Monday, 19 December 2011

A Cheapshit Flying Guest

Suatu sore yang biasa-biasa saja, seorang tamu bermasker check in. Seperti biasa, sambil menunggu receptionist memproses registrasi, saya mengajak ‘beliau’ ngobrol.

Singkatnya, saya mendapatkan banyak informasi dari tamu ini. Beliau adalah ‘korban’ pesawat gagal terbang sebuah maskapai mahal di Nusantara. Sebagai bentuk permintaan maaf, maka tamu tersebut ‘diinapkan’ di hotel ini. Saya juga sempat menanyai kenapa dia memakai masker. Jawabnya sih, dia sedang dalam penyembuhan dari sakit typus. Saya jadi heran, sejak kapan orang sakit typus dianjurkan pakai masker, ya?

Well, setelah proses registrasi selesai receptionist pun mengkonfirmasi tentang payment, bahwa maskapai penerbangan itu hanya menanggung kamar, makan pagi dan makan malam saja. Yang aneh, si tamu sempat tanya,”makan malamnya ada limitnya tidak, Mas?” dan dengan polosnya mas receptionist teman saya ini menggeleng. Lha wong di guarantee letter-nya memang juga tidak ada statement apa-apa.

Selang 2 jam kemudian…
Mbak-mbak waitress Restoran Chinese datang ke meja saya.
Waitress: Mbak ini betul tah kamar nomor 21XX ini makan malamnya ditanggung?
Saya: (Gak ngeh) kenapa emangnya?
Waitress: Saya lihat di system kan dia dapat allotment dinner, tapi dia ambil yang a la carte, bukan yang buffet…
Saya : (masih gak ngeh) lah terus?
Waitress: Lah ini mbak lihat sendiri billnya. Masa makan sendiri billnya ampe sejuta! (nunjukin bill ke saya)
Saya: (mikir dalam hati) Loh, billnya kok sebanyak ini, ya?
Waitress: ….

Saya pun lalu nyari mas- mas yang tadi mencheck-in kan tamu aneh itu. Dan seperti saya dan mbak waitress, dia langsung bengong begitu liat list bill yang panjang dan total tagihan makan malam yang gak masuk akal tersebut.
Mas Reception: Tapi aku tadi udah sempat telpon booker dari maskapai XXX dan mengkonfirmasi apa saja yang tertanggung. Dia bilang room, breakfast dan dinner.
Mbak Waitress: Lah tapi kalo bill-nya segede ini mana mau mereka bayar. Normalnya orang kalau dinner ya, yang buffet itu. Harganya cuman Rp.188.000,00.
Mas Reception: lah itu tadi orangnya makan sama siapa?
Mbak Waitress: Sendiri. Dia cuman makan ayam Hainan saja. Yang lain dibungkus.
Saya : Orang dia lagi sakit typus kok, mana bisa makan banyak kaya gitu?
Mas reception + Waitress: Haaahhhh????

Well, malam itu juga saat night briefing kami semua berdoa bersama, semoga besok waktu tagihan nyampe di booker, si booker tidak terkena heart attack karena ngasih compliment sama orang yang salah. Just imagine guys, kalo sekali lagi.. aja maskapai tersebut gagal terbang lagi and semua tamunya diinepin disini and semuanya makan malem ampe sejuta, saya yakin deh itu maskapai bakalan cepet-cepet gulung tikar. Hahahaha…

Live Band Bikin Budeg

Di hotel tempat saya bekerja, ada pertunjukan live band music mulai jam 9 malam setiap harinya. Band-nya sendiri gonta ganti setiap 3 bulan sekali, dan aliran musiknya pun juga ganti-ganti, kadang jazz, pop, atau reggae. Seringkali juga mereka bisa membawakan lagu-lagu tradisional semacam lagu ‘lingsir wengi’ atau ‘situmorang’ atau lagu-lagu oldist bahkan lagu keroncongan. Pokoknya mereka multi talented deh, at least buat saya pribadi.

Karena seringnya saya kebagian shift siang, maka keberadaan band ini bagi saya adalah salah satu penyelamat jiwa dari rasa bosan dan sepi. Apalagi kalau mereka sedang menyanyikan lagu-lagu favorit saya, saya seringnya ikutan ‘nyanyi’ bareng mereka. Sayangnya, khusus hari minggu, tidak ada acara live band music. Acara diganti dengan tayangan balapan F1 yang seringnya dijadikan arena taruhan. Hari minggu pas kena shift siang, buat saya adalah hari yang’garing’.

*)Live Band di Hotel ada deh...

