doang! Beuh beuh.. Sepanjang perjalanan isinya toko lagi toko lagi! Karena kelaparan jalan-jalan seharian dan hanya bisa ngeces, kami putuskan ke China town lagi karena sepanjang jalan tidak ada restoran. Kalaupun ada, ya jenis yang mahalan yang tentu saja berat di kantong. Taxi yang kami tumpangi kali ini drivernya masih muda dan ganteng, sayangnya cuek banget, jarang ngomong karena dia sibuk dengan ipad 2 nya di dasbor mobil. Kirain dipakai buat Gps, eh gak taunya buat chatting sama girlfiend-nya. Keren sih, taxi driver aja udah bawa ipad kemana-mana. Saya yang orang hotel juga gak punya ipad. Gimana yang kalangan eksekutifnya ya?Sedang di negara kita, yang punya ipad cuma golongan tertentu saja. Saya yang orang hotel saja belum mampu beli. Hiks, kasihan sekali saya… 

Overall, bagi saya Singapore tetap menjadi negara impian, melihat modernitas, kebersihan dan ketertibannya, membuat saya saya selau ingin kembali mengunjunginya lain waktu. Selain karena cost of living yang tinggi, saya sangat merekomendasikan negara ini untuk menjadi salah satu tujuan wisata saat libur. Yang menyedihkan, ketika menulis post ini, saya jadi ingat tabungan saya yang tipis akibat saya gasak selama di sana. Singapore, please return back my money!

Thursday, 21 June 2012

Chinese Party


Kerja di hotel yang juga memiliki ballroom yang berfungsi salah satunya sebagai tempat pesta kawinan, membuat saya memperhatikan orang-orangnya. Saya perhatikan, dari 10 pesta kawinan, sebanyak 9 diantaranya adalah kawinan orang Cina. Pestanyapun selalu heboh, dengan dekoran yang meriah dan tamu yang tidak hanya ratusan tapi hingga ribuan orang.  Karena pestanya saja sudah heboh, tamu yang datang (terutama tamu perempuan) juga tidak kalah heboh dandanannya, kalau tidak berpakaian a la barat (mirip artis Hollywood yang pakai gaun-gaun backless gitu), ya pakai baju a la Cinderella dan berwarna-warni, belum lagi dengan sepatu berhak belasan centimeter, dan tatanan rambut dengan sanggul tinggi dan berbagai aksesorisnya yang berkelap kelip. Silau man! Saya sampai susah membedakan yang mana yang mempelai yang mana yang tamunya karena dandanannya sama hebohnya. Namun kebanyakan, mempelai itu standartnya pakai gaun berwarna putih, sedangkan tamunya pakai gaun ngejreng warna warni. Saya perhatikan, pilihannya kebanyakan kalau bukan merah menyala ya biru ngejreng. Halah!

Bicara mengenai dekoran yang juga heboh, kadang-kadang saya suka takjub sendiri. Harga yang ditawarkan  pihak dekor untuk membuat dekoran semeriah itu ternyata tidaklah murah. Yang paling sederhana biasanya kisaran puluhan juta rupiah, dan yang paling mahal hingga ratusan juta rupiah, tergantung jenis dekoran yang diminta dan request bunga segar jenis apa yang hendak dipakai. Kalau sedang iseng pingin berhitung, saya kadang sampai bawa kalkulator dan berhitung sendiri. Harga 1 tangkai bunga mawar segar sekitar 700 hingga seribu rupiah untuk harga supplier. Nah, jika dekorannya heboh, bisa menghabiskan hingga puluhan ribu tangkai bunga mawar, belum lagi dengan jenis bunga lainnya, dan kalau dihitung-hitung biayanya sudah mahal. Di hotel Mandarin oriental Bangkok saya pernah lihat dekoran ballroom yang seluruh dindingnya dihias bukan dengan tirai seperti umumnya tapi menggunakan bunga  anggrek warna putih. Silahkan membayangkan sendiri berapa ongkosnya. Yang bikin saya kagum lagi, orang dekor kerja seperti sulap. Baru saja kemarin sore saya lihat ballroom masih kinclong kosong, paginya saya lihat sudah heboh dekorannya. Eeeehh.. besoknya saya lihat sudah kinclong lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa malam sebelumnya. Ckckck…

*)Decor full white Orchid di hotel Mandarin Oriental Bangkok


Kredibilitas dan tingkat kekayaan seorang mempelai biasanya juga bisa dilihat dari pestanya. Umumnya seorang mempelai yang memiliki perusahaan besar, di pesta kawinannya akan terpajang papan karangan bunga beraneka rupa dari berbagai perusahaan dan bank. Semakin terkenal orangnya dan semakin besar perusahaannya, maka semakin banyak pula papan karangan bunga berisi ucapan selamat yang menghiasi lobby hotel. Kalau orangnya tajir sekali dan perusahaan yang dimiliki besar sekali, karangan bunga yang terpajang kadang-kadang sampai meluber ke jalan saking penuhnya. Padahal karangan bunga semacam itu tidak murah loh… Saya pernah iseng tanya harga ke seorang florist yang kebetulan mengantar karangan bunga ke lobby. Katanya yang paling murah sekitar 800 ribuan hingga jutaan, tergantung desain dan  (lagi-lagi) tingkat kehebohan bunga yang dipasang. Ya ampun, kalau papan bunganya aja bisa semahal itu, lantas berapa ya kira-kira angpau yang diberikan untuk mempelainya? Gaji saya setahun atau lebih mungkin ya…? Wah wah wah… dengan duit segitu sih saya sudah bisa beli mobil dong ya… *)hehehehe.. ngayal deh ya…!

Salah satu acara adat kawinan orang Cina keturunan ada yang mirip dengan acara tujuh bulanan bayi adat Jawa, yaitu menaburkan beras kuning yang di dalamnya juga ada uang koinnya, biasanya besaran 500 hingga seribu perak. Bedanya, kalau orang Jawa menabur koin dan beras kuning itu perlambang berbagi kebahagiaan dengan sesama karena uang koinnya jadi rebutan (umumnya anak-anak kecil), nah kalau di tradisi Cina, lempar uang koin itu perlambang buang sial.  Saya tahunya saat suatu hari di briefing pagi, salah seorang duty manager menyinggung staff concierge yang bukannya bertugas saat pesta berlangsung, malahan sibuk mungutin uang koin. Lah, mau kena sial mas?

Umumnya, pihak mempelai selalu menyiapkan souvenir untuk para tamu undangan yang telah datang. Biasanya berupa cangkir cantik bertuliskan nama mempelai, kipas unik, parcel mini, hingga handuk cantik. Namun, saya pernah menjumpai souvenir paling aneh yang membuat saya sampai tergelak. Bukan pesta kawinan sih, tapi kali ini pesta ulang tahun ke 80 seorang kakek keturunan Cina. Katanya nih, dalam tradisi orang Cina keturunan, umur 80 tahun itu harus dirayakan sebagai ungkapan syukur panjang umur. Biasanya souvenir yang dibagikan juga wajar dan standar, namun souvenir kali ini boleh dibilang aneh, yaitu berupa satu paket berisi obat-obatan, vitamin dan anti biotik. Halah, lansia sekali ya?

Salah satu pesta Chinese aneh yang pernah saya jumpai lagi adalah pesta ulang tahun seorang anak berumur 2 tahun. Bukan orangnya yang aneh,  namun susunan menunya. Jadi di BEOnya (Banquet Event Order) saya lihat untuk anak-anak disediakan kid’s buffet, ada juga adult buffet dengan tambahan booth untuk bar yang menyediakan draught beer dan aneka alcoholic drink yang menyediakan berbagai macam cocktail on request dan wine aneka rupa. Nah lo? Ini bapaknya atau anaknya sih yang mau pesta?

Wednesday, 20 June 2012

I love Front Desk!


Kalau ada yang iseng nanya, kenapa dari sekian banyaknya section yang ada di hotel saya lebih milih front office atau FO, saya punya alasan personal yang cukup masuk akal. Pertama, sewaktu kuliah, mata kuliah yang paling saya kuasai itu yang menyangkut front desk. Saya bela-belain kursus bahasa Inggris dan bayar mahal guru bule supaya bahasa Inggris saya lancar ya, untuk bisa kerja di front desk. Jadi, apa yang saya kira paling saya kuasai, itu yang saya tekuni. Mengenai penguasaan terhadap mata kuliah ini, jamannya saya kuliah saya paling males dengan housekeeping. Sebenarnya menarik juga belajar mengenai bidang ini secara teoritis, saya jadi tahu mengenai chemical-chemical yang digunakan untuk membersihkan property seperti berbagai macam lantai dan mulai belajar mengenai bahan-bahan atau material dasar linen serta cara merawatnya dengan benar. Kalau dipikir-pikir, keren juga sih. Tapi pas praktek housekeeping, dngan rese’nya dosen menyuruh kami – mahasiswanya yang polos dan lugu- untuk ngepel lantai dan membersihkan toilet kampus yang ampun deh joroknya. Huek! Saya langsung ilfil dan mulai berfikir bahwa ternyata pelajaran housekeeping itu asyik pas teori tapi bikin ilfil pas praktek. Saya jadi ingat saat ujian akhir dan ujiannya praktek housekeeping, saya kebagian tugas making bed (menata tempat tidur) dan brushing lantai menggunakan brushing machine. Making bed ditarget 5 menit dan saya molor 2 menit, sedangkan pas brushing menggunakan mesin, saya sukses nabrak dinding kelas hingga itu dinding jadi gak cantik lagi karena bocel-bocel. Duh! Untungnya nilai ujian tulis saya bagus sehingga lumayan bisa mengatrol nilai ujian prakteknya.