Meskipun keberadaan band tersebut cukup penting buat saya, tapi kadang-kadang saya sedikit kesal dengan band tersebut. Apalagi kalau bukan masalah kencengnya suara band yang bikin orang mendadak budeg. Ditambah lagi, posisi band yang sedang main itu pas satu lantai diatas counter receptionist. Seringnya, jam segitu masih ada aja orang yang mau check in. Dan sebelnya, si tamu yang terkena syndrome budeg mendadak ini bener-bener terkena ‘budeg attack’ sehingga kalau nerangin apa-apa ke tamu receptionist musti setengah teriak. And lebih sebelnya lagi, karena saya guest relation yang harus bantuin receptionist pada saat tamu check in, jadilah saya yang kena ‘kewajiban’ teriak, eh nerangin ke tamu tentang settlement pembayaran seperlunya.

Saya: Pak Hendro, untuk kamar dan makan paginya sudah ditanggung oleh travel a…
Tamu: (nelengin kuping lebih deket ke muka saya)
Saya: Untuk kamar dan makan paginya sudah ditanggung ol…
(Background sound: welcome to the hotel California…)
Tamu : (geleng-geleng putus asa). Ini orang bener-bener deh budegnya…
Saya: (Ngencengin suara) JADI KAMAR DAN MAKAN PA…
(Lagu hotel Californianya tiba-tiba brenti ti ti!)
Saya: …GINYA SUDAH DITANGGUNG OLEH TRAVEL AGENT!!!
Tamu: (kaget dan langsung balik tereak) PELAN-PELAN NAPA MBAK NGOMONGNYA! SAYA KAN GAK BUDEG!!!

Saya ====> korek-korek kuping, mastiin apa saya terkena internal bleeding!

Tuesday, 13 December 2011

Teppanyaki Dinner

Masakan Jepang? Hmm…. Nyummy!!! Saya pribadi doyan sekali jenis masakan satu ini, entah itu kategori Yakimono (macam-macam panggangan), menrui (macam-macam mie), Donburi (makanan yang disediakan dalam kotak-kotak (lunch box / bento) seperti makanan bekal), shirumono (macam-macam soup), mushimono (macam-macam makanan yang di steam), atau agemono (macam-macam makanan yang di goreng dalam minyak banyak). Sengaja saya pisahkan sashimi karena saya masih kurang ‘nekad’ untuk mengkonsumsi daging mentah. Nah, dari berbagai macam jenis masakan Jepang tadi, ada satu jenis masakan yang metode memasaknya menggunakan tepan (lempengan besi panas dengan atraksi kokinya di depan tamu) yang menjadi salah satu favorit saya.

Di suatu sore yang biasa-biasa saja, saya mendapatkan undangan makan malam dari seorang teman ekspat Jepang yang tinggal di sebuah hotel bintang 5 megah di kota pahlawan ini. Gara-garanya, beliau merasa berhutang budi sama saya, beliau meminta saya menjelaskan contrac condition apartemen dia yang notabene dalam bahasa inggris yang dia tidak ngerti. Ditantang menu Italian, saya yang kurang ‘sreg’ dengan pasta atau pizza pun langsung ngeles “Nihon ryouri no resutoran ga arimasenka?” (gak ada restoran Jepang ya disana?) dalam hati saya membatin, saya kok ya lancang bilang begitu. Udah diundang, pilih – pilih lagi. Tak tahu diri sekali saya ini! Tapi teman Jepang saya malah surprise saya mau makan masakan Jepang dan malah semangat mau menjemput saya segala!

Well, tadinya saya membayangkan beliau akan mentraktir saya makan sushi dan teman-temannya (dan kebetulan saat itu memang saya lagi pengin banget makan sushi... tapi apa daya duit di kantong tak sampai karena harga sushi favorit saya di restoran sushi terkenal di Surabaya langsung membuat saya jatuh miskin! Oh No!) Kami melewati meja paling depan, lalu berjalan langsung ke dalam. Ternyata, restoran Jepang di hotel mewah yang satu ini terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama, untuk specialties makanan yang ala carte. Ruangan kedua, terdiri dari meja-meja yang di tengahnya ada stove-nya. Ini untuk jenis makanan Shabu-Shabu atau yakimono. Beliau melenggang dengan santainya menuju ruangan ketiga. Surprise! Saya pun digiring menuju tepanyaki! Seorang waiter langsung mendatangi kami dan berkata,
“ Kalau disini ada minimum charge-nya pak… 1,8 juta.”
What???!!! Kepala saya langsung nyut-nyutan. Makan apaan minimum charge ampe hampir 2 juta?? Padahal kami loh cuma berdua.
Eh… tapi si ekspat malah nyantai mempersilahkan saya duduk. Saya jadi heran, ini orang cuek aja maksudnya emang dia udah tau atau pura-pura gak tau, saya gak ngerti. Lagian, sebodo amat. Orang dia yang traktir!
“Douzo…! Douzo!” katanya.
Seorang waiter yang lain membawakan buku menu yang tidak kami sentuh sama sekali. Si ekspat langsung order menu, menawari saya minuman, bir atau wine yang saya jawab dengan:
“Juuzu o onegaishimasu…”1) dan beliau langsung mingkem. Hahahaha…