Alasan kedua adalah karena saya cinta kebersihan. Kerja di front desk itu artinya dituntut untuk selalu berpenampilan bersih dan rapi, alasannya karena kesan pertama tamu adalah dari front desknya. Jika kesan pertama sudah bagus, maka selanjutnya terserah anda. Halah, iklan banget!

Alasan ketiga, section besar yang belum saya sebutkan sebelumnya juga sama sekali tidak membuat saya tertarik. Yap, yang saya maksud adalah kitchen section atau apalah yang berhubungan dengan masak memasak. Sejak kecil, saya tidak pernah melihat ada tanda-tanda ada bakat memasak dalam diri saya. Pas saya kuliah, saya juga tidak suka harus berjibaku dengan kompor dan wajan di dapur kampus untuk praktek food product. Selain tidak ada bakat, saya juga malas sekali harus berpanas-panasan dan berkotor-kotoran dengan bahan makanan terutama yang mengandung minyak. Saya jadi ingat, setiap kali pulang praktek memasak, yang saya selalu lakukan adalah mandi keramas dan mencuci baju dan semua kelengkapannya seperti celemek dan topi karena sekujur tubuh saya berminyak dan bau rempah-rempah.

Sebenarnya, food product itu dibagai dalam dua golongan besar, yaitu food product sendiri (yang memproduksi berbagai macam makanan) dan pastry (memproduksi berbagai macam roti, kue dan sejenisnya). Meskipun lebih menyenangkan, pelajaran pastry ini juga tidak membuat saya berminat karena lagi lagi alasan bakat. Jangankan membuat tiramisu, membuat kue ‘gagal’ seperti brownies saja saya tidak becus. Problemnya kurang lebih sama, hasil kue buatan saya bantat.

Saya jadi teringat dua tahun lalu, saya berniat merayakan ulang tahun saya sekaligus merayakan natal bareng keluarga pacar karena kebetulan hari ulang tahun saya berdekatan dengan perayaan natal. Saya membantu calon ibu mertua membuat sponge cake dalam jumlah lumayan banyak, sekitar 10 pan yang rencananya akan dibagikan kepada tetangga dan kerabat, dan sebagian lagi dibawa ke gereja. Percobaan pertama sih sukses, pan cake buatan saya dan camer hasilnya mengembang bagus. Percobaan kedua, pas ketika camer sedang mengaduk adonan, seorang teman gereja menelpon dan meminta beliau ikut latihan karawitan untuk perayaan natal di gereja saat itu. Beliau langsung cabut dan menyerahkan semua pekerjaan itu kepada saya. Inilah ujian terberat, karena kredibilitas saya sebagai mahasiswa perhotelan diuji saat itu. Bagaimana tidak, camer saya tahunya saya diajari pastry di kampus dan pastinya bisa mengerjakan PR ini sendiri. Yang beliau tidak tahu, bakat adalah hal terpenting yang menurut saya harus ada, dan celakanya itu tidak dianugerahkan kepada saya. Singkatnya, seperti biasa hasil karya saya kempes dan bantat, dan saya malu luar biasa kepada beliau karena hal ini. Sebagai gantinya, akhirnya kami beli yang sudah jadi di toko roti. Hiks, memalukan sekali!
                                                                                                                 
Buat anda yang juga kerja di hotel, section apa yang paling anda sukai?

Tuesday, 5 June 2012

Ketika Orang Jepang Ngomong Inggris...




Meskipun teman ekspat Jepang saya sudah tinggal di Indonesia lebih dari sepuluh tahun dan bahasa Indonesianya sudah lancar, bukan berarti saya selalu mengerti apa yang dia katakan. Orang Jepang yang saya tahu itu tidak bisa mengatakan huruf ‘L’ dengan baik dan benar. Misalnya, suatu hari saat kami membicarakan masalah kenaikan harga ikan (karena dia eksportir ikan), dia bilang, “ah… itu mahar..”. Kalau saya sih, sudah mulai paham, maksud dia tuh mau ngomong mahal, bukannya tiba-tiba ngomongin mahar buat kawinan. Hehehe…

Yang kedua, orang Jepang biasanya tidak bisa mengucapkan membaca huruf mati, kecuali huruf ‘N’. Misalnya class yang seringnya dibaca ‘kurasu’. Itupun kalau huruf ‘N’nya terletak di akhir kata, maka yang keluar biasanya kata sengau yang terdengar seperti ‘ng’. Misalnya makan yang berubah menjadi ‘makang’, sen menjadi ‘seng’, aircon (AC) terdengar seperti ‘eakong’, dan sebagainya.

Well, ceritanya, suatu hari selesai inspeksi dari pabrik ikan, teman saya ngajak nongkrong. Karena tidak tahu mau kemana, diapun berinisiatif, mengajak saya ke ‘makudo’. Saya yang kurang mengertipun mengklarifikasi,
“hah? Makudo? Dimana itu?”
“iya. Makudo narudo. Ada di dekat sini” katanya lagi.
Saya sampai bingung. Apa itu makudo. Eh, makudo narudo. Saya sibuk mengingat-ingat apa ada café ala Jepang di sekitar sini yang baru buka dan bernama ‘Makudo Narudo’. Ah, saya rasa kok tidak ada. Apa sejenis toko mainan yang menjual replica tokoh anime Naruto ya? Ketika mau bertanya, mobil yang kami tumpangi belok ke arah parkiran restoran fast food paling happening sejagad, yaitu MCD!!! So, yang dari tadi dia omongin itu ternyata cuma MCD! Oh no! MCD gitu loh…!

Sampai di dalam MCD saya belum berhenti tertawa karena spelling yang kacau ini. Si ekspatpun lalu minta diajari cara ngomong MCD yang baik dan benar. Tapi yang keluar kok jadi aneh, mulai dari ‘mekede’, ‘makudo’, ‘mekedo’, sampai ‘mekudi’. Ah, sudahlah! Si Jepang pun sudah mulai ampun-ampun mengeluh rahangnya capek karena harus mengulang kata yang sama dan gak bisa-bisa juga. Karena susah, kamipun sepakat menyebut MCD dengan ‘mekudi’, karena hanya kata itu yang paling mirip. Daripada ‘mekudo’, jauh amat kan?
Karena ngomong MCDnya udah mendingan, jadilah kami mulai memesan makanan dan si Jepang dengan pedenya order,
“Saya mau 1 ‘sandoichi’ dan cola!”
Saya +Mas-mas MCD: bengong pandang-pandangan. Sandoichi??? Sandwich kaleeeeee….

Jangan dikira perbincangan kami yang kacau dengan menggunakan kata serapan berbahasa Inggris mentok sampai di sini. Sambil menikmati ‘sandoichi’ (yang kedengerannya lebih mirip merk sandal jepit), diapun cerita mengenai jaman dia masih bekerja di Jepang. Jadi ceritanya, di kantor dia punya rekan kerja dari Amrik 3 orang, masing-masing bernama Nikooru, Kaeru, dan Jemusu. Jangan kaget, ini bukannya orang Jepang yang jadi imigran di Amrik trus balik ke Jepang loh, tapi beneran orang Amrik yang namanya sudah ‘dijepangkan’. Nikooru itu aslinya bernama Nicole, Jemusu itu berasal dari nama James, sedangkan Kaeru (yang berarti kodok dalam bahasa Jepang) itu aslinya Kyle. Kasihan sekali si Kodok, eh si Kyle yang berubah namanya jadi kodok. Hehehe.. Mereka berempat ini, ceritanya kompak banget baik di dalam hal bekerja atau di luar kerja. Mereka suka keluar nonton film, apalagi yang actor utamanya ‘Burapi’. Pasti bingung kan, siapa itu Burapi??? Burapi atau kadang-kadang disebut Burapido itu Brad Pitt! Hah, kacau juga ya, sampai Brad Pitt juga tidak luput dari ‘siksaan’. Hwahwahwahwa…

Untungnya nama saya Anna, yang ada huruf vokalnya baik di depan dan di belakang kata. Jadi tidak mungkin diplesetkan menjadi nama baru yang aneh. Syukurrr….