Yang keluar pertama kali adalah salad sayuran dan jus pesanan saya. beliau sendiri minum bir kaya minum es teh saja, glegek-glegek kaya orang 2 hari gak minum air. Sementara saya menikmati salad, koki memanaskan tepan dan mempersiapkan bahan. Pertama yang dia masak adalah kentang, konyaku2), labu kuning, bawang Bombay dan tofu yang cuma di grilled saja. Belum juga saya menghabiskan ronde pertama saya, si koki sudah menyiapkan ikan salmon, sebagian di grilled (lagi-lagi minimalis hampir tanpa bumbu sama sekali) dan direbus hanya dengan shoyu3). Selanjutnya adalah udang. Udang sebesar itu, cuma dikupas sedikit kulitnya dan dibelek diatas tepan. Dagingnya yang putih itu mekar sangat cantik dan aromanya semerbak. Wiiiihh… jago banget ini mas kokinya!


*)Koki Teppanyaki
source: google image

Selanjutnya, si koki pun memulai atraksinya dengan ‘binatang’ selanjutnya yaitu lobster. Lobster segede lengan saya ini cuma dibelah jadi dua bagian dan saya lihat kaki-kakinya masih bergerak di atas tepan. Lobster yang masih setengah hidup itu di panggang di atas tepan, di kasi mentega dikit, lalu hap! Dalam sekejap daging lobster yang putih itu terlepas dari cangkangnya! Plok..plok..plok..!!!

Dari sini, perut saya sudah mulai kenyang. But show must go on. Rugi banget kalo yang begini ini missed, kan? Hehehe… cheapshit saya mulai kambuh. Dan yang selanjutnya terhidang adalah Gyuniku atau kategori daging sapi, bagian sirloin dan tenderloin yang masing-masing diiris kubus dan dilumuri semacam bumbu, lalu di grilled. Sebagian lagi, lagi-lagi direbus dalam shoyu di dalam cawan yang terbuat dari aluminium foil. Sampai sini, perut saya sudah berontak tak mau diisi lagi saking penuhnya. Saya pun mencicip sedikit, karena hidangan selanjutnya telah menanti, yakni sauted vegetable. Saya, yang notabene cenderung vegetarian, ya hap hap hap saja. Suapan ketiga, saya lemes lagi dan memelas ke mas kokinya,
“ini makanan kok gak abis-abis ya chef? Masih banyak lagi kah?” kokinya senyum dan menjawab singkat, kalau orang yang makannya banyak, suka makan di tepanyaki. Hahahaha…
Meski jawabannya gak nyambung, but then ternyata hidangan terakhir yang disajikan adalah nasi goreng. Waduh! Dilemma eh dilemma! Gak dimakan sayang, kalau dimakan perut sudah kenyang. Sumpah aromanya benar-benar menggugah selera. Saya paksa untuk makan 3 suap, bener-bener enak! Oishii desuyo…!

Masih belum puas, mas koki (kedengerannya kok kaya nama ikan yah?) menawari kami dessert berupa es krim bakar. Saya lihat, mas koki membawa 2 buah pisang dan 2 skop es krim. Saya kira sih mau dibikin semacam banana spilt gitu. Eh ternyata pisangnya di grilled di atas tepan, ditaburi cinnamon powder sedikit, lalu disekelilingnya diperciki minyak dan whisky, yang kemuadian dibakar. Istilah kerennya, di flambĂ©. Api pun berkobar-kobar seperti penari striptease di atas tepan selama beberapa saat. Benar-benar hidangan penutup yang keren!

Seolah masih ada additional surprise, si ekspat pun meminta bill. And you know guys, tagihan yang tertera di bonnya, 3,5 jeti! Alamak!!! Ini beneran makan malam paling mahal dan paling keren buat saya! Saking tercengangnya sampai saya lupa ambil gambarnya!