Eniwei meskipun orang Jepang susah mengucapkan kata berbahasa Inggris, ternyata  tidak semua orang Jepang seperti itu. Setidaknya ayah saya yang orang Jepang bahasa Inggrisnya bagus dan bisa mengucapkan huruf ‘L’ dengan baik dan benar, lalu dua teman Japanese GRO sewaktu training di Bali yang notabene asli orang Jepang juga bahasa Inggrisnya lancar dan jelas, apalagi orang Jepang yang hidupnya kelamaan di negara yang berbahasa Inggris.

Saya jadi maklum dengan bahasa Inggris ala Jepang, dan mulai bertanya-tanya dalam hati, kalau misalnya orang Jepang mendengar orang Jawa ngomong Inggris dan medok, apa mereka juga akan ketawa yach?

Thursday, 24 May 2012

Siapa mau Makan Pipis Ikan?


Belakangan saya kedatangan seorang teman yang asli orang Australia. Teman saya ini sebelumnya pernah ke Indonesia dan lama berkunjung ke Jogjakarta. Kedatangannya kali ini masih tetap untuk berlibur, hanya saja karena sudah pernah ke Jogja, dia berencana akan tinggal sekitar dua minggu di Surabaya. Sebenarnya tidak ada masalah sih, hanya saja karena dia tidak punya teman sama sekali di Surabaya, jadilah saya harus dengan sukarela menjadi guide-nya. And you know lah guys, Surabaya kan bukan kota wisata. Objek wisata yang wajib dikunjungi paling-paling ‘hanya’ jembatan Suramadu, museum kapal selam, museum rokok, dan pasar-pasar tradisional. Selebihnya, ya lihat kemacetan, dan melihat kebisingan dan kesibukan kota sepanjang hari.

Dua hari berkeliling dan mentok, sayapun bête dan kehabisan ide ngajak dia kemana. Mau makanpun musti mikir dulu apa perut dia kuat dengan rempah-rempah lokal yang spicy banget ini. Mau ngikutin dia makan ala kebiasaannya juga saya malas. Dia doyan makanan a la Italy berupa Pizza atau pasta, yang bagi saya hanya ‘cemilan’. Burger dan hotdog yang sehari-harinya jadi menu sarapan, buat saya hanya pengganjal perut. Bukannya saya pemakan banyak, tapi sebagai orang Indonesia asli, asli perut saya tidak akan merasa kenyang sebanyak apapun saya makan burger kalau  belum ketemu nasi. Hehehe…

Dan dua hari itu juga, saya sudah mulai bosan menyesuaikan diri dengan makanan. Ini ceritanya saya tuan rumahnya kok saya yang dijajah?! Males dong! Sayapun  lalu memberanikan diri menegur dia secara halus, “Hi dude, what is the justification of you being here if you just eat western foods? You have to try local foods!” sayapun pura-pura sewot. Eh, dia dengan enteng menerima tawaran saya. Saya jadi hepi dan ngajak dia ke restoran masakan Cina. Maksudnya buat latihan gitu, sebelum dia betul-betul makan masakan lokal yang ‘nendang’.

Percobaan pertama saya ajari dia makan koloke, tumis kailan daging sapi, tim ikan kuah cokelat (pokoknya kuahnya berwarna cokelat, saya lupa apa bumbunya) dengan nasi Hainan yang notabene favorit saya. Di luar dugaan, dia doyan banget semua makanan itu dan ngajak saya makan itu lagi besok. Sayapun tentu menolak. Meski favorit, tapi ogah ah makan makanan yang sama dua kali berturut-turut. Si bule dengan pedenya mencatat sesuatu di buku catatannya. Mungkin mencatat nama makanan yang barusan dia makan, karena dia sempat tanya sama saya nama makanannya sebelum dia mencatat. Si bule lebih girang lagi saat bill datang. Saya kira dia kena ayan mendadak karena kaget melihat mahalnya harga yang tertera di bill. Eh, dia nyengir ke saya dan bisik-bisik, “the price of foods here are really cheaaaaapppp!!!!”. Nah lo, giliran saya yang mau kena ayan. Makan segitu aja habis hampir 400ribu dan dia bilang murah bangetttt…. Saya yang sarap apa dia ya?!