Note:
  1.  Juice please!
  2.  Makanan olahan yang berasal dari sari umbi talas
  3.  Kecap asin Jepang

Sunday, 11 December 2011

Anak- Anak = BERISIK!!!

Bicara mengenai tamu di hotel, saya pribadi mengklasifikasikannya menjadi dua jenis, yakni tamu dewasa dan anak- anak.

Beberapa hari yang lalu, ketika saya incharge di front desk, seorang tamu bule berkebangsaan belanda sedang check in di konter saya. Bule tersebut, sedang menunggu kartu kreditnya diproses, ketika tiba-tiba seorang baby sister lewat sedang menggendong seorang bayi kecil berusia sekitar 6 bulanan. Si bayi yang ada di gendongannya menangis meraung-raung, rewel tak tau maunya apa. Si bule mulai gelisah, dan akhirnya membungkuk ke arah si bayi dan berkata,
“ hey, you make noisy…! You make noisy..!”
Eh ladalah si mbak-mbak baby sister ternyata gak ngerti kalo si bule itu gak suka sama anak kecil berisik. Si mbak malah senyum-senyum gak jelas trus malah nyorong-nyorongin bayinya ke muka si bule. Alamak…!!!  Ntar bayi situ ditelen itu bule belanda baru nyahok lo mbak!! Hahahaha…

Di hotel saya juga punya langganan Chinese Resto namanya pak Tris. Pak Tris ini, kalau datang pasti selalu membawa cucu- cucunya yang ampuuuunnnnn deh berisiknya. Complain, sudah jadi hal biasa lah kalau beliau kesini. Cucunya memang luar biasa, gak cuman main lari-larian dan teriak-teriak.. nih anak-anak bandel malah main petak umpet di hotel! Pernah vas raksasa sampai ambrol karena dipakai jungkir-jungkiran. Gak cuma itu, mereka juga pernah sekali menumpahkan minuman fanta warna merah ngejreng ke karpet berwarna terang. Duh….

Saat dulu masih kerja di Chinese restaurant, complain terberat adalah ketika seorang bapak – bapak dengan nada ironi menghampiri saya dan bertanya,
“ Mbak, di sini ada hammer tidak?” Pertanyaaan yang amat sangat tidak lazim. Saya pun bertanya balik,” Lah hammer buat apa, Pak?”
Eehh.. si  bapak monyongin bibirnya ke rah dua anak kecil yang berisik di meja sebelahnya “ buat pukul tu anak kecil supaya gak ribut!”
Buseeeeettt…  galak amat paaaakkkk!!!!

Yang aneh, suatu malam saat saya sedang makan malam di sebuah restoran Jepang di Bali bersama seorang teman saya yang bermarga Kameyama, di dekat meja kami adalah meja sekeluarga bule, 2 dewasa, dan 2 orang anak. Sejak mulai masuk restoran sampai main course saya mau habis, anak- anak bule ini berisik minta ampun. Ya main kejar-kejaran lah... teriak- teriak khas anak-anak. Saya sendiri hanya iseng memperhatikan, orang tua mereka sibuk memarahi mereka berulang kali tapi yang namanya anak-anak, tetap saja tak bisa dikasih tahu. Buat saya sih tidak masalah… saya justru suka memperhatikan mereka bermain dengan polah tingkah mereka yang lucu. Beberapa kali saya juga sempat bertemu pandang dengan si ibu anak bule, yang kemudian hanya dibalas dengan anggukan tak jelas, lalu kasak kusuk sebentar dengan suaminya.

Ketika hendak menikmati dessert kami, saya lihat keluarga itu sudah berkemas dan hendak meninggalkan restoran. Ayah anak-anak itu, seorang bule besar bertato, bertampang cukup garang tiba-tiba menghampiri meja kami. Saya kira si Bule mau marah-marah karena saya lihat roman mukanya gak enak, mungkin karena dari tadi saya memperhatikan anak-anaknya. Eh, gak taunya pas dekat, suara si bule jadi melow.
Si Bule Besar: Excuse me, I am so sorry that my kids were disturbing you !
Saya + Temen : (Bengong sejenak) It's Ok, it's Ok...
Hahahaha...Yaaahh.. kirain ada apa…Ternyata si Bule bertato tadi bodi dan attitudenya berbanding terbalik, hehehehe...

*)Nah, yang ini kan lucu banget ya?

Noted: Meskipun anak-anak itu berisik dan unutk beberapa orang mereka itu annoying, buat saya sih.. anak kecil tetap lucu dan menggemaskan :)