Besoknya, karena berniat ngerjain dia, saya yang lagi ‘kumat’pun mengajak dia makan di restoran padang. Bukannya saya jahat, saya kan maunya dia merasakan local taste. Supaya sampai di negaranya dia cerita bahwa di Indonesia itu makanannya enak-enak dan murah. And once again you know lah guys, kalau restoran masakan padang itu unik banget. Semua makanan yang ada dihidangkan di atas meja panjang. Si bule udah mulai deh noraknya dan tanya-tanya, kenapa gak ada buku menunya lah (lah emang restoran Italia?), kenapa mejanya panjang banget dan bukannya kecil-kecil seperti restoran pada umumnya, yang saya jawab kalau meja ini fungsinya untuk mendisplay makanan yang akan disediakan yang dia asumsikan sebagai makan ala buffet (pasmanan). Dia lalu tanya-tanya kalau buffet kenapa gak ada satupun makanan yang terhidang? Saya yang bête dan sudah mulai bosan ditanya-tanyapun berang, “you (nunjuk dia) shut up! Just wait and see!”. Saya mulai gak sabar. Oke, sebagai personal guide saya akui saya ini bukan guide yang baik. Meski mukanya sedikit upset, si bule menuruti kata saya. Saat mas-mas pramusaji mulai beraksi mengantar makanan di piring yang ditumpuk-tumpuk diatas dua tangannya, saat itulah saya teriak ke dia, “cepetan ambil kamera, itu ada pertunjukan bagus.” Si bule gak mau ketinggalan moment bagus ini, yang langsung dia abadikan dalam bentuk video di kameranya. Dia lalu senyum-senyum najong kemenangan, dan menyesalkan kenapa juga saya gak mau bilang ke dia kalau bakalan ada atraksinya segala di sini. Halah, kalau orang kita lihat begituan kan biasa…

Mas pramusaji telah selesai meletakkan semua piringnya di meja. Nah lo, si bule masang muka  bingung dan mulai rese tanya- tanya lagi, “so, I have to eat all of these foods?” yang saya jawab dengan, “yes, if your tummy has enough space for that”. Si Bule nyengir dan dengan lahap makan. Gak nyangka ya, muka boleh bule, tapi makannya kaya kuli angkut gini. Hehehe…

Rupanya si bule ostrali yang satu ini beda banget dengan teman-teman bule saya yang lain. Yang ini perutnya kuat makan rempah-rempah yang spicy dan kuat makan pedas. Buktinya, dia gak sakit perut setelah makan masakan padang yang terkenal pedes dan nendang itu. Sayapun jadi hepi ngajak dia makan ala streetfood karena gak usah khawatir dia sakit perut setelahnya. Saya ajak dia berkeliling ke restoran masakan Makassar, masakan Sunda, hingga ke warung pinggir jalan yang menu andalannya sayur asem, lodeh, hingga yang menyediakan gule kambing dan kikil sapi.

Tak terasa dua minggu hampir berakhir. Saya sedih juga harus melepas dia balik ke Perth. Padahal dia teman makan dan jajan yang enak banget karena bisa menyesuaikan selera saya. lebih enak lagi karena setiap kali jajan selalu dia yang bayar karena dia bilang makanan di Indonesia murah-murah (yang ini dilarang sirik, wek:P!). Sebelum berpisah dan menunggu pesawat, kamipun bercerita flash back mengenai kesan kesan dia selama di Surabaya dua minggu ini. Sayapun tidak kaget saat dia bilang, “Surabaya is great. The foods are all nice and cheaaaaapppp!” (Jujur saya sedih setiap kali dia bilang di sini makanan murah-murah karena kenyataan buat saya tidaklah demikian). Lalu saya tanya makanan apa yang menjadi favoritnya. Dan dengan lantang dan 100% pede dia jawab, “Pipis ikan is my favourite!”.  What? Sayapun melongo gak ngerti. Lalu berusaha mengingat-ingat dosa apa yang saya perbuat sampe saya ngasih makan nih bule pipis ikan. Dan saya ingat betul saya tidak pernah masuk restoran yang menyediakan menu pipis ikan.
“Sorry me but I don’t understand what is pipis ikan.” Si Bule membuka-buka catatan kecilnya. “Pipis ikan is served with sour veggie soup. The taste was really nice.” Sayapun dengan keras mencoba mengingat-ingat jenis makanan apa yang dimakan bareng sayur asem. Oalah, yang dia maksud itu pepes ikan yang dia baca dengan pipis ikan! Halah, dasar bule!

So, Siapa mau makan pipis ikan??